D. RANCANGAN PERCOBAAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL ANALISIS PROKSIMAT BIJI JARAK PAGAR
Biji jarak pagar yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari laboratorium Biologi IPB Baranangsiang, yang bibitnya berasal dari provinsi Nusa Tenggara Barat. Biji jarak pagar yang dipilih ialah biji jarak pagar dengan kualitas menengah/grade B. Biji jarak pagar sebelum diekstrak minyaknya untuk kemudian dijadikan sabun mandi, terlebih dahulu dianalisis kandungan kimianya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Kandungan kimia biji jarak pagar
No. Jenis Zat Jumlah rata-rata (%)
1. Kadar Air (b/b) 5,54
2. Kadar Abu (b/b) 0,36
3. Kadar Lemak (b/b) 47,25
4. Kadar Protein (b/b) 24,60
5. Kadar Karbohidrat (b/b) 12,13
6. pH 7,4
Biji jarak pagar mempunyai khasiat yang baik untuk kesehatan kulit, sehingga akan bagus sekali jika minyaknya digunakan sebagai bahan dasar pembuatan sabun mandi. Pengkonversian dari biji jarak pagar menjadi sabun mandi tentunya akan meningkatkan nilai tambah dari tanaman jarak pagar itu sendiri, karena selama ini tanaman tersebut masih jarang digunakan dan kebanyakan hanya sebatas sebagai tanaman pemagar suatu lahan.
Gambar 3. Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas seed)
B. PROSES PEMBUATAN SABUN
Formula untuk membuat sabun di sini berdasarkan bilangan penyabunan yang dimiliki oleh minyak jarak pagar. Bilangan penyabunan menyatakan jumlah alkali yang dibutuhkan untuk melakukan saponifikasi secara penuh. Pada proses ini tiap molekul minyak bereaksi dengan molekul alkali, tidak menyisakan minyak atau alkali pada sabun akhir. Bilangan penyabunan biasa disajikan dalam satuan mg KOH/g minyak, untuk mengubahnya menjadi mg NaOH/g minyak cukup dengan menggunakan aritmatika sederhana. Bilangan penyabunan minyak jarak pagar berkisar antara 192-195 mg KOH/g minyak, setelah dikonversi maka menjadi 138-140 mg NaOH/g minyak.
Sabun mandi yang dibuat dari minyak jarak memiliki asam lemak oleat (C18H34O2) yang dominan. Asam lemak ini mempunyai sifat melembabkan. Henning (2000) menjelaskan bahwa penambahan pati pada pembuatan sabun jarak opaque akan menghasilkan tekstur sabun yang cukup keras. Tanpa pati, sabun akan terlalu lunak. Secara ekonomi akan menjadi sangat menguntungkan untuk menambahkan pati dan air, karena akan lebih banyak sabun yang dapat dihasilkan dengan jumlah minyak dan NaOH yang sama. Tepung tapioka yang digunakan dalam penelitian ini ialah tepung tapioka yang didapatkan dari pasar tradisional.
Biji jarak pagar mula-mula diekstrak minyaknya dengan menggunakan mesin pengepres. Minyak hasil ekstrak kemudian disaring agar terbebas dari kotoran dan partikel lain agar lebih bersih dan jernih. Tahap selanjutnya ialah membuat larutan NaOH 30 % dan 35 %. Hal ini perlu dilakukan karena NaOH dalam bentuk cair akan lebih mudah bercampur dengan minyak bila dibandingkan dengan NaOH yang masih dalam bentuk padatan.
Minyak jarak pagar hasil ekstraksi mula-mula dipanaskan sambil diaduk hingga mencapai suhu 70° C. Setelah itu ditambahkan larutan NaOH sambil terus diaduk hingga warna minyak berubah dari kuning keemasan
disertai dengan naiknya kembali ke suhu 70° C, sabun sudah mulai terbentuk yang ditandai dengan mengentalnya campuran minyak-NaOH menjadi seperti pasta. Kondisi ini disebut trace.
Cavitch (1997) menjelaskan bahwa trace adalah kondisi dimana sabun cukup tebal dan siap dituang ke cetakan. Kebanyakan sabun yang dibuat mencapai kondisi trace meninggalkan jejak yang jelas, tetesan-tetesan sabun dari pengaduk meninggalkan bekas tetesan di permukaan sabun sebelum akhirnya tenggelam.
Setelah trace tercapai maka dimasukkan tepung tapioka, kemudian diaduk sebentar hingga adonan sabun menjadi merata dan cukup liat. Air dimasukkan terakhir untuk membantu mencairkan adonan yang liat tadi, setelah beberapa saat angkat adonan dari pemanas dan juga pengaduk.Adonan kemudian dituang ke dalam cetakan yang telah dilapisi plastik. Sabun akan mengeras setelah 2-3 hari dalam suhu ruang. Sabun yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.
Gambar 4. Sabun Jarak Pagar dengan konsentrasi NaOH 30 % dan konsentrasi tepung tapioka 0 % (102), 2,5 % (296), 5 % (364) dan 7,% % (631)
Gambar 5. Sabun Jarak Pagar dengan konsentrasi NaOH 35 % dan konsentrasi tepung tapioka 0 % (183), 2,5 % (476), 5 % (478) dan 7,% % (703)
Konsentrasi penambahan tepung tapioka dibedakan menjadi 0 %, 2,5
%, 5 %, dan 7,5 % dari keseluruhan bobot sabun. Khusus untuk membuat sabun tanpa tepung tapioka (tepung tapioka 0 %), setelah kondisi trace tercapai maka adonan sabun dapat langsung dituang ke cetakan.
Cavitch (1997) menjelaskan bahwa dua komponen kimia paling penting dalam proses pembuatan sabun ialah panas dan kontak/pengadukan.
Asam dan basa harus bercampur terlebih dahulu sebelum saling bereaksi, panas membantu pergerakan dan fluiditas, sementara pengadukan akan memastikannya. Sabun siap untuk dituang ketika adonan mengental menjadi emulsi yang stabil. Kesalahan pengadukan yang seringkali ditemui ialah pengadukan sabun yang kurang. Sabun yang dituang sebelum kondisi trace tercapai, atau karena pengadukannya terlalu lambat/tidak konsisten dapat menghasilkan sisa NaOH di bentuk padatannya, rongga-rongga, atau pun sisa-sisa seperti tepung.
Sabun mandi yang dihasilkan disesuaikan dengan syarat mutu SNI
yang lain seperti daya membersihkan, kestabilan busa, kekerasan serta warna belum memiliki standar. Syarat mutu merupakan syarat yang harus dipenuhi suatu produk, karena syarat mutu itu mengindikasikan bahwa produk tersebut aman dan tidak membahayakan kesehatan penggunanya.
C. HASIL ANALISIS FISIKO KIMIA SABUN
Analisis fisiko kimia dilakukan untuk mengetahui karakteristik sabun secara fisik dan kimia dengan melakukan serangkaian analsis/pengujian sehingga dapat diketahui bahwa sabun yang diteliti disini sesuai dengan persyaratan SNI atau tidak. Selain itu analisis fisiko kimia sabun juga penting untuk menentukan sabun dengan formula terbaik.
Analisis fisiko kimia yang dilakukan pada sabun mandi pada penelitian ini mengacu pada SNI (1994) dengan beberapa tambahan analisis yaitu derajat keasaman (pH), stabilitas emulsi, stabilitas busa dan kekerasan sabun. Rekapitulasi data rata-rata hasil analisis fisikokimia sabun mandi dapat dilihat pada Tabel 7 dan 8 berikut ini.
Tabel 7. Rekapitulasi data rata-rata hasil analisis fisikokimia sabun mandi dengan NaOH 30 % Kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH (%) 0,025 0,030 0,030 0,020
Minyak mineral negatif negatif negatif negatif
Derajat keasaman (pH) 9,580 9,430 9,500 9,375
Stabilitas emulsi (%) 84,390 84,840 83,435 84,240
Stabilitas busa (%) 85,185 84,615 83,350 85,525
Kekerasan sabun (%) 4,775 4,600 4,600 4,385
Tabel 8. Rekapitulasi data rata-rata hasil analisis fisikokimia sabun mandi Kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH (%) 0,045 0,025 0,045 0,020
Minyak mineral negatif negatif negatif negatif
Derajat keasaman (pH) 9,735 9,750 9,700 9,815
Stabilitas emulsi (%) 85,110 83,805 84,995 85,520
Stabilitas busa (%) 86,395 85,350 88,540 85,585
Kekerasan sabun (%) 3,665 3,520 3,310 3,135
1. Kadar Air dan Zat Menguap
Jumlah air yang terkandung dalam suatu bahan disebut kadar air.
Pengukuran kadar air dan zat menguap pada suatu bahan perlu dilakukan karena air dapat mempengaruhi kualitas sabun yang dibuat. Spitz (1996) menjelaskan bahwa semakin banyak air yang terkandung dalam sabun maka akan membuat sabun menjadi semakin mudah menyusut atau habis pada saat digunakan.
Ketaren (1986) menjelaskan bahwa proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dan minyak atau lemak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya ialah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas. Senyawa aldehid dan keton yang dihasilkan dari lanjutan reaksi oksidasi ini memiliki sifat mudah menguap seperti alkohol.
Di dalam buku SNI (1994) kadar air dan zat menguap maksimal 15 %. Kadar sebesar itu akan menyebabkan sabun yang dihasilkan cukup keras sehingga akan lebih efisien dan lebih awet. Hasil analisis
menguap sesuai dengan yang disyaratkan SNI, karena berkisar antara 13,470 – 14,810 %. Data hasil analisis kadar air dan zat menguap dapat dilihat pada Gambar 6.
Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa kadar air dan zat menguap maksimal 15 %
Gambar 6. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka, kadar air dan zat menguap
Hasil analisis keragaman pada Lampiran 4 (bagian b) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH dan tepung tapioka yang ditambahkan pada sabun berpengaruh nyata terhadap kadar air dan zat menguap sabun yang dihasilkan dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05). Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 4 (bagian c) menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi tepung tapioka menunjukkan perbedaan yang nyata. Begitu pula halnya dengan konsentrasi NaOH, hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 4 (bagian d) menunjukkan bahwa NaOH 30 % berbeda nyata dengan konsentrasi NaOH 35 %.
Jika dilihat pada Gambar 6. seiring meningkatnya konsentrasi tepung tapioka maka justru menurunkan kadar air sabun yang dihasilkan.
Jadi, penambahan tepung tapioka pada formulasi sabun dapat mengurangi kadar air sabun. Perbedaan penggunaan konsentrasi NaOH juga dapat
KADAR AIR DAN ZAT MENGUAP
mempengaruhi kadar air, karena dari Gambar 6. itu pula dapat dilihat bahwa sabun yang dibuat dengan menggunakan konsentrasi NaOH 35 % memiliki kadar air yang lebih rendah dari sabun yang menggunakan konsentrasi NaOH 30 %. Jadi, makin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan, maka makin dapat mengurangi kadar air sabun.
2. Jumlah Asam Lemak
Asam lemak akan menentukan karakteristik sabun yang dihasilkan. Asam lemak yang dominan pada minyak jarak pagar sebagai bahan dasar pembuat sabun di sini ialah jenis asam lemak oleat (C18H34O2) yang memiliki sifat melembabkan. Jumlah asam lemak suatu sabun menyatakan persentase asam lemak yang terkandung di dalam sabun itu. Semakin besar persentasenya maka karakteristik dari asam lemak dominannya akan semakin jelas.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai asam lemak semua sabun berkisar antara 77,615 – 83,710 %. Kisaran ini masuk dalam syarat SNI, yakni minimal 70 %. Data hasil analisis jumlah asam lemak dapat dilihat pada Gambar 7.
Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa jumlah asam lemak minimal 70 %
Gambar 7. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan jumlah asam lemak
Hasil analisis keragaman yang ditunjukkan pada Lampiran 5 (bagian b), dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05) menunjukkan bahwa tepung tapioka tidak mempengaruhi secara nyata jumlah asam lemak yang terkandung dalam sabun. Adapun faktor konsentrasi NaOH berpengaruh.
Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 5 (bagian c) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH 30 % dan 35 % memberikan pengaruh yang nyata pada jumlah asam lemak sabun. Hal ini menjelaskan bahwa meski dalam komposisi yang sama, sabun dengan konsentrasi NaOH yang lebih tinggi yakni 35 % lebih efektif proses saponifikasinya dibanding sabun konsentrasi NaOH 30 %. Sehingga sabun yang dibuat dengan konsentrasi NaOH 35 % memiliki jumlah asam lemak yang lebih rendah dibanding sabun dengan konsentrasi NaOH 30 %.
3. Kadar Fraksi Tak Tersabunkan
Ketaren (1986) menjelaskan bahwa senyawa-senyawa seperti kolesterol, fatty alcohol, sterol dan pigmen termasuk fraksi yang tidak dapat tersabunkan karena senyawa-senyawa itu tidak bereaksi dengan NaOH sehingga dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut lemak.
Artinya, setelah sabun terbentuk senyawa-senyawa tersebut akan tetap pada bentuk asalnya dan total keseluruhan senyawa-senyawa tersebut dapat dihitung kadarnya yang disebut sebagai kadar fraksi tak tersabunkan.
Cavitch (1997) menjelaskan bahwa penggunaan jumlah NaOH yang kurang dari bilangan penyabunan dan menyebabkan terjadinya kelebihan kadar minyak akan menghasilkan batang sabun yang masih meninggalkan sisa sabun yang tidak tersabunkan, sehingga membuat sabun tersebut lebih lembut dan lembab.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sabun yang dihasilkan memiliki nilai kadar fraksi yang tak tersabunkan berkisar antara 7,385 – 7,710 %. SNI mensyaratkan kadar fraksi yang tak tersabunkan maksimal 2,5 %, namun semua nilai fraksi tak tersabunkan sabun mandi yang
dianalisis berada jauh di atas nilai yang disyaratkan SNI. Hal ini bisa terjadi karena banyaknya senyawa fraksi tak tersabunkan yang terkandung dalam minyak jarak pagar. Tepung tapioka juga mempengaruhi tingginya jumlah fraksi tak tersabunkan, karena tepung tapioka termasuk senyawa yang tidak bereaksi dengan NaOH. Data hasil analisis kadar fraksi tak tersabunkan dapat dilihat pada Gambar 8.
Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa kadar fraksi tak tersabunkan maksimal 2,5 %
Gambar 8. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan kadar fraksi tak tersabunkan
Pada Lampiran 6 (bagian b) tentang hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05) ditunjukkan bahwa baik tepung tapioka maupun konsentrasi NaOH mempengaruhi secara nyata kadar fraksi tak tersabunkan yang terkandung dalam sabun. Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 6 (bagian c) menunjukkan bahwa tiap-tiap konsentrasi tepung tapioka memberikan pengaruh yang berbeda. Begitu pula halnya dengan konsentrasi NaOH yang pada Lampiran 6 (bagian d) menunjukkan adanya perbedaan yang nyata.
Formulasi sabun untuk tepung tapioka dibedakan menjadi 0 %, 2,5 %, 5 % dan 7,5 % yang dihitung berdasarkan persen keseluruhan sabun. Semakin tinggi persentase tepung tapioka pada suatu formula
KADAR FRAKSI TAK TERSABUNKAN
sabun, maka semakin berkurang persentase minyak jarak pagarnya. Pada analisis ini kombinasi senyawa-senyawa tak tersabunkan yang terkandung dalam minyak dan tepung tapioka itulah yang membuat kadar fraksi tak tersabunkan menjadi tinggi nilainya.
Sabun yang memiliki konsentrasi tepung tapioka 0 %, seluruh senyawa fraksi tak tersabunkan berasal dari minyak jarak pagar.
Sementara untuk sabun yang ada penambahan tepung tapioka, semakin tinggi konsentrasi tepung tapioka yang digunakan pada suatu formula, maka tepung tapioka itulah yang kelak menaikkan kadar fraksi tak tersabunkan.
4. Bahan Tak Larut dalam Alkohol
Di dalam Annual book of ASTM (2001) dijelaskan bahwa bahan tak larut dalam alkohol pada sabun meliputi garam alkali seperti karbonat, silikat, fosfat dan sulfat serta pati. Total keseluruhan senyawa-senyawa tersebut dapat dihitung kadarnya yang disebut sebagai bahan tak larut dalam alkohol.
Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa bahan tak larut dalam alkohol maksimal 2,5 %
Gambar 9. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan bahan tak larut dalam alkohol
BAHAN TAK LARUT DALAM ALKOHOL Bahan Tak Larut dalam Alkohol (%)
NaOH 30 % NaOH 35 % SNI
Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai bahan tak larut dalam alkohol pada kisaran 0,565 – 0,765 %. SNI mensyaratkan bahwa bahan tak larut dalam alkohol maksimal 2,5 %.
Jadi, semua nilai bahan tak larut dalam alkohol tersebut masuk dalam nilai yang disyaratkan SNI. Data hasil analisis bahan tak larut dalam alkohol dapat dilihat pada Gambar 9.
Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05) yang disajikan pada Lampiran 7 (bagian b), menunjukkan bahwa baik tepung tapioka maupun konsentrasi NaOH tidak mempengaruhi secara nyata bahan tak larut dalam alkohol yang terkandung dalam sabun.
5. Kadar Alkali Bebas yang Dihitung Sebagai Kadar NaOH
Di dalam buku SNI (1994) dijelaskan bahwa alkali bebas ialah alkali dalam sabun yang tidak terikat sebagai senyawa. Kelebihan alkali dalam sabun mandi tidak boleh melebihi 0,1 %. Kelebihan alkali pada sabun mandi dapat disebabkan jumlah alkali yang melebihi jumlah alkali yang digunakan untuk melakukan saponifikasi keseluruhan minyak menjadi sabun.
Alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun mandi di sini ialah menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi 30 % dan 35 %.
Cavitch (1997) menjelaskan bahwa Percikan larutan NaOH dapat membuat kulit perih dan mengalami kebutaan. Oleh karenanya bekerja dengan larutan NaOH harus berhati-hati.
Pada proses pembuatan sabun/saponifikasi terjadi reaksi antara senyawa minyak dan alkali. Setelah sabun terbentuk maka akan masih ditemukan adanya senyawa alkali bebas. Perhitungan kadar alkali itulah yang nantinya disebut sebagai kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH.
Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai kadar alkali bebas yang
Semua nilai tersebut masuk dalam syarat SNI, karena SNI mensyaratkan bahwa kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH maksimal 0,1 %. Data hasil analisis kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH dapat dilihat pada Gambar 10.
Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05) menunjukkan bahwa baik konsentrasi NaOH maupun tepung tapioka tidak mempengaruhi secara nyata kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH yang terkandung dalam sabun. Hasil analisis keragaman ini dapat dilihat pada Lampiran 8 (bagian b).
Keterangan : SNI mensyaratkan bahwa kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH maksimal 0,1 %
Gambar 10. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH
6. Minyak Mineral
Di dalam situs (http://www.britannica.com, 2004) dijelaskan bahwa minyak mineral merupakan cairan minyak yang jernih, tidak berwarna dan merupakan hasil samping dari destilasi minyak bumi.
Minyak mineral ialah zat yang tetap sebagai minyak dan pada penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai
KADAR ALKALI BEBAS YANG DIHITUNG SEBAGAI NaOH Alkali Bebas yang Dihitung Sebagai NaOH (%)
NaOH 30 % NaOH 35 %
SNI
dengan kekeruhan. Mineral merupakan senyawa yang mengandung unsur logam. Minyak mineral berarti minyak yang mengandung unsur logam.
SNI (1994) mensyaratkan kadar minyak mineral haruslah negatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun yang dihasilkan memberikan hasil negatif yang menyatakan bahwa tiap-tiap sabun tersebut tidak mengandung minyak mineral dan masuk dalam syarat SNI.
7. Derajat Keasaman (pH)
Cavitch (1997) menjelaskan bahwa derajat keasaman atau pH mengukur tingkat keasaman dari suatu substansi dalam sebuah larutan.
Sebuah substansi yang terurai di dalam air dan dapat meningkatkan konsentrasi ion hidrogen (H+) suatu larutan disebut zat asam (memiliki nilai di bawah 7 pada skala pH). Sebuah substansi yang terurai di dalam air dan dapat meningkatkan ion hidroksil/hidroksida (OH-) suatu larutan disebut zat basa (memiliki nilai di atas 7 pada skala pH). Makin tinggi nilai pH, makin rendah konsentrasi ion hidrogen dan artinya makin sedikit substansi yang bersifat asam.
Wasitaatmadja (1997) menjelaskan bahwa derajat keasaman (pH) merupakan paramater yang sangat penting dalam suatu produk kosmetik karena pH dari kosmetik yang dipakai mempengaruhi daya absorbsi kulit. Kosmetik dengan pH yang sangat tinggi atau sangat rendah dapat meningkatkan daya absorbsi kulit sehingga kulit menjadi teriritasi. Jellinek (1970) menjelaskan bahwa pH sabun umumnya berkisar antara 9,5 – 10,8. Kulit normal memiliki pH sekitar 5. Mencuci dengan sabun akan meningkatkan nilai pH kulit untuk sementara, akan tetapi kenaikan tersebut tidak akan melebihi nilai 7.
Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai pH berkisar antara 9,375 – 9,815. Data hasil analisis derajat keasaman (pH) dapat dilihat pada Gambar 11.
Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05) pada Lampiran 10 (bagian b) menunjukkan bahwa tepung
terkandung dalam sabun, namun konsentrasi NaOH berpengaruh. Hasil uji lanjut Duncan pada Lampiran 10 (bagian c) menunjukkan bahwa konsentrasi NaOH 30 % dan 35 % memberikan pengaruh yang nyata pada pH sabun.
Gambar 11. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan derajat keasaman (pH)
Pada Gambar 11. dapat dilihat bahwa konsentrasi NaOH memang berpengaruh nyata terhadap pH sabun. Semakin tinggi konsentrasi NaOH yang digunakan, maka semakin tinggi pH sabunnya.
Walaupun dengan komposisi NaOH yang sama, namun jika konsentrasinya berbeda tentu saja akan membedakan pH sabunnya.
Sabun yang dibuat dengan konsentrasi NaOH yang tinggi, maka sabun yang dihasilkan akan memiliki pH yang tinggi pula. Artinya sabun tersebut semakin bersifat basa.
8. Stabilitas Emulsi
Emulsi dalam situs (http://www.britannica.com, 2004) dijelaskan merupakan campuran dua atau lebih cairan dimana salah satu bentuk dari kedua cairan itu dalam ukuran tetesan-tetesan (droplets), mikroskopis, ultramikroskopis yang terdistribusi secara keseluruhan dalam cairan yang
DERAJAT KEASAMAN (pH)
lain. Emulsi terbentuk dari komponen cairan-cairan penyusunnya baik secara spontan atau seringkali terbentuk secara mekanik contohnya seperti agitasi.
Kestabilan emulsi dalam sabun dipengaruhi oleh jumlah asam lemak yang terkandung dalam sabun. Asam lemak ini berperan dalam menjaga konsistensi sabun. Kestabilan emulsi dalam sabun juga dipengaruhi oleh kadar air dan adanya bahan dasar yang bersifat higroskopis seperti gliserin dan EDTA. Semakin tinggi kadar air dalam sabun maka semakin tidak stabil sistem emulsinya.
Suryani et al, (2002) menjelaskan bahwa sabun padat termasuk dalam emulsi tipe w/o (water in oil). Emulsi yang baik tidak membentuk lapisan-lapisan, tidak terjadi perubahan warna dan memiliki konsistensi tetap. Stabilitas atau kestabilan suatu emulsi merupakan salah satu karakter penting dan mempunyai pengaruh besar terhadap mutu produk emulsi ketika dipasarkan. Ketidakstabilan suatu sistem emulsi dapat diamati dari fenomena yang terjadi selama emulsi dibiarkan atau disimpan dalam jangka waktu tertentu.
Prinsip dasar tentang kestabilan emulsi adalah keseimbangan antara gaya tarik menarik dan gaya tolak menolak yang terjadi antar partikel dalam sistem emulsi. Apabila kedua gaya ini dapat dipertahankan tetap seimbang atau terkontrol, maka partikel-partikel dalam sistem emulsi dapat dipertahankan agar tetap seimbang. Fase dominan (pendispersi) pada sabun mandi yang dihasilkan ialah fase minyak, sehingga pengemulsi (emulsifier) yang digunakan harus bisa larut dalam minyak.
Mutu produk emulsi salah satunya ditentukan oleh stabilitas emulsi, hal itu juga berlaku untuk sabun mandi yang merupakan produk emulsi. Penentuan stabilitas emulsi terhadap sabun bertujuan untuk mengetahui daya simpan sabun tersebut. Sabun mandi yang memiliki stabilitas emulsi yang baik akan memiliki daya simpan yang cukup panjang.
Hasil analisis menunjukkan bahwa semua sabun memiliki nilai stabilitas emulsi pada kisaran 83,435 – 85,520 %. Data hasil analisis stabilitas emulsi dapat dilihat pada Gambar 12.
Gambar 12. Histogram hubungan antara konsentrasi NaOH, tepung tapioka dan stabilitas emulsi
Hasil analisis keragaman dengan tingkat kepercayaan 95 % (Į=0,05) pada Lampiran 11 (bagian b) menunjukkan bahwa baik konsentrasi NaOH maupun tepung tapioka tidak mempengaruhi secara nyata stabilitas emulsi sabun.
9. Stabilitas Busa
Piyali (1999) menjelaskan bahwa busa merupakan aspek penting dalam produk-produk deterjen dan surfaktan merupakan salah satu penghasil busa yang baik. Dua hal penting yang harus diperhatikan tentang busa adalah kecepatan menghasilkan busa dan stabilitas busa.
Faktor yang mempengaruhi kedua hal tersebut ialah konsentrasi ion logam yang terdapat dalam air seperti ion kalsium (Ca2+) dan ion
Di dalam situs (www.online-tensiometer.com, 2004) dijelaskan bahwa stabilitas busa yang baik dapat bersifat positif atau negatif tergantung pada aplikasinya. Busa yang stabil cukup lama lebih diinginkan pada produk kesehatan tubuh karena busa dianggap
Di dalam situs (www.online-tensiometer.com, 2004) dijelaskan bahwa stabilitas busa yang baik dapat bersifat positif atau negatif tergantung pada aplikasinya. Busa yang stabil cukup lama lebih diinginkan pada produk kesehatan tubuh karena busa dianggap