Hasil penelitian menunjukkan adanya telur cacing nematoda pada tinja Landak Jawa. Tabel 1 memperlihatkan kasus kecacingan tidak terjadi pada landak A dan B, akan tetapi kasus kecacingan terjadi pada landak C, D, dan E. Terdapat dua jenis telur yang teridentifikasi pada tinja Landak Jawa, yaitu jenis telur strongyloid dan trichurid. Jenis telur strongyloid ditemukan pada landak C, D, dan E, sedangkan jenis telur trichurid ditemukan pada landak C dan D. Setelah dilakukan pemupukan pada jenis telur strongyloid, teridentifikasi 2 genus cacing, yaitu Strongyloides dan Strongylus.
Tabel 1 Hasil pengukuran dan penghitungan telur cacing
Landak Genus Cacing Ukuran rata-rata
(µm)
Ukuran rata-rata * (µm)
TTGT
Panjang Lebar panjang Lebar 1 2
A - - - - - B - - - - - C Strongyloides Strongylus Trichuris 69.87 80.36 54.62 41.32 35.45 24.44 45-55 75-92 60-70 26-35 41-54 31-34 600 15.000 1.700 - - 700 D Strongyloides Strongylus Trichuris 69.87 80.36 54.62 41.32 35.45 24.44 45-55 75-92 60-70 26-35 41-54 31-34 200 600 100 200 400 - E Strongyloides 69.87 41.32 45-55 26-35 100 - * Ukuran telur cacing pada hewan ruminansia dan kuda (Taylor et al., 2007).
Strongyloides sp.
Hasil pemeriksaan telur cacing Strongyloides memperlihatkan bentuk telur yang oval, memiliki selubung yang tipis, mengandung larva stadium satu, dan memiliki ukuran panjang rata-rata 69.87 µm dan lebar rata-rata 41.32 µm (Gambar 2A). Ukuran telur cacing Strongyloides yang ditemukan pada tinja Landak Jawa lebih besar dibandingkan dengan ukuran telur cacing Strongyloides sp. pada literatur (Tabel 1). Hal ini diduga telur tersebut merupakan jenis telur Strongyloides yang spesifik pada Landak Jawa. Karakteristik telur cacing ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kassai (1999) bahwa jenis telur cacing Strongyloides spp. mempunyai kulit yang tipis, berbentuk oval, dan mengandung larva.
Gambar 2 (A) Telur cacing Strongyloides dari tinja Landak Jawa, (B) Telur Strongyloides papillosus pada hewan ruminansia (FAO, 2011a).
(i) Perkembangan larva stadium satu, (ii) Kerabang telur.
Hasil pemeriksaan larva stadium tiga Strongyloides sp. memperlihatkan ukuran larva yang kecil, memiliki tubuh yang langsing dengan panjang tubuh 597 µm sampai 730.5 µm, dan memiliki panjang esofagus mencapai setengah dari total panjang tubuhnya (Gambar 3). Bagian kaudal tubuh terbentuk notched (percabangan) yang merupakan salah satu ciri khas dari Strongyloides spp.
Gambar 3 (A) Cacing Strongyloides dari hasil pemupukan tinja Landak Jawa, (B) Cacing Strongyloides (FAO, 2011b). (i) Esofagus, (ii) Percabangan ekor (notched).
i ii B A 100 µm A B i ii 15 µm
Berdasarkan ukuran dan karakteristik larva cacing Strongyloides yang teridentifikasi, sesuai dengan yang dijelaskan oleh Zajac dan Gary (2006) yaitu panjang dari esofagus setengah dari panjang tubuhnya, ujung ekor larva berbentuk kerucut yang terpotong pada bagian atasnya (Gambar 3ii), dan memiliki ukuran panjang 574 µm sampai 710 µm dan 524 µm sampai 678 µm.
Strongylus sp.
Hasil pemeriksaan telur cacing Strongylus memperlihatkan bentuk telur yang elips, mempunyai selubung yang tipis, mempunyai blastomer yang jelas dengan jumlah yang banyak, dan mempunyai ukuran panjang rata-rata 80.36 µm dan lebar rata-rata 35.45 µm (Gambar 4A). Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kassai (1999) kecuali pada bentuknya, yaitu berbentuk oval. Hal ini diduga telur tersebut merupakan jenis telur yang khas dari Landak Jawa.
Gambar 4 (A) Telur cacing Strongylus dari tinja Landak Jawa, (B) Telur cacing Strongylus sp. pada kuda (Bowman, 2003).
(i) Blastomer, (ii) Kerabang telur.
Larva Strongylus merupakan larva yang memiliki ukuran besar yaitu 980 µm, memiliki esofagus yang pendek, memiliki 16 sampai 32 sel usus tergantung spesies, dan sel usus berbentuk kubus
(
Zajac dan Gary, 2006). Hasil pemeriksaan larva cacing Strongylus memperlihatkan ukuran tubuh yang besar dengan rata-rata panjang tubuh mencapai 1.234 µm. Selain memiliki ukurani
ii
16µm
tubuh yang besar dan panjang, cacing ini memiliki sel usus yang berbentuk kubus (Gambar 5ii). Karakteristik dari genus cacing ini pun sesuai dengan yang dijelaskan oleh Zajac dan Gary (2006). Ukuran tubuh larva yang teridentifikasi pada tinja landak lebih besar dibandingkan dengan literatur. Hal ini diduga larva Strongylus yang teridentifikasi pada tinja Landak Jawa merupakan spesies khas dari Landak Jawa.
Gambar 5 (A) Larva cacing Strongylus dari hasil pemupukan tinja Landak Jawa, (B) Larva Strongylus edentatus (kiri) dan Strongylus vulgaris (kanan) pada kuda (Bowman, 2003).
(i) Bagian kepala larva Strongylus, (ii) Sel usus larva Strongylus yang berbentuk kubus, (iii) Bagian ekor dan selubung ekor larva
Strongylus.
Trichuris sp.
Hasil pemeriksaan telur cacing Trichuris memperlihatkan bentuk telur yang oval, dinding yang tebal, mempunyai operkulum, dan tidak mempunyai blastomer (Gambar 6). Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kassai (1999) bahwa jenis telur trichurid mempunyai bentuk seperti lemon dengan dinding yang tebal dan mempunyai operkulum di kedua ujungnya. Telur Trichuris pada Landak Jawa memiliki ukuran panjang rata-rata 54.62 µm dan lebar rata-rata 24.44 µm.
Ukuran ini lebih kecil dibandingkan dengan yang dijelaskan oleh Taylor et al. (2007) pada Tabel 1. Hal ini diduga larva Trichuris yang
terindentifikasi pada tinja Landak Jawa merupakan karakteristik khas dari parasit yang menginfeksi Landak Jawa.
iii i
ii
A B
Gambar 6 Telur cacing Trichuris.
(A) Telur cacing genus Trichuris dari tinja Landak Jawa, (B) Telur Trichuris vulvis pada anjing (Blugburn, 1999), skala 1:10.
Kecacingan pada Landak Jawa
Faktor-faktor yang mempengaruhi kecacingan pada Landak Jawa dapat berupa umur, kondisi kandang, perlakuan kandang, perilaku individu, dan pakan (Noble dan Noble, 1989; Taylor et al., 2007). Semakin muda umur hewan semakin tinggi resiko hewan tersebut terinfeksi cacing. Hal ini disebabkan sistem kekebalan dari hewan muda belum optimal, sehingga sistem kekebalan tidak dapat melindungi tubuh dari infeksi cacing. Hewan tua memiliki tingkat resistensi atau kekebalan yang tinggi terhadap infeksi cacing. Hal ini terjadi akibat tubuh membentuk respon kekebalan setiap ada infeksi cacing yang masuk ke dalam tubuh inang (Noble dan Noble, 1989). Kondisi kandang juga mempengaruhi faktor kecacingan. Kandang yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung telur cacing atau larva cacing infektif dapat menjadi sumber kecacingan utama. Hal ini terkait dengan perilaku atau kebiasaan Landak Jawa seperti menggigit-gigit besi kandang. Besi-besi kandang tersebut bisa saja terkontaminasi telur cacing atau larva cacing yang berasal dari tinja.
Selain kondisi kandang, perlakuan kandang juga mempengaruhi kasus kecacingan. Landak dikandangkan secara individual sehingga memungkinkan tidak terjadi kontaminasi silang melalui tinja antara landak yang terinfeksi dan landak yang tidak terinfeksi. Pakan juga dapat mempengaruhi munculnya kasus kecacingan. Pakan yang diberikan pada landak terdiri dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Pakan tersebut diduga telah terkontaminasi telur cacing atau larva melalui tanah saat di perkebunan. Tanah merupakan sumber infeksi utama
Operculum Kerabang
A B
penyebab kasus kecacingan. Sudardjat (2010) mengemukakan bahwa tanah yang mengandung larva infektif atau telur cacing infektif akan mencapai tumbuh-tumbuhan kemudian diingesti oleh inang dan akan menyebabkan inang terinfeksi.
Tabel 1 memperlihatkan bahwa sebanyak 5 ekor Landak Jawa hanya 3 ekor landak yang terinfeksi cacing, yaitu landak C, D, dan E. Landak C dan D terinfeksi cacing genus Strongyloides, Strongylus, dan Trichuris, sedangkan landak E hanya terinfeksi oleh cacing genus Strongyloides. Berdasarkan pengamatan dalam penelitian, landak C, D, dan E tidak ditemukan gejala klinis seperti diare, nafsu makan menurun, dan anoreksia.
Jumlah TTGT sangat bervariasi pada Landak Jawa. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain produksi telur tiap jenis cacing berbeda, banyaknya tinja yang dikeluarkan tiap hari oleh hewan selalu berbeda, dan produksi cacing tua dan cacing muda berbeda. Selain itu, jumlah TTGT juga dipengaruhi oleh rendahnya variasi jenis cacing yang ditemukan pada tinja. Rendahnya variasi jenis cacing disebabkan oleh cara pengambilan tinja yang tidak menyeluruh pada seluruh bagian tinja. Satu bolus tinja terdiri dari bagian kulit, tengah, dan dalam. Telur cacing yang ditemukan pada ketiga bagian tersebut dapat saja berbeda jenis satu sama lain. Pengaruh lain juga disebabkan oleh produksi telur harian tiap jenis cacing berbeda dan produksi telur dari satu jenis cacing pun berbeda antara pagi, siang, sore, dan malam (Kusumamihardja, 1995). Beberapa spesies Strongyloides dapat menyebabkan strongyloidosis yang bersifat zoonosis. Penyebab penyakit ini adalah Strongyloides stercoralis. Patologi klinis dari penyakit zoonosa ini adalah inflamasi kataral pada usus halus dan nekrosa pada mukosa. Hewan yang terinfeksi akan mengalami diare berdarah, dehidrasi, hingga kematian. Penyakit zoonosa ini dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan tinja yang mengandung larva infektif Stongloides stercoralis (Koplan, 1996).
Mekanisme penularan jenis cacing ini diawali dengan perkembangan larva infektif dalam tinja atau tanah lembab yang terkontaminasi oleh tinja menembus kulit dan masuk ke dalam vena. Larva dari vena dibawa ke paru-paru kemudian menembus dinding kapiler pada paru-paru dan masuk ke dalam alveoli. Larva bergerak naik menuju trakea lalu mencapai epiglotis, selanjutnya larva turun dan
masuk ke dalam saluran pencernaan mencapai bagian atas dari intestinum, di tempat ini cacing betina menjadi dewasa. Cacing dewasa yaitu cacing betina hidup menempel pada sel-sel epitelium mukosa intestinum dan meletakkan telurnya terutama pada duodenum. Telur kemudian menetas melepaskan larva non infektif rhabditiform. Larva rhabditiform ini bergerak masuk ke dalam lumen usus, keluar dari inang melalui tinja dan berkembang menjadi larva infektif filariform yang dapat menginfeksi inang yang sama atau inang yang berbeda. Larva rhabditiform ini dapat berkembang menjadi cacing dewasa jantan dan cacing dewasa betina setelah mencapai tanah. Cacing dewasa betina yang hidup bebas mengeluarkan telur dan melepaskan larva non infektif rhabditiform, kemudian dalam waktu 24-36 jam berubah menjadi larva infektif filariform. Kadangkala pada orang-orang tertentu, larva rhabditiform dapat langsung berubah menjadi larva filariform sebelum meninggalkan tubuh orang itu. Setelah itu, larva menembus dinding usus atau menembus kulit di daerah perianal yang menyebabkan autoinfeksi (Koplan, 1996).
Infeksi oleh jenis cacing Strongyloides jarang terjadi kecuali pada kondisi lingkungan yang hangat dan lembab. Larva infektif dari jenis cacing ini rentan terhadap kondisi iklim yang ekstrim. Larva yang hidup pada kondisi lingkungan yang hangat dan lembab akan menghasilkan perkembangan larva infektif dalam jumlah yang besar (Cheng, 1973). Kandang Landak Jawa berada dalam suatu ruangan tertutup namun cahaya dapat masuk ke dalam ruangan tersebut melalui jendela yang terbuat dari kawat. Kondisi lingkungan dalam kandang Landak Jawa hangat dan cukup lembab sehingga cocok untuk daur hidup cacing Strongyloides.
Telur Strongylus dalam daur hidupnya jatuh ke tanah bersama tinja inang. Telur akan menetas dalam waktu satu sampai dua hari menjadi L1 dan akan berkembang menjadi L2, kemudian dalam beberapa hari larva tersebut akan berkembang menjadi L3 yang infektif. Larva ini akan bertahan selama beberapa bulan walaupun tidak makan. Larva ini pun mampu bertahan pada suhu dingin. Larva dari tanah akan naik ke tumbuh-tumbuhan atau sayur-sayuran dan akan dimakan oleh inang sehingga inang terinfeksi (Noble dan Noble, 1989).
Trichuris spp. menyebar di daerah-daerah subtropis dan tropis seperti Indonesia. Telur Trichuris spp. dalam daur hidupnya keluar bersama tinja dari
tubuh inang ke tanah. Telur ini dapat tetap hidup di luar tubuh inang dalam beberapa bulan apabila terdapat pada tempat yang lembab dan akan mati pada kondisi tempat yang kering. Landak dapat terinfeksi karena memakan sayuran yang terkontaminasi oleh cacing Trichuris. Spesies cacing Trichuris pernah teridentifikasi pada landak bristle-spined (Chaetomys subspinosus) yaitu Trichuris opaca (Kuniy dan Brasileiro, 2004). Soulsby (1986) mengemukakan bahwa infeksi Trichuris spp. tidak memperlihatkan gejala klinis yang jelas atau sama sekali tanpa gejala. Hewan yang berumur di atas 8 bulan akan memperlihatkan resistensi terhadap infeksi dan resistensi terhadap reinfeksi 2 sampai 3 minggu setelah infeksi pertama. Infeksi berat dan menahun terutama pada hewan muda dapat menimbulkan gejala seperti diare, disentri, anemia, dan kehilangan berat badan.
Pola Defekasi Landak Jawa
Pola defekasi Landak Jawa terjadi pada pagi hari, siang hari, dan malam hari. Pola defekasi yang paling sering terjadi adalah malam hari antara pukul 21.00 sampai 06.00. Interval defekasi landak adalah 1 hari sampai 14 hari. Pola defekasi landak dipengaruhi oleh diet, cairan, aktivitas, faktor psikologis, dan kondisi patologis.
Serat yang cukup dalam diet diperlukan untuk memberikan volume pada tinja. Banyaknya volume tinja dalam usus mempermudah aktifitas peristaltik dalam usus besar (kolon) sehingga tinja mudah dikeluarkan. Tinja yang disimpan terlalu lama dalam usus besar menyebabkan banyaknya reabsobsi cairan dalam tinja. Hal ini mengakibatkan tinja menjadi keras dan kering. Kerasnya tinja menyebabkan sulitnya pergerakan peristaltik untuk mendorong tinja ke luar tubuh. Aktifitas landak akan menstimulasi peristaltik sehingga memfasilitasi pergerakan tinja di sepanjang kolon, akibatnya tinja dapat dengan mudah dikeluarkan. Faktor psikologis hewan dapat mempengaruhi pola defekasi. Hewan yang cemas atau marah dapat meningkatkan aktivitas peristaltik sehingga menimbulkan diare, sedangkan hewan yang stress dapat menurunkan motilitas usus sehingga terjadi konstipasi. Faktor selanjutnya adalah kondisi patologis hewan, misalnya
gangguan sphingter anal. Kondisi ini dapat menyebabkan inkontinensia fekal (ketidakmampuan menahan fungsi pembuangan tinja) (Berman et al., 2009).
Morfologi Tinja Landak Jawa
Tinja Landak Jawa memiliki struktur yang mirip dengan tinja manusia (Gambar 7), yaitu berbentuk silinder, berwarna kuning kecoklatan hingga hijau tua, dan bertekstur kasar. Selain itu, dalam tinja landak masih ditemukan sisa makanan yang tidak tercerna secara sempurna.
Gambar 7 Berbagai bentuk dan warna tinja Landak Jawa.
(A) Tinja berbentuk silinder dengan warna hijau tua, (B) Tinja berbentuk silinder-silinder kecil yang saling menyatu dan berwarna kuning kecoklatan, (C) Tinja dengan bentuk silinder berwarna kekuningan.
Warna tinja dipengaruhi oleh adanya bilirubin dalam empedu. Bilirubin yang berasal dari hati dibawa ke kantung empedu, sehingga terjadi percampuran antara bilirubin dan cairan empedu. Hasil pencampuran tersebut kemudian dikeluarkan ke duodenum dan bercampur dengan bakteri. Warna bilirubin bervariasi tergantung keasaman lingkungannya. Bilirubin akan berwarna kuning atau oranye kecoklatan pada lingkungan yang asam. Jika kondisi lingkungan basa maka bilirubin akan berwarna coklat kehijauan hingga hitam. Warna inilah yang akan mendominasi warna tinja. Bilirubin yang dikeluarkan ke duodenum akan diubah terlebih dahulu menjadi sterkobilin. Sterkobilinlah yang akan membuat tinja berwarna kuning kecoklatan (Tapan, 2005). Selain itu, warna tinja juga dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi landak. Asmadi (2008)
mengemukakan bahwa hewan yang memakan sayur-saruyan akan memberi warna hijau tua pada tinja, sedangkan hewan yang memakan wortel akan memberi warna coklat pada tinja.
Bentuk tinja pada hewan dipengaruhi oleh komposisi jenis pakan. Hewan yang mengkonsumsi pakan yang mengandung banyak serat akan menghasilkan tinja yang besar dan lunak, sedangkan hewan yang mengkonsumsi pakan yang sedikit mengandung serat akan menghasilkan tinja yang kecil dan keras. Penyerapan cairan dalam usus besar juga memberi bentuk pada tinja. Penyerapan cairan isi usus yang baik akan menghasilkan tinja yang lunak, sedangkan penyerapan air yang kurang baik menyebabkan tinja menjadi keras dan kering (Berman et al., 2009).
Setiap hewan memiliki bentuk tinja yang berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh proses segmentasi dari usus halus. Bila bagian usus halus mengalami distensi oleh makanan, dinding usus halus akan berkontraksi secara lokal. Pada saat suatu segmen usus halus yang berkontraksi mengalami relaksasi, segmen lainnya segera berkontraksi, sehingga makanan bercampur dengan enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan mukosa usus halus lalu terjadi absorbsi. Proses segmentasi ini akan menyebabkan terbentuknya bentuk tinja seperti bentuk silinder atau bentuk lain tergantung panjang segmen usus (Tortora dan Derrickson, 2006).