PRODUCT
Fadly Rahmadi1), Tacbir Hendro P2), Agus Komarudin3)
Program Studi Informatika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jenderal Achmad Yani
PO BOX 148 Cimahi, Jawa Barat, Indonesia
e-mail: [email protected], [email protected]2, [email protected]3
Abstrak
Kegiatan umrah mempunyai dua sisi yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya yaitu, standar pelaksanaannya saat masih di tanah air dan di makkah. Pada standar pelayanan di tanah air banyak aspek penting yang harus diperhatikan pembinaannya seperti dalam pelayanan jasa (pembayaran setoran ONH ke bank, pengurusan dokumen umrah, pemeriksaan kesehatan calon jamaah), bimbingan manasik (materi bimbingan, metode dan waktu bimbingan), penyediaan perlengkapan, dan konsultasi keagamaan. Sedangkan standar pelayanan ibadah umrah di tanah suci adalah pelayanan akomodasi, transportasi, konsumsi, kesehatan, serta bimbingan ibadah umrah. Banyaknya travel umrah di Indonesia membuat calon jamaah umrah kesulitan dalam menentukan travel yang akan dipilih. Sistem Pendukung Keputusan Menentukan Jasa Travel Umrah dilakukan dengan metode Analytic Hierarchy Process untuk menentukan bobot disetiap kriteria yang terdiri 10 kriteria, serta penggunaan metode Weighted Product digunakan untuk melakukan perangkingan untuk setiap alternatif alternatif travel. Dengan menggunakan Sistem Pendukung Keputusan Menentukan Jasa Travel Umrah calon jamaah umrah akan lebih mudah dalam menentukan jasa travel umrah sesuai dengan kebutuhannya.
Kata kunci: Sistem Pendukung Keputusan, Analytic Hierarchy Process, Weighted Product, Travel, Umrah.
1. Pendahuluan
Pada umumnya masyarakat muslim Indonesia melaksanakan umrah menuju Masjidil Haram di Arab
Saudi melalui travel umrah atau sebuah perusahaan travel atau biro perjalanan yang khusus menyelenggarakan jasa perjalanan umrah yang banyak tersebar di Indonesia. Mereka menyediakan berbagai fasilitas yang memudahkan jamaah sehingga konsentrasi jamaah hanya pada pelaksanaan ibadah umrah saja di Masjidil Haram
di Mekkah dan Madinah. Kegiatan umrah mempunyai dua sisi yang harus diperhatikan dalam pelaksanaannya yaitu, standar pelaksanaannya saat masih di tanah air dan di makkah. Pada standar pelayanan di tanah air banyak aspek penting yang harus diperhatikan pembinaannya seperti dalam pelayanan jasa (pembayaran setoran ONH ke bank, pengurusan dokumen umrah, pemeriksaan kesehatan calon jamaah), bimbingan manasik (materi bimbingan, metode dan waktu bimbingan), penyediaan perlengkapan, dan konsultasi keagamaan. Sedangkan standar pelayanan ibadah umrah di tanah suci adalah pelayanan akomodasi, transportasi, konsumsi, kesehatan, serta bimbingan ibadah umrah.
Selama ini masyarakat memilih travel umrah dengan cara manual yaitu dengan mendapatkan informasi dari teman, saudara, sahabat, tetangga ataupun internet. Sehingga tidak sedikit masyarakat yang kecewa setelah
melakukan ibadah umrah karena salah memilih travelnya.
Penelitian terdahulu mengenai penelitian pembuatan suatu sistem pendukung keputusan pemilihan paket umrah (studi kasus: PT. Amanah Iman) dengan kriteria budget yang dimiliki calon jamaah, fasilitas dari paket yang ditawarkan, lama perjalanan umrah, serta tempat wisata yang akan dituju setelah selesai menunaikan ibadah umrah. Berdasarkan penelitian terdahulu tersebut maka dibangun suatu sistem pendukung keputusan menentukan jasa travel umrah, yang menjadi perbedaan dengan penelitian sebelumnya yaitu sudut pandang pada penelitian. Pada penelitian tersebut memiliki studi kasus yang menerapkan SPK pada perusahaan yang bertujuan untuk membantu konsumen dalam membantu memilih paket yang tersedia pada perusahaan tersebut. Sedangkan pada penelitian ini adalah SPK yang membantu calon jamaah dalam memilih travel yang tepat. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu
menggunakan metode AHP berfungsi sebagai penentuan bobot untuk setiap kriteria dan WP berfungsi sebagai metode untuk perankingan alternatif.
2. Metode Penelitian
Analytical hierarhcy process merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, dapat memecahkan masalah yang kompleks di mana aspek atau kriteria yang diambil cukup banyak dan menguraikan masalah yang kompleks menjadi suatu hirarki dengan input utamanya persepsi manusia. Keberadaan hirarki untuk memecahkan masalah kompleks atau tidak terstruktur dalam sub masalah, lalu menyusunnya menjadi suatu hirarki. Struktur hirarki analytical hierarhcy process dapat dilihat pada Gambar 1. struktur hirarki.
Gambar 1. Struktur hirarki analytical hierarhcy process Tabel 1. Skala Dasar Perbandingan Berpasangan
Tingkat
Kepentingan Definisi Keterangan
1 Sama Pentingnya Kedua elemen mempunyai pengaruh
yang sama
3 Sedikit lebih penting
Pengalaman dan penilaian sangat memihak satu elemen dibandingkan dengan pasangannya
5 Lebih Penting
Satu elemen sangat disukai dan secara praktis dominasinya sangat nyata,
dibandingkan dengan elemen
pasangannya.
7 Sangat Penting
Satu elemen terbukti sangat disukai dan secara praktis dominasinya sangat nyata, dibandingkan dengan elemen pasangannya.
9 Mutlak lebih penting
Satu elemen terbukti mutlak lebih
disukai dibandingkan dengan
pasangannya, pada keyakinan
tertinggi.
2,4,6,8 Nilai Tengah
Diberikan bila terdapat keraguan penilaian diantara dua tingkat kepentingan yang berdekatan.
Penilaian dalam membandingkan antara satu kriteria dengan kriteria yang lain adalah bebas satu sama lain, dan hal ini dapat mengarah pada ketidak konsistensian. Indeks konsistensi dari matrik ber ordo n dapat diperoleh dengan rumus:
CI = (λmaks-n)/(n-1)... (1.1) Keterangan :
CI = Indeks Konsistensi (Consistency Index)
Nilai eigen terbesar didapat dengan menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom dengan eigen vector. Batas ketidakkonsistensian diukur dengan menggunakan rasio konsistensi (CR), yakni perbandingan indeks konsistensi (CI) dengan nilai pembangkit random (RI). Nilai ini bergantung pada ordo matrik n.
Rasio konsistensi dapat dirumuskan:
CR = CI/RI... (1.2)
Bila nilai CR lebih kecil dari 10%, ketidakkonsistensian pendapat masih dianggap dapat diterima.
Tabel daftar indeks konsistensi merupakan sebuah tabel rujukan yang disediakan oleh saaty sebagai nilai pembagi dari nilai indeks konsistensi [8].
Tabel 2. Daftar Indeks Random Konsistensi (RI)
2.1.1. Metode Weighted Product(WP)
Metode weighted product memerlukan proses normalisasi karena metode ini mengalikan hasil penilaian setiap atribut. Hasil perkalian tersebut belum bermakna jika belum dibandingkan (dibagi) dengan nilai standart. Bobot untuk atribut manfaat berfungsi sebagai pangkat positif dalam proses perkalian, sementara bobot biaya berfungsi sebagai pangkat negative.
Metode Weighted Product menggunakan perkalian untuk menghubungkan rating atribut, dimana rating setiap atribut harus dipangkatkan dulu dengan bobot yang bersangkutan. Proses ini sama halnya dengan proses normalisasi. Preferensi untuk alternative S i diberikan sebagai berikut :
∏ U V3 ! AV... (2.1)
Dimana :
S : Preferensi alternatif dianologikan sebagai vektor S X : Nilai kriteria
W : Bobot kriteria / sub kriteria I : Alternatif
j : Kriteria
n : Banyaknya kriteria
Dimana 03 adalah pangkat bernilai positif untuk atribut keuntungan dan bernilai negatif untuk atribut biaya. Preferensi relatif dari setiap alternatif diberikan sebagai :
W ∏OYP?X3H3
∏OYP?X 3∗ H3... (2.2)
Dimana :
V : Preferensi alternatif dianologikan sebagai vektor V X : Nilai kriteria
W : Bobot kriteria / sub kriteria I : Alternatif
j : Kriteria
n : Banyaknya kriteria
* : Banyaknya kriteria yang telah dinilai pada vektor S
3. Hasil dan Pembahasan
Pada penelitian ini penentuan bobot kriteria dilakukan dengan menggunakan metode analytical hierarchy process, sedangkan untuk tahap perangkingan dengan menggunakan metode weighted product, berdasarkan tahapan- tahapan pada metode penelitian, adapun nilai kepentingan setiap kriteria dapat tabel 3, data kriteria dan alternatif dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 3. Nilai Kepentingan Kriteria
Maka diimplementasikan suatu contoh kasus menentukan bobot kriteria menggunakan analytical hierarchy process melalui perbandingan berpasangan sedangkan untuk tahap perangkingan menggunakan metode weighted product, suatu contoh kasus sebagai berikut:
Tabel 4. Daftar Data Alternatif dan Kriteria
Tabel 5. Tabel Perbandingan Berpasangan untuk Kriteria
Berdasarkan Tabel 5. maka diperoleh matrix perbandingan berpasangan seperti dibawah ini.
Matrix dibawah ini merupakan proses normalisasi matrix perbandingan berpasangan, normalisasi matrix dilakukan dengan cara membagi dari setiap nilai matrik dengan jumlah dari baris untuk setiap matrix. Setalah proses
normalisasi dilakukan, maka selanjutnya akan dilakukan pencarian nilai bobot untuk setiap kriteria. Nilai bobot untuk setiap kriteria didapatkan berdasarkan dari hasil rata-rata dari setiap penjumlahan nilai matrix secara horizontal.
Maka diperoleh bobot untuk setiap kriteria yaitu: W1 (A) = 0,197 W2 (B) = 0,079 W3 (C) = 0,032 W4 (D) = 0,032 W5 (E) = 0,197 W6 (F) = 0,079 W7 (G) = 0,079 W8 (H) = 0,079 W9 (I) = 0,197 W10 (J) = 0,032
Setelah mendapatkan bobot setiap kriteria langkah selanjutnya menggunakan metode weighted product untuk perangkingan alternatif.
Tabel 6. Tabel Kategori Kriteria
Untuk menghitung nilai alternatif pada kasus ini digunakan rumus pada persamaan (2.1).
Kriteria pada kasus ini yang berkategori benefit maka untuk wj bernilaikan positif, sedangkan yang berkategorikan cost maka untuk wj bernilaikan negatif.
S0= 21000000\],!^_ 50],]_^ 2006],]b 2000],]b 3],!^_ 9],]_^ 600],]_^ 400],]_^ 8],!^_ 9],]b 0,507 S1= 23000000\],!^_ 60],]_^ 1990],]b 3000],]b 5],!^_ 7],]_^ 15],]_^ 20],]_^ 8],!^_ 14],]b 0,357 S2= 25000000\],!^_ 90],]_^ 2009],]b 9000],]b 5],!^_ 10],]_^ 100],]_^ 100],]_^ 13],!^_ 14],]b 0,521 S3= 22000000\],!^_ 120],]_^ 1994],]b 30000],]b 3],!^_ 8],]_^ 800],]_^ 20],]_^ 8],!^_ 14],]b 0,476
Menghitung nilai vektor v merupakan tahapan terakhir di dalam metode Weighted Product, nilai vektor v dicari untuk melakukan proses perankingan. Perhitungan vektor v berdasarkan pada rumus di persamaan (2.2). Nilai v didapatkan berdasarkan hasil pembagian antara nilai vektor S dengan jumlah seluruh nilai vektor S.
h0 0,507 0,357 0,521 0,476 0,2720,507 h1 0,507 0,357 0,521 0,476 0,1920,357
h2 0,507 0,357 0,521 0,476 0,2800,521 h3 0,507 0,357 0,521 0,476 0,2560,476
Berikut adalah hasil perankingan dari perhitungan metode AHP dan WP.
PT. AFI TOUR = 0,272
ARMINAREKA = 0,192
PT. AFIZ NURUL QOLBI = 0,280 FADLY JAYA TOUR = 0,256
Dengan demikian yang layak direkomendasikan oleh konsumen dari keempat travel tersebut yaitu PT. AFIZ NURUL QOLBI, dikarenakan memiliki persentase nilai paling besar yaitu 0,280.
4. Simpulan
Pembangunan perangkat lunak sistem pendukung keputusan menentukan jasa travel dapat membantu calon jamaah umrah dalam memberikan rekomendasi keputusan jasa travel berdasarkan dengan alternatif data travel yang dibandingkan dengan kriteria-kriteria yang terdiri dari harga, tahun berapa travel itu berdiri, berapa kali memberangkatkan jamaah, berapa jamaah yang sudah diberangkatkan, perlengkapan yang didapat, hotel bintang berapa, jarak dari hotel ke masjid Nabawi, jarak dari hotel ke Masjidil Haram, fasilitas dan lama umrah.
Daftar Pustaka
Berikut referensi yang digunakan pada penelitian:
[1] Hasan. Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Paket Umrah Menggunakan Metode AHP (Studi Kasus: PT. Amanah Iman). Konferensi Nasional Sistem & Informatika. 2015 : 1010 – 1015.
[2] Wahbah, Zuhailiy. Fiqh al-Islam wa Adillatuhu. Beirut: Dar al-Fikr. 1985.
[3] M. Abdurachman, Rachimi. Segala Hal Tentang Haji dan Umroh. Jakarta: Erlangga. 2012.
[4] Hawwas, Abdul Aziz Muhammad Azzam & Abdul Wahhab Sayyed. Fiqh Ibadah. Jakarta: Amzah. 2010. [5] Mughniyah, Muhammad Jawwad. Fiqh Lima Mazhab. Jakarta: Basrie Press. 1994.
[6] Turban, Decision Support Systems and Intelligent Systems. 6th edition. Prentice Hall: Upper Saddle River. 2001. [7] Turban, Kelly Rainer, Richard E. Potter. Introduction to Information Technology. 3th Ed. New York: John Wiley.
2006.
[8] Ingot Seen Sianturi. SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN PEMILIHAN JURUSAN SISWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE WEIGHTED PRODUCT (STUDI KASUS: SMA SWASTA HKBP DOLOKSANGGUL).