• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sifat permanen meningkat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Struktur Tegakan dan Komposisi Jenis Tumbuhan

Pengamatan jenis pohon di hutan alam dilakukan untuk mengetahui luas minimal petak contoh. Berdasarkan data pengamatan jenis pohon tersebut dibuat species area curve seperti disajikan pada Gambar 8.

0 10 20 30 40 50 60 70 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9

Luas petak contoh (ha)

Ju m lah sp ec ie s p o h o n (i n d iv id u )

Gambar 8 Kurva species area pada hutan alam di Desa Rompo di sekitar Taman Nasional Lore Lindu.

Gambar 8 menunjukkan bahwa pada luas petak contoh melebihi 0.2 ha, ada kecenderungan pertambahan jumlah jenis pohon sudah menurun meskipun ukuran petak contoh diperluas. Hal tersebut menunjukkan bahwa ukuran minimal petak contoh yang dinilai dapat mewakili kondisi ekosistem hutan alam di lokasi penelitian adalah mendekati 0.25 ha (50 m x 50 m). Luas petak contoh (0.25 ha) ini juga telah digunakan di hutan alam tidak terganggu di Desa Toro, Sulawesi Tengah (Pitopang, 2006).

Kerapatan dan keanekaragaman jenis

Hasil analisis vegetasi pada hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan tua menunjukkan adanya pengaruh konversi hutan alam menjadi ladang dan/atau kebun hutan, dan suksesi alami dari ladang hingga menjadi hutan sekunder

terhadap struktur tegakan dan komposisi jenis tumbuhan. Keragaan sifat ekosistem hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua berdasarkan tingkat pertumbuhan pohon di lokasi 1 dan 2 disajikan pada Tabel 5. Tabel 5 Keragaan sifat ekosistem hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder

muda dan tua berdasarkan tingkat pertumbuhan pohon di lokasi 1 dan 2. Lokasi 1 Lokasi 2 Tipe Penggunaan Lahan Tingkat Pertumbuhan Jumlah jenis Kerapatan (indiv./ha) LBD (m2/ha) Jumlah jenis Kerapatan (indiv./ha) LBD (m2/ha) Pohon 30 232 31.1 31 212 35.9 Tiang 27 200 3.2 41 300 4.7 Pancang + Semai 66 20.284 2.3* 79 21.508 0 .6* Hutan Alam (HA) Tumbuhan bawah 39 137.000 47 191.700 Pohon 1 4 0.2 - - - Tiang - - - 1 4 0.03 Pancang + Semai 30 44.900 6 1.700 Ladang (L) Tumbuhan bawah 55 1.108.100 47 1.432.600 Pohon 4 64 2.6 6 60 6.9 Tiang 11 364 5.9 6 84 1.4 Pancang + Semai 33 15.716 0.4* 18 102.358 0.3* Kebun Hutan (KH) Tumbuhan bawah 53 706.800 38 914.700 Pohon 2 8 1.1 8 76 12.1 Tiang 14 176 1.9 14 332 4.9 Pancang + Semai 62 24.100 7.2* 28 3.260 1.1* Hutan Sekunder Muda (HSM) Tumbuhan bawah 41 179.300 28 471.000 Pohon 12 108 6.8 25 228 21.2 Tiang 20 456 7.2 25 316 4.7 Pancang + Semai 34 9.056 1.5* 61 9.148 2.5* Hutan Sekunder Tua (HST) Tumbuhan bawah 41 181.300 30 182.500

Keterangan: LBD = Luas bidang dasar; * LBD pancang

Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah jenis, kerapatan dan luas bidang dasar pohon paling tinggi ditemukan di hutan alam, baik di tingkat pohon dan tiang, maupun pancang dan semai jika dibandingkan dengan di ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua. Di lokasi 1, ladang hanya ditumbuhi satu jenis pohon yaitu Trema orientalis (pohon) dan semai 30 jenis, dan di lokasi 2 juga hanya ada Bischoffia javanica Blume (tiang) dan semai 6 jenis. Selanjutnya, di kebun hutan ditemukan jumlah jenis dan kerapatan pohon lebih banyak, meskipun sebagian besar masih tersebar pada tingkat pancang dan semai. Kemudian, di hutan sekunder muda ditemukan jumlah jenis pohon lebih tinggi daripada kebun hutan dan mulai tersebar pada tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu pohon dan tiang, walaupun jumlahnya masih sedikit tergantung pada umur pengelolaan lahan. Lalu di hutan

sekunder tuaditemukan jumlah jenis pohon lebih tinggi (42-72 jenis) daripada hutan sekunder muda, meskipun masih lebih rendah daripada hutan alam.

Di lokasi 1, jumlah jenis dan kerapatan pada tingkat semai di ladang cenderung masih tinggi jika dibandingkan dengan hutan alam, tapi kemudian menurun di kebun hutan dan di hutan sekunder tua. Hal ini diduga disebabkan oleh masih banyak biji jenis pohon hutan yang terpendam dalam tanah, meskipun kemudian jumlahnya cenderung menurun dengan semakin lamanya lahan dikelola dan tajuk tanaman pokok dan pohon pelindung semakin berkembang di kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua. Sedangkan di lokasi 2, sangat sedikit jumlah semai jenis pohon yang tumbuh alami di ladang, tapi kemudian meningkat di kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua. Hal ini diduga disebabkan oleh sifat semai jenis pohon hutan yang tidak mampu tumbuh dan berkembang di tempat terbuka dan biji-biji yang mungkin tersimpan dalam tanah juga sudah habis karena lahan selalu dibersihkan.

Menurut Jacobs (1981), kecukupan jumlah tumbuhan untuk tetap dapat menjaga heterogenitas dan adaptabilitas vegetasi terhadap perubahan-perubahan ataupun penyakit yakni berkisar 1.000-25.000 individu/ha dengan rata-rata kisaran 5.000 individu/ha yang tersebar dari tingkat semai hingga pohon. Jika dibandingkan dengan jumlah individu/ha yang diperoleh di hutan alam dari tingkat semai hingga pohon (20.716-22.020 individu/ha), maka jumlah tersebut tergolong cukup bagi hutan alam di Sulawesi Tengah untuk mempertahankan heterogenitas dan adaptabilitas vegetasinya. Selanjutnya, kerapatan pohon berdiameter > 10 cm di hutan klimaks dataran rendah di Indonesia pada umumnya berkisar 400-600 pohon/ha (Bratawinata, 1993; Sutisna, 1996) dan kerapatan permudaan tingkat pancang berkisar 2.290 - 3.675 individu/ha di hutan alam dataran rendah Kalimantan Timur (Rizal, 1994). Berdasarkan data kerapatan pancang, tiang dan pohon di hutan alam maupun hutan sekunder tua (umur > 30 tahun) yang diperoleh pada studi ini masih berada pada kisaran normal. Namun jumlah individu/ha di hutan sekunder tua (umur < 30 tahun), hutan sekunder muda dan kebun hutan tergolong rendah.

Berbeda halnya dengan jenis tumbuhan bawah yang kerapatannya cenderung mirip dengan semai. Jumlah kerapatan tumbuhan bawah paling tinggi ditemukan di ladang jika dibandingkan dengan hutan alam, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua. Hal ini diduga disebabkan oleh penutupan tajuk pohon yang cenderung semakin meningkat dan menghambat tumbuhan bawah.

Tabel 5 juga menunjukkan bahwa luas bidang dasar total pohon paling tinggi terdapat di hutan alam (36.6 m2/ha) di lokasi1 atau 85% pohon, 9% tiang dan hanya 6% pancang, dan 41.2 m2/ha di lokasi 2 atau 87% pohon, 11.5% tiang dan 1.5% pancang. Luas bidang dasar pohon paling rendah di ladang(0.2 m2/ha di lokasi 1 dan 0.03 m2/ha di lokasi 2). Kemudian setelah dilakukan penanaman pohon produktif kakao/kopi, buah-buahan dan pohon pelindung (kebun hutan) atau dibiarkan lahan mengalami suksesi sekunder selama beberapa tahun (hutan sekunder mudadan hutan sekunder tua), maka luas bidang dasar pohon meningkat menjadi 15.5 m2/ha di hutan sekunder tua (lokasi 1) dan 28.4 m2/ha (lokasi 2). Luas bidang dasar total pohon di hutan alam yang diperoleh pada studi ini ada kemiripan dengan yang diperoleh Brodbeck et al. (2003) yaitu antara 31.6-33.1 m2/ha, namun lebih rendah jika dibandingkan dengan studi Dietz et al. (2006) di Toro (51 m2/ha), tapi lebih rendah daripada hutan primer (25.4 m2/ha) di Kutai (Bratawinata, 1993). Namun jika dibandingkan dengan hutan alam di atas elevasi 600 m di wilayah Asia Tenggara, maka nilai tersebut masih berada dalam interval luas bidang dasar hutan alam (Aiba dan Kitayama, 2002; Kessler et al., 2005).

Kebun hutan muda (kakao < 1 tahun) memiliki luas bidang dasar pohon paling tinggi tersebar pada tingkat tiang (66.5%), tingkat pohon (29%) dan hanya 4.5% pada tingkat pancang. Sedangkan di kebun hutan tua paling tinggi (80.2%) tersebar pada tingkat pohon, dan 16.3% pada tingkat tiang dan hanya 3.5% (pancang). Luas bidang dasar pohon di lokasi 1 terutama tersebar pada pohon pelindung, sementara tanaman pokok kakao masih berada pada tingkat semai. Sedangkan di lokasi 2, luas bidang dasar pohon dan tiang selain tersebar pada jenis pohon pelindung juga terdapat pada tanaman kakao dan kopi.

Hutan sekunder muda yang berkembang dari bekas perladangan memiliki 70% luas bidang dasar tersebar pada tingkat pancang dan sisanya 30% pada tingkat pohon dan tiang, sedangkan yang berkembang dari kebun hutan tidak produktif, luas bidang dasar pohon sekitar 67% pohon dan 27% tiang dan hanya 6% pada tingkat pancang. Hal ini menunjukkan bahwa struktur tegakan dan komposisi jenis tumbuhan suatu komunitas dipengaruhi oleh latar belakang penggunaaan dan lamanya proses suksesi.

Di lokasi 1, hutan sekunder tua memiliki luas bidang dasar pohon sekitar 46% tersebar pada tingkat tiang dan 44% pada pohon dan hanya 10% pada tingkat pancang, sedangkan di lokasi 2, hutan sekunder tuamemiliki luas bidang dasar pohon sebagian besar (75%) tersebar pada tingkat pohon,16% pada tiang dan 9% pada pancang. Hal ini menunjukkan bahwa proporsi luas bidang dasar pada tingkat pohon meningkat seiring dengan lamanya proses suksesi sekunder.

Selanjutnya keragaan ekosistem juga dapat digambarkan dengan indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener (H’) pada masing-masing tipe penggunaan lahan (Gambar 9). 3,23,03,3 0,0 2,8 0,9 1,3 2,5 0,7 2,0 3,1 2,3 2,6 2,4 3,2 3,43,6 0,0 1,6 1,2 1,6 1,8 1,9 2,3 1,8 3,02,93,2 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 4,0 In d eks S h a nnon-Wie ne r (H ') HA L KH HSM HST HA L KH HSM HST

Tipe Penggunaan Lahan

Lokasi 1 Lokasi 2

Pohon Tiang Pancang+Semai

Gambar 9 Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener (H’) pohon, tiang, pancang dan semai di hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua.

Gambar 9 menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis pohon paling tinggi (H’ > 3) di hutan alam, baik pada tingkat semai dan pancang maupun tiang dan pohon,

tapi paling rendah di ladang. Indeks keanekaragaman jenis pohon pada tingkat semai cenderung memiliki pola perubahan yang berbeda dengan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Semai di ladangyang baru dibuka (lokasi 1) cenderung masih memiliki indeks keanekaragaman jenis yang agak tinggi, tapi kemudian semakin lama lahan diolah akan semakin rendah keanekaragamannya seperti di lokasi2. Keanekaragaman jenis semai cenderung meningkat kembali setelah diberakan beberapa tahun, lalu sedikit menurun saat dibangun kebun hutan. Sementara, keanekaragaman jenis semai di kebun hutan yang dibangun dari ladang ada kecenderungan meningkat karena penanaman beberapa jenis pohon (kakao/kopi, buah-buahan dan untuk pelindung). Perubahan-perubahan keanekaragaman jenis tersebut diduga disebabkan oleh adanya perubahan iklim mikro yang dapat menyebabkan kematian terhadap semai yang pertumbuhannya masih lemah. Selain itu pada saat lahan hutan baru dibuka, masih banyak biji-biji pohon hutan tidak toleran naungan yang tersimpan di lantai hutan secara alami telah mengalami pemanasan pada saat pembersihan lahan, yang menyebabkan biji tersebut dapat berkecambah dan tumbuh menjadi anakan baru. Namun dengan semakin lamanya lahan diolah menyebabkan simpanan biji-biji pohon hutan semakin menurun dan semai tidak toleran naungan juga mengalami kematian, yang menyebabkan keanekaragaman jenis menjadi rendah. Tetapi dengan pertumbuhan pohon-pohon pelindung pada kebun hutan tampak dapat memperbaiki iklim mikro menyebabkan keanekaragaman jenis semai meningkat, karena jenis-jenis toleran naungan secara perlahan-lahan dapat pula tumbuh dan menambah keanekaragaman jenis semai.

Perbedaan kecenderungan antara ekosistem hutan alam dengan kebun hutan pada berbagai tingkat perkembangan dapat disebabkan oleh adanya beberapa jenis tumbuhan yang dapat hidup dan beradaptasi pada lingkungan yang telah stabil. Sedangkan pada ekosistem yang telah mengalami gangguan seperti ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua telah terjadi perubahan iklim mikro yang memaksa jenis tumbuhan yang sudah stabil untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Konsekuensinya, banyak jenis tumbuhan yang tahan naungan mengalami kematian, hanya jenis yang memiliki batas toleransi lebar

yang dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Studi yang dilakukan di Desa Toro (batas sebelah selatan-barat TNLL) oleh Pitopang (2006) menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu nilai indeks keanekaragaman jenis di hutan alam yang intensitas penggunaannya rendah memiliki keanekaragaman jenis pohon, tiang, dan pancang yang tinggi (H’ > 3), tetapi menurun dengan meningkatnya intensitas penggunaan.

Selanjutnya, keanekaragaman jenis tumbuhan bawah (Gambar 10) menunjukkan di ladang masih agak tinggi (H’ = 2.4-3.0), karena selain jenis tidak toleran terdapat pula beberapa jenis tumbuhan bawah toleran. Namun seiring dengan perkembangan naungan dari pohon pelindung alami maupun yang ditanam di kebun hutan dan hutan sekunder muda menyebabkan turunnya jumlah jenis tumbuhan bawah yang tidak toleran naungan. Tetapi kemudian keanekaragaman jenis meningkat kembali pada hutan sekunder tua, karena terdapatnya celah-celah tajuk yang menyebabkan beberapa jenis tidak toleran naungan masih bertahan hidup.

2,5 2,5 3,0 2,8 2,9 2,4 3,0 2,8 2,5 3,0 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 In de k s S h nn on -W ie n ne r ( H ') HA L KH HSM HST HA L KH HSM HST

Tipe Penggunaan Lahan Lokasi 1 Lokasi 2

Gambar 10 Indeks keanekaragaman jenis Shannon-Wiener (H’) tumbuhan bawah di hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua.

Jenis pohon dominan dan penyebarannya

Hasil analisis vegetasi menunjukkan jenis-jenis pohon dominan di hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua di lokasi 1 dan 2 yang disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Tiga jenis tumbuhan dominan dan pola penyebarannya di hutan alam, ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua di lokasi 1 dan lokasi 2. Lokasi 1 Lokasi 2 Tipe Penggunaan Lahan Tingkat

Pertumbuhan Jenis Dominan Penyebaran Jenis Dominan Penyebaran

1. Semeocarpus forstenii kelompok 1.Duabanga moluccana merata

2. Palaquium obovatum merata 2.Cananga odorata kelompok

Pohon

3. Lithocarpus celebicus merata 3.Semeocarpus forstenii merata

1. Garcinia parviflora merata 1.Litsea formanii kelompok

2. Canarium commune merata 2.Dysoxyllum densiflorum kelompok

Tiang

3. Timonius stipularis kelompok 3.Meliosma sumatrana merata

1. Palaquium obovatum kelompok 1.Dysoxsyllum densiflorum merata

2. Neonauclea gracilis kelompok 2.Palaquium obovatum kelompok

Pancang

3. Dysoxsyllumdensiflorum kelompok 3.Aglaia spectabilis kelompok

1. Palaquium obovatum kelompok 1.Ficus subulata kelompok

2. Garcinia parviflora kelompok 2.Livistona sp kelompok

Semai

3. Ploemele angustafolia kelompok 3.Musaendra frondosa kelompok

1. Elatostema acuminatum kelompok 1.Elatostema acuminatum kelompok

2. Piper sp1 kelompok 2.Cleome viscose kelompok

Hutan Alam

Tumbuhan bawah

3. Psycothria sp kelompok 3.Curculigo latifolia kelompok

Pohon 1.Trema orientalis kelompok - -

Tiang - - 1.Bischoffia javanica kelompok

Pancang - - - -

1.Leucosyke capitellata kelompok 1.Gliricidia sepium kelompok

2.Trema orientalis kelompok 2.Erythrina fusca kelompok

Semai

3.Oreochnide sp kelompok 3.Bischofia javanica kelompok

1.Oryza sativa kelompok 1.Drymaria cordata kelompok

2.Erechtites valerianifolia kelompok 2.Cuphea balsamona kelompok

Ladang

Tumbuhan bawah

3.Elatostema acuminatum kelompok 3.Ageratum conyzoides kelompok

1.Trema orientalis merata 1.Erythrina subumbrans kelompok

2.Mallotus moritzianus merata 2.Cinnamomum sp merata

Pohon

3.Mellochia umbellata kelompok 3.Eucalyptus deglupta kelompok

1.Trema orientalis kelompok 1.Erythrina fusca kelompok

2.Mallotus moritzianus merata 2.Gliricidia sepium kelompok

Tiang

3.Mallotus barbatus merata 3.Artocarpus integra kelompok

1.Trema orientalis kelompok 1.Coffea canephora kelompok

2.Mallotus moritzianus kelompok 2.Theobroma cacao kelompok

Pancang

3.Desmodium gangeticum merata 3.Gliricidia sepium kelompok

1.Vemonia cinnere kelompok 1.Coffea canephora kelompok

2.Oreochnide sp kelompok 2.Coffea arabica kelompok

Semai

3.Theobroma cacao merata 3.Homalanthus populneus kelompok

1.Erechtites valerianifolia kelompok 1.Ageratum conyzoides kelompok

2.Elatostema acuminatum kelompok 2.Portulaea oleracea kelompok

Kebun hutan

Tumbuhan bawah

3.Ageratum conyzoides kelompok 3.Drymaria cordata kelompok

1.Trema orientalis acak 1.Erythrina subumbrans kelompok

2.Arenga pinnata acak 2.Arenga pinnata kelompok

Pohon

3.Mellochia umbellata kelompok

1.Mellochia umbellata kelompok 1.Acalypa caturus kelompok

2.Elmerillia ovalis kelompok 2.Coffea canephora kelompok

Tiang

3.Trema orientalis kelompok 3.Mellochia umbellata kelompok

1.Mellochia umbellata kelompok 1.Coffea canephora kelompok

2.Homalanthus populneus kelompok 2.Arenga pinnata kelompok

Pancang

3.Litsea mappacea kelompok 3.Mallotus barbatus kelompok

1.Pipturus argenteus kelompok 1.Coffea canephora kelompok

2.Weinmania blumei kelompok 2.Coffea arabica kelompok

Semai

3.Litsea sp acak 3.Mallotus barbatus kelompok

1.Ceratanthus longicornis kelompok 1.Portulaea oleracea kelompok

2.Pilea wightii kelompok 2.Digitaria timorensis kelompok

Hutan sekunder muda

Tumbuhan bawah

3.Digitaria timorensis kelompok 3.Commelina benghalensis kelompok

1.Lithocarpus celebicus kelompok 1.Geunsia cumingiana kelompok

2.Mallotus moritzianus kelompok 2.Glochidion rubrum kelompok

Pohon

3.Trema orientalis kelompok 3.Artrophyllum diversifolium kelompok

1.Glochidion rubrum kelompok 1.Leucosyke capitellata kelompok

2.Weinmania blumei kelompok 2.Weinmania blumei kelompok

Tiang

3.Grewia acuminata kelompok 3.Rubia cordifolia merata

1.Weinmania blumei kelompok 1.Leucosyke capitellata kelompok

2.Pipturus argenteus merata 2.Phoebe grandis kelompok

Pancang

3.Lithocarpus celebicus merata 3.Aglaia spectabilis merata

1.Ganophyllum falcatum kelompok 1.Tubemoemontane sp kelompok

2.Lithocarpus celebicus kelompok 2.Lithocarpus celebicus kelompok

Semai

3.Gloichidion rubrum kelompok 3.Cryptocarya crassinerviopsis kelompok

1.Ceratanthus longicornis kelompok 1.Elatostema acuminatum kelompok

2.Digitaria timorensis kelompok 2.Cleome viscose kelompok

Hutan sekunder tua

Tumbuhan bawah

Tabel 6 menunjukkan bahwa jenis pohon dominan di hutan alam pada umumnya tidak konsisten dominan di semua tingkat pertumbuhan. Di lokasi 1, misalnya, Palaquium obovatum Engl ditemukan dominan mulai dari tingkat semai, pancang hingga pohon, sementara Semeocarpus forstenii dan Lithocarpus celebicus hanya dominan pada tingkat pohon, Garcinia parviflora hanya dominan pada tingkat tiang dan semai, Canarium commune L dan Timonius stipularis hanya dominan pada tingkat tiang. Sementara di lokasi 2, Duabanga moluccana Blume, Cananga odorata dan Semeocarpus forstenii hanya dominan pada tingkat pohon dan tidak pada tingkat di bawahnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar jenis pohon dominan hanya pada suatu tingkat pertumbuhan tertentu dan tidak dominan pada tingkat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa setiap jenis memiliki batas toleransi yang berbeda-beda. Jenis pohon yang dominan pada semua tingkat pertumbuhan merupakan jenis yang memiliki peluang besar untuk tetap ada pada ekosistem bersangkutan, sementara jenis yang hanya ada pada tingkat pertumbuhan tertentu, kecil kemungkinannya untuk tetap ada dalam suatu ekosistem. Selain itu, gambaran ini juga memberikan indikasi kalau struktur dan komposisi jenis pohon di hutan alam seperti ini akan mengalami perubahan jika sewaktu-waktu ada gangguan.

Konversi hutan alam menjadi ladang atau kebun hutan tampak jelas mengubah jenis-jenis pohon dominan. Sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 6 bahwa tidak satupun jenis pohon dominan di hutan alam ditemukan dominan di ladang dan kebun hutan. Perubahan jenis pohon dominan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya perubahan iklim mikro yang drastis karena penebangan. Ladang yang baru dibuka pada umumnya hanya ditumbuhi satu pohon dan letaknya di tepi ladang, karena akan dimanfaatkan sebagai tempat berlindung. Adapun jenis tumbuhan dominan di ladang adalah padi gogo atau jagung sebagai tanaman pokok, semai jenis pohon pionir dan tumbuhan bawah. Di lokasi 1, ladang masih ditumbuhi oleh banyak semai jenis-jenis pohon hutan di sekitarnya, jenis pohon pionir dan semak belukar. Sedangkan di lokasi 2, semai dari jenis pohon hutan yang tumbuh alami sangat terbatas (Bischoffia javanica Blume) dan yang mendominasi adalah jenis-jenis

pohon pelindung yang secara sengaja ditanam seperti Gliricidia sepium dan Erythrina fusca.

Ladang yang letaknya berdekatan dengan hutan alam (lokasi 1) jika tidak produktif menghasilkan tanaman pangan seperti padi/jagung atau kacang-kacangan, maka selanjutnya akan diberakan selama beberapa tahun selain untuk memulihkan kesuburan tanahnya juga untuk memperoleh pohon pelindung yang tumbuh secara alami dari jenis pohon pionir, seperti Trema orientalis, Leucosyke capitellata dan Oreochnide sp. Sedangkan untuk ladangyang letaknya jauh dari hutan alam seperti di lokasi 2, jumlah semai jenis pohon hutan yang tumbuh secara alami sangat terbatas, yaitu Mellochia umbellata (Houtt) stapt dan Bischoffia javanica Blume, maka pohon pelindung diperoleh dengan menanam jenis pohon pelindung seperti Gliricidia sepium dan Erythrina fusca serta jenis tanaman berguna lainnya sepeti pisang, pepaya, cabe, ubi jalar dan ubi kayu.

Saat lahan bekas ladang yang dibiarkan mengalami suksesi sekunder selama beberapa tahun sudah ditumbuhi jenis pohon yang dapat berfungsi sebagai pohon pelindung, maka lahan kemudian dibersihkan dari semak belukar dan pohon kecil. Lalu ditanam kakao/kopi, pohon buah-buahan dan jenis tanaman bermanfaat lainnya seperti ubi kayu, ubi jalar, talas dan lain sebagainya. Sedangkan lahan bekas ladang (lokasi 2) yang pohon pelindungnya ditanam sudah tumbuh dan dapat berfungsi sebagai pohon pelindung, maka selanjutnya ditanami jenis tanaman kakao/kopi dan atau vanili. Pada kondisi lahan seperti ini, maka tampak ada kecenderungan perubahan jenis tumbuhan dominan sebagai akibat dari perubahan iklim mikro yang disebabkan oleh perkembangan penutupan tajuk pohon pelindung. Meskipun jenis-jenis pohon dominan sangat ditentukan oleh ketersediaan bahan tanaman di lokasi yang bersangkutan.

Selanjutnya, hutan sekunder muda yang berasal dari bekas perladangan ada kecenderungan memiliki jenis-jenis pohon dominan mirip dengan yang dominan di ladang, misalnya Trema orientalis. Sementara, hutan sekunder muda yang

sebelumnya merupakan kebun hutan ada kecenderungan memiliki jenis pohon dominan mirip dengan yang dominan di kebun hutan asalnya.

Jika hutan sekunder muda dibiarkan lebih lama mengalami suksesi sekunder tanpa ada gangguan, maka selanjutnya jenis pohon dominan tampak perlahan-lahan mengalami perubahan. Di hutan sekunder tua, misalnya di lokasi 1, tampak masih ada jenis pohon dominan hutan sekunder muda, meskipun hanya pada tingkat pohon, sementara itu jenis pohon dominan di hutan alam juga sudah mulai hadir, misalnya Lithocarpus celebicus di lokasi 1 dan Cananga odorata di lokasi 2. Meskipun keberadaan jenis-jenis pohon dominan hutan alam di hutan sekunder tua masih pada umumnya berada pada tingkat pertumbuhan tiang, dan permudaan (pancang dan semai). Dengan demikian dapat diharapkan bahwa jika hutan sekunder tua dibiarkan lebih lama mengalami suksesi sekunder tanpa ada gangguan, jenis-jenis pohon dominan akan berkembang.

Kesamaan jenis tumbuhan

Hasil perhitungan indeks kesamaan jenis antara dua tipe penggunaan lahan di lokasi 1 dan lokasi 2 disajikan pada Tabel 7 dan 8. Berdasarkan perhitungan indeks kesamaan jenis pada Tabel 7, tampak bahwa komunitas hutan alam di lokasi 1 berbeda dengan komunitas ladang, kebun hutan, hutan sekunder muda dan hutan sekunder tua (IS < 75%) pada semua tingkat pertumbuhan. Tetapi indeks kesamaan antara ladang dengan kebun hutan dan antara kebun hutan dengan hutan sekunder muda (IS ≥ 75%) menunjukkan kemiripan komunitas pada tingkat pohon dan antara kebun hutan dengan hutan sekunder tua pada tingkat semai.

Selanjutnya, Tabel 8 menunjukkan bahwa indeks kesamaan antara hutan alam dengan komunitas lainnya adalah < 75%, kecuali dengan kebun hutan pada tingkat pancang (IS > 75%). Kondisi tersebut mengindikasikan kalau hutan alam sangat

Dokumen terkait