• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Estimasi Dampak International Financial Integration (IFI) terhadap Pertumbuhan Ekonom

Tabel 3 menyajikan hasil regresi integrasi keuangan (IFI) terhadap pertumbuhan ekonomi menggunakan Ordinary Least Squares (OLS). Regresi dilakukan dengan menggunakan keseluruhan cross-section tanpa membaginya berdasarkan kelompok pendapatan tertentu dan tanpa memperhitungkan faktor ekonomi lain. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan integrasi keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi di keseluruhan sample tanpa memperhitungkan kondisi perekonomian di negara tersebut secara lebih spesifik.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 In d ek s Tahun

33 Hasil yang didapat adalah bahwa hubungan antara integrasi keuangan, dengan menggunakan proxy flow of capital, memiliki hubungan yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hasil inilah yang menjadi hasil di banyak penelitian sebelumnya mengenai topik terkait salah satunya Edison et al. (2002). Penelitian-penelitian tersebut secara umum mengatakan bahwa integrasi keuangan memang memiliki manfaat bagi suatu negara dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Berdasarkan hasil tersebut integrasi keuangan seolah menjadi solusi bagi perekonomian dunia untuk saling terkoneksi dan diharapkan dapat membawa perekonomian dunia ke arah yang lebih baik secara bersama- sama tanpa terkecuali.

Tabel 3. Hasil estimasi model International Financial Integration terhadap pertumbuhan ekonomi

Dependent Variable: Growth

Variabel All Countries

IFIit 0.1995 ***

(0.000) Keterangan: nilai dalam () merupakan p-value

***, **, * signifikan pada 1%, 5%, 10%

Tabel 4, menyajikan hasil estimasi faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam kaitannya dengan integrasi keuangan menggunakan metode GMM. Beberapa faktor-faktor tersebut diantaranya adalah IFI sebagai proxy dari integrasi keuangan, FISBAL, CREDIT, INST, dan INF. Tabel 4, menunjukkan hasil bahwa integrasi keuangan (IFI) secara signifikan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpendapatan tinggi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002). Tabel 4 juga menunjukan bahwa manfaat integrasi tersebut tidak dirasakan oleh negara-negara berpendapatan menengah dan negara-negara berpendapatan rendah. Hasil ini sesuai dengan penelitian Osada dan Saito (2010), serta Chen dan Quang (2012).

Selanjutnya beberapa variabel kontrol yang digunakan dalam model menunjukkan hubungan yang cukup beragam antar kelompok negara. FISBAL (fiscal balance) merupakan variabel yang menggambarkan porsi dari pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan yang didapat oleh pemerintah tersebut. Pada negara-negara berpendapatan tinggi, variabel fiscal balance menunjukan hubungan yang positif dan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Artinya, semakin besar belanja pemerintah di negara-negara ini maka hal tersebut akan bermanfaat dalam menstimulus pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002). Namun manfaat tersebut tidak dirasakan oleh negara-negara berpendapatan rendah. Pada negara-negara berpendapatan rendah, variabel fiscal balance menunjukan hubungan yang negatif. Hasil ini menunjukan bahwa belanja pemerintah yang dilakukan oleh pemerintah pada kelompok negara ini belum efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Pada Tabel 4 juga terlihat bahwa interaksi antara integrasi keuangan dengan variabel fiscal balance memiliki hubungan yang negatif di negara-negara berpendaptan menengah. Hasil ini juga menguatkan bahwa ketidak-efektifan belanja pemerintah di negara-negara berpendapatan menengah akan membawa

34

dampak buruk bagi pertumbuhan ekonomi saat negara-negara di kelompok ini saling terintegrasi, khususnya integrasi di sektor keuangan. Hasil berbeda justru ditunjukan oleh negara-negara berpendapatan rendah. Pada kelompok negara- negara berpendapatan rendah, interaksi antara integrasi keuangan dengan variabel fiscal balance secara signifikan memberikan efek yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002).

Tabel 4. Hasil estimasi model International Financial Integration terhadap pertumbuhan ekonomi pada masing-masing kelompok negara

Dependent Variable: Growth

Variabel High-Income Middle-Income Low Income

Growthit-1 -0.0004 0.3849 -0.8581 (0.903) (0.041) (0.000) IFIit 2.1545 *** 7.0355 -3.1356 (0.008) (0.213) (0.190) IFIit*FISBALit 0.4699 -9.6750 ** 7.2935 *** (0.433) (0.036) (0.009) FISBALit 2.7158 ** -4.8360 -2.4686 *** (0.050) (0.626) (0.003) IFIit*CREDITit 0.0022 ** -0.0141 -0.1875 *** (0.031) (0.590) (0.002) CREDITit -0.0154 ** -0.0646 *** 0.0630 (0.016) (0.001) (0.135) IFIit*INSTit -0.0354 *** 0.0788 0.0700 * (0.000) (0.670) (0.088) INSTit 0.1187 *** 0.0025 0.0194 (0.005) (0.980) (0.331) IFIit*INFit -0.0196 *** -0.0084 0.1052 ** (0.005) (0.963) (0.013) INFit -0.1429 *** -0.0809 -0.0563 ** (0.001) (0.182) (0.038)

Keterangan: nilai dalam () merupakan p-value

***, **, * signifikan pada 1%, 5%, 10%

CREDIT adalah variabel yang menunjukan tingkat kredit domestik untuk sektor swasta di suatu negara. Variabel ini diharapkan dapat memberikan gambaran tingkat pembangunan sektor keuangan di negara tersebut. Pada Tabel 4 terlihat bahwa negara-negara berpendapatan tinggi dan negara-negara berpendapatan menengah menunjukan hubungan yang negatif antara pembangunan sektor keuangan dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan karena tidak terkoneksinya sektor moneter dengan sektor riil di negara tersebut. Akibat dari tidak terhubungnya sektor moneter dengan sektor riil, akan mengakibatkan arus uang (sektor moneter) berkembang dengan sangat cepat, sementara arus barang di sektor riil semakin jauh tertinggal. Pada akhirnya hal ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan antara sektor moneter dan sektor riil di negara tersebut. Ketidakseimbangan antara arus moneter dengan arus barang dan jasa ini dikenal dengan istilah decoupling antara sektor finansial dengan sektor riil, yakni fenomena terputusnya antara pertumbuhan arus uang (moneter) yang sangat pesat dengan arus barang dan jasa. Sehingga pada akhirnya perkembangan sektor

35 keuangan tidak menyentuh sampai ke sektor riil yang merupakan roda penggerak perekonomian.

Integrasi keuangan memiliki hubungan yang positif bagi negara dengan tingkat pembangunan sektor keuangan (CREDIT) yang tinggi di kelompok negara-negara berpendapatan tinggi. Artinya perkembangan sektor keuangan yang baik dalam integrasi keuangan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kelompok negara ini. Pada negara-negara berpendapatan rendah secara statistik tidak ditemukan bahwa interaksi antara integrasi keuangan dengan perkembangan sektor keuangan memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan secara umum bahwa negara-negara berpendapatan rendah memiliki perkembangan industri keuangan yang masih rendah serta masih minimnya arus investasi yang masuk ke negara ini. Sehingga performa dari kelompok negara- negara berpendapatan rendah dalam integrasi keuangan internasional menjadi tidak maksimal. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002). Berdasarkan hasil ini, negara-negara berpendapatan rendah sebaiknya fokus terhadap pembangunan sektor keuangannya terlebih dahulu sebelum bergabung dalam integrasi keuangan. Hal itu dikarenakan pada hasil ini terlihat bahwa negara-negara berpendapatan rendah lebih mendapatkan manfaat ketika pembangunan sektor keuangannya tidak diinteraksikan dengan integrasi keuangan.

INST merupakan variabel yang menggambarkan tingkat efektivitas pemerintahan di suatu negara. Variabel ini diharapkan mampu memberikan gambaran dari kualitas kelembagaan di negara tersebut. Pada negara-negara berpendapatan tinggi, variabel kaulitas kelembagaan menunjukan hubungan yang positif dan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Artinya, semakin berkualitas kelembagaan suatu negara (dalam hal ini efektivitas pemerintahannya) maka hal tersebut akan memberikan manfaat dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002).

Hasil interaksi antara integrasi keuangan dengan tingkat efektivitas pemerintahan di negara-negara berpendapatan rendah memiliki hubungan yang positif. Artinya tingkat efektivitas pemerintahan negara-negara berpendapatan rendah dengan keterlibatannya dalam integrasi keuangan internasional secara signifikan mampu memicu pertumbuhan ekonomi di kelompok negara ini. Hasil berbeda ditunjukan oleh kelompok negara-negara berpendapatan tinggi. Negara- negara berpendapatan tinggi justru menunjukan hubungan yang negatif. Hal ini disebabkan karena sering terjadinya bentrok kebijakan antara pemerintah di negara-negara berpendapatan tinggi dengan aturan-aturan yang harus diikuti oleh negara-negara tersebut dalam kapasitasnya sebagai anggota integrasi. Sehingga efektivitas pemerintahan di negara tersebut menjadi berkurang. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa Inggris memutuskan untuk meninggalkan keanggotaannya sebagai negara Uni Eropa. Hasil ini juga sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002).

INF (tingkat inflasi) adalah variabel yang diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tingkat harga barang secara umum. Pada Tabel 4 terlihat bahwa di negara-negara berpendapatan tinggi dan negara-negara berpendapatan rendah tingkat inflasi secara signifikan memiliki hubungan yang negatif dengan tingkat pertumbuhan. Artinya semakin tinggi tingkat inflasi maka hal tersebut akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang semakin melambat. Hal ini

36

disebabkan karena ketika tingkat inflasi semakin tinggi maka biaya produksi bagi produsen untuk memproduksi barang dan jasa menjadi lebih tinggi, dengan meningkatnya biaya produksi, maka kegiatan produksi pun akan dikurangi sehingga roda perekonomian akan berjalan lebih lambat. Mekanisme lainnya, apabila inflasi atau tingkat harga secara umum terlalu tinggi, hal ini akan mendorong pemerintah untuk meningkatkan suku bunga acuan dalam meredam laju inflasi yang terlalu tinggi. Peningkatan suku bunga ini akan membuat pelaku usaha terdisinsentif untuk mengajukan kredit dan lebih memilih untuk menabungkan saja uangnya di bank. Sehingga kegiatan perekonomian pun menjadi terhambat. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002).

Pada Tabel 4 juga terlihat bahwa interaksi antara integrasi keuangan dengan tingkat inflasi menunjukan hubungan yang negatif. Hal ini mengisyaratkan bahwa tingkat inflasi yang terlalu tinggi akan memberikan pengaruh negatif antara integrasi keuangan dengan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berpendapatan tinggi. Hasil ini sesuai dengan penelitian Edison et al. (2002). Pada negara-negara berpendapatan rendah interaksi antara integrasi keuangan dengan tingkat inflasi menunjukan hubungan yang positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Artinya dengan terintegrasinya sektor keuangan di negara-negara berpendapatan rendah, efek buruk dari meningkatnya tingkat harga (inflasi) dapat dikurangi dan justru dapat merangsang para pengusaha untuk masuk ke pasar karena melihat harga yang baik di pasar ini. Dimana hal tersebut mengisyaratkat bahwa perekonomian di negara tersebut sedang baik, sehingga membuat para pengusaha dan investor tertarik untuk berinvestasi di negara ini. Dengan begitu roda perekonomian akan berputar dan penyerapan tenaga kerja akan semakin meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

4.3 Hasil Estimasi Dampak International Financial Integration (IFI) terhadap

Dokumen terkait