• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Paparan Hasil Implementasi Produk pada Sampel Terbatas

2. Hasil Implementasi dan Pembahasan

Bagian ini akan membahas hasil penelitian mengenai karakteristik PMRI yang muncul dalam pembelajaran penjumlahan pecahan di kelas IVA SD Negeri Adisucipto 1 semester 2 tahun pelajaran 2011/2012. Peneliti membahas kelima karakteristik PMRI secara umum. Pembahasan lebih ditekankan pada karakteristik PMRI tentang penggunaan konteks (penggunaan masalah kontekstual sebagai starting point pembelajaran). a. Gambaran umum penggunaan karakteristik PMRI.

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru sudah menunjukkan kelima karakteristik PMRI. Kelima karakteristik tersebut adalah penggunaan konteks, penggunaan model, penggunaan kontribusi siswa, penggunaan format interaktif, dan intertwinning (memanfaatkan keterkaitan).

Penggunaan konteks sudah muncul pada kegiatan motivasi dan apersepsi. Guru menggunakan permainan sebagai motivasi. Permainan yang digunakan sudah dikenal siswa namun telah disesuaikan dengan materi yang akan disampaikan.

Guru menggunakan permainan untuk membangkitkan semangat siswa. Permainan juga digunakan untuk menunjukkan materi yang akan dipelajari. Permainan yang sudah disesuaikan dengan materi misalnya permainan papan harga. Permainan ini mengadopsi permainan harga.

47 Permainan harga adalah permainan membentuk kelompok sesuai dengan jumlah yang sudah ditentukan. Siswa sangat senang melakukan permainan. Hal ini tampak dari ekspresi wajah siswa yang ceria dan bersemangat mengikuti permainan. Siswa yang awalnya diam saja pun ikut berpartisipasi dalam permainan.

Guru juga menggunakan apersepsi berupa pertanyaan yang berhubungan dengan materi sebelumnya. Pertanyaan yang digunakan berupa soal cerita seperti yang tampak pada transkrip II berikut ini.

20.G : “Apin memiliki pizza sebanyak bagian yang ia peroleh dari ibunya. Beberapa saat kemudian Apin mendapat lagi bagian pizza yang sama bentuknya dari kakak. Berapakah banyak bagian pizza yang dimiliki oleh Apin sekarang?”

Guru menggunakan pertanyaan sebagai apersepsi untuk menggali pengetahuan yang sudah dimiliki siswa. Pertanyaan tersebut mengarahkan siswa untuk mengingat kembali apa yang telah ia pelajari. Jawaban siswa saat tanya jawab menunjukkan bahwa siswa mengingat apa yang telah ia pelajari.

Guru menyajikan masalah kontekstual dalam bentuk soal cerita. Soal cerita menggunakan bahasa yang sederhana dan biasa dialami siswa. Siswa menggunakan media yang biasa ditemui untuk mengerjakan soal tersebut.

48 Guru menyajikan masalah kontekstual di awal pembelajaran untuk mengantarkan siswa atau membantu siswa memahami materi yang akan diajarkan. Masalah kontekstual yang digunakan membuat siswa merasa masalah tersebut benar-benar dialami dan penting untuk diselesaikan. Media digunakan untuk mempermudah siswa mengerjakan soal. Siswa tampak tidak menggalami kesulitan dalam mengerjakan soal. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan yang disajikan dapat dimengerti siswa.

Karakteristik penggunaan model sudah muncul di setiap pertemuan. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan menggunakan benda-benda nyata yang ada di hadapan siswa. Benda-benda tersebut digunakan oleh siswa untuk mengerjakan soal. Siswa diberi kebebasan untuk menggunakan media yang sudah disediakan. Penggunaan benda nyata dimaksudkan agar siswa benar-benar mengalami atau merasakan langsung masalah yang ada pada soal.

Gambar 4.2: Pemodelan yang Dilakukan Siswa

Siswa mengerjakan soal menggunakan benda nyata, kemudian menggunakan gambar dan dilanjutkan dengan menggunakan simbol. Simbol yang digunakan adalah lambang bilangan dan lambang operasi hitung (+,-,=). Siswa menulis informasi yang diketahui dari soal untuk memastikan tidak ada informasi yang terlewatkan. Informasi ini digunakan untuk memudahkan siswa menemukan data yang dibutuhkan dalam memecahkan masalah.

49 Informasi tersebut dituangkan dalam bentuk gambar. Siswa menggunakan gambar tersebut untuk mencari jawaban. Siswa tidak menggunakan gambar lagi setelah siswa memahami cara menemukan jawaban. Siswa langsung menggunakan angka karena dianggap lebih cepat.

Proses pembelajaran sudah melibatkan siswa. Siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat maupun menjawab pertanyaan. Tidak semua siswa berani mengungkapkan pendapat atau menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Hal ini dimungkinkan karena siswa belum terbiasa mengungkapkan pendapat sehingga siswa merasa malu. Meski demikian, beberapa siswa sudah berani maju untuk mengungkapkan pendapat mereka. Hal ini terlihat ketika salah satu siswa maju untuk menuliskan jawabannya, siswa atau kelompok lain yang memiliki jawaban berbeda berani berpendapat dan menuliskan jawabannya. Sebenarnya kontribusi siswa dalam pembelajaran masih dapat ditingkatkan, mengingat masih banyak siswa yang belum berpendapat.

Gambar 4.3: Hasil Diskusi Kelompok

Guru membahas setiap jawaban yang muncul. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih memahami bahwa ada berbagai cara untuk mengerjakan satu soal yang sama. Jawaban siswa yang menggunakan cara berbeda dalam mengerjakan soal menunjukkan bahwa siswa sudah memahami adanya

50 berbagai cara untuk mengerjakan satu soal yang sama. Siswa atau kelompok yang berani mengungkapkan pendapatnya mendapatkan apresiasi berupa pujian maupun tepuk tangan. Hal ini dimaksudkan agar siswa merasa dihargai dan termotivasi. Peningkatan jumlah siswa yang ingin mengungkapkan pendapat membuktikan bahwa siswa termotivasi.

Gambar 4.4: Siswa Mempresentasikan Hasil Diskusi

Siswa juga diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan atas jawaban siswa lain, namun sedikit siswa yang mau menanggapi. Siswa lebih suka menaggapi secara serempak, jika diminta salah satu yang bicara siswa cenderung diam. Siswa tidak mau menjawab sendiri kemungkinan karena siswa takut apabila ditanya alasannya. Hal ini dapat terjadi karena siswa belum terbiasa mengungkapkan pendapat.

Siswa menyimpulkan sendiri hasil belajaranya di akhir kegiatan pembelajaran. Tidak semua siswa mau menyimpulkan hasil belajar di depan teman-temannya. Hal ini dapat terjadi karena siswa belum terbiasa dan masih malu untuk mengungkapkan pendapat. Pada kesempatan berikutnya, beberapa siswa mulai berani berpendapat untuk menyimpulkan hasil belajar. Guru membahas kesimpulan dari siswa setelah siswa mengungkapkan pendapat

51 mereka. Pemberian konfirmasi oleh guru bertujuan untuk memantapkan pemahaman siswa.

Gambar 4.5: Siswa Menyimpulkan Hasil Belajar

Interaksi siswa sudah nampak disetiap pertemuan. Guru sudah memfasilitasi terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru. Guru memfasilitasinya dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk bertanya maupun memberikan pendapat. Guru juga membagi siswa ke dalam kelompok agar interaksi siswa dengan siswa lebih intens. Siswa aktif melakukan diskusi. Kegiatan selama diskusi inilah yang memberikan kesempatan lebih banyak kepada siswa untuk berinteraksi.

Gambar 4.6: Interaksis Siswa dengan Siswa

Interaksi juga terjadi antara siswa dengan guru. Interaksi siswa dengan guru terjadi ketika menyepakati norma belajar. Norma belajar disepakati bersama agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan tertib dan teratur. Interaksi juga terlihat ketika siswa bertanya dan guru menjawab atau sebaliknya. Siswa dan guru juga melakukan interaksi ketika membahas

52 jawaban. Guru membahas jawaban dengan melibatkan siswa. Hal ini dimaksudkan agar semua siswa mengetahui cara menemukan jawaban dari soal tersebut. Interaksi antara siswa dan guru ini membuat siswa terlibat aktif dalam pembelajaran sehingga kemungkinan siswa mengerti apa yang dipelajari menjadi semakin besar.

Gambar 4.7: Interaksi Siswa dengan Guru

Interaksi siswa dengan guru juga tampak pada transkrip IV berikut. 49. G : “Jadi untuk yang pecahan yang berpangkat sama kemarin kalau

dijumlah bagaimana?” [Siswa menjawab bersamaan sehingga

tidak jelas] “Kemarin yang sudah dipelajari kalau penyebutnya sama tinggal ...”

50. : “Dijumlahkan”

51. G : “Apanya yang dijumlahkan? Penyebutnya atau pembilangnya?” 52. BS : “Pembilang-pembilangnya”

Transkrip IV tersebut menunjukkan bahwa siswa telah melakukan interaksi dengan guru. Interaksi yang terjadi berupa percakapan antara satu siswa dengan guru maupun beberapa siswa dengan guru. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran mendapatkan apresiasi. Pemberian apresiasi memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran memanfaatkan keterkaitan antara materi penjumlahan pecahan dengan materi matematika lain maupun materi mata pelajaran lain. Materi penjumlahan pecahan dapat dikaitkan dengan materi

53 penyederhanaan pecahan, dan penjumlahan bilangan bulat. Pemanfaatan keterkaitan ini dimaksudkan untuk menyingkat waktu penyampaian materi.

Gambar 4.8: Penyerdehanaan Pecahan

Keterkaitan antara materi penjumlahan pecahan dengan materi matematika lain sudah tampak. Keterkaitan materi penjumlahan pecahan dengan materi penyerdehanaan pecahan tampak pada kegiatan siswa yang menyerdehanakan hasil dari penjumlahan pecahan. Siswa langsung menyederhanakan hasil dari penjumlahan pecahan. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mengerti cara menyerdehanakan pecahan. Keterkaitan dengan materi penjumlahan bilangan bulat tampak pada saat menjumlahkan pembilang dari pecahan. Siswa tampak tidak mengalami kesulitan dalam penjumlahan bilangan bulat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa keterkaitan dengan materi matematika lain dapat membantu siswa mengerjakan soal lebih cepat karena guru tidak harus menjelaskan lagi caranya.

Keterkaitan materi penjumlahan pecahan dengan mata pelajaran lain belum tampak jelas. Materi penjumlahan pecahan dapat dikaitkan dengan materi pelajaran Bahasa Indonesia tentang keterampilan membaca untuk menemukan makna tersirat dari suatu teks. Keterkaitan tampak ketika siswa membaca soal cerita kemudian mengerjakan soal tersebut. Siswa yang

54 mampu menjawab pertanyaan menandakan bahwa siswa tersebut telah menemukan makna tersirat dari soal cerita. Hal ini menunjukkan bahwa siswa secara tidak langsung telah melatih keterampilan membaca untuk menemukan makna tersirat dari suatu teks.

b. Penggunaan konteks dalam pembelajaran.

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan selama empat kali pertemuan diperoleh data tentang penggunaan konteks, yaitu penggunaan masalah kontekstual, penggunaan permainan, penggunaan media dan alat peraga, serta menggali pengetahuan awal yang dimiliki siswa.

1) Penggunaan masalah kontekstual sebagai starting point

pembelajaran

Kegiatan pembelajaran sebaiknya diawali dengan menggunakan masalah yang dekat dengan siswa sebagai titik awal (starting point) pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih mudah memahami permasalahan yang disajikan. Permasalahan inilah yang akan mengantarkan siswa untuk memahami materi pelajaran.

Penggunaan masalah kontekstual sebagai starting point pembelajaran sudah tampak pada kegiatan pembelajaran. Masalah kontekstual disajikan dalam bentuk soal cerita. Hal dapat dilihat pada transkrip II berikut.

70. G : “Dafa dan Putri masing-masing membeli 1 loyang pizza yang sama besar dan rasanya. Dafa membagi pizzanya menjadi 4 bagian yang sama besar, sedangkan Putri membagi pizzanya menjadi 2 bagian yang sama besar. Dafa memberikan 1 bagian dari pizzanya kepada Bu Jum dan beberapa saat kemudian Putri juga memberikan 1 bagian dari pizzanya kepada Bu Jum. Berapakah jumlah bagian pizza yang diterima oleh Bu Jum? Ceritanya ini ya, mungkin di LKS ada. Silahkan kerjakan berkelompok, tidak sendiri-sendiri!”

55 71. S : [Siswa mengerjakan soal LKS menggunakan papan pizza. Siswa memotong gambar pizza menjadi empat bagian dan dua bagian yang sama besar. Siswa mengambil seperempat bagian dan setengah bagian pizza kemudian diletakkan pada papan pizza.]

Transkrip diatas menunjukkan bahwa guru sudah menyajikan masalah kontekstual dalam bentuk soal cerita. Tokoh dalam soal cerita tersebut sengaja menggunakan nama siswa. Hal ini dimaksudkan agar seolah-olah kejadian itu memang terjadi di kelas. Siswa pun terlihat tidak heran ketika mendengar soal tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa siswa sering menjumpai masalah tersebut. Kejadian yang biasa dijumpai siswa dapat dikatakan dekat dengan siswa.

Penggunaan masalah kontekstual dalam bentuk soal cerita juga tampak pada kegiatan pada transkrip III: 12. Soal cerita juga dapat digunakan untuk menggali pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa. Pemanfaatan soal cerita sebagai starting point dan sebagai alat untuk menggali pengetahuan awal yang dimiliki siswa tampak pada transkrip IV berikut.

9. G : “Tuti, Tuti mempunyai pita sepanjang m, kemudian adiknya mempunyai pita sepanjang m. Jadi kalau ditambahkan menjadi berapa?” [Siswa masih berpikir] “ sama . Coba gabung sekarang! Gabung! Sudah? Ayo kelompok satu dan dua digabungkan!” [Guru melihat kelompok satu dan dua.]

Soal tersebut disampaikan kepada siswa sebagai soal dalam permainan. Soal tersebut juga digunakan untuk menggali pengetahuan awal yang dimiliki siswa sekaligus sebagai starting point pembelajaran. Soal ini dianggap dekat dengan siswa karena kejadian yang ada di dalam soal cerita biasa terjadi di lingkungan anak.

Masalah kontekstual yang disajikan dalam bentuk soal cerita menggambarkan masalah yang biasa dialami siswa sehingga dapat membantu

56 siswa membayangkan masalah tersebut. Penggunaan soal cerita yang dekat dengan siswa terbukti membantu siswa memahami masalah. Hal ini terlihat dari ekspresi siswa yang mengerti tentang masalah yang disajikan. Apabila siswa mengerti masalah yang disajikan, ada kemungkinan bahwa masalah tersebut dekat dengan kehidupan siswa.

Masalah kontekstual yang disajikan dalam bentuk soal cerita ini menggambarkan apa yang harus dilakukan siswa secara tersirat. Kegiatan yang harus dilakukan siswa tampak pada setiap kegiatan yang ada pada soal. Kegiatan-kegiatan tersebut dibuat secara berurutan untuk mengarahkan alur berpikir anak. Alur berpikir yang sudah terarah ini diharapkan mampu mengarahkan siswa menemukan konsep dari materi yang dipelajari.

Gambar 4.9: Siswa Melakukan Kegiatan yang Ada pada Soal

Gambar 4. 9 menunjukkan bahwa siswa melakukan kegiatan sesuai dengan soal pada Transkrip II: 70. Siswa memotong gambar pizza menjadi dua bagian yang sama besar. Ada yang melipat gambar atau membuat garis terlebih dahulu untuk membagi gambar tersebut menjadi dua bagian yang sama besar. Hal ini membantu siswa untuk membagi gambar tersebut menjadi dua bagian yang sama besar. Cara yang sama dilakukan siswa untuk membagi gambar menjadi empat yang sama besar. Siswa kemudian mengambil masing-masing satu potongan dan meletakkan pada papan pecahan.

Beberapa siswa tidak memotong gambar yang bernilai setengah untuk menyamakan nilai setiap potongan gambar. Siswa mengatakan bahwa mereka

57 sudah mengetahui bahwa nilai setengah sama dengan nilai dua perempat. Hal inilah yang membuat siswa langsung menulis jawaban tiga perempat.

Siswa mengetahui bahwa nilai setengah sama dengan nilai dua perempat karena siswa sudah mempelajarinya. Siswa juga dapat mengetahuinya dengan membandingkan potongan gambar yang bernilai setengah dan bernilai seperempat. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membayangkan potongan gambar yang bernilai setengah dipotong menjadi dua bagian yang sama besar.

Siswa yang langsung menulis jawaban tiga perempat tanpa memotong potongan gambar yang bernilai setengah menjadi seperempat dimungkinkan sudah mempelajari cara menjumlahkan pecahan yang berpenyebut beda. Siswa sudah mengetahui bahwa penyebut dari kedua pecahan harus disamakan terlebih dahulu sebelum menjumlahkan pembilangnya. Siswa sebenarnya sudah diarahkan untuk menyamakan penyebut dari kedua pecahan melalui kegiatan menyamakan nilai dari semua potongan gambar.

Dari seluruh kegiatan yang dilakukan siswa diharapkan mampu mengarahkan siswa menemukan konsep penjumlahan pecahan yang berpenyebut beda. Kegiatan siswa yang terarah tampak pada saat siswa bekerja secara runtut sesuai keterangan yang ada pada soal. Hal ini mengarahkan alur berpikir siswa sehingga siswa lebih mudah menemukan cara untuk memecahkan masalah. Kesamaan dari cara yang digunakan inilah yang menjadi konsep dari materi yang dipelajari.

Masalah kontekstual yang digunakan mampu mengarahkan siswa menemukan konsep juga tampak pada transkrip I: 75. Transkrip ini

58 menggambarkan bahwa siswa memotong media sesuai dengan keterangan yang ada pada soal. Hal yang hampir sama juga tampak pada transkrip II: 72 dan III: 52. Pada kegiatan siswa yang tampak pada transkrip tersebut menunjukkan bahwa siswa menggunakan papan pecahan untuk menemukan jawaban.

Guru kurang memberikan penjelasan untuk mengarahkan siswa menemukan konsep. Hal ini tampak ketika guru memberikan penjelasan ketika siswa selesai mempresentasikan hasil diskusi. Guru hanya membahas isi soal menggunakan kata-kata tanpa menggunakan media yang digunakan siswa. Guru seharusnya memanfaatkan media yang digunakan siswa untuk mencari kesamaan dari cara yang mereka gunakan. Kesamaan dari cara yang digunakan siswa akan lebih tampak ketika ditunjukkan menggunakan media.

Hal yang sama juga terjadi ketika menjelaskan cara penjumlahan pecahan yang berpenyebut beda. Guru tidak menekankan bahwa potongan gambar harus disamakan nilainya terlebih dahulu. Hal ini membuat beberapa tidak mengetahui bahwa penyebut dari pecahan yang berpenyebut beda harus disamakan dahulu sebelum dijumlahkan. Ketidaktahuan inilah yang menyebabkan beberapa siswa langsung menjumlahkan pembilang dari kedua pecahan tanpa menyamakan dahulu penyebutnya.

Guru langsung menekankan bahwa penyebut dari dua pecahan yang berpenyebut beda harus disamakan sebelum dijumlahkan. Hal inilah yang membuat siswa hanya mengetahui bahwa penyebut dari kedua pecahan harus disamakan tanpa mengetahui alasannya. Ketidaktahuan akan alasan inilah yang membuat siswa tidak paham atau lupa jika penyebut dari dua pecahan

59 yang berpenyebut beda harus disamakan sebelum dijumlahkan. Hal ini terjadi pada beberapa siswa seperti yang tampak pada transkrip IV berikut ini.

70. G : “Tadi mana yang sukar, tadi katanya sukar” [Guru menghampiri

untuk memberi penjelasan] “Kalau beda penyebutnya diapakan dulu?”

71. BS : “Dicari KPKnya”

72. G : “Tadikan sudah to, dicari KPKnya dulu! Pakai caranya! Terus dicari KPKnya! Dikalikan, dikalikan berapa itu?” [Guru membimbing mengerjakan soal.]

Transkrip di atas menunjukkan bahwa ada siswa yang belum jelas tentang cara menjumlahkan pecahan yang berpenyebut beda. Siswa mengalami kesulitan menjumlahkan pecahan yang berpenyebut beda. Hal ini dapat disebabkan karena siswa tidak memperhatikan penjelasan sebelumnya sehingga siswa lupa cara mengerjakan soal. Hal ini juga dapat terjadi karena kurangnya penegasan diawal penyampaian materi.

Masalah kontekstual yang disajikan dalam bentuk soal cerita mudah dimengerti siswa. Hal ini dikarenakan masalah yang disajikan dekat dengan siswa dan menggunakan bahasa yang sederhana. Penggunaan bahasa yang sederhana ini diharapkan dapat memudahkan siswa memahami masalah. Siswa yang memahami masalah dalam soal cerita tampak dari ekspresi wajah siswa yang tenang saat soal disampaikan. Siswa juga segera mengerjakan soal dan menyelesaikannya.

Siswa memotong media sesuai dengan keterangan yang ada pada soal. Siswa melakukan tahapan kegiatan dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mengerti maksud dari soal tersebut. Jika siswa tidak memahami maksud dari soal maka ia akan melakukan kegiatan secara tidak teratur. Hasil dari kerja mereka pun tidak tepat.

60 Ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan pada saat memotong media. Kesalahan tersebut berupa tidak samanya ukaran potongan media. Hal terjadi bukan karena siswa tidak tidak memahami maksud dari soal, melainkan siswa mengalami kesulitan membagi media menjadi bagian yang sama besar.

Siswa memahami masalah yang disajikan juga tampak pada gambar 6. Pada gambar tersebut siswa memotong gambar pizza sesuai dengan keterangan pada soal. Hal ini tidak mungkin terjadi apabila siswa tidak mengetahui maksud dari soal kecuali ia hanya melihat cara kelompok lain.

Pada transkrip III: 12, guru menyampaikan masalah kontekstual dalam bentuk soal cerita. Guru dan siswa melakukan tanya jawab tentang informasi yang ada pada soal.

25. G : “Caranya beda? Ketemunya sama?” “Kita lihat dulu. Diketahui tadi pita yang dibeli Dian berapa?”

26. S : “Setengah meter.”

27. G : “Setengah meter kemudian yang diberi Lita?” 28. S : “Seperenam meter.”

29. G : “Pertanyaannya digabungkan ya, kalau digabungkan itu berarti ditambah atau dikurang?”

30. S : “Ditambah”

31. G : “Jadi pitanya setengah ditambah ...” 32. S : “Seperempat”

33. G : “Seper berapa?” 34. S : “Seperenam”

35. G : “Ini sudah sama belum?” [Guru menunjuk penyebut kedua pecahan.]

36. S : “Belum”

37. G : “Kalau belum diapakan?” 38. S : “Dicari KPKnya”

39. SL : “Dicari KPKnya” 40. G : “Ya, menjadi berapa?” 41. S : “Dua belas”

42. G : “Dua belas, ini masih bisa disederhanakan ya, jadi pitanya ada berapa?”

61 Percakapan tersebut menunjukkan bahwa siswa mengerti masalah yang disampaikan. Siswa tidak akan menjawab dengan benar seperti pada transkrip apabila siswa tidak mengerti masalah yang disampaikan.

Masalah kontekstual yang disajikan dalam bentuk soal cerita dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dapat membantu siswa memahami masalah tersebut. Hal ini dikarenakan siswa merasa masalah tersebut biasa dialami. Masalah yang biasa dialami siswa akan menarik perhatian siswa untuk memecahkannya. Tahapan kegiatan yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah ditampilkan dalam soal secara tersirat. Hal ini akan lebih membantu siswa menemukan cara menyelesaikan masalah. Masalah kontekstual yang disajikan dapat mengarahkan siswa menemukan konsep dari materi yang dipelajari.

2) Penggunaan permainan

Permainan dapat membantu guru dalam menarik perhatian siswa, meningkatkan motivasi siswa dalam belajar, dan menyampaikan materi. Penggunaan permainan dimaksudkan agar siswa merasa senang dan tidak tertekan. Ia hanya merasa sedang bermain namun sebenarnya ia sudah belajar.

Permainan yang digunakan dalam pembelajaran sudah bervariasi. Hal ini terlihat dari permainan yang digunakan pada setiap pertemuan berbeda. Permainan yang digunakan adalah permainan mencari pasangan, lagu pizza hut, kuis cepat tepat, dan papan harga.

Setiap permainan mendapat respon yang berbeda dari siswa. Ada yang mendapat respon sangat baik, baik, dan ada yang mendapat respon biasa saja. Hal ini tergantung dari menarik tidaknya permainan yang digunakan. Seperti

62 yang terjadi pada pemainan mencari pasangan dan papan harga. Kedua permainan ini mendapat respon yang sangat baik dari siswa. Hal ini dapat terlihat dari antusiasme siswa mengikuti kedua permainan ini.

Gambar 4.10: Permainan Papan Harga

Siswa sangat senang dan antusias mengikuti permainan ini. Hal ini terlihat dari raut wajah mereka yang tampak bersemangat dan menikmati permainan. Semangat mereka kembali bangkit ketika mereka melakukan permainan ini. Dalam rekaman pembelajaran satu dan pembelajaran empat terlihat betapa bersemangatnya siswa mengikuti permainan ini. Kegiatan siswa ini juga terlihat pada transkrip I: 1-3 dan Transkrip IV: 10-25.

Dari hasil rekaman dan transkrip, terlihat bahwa siswa sangat

Dokumen terkait