• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dan Pembahasan 1 Uji Instrumen Penelitian

Dalam dokumen Prosiding Konferensi Nasional Sistem Inf (Halaman 75-80)

STUDI KUALITAS AUDIT SISTEM INFORMASI DI INDONESIA BERDASARKAN KOMPETENSI DAN INDEPENDENSI AUDITOR

3. Hasil dan Pembahasan 1 Uji Instrumen Penelitian

Teknik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Voluntary Sampling. Voluntary Sampling merupakan pengambilan sampel berdasarkan kerelaan untuk berpartisipasi dalam penelitian (Indriantoro dan Supomo: 2002). Kuesioner tersebar kepada 36 auditor Sistem Informasi dibantu dengan website penyebaran kuesioner yaitu, www.kwiksurvey.com. Penyebaran alamat kuesioner online dilakukan secara manual, dengan melakukan pengiriman e- mail satu-per-satu kepada para member ISACA Indonesia.

Pengujian instrumen penelitian / pertanyaan kuesioner ini pertama kali dilakukan dengan uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas ditentukan dengan membandingkan antara t hitung dengan t tabel. Jika t hitung lebih besar dibandingkan dengan t tabel (t hitung > t tabel), maka instrumen dinyatakan valid dan begitupun sebaliknya, jika t hitung memiliki nilai lebih kecil dibanding t tabel maka instrumen penelitian dinyatakan tidak valid.

Uji validitas dilakukan kepada 10 responden yang bertujuan untuk mengetahui apakah kuesioner tersebut dapat dipahami oleh para responden dan para responden dapat menangkap maksud dari pernyataan yang diberikan. Hasil dari uji validitas kuesioner percobaan tersebut didapatkan bahwa semua pertanyaan dikatakan valid, yaitu sebanyak 35 pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang valid tersebut memiliki nilai koefisien korelasi t hitung > t tabel (1.734).

Selain melakukan uji validitas, penelitian ini juga telah melewati uji reliabilitas. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat hasil Alfa untuk seluruh butir instrumen pada indeks adalah tinggi. Hal ini menunjukan bahwa tiap butir pernyataan yang digunakan dapat mampu memperoleh data yang konsisten dan jika pernyataan tersebut diajukan lagi akan diperoleh jawaban yang relatif sama dengan jawaban sebelumnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua instrumen kuesioner adalah andal (reliable), karena nilai uji reliabilitas alfa lebih besar dari 0.6 yaitu 0.937 > 0.6.

Perhitungan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh kedua variabel bebas dengan variabel terikat menggunakan analisis regresi berganda. Hasil perhitungan analisis regresi berganda dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Uji Koefisiensi Regresi Model Unstandarized Coefficients Standarized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) - 165.247 42.938 - 3.848 .001 Kompetensi 1.260 .306 5.061 4.116 .000 Independensi 2.711 .603 6.496 4.497 .000 Interaksi .017 .004 8.052 4.025 .000

a Dependent Variable: Kualitas

Berdasarkan Tabel 2, maka model regresi yang diperoleh adalah sebagai berikut: Y = α + β1X1 + β2X2 + β3(X1X2)

Hasil koefisiensi regresi memperlihatkan nilai koefisien konstanta adalah sebesar -165.247, memiliki arti bahwa jika variabel dianggap konstan maka nilai variabel kualitas audit Sistem Informasi akan konstan sebesar -165.247. Nilai β koefisien regresi dari variabel X1 (kompetensi auditor) sebesar 1.260, berarti bahwa semakin tinggi indikator yang ada pada kompetensi auditor sebesar 1 tingkatan, maka akan terjadi peningkatan kualitas audit Sistem Informasi sebesar 1.260 satuan, dengan asumsi variabel lainnya tetap atau konstan.

Kenaikan nilai 1 tingkatan untuk variabel kompetensi auditor dapat disebabkan dari semakin tinggi atau semakin bertambahnya indikator pengetahuan, keahlian, pendidikan formal, pendidikan non-formal (pelatihan, seminar,

workshop, dan sebagainya), pengalaman kerja di bidang audit Sistem Informasi, sertifikasi yang dimiliki, dan rasa tanggung jawab.

Lalu nilai β koefisien regresi dari variabel X2 (independensi auditor) sebesar 2.711, berarti bahwa jika terjadi peningkatan indikator yang ada pada independensi auditor sebesar 1 tingkatan, maka akan terjadi peningkatan kualitas audit Sistem Informasi sebesar 2.711 satuan, dengan asumsi variabel lainnya tetap atau konstan.

Kenaikan nilai 1 tingkatan untuk variabel independensi auditor dapat disebabkan dari semakin tinggi atau semakin bertambahnya indikator kebebasan diri, objektivitas, kejujuran, kerahasiaan, dan hubungan dengan klien.

Selain itu, perhitungan koefisiensi regresi pada Tabel 2 juga memperlihatkan nilai β koefisien regresi dari variabel X1X2 (interaksi kompetensi dan independensi auditor) sebesar 0.017, berarti bahwa jika terjadi peningkatan indikator yang ada pada interaksi antara kompetensi dan independensi auditor sebesar 1 tingkatan, maka akan terjadi peningkatan kualitas audit Sistem Informasi sebesar 0.017 satuan, dengan asumsi variabel lainnya tetap atau konstan.

Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa kompetensi dan independensi auditor berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas audit Sistem Informasi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jika para auditor Sistem Informasi memiliki semakin banyak pengetahuan dan keahlian di bidang audit Sistem Informasi maka kualitas audit Sistem Informasinya akan semakin meningkat pula. Indikator pengalaman kerja juga dapat meningkatkan kualitas audit Sistem Informasi. Namun hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Widyanto dan Yuhertian [5] dimana pengalaman berpengaruh dalam penurunan kualitas audit Sistem Informasi. Oleh karena itu sebaiknya auditor bertindak aktif dalam meningkatkan pengetahuan mereka dengan mengikuti kegiatan-kegiatan pendidikan formal maupun non- formal demi meningkatkan mutu pengetahuan tiap auditor.

Peningkatan pada faktor independensi auditor juga dapat meningkatkan kualitas audit Sistem Informasi. Bagi para auditor yang dapat menjaga hubungan baik dengan klien tanpa mengurangi integritasnya bisa memberikan peningkatan pada kualitas audit Sistem Informasi. Hal ini cocok dengan hasil penelitian Ye, Carson, & Simnet [6], hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa hubungan yang terlalu dekat atau penugasan audit yang terlalu lama dapat menimbulkan pengaruh buruk terhadap independensi auditor. Peningkatan variabel independensi auditor ini dapat dilakukan dengan mengikuti seminar-seminar mengenai profesionalitas agar para auditor lebih paham dan lebih mampu menjaga integritas dan objektifitas mereka.

Selain itu berdasarkan data perhitungan statistik tersebut dapat diketahui pengaruh interaksi antara kompetensi dan independensi auditor berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas audit Sistem Informasi. Hasil perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa interaksi yang terjadi antara kompetensi dan independensi auditor yang mencakup interaksi atas seluruh indikator memiliki hubungan yang searah dengan kualitas audit Sistem Informasi.

Penelitian ini juga ingin mengetahui besarnya pengaruh dari tiap-tiap variabel bebas secara individu (parsial) terhadap variabel terikat, oleh karena itu dilakukan uji statistik t. Hasil perhitungan uji statistik t dapat dilihat pada Tabel 2. Berikut hasil pengujian variabel bebas secara individu terhadap variabel terikat penelitian ini:

Uji hipotesis pertama:

Ho1: Tidak terdapat hubungan antara kompetensi auditor terhadap kualitas audit Sistem Informasi. Ha1: Terdapat hubungan antara kompetensi auditor terhadap kualitas audit Sistem Informasi. Kriteria Pengujian:

α = 0.05

Jika probabilitas < 0.05 maka Ho1 ditolak Jika probabilitas > 0.05 maka Ho1 diterima

Hasil pengujian untuk variabel kompetensi auditor memiliki angka signifikansi sebesar 0.000. Nilai tersebut lebih kecil dari 0.05, dengan demikian menolak nyata Ho1 dan menerima Ha1. Hal ini berarti bahwa kompetensi auditor sangat berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit Sistem Informasi.

Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Pham Hao, et al. [2]. Menurutnya, kompetensi merupakan faktor yang sangat penting untuk setiap industri kerja, mengacu pada keterampilan yang dimiliki, pengetahuan, dan keahlian melalui tingkat pendidikan dan pengalaman yang memadai. Kompetensi merupakan faktor utama untuk meningkatkan dan menjaga pelayanan dan kualitas.

Uji hipotesis kedua:

Ho2: Tidak terdapat hubungan antara independensi auditor terhadap kualitas audit Sistem Informasi. Ha2: Terdapat hubungan antara independensi auditor terhadap kualitas audit Sistem Informasi. Kriteria Pengujian:

α = 0.05

Jika probabilitas < 0.05 maka Ho2 ditolak Jika probabilitas > 0.05 maka Ho2 diterima

Hasil pengujian untuk variabel independensi auditor memiliki angka signifikansi sebesar 0.000. Nilai tersebut lebih kecil dari 0.05, dengan demikian menolak nyata Ho2 dan menerima Ha2. Hal ini berarti bahwa independensi auditor sangat berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit Sistem Informasi.

Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Rusmanto [3]. Pada penelitiannya menyimpulkan bahwa setiap auditor meyakini independensi sebagai suatu keniscayaan. Begitu juga dengan hasil penelitian Ye, Carson, & Simnet [6], Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa hubungan yang terlalu dekat atau penugasan audit yang terlalu lama dapat menimbulkan pengaruh buruk terhadap independensi auditor. Pada penelitian Chen, SU, & Wu [7] menemukan bahwa auditor akan bersikap lebih toleran/longgar dalam hubungannya dengan klien. Semakin dekat tentunya semakin mengancam integritas auditornya.

Uji hipotesis ketiga:

Ho3: Tidak terdapat hubungan atas interaksi antara kompetensi auditor dan independensi auditor terhadap kualitas audit Sistem Informasi.

Ha3: Terdapat hubungan atas interaksi antara kompetensi auditor dan independensi auditor terhadap kualitas audit Sistem Informasi.

Kriteria Pengujian: α = 0.05

Jika probabilitas < 0.05 maka Ho3 ditolak Jika probabilitas > 0.05 maka Ho3 diterima

Hasil pengujian untuk interaksi antara kompetensi dan independensi auditor memiliki angka signifikansi sebesar 0.000. Nilai tersebut lebih kecil dari 0.05, dengan demikian menolak nyata Ho3 dan menerima Ha3. Hal ini berarti bahwa interaksi kompetensi dan independensi auditor sangat berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit Sistem Informasi. Hal ini disebabkan kedua faktor dari variabel bebas ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi kualitas audit Sistem Informasi. Namun kelemahan pada penelitian ini adalah tidak diketahui indikator-indikator mana saja dari tiap variabel bebas yang lebih mempengaruhi secara nyata kualitas audit Sistem Informasi.

Berdasarkan hasil perhitungan statistik yang telah dilakukan pada penelitian kualitas audit Sistem Informasi ini, dapat direkomendasikan bahwa untuk terciptanya kualitas audit Sistem Informasi yang baik dibutuhkan sikap independensi dan kompetensi yang tinggi dari para auditor. Independensi berasal dari diri para auditornya masing- masing. Seperti yang dikemukakan Rusmanto [3] pada akhir penelitiannya bahwa independensi auditor dapat ditingkatkan melalui pemberian sanksi, pendidikan profesi, profesionalisme, dan nilai religiusitas. Bagi organisasi yang menjadi payung untuk para auditor juga dapat membantu melalui pemberian pelatihan atau seminar berkenaan dengan menguatkan keteguhan hati dan meningkatkan profesionalitas.

Selain itu para auditor juga perlu mengetahui sejauh mana mereka dapat berhubungan dengan klien mereka. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa indikator hubungan dengan klien yang terlalu dekat sangat berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit Sistem Informasi, maka perlu dibuatkan suatu regulasi agar para auditor tahu sejauh mana mereka dapat berhubungan dengan para kliennya.

Faktor kompetensi auditor juga penting dalam meningkatkan kualitas audit Sistem Informasi. Kompetensi ini bisa didapat dari pendidikan formal yang dimiliki oleh tiap auditor, semakin tinggi jenjang pendidikan yang mereka miliki akan menjadi lebih baik. Selain pendidikan formal yang menjadi bekal para auditor, organisasi yang menjadi penampung untuk para auditor juga perlu menyediakan pelatihan dan seminar secara berkala. Hal ini bertujuan agar para auditor dapat tetap up-to-date terhadap setiap perkembangan yang terjadi di dunia audit Sistem Informasi. Organisasi juga perlu membantu para auditornya mendapatkan sertifikasi audit untuk meningkatkan nilai kompetensi mereka. Organisasi audit perlu menjebatani para auditor agar mereka dapat lebih mudah mendapatkan sertifikasi. Selain itu, bagi organisasi itu sendiri sertifikasi ini dapat menjadi nilai tambah dalam bisnis pengadaan jasa audit Sistem Informasi.

4. Simpulan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kompetensi auditor, independensi auditor, dan interaksi antara kompetensi dan independensi auditor terhadap peningkatan kualitas audit Sistem Informasi. Hasil pengujian terhadap 36 responden auditor Sistem Informasi sebagai berikut:

1. Variabel bebas X1 (Kompetensi Auditor) berpengaruh positif dan berdampak signifikan terhadap variabel terikat Y (Kualitas audit Sistem Informasi) dengan nilai koefisien sebesar 1.260. Artinya, semakin tinggi kompetensi auditor maka akan secara nyata meningkatkan kualitas audit Sistem Informasi. Peningkatan variabel bebas X1 ini dapat melalui pendidikan formal dan non-formal, pelatihan, pengalaman, sertifikasi demi meningkatkan kemampuan dan pemahaman para auditor.

2. Variabel bebas X2 (Independensi Auditor) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel terikat Y Kualitas

audit Sistem Informasi dengan nilai koefisien sebesar 2.711. Artinya, semakin tinggi independensi auditor maka akan dapat meningkatkan kualitas audit Sistem Informasi. Juga, independensi auditor ini berpengaruh secara nyata. Sudah terdapat beberapa hasil penelitian yang mengamini bahwa independensi auditor dapat meningkatkan kualitas audit Sistem Informasi.

3. Variabel bebas X1X2 (interaksi kompetensi dan independensi auditor) memiliki nilai koefisiensi sebesar 0.017 pada alpha 0.000. Hal ini berarti interaksi yang terjadi antara variabel bebas (Kompetensi dan Independensi Auditor) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat (Kualitas audit Sistem Informasi).

Atas dasar hasil penelitian ini, maka dapat diajukan saran-saran sebagai berikut:

1. Para auditor diberikan pelatihan dan seminar pengetahuan dan pemahaman mengenai audit Sistem Informasi secara berkala agar para auditor selalu up-to-date akan perkembangan yang terjadi di dunia audit Sistem Informasi.

2. Organisasi penampung para auditor Sistem Informasi perlu membantu para auditornya mendapatkan sertifikasi audit untuk meningkatkan nilai kompetensi mereka.

3. Perlu dibuatkan suatu regulasi agar para auditor tahu sejauh mana mereka dapat berhubungan dengan para

kliennya. Regulasi ini perlu dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi para auditor yang melanggar peraturan tersebut.

4. Bagi organisasi yang menjadi payung untuk para auditor perlu membantu dalam peningkatan independensi

auditor melalui pemberian pelatihan atau seminar berkenaan dengan menguatkan keteguhan hati dan meningkatkan profesionalitas.

Daftar Pustaka

[11]Gondodiyoto, Sanyoto. 2007. “Audit Sistem Informasi: Pendekatan Chobit”, Edisi Revisi, Jakarta: Mitra Wacana Media. [12]Pham Hao, et al. 2014. “A Study of Audit Quality in Vietnam”. International Journal of Business, Accounting, and

Finance, Volume 8, Number 2.

[13]Rusmanto, Toto. 2012. “Persepsi Auditor KAP Kecil-Menengah terhadap Independensi Auditor”. Jurnal Ilmiah Akuntansi. 11(2). 209-223.

[14]Indriantoro dan Nur Supomo. 1999. "Metodologi Penelitian Bisnis: Untuk Akuntansi dan Manajemen." Edisi Pertama, BPEE - Yokyakarta, Yogyakarta.

[15]Widyanto, Adi K.D dan Indrawati Yuhertian. 2005. "Pengaruh Pendidikan, Pengalaman dan Pelatihan terhadap Profesionalisme Auditor Pemerintah yang Bekerja pada Badan Pengawas kota Surabaya". Konferensi Nasional Akuntansi, Jakarta.

[16]Ye, P., Carson, E. and Simnet, R. 2011. “Threats to Auditor Independency: The Impact of Relationship and Economics Bonds”. Auditing: A Journal of Practice and Theory. 30(1): 121 - 148.

[17]Chen, C.J.P., Su, X and We. X. 2009. “Forced Audit Firm Change, Continued Partner-Client Relationship, and Financial Reporting Quality”. Auditing: A Journal of Practice and Theory. 28(2): 227 - 246.

KLASIFIKASI KECERDASAN MAJEMUK PESERTA DIDIK TK TUNAS ISLAM

Dalam dokumen Prosiding Konferensi Nasional Sistem Inf (Halaman 75-80)