• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

1. Nemathelminthes Nematoda

Nematoda mempunyai jumlah spesies terbesar di antara cacing-cacing yang hidup sebagai parasit. Cacing-cacing nematoda memiliki ukuran, habitat, daur hidup, dan hubungan hospes parasit yang berbeda. Panjang nematoda dapat mencapai beberapa milimeter hingga melebihi satu meter. Terdapat sekitar 10.000 jenis nematoda yang hidup dalam segala jenis habitat mulai dari tanah, air tawar, dan air asin sampai tanaman dan hewan (Gandahusada, 2000).

Secara umum nematoda memiliki bentuk silinder, lonjong pada kedua ujung tubuh, tidak memiliki warna, tembus pandang, dan memiliki lapisan kutikula. Sistem pencernaan nematoda berupa tabung sederhana. Mulut nematoda dikelilingi oleh dua atau tiga bibir dan selanjutnya menuju esofagus. Sistem ekskretori nematoda sangat primitif, terdiri dari kanal dalam setiap lateral cord bergabung pada lubangekskretori di bagian esofagus (Taylor et al., 2007).

Nematoda terdiri dari nematoda jantan dan nematoda betina. Secara umum ukuran nematoda jantan lebih kecil dibandingkan dengan nematoda betina. Selama perkembangan, nematoda melakukan moulting pada interval tertentu dengan menanggalkan kutikula. Nematoda melakukan lima kali moulting dalam siklus hidupnya, yaitu L-1, L-2, L-3, L-4, dan L-5 sebagai cacing dewasa (Taylor et al., 2007). Siklus hidup nematoda dimulai dari telur, empat stadium larva, dan dewasa. Telur kadang-kadang menetas pada saat larva berkembang di dalamnya. Oleh karena itu, stadium infektif dapat berupa telur infektif atau larva infektif tergantung jenis nematoda. Apabila stadium infektif adalah larva, biasanya larva tersebut dalam stadium ketiga (L-3). Jika stadium infektif adalah telur, larva yang dikandung di dalamnya adalah larva stadium kedua (L-2). Larva yang infektif tidak dapat makan, tetapi hidup dari cadangan makanan di dalam sel-sel ususnya. Larva infektif dapat menginfeksi inang definitif dengan cara termakan atau aktif menembus melalui kulit. Apabila sudah berada di dalam inang definitif, cacing muda akan menetap di dalam habitatnya dan berkembang menjadi dewasa. (Gandahusada, 2000).

Telur nematoda sangat berbeda baik ukuran dan bentuknya. Ketebalan kulit telur nematoda bervariasi dan terdiri dari tiga lapisan. Lapisan dari kulit telur nematoda yaitu inner membran yang tipis, memiliki struktur lipid, dan impermeable. Lapisan berikutnya adalah middle layer yang memiliki struktur kuat, mengandung kitin yang kaku, dan memberikan warna kekuningan pada telur. Lapisan ketiga adalah outer membran yang berisi protein yang sangat kental dan lengket (Taylor et al., 2007).

Strongyloides spp.

Genus cacing ini berasal dari ordo Rhabditida dan famili Strongylidae yang terdiri dari beberapa spesies dan termasuk parasit pada hewan domestik. Produksi telur cacing sedikit tetapi memiliki ukuran yang besar dan kerabang yang tipis. Bagian esofagus dari cacing infektif tidak berbentuk rhabditiform tetapi berbentuk silinder. Strongyloides dapat berpenetrasi melalui kulit inang kemudian melewati darah ke paru-paru menuju trakea. Selanjutnya dari trakea Strongyloides menuju faring lalu berakhir di usus. Cacing yang bersifat parasit adalah cacing betina dewasa dan dicirikan dengan esofagus yang relatif panjang (Soulsby, 1986).

Chitwood dan Chitwood (1977) mengemukakan bahwa larva Strongyloides memiliki karakteristik tubuh sebagai berikut:

1. Tidak memiliki selubung ekor

2. Ekor larva pendek dan berbentuk kerucut 3. Memiliki tubuh yang kecil dan tipis 4. Kepala berbentuk bulat

5. Memiliki rongga tunggal bagian kranial yang mengelilingi kapsul bukal sementara.

Strongylus spp.

Strongylus merupakan nematoda yang berasal dari ordo Strongylida dan famili Strongyloidea. Cacing ini memiliki enam, tiga, atau bahkan tidak memiliki bibir. Ukuran cacing ini relatif besar, yaitu 14 mm sampai 47 mm tergantung spesies. Sistem reproduksi betina berkembang dengan baik. Cacing jantan

memiliki bursa yang berkembang dengan baik (Soulsby, 1986). Rongga bukal Strongylus spp. berukuran besar dan terletak di bagian kranial tubuh. Mulut dikelilingi oleh satu atau dua baris yang berbentuk seperti daun yang disebut dengan korona radiata (mahkota daun). Mahkota daun tersebut terdapat pada bagian eksternal yang mengelilingi mulut dan bagian internal yang terdapat pada dinding bagian dalam kapsul bukal (Bowman, 2003).

Trichuris spp.

Trichuris merupakan cacing yang berasal dari ordo Trichinellida dan famili Trichuridae yang pada masa dewasa memiliki bentuk tubuh seperti cambuk. Bagian kaudal cacing Trichuris mirip rambut dan melekat pada dinding usus besar, sedangkan bagian kranial cacing ini gemuk dan berbaring bebas di usus (Bowman, 2003).

Chitwood dan Chitwood (1977) mengemukakan bahwa jenis telur trichurid memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Mempunyai tiga membran, yaitu: lapisan protein bagian luar (mengandung pigmen yang memberikan warna kecoklatan), kerabang sejati bagian tengah (memiliki warna transparan), dan membran vitelin bagian dalam (memiliki granula).

2. Beberapa spesies memiliki operkulum yang sangat menonjol, baik di luar mantel protein bagian eksternal telur maupun di dalam rongga internal telur (Trichuris ovis).

3. Operkulum pada spesies lain memiliki panjang yang sesuai dengan ketebalan kutub dari amplop telur, sehingga memberi bentuk telur di bagian eksternal dan internal (Trichuris vulvis).

4. Bagian kulit kutikula di sepanjang sisi dari operkulum membentuk kerah. 2. Platyhelminthes

a. Trematoda

Semua spesies trematoda yang merupakan parasit dalam peternakan adalah berasal dari subkelas digenea. Secara umum, trematoda tersebut berbentuk seperti daun dan pipih dorsoventral. Semua organ berada di dalam jaringan parenkim

dan tidak mempunyai rongga tubuh. Trematoda memiliki sistem pencernaan sederhana, yaitu batil hisap kranial, pharinx, esofagus, dan sepasang usus buntu yang bercabang. Sistem ekskresi terdiri dari sejumlah besar sel api silia yang mendorong sisa produk metabolik di sepanjang sistem saluran. Sistem ekskresi terdiri dari sebuah kandung kemih bagian kaudal, sebuah sistem percabangan dari saluran pengumpul yang masuk ke dalam kandung kemih, dan sebuah sistem ekskresi yang terbuka ke dalam saluran pengumpul tersebut. Trematoda memiliki sistem syaraf sederhana dan tidak memiliki sistem peredaran darah. Sistem reproduksinya hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae (Taylor et al., 2007).

Cacing dewasa biasanya ovipar dan meletakkan telurnya pada uterus. Saat perkembangan telur, embrio cacing terdapat dalam suatu pyriform (memiliki bentuk seperti buah pir), bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium didorong oleh silia sampai ke air. Kemudian mirasidium menemukan siput yang cocok dalam waktu beberapa jam untuk melakukan perkembangan selanjutnya. Mirasidium berkembang menjadi sporosit dalam jaringan lunak siput. Sporosit mengandung sejumlah sel germinal. Sel-sel tersebut berkembang menjadi redia dan bermigrasi ke hepato-pankreas siput. Redia berkembang dari sel germinal pada tahap terakhir yaitu serkaria. Serkaria menghasilkan cacing pipih yang muda dengan ekor yang panjang. Serkaria keluar dari tubuh siput yang mati dan berenang ke air dalam beberapa waktu. Kemudian serkaria berkembang menjadi metaserkaria dengan melepaskan ekornya dalam waktu satu jam. Kista metaserkaria memiliki potensi yang besar untuk memperpanjang kelangsungan hidupnya. Sewaktu diingesti oleh inang definitif, bagian luar dinding kista dipecah secara mekanik selama inang mengunyah. Pecahnya kista bagian dalam terjadi di usus dan tergantung pada mekanisme penetasan, reaksi enzimatik, reaksi oksidasi-reduksi yang potensial, dan karbondioksida yang disediakan oleh lingkungan usus. Pecahnya kista menghasilkan larva dan langsung berpenetrasi pada usus dan bermigrasi pada tempat yang disukainya kemudian menjadi dewasa dalam beberapa minggu (Taylor et al., 2007).

b. Cestoda

Cestoda atau cacing pita merupakan subfilum lain di dalam filum Plathyhelminthes. Cestoda tidak mempunyai rongga badan dan semua organ tersimpan di dalam jaringan parenkim (Levin, 1990). Selain itu, cestoda tidak memiliki saluran pencernaan, sehingga makanannya akan langsung diserap oleh dinding tubuhnya. Cestoda memiliki bentuk tubuh seperti pita dan panjang tubuh mencapai beberapa sentimeter sampai beberapa meter. Tubuhnya bersegmen dan setiap segmen berisi satu dan kadang-kadang dua set organ reproduksi jantan dan betina. Tubuhnya panjang, pipih, dan terdiri dari tiga daerah, yaitu skolex, leher, dan badan yang bersegmen (strobila) (Taylor et al., 2007).

Kepala (skoleks) memiliki 2 sampai 4 alat penghisap yang memiliki rostelum. Rostelum merupakan penonjolan yang berada pada kepala dan dilengkapi kait untuk menempel pada dinding usus inang. Tepat di belakang skoleks terdapat leher pendek dari jaringan yang tidak mengalami diferensiasi, kemudian diikuti badan atau strobila yang bersegmen (Levin, 1990).

METODOLOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan di Unit Rehabilitas dan Reproduksi (URR), Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi. Selain itu, penelitian ini juga dilakukan di Laboratorium Helminthologi, bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Pengambilan sampel dan pemeriksaan tinja dilakukan mulai bulan Agustus 2010 sampai Januari 2011 di URR dan Laboratorium Helminthologi. Pengamatan pola defekasi dilakukan selama tiga minggu yaitu mulai tanggal 2 sampai 22 Agustus 2010 di URR.

Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan sampel tinja dari lima ekor Landak Jawa yang terdiri dari 1 ekor betina dan 4 ekor jantan. Sampel tinja untuk setiap landak diambil 2 kali dalam lima bulan, sehingga total sampel yang diambil adalah 10 sampel. Sampel diperoleh dengan mengambil tinja yang berumur tidak lebih dari tiga jam setelah landak defekasi. Sampel tinja juga diperoleh dengan cara mengambil langsung tinja segar dari rektum pada landak yang telah terbius. Sampel tinja yang diambil dimasukkan ke dalam kantung plastik transparan. Setiap sampel tinja diberi identitas berupa nama atau kode setiap landak, kondisi tinja, tempat, dan tanggal pengambilan. Sampel-sampel tinja diolah dengan pendekatan kualitatif yaitu metode natif, pengapungan, sedimentasi, dan pendekatan kuantitatif yaitu metode McMaster.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan tinja adalah tinja Landak Jawa, aquades, methylen blue, vermi kulit, dan larutan pengapung/garam jenuh. Alat yang digunakan adalah lidi, gelas plastik, sendok plastik, saringan denganukuran lubang 750-900 x 600-675 µm, gelas ukur, alat hitung McMaster, tabung reaksi, gelas Baerman, gelas obyek, gelas penutup, cawan petri, mortar, anak mortar, gelas plastik, kain penyaring, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, video mikrometer, lemari es, timbangan, pipet gelas, lembar pencatatan, dan kamera digital.

Identifikasi Telur Cacing a. Metode Natif

Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Metode ini dilakukan dengan mengambil sedikit tinja dengan lidi, kemudian diletakkan pada gelas obyek yang sudah diteteskan air. Tinja diratakan dengan lidi kemudian ditutup dengan gelas penutup. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan mikroskopik dengan perbesaran 100 kali dan 400 kali (Natadisastra dan Agus, 2009).

b. Metode Pengapungan

Metode ini bertujuan untuk menentukan keberadaan telur cacing nematoda atau cestoda yang tidak ditemukan pada metode natif. Tinja ditimbang 2 gram kemudian dimasukkan ke dalam gelas. Tinja di dalam gelas ditambahkan 58 ml larutan pengapung, lalu diaduk dan disaring. Campuran tinja yang telah homogen dimasukkan ke dalam tabung reaksi sampai terbentuk meniskus cembung di atas permukaan tabung kemudian ditutup dengan gelas penutup tepat di atas meniskus dan dibiarkan 10 sampai 15 menit. Gelas penutup diangkat dan diletakkan di atas gelas obyek kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran obyektif 100 kali dan 400 kali (Taylor et al., 2007).

c. Metode Sedimentasi

Metode ini digunakan untuk pemeriksaan telur cacing trematoda. Tinja sebanyak 4 gram dimasukkan ke dalam gelas dan ditambahkan 50 ml air. Setelah itu dihomogenkan lalu disaring sebanyak 3 kali. Campuran tinja yang telah homogen dimasukkan ke dalam gelas Baerman dan ditambahkan air hingga penuh lalu dibiarkan selama 10 sampai 15 menit. Supernatan dibuang dengan hati-hati agar endapan tidak ikut terbawa. Endapan dalam gelas Baerman ditambahkan air hingga penuh, lalu dibiarkan selama 10 sampai 15 menit kemudian dibuang lagi dengan menyisakan endapannya. Hal tersebut dilakukan secara berulang hingga air supernatan menjadi bersih. Sedimen yang tersisa disaring dan dituang ke dalam cawan petri lalu diteteskan methylen blue. Setelah itu dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali dan 400 kali (Hendrix dan Robinson, 2006).

Penghitungan Jumlah Telur Cacing dengan Metode McMaster

Telur cacing yang terlihat pada perbesaran obyektif 100 kali dihitung dengan menggunakan alat hitung McMaster. Campuran tinja dengan larutan pengapung yang telah homogen diambil beberapa tetes sampai memenuhi kamar hitung, kemudian dibiarkan selama ± 3 sampai 5 menit lalu dihitung jumlah telur setiap jenis telur di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 kali.

Penghitungan jumlah telur dalam tiap gram tinja (TTGT): TTGT = n/bt x Vtotal/Vhitung

Keterangan :

n : Jumlah telur yang ditemukan dalam kamar hitung bt : Berat telur (gram)

Vtotal : Volume larutan pengapung + tinja (ml)

Vhitung : Volume campuran yang dimasukkan dalam kamar hitung (ml) Pemupukan

Pemupukan telur dilakukan untuk mengetahui genus cacing yang berasal dari jenis telur strongyloid. Tinja diaduk perlahan dengan mortar hingga homogen, kemudian dicampurkan vermi kulit dan beberapa tetes air untuk menjaga kelembaban tinja. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam cawan petri yang besar lalu ditutup dengan penutup cawan petri. Setelah itu pemupukan ditunggu selama 7 hari pada suhu ruang. Pemupukan ini dikontrol setiap hari untuk menjaga kelembaban tinja. Apabila tinja mengering maka ditambahkan beberapa tetes air agar tinja tetap basah dan lembab. Setelah 7 hari, hasil pemupukan dimasukkan ke dalam gelas plastik yang telah dibagi menjadi dua. Selanjutnya gelas ditutup dengan kain penyaring. Sisa gelas plastik yang terpotong diselipkan pada gelas plastik yang mengandung tinja kemudian disaring dan dijepitkan pada mulut gelas Baerman yang berisi air. Setelah itu ditunggu selama beberapa jam sampai larva turun pada dasar gelas. Larva diambil dengan pipet pada dasar gelas lalu diteteskan pada gelas obyek, kemudian diperiksa di bawah mikroskop cahaya dengan perbesaran 400 kali untuk mengetahui genus cacing (Kusumamihardja, 1995).

Pengamatan Pola Defekasi

Pengamatan pola defekasi Landak Jawa dilakukan selama tiga minggu. Pengamatan ini dilakukan setiap tiga jam dalam sehari mulai pukul 06.00 sampai 21.00 WIB. Setiap landak defekasi dilakukan pengamatan terhadap morfologi tinja. Aspek yang diamati pada morfologi tinja adalah warna dan bentuk tinja.

Analisa Data

Analisis data dilakukan secara deskriptif dari hasil identifikasi dan hasil penghitungan telur cacing. Telur cacing yang ditemukan dibandingkan dengan morfologi telur cacing dari literatur.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Telur dan Larva Cacing Parasitik

Hasil penelitian menunjukkan adanya telur cacing nematoda pada tinja Landak Jawa. Tabel 1 memperlihatkan kasus kecacingan tidak terjadi pada landak A dan B, akan tetapi kasus kecacingan terjadi pada landak C, D, dan E. Terdapat dua jenis telur yang teridentifikasi pada tinja Landak Jawa, yaitu jenis telur strongyloid dan trichurid. Jenis telur strongyloid ditemukan pada landak C, D, dan E, sedangkan jenis telur trichurid ditemukan pada landak C dan D. Setelah dilakukan pemupukan pada jenis telur strongyloid, teridentifikasi 2 genus cacing, yaitu Strongyloides dan Strongylus.

Tabel 1 Hasil pengukuran dan penghitungan telur cacing

Landak Genus Cacing Ukuran rata-rata

(µm)

Ukuran rata-rata * (µm)

TTGT

Panjang Lebar panjang Lebar 1 2

A - - - - - B - - - - - C Strongyloides Strongylus Trichuris 69.87 80.36 54.62 41.32 35.45 24.44 45-55 75-92 60-70 26-35 41-54 31-34 600 15.000 1.700 - - 700 D Strongyloides Strongylus Trichuris 69.87 80.36 54.62 41.32 35.45 24.44 45-55 75-92 60-70 26-35 41-54 31-34 200 600 100 200 400 - E Strongyloides 69.87 41.32 45-55 26-35 100 - * Ukuran telur cacing pada hewan ruminansia dan kuda (Taylor et al., 2007).

Strongyloides sp.

Hasil pemeriksaan telur cacing Strongyloides memperlihatkan bentuk telur yang oval, memiliki selubung yang tipis, mengandung larva stadium satu, dan memiliki ukuran panjang rata-rata 69.87 µm dan lebar rata-rata 41.32 µm (Gambar 2A). Ukuran telur cacing Strongyloides yang ditemukan pada tinja Landak Jawa lebih besar dibandingkan dengan ukuran telur cacing Strongyloides sp. pada literatur (Tabel 1). Hal ini diduga telur tersebut merupakan jenis telur Strongyloides yang spesifik pada Landak Jawa. Karakteristik telur cacing ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kassai (1999) bahwa jenis telur cacing Strongyloides spp. mempunyai kulit yang tipis, berbentuk oval, dan mengandung larva.

Gambar 2 (A) Telur cacing Strongyloides dari tinja Landak Jawa, (B) Telur Strongyloides papillosus pada hewan ruminansia (FAO, 2011a).

(i) Perkembangan larva stadium satu, (ii) Kerabang telur.

Hasil pemeriksaan larva stadium tiga Strongyloides sp. memperlihatkan ukuran larva yang kecil, memiliki tubuh yang langsing dengan panjang tubuh 597 µm sampai 730.5 µm, dan memiliki panjang esofagus mencapai setengah dari total panjang tubuhnya (Gambar 3). Bagian kaudal tubuh terbentuk notched (percabangan) yang merupakan salah satu ciri khas dari Strongyloides spp.

Gambar 3 (A) Cacing Strongyloides dari hasil pemupukan tinja Landak Jawa, (B) Cacing Strongyloides (FAO, 2011b). (i) Esofagus, (ii) Percabangan ekor (notched).

i ii B A 100 µm A B i ii 15 µm

Berdasarkan ukuran dan karakteristik larva cacing Strongyloides yang teridentifikasi, sesuai dengan yang dijelaskan oleh Zajac dan Gary (2006) yaitu panjang dari esofagus setengah dari panjang tubuhnya, ujung ekor larva berbentuk kerucut yang terpotong pada bagian atasnya (Gambar 3ii), dan memiliki ukuran panjang 574 µm sampai 710 µm dan 524 µm sampai 678 µm.

Strongylus sp.

Hasil pemeriksaan telur cacing Strongylus memperlihatkan bentuk telur yang elips, mempunyai selubung yang tipis, mempunyai blastomer yang jelas dengan jumlah yang banyak, dan mempunyai ukuran panjang rata-rata 80.36 µm dan lebar rata-rata 35.45 µm (Gambar 4A). Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kassai (1999) kecuali pada bentuknya, yaitu berbentuk oval. Hal ini diduga telur tersebut merupakan jenis telur yang khas dari Landak Jawa.

Gambar 4 (A) Telur cacing Strongylus dari tinja Landak Jawa, (B) Telur cacing Strongylus sp. pada kuda (Bowman, 2003).

(i) Blastomer, (ii) Kerabang telur.

Larva Strongylus merupakan larva yang memiliki ukuran besar yaitu 980 µm, memiliki esofagus yang pendek, memiliki 16 sampai 32 sel usus tergantung spesies, dan sel usus berbentuk kubus

(

Zajac dan Gary, 2006). Hasil pemeriksaan larva cacing Strongylus memperlihatkan ukuran tubuh yang besar dengan rata-rata panjang tubuh mencapai 1.234 µm. Selain memiliki ukuran

i

ii

16µm

tubuh yang besar dan panjang, cacing ini memiliki sel usus yang berbentuk kubus (Gambar 5ii). Karakteristik dari genus cacing ini pun sesuai dengan yang dijelaskan oleh Zajac dan Gary (2006). Ukuran tubuh larva yang teridentifikasi pada tinja landak lebih besar dibandingkan dengan literatur. Hal ini diduga larva Strongylus yang teridentifikasi pada tinja Landak Jawa merupakan spesies khas dari Landak Jawa.

Gambar 5 (A) Larva cacing Strongylus dari hasil pemupukan tinja Landak Jawa, (B) Larva Strongylus edentatus (kiri) dan Strongylus vulgaris (kanan) pada kuda (Bowman, 2003).

(i) Bagian kepala larva Strongylus, (ii) Sel usus larva Strongylus yang berbentuk kubus, (iii) Bagian ekor dan selubung ekor larva

Strongylus.

Trichuris sp.

Hasil pemeriksaan telur cacing Trichuris memperlihatkan bentuk telur yang oval, dinding yang tebal, mempunyai operkulum, dan tidak mempunyai blastomer (Gambar 6). Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Kassai (1999) bahwa jenis telur trichurid mempunyai bentuk seperti lemon dengan dinding yang tebal dan mempunyai operkulum di kedua ujungnya. Telur Trichuris pada Landak Jawa memiliki ukuran panjang rata-rata 54.62 µm dan lebar rata-rata 24.44 µm.

Ukuran ini lebih kecil dibandingkan dengan yang dijelaskan oleh Taylor et al. (2007) pada Tabel 1. Hal ini diduga larva Trichuris yang

terindentifikasi pada tinja Landak Jawa merupakan karakteristik khas dari parasit yang menginfeksi Landak Jawa.

iii i

ii

A B

Gambar 6 Telur cacing Trichuris.

(A) Telur cacing genus Trichuris dari tinja Landak Jawa, (B) Telur Trichuris vulvis pada anjing (Blugburn, 1999), skala 1:10.

Kecacingan pada Landak Jawa

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecacingan pada Landak Jawa dapat berupa umur, kondisi kandang, perlakuan kandang, perilaku individu, dan pakan (Noble dan Noble, 1989; Taylor et al., 2007). Semakin muda umur hewan semakin tinggi resiko hewan tersebut terinfeksi cacing. Hal ini disebabkan sistem kekebalan dari hewan muda belum optimal, sehingga sistem kekebalan tidak dapat melindungi tubuh dari infeksi cacing. Hewan tua memiliki tingkat resistensi atau kekebalan yang tinggi terhadap infeksi cacing. Hal ini terjadi akibat tubuh membentuk respon kekebalan setiap ada infeksi cacing yang masuk ke dalam tubuh inang (Noble dan Noble, 1989). Kondisi kandang juga mempengaruhi faktor kecacingan. Kandang yang terkontaminasi dengan tinja yang mengandung telur cacing atau larva cacing infektif dapat menjadi sumber kecacingan utama. Hal ini terkait dengan perilaku atau kebiasaan Landak Jawa seperti menggigit-gigit besi kandang. Besi-besi kandang tersebut bisa saja terkontaminasi telur cacing atau larva cacing yang berasal dari tinja.

Selain kondisi kandang, perlakuan kandang juga mempengaruhi kasus kecacingan. Landak dikandangkan secara individual sehingga memungkinkan tidak terjadi kontaminasi silang melalui tinja antara landak yang terinfeksi dan landak yang tidak terinfeksi. Pakan juga dapat mempengaruhi munculnya kasus kecacingan. Pakan yang diberikan pada landak terdiri dari sayur-sayuran dan buah-buahan. Pakan tersebut diduga telah terkontaminasi telur cacing atau larva melalui tanah saat di perkebunan. Tanah merupakan sumber infeksi utama

Operculum Kerabang

A B

penyebab kasus kecacingan. Sudardjat (2010) mengemukakan bahwa tanah yang mengandung larva infektif atau telur cacing infektif akan mencapai tumbuh-tumbuhan kemudian diingesti oleh inang dan akan menyebabkan inang terinfeksi.

Tabel 1 memperlihatkan bahwa sebanyak 5 ekor Landak Jawa hanya 3 ekor landak yang terinfeksi cacing, yaitu landak C, D, dan E. Landak C dan D terinfeksi cacing genus Strongyloides, Strongylus, dan Trichuris, sedangkan landak E hanya terinfeksi oleh cacing genus Strongyloides. Berdasarkan pengamatan dalam penelitian, landak C, D, dan E tidak ditemukan gejala klinis seperti diare, nafsu makan menurun, dan anoreksia.

Jumlah TTGT sangat bervariasi pada Landak Jawa. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain produksi telur tiap jenis cacing berbeda, banyaknya tinja yang dikeluarkan tiap hari oleh hewan selalu berbeda, dan produksi cacing tua dan cacing muda berbeda. Selain itu, jumlah TTGT juga dipengaruhi oleh rendahnya variasi jenis cacing yang ditemukan pada tinja. Rendahnya variasi jenis cacing disebabkan oleh cara pengambilan tinja yang tidak menyeluruh pada seluruh bagian tinja. Satu bolus tinja terdiri dari bagian kulit, tengah, dan dalam. Telur cacing yang ditemukan pada ketiga bagian tersebut dapat saja berbeda jenis satu sama lain. Pengaruh lain juga disebabkan oleh produksi telur harian tiap jenis cacing berbeda dan produksi telur dari satu jenis

Dokumen terkait