Bank Rakyat Indonesia pada awalnya merupakan lembaga semacam perbankan yang bernama De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandshe Hoofden (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pribumi Purwokerto) yang dirintis atas prakarsa Patih Banyumas R. Wirjaatmaja. Pada tanggal 16 Desember 1895, lembaga tersebut berubah menjadi Hulp En Spaarbank der Indiandsche Bestuurs Ambternaren (Bank Bantuan dan Simpanan Milik Pegawai Pangreh Praja Berkebangsaan Pribumi). Tanggal tersebut kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran Bank Rakyat Indonesia (BRI). Selain itu, Hulp En Spaarbank der Indiandsche Bestuurs Ambternaren juga dikenal sebagai Bank Priyayi.
Pada tahun 1897, pemerintah di Purwokerto mengalami reorganisasi setelah Asisten Residen Banyumas, E. Sieburg digantikan oleh W.D.P. de Wolf Van Westterode. Sejalan dengan adanya reorganisasi tersebut, Bank Priyayi berganti nama menjadi Poerwokertosche Hulp Spaar en Landbow Credit Bank (Bank Bantuan, Simpanan dan Kredit Usaha Tani Purwokerto) dan diproyeksikan menjadi pusat dari bank-bank koperasi di pedesaan.
Dalam masa perkembangannya, pada tahun 1898 Poerwokertosche Hulp Spaar en Landbow Credit Bank lebih dikenal dikalangan masyarakat sebagai Volks Bank (Bank Rakyat), karena anggota dan jangkauan operasinya tidak terbatas hanya pada kaum priyayi saja, tapi meliputi masyarakat pada umumnya. Kemudian De Wolf mulai membentuk lembaga-lembaga perkreditan di pedesaan. Melihat perhatian De Wolf yang besar terhadap lembaga perkreditan rakyat, pada
tahun 1990 pemerintah Hindia Belanda menunjuk De Wolf untuk secara khusus menangani masalah dan pembentukan lembaga-lembaga perkreditan baru. Untuk mengembangkan bank-bank tersebut, pemerintah Hindia Belanda membentuk lembaga-lembaga yang disebut Volkscredietwezen (Urusan Perkreditan Rakyat) yang terdiri atas Afdeetingbank (Badan kredit Kabupaten) dan Dorpscediet Instelling (Bank Kredit Desa).
Berdasarkan Surat Keputusan Raja Belanda No. 118 tanggal 10 Juli 1912 Staatsblad 1912 No. 1912, pemerintah mendirikan Centrale Kas Voor het Volksredietwezen yang bertujuan menyediakan dana usaha dan memberikan bantuan dalam pengelolaan kepada badan-badan kredit rakyat tersebut. Namun, perkembangan Centrale Kas tidak berlangsung lama. Pada tanggal 19 Februari 1934, pemerintah mendirikan Algemeene Volksredietank (AVB) yang bertujuan mempersatukan bank-bank setempat untuk menghindari kesulitan financial yang mengakibatkan kerugian.
Periode setelah kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa Bank BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan Bank BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank BRI.
Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan undang-undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status Bank BRI berubah menjadi Perseroan terbatas. Sampai sekarang PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang didirikan sejak tahun 1895 tetap konsisten memfokuskan pada pelayanan kepada masyarakat kecil, diantaranya dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Hal ini antara lain tercermin pada perkembangan KUK (Kredit Usaha Kecil) pada tahun 1994 sebesar Rp 6.419,8 milyar yang meningkat menjadi Rp 8.231,1 milyar pada tahun 1995 dan pada tahun 1999 sampai dengan bulan September sebesar Rp 20.466 milyar.
Bank BRI kantor cabang bogor pajajaran diresmikan pada tanggal 12 Nopember 2013 oleh Direktur Utama BRI yakni Sofyan Basyir dan sampai dengan saat ini BRI kantor cabang bogor pajajaran mempunyai unit kerja yakni 7 Kantor Cabang Pembantu, 2 Kantor Kas Bayar, dan 2 Payment Point.
Visi dari Bank Rakyat Indonesia adalah menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah. Misinya adalah melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi masyarakat, memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang professional dengan melaksanakan praktik good corporate governance. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Analisis Lingkungan Perusahaan 1. Analisis Lingkungan Internal
Bank Rakyat Indonesia dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya dengan melakukan analisis internal. Informasi mengenai kekuatan dan kelemahan dapat menentukan apa yang dilakukan. Dengan sumber
daya yang dimiliki, Bank Rakyat Indonesia dapat memiliki kapasitas berwujud kompetensi inti yang nantinya menjadi daya saing dan merupakan keunggulan kompetitif bagi BRI Bogor Pajajaran.
a. Segmentation, Targeting, dan Positioning (STP)
STP yang jelas dan jitu merupakan salah satu faktor keberhasilan dari strategi pemasaran yang dijalankan oleh perusahaan. STP dijadikan sebagai landasan bagi perusahaan agar lebih fokus dalam merencanakan, memilih, dan menjalankan kegiatan pemasarannya sehingga dapat menjadi lebih efektif dan optimal.
1) Segmentation
Terdapatnya heterogenitas dalam suatu pasar mengharuskan perusahaan untuk mengklasifikasikannya dalam suatu segmen tertentu. Hal ini karena terbatasnya sumberdaya perusahaan untuk dapat melayani semua segmen yang ada dalam pasar. Segmentasi pasar perusahaan adalah Pengusaha Kecil dan Menengah yang tinggal pada wilayah sub urban di Kota Bogor di sekitar Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu BRI Bogor Pajajaran. 2) Targeting
Setelah perusahaan menentukan segmentasinya, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan pasar sasaran. Perusahaan memiliki target Pengusaha Kecil dan Menengah yang sudah memiliki usaha dan membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya.
3) Positioning
BRI Bogor Pajajaran memposisikan produknya sebagai produk yang memperkenalkan sebuah sistem perbankan alternatif bagi Pengusaha Kecil dan Menengah.
b. Analisis Bauran Pemasaran 1) Produk
Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini dapat diberikan untuk keperluan modal kerja dan investasi. BRI Bogor Pajajaran merupakan salah satu produk pinjaman berupa modal usaha yang diberikan oleh Bank Rakyat Indonesia kepada para pengusaha kecil dan menengah untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar lagi, baik usaha perorangan maupun kelompok. Kredit modal kerja Bank BRI difokuskan hanya untuk pembiayaan dan penambahan aktiva lancar, yaitu berupa piutang usaha dan persediaan. Jenis usaha yang biasa dibiayai oleh kredit ini antara lain usaha- usaha yang tidak bertentangan dengan norma agama maupun usaha yang dilarang oleh pemerintah. Produk yang ditawarkan BRI Bogor Pajajaran berupa Kredit Modal Kerja (KMK). KMK merupakan fasilitas kredit modal usaha yang diberikan oleh Bank Rakyat Indonesia yang diberikan tanpa agunan, khusus untuk para pengusaha kecil dan menengah untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih besar lagi, baik usaha perorangan maupun kelompok yang memiliki usaha kecil dan menengah dan sudah berjalan minimal selama 1 tahun. Kredit hanya diberikan kepada pengusaha perorangan maupun kelompok yang memenuhi syarat usaha perorangan maupun kelompok.
2) Harga
Harga yang ditetapkan di BRI Bogor Pajajaran yaitu berupa tingkat suku bunga pinjaman, yaitu sebesar tiga belas persen per tahun dan bebas provisi.
Kredit diberikan tanpa adanya agunan atau jaminan dari pihak debitur. Dan mendapatkan jaminan langsung dari Asuransi Kredit Indonesia (ASKRINDO).
3) Promosi
Promosi yang dilakukan BRI Bogor Pajajaran dilakukan melalui berbagai media. BRI Bogor Pajajaran melakukan promosi melalui radio lokal, media cetak, brosur, dan langsung mendatangi calon nasabah.
Pemilihan radio dan koran lokal sebagai pilihan promosi karena sasaran yang diincar adalah masyarakat di sekitar lingkungan BRI Bogor Pajajaran, yaitu di daerah Kota Bogor. Selain itu pemilihan radio dan koran lokal juga dilakukan untuk menyesuaikan dengan anggaran yang ada.
Pendistribusian brosur selain dilakukan ke seluruh kantor BRI Bogor Pajajaran juga dibagikan saat melakukan kegiatan penawaran produk. Brosur memiliki keunggulan berupa kemudahan dalam menjangkau konsumen, karena brosur ini langsung dibagikan kepada konsumen. Brosur diberikan ke tempat-tempat dimana calon debitur sering berkumpul dan lingkungan yang memiliki banyak usaha mikro.
Promosi ini dilakukan secara langsung oleh pihak BRI Bogor Pajajaran dengan mendatangi rumah atau tempat-tempat berkumpulnya calon debitur. Dengan melakukan personal selling, calon debitur bisa dijelaskan secara detail tentang produk yang ditawarkan. Pertemuan langsung antara pihak bank dengan calon debitur memungkinkan pihak bank untuk menggugah hati calon debitur dengan segera, dan pada waktu itu juga diharapkan calon debitur dapat mengambil keputusan untuk menjadi debitur.
4) Place (Distribusi)
BRI Bogor Pajajaran melakukan penempatan bangunan kantornya di sekitar lingkungan yang terdapat banyak pengusaha menengah kecil. Di Jalan Pajajaran Kota Bogor terdapat banyak pengusaha menengah kecil. Distribusi adalah kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari podusen kepada konsumen. Karyawan BRI Bogor Pajajaran mendatangi para debitur yang ingin melakukan peminjaman untuk mempermudah dan sebagai layanan khusus kepada debiturnya.
5) Orang
BRI Bogor Pajajaran melakukan pelatihan training produk terbaru kepada karyawannya mengenai produk yang akan ditawarkan kepada calon debiturnya. Pelatihan yang dilakukan diharapkan akan membantu dalam penyampaian produk kepada calon debiturnya secara lebih baik. Selain itu juga ada morning briefing tentang kegiatan yang akan dilakukan.
6) Bukti Fisik
Gedung, brosur tentang KUR Kredit Modal Kerja dan karyawan merupakan bukti fisik dari BRI Bogor Pajajaran. Gedung yang nyaman dan rapi menjadi nilai tambah di mata calon debiturnya.
7) Proses
Pihak BRI Bogor Pajajaran mengadakan pertemuan dengan calon debiturnya dengan mendatangi rumah dan tempat usahanya dalam rangka melihat karakter dan prospek usaha dari calon debiturnya. Setelah disetujui melakukan peminjaman, pihak bank akan mengawasi dan membantu
perkembangan usaha debiturnya dengan melakukan pertemuan antara debitur dengan pihak bank. Pertemuan ini bertujuan untuk memperlancar proses pembayaran yang dilakukan oleh debitur.
8) Produktivitas dan Kualitas
Kualitas sangat penting pada Jasa ketimbang pada produk, jika produk kualitas rendah masih bisa laku di pasar, tidak demikian halnya dengan Jasa. Adapun kualitas jasa yang disajikan menurut tingkat kepentingannya adalah:
a) Tangible
Karyawan yang berpakaian secara seragam mempengaruhi penilaian pelanggan terhadap perusahaan. Dengan menggunakan pakaian seragam dapat memberikan impresi positif dari pelanggannya.
b) Reliability
Kemampuan melaksanakan layanan yang menjanjikan secara meyakinkan dan akurat, yaitu dengan cara memberikan layanan yang sesuai dengan janji yang telah ditetapkan dan menyediakan layanan pada waktu yang dijanjikan dan melakukan pekerjaan secara professional tanpa membuat pelanggan kecewa dengan cara kerja atau hasil kerja dari BRI Bogor Pajajaran.
c) Responsiveness
Kesediaan membantu nasabah dan memberikan jasa dengan cepat. Mengusahakan nasabah tetap terinformasi misalnya kapan layanan akan dilakukan, mempersiapkan layanan yang dibutuhkan serta kesigapan untuk menanggapi permintaan pelanggan tanpa mengulur waktu. Hal ini strategi yang tepat untuk mempertahankan nasabah tetap KUR Kredit Modal Kerja serta menambah calon nasabah.
d) Assurance
Jaminan berupa pengetahuan, kesopanan karyawan, dan kemampuan mereka menyampaikan produk KUR Kredit Modal Kerja. Karyawan memiliki pengetahuan untuk menjawab pertanyaan nasabah sehingga memperlihatkan kompetensi perusahaan yang baik.
e) Empati
Perusahaan memberikan perhatian yang mendalam dan khusus kepada nasabah dengan memahami kebutuhan nasabah dan memperhatikan nasabahnya. Nasabah yang sudah sering melakukan pinjaman diprioritaskan dalam pelayanannya.
2. Analisis Lingkungan Eksternal
Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur yang berada di luar organisasi, dimana unsur-unsur ini tidak dapat dikendalikan dan mempengaruhi di dalam pengambilan keputusan yang akan dibuat. Analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk mengetahui ancaman dan peluang. Ancaman adalah suatu kondisi dalam lingkungan umum yang dapat menghambat usaha-usaha perusahaan untuk mencapai daya saing strategik. Sedangkan peluang adalah kondisi dalam lingkungan umum yang dapat membantu perusahaan mencapai daya saing strategik.
a. Lingkungan umum
Lingkungan umum meliputi faktor-faktor di luar perusahaan yang dapat memberikan informasi tentang peluang dan ancaman yang terdapat pada BRI Bogor Pajajaran :
1) Sosial
Saat ini masyarakat mulai tertarik kepada sistem perkreditan perbankan. Masyarakat bisa mendapatkan pinjaman dengan mudah dan cepat untuk memenuhi kebutuhannya merupakan sebuah keuntungan bagi masyarakat. 2) Ekonomi
Kondisi perekonomian negara mempengaruhi penetapan kebijakan suatu perusahaan. Kondisi ekonomi yang kurang stabil mempengaruhi kebijakan perusahaan, pengaruh yang ditimbulkan oleh situasi ekonomi dapat merugikan atau menguntungkan perkembangan perusahaan.
3) Lingkungan Industri
Lingkungan industri disebut juga lingkungan mikro. Perusahaan menghadapi lingkungan industri yang memiliki pengaruh terhadap kegiatan pemasaran. Lingkungan industri yang memiliki pengaruh terhadap perusahaan adalah : a) Ancaman Masuk pendatang Baru
Kompetitor BRI Bogor Pajajaran dalam memasarkan KUR Kredit Modal Kerja semakin banyak. Hal itu tercermin dari semakin banyaknya pula bank nasional penyalur KUR yang memperluas cabangnya dengan membuka kantor – kantor cabang pembantu. Namun demikian, adanya kompetitor lainnya tidak berpengaruh besar bagi perusahaan. Hal itu dikarenakan perusahaan optimis dengan memberikan jaminan pelayanan yang cepat dan prosedur yang mudah.
b) Persaingan Sesama Perusahaan dalam Industri
Dari sekian banyak kompetitor pemasar Kredit Usaha Rakyat Kredit Modal Kerja, Bank BNI dan Bank Mandiri merupakan pesaing terbesar. Hal itu dikarenakan jumlah kantor cabang pembantu bank masing – masing tersebut bertambah. Akan tetapi, dengan keunggulan perusahaan dalam segi kualitas pelayanan yang cepat dan mudah, serta dengan teknik jemput bola yang langsung mendatangi nasabah, akan mempengaruhi keputusan para calon nasabah perusahaan untuk lebih memilih BRI Bogor Pajajaran.
c) Ancaman dari Produk Pengganti
Ancaman dari produk pengganti, seperti Kredit dengan jaminan BPKB kendaraan bermotor, dan lain-lain yang ditawarkan oleh kompetitor; tidak berpengaruh langsung. Hal ini dikarenakan produk KUR unik dan spesifik, khusus untuk pengusaha dan tanpa agunan sehingga mempunyai kelebihan tersendiri dari produk lainnya.
d) Kekuatan tawar-menawar Pembeli
Pembeli yang dalam hal ini adalah nasabah, menjadi objek dalam pemasaran produk KUR Kredit Modal Kerja. Oleh karena itu, perusahaan perlu menjalin hubungan baik dengan nasabah. Menjaga hubungan baik tersebut dengan memberikan pelayanan yang maksimal dan melakukan penawaran yang intensif.
e) Kekuatan Tawar menawar pemasok
Pemasok bagi perusahaan adalah investor atau nasabah yang menabung dan mendepositokan uangnya di BRI Bogor Pajajaran. Menjalin hubungan baik dengan nasabah diperlukan dengan cara menjaga kepercayaan nasabah dan memberikan pelayanan semaksimal mungkin.
Identifikasi Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman
Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi lingkungan internal dan eksternal perusahaan dalam memasarkan produk KUR Kredit Modal Kerja, diperoleh beberapa kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada perusahaan, serta peluang dan ancaman yang dihadapi.
1. Identifikasi Kekuatan
Kekuatan menggambarkan sesuatu yang dimiliki perusahaan yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kekuatan yang dimiliki oleh perusahaan dalam memasarkan KUR Kredit Modal Kerja, yaitu :
a. Persyaratan mudah tanpa agunan
Kemudahan dalam mendapatkan kredit merupakan suatu faktor penting dalam mendapatkan nasabah. Persyaratan mudah dan pemberian pinjaman tanpa agunan menjadi kelebihan yang tidak dimiliki oleh produk pesaing. Nasabah bisa meminjam dengan persyaratan dalam mendapatkan kredit yang tidak membebani mereka.
b. SDM yang berpengalaman
BRI Bogor Pajajaran berusaha untuk dapat memberikan pelayanan yang maksimal demi kepuasan nasabahnya. Hal itu terkait dengan kualitas SDM yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan mengadakan pelatihan kepada karyawannya secara rutin, sesuai dengan bidangnya agar kualitas SDM tetap terjaga dan lebih baik dari waktu ke waktu.
c. Lokasi yang strategis
Lokasi yang strategis dibutuhkan agar bisa mengembangkan strategi dengan baik. Lokasi BRI Bogor Pajajaran berada di pusat kota daerah yang banyak terdapat UMKM sehingga bisa memudahkan dalam proses pemasaran produk KUR Kredit Modal Kerja dan efisiensi biaya.
d. Kecepatan pemberian keputusan kredit
Perusahaan memberikan pelayanan dengan cepat dalam memberikan keputusan kredit. Keputusan pemberian kredit dapat berlangsung kurang dari 24 jam. Perusahaan memprioritaskan pemberian KUR Kredit Modal Kerja sehingga bisa dengan cepat memberikan keputusan kredit.
e. Menggunakan Teknik Jemput Bola yang Memudahkan dan Mempercepat Nasabah Mendapatkan Pelayanan.
Nasabah dan calon nasabah tidak perlu mendatangi kantor BRI Bogor Pajajaran untuk melakukan pinjaman. Perusahaan akan mendatangi nasabah dan calon nasabah untuk memudahkan dan mempercepat nasabah atau calon nasabah mendapatkan pelayanan. Dalam proses pembayaran pinjaman, pihak perusahaan akan mendatangi nasabah sehingga tidak perlu repot mendatangi kantor. Ini merupakan nilai tambah tersendiri bagi calon nasabah atau nasabah BRI Bogor Pajajaran.
2. Identifikasi Kelemahan
Kelemahan mencerminkan hal yang tidak dimiliki perusahaan, tetapi perusahaan lain memilikinya. Kelemahan juga dapat berupa kendala internal perusahaan dalam memasarkan produk. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa kelemahan yang terdapat pada BRI Bogor Pajajaran, diantaranya:
a. Jumlah pinjaman yang relatif kecil
BRI Bogor Pajajaran menetapkan jumlah pinjaman KUR Kredit Modal Kerja maksimal hanya sebesar lima ratus juta rupiah. Calon nasabah yang ingin melakukan pinjaman lebih besar dari lima ratus juta rupiah tidak bisa mendapatkannya melalui KUR Kredit Modal Kerja.
b. Kriteria Jenis Usaha
BRI Bogor Pajajaran menetapkan kriteria jenis usaha yang produktif saja. Calon nasabah yang ingin melakukan pinjaman dengan kondisi usaha kurang produktif tidak bisa mendapatkan KUR Kredit Modal Kerja di BRI Bogor Pajajaran.
c. Lama Berusaha
BRI Bogor Pajajaran menetapkan kriteria Laba Berusaha bagi calon nasabah dengan minimal lama berusaha 1 tahun.
d. Jangka waktu pinjaman yang terlalu cepat
Nasabah yang melakukan peminjaman hanya diberi waktu tiga piluh enam bulan untuk melunasi pinjamannya. Waktu yang sempit untuk melunasi pinjaman menjadi faktor penting yang menentukan nasabah melakukan peminjaman di BRI Bogor Pajajaran. Nasabah akan bisa mengatur pendapatan dan pengeluarannya lebih baik jika diberikan jangka waktu lebih lama dalam melakukan pembayaran.
e. Batas Area Wilayah
BRI Bogor Pajajaran membatasi area wilayah pemberian kredit bagi nasabah yang tinggal di sekitar kotamadya Bogor saja dilingkungan Kantor Cabang dan Kantor Cabang Pembantu BRI Bogor Pajajaran, tidak kepada areal lainnya misalnya ke daerah Kabupaten Bogor lainnya.
3. Identifikasi Peluang
Peluang menggambarkan faktor yang berasal dari lingkungan eksternal yang memungkinkan perusahaan untuk berkembang, sehingga menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan oleh BRI Bogor Pajajaran, diantaranya sebagai berikut:
a. Program Pemerintah terhadap UMKM
KUR Kredit Modal Kerja merupakan program dari Pemerintah yang tujuannya adalah untuk mensejahterakan para usahawan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Oleh karena itu Program pemberian KUR ini merupakan peluang untuk mensejahterakan rakyat.
b. Perkembangan KUR yang meningkat
Perkembangan KUR Kredit Modal Kerja yang baik di Bogor menjadi sebuah peluang yang besar dalam memasarkan produk KUR Kredit Modal Kerja.
c. Kebutuhan masyarakat akan kredit meningkat
Berdasarkan analisis di lapangan untuk masyarakat Kota Bogor, kebutuhan akan kredit meningkat 2,64 % dari tahun sebelumnya. Meningkatknya kebutuhan akan kredit menunjukkan peluang bagi BRI Bogor Pajajaran dalam memasarkan produk KUR Kredit Modal Kerja.
d. Image BRI sudah melekat di hati masyarakat Indonesia
Masyarakat di Indonesia khususnya daerah Kota Bogor tidak asing lagi dengan nama BRI yang sudah terkenal dan terpercaya, hal ini menjadi peluang untuk terus meningkatkan penjualan produk KUR Kredit Modal Kerja.
e. Perkembangan UMKM yang pesat
Perkembangan UMKM di Kota Bogor mengalami perkembangan dengan pesat sekali, dari perkembangan ini tentu saja menjadi faktor peluang bagi perusahaan dalam menyalurkan produk KUR Kredit Modal Kerja.
4. Identifikasi Ancaman
Ancaman adalah faktor yang berasal dari luar perusahaan yang harus dihadapi untuk mengurangi dampak yang merugikan perusahaan dalam kegiatan pemasaran produk KUR Kredit Modal Kerja. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan beberapa ancaman yang dihadapi BRI Bogor Pajajaran, yaitu:
a. Resiko Gagal Bayar (NPL)
Resiko Gagal Bayar bisa jadi disebabkan oleh nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar mengalami kenaikan sehingga banyak usahawan yang gulung tikar karena tidak mampu bertahan dengan kondisi ekonomi seperti itu. Resiko Gagal bayar ini merupakan ancaman yang perlu dipertimbangkan dalam memberikan KUR Kredit Modal Kerja.
b. Pemalsuan Dokumen Kredit
Pemasulsuan dokumen kredit kadang-kadang sering dilakukan oleh nasabah yang berniat jahat kepada pihak Bank oleh karena itu pihak BRI Bogor Pajajaran dalam hal pengecekan data nasabah harus teliti dan terbukti kebenarannya.
c. Pesaing yang memberikan kredit sejenis
Bank BNI merupakan kompetitor utama dalam memasarkan KUR Kredit Modal Kerja. Selain itu Bank Penyalur KUR lain seperti Bank Mandiri dan bank-bank lain yang melayani produk yang serupa dengan KUR Kredit Modal Kerja menjadi ancaman bagi perusahaan.
d. Kondisi ekonomi yang tidak stabil
Pertumbuhan ekonomi perbankan nasional yang cenderung tidak stabil, mempengaruhi kepercayaan masyarakat untuk menabung ataupun melakukan pinjaman kepada bank. Hal itu pula mempengaruhi pertumbuhan BRI Bogor Pajajaran dan berpengaruh pada perusahaan dalam memasarkan produknya. Pada masa krisis moneter pada tahun 1997, tingkat kepercayaan masyarakat yang menurun, mengakibatkan banyak tabungan yang ditarik dan berkurangnya dari masyarakat yang melakukan transaksi pinjaman. e. Persaingan dengan Bank Asing yang memberikan kemudahan pemberian
Kredit
Sekarang banyak sekali bermunculan Bank-Bank Asing yang dengan sangat mudah memberikan kredit kepada masyarakat. Hal ini merupakan ancaman
no satu, untuk itu pihak BRI Bogor Pajajaran harus bisa menciptakan inovasi-inovasi baru.
Perumusan Strategi Pemasaran 1. Tahap Input (Tahap Masukan)
a. Analisis Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)
Analisis lingkungan internal perusahaan menghasilkan lima kekuatan dan lima kelemahan. Matriks IFE disusun berdasarkan identifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki perusahaan, dimana key succes factor dari