BAB II : PELAKSANAAN PENGAWASAN TAHAPAN PEMILIHAN
tanggal 04 Oktober 2016 sampai 05 Oktober 2016
3. Hasil-Hasil Pengawasan a. Temuan
Sesuai dengan tugas dan kewenangan Bawaslu Provinsi, Pasal 28 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2104 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Walikota menjadi Undang-undang, yaitu untuk mengawasi tahapan penyelenggaraan pemilihan sebagaimana tertuang dalam ketentuan ayat (1) poin (a) butir (5), yaitu pelaksanaan kampanye.
Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2016 tentang perubahan atas Peraturan KPU Nomor 3 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2017, bahwa pelaksanaan Kampanye tanggal 28 Oktober sd.
11 Februari 2017. Bawaslu DKI Jakarta, menyampaikan evaluasi hasil pengawasannya sebagai berikut:
1. Pasangan Calon dan atau Tim Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta 2017, sudah memulai kegiatan kampanye di wilayah DKI Jakarta. Dari Dokumen Surat Pemberitahuan Kegiatan Kampanye yang diterima Bawaslu DKI Jakarta ada 569 Titik Kampanye yang tersebar di wilayah DKI Jakarta, yakni:
No Kab/Kota Periode Pertama Periode Kedua Jumlah
1 Jakarta Barat 10 100 110
2 Jakarta Pusat 22 68 90
3 Jakarta Timur 13 88 101
4 Jakarta Utara 8 93 101
5 Jakarta Selatan 8 150 158
6 Kepulauan Seribu 0 9 9
2. Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye yang paling banyak melakukan kegiatan kampanye, sbb :
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 87 No Pasangan Calon Periode Pertama Periode Kedua Jumlah
1 Pasangan Nomor Urut 1 (Agus-Sylvi) 1 94 95
2 Pasangan Nomor Urut
2 (Basuki-Djarot) 54 86 140
3 Pasangan Nomor Urut
3 ( Anies-Sandi) 82 259 341
3. Identifikasi Pemasangan Alat Peraga Kampanye Yang tidak sesuai dengan Ketentuan oleh Tim Kampanye, sebagai berikut:
No Pasangan Calon Periode Pertama Periode Kedua Jumlah
1 Pasangan Nomor Urut 1 (Agus-Sylvi) 2 118 120
2 Pasangan Nomor Urut
2 (Basuki-Djarot) 0 50 50
3 Pasangan Nomor Urut
3 ( Anies-Sandi) 0 87 87
4. Identifikasi dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Pasangan calon dan/tim kampanye, sbb :
5. Penurunan Spanduk-spanduk yang mengarah pada provokasi dan atau fitnah, diturunkan kerjasama Pengawas Pemilu, Satpol PP, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama dan Pihak Lainnya, sbb :
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 88 No Kab/Kota Periode Pertama Periode Kedua Jumlah
1 Jakarta Barat 3 41 44
2 Jakarta Pusat 12 46 58
3 Jakarta Timur 7 22 29
4 Jakarta Utara 2 7 9
5 Jakarta Selatan 2 44 46
6 Kepulauan Seribu 0 0 0
Total Keseluruhan : 186
6. Rekap Laporan dan Temuan Pelanggaran Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Di wilayah Kabupaten/Kota Provinsi DKI Jakarta
b. Rekomendasi
Demi terselenggaranya penyelenggaraan Kampanye sebagaimana ketentuan undang-undangan, Bawaslu DKI menyampaikan saran dan himbauan kepada Pasangan Calon dan/atau tim Kampanye serta masyarakat sebagai berikut :
1. Dalam pelaksanaan Kampanye agar Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye mengingatkan Tim Relawan dan/atau pihak lain masing-masing untuk mendaftarkan diri kepada KPU DKI Jakarta jika ingin melaksanakan kampanye.
2. Mengingatkan Pasangan Calon dan/Tim Kampanye untuk memberitahukan kegiatan dalam bentuk lainnya kepada Bawaslu DKI Jakarta dan KPU DKI Jakarta. Contoh, undangan yang dilakukan oleh Masyarakat misalnya, Kegiatan
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 89 Persekutuan Doa, Pengajian Rutin, dan aktivitas lainnya, jika tidak dilaporkan sebagai sebagai tim relawan dan/atau pihak lain, jika terbukti maka Bawaslu DKI Jakarta serta Jajarannya akan membubarkan. Dalam hal kegiatan tersebut ada pembagian bahan-bahan kampanye maka wajib dilaporkan dalam LPPK, termasuk partisipasi masyarakat di konversi dalam bentuk rupiah.
3. Terhadap adanya gangguan pelaksanaan kampanye kepada salah satu Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye Bawaslu DKI Jakarta menghimbau agar seluruh Masyarakat DKI Jakarta turut serta dalam menjaga Keamanan, Ketentraman dan Ketertiban Umum untuk menciptakan Kampanye Damai di DKI Jakarta. Sanksi yang berkaitan dengan hal tersebut dalam UU Nomor 1 Tahun 2015 tentang pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Pasal 187 ayat (2) menyebutkan bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja melanggar ketentuan larangan pelaksanaan Kampanye sebagaimana dimaksud dalam Pasal 69 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, atau huruf f dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 18 (delapan belas) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 600.000.00 (enam ratus ribu rupiah) atau paling banyak Rp.
6.000.000.00 (enam juta rupiah). Dan ayat (4) menyebutkan bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja mengacaukan, menghalangi, atau mengganggu jalannya Kampanye, dipidanan dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan atau paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp.
600.000,00 (enam ratus ribu ruplah) atau paling banyak Rp. 6.000.000,00 (enam juta rupiah).
4. Maraknya Spanduk-spanduk yang bernuansa negatif, Bawaslu DKI Jakarta serta Jajarannya akan bertindak tegas, jika pemasangan spanduk tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Menyikapi tayangan Iklan yang ada di televisi, apakah itu iklan kampanye dalam bentuk komersial atau iklan layanan masyarakat, pemberitaan dan penyiaran wajib mematuhi kode etik periklanan dan ketentuan peraturan perundang-undangan
6. Mengingatkan KPU DKI Jakarta untuk memberikan sosialisasi terkait dengan batasan-batasan hal yang diperbolehkan atau tidak dalam kegiatan lain dalam kampanye misalnya, menghadiri undangan masyarakat, kegiatan bazar dan bantuan sosial, agar menjadi panduan bagi Pasangan calon dan/atau Tim Kampanye dalam melaksanakan kegiatan Kampanye.
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 90 7. Atas Temuan dan Laporan Dugaan Pelanggaran yang diterima oleh Bawaslu DKI
Jakarta serta Jajarannya ditindak lanjuti sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Tindak Lanjut Rekomendasi
Dalam hal tindak lanjuta rekomendasi yang dilakukan oleh Bawaslu Provinsi DKI Jakarta melakukan upaya dengan menyurati atau merekomendasikan kepada pihak-pihak terkait dalam proses penganwasan kampanye baik kepasanga calon atau kepada lembaga yang berwenang lainnya, sperti kepolisian terkait dengan adanya pengahalangan/penghadangan pasangan calon tertentu oleh sejumlah oknum, kepada pengurus tempat ibadah dimana ditemukannya kampanye di tempat ibadah serta kepada pihak pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta dalam hal ini Plt Gbernur Provinsi DKI Jakarta terkait dengan potensi keterlibatan ASN diwilayah Pemda DKI Jakarta serta pihak pihak lain yang berkepentingan dalam proses pelaksanaan kampanye.
Berikut salah satu rekoemdasi Bawaslu DKI Jakarta terkait dengan relawan salah satu pasangan calon:
Menindaklanjuti surat Saudara Nomor 015/TA/IX/2016 terkait dengan Surat Pemberitahuan Pembukaan Booth Mall Teman Ahok Tanggal 24 Oktober 2015, untuk itu Bawaslu DKI Jakarta menanggapi beberapa hal terkait hal tersebut.
Selanjutnya terkait dengan Peraturan KPU Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 3 Tahun 2016 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2017.
Bahwa pelaksanaan kampanye akan dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 2016 sampai dengan 11 Februari 2017.
Dalam Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan KPU Nomor 7 Tahun 2015 tentang Kampanye Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota menerangkan tentang definisi Kampanye Pemilihan, yang selanjutnya disebut Kampanye, adalah kegiatan menawarkan visi, misi, dan program Pasangan Calon dan/atau informasi lainnya, yang bertujuan mengenalkan atau meyakinkan Pemilih. Terkait dengan hal tersebut dapat dijelaskan hal-hal sebagai berikut:
(1). Pasal 5 ayat (1) berbunyi : Kampanye dilaksanakan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye, dan dapat difasilitasi oleh KPU Provinsi/KIP Aceh untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dan KPU/KIP Kabupaten/Kota untuk Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati atau Walikota dan Wakil Walikota. Ayat (2): Kampanye yang dilaksanakan oleh Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan dengan metode: (a). pertemuan terbatas; (b). pertemuan tatap muka dan dialog; (c). penyebaran Bahan Kampanye kepada umum; (d). pemasangan
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 91 Alat Peraga Kampanye; dan/atau (e). kegiatan lain yang tidak melanggar larangan Kampanye dan ketentuan peraturan perundangundangan.
(2) Pasal 7 ayat (1) berbunyi: Dalam melaksanakan Kampanye, Pasangan Calon bersama dengan Partai Politik atau Gabungan Partai Politik atau Pasangan Calon perseorangan membentuk Tim Kampanye dan menunjuk Penghubung Pasangan Calon.
Sedangkan ayat (2) berbunyi: Tim Kampanye dan Penghubung Pasangan Calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didaftarkan kepada KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten Kota pada saat pendaftaran Pasangan Calon. Untuk ayat (3) berbunyi: Pendaftaran Tim Kampanye dan Penghubung Pasangan Calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan formulir Model BC1-KWK untuk disampaikan kepada: (a). KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota; (b). Bawaslu Provinsi atau Panwas Kabupaten/Kota; (c). Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai tingkatannya; dan (d). sebagai arsip Pasangan Calon.
(3) Pasal 9 ayat (1): Dalam pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye dapat membentuk Tim Kampanye tingkat kabupaten/kota dan/atau Tim Kampanye tingkat kecamatan atau nama lain.
(3) Pasal 12 ayat (1): Selain Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye, Kampanye dapat dilaksanakan oleh: (a).
Pihak Lain; dan/atau (b). Relawan. sedangkan ayat (4) berbunyi: Partai Politik atau Gabungan Partai Politik, Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye mendaftarkan Pihak Lain dan/atau Relawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota. Ayat (4a): Pihak Lain dan/atau Relawan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mendaftarkan diri kepada KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota dengan menyerahkan surat dari Pasangan Calon yang menerangkan Pihak Lain dan/atau Relawan tersebut merupakan pendukung dan akan melaksanakan Kampanye. Ayat (4b): Pendaftaran Pihak Lain dan/atau Relawan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (4a) dilakukan 1 (satu) hari setelah penetapan Pasangan Calon sampai dengan paling lambat 1 (satu) hari sebelum kegiatan Kampanye. Ayat (5): Pendaftaran Pihak Lain dan/atau Relawan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan ayat (4a) menggunakan formulir Model BC3-KWK atau formulir Model BC5-KWK untuk disampaikan kepada: (a).
KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota; (b). Bawaslu Provinsi atau Panwas Kabupaten/Kota; (c). Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai tingkatannya; dan (d). sebagai arsip Pasangan Calon.
Peraturan KPU No. 13 tahun 2016 tentang Perubahan atas PKPU No. 8 tahun 2015 tentang Dana Kampanye Peserta Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati dan/atau Walikota dan Wakil Walikota, menerangkan sebagai berikut:
(1) Pasal 7 ayat (1) Dana Kampanye yang berasal dari Partai Politik atau Gabungan Partai Politik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2), nilainya paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) setiap Partai Politik selama masa Kampanye. (2) Dana Kampanye yang berasal dari sumbangan pihak lain perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf a, nilainya paling banyak Rp75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah) selama masa Kampanye. (3) Dana Kampanye yang berasal dari sumbangan pihak lain kelompok atau badan hukum swasta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) huruf b dan huruf c, nilainya paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) selama masa Kampanye. (4) Dana Kampanye yang berasal dari Partai Politik, Gabungan Partai Politik, pihak lain perseorangan, atau pihak lain kelompok atau badan hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), bersifat kumulatif selama penyelenggaraan Kampanye.
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 92 (2) Pasal 8 (1) Dana Kampanye yang bersumber dari Partai Politik atau Gabungan Partai Politik dan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) meliputi jumlah penerimaan dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa yang diterima dari Partai Politik dan pihak lain. (2) Sumbangan dari Partai Politik atau Gabungan Partai Politik dan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi dengan identitas penyumbang yang mencakup:
b. perseorangan:
1. nama;
2. tempat/tanggal lahir dan umur;
3. alamat penyumbang;
4. nomor telepon/telepon genggam (aktif);
5. nomor identitas;
6. Nomor Pokok Wajib Pajak;
7. pekerjaan;
8. alamat pekerjaan;
9. jumlah sumbangan;
10. asal perolehan dana; dan
11. pernyataan penyumbang bahwa:
a) penyumbang tidak menunggak pajak;
b) penyumbang tidak pailit berdasarkan putusan pengadilan;
c) dana tidak berasal dari tindak pidana; dan d) sumbangan bersifat tidak mengikat;
c. kelompok:
1. nama kelompok;
2. alamat kelompok;
3. nomor identitas pimpinan kelompok;
4. nomor telepon/telepon genggam (aktif);
5. Nomor Pokok Wajib Pajak kelompok atau pimpinan kelompok, apabila ada;
6. nama dan alamat pimpinan kelompok;
7. jumlah sumbangan;
8. asal perolehan dana;
9. keterangan tentang status badan hukum atau status kelompok; dan
10. pernyataan penyumbang bahwa:
a) penyumbang tidak menunggak pajak;
b) penyumbang tidak dalam keadaan pailit berdasarkan putusan pengadilan;
c) dana tidak berasal dari tindak pidana; dan d) sumbangan bersifat tidak mengikat;
(3) Pasal 26 (1) Pasangan Calon dan/atau Tim Kampanye dapat membuat dan mencetak Bahan Kampanye selain yang difasilitasi oleh KPU Provinsi/KIP Aceh atau KPU/KIP Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2), meliputi:
a. kaos;
b. topi;
c. mug;
d. kalender;
e. kartu nama;
f. pin;
g. ballpoint;
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 93 h. payung; dan/atau
i. stiker paling besarukuran 10 cm x 5 cm
(2) Stiker sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf I dilarang ditempel di tempat umum, meliputi:
a. tempat ibadah termasuk halaman;
b. rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan;
c. gedung atau fasilitas milik pemerintah;
d. lembaga pendidikan (gedung dan sekolah);
e. jalan-jalan protokol;
f. jalan bebas hambatan;
g. sarana dan prasarana publik; dan/atau h. taman dan pepohonan.
(3) Setiap Bahan Kampanye sebagaimana dimaksud pada ayat (1), apabila dikonversikan dalam bentuk uang nilainya paling tinggi Rp 25.000,00 (dua puluh lima ribu rupiah).
Sesuai dengan tugas dan kewenangan Bawaslu Provinsi, dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015, dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi Undang-Undang, yaitu untuk mengawasi tahapan penyelenggaraan pemilihan sebagaimana tertuang dalam ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk itu Bawaslu Provinsi DKI Jakarta memberikan saran dan pendapat terkait pembukaan Booth Mall Teman Ahok sebagai Berikut :
1. Mendaftarkan Perkumpulan Teman Ahok ke KPU DKI Jakarta sebagai relawan atau pihak lain/orang seorang sebagaimana di atur dalam ketentuan yang sudah disebutkan di atas sehingga dapat melakukan kegiatan kampanye pasangan calon.
2. Kegiatan pembukaan Booth Mall yang dilakukan oleh perkumpulan Teman Ahok bisa saja dikategorikan sebagai Kegiatan lain, dalam hal pelaksanaan kampanye sesuai ketentuan di atas.
3. Mendaftarkan nama-nama penjaga stand sesuai dengan lokasi yang telah disampaikan kepada KPU Provinsi DKI Jakarta, Bawaslu Provinsi DKI Jakarta dan Kepolisian Daerah Metro Jaya.
4. Menyebutkan jenis-jenis merchandise yang akan dijual, dan hal-hal lain yang dilakukan pada saat melaksanakan penjualan merchandise.
5. Tidak diperkenankan melakukan sosialisasi atau penyebaran Alat Peraga Kampanye diluar yang sudah diatur dalam Peraturan KPU.
6. Melaporkan hasil penjualan merchandise sebagai sumbangan Dana Kampanye kepada KPU Provinsi DKI Jakarta dengan menyebutkan jumlah total sumbangan dari hasil penjualan merchandise, sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
4. Dinamika dan Permasalahan
Dalam tahapan Kampanye Bawaslu DKI Jakarta dan jajaranya sampai tingkat bawah mengalami sedikit kendala, yakni pada saat pengawasan terhadap adanya
Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 94 kampanye yang dilakukan oleh para tim kampanye dan atau relawan kampanye yakni terbatasnya jumlah pengawas tingkat lapangan atau kelurahan, yang hanya 1 (satu) orang per kelurahan sedangkan pelaksanaan kampanye hamper dilaksankan setiap hari dan dilakukan oleh Pasangan calon dan tim kampanye serta relawan, sehingga maksimalisasi tugas pengawasan sedikit mengalami kendala, tetapi itu bukanlah menjadi kendala berarti karena masyarakat juga turut berperan dalam hal pengawasan terhadap kampanye. Ditambah lagi pada pilkada kali ini isu SARA menjadi perhatian khusus sehingga penanganannya pun harus benar-benar khusus, belum lagi adanya penolakan terhadap pasangan calon tertentu oleh masyarakat hal ini menjadi perhatian khusus bagi pengawasan pelaksanaan kamapanye.
5. Evaluasi Pelaksanaan Pengawasan
Dari beberapa penjelasan diatas soal kampanye maka ada beberapa catatan yang berkaitan dengan hal diatas atau yang perlu dicermati dari tahapan kampanye adalahsebagai berikut :