• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

2. Hasil Diskusi/FGD

1) Apakah tujuan pendidikan dan pelatihan SJI-PWI?

Hasil diskusi dengan para pengelola SJI-PWI terkait tujuan diselenggarakannya program ini adalah : (1) membekali peserta didik dengan kompetensi keterampilan di bidang tugas dan tanggung jawabnya, (2) meningkatkan wawasan wartawan, memperkuat idealisme, dan memiliki integritas kuat dalam mengemban tugas-tugasnya sebagai wartawan profesional, (3) membekali kesadaran wartawan yang beretika dan berkepribadian, memiliki motivasi kuat untuk mau belajar terus-menerus selama ia menjalankan tugasnya sebagai wartawan.

2) Bagaimana profesionalitas jurnalis di Indonesia saat ini?

Sebagian besar responden menilai profesionalitas wartawan di Indonesia masih sangat rendah dan perlu upaya-upaya untuk meningkatkan profesionalitas tersebut. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Dewan Pers yang mengatakan profesionalitas wartawan di Indonesia masih di angka 30%, sementara 70% masih belum profesional.

Tabel 4.1. Tingkat Profesionalisme Jurnalis Indonesia Menurut Dewan Pers

Profesional 30%

Tidak Profesional 70%

3) Bagaimana upaya meningkatkan profesionalitas jurnalis di kalangan wartawan?

Hasil jawaban dari pertanyaan di atas disimpulkan bahwa sejak awal reformasi, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan di pusat maupun cabang-cabang berusaha meningkatkan profesionalisme wartawan, melalui berbagai pendidikan dan pelatihan kewartawanan. Namun, secara jujur diakui bahwa hasilnya terasa masih belum memuaskan dan menggembirakan. Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyadari bahwa pers memang memainkan posisi dan peranan penting dalam sistem demokrasi yang sedang dilaksanakan saat ini. Bahkan, pers secara de facto diakui sebagai pilar ke-4 demokrasi. Berbagai penelitian mengungkapkan juga bahwa pers merupakan alat komunikasi yang paling banyak mempengaruhi masyarakat. Apa-apa yang dikemukakan media massa, sering dianggap sebagai suatu kebenaran. Padahal tidak jarang kebenaran yang diterima dari media itu, sesungguhnya palsu, alias tidak valid, karena itulah ketimpangan ini perlu dievaluasi.

Hasil evaluasi ini diharapkan menjadi kebijakan untuk melahirkan para wartawan yang memiliki kompetensi dan integritas kewartawanan yang sesuai dengan dinamika kehidupan yang menuntut atas suatu perubahan yang kritis, inovatif, dan kreatif. Salah satu hasil dari evaluasi itu adalah tersusunnya suatu program pendidikan dan pelatihan yang nantinya mampu merespons kebutuhan pers yang dapat memberikan informasi yang konstruktif bagi bangsa dan negara tercinta Indonesia. 4) Apa yang menjadi harapan dari program pendidikan dan pelatihan

SJI-PWI?

Para pengelola SJI-PWI berharap (1) SJI dapat dilaksanakan secara konsisten agar terus melahirkan jurnalis yang bermutu dan profesional. Kendala-kendala klasik dalam pelaksanaan SJI, seperti pendanaan dapat menemukan solusi sehingga keberlangsungan SJI dapat terus terjaga, (2) SJI memiliki kurikulum yang komprehensif dan disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi (konvergensi media) sebagai acuan dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan.

5) Siapakah yang menjadi sasaran program SJI-PWI?

Peserta didik dalam program ini ditujukan sedikitnya untuk tiga lapis wartawan, yaitu pertama, wartawan kelompok lapis dasar yakni mereka yang masuk dalam kelompok wartawan pemula atau reporter dan yang setara lainnya. Kedua, kelompok wartawan lapis menengah yakni para redaktur dan penulis senior yang masuk dalam kelompok wartawan madya

dan yang setara lainnya. Ketiga, kelompok wartawan lapis lanjutan yakni terdiri para redaktur pelaksana dan penanggung jawab redaksi media massa. Karena berbagai pertimbangan pada tahap pertama bersifat jangka pendek yaitu akan berlangsung dua minggu.

6) Apa yang harus menjadi karakteristik utama pendidikan dan pelatihan SJI-PWI?

SJI-PWI harus memiliki karakteristik yang berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Ditinjau dari segi kelengkapan materi pembelajaran sangat kompleks dan menyeluruh, tidak hanya mengkhususkan pada segi pengembangan pengetahuan saja, tetapi segi penguasaan aspek teknologi, menjadi sasaran utama. Pendidikan Jurnalistik Indonesia harus dilatihkan dan ditanamkan terutama nilai-nilai sikap dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

7) Apa yang menjadi standar kompetensi pengajar SJI-PWI?

Standar kompetensi yang harus disiapkan oleh pengajar pelatihan adalah (a) memiliki kemampuan kompetensi mengajar di bidang keahlian atau keterampilan mata pelajaran yang diminatinya; memiliki pengalaman dan pengetahuan jurnalistik yang mumpuni, (b) diutamakan mereka yang telah memiliki dan menggeluti profesi jurnalistik cukup lama dan berpengalaman menduduki jabatan unsur pimpinan di media massa, (c) lulus mengikuti seleksi training of trainer (TOT) khusus yang diselenggarakan oleh badan eksekutif SJI-PWI.

8) Kurikulum diklat jurnalisme seperti apa supaya menghasilkan lulusan yang berkarakter dan bermutu ?

Hasil FGD ditambah kajian dokumen terkait dengan kurikulum pendidikan dan pelatihan jurnalisme yang menghasilkan lulusan yang berkarakter dan bermutu adalah perlu didukung dengan kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai karakter yang dirancang secara sistematis sesuai dengan tingkat pemahaman peserta didik.

Berdasarkan paparan hasil angket dan FGD di atas, peneliti mengembangkan mata ajar jurnalisme berbasis karakter hasil pengembangan kurikulum SJI-PWI hasil pengembangan kurikulum yang berlaku saat ini, yaitu:

a. Tujuan Kurikulum Pendidikan dan Pelatihan

Pendidikan dan pelatihan jurnalisme berkarakter mempunyai tujuan yaitu (1) meningkatkan profesionalisme dan wawasan insan pers terkait konvergensi media, (2) membekali insan pers agar memahami dan menguasai semua perangkat yang digunakan untuk memproduksi informasi serta beragam saluran informasi yang digunakan, (3) menyadarkan peran dan fungsi pers berkarakter, (4) menanamkan nilai-nilai karakter kepada insan pers dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai wartawan profesional, (5) memberikan motivasi kepada insan pers untuk menjaga dan memegang teguh nilai-nilai karakter dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.

b. Materi Pendidikan dan Pelatihan Dasar 1) Filosofi Profesi Jurnalis

Peserta diklat diberikan pemahaman dasar tentang hal-hal yang

berkaitan dengan ―kemanakah tujuan akhir profesi ini?‖ Pembahasan

tersebut diantaranya; Mengapa menjadi jurnalis?; Apa artinya menjadi seorang jurnalis?; Hendak ke mana dengan profesi ini?; Tanggung jawab profesional seorang jurnalis; Sejarah perjuangan pers Indonesia; Integritas seorang jurnalis; Aneka aliran jurnalisme yang berkembang sesuai dinamika masyarakat.

2) Peran dan Fungsi Pers

Peserta diberikan wawasan mengenai peran dan fungsi pers, yaitu mendidik masyarakat (ta‟bid al-ummah); mencari dan menggali informasi/pengetahuan serta menyebarkan informasi (ta‟lim) yang benar dan bermanfaat; melakukan filterisasi dan konfirmasi (tabayyun) terhadap berbagai informasi global untuk membentengi umat Islam dari pengaruh buruk informasi (fitnah) global; mengajak dan menasihati umat dengan cara yang baik untuk mengikuti jalan hidup Islam yang diridai Allah (dakwah ilallah); membela dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan dunia; memberikan kesaksian atau mengungkap fakta dengan adil, lalu memerintahkan kebaikan (amar ma‟ruf) dan mencegah kemungkaran (nahyi munkar); menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk, memberi

peringatan kepada pelaku kejahatan (nadziran); memberi kabar gembira/hiburan kepada para pelaku kebaikan (basyiran); membela kepentingan kaum yang lemah (imdad al-mustadh‟afin) dan membebaskan umat dari beban dan belenggu yang memasung mereka, memelihara dan menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.

3) Profesionalisme Pers dalam Perspektif Karakter

Profesionalisme pers dalam perspektif karakter ditandai dengan memiliki pengetahuan yang baik untuk menunjang kemampuannya menggali berita, menjalankan kebebasan pers yang berkaitan dengan menghargai hak orang lain, kejujuran dalam menyajikan informasi, memiliki tanggung jawab dan etika, cermat serta memiliki tingkat akurasi tinggi dalam penulisan berita.

4) Prinsip Komunikasi Massa dalam Perspektif Ajaran Islam

Peserta diklat diberikan pemahaman apa saja prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam menyajikan informasi dan melakukan komunikasi, yaitu qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya); falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar, jika tidak diamlah); laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berfikir terlebih dahulu); bicara yang baik-baik saja; serta menyampaikan informasi dan berbicara sesuai fakta.

Peserta diklat diberikan wawasan mengenai konvergensi media sebagai upaya perusahaan mengikuti kemajuan teknologi dan memenuhi kebutuhan masyarakat akan berita yang cepat dan aktual. Konvergensi media juga menjadi jawaban atas masalah turunnya tiras surat kabar dan berkembangnya jurnalisme warga. Konvergensi adalah aliran konten informasi ke berbagai platform media, kerja sama antara berbagai industri media, serta perilaku migrasi audiensi yang senantiasa mencari pengalaman entertainment dari konten media yang mereka konsumsi. Selain itu peserta juga diberikan penjelasan terkait konglomerasi media serta dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari praktik konglomerasi media.

6) Teknik Wawancara

Membekali peserta diklat tentang apa saja persiapan dan cara-cara terbaik dalam melakukan wawancara-cara guna menggali informasi yang lebih dalam dan akurat dari narasumber. Tujuannya yakni agar peserta didik dapat lebih mendalam mengenai berbagai informasi (data atau argumentasi) dari narasumber untuk keperluan aneka penulisan reportase. Apakah yang dinamakan wawancara itu? Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan dalam media massa. Orang yang mewawancarai

dinamakan pewawancara (interviewer) dan orang yang diwawancarai dinamakan pemberi wawancara (interviewe) atau disebut juga responden. Seperti percakapan biasa, wawancara adalah pertukaran informasi, opini, atau pengalaman dari satu orang ke orang lain.

Dalam sebuah percakapan, pengendalian terhadap alur diskusi itu bolak-balik beralih dari satu orang ke orang yang lain. Meskipun demikian, jelas bahwa dalam suatu wawancara si pewawancara adalah yang menyebabkan terjadinya diskusi tersebut dan menentukan arah dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Tujuan seorang reporter melakukan wawancara adalah mengumpulkan informasi yang lengkap, akurat, dan adil (fair). Seorang pewawancara yang baik mencari sebuah pengungkapan atau wawasan (insight), pikiran atau sudut pandang yang menarik, yang cukup bernilai untuk diketahui. Jadi bukan sesuatu yang sudah secara umum didengar atau diketahui.

Perbedaan penting antara wawancara dengan percakapan biasa adalah wawancara bertujuan pasti: menggali permasalahan yang ingin diketahui untuk disampaikan kepada khalayak pembaca (media cetak), pendengar (radio), atau pemirsa (televisi). Namun berbeda dengan penyidik perkara atau interogator, wartawan tidak memaksa tetapi membujuk orang agar bersedia memberikan keterangan yang diperlukan.

Dalam proses wawancara, si pewawancara atau wartawan bersangkutan benar-benar harus meredam egonya dan pada saat yang sama harus melakukan pengendalian tersembunyi. Ini adalah sesuatu yang sulit. Pernahkah Anda melihat dalam suatu acara talkshow di televisi, di mana si pewawancara malah bicara lebih banyak dan seolah olah ingin kelihatan lebih pintar daripada orang yang diwawancarai? Ini adalah contoh yang menunjukkan, si pewawancara gagal meredam egonya dan dengan demikian memperkecil peluang bagi orang yang diwawancarai untuk mengungkapkan lebih banyak.

Dalam proses wawancara, pewawancara memantau semua yang diucapkan oleh dan bahasa tubuh dari orang yang diwawancarai, sambil berusaha menciptakan suasana santai dan tidak-mengancam, yakni suasana yang kondusif bagi berlangsungnya wawancara. Berita sebagai produk jurnalistik hanya bisa lahir dari fakta-fakta yang ada di masyarakat. Di balik fakta-fakta itu, tentu ada aktornya. Untuk kelahiran sebuah produk jurnalistik yang sehat, jurnalis harus mampu membuat si aktor bicara. Cara efektif untuk itu, tidak ada lain, kecuali dengan jalan melakukan wawancara. Dalam aktifitas jurnalistik, sebuah wawancara sudah barang tentu memerlukan berbagai sentuhan teknik dalam aplikasinya.

Berbicara ikhwal teknik wawancara, tentu saja kita akan berhadapan dengan sesuatu yang dinamis bahkan progresif dan juga

fleksibel. Artinya, teknik wawancara itu bukan merupakan sesuatu yang musti baku, kaku, apalagi sakral. Teknik itu berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat. Karena itu, para jurnalis juga dituntuk untuk senantiasa memberdayakan diri sesuai tuntutan jaman. Terpenuhinya prinsip-prinsip keberimbangan bagi sebuah berita, hanya bisa ditempuh dengan wawancara. Dan sekali lagi, hanya dengan wawancara, maka berita sebagai hasil karya jurnalistik akan memiliki daya hidup sekaligus bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab, dengan wawancara, fakta-fakta dari masyarakat yang dihimpun wartawan akan terekonstruksi dengan baik. Ada beberapa persiapan yang harus anda lakukan sebelum melakukan wawancara di antaranya sebagai berikut. (a) Penentuan tema. Mengapa suatu tema harus diangkat? Kenapa harus sekarang? Pertama-tama tanyakan pada diri anda sendiri – mengapa kasus dibawakan sekarang? Dari awal harus sudah jelas peran apa yang akan anda bawakan – informasi apa yang anda mau dari narasumber, apakah perspektifnya, dimana mereka akan anda posisikan. (b) Menentukan angle. Angle atau sudut pandang sebuah berita ini dibikin untuk membantu tulisan supaya terfokus. Kita tidak mungkin menulis seluruh laporan tentang apa yang kita lihat, atau menulis seluruh uraian yang disampaikan oleh narasumber. Tulisan yang tidak terfokus hanyalah akan membingungkan pembaca.

Untuk membentuk angle, salah satu cara yang termudah adalah membuat sebuah pertanyaan tunggal tentang apa yang mau kita tulis. Jawaban pertanyaan tidak boleh melebar ke mana-mana. Hal-hal yang tidak relevan dengan angle sebaiknya tidak ditanyakan. Jika ada informasi lain yang disampaikan, bisa dibuat judul lain. Atau informasi yang sangat penting tersebut tidak cukup untuk dibuat dalam berita tersendiri, maka bikinlah sub judul. (c) Susunlah outline. Agar memudahkan dalam wawancara maka sebaiknya anda menyusun kerangka berita (outline) atau istilah yang lebih lazim flowchart. Peserta diklat dikenalkan dengan berbagai perangkat tekonologi yang biasa digunakan jurnalis dalam memproduksi berita, di antaranya menggunakan ponsel sebagai perangkat utama memproduksi berita, kamera profesional, dan perangkat lainnya.

7) Pengenalan Feature

Tujuan materi feature (karangan khas) agar peserta didik dapat memahami teknik mencari informasi serta gaya penulisannya sebagai karya jurnalistik (literary journalism) dalam media massa cetak secara baik dan benar. Feature merupakan salah satu bentuk tulisan nonfiksi, dengan karakter human interest yang kuat dengan tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W + 1 H. Feature adalah jenis tulisan yang lebih bersifat menghibur, isinya kadang sesuatu yang remeh dan luput dari liputan wartawan straight news, tetapi tidak terlalu terikat dengan

tenggat waktu. Ia bisa ditulis kapan saja dan di-publish kapan saja. Karenanya, ia awet.

Menulis feature lebih santai, tidak dituntut tenggat, dan bisa bicara apa saja. Memang konsekuensinya, nilai beritanya tidak hard alias tidak banyak diburu orang. Bagaimanapun orang cenderung pada berita terbaru ketimbang yang santai. Sebuah feature hendaknya ditulis dengan gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa sehingga susunan kata dan kalimatnya mampu menggambarkan atau melukiskan suatu profil atau peristiwa tertentu.

Oleh karena itu, feature sesungguhnya sebuah ―cerita‖, tapi

bukan cerita mengenai fiksi melainkan mengenai fakta. A feature is a story about facts, not about fiction (feature ialah cerita tentang fakta, bukan tentang fiksi). Sedangkan karya tulis tentang fiksi disebut novel, cerita pendek. Bentuk tulisan feature tidak terpaku pada bentuk piramida terbalik. Justru mengharapkan pembaca mengikuti dengan saksama dari awal hingga akhir tulisan. Kalau diberita langsung (straight news) pembaca cukup membaca paragraf awal tulisan, di dalam feature justru inti tulisan baru ditemukan bila membaca dari awal hingga akhir. Dalam penulisan feature agar tidak tersesat ke mana-mana, tentukan dulu angle/sudut pandang tulisan yang akan memandu arah tulisan.

Topik ini untuk lebih memperkuat atau melengkapi materi Bahasa Indonesia Jurnalistik. Dalam topik ini, siswa diberikan pembahasan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai standar kaidah-kaidah yang baku. Di samping itu, dalam materi ini, diberikan materi tentang perlunya memperhatikan apa yang

disebut ―rasa dan logika bahasa‖. Artinya, dalam praktik penggunaan

bahasa dalam media massa, maka tidak cukup menjelaskan tentang pentingnya menyusun kalimat yang padat, sederhana, dan singkat. Lebih dari itu, juga perlu dimengerti tentang sistematika penulisan, alinea, kalimat, pilihan penggunaan kata yang tepat dan alur serta logika yang lancar mengalir.

Dengan cara penulisan demikian, muatan isi pesan akan lebih cepat dan mudah ditangkap dan diterima oleh akal sehat. Jurnalistik memang bukan ilmu. Posisinya setara dengan humas dan periklanan. Namun, ia memiliki penjelasan dan logika sendiri. Salah satu penjelasan jurnalisme yang penting adalah: jurnalisme tidak selalu berasal dari ketentuan yang sudah ditetapkan oleh media pers. Ia juga menyerap kebutuhan khalayak. Resultante ketentuan media pers dan kebutuhan khalayak itulah yang ditawarkan jurnalisme kepada khalayak.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa masa depan jurnalisme Indonesia ditentukan oleh dua kata kunci: perbincangan dan interaksi. Cita-cita institusional media pers memang penting.

Namun, ia perlu diketahui oleh khalayak. Bagaimana media pers merealisasikannya dalam jurnalisme yang perlu diketahui khalayak. Tanpa pengetahuan itu, khalayak tidak akan bisa berinteraksi dengan media pers secara proporsional.

9) Teknik dan Praktik Menulis Berita

Topik ini membahas tentang bagaimana mencari aneka ragam jenis berita dan sekaligus mengenalkan pola dan bentuk teknik penyajian dan penulisannya. Tujuannya yakni memberikan pemahaman secara praktis kiat-kiat dasar untuk penulisan berita,

diutamakan dalam bentuk ―berita lempang‖ (spot news/straight news). Materi yang disampaikan, yaitu pengertian tentang konsep berita yang terus berkembang dinamis seiring dengan kemajuan zaman; memahami aneka jenis berita dan pola teknik penulisannya; mengerti tentang sifat-sifat hakiki berita dan kriteria yang menentukan suatu berita mempunyai arti dan nilai; menguasai keterampilan trik-trik menembus sumber berita dan menyusun TOR (term of reference); mengumpulkan bahan tulisan lewat peliputan, bacaan, kepustakaan dan wawancara; struktur berita (piramida tegak, piramida terbalik dan

paralel); teknik membuat judul berita dan intro berita; gaya penulisan berita mutakhir; praktik menulis berita.

Menulis bukanlah praktik yang mudah dilakukan semua orang, tetapi tidak berarti sulit dipelajari. Praktik adalah kunci utama seseorang untuk melatih dirinya mampu mengartikulasikan realitas ke dalam tulisan. Penguasaan teknik menulis bukanlah jaminan seseorang dapat dikatakan pandai. Semuanya membutuhkan banyak latihan dan kesinambungan. Begitupun kegiatan jurnalistik yang membutuhkan keterampilan dan ketepatan penyajiannya. Keterampilan menulis ditentukan kemampuan berpikir penulis yang sistematik, logik, dan dialektis.

Kebutuhan tersebut penting karena karya jurnalistik mesti memaparkan pokok persoalannya secara runtut dan sistematis sehingga dimengerti khalayak. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi maka tulisan tidak fokus dan akan ditinggalkan pembacanya karena kekaburan makna pesan yang disampaikan. Hal pokok yang mesti dimiliki penulis atau media adalah visi yang jelas dan pasti ketika mengurai suatu masalah atau realitas kedalam tulisan. Visi menjadi panduan yang sangat berharga sehingga memudahkan dalam menentukan pokok pikiran.

Visi juga yang mengarahkan keberpihakan penulis ketika menempatkan realitas untuk diolah menjadi karya jurnalistik dalam

semua jenis dan bentuk tulisan jurnalistik. Penguasaan visi dan pokok pikiran menjadikan penulis lancar ketika mengolah bahan-bahan tulisan. Sesuai dengan keadaan sebenarnya, tidak boleh dibumbui sehingga merugikan pihak-pihak yang diberitakan. Reporter dituntut adil, jujur dan tidak memihak, apalagi tidak jujur secara yuridis merupakan sebuah pelanggaran kode etik jurnalistik. Berimbang, porsi sama, tidak memihak atau tidak berat sebelah. Reporter harus mengabdi pada sumber berita (check, re-check and balance) yang perlu didukung dengan langkah konfirmasi dari pihak-pihak yang terkait dalam pemberitaan.

10) Pengetahuan Umum bagi Jurnalis

Membahas pentingnya seorang jurnalis menguasai secara benar tentang aneka pengetahuan umum maupun khusus sebagai bahan melakukan peliputan agar mereka dapat menggali dan mengembangkan berita secara benar, lengkap, dan akurat. Adapun hal-hal penting yang perlu diperhatikan untuk menguasai pengetahuan umum yakni (1) memiliki dan menguasai berbagai kamus bahasa Indonesia dan asing, sekurang-kurangnya kamus bahasa Inggris; (2) mengenal dan menguasai banyak hal tentang tokoh dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat dengan sering membaca buku-buku ensiklopedi tentang sosok tokoh dan peristiwa; (3) menguasai dan memahami tentang pengetahuan umum di bidang apa pun, lebih

khusus mengerti dan menguasai betul tentang banyak hal di bidang liputannya.

11) Dasar-Dasar Jurnalisme Penyiaran

Mengenalkan tentang dasar-dasar jurnalisme penyiaran baik untuk radio maupun televisi. Tujuannya, agar peserta didik teristimewa bagi mereka yang bekerja di media elektronik akan mendapatkan pengetahuan dan sekaligus keterampilan dalam mengemban tugas-tugas jurnalistik penyiaran. Di antara subtopik yang tercakup di sini adalah pengertian tentang dasar-dasar teoretis jurnalisme penyiaran; apa yang membedakan antara kerja jurnalisme media cetak dan media elektronik; editing dalam penyajian karya jurnalisme penyiaran; pembuatan perencanaan peliputan di media penyiaran; teknik penulisan dan penyajian karya jurnalisme penyiaran; teknik wawancara yang menarik dalam penyajian di media penyiaran. 12) Hukum Pers

Memberikan pengetahuan mengenai posisi wartawan sebagai seorang warga yang taat hukum, serta sejumlah ketentuan hukum dan perundang-undangan yang melingkupi aktivitas jurnalisme profesional. Liputan topik ini antara lain mencakup prinsip-prinsip dasar hak dan kewajiban hukum seorang warga; Undang-Undang Pers; Undang Penyiaran; Undang Hak Cipta; Undang-Undang Perlindungan Konsumen; Undang-Undang-Undang-Undang Kebebasan

Informasi Publik; Undang-Undang Anti-Pornografi; Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Kebijakan pengendalian pers dari mulai yang lembut seperti kewajiban melaporkan modal minimal pendirian perusahaan hingga yang keras seperti pemberedelen tak bisa dilepaskan dari sejarah pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Puncaknya, kebijakan itu dituangkan secara monumental di tanah jajahan dengan diberlakukannya Wetboek van Strafrecht atau Kitab Undang-undang

Dokumen terkait