• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen POLA DISTRIBUSI KIJING (Halaman 22-39)

Deskripsi Lokasi

Kabupaten Toba Samosir secara geografis terletak diantara 2º24’-2º37’ LU dan 99º03’-99º16’ BT. Sektor pertanian menjadi prioritas utama dalam pilar pembangunan di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, karena memiliki peranan cukup besar dan hampir 90 persen masyarakat daerah tersebut berprofesi sebagai petani. Melihat potensi daerah dan peluang usaha maka diperlukan sarana dan strategi untuk melakukan distribusi hasil daerah baik itu berupa pertanian dan

lainnya dengan teknologi pemasaran khususnya berbasis e-commerce (Putra et al., 2020).

Kabupaten Toba adalah salah satu dari beberapa daerah yang menjadi destinasi wisata di provinsi Sumatra Utara yang memiliki banyak objek wisata yang perlu dikembangkan guna menjadikan sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan asli daerah. Setiap daerah memiliki potensi wisata yang berbeda-beda tergantung bagaimana pemerintah, pihak swasta dan masyarakat mengelola potensi tersebut menjadi objek wisata yang menarik jumlah kunjungan wisatawan yang berkunjung sangat berdampak pada pengembangan pariwisata dan pendapatan asli daerah baik wisatawan domestik maupun mancanegara (Sihombing et al., 2021).

Sebagai salah satu isu penting yang dihadapi kabupaten Porsea, provinsi Sumatera Utara khususnya dalam hal upaya pengelolaan limbah pulp PT.Toba Pulp Lestari,Tbk yang memiliki dampak pencemaran lingkungan terhadap potensi alam daerah setempat. PT. Toba Pulp Lestari menjadi sorotan utama pemerintah, dikarenakan meningkatnya keluhan masyarakat akan aroma busuk dari limbah,

punahnya kebun hutan benzoin dan yang paling utama adalah rusaknya ekosistem

perairan danau Toba serta tercemarnya sungai Deli Asahan (Aritonang et al., 2016).

Adapun kondisi pada kecamatan Porsea bahwa dengan berdirinya pabrik PT.Inti Indorayon Utama, banyak kontroversi yang ditimbulkan dan semuanya merungikan masyarakat begitu juga dengan negara. Indorayon yang berproduksi dalam bidang pulp dan rayon ini dianggap menjadi ancaman bagi masyarakat.

Indorayon juga dianggap tidak aman dalam proses produksinya karena memakai bahan kimia yang sangat berbahaya jika tercemar ke lingkungan. Apalagi posisi Indorayon dibangun berada di hilir sungai Asahan yang menjadi salah satu aliran untuk kehidupan pertanian rakyat dan beberapa usaha lain (Manurung, 2004).

Adapun diantara objek wisata yang ada di desa Parparean meliputi objek wisata alam yang berpotensi menjadi andalan adalah objek wisata pantai Pasir Putih Parparean yang mana termasuk kedalam kawasan wisata terpadu Porsea.

Pantai Pasir Putih Parparean merupakan kawasan wisata yang terletak di Kecamatan Porsea yang berbatasan langsung dengan Laguboti dan Danau Toba.

Kerang Kijing (Anodonta woodiana)

Bivalvia adalah biota yang biasa hidup di atas dan di dalam substrat dasar perairan (biota bentik) yang relatif lama, sehingga dapat digunakan sebagai bioindikator untuk menduga kualitas perairan dan merupakan salah satu komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Bivalvia merupakan salah satu kelas dari filum Moluska Banyak anggota kelas Bivalvia, hidup di berbagai perairan salah satunya Anadonta woodiana (Fajrina et al., 2020).

Klasifikasi spesies kerang kijing menurut Yanuardi (2015) adalah : Kingdom : Animalia

Filum : Moluska Kelas : Bivalvia

Ordo : Eulamellibranchia Famili : Unionidae

Genus : Anodonta

Spesies : Anodonta woodiana

Gambar 2. Kerang kijing (Anodonta woodiana)

Gambar 3. Cangkang kerang kijing (Anodonta woodiana)

Unionidae adalah famili kerang air tawar, moluska bivalva akuatik yang dikenal sebagai remis sungai atau secara sederhana unionid. Kerang air tawar menempati kisaran habitat yang luas tetapi paling banyak tinggal di perairan tenang. Uninonidae meliang ke dalam substrat, dengan bagian posteriornya terekspos ke atas. Mereka memompa air melalui lubang masuk air untuk memperoleh oksigen dan makanan. Kerang Unionidae memiliki potensi ekonomis yang penting bagi manusia. Kerang ini dapat dijadikan komoditi budidaya perikanan darat karena pertumbuhannya cepat dan dagingnya dapat dimakan memiliki kandungan protein 7,37 gram per 100 gram daging cangkangnya berguna untuk bahan baku industri kancing dan pakan ternak, serta hewannya dapat dibudidayakan sebagai penghasil mutiara (Rahayu et al., 2015).

Kerang kijing (Anodonta woodiana) adalah salah satu keystone species dalam ekosistem perairan tawar baik sebagai komponen utama dalam siklus rantai makanan dan jaring-jaring makanan maupun sebagai bioindikator pemantauan kualitas perairan. Nilai ekologi tersebut secara langsung memastikan bahwa organisme akuatik lainnya sangat bergantung pada eksistensi kerang kijing di ekosistem perairan tawar. Kerang kijing termasuk dalam golongan biota perairan tawar yang hidupnya bersifat menetap walaupun kualitas perairan selalu mengalami fluktuasi, sehingga memungkinkan kerang kijing untuk merekam kualitas lingkungan disekitarnya (Purnama et al., 2019).

Kijing taiwan juga merupakan kijing air tawar yang hidup di kolam, danau, sungai atau perairan tawar lainnya. Perairan yang sangat disukainya adalah perairan dengan dasar lumpur berpasir dan tidak terlalu dalam. Kerang umumnya membenamkan dirinya di dalam sedimen berpasir atau pasir berlumpur dan

beberapa jenis menempel pada benda-benda keras dengan menggunakan byssus (Padwa et al., 2015).

Kerang air tawar mempunyai dua tahap dalam siklus hidup, yaitu fase parasit (periode singkat) dan fase yang panjang pada habitat alaminya (substrat di dasar perairan). Sebagai hewan yang memiliki dua tahap dalam siklus hidupnya, maka larva maupun anakan kerang harus beradaptasi dengan lingkungan atau habitat tempat kerangnya hidup baik yang bersifat sementara maupun menetap.

Dengan siklus hidup demikian, tentunya banyak fase kritis yang harus dilalui.

Fase kritis ini dimulai semenjak larvanya hidup sebagai parasit pada ikan inang sampai proses metamorfosanya lengkap dan mengakhiri fase parasit sampai anakan kijing melepaskan diri dari ikan inang serta memulai kehidupannya sebagai hewan makrobentos (Sahusilawane et al., 2015).

Kerang kijing memiliki bentuk tubuh yang simetri bilateral, oval memanjang atau berbentuk lidah, tidak beruas-ruas, tubuh lunak dan ditutupi mantel yang menghasilkan zat kapur, bentuk kepala jelas dengan organ pernapasan adalah paru-paru atau ingsang. Bagian samping lebih pipih, bagian depan membulat, meruncing atau bersiku di bagian belakang. Kijing memiliki warna cangkang cokelat kekuningan atau cokelat kehijauan, tipis dan transparan.

Kijing memiliki cangkang yang sangat keras dan dihubungkan dengan hinge ligament yang bersambungan dengan periostrakum cangkang. Bagian dalam cangkang terdapat dua buah mantel. Bagian ujung mantel terdapat dua buah sifon yang berbeda fungsinya. Sifon ventral berfungsi sebagai alat pemasukan air (makanan), dan sifon dorsal digunakan sebagai alat pembuangan sisa-sisa metabolisme (Nurjanah et al., 2020).

Habitat dan Penyebaran Kerang Kijing (Anodonta woodiana)

Kijing air tawar (Anodonta woodiana) merupakan salah satu golongan moluska yang hidup di air tawar dari keluarga Unionidae. Menurut Prihartini (1999), kerang kijing merupakan jenis kerang kerangan dari keluarga unionidae yang merupakan jenis kerang air tawar yang tersebar di wilayah Indonesia seperti pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Lombok, Sulawesi namun tidak ditemukan pada daerah sunda kecil dan Maluku. Adapun menurut Sulistiawan (2007) kijing merupakan kelompok benthos yang cukup dominan di perairan tawar dapat menjernihkan air, dapat menyaring partikel-partikel tersuspensi dan bersifat filter feeder yaitu mampu menyaring volume air sebanyak 300ml/jam (Putri, 2019).

Habitat hidup kerang kijing yaitu dasar perairan berupa lumpur dengan pasir yang membentuk lapisan tanah yang tidak padat. Kijing hidup pada suhu air berkisar antara 11-29ºC dengan derajat keasaman (pH) antara 4,8-9,8. Kijing juga menyukai perairan yang dalam dengan kecerahan yang tinggi, mengandung bahan organik total yang tinggi dan substrat liat atau berlumpur. Pola distribusinya memencar dengan populasi berkelompok pada habitatnya. Kerang air tawar umumnya berdiam di dasar perairan dengan membuat lubang menggunakan kakinya yang besar dan berpindah mencari tempat yang cocok dan umumnya banyak ditemukan di perairan tenang misalnya danau (Nurjanah et al., 2020).

Adapun jenis kijing (A. woodiana) atau dalam bahasa lokal Suku Tolaki atau masyarakat pribumi adalah “kalambodo”. Kerang kalambodo (A. woodiana) umumnya terdapat pada sungai atau rawa dengan kedalaman ± 15 - 150 cm pada substrat dominan liat atau lumpur (93,94%) dengan sedikit tekstur pasir (1,02%).

Eksistensi kerang kalambodo (A. woodiana) di alam menjadi penentu kelangsungan hidup organisme lainnya. Sebaliknya, ketiadaan kerang kalambodo

di alam akan memberikan dampak terhadap ketidakstabilan ekosistem perairan.

(Purnama et al., 2019).

Keberadaan kerang kijing ini di lingkungannya yang baru secara perlahan akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem tersebut. Antara lain dengan mengubah komposisi jenis fauna bentik, sebagai kompetitor baru akan berebut sumber pakan sehingga dapat menurunkan populasi fauna aslinya atau bahkan mempunahkannya secara lokal. Kijing ini diketahui memiliki tingkat adaptasi

yang baik, sehingga mampu tumbuh pesat di lingkungan yang baru (Mujiono, 2011).

Faktor yang mempengaruhi keberadaan kijing adalah faktor internal dan eksternal, faktor internal adalah yang berhubungan dengan sifat genetik atau fisiologi sedangkan faktor eksternal adalah yang berhubungan dengan lingkungan yaitu kualitas perairan dan ketersediaan makanan.Sehingga faktor lingkungan perairan dan ketersediaan makanan akan mempengaruhi kepadatan dan distribusi kijing. Menurut Nurjannah (2012) pola hidup kijing ini bersifat pasif dan dapat mengakumulasi benda asing dalam perairan seperti berbagai logam berat Hg, Pb dan Cd. Oleh karena itu kijing dapat digunakan sebagai filter sebagai indikator pencemaran suatu perairan (Putri, 2019).

Pola penyebaran mengelompok menandakan bahwa hewan tersebut hanya dapat hidup pada habitat tertentu saja dengan kondisi lingkungan yang cocok.

Tipe distribusi mengelompok disebabkan karena keadaan lingkungan tersebut sesuai untuk kehidupan organisme tersebut. Tipe distribusi yang mengelompok sangat ditentukan oleh kelimpahan rata-rata yang tertangkap pada saat

pengambilan sampel. Pengelompokkan yang terjadi sebagai respon terhadap kondisi lingkungan (fisika, kimia, air dan sedimen) (Rajab et al., 2016).

Menurut Rizal et al (2013) organisme yang pola penyebaranya seragam disebabkan oleh kondisi lingkungandi suatu areal hampir sama dan diduga karena adanya kompetisi antar individu yang sangat hebat dalam pembagian ruang makanan. Berbeda dengan pola sebaran mengelompok, yaitu pola penyebaran mengelompok menandakan bahwa hewan tersebut hanya dapat hidup pada habitat tertentu saja dengan kondisi lingkungan yang cocok. Sedangkan penyebaran secara acak jarang terjadi di alam dan dapat terjadi apabila lingkungan sangat seragam dan tidak ada kecenderungan untuk mengelompok.

Pengetahuan mengenai penyebaran sangat penting untuk mengetahui tingkat pengelompokkan individu yang dapat memberikan dampak terhadap populasi dari pada rata-rata per unit area. Adapun pola distribusi secara acak, yaitu jarang terdapat di alam, penyebaran ini biasanya terjadi apabila faktor

lingkungan sangat beragam untuk seluruh daerah populasi itu berada (Nopriyeni, 2017).

Parameter Fisika Kimia Perairan Parameter Fisika

Suhu

Suhu mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen di dalam air, apabila suhu air naik maka kelarutan oksigen di dalam air menurun.

Bersamaan dengan peningkatan suhu juga akan mengakibatkan peningkatan aktivitas metabolisme akuatik. Menurut Suwignyo et al., (1981) dalam Palinussa (2010) pada kisaran suhu air 2030ºC merupakan suhu air yang sesuai bagi

kehidupan plankton yang juga sebagai pakan kerang A. woodiana (Oli dan Paramata, 2019).

Stratifikasi suhu di suatu perairan berperan penting dalam proses ekologis badan air. Profil suhu secara vertikal di danau diperlukan untuk menentukan kandungan panas di perairan, lapisan termoklin dan percampuran massa air di perairan (Sinaga et al., 2016).

Suhu memberikan pengaruh terhadap aktivitas metabolisme, perkembangan organisme, dan bahkan dapat menyebabkan kematian. Peningkatan suhu perairan menyebabkan kelarutan oksigen dalam air menurun, sehingga organisme air kesulitan untuk berespirasi. Setiap organisme memiliki kemampuan toleransi yang berbeda terhadap suhu (Maretta et al., 2019).

Kecerahan

Kecerahan perairan dipengaruhi langsung oleh partikel yang tersuspensi didalamnya, semakin kurang partikel yang tersuspensi maka kecerahan air akan semakin tinggi. Faktor cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan mempengaruhi sifat optis dari air. Sebagai cahaya matahari tersebut akan di absorbsi dan sebagian lagi akan dipantulkan ke luar dari permukaan air. Dengan bertambahnya kedalaman lapisan air intensitas cahaya tersebut akan mengalami

perubahan yang signifikan baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Hasan, 2017).

Pengukuran kecerahan air secara tidak langsung mempunyai pengaruh besar bagi organisme air, yaitu sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan yang akan menjadi sumber makanan. Kekeruhan menunjukkan tingkat kejernihan suatu perairan semakin kecil tingkat kecerahan suatu perairan

maka akan semakin sulit cahaya matahari masuk ke dalam perairan dasar (Astari et al., 2018).

Kedalaman

Kedalaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan suatu organisme, perairan yang dangkal akan memberikan keuntungan bagi kerang A. woodiana karena perairan tersebut merupakan perairan yang subur cahaya matahari menembus sampai ke kolom air. Menurut Vakily (1989) dalam Bahtiar (2005) bertambahnya kedalaman maka ketersediaan makanan menjadi faktor pembatas bagi fitoplankton yang menjadi makanan kerang muda (spat) sehingga kerang banyak tumbuh dekat permukaan air dan kerang A. woodiana

menyukai perairan yang dangkal dengan kedalaman kurang dari 2 m (Yanuardi et al., 2015).

Kedalaman juga berpengaruh terhadap intensitas cahaya matahari ke dalam perairan. Hal ini mempengaruhi laju fotosintesis oleh fitoplankton dan kandungan bahan organik yang menjadi sumber makanan bagi gastropoda air tawar. Kedalaman suatu perairan akan memengaruhi jumlah jenis gastropoda air tawar. Umumnya, semakin dalam suatu perairan menyebabkan semakin sedikit gastropoda yang hidup di dalamnya (Susilowati et al., 2017).

Parameter Kimia Perairan Derajat Keasaman (pH)

Menurut Simanjuntak (2009) menyatakan pada umumnya nilai pH dalam suatu perairan berkisar antara 4-9. Namun bagi biota air mempunyai kisaran pH sendiri yang baik untuk kehidupannya. Seperti halnya bivalvia, nilai pH pada data

didapat sangat mendukung kehidupan biota laut termasuk bivalvia. Menurut Pennak (1978) dalam Wijayanti (2007), bahwa pH yang mendukung kehidupan Mollusca berkisar antara 5,7 – 8,4, dan untuk bivalvia/Pelecypoda hidup pada batas kisaran pH 5,8 - 8,3 (Hartono et al., 2016).

Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi tergantung pada suhu, oksigen terlarut, dan kandungan garam-garam ionik di dalam perairan.

Kebanyakan perairan alami mempunyai nilai pH berkisar antara 6-9 dan sebagian besar biota perairan sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5 dan ada juga biota yang bisa bertahan hidup pada pH lebih atau kurang dari itu. Setiap spesies memiliki kisaran konsentrasi yang berbeda terhadap pH.

Dimana kenaikan pH diatas netral akan meningkatkan konsentrasi amoniak yang juga bersifat sangat toksik bagi organisme (Harahap, 2019).

Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut (dissolved oxygen) atau sering juga disebut dengan oksigen terlarut merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO pada air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme (Aruan et al., 2017).

Menurut Nugroho et al., (2014) secara umum organisme perairan membutuhkan oksigen terlarut pada konsentrasi antara 5 sampai dengan 8 mg/l.

Oksigen terlarut diperlukan untuk respirasi, proses pembakaran makanan,

pertumbuhan, reproduksi dan lain lain. Menurut Hastuti et al., (2012) menyatakan bahwa Anodonta woodiana memerlukan oksigen terlarut 3,8-12, mg/l, tetapi mampu bertahan dengan kadar oksigen sedikit dalam jangka waktu pendek.

Anodonta woodiana dapat mengatur tingkat metabolisme oksigen dengan baik sehingga masih dapat hidup pada keadaan dimana kandungan oksigen dalam air sangat sedikit (Astari et al., 2018).

Nitrat

Nitrat (NO3) adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami.Nitrat merupakan salah satu nutrient senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Konsentrasi nitrat yang tinggi di perairan dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme perairan apabila didukung oleh ketersedian nutrien (Hamuna et al., 2018).

Berkaitan dengan nitrat di perairan bahwa sumber nitrat di danau berasal dari proses nitrifikasi yang terjadi di dalam danau. Kedua, nitrat berasal dari udara yang masuk ke dalam danau. Selanjutnya sumber ketiga nitrat adalah presipitasi yang menghasilkan NH4+ dan nitrogen organik terlarut yang pada akhirnya membentuk nitrat di perairan. Di samping itu limbah organik juga bisa menjadi salah satu sumber nitrat yang masuk ke danau (Yaqin et al., 2018).

Nitrat dapat digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesuburan perairan. Perairan Oligotrofik memiliki kadar nitrat antara 0-1 mg/liter, perairan Mesotrofik memiliki kadar nitrat antara 1-5 mg/liter, dan perairan Eutrofik

memiliki kadar nitrat berkisar antara 5-50 mg/liter (Wantasen dan Luntungan, 2016).

Fosfat

Bentuk fosfat dalam perairan adalah ortofosfat. Pada umumnya, fosfat yang terdapat dalam suatu perairan dapat berasal dari kotoran manusia atau hewan, sabun, industri pulp dan kertas, detergen. Pada dasarnya makhluk hidup yang tumbuh di perairan memerlukan fosfat pada kondisi jumlah tertentu. Sebaliknya, kandungan fosfat yang berlebihan akan membahayakan kehidupan makhluk hidup tersebut (Ngibad, 2019).

Menurut KepMen LH No. 51 Tahun 2004 nilai baku mutu fosfat adalah 0.015 mg/l. Fosfat dalam suatu perairan bersumber dari diantaranya limbah industri, domestik dan pertanian, serta hancuran bahan organik. Tingginya kadar fosfat di dasar perairan karena dasar perairan umumnya kaya akan zat hara, baik yang berasal dari dekomposisi sedimen maupun senyawa-senyawa organik yang berasal dari jasad flora dan fauna yang mati (Patty, 2015).

Tipe Substrat

Substrat dasar merupakan salah satu faktor ekologis utama yang mempengaruhi makrozoobenthos. Jika substrat mengalami perubahan maka struktur komunitas makrozoobenthos akan mengalami perubahan pula.

Pengamatan terhadap kondisi fisik (tipe substrat) dan kimiawi (bahan organik) sedimen dalam hubungannya terhadap struktur komunitas makrozoobenthos sangat penting untuk dilakukan, karena sedimen merupakan habitat bagi makrozoobenthos tersebut (Fadly, 2017).

Menurut Yanuardi et al., (2015) kerang Anodonta woodiana biasanya hidup pada area substrat lumpur yang didominasi pasir berlumpur, kondisi ini sesuai dengan namanya (mudflat mussel). Kerang Unionidae dari subfamili

Anodontidae menyukai substrat pasir atau campuran pasir dengan material lain.

Adanya pasir akan meningkatkan pertukaran massa air dan tersedianya oksigen sehingga baik bagi pertumbuhan dan kehidupan Anodonta woodiana. Menurut Suwignyo et al (2005) menyatakan bahwa kijing menyukai lingkungan yang didominasi oleh pasir berlumpur dan habitat paling baik bagi pertumbuhannya,

karena mengandung persentase pasir dan lumpur yang seimbang (44,67% dan 48%).

C-organik

Karbon organik (C-organik) merupakan salah satu komponen penting sebagai penyusun kimiawi sedimen. Meskipun komponen organik dapat terdekomposisi dan dikembalikan sebagian ke komponen anorganik, sebagiannya lagi masih terpreservasi dan menjadi komponen penting sebagai bagian dari penyusunan partikel sedimen di perairan (Yolanda et al., 2019).

Ketersediaan bahan organik dapat memberikan variasi yang besar terhadap kelimpahan organisme yang ada. Oleh sebab itu keberadaan makrozoobenthos dapat dijadikan sebagai indikator untuk melihat pemasukan bahan organik di perairan. Perairan yang masih baik dapat menunjang keragaman jenis makrozoobenthos yang hidup pada perairan tersebut. Sebaliknya perairan yang kurang baik keragaman makrozoobenthosnya akan menurun atau sedikit jumlahnya (Kolif et al., 2017).

Menurut Djaenuddin et al., (1994) kriteria tinggi rendahnya kandungan, organik substrat tanah berdasarkan persentase adalah sebagai berikut :

<1% = sangat rendah 1%-2% = rendah

2.01%-3% = sedang 3.01-5% = tinggi

>5% = sangat tinggi

Metode Storet

Metode storet merupakan salah satu metode yang biasa digunakan untuk menentukan status mutu air. Penentuan status mutu dilakukan dengan cara membandingkan data kualitas air dengan baku mutu yang telah ditetapkan sesuai dengan peruntukannya. Metode storet mempunyai kelebihan dapat menyimpulkan status mutu air pada rentang waktu tertentu, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam. Metode ini dapat diketahui parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air (Khairil, 2014).

Dengan metode storet parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air dapat diketahui. Penilaian tingkat kualitas air dengan metode storet tidak bergantung pada jumlah dan jenis parameter yang harus digunakan. Selama parameter kualitas air yang diteliti dapat dibandingkan dengan

baku mutu yang ada, maka indeks tingkat kualitasnya dapat ditentukan (Kadim et al., 2017).

Metode Indeks Pencemaran (IP)

Metode indeks pencemaran (IP) adalah metode yang digunakan untuk menentukan tingkat pencemaran relatif terhadap parameter kualitas air yang diizinkan. Indeks pencemaran dapat memberi masukan kepada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas badan air untuk suatu peruntukan, serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kualitas jika terjadi penurunan akibat kehadiran senyawa pencemar. Indeks pencemaran mencakup berbagai kelompok

parameter kualitas yang independen dan bermakna (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003).

Sebagai metode berbasis indeks, metode indeks pencemaran dibangun berdasarkan dua indeks kualitas. Yang pertama adalah indeks rata-rata (IR) yang menunjukkan tingkat pencemaran rata-rata dari seluruh parameter dalam satu kali pengamatan. Yang kedua adalah indeks maksimum (IM) yang menunjukkan satu jenis parameter dominan yang menyebabkan penurunan kualitas air pada satu kali pengamatan (Marganingrum et al., 2013).

Metode Canadian Council Minister of the Enviroment (CCME)

Metode CCME adalah metode yang jenis parameter, baku mutu dan jangka waktu yang digunakan pada indek ini sangat bervariasi tergantung pada isu-isu dan kondisi lokal setiap wilayah. Penentuannya digunakan pada indek ini tidak ditentukan dan sangat bervariasi dari antar daerah tergantung pada isu-isu dan kondisi lokal pada masing-masing daerah. Metode ini berguna dalam mengevaluasi perubahan kualitas air pada lokasi tertentu dari waktu ke waktu dan untuk membandingkan indeks secara keseluruhan antar lokasi yang menggunakan variabel dan baku mutu yang sama (Lumb et al., 2011).

Indeks CCME dihitung/disimpulkan dari serangkaian data hasil beberapa pengambilan spesimen kualitas air, dan menerapkan obyektivitas suatu resiko lingkungan yaitu, akibat sejumlah parameter (F1) dan sejumlah kejadian yang tidak memenuhi baku mutu (F2) serta selisih/simpangan konsentrasi masing-masing parameter terhadap baku mutunya (F3). Metode CCME cukup sensitif merespon dinamika status mutu air menurut pertimbangan jumlah dan jenis parameter pemantauan kualitas air, di setiap lokasi (spasial) pemantauan pada

setiap deret waktu pengambilan spesimen kualitas airnya (temporal)

setiap deret waktu pengambilan spesimen kualitas airnya (temporal)

Dalam dokumen POLA DISTRIBUSI KIJING (Halaman 22-39)

Dokumen terkait