• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemberian Salinan Formulir Model C-1 kepada saksi dan Pengawas TPS

BAB II : PELAKSANAAN PENGAWASAN TAHAPAN PEMILIHAN

SUMBANGAN YANG DILARANG

F. Pelaksanaan Pengawasan Pemungutan, Penghitungan dan Rekapitulasi Suara

7. Pemberian Salinan Formulir Model C-1 kepada saksi dan Pengawas TPS

Saksi dan Pengawas TPS dapat mengajukan keberatan terhadap prosedur dan/atau selisih penghitungan perolehan suara kepada KPPS apabila terdapat hal yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Dalam hal terdapat keberatan Saksi atau Pengawas TPS, KPPS wajib menjelaskan prosedur dan/atau mencocokan selisih perolehan suara dengan formulir sertifikat hasil penghitungan suara dan C1 Plano. Dalam hal keberatan yang diajukan Saksi/ Pengawas TPS dapat diterima, KPPS mengadakan pembetulan saat itu juga. Pembetulan hasil penghitungan perolehan suara dilakukan koreksi dengan cara mencoret angka yang salah dan menuliskan angka yang benar dengan dibubuhi paraf Ketua KPPS dan Saksi yang hadir.

Dalam tahapan ini Pengawas TPS mengawasi seluruh proses dengan cermat, baik seluruh aspek mkecermatan perolehan suara atau adanya keberatan dari para saksi yang hadir, dan pengisian perolehan suara kedalam jenis formulir masing-masing dan memastikan hal tersebut tidak tertukar, mana yang berada dalam kotak suara dan mana yang berada diluar kotak suara, serta salinan yang harus diberikan kemasing-masing saksi pasangan calon dan pengawas TPS.

3. Hasil-Hasil Pengawasan a. Temuan

Bawaslu DKI Jakarta dan jajarannya pada saat hari pencoblosan melakukan pengawasan melekat dan membagi staf Bawaslu DKI Jakarta untuk memastikan secara langsung proses pemungutan dan penghitungan suara di masing-masing

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 121 TPS, dengan Identifikasi Hasil Temuan Pengawasan Pemungutan Dan Penghitungan, sebagai berikut:

No Identifikasi Hasil Pengawasan Keterangan

1 Logistik di TPS

Surat Suara Habis/Kurang

1. TPS 17 Penjaringan, Jakarta Utara (Habis)

2. TPS 60,61,62 dan TPS40 Kayu Putih (Habis)

3. TPS 21 Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan (Kurang) 4. TPS 52 Rawa Sengon, Klp

Gading Jakarta Utara (Kurang) 5. TPS 61 Kebon Banwang,

Jakata Utara (Habis)

6. TPS 23, Jl. Dokter Saharjo, Manggarai, Tebet, Jakarta

1. TPS 89 Cengkareng Timur, Jakarta Barat

2. TPS 001 Ujung Menteng, Jakarta Timur

3. TPS 50 Klp Gading Barat, Jakarta Utara

4. TPS 104, Pinus Elok, Jakarta Timur

5. TPS 139, Pinus Elok,Jakarta Timur

6. TPS 13 Meruya Utara, Jakarta Utara

Surat Suara Tercoblos 1. TPS 15 dan 19 Petojo Selatan 2. TPS 06 Paseban Jakarta Pusat Perpindahan surat

suara antar TPS (oleh Petugas KPPS)

1. TPS 52 Rawa Sengon, Kelapa Timur, Jakarta Utara (dari TPS 39, Rawa Sengon) 2. TPS 23, Jl. Dokter Saharjo,

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 122

3. TPS 29 Kalibata, Jakarta Selatan

2. Membawa A5 yang diduga Palsu (4 Orang)

Dari TPS 24 Tanah Tinggi Jakarta Pusat dipindah ke TPS 15

Kembangan Selatan, Jakarta Barat

3. Pemilih Membawa C6 Ganda

TPS 26 Cipinang Besar Selatan 4. Pemilih

Kebayoran Baru, Jakarta Selatan TPS Jakarta Timur

1. TPS 14 Kebon Manggis, Matraman Jakarta Timur 2. TPS 25 Rawasari Apertemen

Grand Pramuka, Jakarta Pusat

4. TPS 33 Kemayoran, Jakarta Pusat

5. TPS 88 Cengkareng Timur, Jakarta Barat

6. TPS 29 Apt. Mediterania, Jakarta Barat

7. TPS 13 Meruya Utara, Jakarta Utara

8. TPS 52 Klp. Gading Barat Jakarta Utara

9. TPS 01 Ujung Menteng, Jakarta Timur

10. TPS 30,31 dan 32 Kel.

Menteng Atas, Jakarta Selatan 11. TPS 13 Meruya Utara,

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 123

1. TPS 104 Rusun Pinus Elok Blok B sekitar (FC, KK, A1 KWK)

2. TPS 140 Rawa bebek, Jakarta Selatan

3. TPS 27 dan 28 Apt. Kalcit Jakarta Selatan (K TP Reguler)

4 Pelanggaran Lainnya

1. Bentrok warga

dengan relawan salah satu paslon

TPS 18 Petojo Utara, Jakarta Pusat

2. Pemukulan kepada petugas KPPS

TPS 02 Kedoya Utara, Jakarta Barat

Identifikasi Hasil Temuan Pengawasan Pemungutan Dan Penghitungan Berdasarkan Hasil Pengawasan Dan Kabupaten/Kota

No Hasil

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 124 b. Rekomendasi

Atas Penyelenggaraan Pengawasan Pemungutan dan Penghitungan Suara Rabu, 15 Februari 2017, maka Bawaslu DKI menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

1. Bawaslu DKI dan Jajarannya akan menindaklanjuti seluruh dugaan pelanggaran sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan

a) Tindak Pidana Pemilu (bagi Pemilih yang terbukti memilih lebih dari satu kali, menggunakan dokumen orang lain dan atau dipalsukan serta Politik Uang/suap) b) Administrasi Pemilu (merekomendasikan pemilihan ulang, penghitungan ulang,

penyelenggara yang terindikasi suap untuk tidak digunakan lagi tenagannya, sampai pembatalan paslon)

c) Kode etik Penyelenggara

2. Bawaslu DKI dan Jajarannya akan melakukan langkah-langkah investigatif sesuai dengan kewenangannya untuk melakukan penelusuran atas dugaan-dugaan motif lain, dalam penggunaan c6 orang lain, penggunaan c5 Palsu, penggunaan c6 palsu, Surat Suara yang sudah tercoblos, dan dugaan mobilisasi massa (kepada pemilih DPTb). Terkait dengan dugaan tindak pidana diatur dalam pasal Pasal 178A Menyebutkan :Setiap orang yang pada waktu pemungutan suara dengan sengaja melakukan perbuatan melawan hukum mengaku dirinya sebagai orang lain untuk menggunakan hak pilih, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 24 (dua puluh empat) bulan dan paling lama 72 (tujuh puluh dua) bulan dan denda paling sedikit Rp24.000.000,00 (dua puluh empat juta rupiah) dan paling banyak Rp72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).

3. Menghimbau kepada KPU DKI agar melakukan evaluasi secara massif kepada petugas KPPS di TPS pada pelaksanan pemilu selanjutnya.

4. Kami mengucapkan terima kasih kepada Jajaran Kepolisian atas pelaksanan pengamanan di setiap TPS dan meminta untuk senantiasa menindak tegas jika ditemukan gangguan, ancaman dan gangguan yang terkait dengan pelaksanaan pemungutan dan penghitungn suara di TPS.

c. Tindak Lanjut Rekomendasi

1. Dari proses Rekap Hitung ini, Bawaslu DKI Jakarta merekomendasikan kepada KPU DKI untuk memperbaiki secara mendasar manajemen dan administrasi

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 125 Pemilu, perbaikan secara mendasar dan berkualitas pada pengadaan dan distribusi logistik Pemilu, meningkatkan kualitas dan integritas KPU khususnya pada level tingkatan yang paling bawah seperti petugas KPPS dan PPS dengan pemberian Bimbingan Teknis yang memadai, dan lain sebagainya.

2. Terhadap pelanggaran-pelanggaran administrasi yang dilakukan oleh petugas KPPS, PPS dan PPK, Bawaslu Provinsi DKI merekomendasikan kepada KPU Provinsi DKI untuk mengambil tindakan tegas, dengan cara tidak melibatkan lagi mereka pada kegiatan-kegiatan Pemilu di masa datang. Sedangkan terkait dengan adanya dugaan yang mengarah kepada tindak pidana Pemilu, Bawaslu Provinsi DKI tetap akan memproses dan meneruskannya sesuai dengan peraturan-perundangan. Sebaliknya kepada Parpol, Saksi atau masyarakat yang mempunyai bukti-bukti cukup dan otentik terjadinya pelanggaran Kode Etik Pemilu atau menyangkut integritas Penyelenggara Pemilu, dipersilahkan untuk menempuh jalur hukum, misalnya mengadukan kepada DKPP.

3. Pada dasarnya Bawaslu Provinsi DKI Jakarta mengharapkan agar hasil Rekap Hitung Tingkat Provinsi DKI Jakarta diterima dengan bulat, dan tidak perlu lagi dipersoalkan termasuk nanti pada putaran. Sikap elegan dan sportif ini penting ditunjukkan bukan saja merefleksikan kematangan dan jiwa besar dalam berdemokrasi, melainkan juga karena proses Rekap dari semua tingkatan/jenjang sudah dilakukan dan secara umum telah mendapat persetujuan atau pengesahan Saksi setiap pasangan calon. Meskpun demikian, tentu saja Bawaslu Provinsi DKI Jakarta tidak bisa mencegah manakala ada para pihak yang tidak puas dengan Rekap Hitung di Tingkat Provinsi.

4. Dinamika dan Permasalahan

Dalam tahapan rekapitulasi penghitungan dan perolehan suara pemilu legislative Bawaslu DKI Jakarta dan jajaranya sampai tingkat bawah tidak mengalami kendalai yang berarti, hal ini karena disetiap jenjang tingkatan secara personel sudah sangat cukup dan ideal, karena pada saat rekap tingkat PPS ada pengawas lapangan atau PPL, dan pada saat rapat pleno ditingkat PPK ada panwascam dan pada saat rapat pleno rekapitulasi tingkat Kota juga ada Pnawaslu Kabupaten/Kota pun demikian pada saat rapat pleno tingkat Provinsi, Bawaslu dan Jajaranya pun hadir dalam rapat pleno rekapitulasi tersebut, namun yang perlu dimaksimalkan adalah pergerakan kotak suara pada setiap jenjang haruslah benar-benar diawasi secara serius, guna memastikan bahwa dokumen yang terkait masih dalam keadaan utuh sampai pada tingkatan di atasnya.

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 126 Namun perlu ada upaya peningkatan penunjang fasilitas dalam mengawasi perjalanan kotak suara di setiap jenjangnya sebagai contoh alat untuk merekam kotak suara baik dalam bentuk gambar oleh kamera ataupun video dalam bentuk handycam, serta kendaraan operasional yang memadai, sehingga pengawasan terhadap perjalanan kotak suara dapat secara maksimal dilakukan.

Dalam proses rekapitulasi dan penetapan hasil perolehan suara di tingkat provinsi DKI Jakarta pada prinsipnya adalah berjalan dengan baik, namun ada beberapa catatan penting diantaranya adalah :

1. Mekanisme penyelesaian rekap berjenjang dimana penyelesaian terhadap hasil perolehan suara di selesaikan pada tingkatnya, sebagai contoh permasalahan yang ada di TPS di selsaikan di TPS, karena penyelenggara di tingkat TPS ada perwakilan dari Saksi masing-masing pasangan calon dan juga Pengawas TPS, pun demikian pada tingkat PPS, PPK sampai dengan tingkat provinsi.

2. Subtansi permasalahan rekapitulasi dan penetapan hasil perolehan suara adalah perolehan suara masing-masing pasangan calon bukan pada hal lainnya, maka sebaiknya perlu ada aturan yang jelas tentang mekanisme perselisihan pada saat proses rekapitulasi, tetapi yang mendasar adalah jumlah pemilih tetap dan jumlah pemilih tambahan baik yang menggunakan suket (surat keterangan) ataupun e-KTP (KTP elektronik)

3. Terhadap adanya pernyataan keberatan yang ajukan oleh masing-masing saksi pasangan calon harus memiliki dampak hukum terhadap proses rekapitulasi, maka perlu dibuatkan aturan yang lebih jelas dan terperinci.

5. Evaluasi Pelaksanaan Pengawasan

Berdasarkan pengamatan dan pencermatan terhadap jalannya proses Rekap Hitung Tingkat Provinsi, Bawaslu Provinsi DKI mencatat sejumlah isu dan agenda strategis dan penting yang menjadi sorotan peserta Rapat Rekap Hitung, yang diharapkan menjadi perhatian bersama, khususnya KPU Provinsi DKI. Berbagai isu dan agenda tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sorotan tajam dari para saksi pasangan calon terkait dengan manajemen dan administrasi Pemilu, baik yang terkait langsung dengan kegiatan Pungut Hitung maupun berbagai aspek pendukung lainnya, seperti koordinasi dan komunikasi di lingkungan internal KPU DKI hingga jajaran di tingkat bawah, problem inkonsistensi dan distorsi dalam penegakan regulasi, problem sosialisasi, administrasi dan manajemen Pemilu,

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 127 pengadaan dan terutama distribusi logistik Pemilu khususnya surat suara, dan lain sebagainya.

2. Sorotan tajam terhadap kinerja Penyelenggara Pemilu pada tingkatan atau level Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK).

Bentuk-bentuk sorotan tajam tersebut mencakup aspek integritas, profesionalitas dan kinerja Penyelenggara Pemilu.

3. Yang tak kalah penting adalah banyaknya pemilih yang menggunakan hak pilih namun tidak terdaftar dalam DPT atau dengan memilih menggunakan e-KPT dan KK, serta Surat Keterangan atau Suket yang terjadi pada hari pencoblosan, serta batas waktu proses pemilihan yang seharusnya menurut aturan di tutup pukul 13:00 wib tetapi masih ada antrian panjang untuk menggunakan hak pilihnya.

4. Adanya kertas suara yang kurang di beberap TPS, dan terkait dengan formulir Daftar pemilih tambahan yang habis mesti dalam peraturan hal tersebut bukan menjadi keharusan namun karna faktor ketidak pahaman atau faktor tekanan hal tersebut menjadi masalah tersendiri.

5. Adanya kasus tekanan/Ancaman dari oknum yang berada diluar wilayah TPS menjadi hal tersendiri namun demikian menjadi catatan atas hasil perbaikan penyelenggaran pemilihan yang lebih demokratis, sehingga pihak keamanan dalam hal ini kepolisian harus lebih tegas dan berani menindak sesuai dengan ketentuan yanga ada.

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 128 BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Secara umum, tingkat partisipasi pemilih pada putaran pertama pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 mencapai 71,1%. Jumlah ini hampir mendekati target Nasional pada Pilkada serentak. Target Nasional hanya 77,5%. Dalam pergelaran Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017 putaran pertama, secara keseluruhan proses pelaksanaan pemilihan Gubernur dan wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta dapat dikatakan sebagai wilayah yang kondusif dibanding wilayah lainnya yang juga melaksanakan pilkada serentak.

Tahapan demi tahapan dalam pelaksanaan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta berjalan dengan baik walaupun terdapat kekurangan disana-sini namun hal tersebut bukanlah kendala yang berarti, karena Semua berlangsung prosedural dan sesuai ketentuan yang ditentukan.

Mulai dari tahapn persiapan hingga pelaksanaan pemutakhiran data dan daftar pemilih, Kampanye, distribusi logistik hingga proses pemungutan dan penghitungan suara serta rekapitulasi suara sampai dengan penetapan pemilihan putaran kedua yang dimana sesuai dengan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang DKI Jakarta sebagai Ibukota negara, yang mana dalam salah satu pasalnya pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang tidak mencapai perolehan suara sampai dengan 50 % ditambah satu akan mengikuti pemilihan pada putaran kedua.

Namun yang menjadi persoalan tersendiri adalah terkait dengan data pemilih yang pada hari pemungutan dan penghitungan suara melonjak drastis terkait dengan pengguna Surat keterangan atau suket atapun pengguna KTP elektronik, hal ini perlu menjadi perhatian khsus karena disatu sisi penyelenggara dalam hal ini KPU harus memastikan setiap warga negara yang memiliki hak pilih harus bisa menggunakan hak konstitusi tersebut, namun disisi lain mekanisme atau aturan dalam proses

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 129 pemutakhiran data dan daftar pemilih serta pencocokan dan peneltiana data pemilih hingga penyempurnaan data dan daftar pemilih dinilai masih kurang maksimal, bisa jadi karena petugas emutakhiran data pemilihnya yang kurang maksimal atau karena warga yang kurang tingkat partisipasinya, kdepan hal tersebut harus dikirkan secara baik karena hampir setiap penyelenggaran pemilu hal yang menjadi problem besarnya adalah persialan data pemilih.

Dan yang menjadi catatn tersendiri dari aspek regulasi dan peraturan perundang-undangan yang ada khususnya pada pemilihan gubernur, buapti dan walikota serentak jilid dua, regulasi atau peraturan perundangan-undangan belum siap secara waktu hal ini terbukti bahwa dari mulai terbitnya Peraturan pemerintah pengganti undang-undang atau perpu yang kemudian berubah menjadi Undang-undang direvisi samapai dengan tiga kali revisi, kedepan hal ini menjadi catatan tersendiri

Bawaslu DKI Jakarta mengusulkan kedepan regulasi dan peraturan perundang-undangan dalam pemilihan pilkda serentak dpada saat pembahan dan penetapannya digunakan atau diberlakukan bukan pada saat akan diselenggarakan pilkada di tahaun yang sama tetapi untuk periode berikutnya, kenapa hal ini dilakukan untuk memutus konflik kepetingan dari si pembuat undang-undang, karena kita tahu yang membuat undang-undang adalah anggota DRI RI dari partai politik, dan yang bertarung dari kader-kader partai politik di periode yang sama sehingga syarat kepentingan begitu kental, tetapi jika digunakan untuk periode berikutnya, orang-orang yang duduk sebagi anggota DPR RI bisa jadi dari orang yang berbeda walapun dari partai politik yang sama, apalagi kedepan pilkada serentak baik pemilu legislatif dengan pemilu presiden dan wakil presiden ataupun dengan pemilu kepala daerah.

B. Rekomendasi

Dalam pelaksanaan pengawas di Provinsi DKI Jakarta pada Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta dalam pelaksanaanya pengawasan masih sedikit banyak terkendala baik yang sifatnya tehnis ataupun non tehnis, namun secara keseluruhan berdasarkan tahapan yang ada mulai dari mekanisme pengawasan sampai dengan penanganan dugaan pelanggaran baik yang bersifat administrasi ataupun dugaan pidana pemilu dan pelanggaran etik oleh penyelenggara, semuanya sudah terangkum dalam laporan ini beserta dengan lampiran-lampiran dan rekapitulasi setiap tahapan, sebagai upaya mengevaluasi setiap permasalahn yang timbul di setiap tahapan maka Bawaslu Provinsi DKI Jakarta, merekomendasikan beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan juga pengawasan, adalah sebagai berikut:

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 130 1. Tahapan DPT

Tahapan pendataan daftar pemilih bukan semata hanya urusan pemilu, tetapi lebih jauh bahwa hak dasar setiap warga Negara haruslah dilindung secara baik, maka tak heran dalam prosesnya KPU selalu saja mengupayakan bahwa setiap warga Negara yang sudah berhak memilih haruslah terdaftar dalam daftar pemilih, apakah pada saat awal terdaftar dalam DPS atau daftar pemilih sementara, lalu daftar pemilih tetap atau DPT, bila tidak terdaftar juga dalam rangkaian maka harus dimasukan ke dalam daftar pemilih tambahan atau DPTb, bahkan pada hari pencoblosan khususnya warga DKI Jakarta bisa menggunakan hak pilihnya dengan menunujkan kartu identitas e-KTP dan Kartu Kelurga termasuk juga Surat Keterangan atau Suket yang dikeluarkan dinas dukcapil provinsi DKI Jakarta, begitu pentingnya harga seorang pemilih, dalam hak konstitusinya, maka tak heran dalam setiap kali pemilu DPT menjadi hal yang sangat seksi atau menarik perhatian semua pihak.

Dalam pandangan Bawaslu DKI Jakarta berdasarkan pemantauan dan hasil pengawasan ada beberapa hal yang menjadi catatan, yaitu:

1. Perlu ada sebuah lembaga yang khusus mengelola data pemilihyang berkaitan tentang masalah kepemiluan, dengan cara singkronisasi pihak terkait, dalam hal ini bisa saja seperti Badan Pusat Statistik, Kementrian dalam negeri, kementrian kesehatan, dinas terkait, seperti pemakaman, dan catatan sipil.

2. Update terhadap data pemilih haruslah dilakukan secara periodic jangan hanya pada saat-saat menjelang pelaksanaan pemilu.

3. membuat sebuah aturan yang dapat mengakomodir hak warga Negara terutama hak dipilih dan memilih yang diatur oleh Undang-undang, sehingga kisruh terhadap DPT tidaklah berlarut-larut.

4. KPU beserta jajaranya dalam penerimaan data pemilih yang diberikan oleh pemerintah melalui mendagri harus memastikan bahwa data yang diterima bukanlah data mentah tetapi data yang sudah diawal telah mengalami singkronisasi dengan beberapa pihak terkait.

2. Pencalonan

Hal yang paling mendasar dari aspek pengawasan pencalonan adalah memastikan bahwa persyaratan administrasi benar-benar berdasarkan apa yang ada pada peraturan perundang-undangannya, hal ini penting untuk memastikan bahwa calon tersebut memang benar secara hukum dalam proses pencalonannya, oleh karenanya KPU dan jajaran dibawah ini harus bisa membuka akses Bawaslu DKI Jakarta untuk melihat secara langsung dokumen kelengkapan dari setiap bakal

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 131 caleg yang diajukan. Kelengkapan ini tentu juga memuat syarat calon dan syarat pencalonan karena hal ini adalah berbeda.

3. Kampanye

Dari beberapa penjelasan diatas soal kampanye maka ada beberapa catatan yang berkaitan dengan hal diatas atau yang perlu dicermati dari tahapan kampanye adalahsebagai berikut :

a. Regulasi Kampanye

Karena perkembangan media kampanye ini begitu berkembang maka pelanggaran pun sering di lakukan pihak yang berkampanye, maka KPU sebagai lembaga yang mengatur mekanisme pemilihan membuat semacam aturan baru bagi para peserta kampanye yang menggunakan media elektronik atau dengan kata lain media sosial yang begitu bebas dan hampir dimiliki oleh penduduk DKI Jakarta, hal ini menyangkut apakah informasi tersebut benar atau tidak namun sudah terlanjur di broadcast sebagai info terkait dengan proses pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, oleh karenanya harus ada regulasi khusus terkait dengan model kampanye di media sosial.

b. Batasan Waktu Kampanye

UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang pemilihan gubernur, buapti dan walikota, kampanye pemilu legislatif dimulai tiga hari setelah partai ditetapkan secara resmi sebagai peserta pemilu dan berakhir saat dimulainya masa tenang.

Artinya, masyarakat akan menghadapi terpaan kampanye beragam kekuatan yang bertarung. Untuk Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, tak hanya metode rapat umum, iklan di media cetak dan elektronik baru bisa digunakan 21 hari sebelum masa tenang. Dalam praktik demokrasi elektoral di Indonesia, fase kampanye kerap menjadi satu titik krusial yang memengaruhi kualitas penyelenggaraan pemilu, terutama hubungannya dengan pendidikan politik warga masyarakat. Hal kunci yang sering menjadi persoalan dalam fase kampanye adalah komitmen untuk menghormati dan menjalankan kesepakatan aturan main.

c. Batasan Alat Peraga

Laporan Akhir Bawaslu DKI Jakarta Pilkada 2017 132 Dalam pelaksanaan pemilihan gubernur dan wakil gubernur provinsi DKI Jakarta, Alat Peraga Kampanye dan Bahan kampanye semuanya disediakan oleh KPU DKI Jakarta hal ini sesuai dengan amanat peraturan perundang-undangan tentu semangatnya sama adalah aspek penyetaraan, namun demikian setiap pasangan calon diberikan peluang untuk membuat alat peraga dan bahan kampanye yang bisa saja dibuat tambahan tetapi dengan jumlah yang sudah dibatasi, sesuai dengan peraturan perundangan-undangan, namun pada kenyataannya ada saja pasangan calon yang membuat tambahan alat peraga dan bahan kampanye yang tidak sesuai denga apa yang sudah ditetapka oleh KPU DKI Jakarta.

d. Kampanye Media Massa

Perihal kampanye politik, peraturan dan perundang-undangan yang menjadi acuan bukan hanya terbatas pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota, melainkan juga merujuk pada UU No. 32/2002 tentang Penyiaran serta UU No.40/1999 tentang Pers. Terlebih apabila itu menyangkut media massa. Dalam upayanya untuk mewujudkan kebebasan pers dan tinjauan positif atas pelaksanaan kampanye di media massa, maka sudah semestinya Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Banwaslu, Dewan Pers untuk duduk bersama menyiapkan beberapa aturan tentang batasan kampanye di media massa.

e. Pengawasan Penyiaran

Guna memperbaiki kualitas kampanye di media penyiaran, ada beberapa faktor yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, faktor struktural, harus adanya koordinasi yang lebih intensif, fungsional, dan komplementer antarpenyelenggara pemilu; dalam hal ini KPU dan Bawaslu dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pers. KPU telah menetapkan peraturan No 1/2013 tentang Pedoman

Guna memperbaiki kualitas kampanye di media penyiaran, ada beberapa faktor yang harus menjadi perhatian bersama. Pertama, faktor struktural, harus adanya koordinasi yang lebih intensif, fungsional, dan komplementer antarpenyelenggara pemilu; dalam hal ini KPU dan Bawaslu dengan Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pers. KPU telah menetapkan peraturan No 1/2013 tentang Pedoman

Dokumen terkait