Studi Lapang di Pesisir Puger Jember Jawa Timur
III. HASIL KAJIAN DAN PEMBAHASAN
Menurut Selo Soemardjan (1980), yang dimaksud kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka (Sudarso, 2007). Menurut Fredy Tulung, seseorang disebut miskin jika ia tidak mampu makan dua kali sehari, tidak memiliki akses terhadap sandang dan papan, tidak mampu mengupayakan layanan kesehatan bagi keluarga mereka, dan di dunia modern mereka tidak bisa mengakses pendidikan bagi anak-anak mereka (Tulung. 2008). John Friendman mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan dasar (esensial) individu sebagai manusia, sementara Chambers menggambarkan kemiskinan, terutama di pedesaan, mempunyai lima karakteristik yang saling terkait: kemiskinan material, kelemahan fisik, keterkucilan, dan keterpencilan, kerentanan, dan ketidakberdayaan (Hadiyanti. 2006)
Kemiskinan nelayan paling tidak dicirikan oleh lima karateristik : Pertama, pendapatan nelayan bersifat harian (daily increments) dan jumlahnya sulit ditentukan. Selain itu pendapatannya juga sangat bergantung pada musim dan status nelayan itu sendiri, dalam arti ia sebagai juragan (nelayan pemilik alat produksi) atau pandega (nelayan buruh). Kedua, dilihat dari pendidikannya, tingkat pendidikan nelayan dan anak-anak nelayan pada umumnya rendah. Ketiga, dihubungkan dengan sifat produk yang dihasilkan nelayan, maka nelayan lebih banyak berhubungan dengan ekonomi tukar menukar karena produk tersebut bukan merupakan makanan pokok. Selain itu, sifat produk mudah rusak dan harus segera dipasarkan, menimbulkan ketergantungan yang besar dari nelayan kepada pedagang. Keempat, bidang perikanan membutuhkan investasi cukup besar dan cenderung
mengandung resiko yang besar dibandingkan sector usaha lainnya. Oleh karena itu, nelayan cenderung menggunakan armada dan peralatan tangkap yang sederhana, atau hanya menjadi ABK. Kelima, kehidupan nelayan yang miskin juga diliputi kerentanan. Kemiskinan dalam dimensi kesejahteraan, didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia (Swinton. et al.
2003). Begitu juga dengan yang dinyatakan oleh Thawil yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kemiskinan adalah tiadanya kemampuan untuk memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok (Thawil.
1986).
Bagi masyarakat nelayan Puger, definisi rumah tangga miskin adalah : ”rumah tangga yang masih serba kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari”. Kesulitan dimaknai sebagai kondisi dimana mereka untuk mendapatkan pemenuhan atas kebutuhan tersebut harus berjuang ekstra keras, meskipun barang yang dimaksud itu ada, tetapi tidak memiliki daya untuk mendapatkannya. Kebutuhan pokok dimaknai sebagai kebutuhan akan makanan, sebagai kebutuhan dasar. Sementara kebutuhan yang lain, seperti pendidikan, kesehatan bagi masyarakat nelayan Puger bukan kebutuhan pokok yang utama.
Sementara ditinjau dari pendekatan sosio kultural, secara tidak langsung mengungkapkan bahwa orang miskin adalah kelompok orang yang dipandang sebagai ”orang kecil yang bodoh”, kurang bergaul dan diasingkan serta tak dipercaya. Berdasarkan pendekatan Sosio Politik, maka nampak jelas bahwa orang miskin adalah orang yang hanya dijadikan obyek politik semata. Secara politis mereka dibutuhkan suaranya, namun mereka tidak pernah didengar suara atau kelulhannya, bahkan kesempatan untuk menyampaikan keluhan atau uneg-uneg saja mereka tidak diberi kesempatan. Berdasarkan aspek sosio psikologi, dimana dalam pendekatan ini kemiskinan didekati dengan perilaku dan sikap secara keseharian, maka perilaku nelayan miskin yang nampak adalah kondisi keterpurukan, terjepit, dan berujung pada sikap kepasrahan. Hal mengindikasikan bahwa mereka sudah menerima kemiskinan ini sudah menjadi nasibnya, dan mereka merasa tidak punya peluang untuk memperbaiki nasibnya. Nelayan miskin merasa sudah tidak punya waktu, tidak punya peluang, tidak punya ketrampilan dan modal, sehingga kesempatan untuk mengubah nasib sudah tidak memungkinkan.
Anggraeni (2009) kemiskinan bersifat multidimensional, dalam arti berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, budaya, politik dan aspek lainnya.
PROSIDING PENELITIAN
102
Kemiskinan multidimensi, juga mengarah pada keberadaan pekerja anak, pelacuran anak, dan beberapa perampasan hak dasar individu. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Mehta dan Shah sebagai berikut:
Poverty has many dimensions and the poor suffer deprivation in multiple ways and not just in terms of income. Several forms of human deprivation, including poor survival chances, unjust employment of children, child prostitution, bonded labor, environmental pollution, domestic violence, and social exclusion arising out of caste and gender discrimination, are not related to income in a predictable manner. The poor also lack access to assets such as credit, literacy, longevity, voice, land, water, and forests (Mehta dan Shah. 2003)
Bersamaan dengan bertambahnya perkembangan pengetahuan mengenai kemiskinan, didukung sejumlah realitas dan faktor-faktor penentunya, sekitar tahun 1990-an pengertian kemiskinan mengalami pergeseran. Definisi kemiskinan telah diperluas tidak hanya berdasarkan tingkat pendapatan, tetapi juga terkait dengan ketidakmampuan di bidang kesehatan, pendidikan, dan perumahan. Kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan kesehatan yang buruk atau kekurangan transportasi yang dibutuhkan. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Chambers menyatakan bahwa kemiskinan berkaitan dengan masalah deprivasi sosial, akses ke sumberdaya seperti air, tempat tinggal, layanan kesehatan dan sanitasi, pendidikan serta transportasi (Pattinama. 2009)
Bagi masyarakat nelayan Puger, berdasarkan pengamatan peneliti, maka sumber kemiskinan nelayan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Faktor alam, yaitu faktor musim yang tidak pasti dan adanya ketidakpastian perolehan ikan oleh nelayan, sehingga menimbulkan tidak adanya kepastian penghasilan nelayan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Juragan-1 sebagai berikut :
”nelayan itu penghasilannya tidak menentu, kalau lagi musim ikan, ya hasilnya banyak, tetapi kalau lagi musim paceklik, ya tidak ada hasil. Kapan musimpaceklik dan kapan musim panen, sekarang tidak dapat dipastikan, beda dengan dulu, kalau dulu setiap bukan lima sampai bulan bulan sepuluh dipastikan musim panen ikan, dan pada bulan sebelas
sampai bulan empat adalah musim paceklik.pada musim panen saja, kita sering tidak mendapatkan ikan, ya pokoknya tidak mestilah penghasilannya”
Ketidakpastian penghasilan inilah sebagai sumber utama, yang memunculkan sumber-sumber lain yang semakin memiskinkan nelayan.
Ketidakpastian penghasilan, telah mengakibatkan ketidakstabilan pola konsumsi rumah tanga nelayan, yang akahirnya akan mendorong pola konsumsi yang boros, gampang goncang kestabilan ekonomi keluarga, dan gampang menjual atau menggadaikan aset rumah tangga. Ketidakpastian penghasilan mengakibatkan tidak adanya lembaga keuangan formal seperti perbankan, yang berani memberikan kredit kepada nelayan. Hal inilah yang memunculkan keberadaan pengambe’. Tidak ada satu bank-pun yang berani memberikan kredit kepada individu yang memiliki penghasilan tidak menentu dan kecil, tidak ada jaminan. Hal ini seperti diunkapkan Tokoh Masyarakat-3, anggota BPD setempat, yang menyatakan :
”mana ada bank yang mau memberikan kredit tanpa jaminan, ditambah lagi yang mau pinjam tidak memiliki penghasilan tetap atau penghasilan yang pasti, karena bisa jadi nelayan itu dalam satu tahun, lima bulan berpenghasilan lumayan tinggi, dan tujuh bulan tidak berpenghasilan sama sekali, beda dengan petani, ada fasilitas kredit, dengan angsuran tiga bulan sekali, setiap masa panen. Tetapi untuk nelayan ini belum ada”
2. Sistem pasar hasil tangkapan yang monopsoni, dimana nelayan tidak dapat menjual hasil tangkapannya ke pasar atau pembeli secara terbuka atau bebas. Nelayan buruh tidak ikut menjual hasil, keputusan menjual diserahkan pada juragan, dan juragan juga tidak mampu menjual kepada pembeli secara langsung, namun dengan terpaksa harus menjual kepada pengambe’. Pada sistem ini, harga ditentukan pengambe’ juragan tidak memiliki kekuatan menentukan harga. Mengapa juragan ”pasrah”
menjual kepada pengambe’, hal ini tidak dapat dilepaskan dari sistem hutang-piutang yang terjadi antara juragan dan pengambe’. Kepasrahan juragan darat terhadap pengambe’ ini dapat dilihat pada pernyataan Juragan-3 seorang juragan darat pemilik perahu pakisan sebagai berikut :
”namanya saja saya juragan, tetapi saya sebagai juragan itu tugasnya hanya mencari ikan bersama ABK, mengenai harga ikan, semua yang menentukan adalah pengambe’, berapa harganya saya hanya bisa ikut saja, saya hanya dengar-dengar saja, misalnya
PROSIDING PENELITIAN
103
harga diluar itu tujuh ribu per kilo, tapi saya hanya dibayar enam ribu lima ratus per kilo, ya saya tinggal terima saja”
Hal senada juga diungkapkan oleh Juragan-2, seorang juragan perahu Eder Besar, yang menyatakan :”pokoknya semua yang menentukan itu pengambe’, kita ini sudah terikat hutang, tidak bisa menjual kepada yang lain, tidak boleh, saya harus menjual ke Ji Titik, pengambe’ saya, kalau saya menjual kepada yang lain, pasti nanti peralatan yang ada di perahu saya akan diambil oleh anak buahnya Ji Titik”
Sistem pasar yang demikian ini bisa terjadi karena tidak berfungsinya Tempat Pelelangan Ikan (TPI), sebagai pemegang otoritas pasar di kawasan pelabuhan, para pembeli dari luar daerah tidak dapat memasuki areal TPI, karena dihadang dan dilarang
oleh ”orang-orang suruhan” pengambe’, dan aparat pemerintah tidak mampu bertindak. Kondisi ini dibenarkan oleh tokoh masyarakat-1, yang menyatakan:
”meskipun di sini ada TPI, tetapi tidak ada fungsinya, tidak lebih hanya sebagai mantri pasar yang mungut karcis kepada para pedagang kecil dan pengambe’, sementara aparat kepolisian dari Polairud juga tidak berperan apa-apa terhadap ulah orang-orang suruhan pengambe’ yang melarang pedagang luar daerah masuk”
Dengan sistem ini, maka nelayan tidak memiliki pilihan dalam menjual hasil ikannya. Alur distribusi ikan dari nelayan sampai ke konsumen dapat digambarkan dalam diagram berikut ini.
berperan apa-apa terhadap ulah orang-orang suruhan pengambe’ yang melarang pedagang luar daerah masuk”
Dengan sistem ini, maka nelayan tidak memiliki pilihan dalam menjual hasil ikannya. Alur distribusi ikan dari nelayan sampai ke konsumen dapat digambarkan dalam diagram berikut ini.
Gambar 01 :
Diagram alur distribusi ikan dari Nelayan Puger sampai ke Konsumen
3. Sistem Hutang yang membebani nelayan sepanjang masa. Hutang yang dilakukan oleh juragan darat kepada pengambe’ akan menjadi beban bagi juragan darat dan anak buahnya, dalam hal ini juragan laut/nahkoda/juru mudi dan para pandhega lainnya. Pada sistem hutang antara juragan darat dengan pengambe’, maka manakala juragan darat berhutang kepada pengambe’ untuk keperluan membeli peralatan perahu/kapalnya, maka ikan hasil tangkapan perahu milik juragan tadi harus dijual ke pengambe’, dengan harga yang ditentukan pengambe’, serta dalam setiap kg ikan hasil tangkapan tersebut dipotong antara Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1500,- oleh pengambe’, sebagai uang jasa atas keikutsertaan modal milik pengambe’. Hal ini seperti yang diutarakan pengambe’-1 yang menyatakan :
NELAYAN : Juragan Laut,
Pandhega Juragan Darat Pengambe’
Pengecer Konsumen
Pengolah Konsumen
Pedagang Lokal
Pedagang Antar Kota Pengecer
Konsumen
Pengolah Konsumen
Gambar 01 :
Diagram alur distribusi ikan dari Nelayan Puger sampai ke Konsumen
3. Sistem Hutang yang membebani nelayan sepanjang masa. Hutang yang dilakukan oleh juragan darat kepada pengambe’ akan menjadi beban bagi juragan darat dan anak buahnya, dalam hal ini juragan laut/nahkoda/juru mudi dan para pandhega lainnya. Pada sistem hutang antara juragan darat dengan pengambe’, maka manakala juragan darat berhutang kepada pengambe’ untuk keperluan membeli peralatan perahu/kapalnya, maka ikan hasil tangkapan perahu milik juragan tadi harus dijual ke pengambe’, dengan harga yang ditentukan pengambe’, serta dalam setiap kg ikan hasil
tangkapan tersebut dipotong antara Rp. 500,- sampai dengan Rp. 1500,- oleh pengambe’, sebagai uang jasa atas keikutsertaan modal milik pengambe’. Hal ini seperti yang diutarakan pengambe’-1 yang menyatakan :
”den kule ngalak bagian per kilo neka mon juko’
pas rang-larang, kulo nglalak bagian sebu lema’, king mon depak juko’ de-mude, gih kule gun ngalak sekonek, nek-sekonek ebeng, ling gun ngalak lemaratus. Peseh neka ibarata mon cak reng penter e nyama uang jasa, neka pun lumrah e dina’”
(saya ambil bagian per kilo ini kalau waktu ikan
PROSIDING PENELITIAN
104
mahal, saya ambil bagian seribu lima ratus, tapi kalau waktu ikan murah, ya saya Cuma ambil sedikit, sama-sama sedikit, paling Cuma ambil lima ratus. Uang ini ibaratnya, kalau kata orang pintar yang dinamakan uang jasa, ini sudah lumrah di sini)
Bagi juragan darat yang berhutang mungkin wajar kalau harus membayar semacam ”bunga”
atau uang jasa tersebut kepada pengambe’ atas penggunaan modal milik pengambe’, tetapi bagi juragan laut, dan para pandhega, maka hal ini tidak ada hubungannya. Karena juragan laut dan pandhega tidak ikut berhutang, tetapi hasilnya ikut dipotong, seperti yang diungkapkan oleh nelayan-5 sebagai berikut : ”sing utang niku lak juragan-ne, ning nopo kulo koq tumut dipotong, niku lak mboten adil namine” (yang hutang itu kan juragannya, tetapi mengapa saya ikut dipotong,itu kan tidak adil namanya). Dengan sistem ini, nelayan buruh yang sama sekali tidak terlibat hutang, ikut menanggung hutang, dan ini sepanjang masa, sepanjang juragan masih punya hutang kepada pengambe’.
4. Sistem Bagi hasil yang tidak sebanding, hal ini seperti diketahu pada bab IV sebelumnya, bahwa sistem bagi hasil rata-rata dilaksanakan dengan sistem separo hasil untuk pemilik perahu dengan segala peralatannya, seperempat hasil untuk juru mudi/nahkoda dan seperempat hasil lainnya untuk para pandhega/ABK. Kondisi ini memberikan kontribusi yang besar terhadap ketimpangan penghasilan. Namun demikian, pandhega/nelayan buruh ini tidak memiliki kekuatan untuk melawan juragan, kalaupun ada perlawanan sifatnya hanya sembunyi-sembmunyi dengan cara mencuri sedikit hasil tangkapan.
5. Sistem bagi hasil yang tidak transparan. Sistem bagi hasil yang sudah tidak seimbang seperti tersebut dalam point 4, masih ditambah lagi dengan ketidak transparanan juragan dalam menghitung hasil tangkapan. Seperti diketahui, bahwa terhadap hasil tangkapan tersebut berapa kuantitasnya dalam kg, nelayan tidak tahu, yang ia tahu bahwa hasil yang diperoleh tersebut dalam hitungan ”gendung”. Sementara hasil dijual dengan takaran kg atau kwintal. Nelayan hanya dapat menduga bahwa dalam satu gendung tedapat 15 potong, dan dalam setiap potong kira-kira 4-5 kg. Nelayan hanya dapat menduga bahwa dalam satu gendung hanya berisi ikan seberat 60 – 70 kg saja. Padahal, dalam pengamatan peneliti, dalam satu gendung setelah
ditimbang dengan benar, berat ikan mencapai rata-rata 90 kg per gendung, dan ini jumlah yang dibayar pedagang.
6. Pola hidup boros dan tidak terencana. Nelayan, apabila pada musim panen ikan cenderung bersifat boros dan menghambur-hamburkan uang, untuk keperluan yang tidak baik, seperti berjudi, minum-minuman keras, ke pelacuran, dan berfoya-foya. Hal ini seperti diungkapkan tokoh masyarakat-3, sebagai berikut :
“nanti sampean pada malam minggu, datang saja ke lapangan, nanti sampean akan menyaksikan pesta minum-minuman keras yang luar biasa, dan bahkan ada yang pesta pil koplo, itu semua dilakukan oleh nelayan-nelayan muda, mereka hura-hura.
Meskipun muda mereka sebenarnya juga sudah berkeluarga”
Dan benar saja, peneliti melakukan pengamatan di lapangan pada beberapa malam minggu saat musim ikan, hasilnya didapati banyak anak-anak muda bergerombol sambil minum-minuman keras, dalam bentuk berkelompok. Terkait dengan judi, ternyata judi dilakukan dengan sangat tertutup dan sembunyi-sembunyi. Sementara judi yang lebih terbuka adalah dalam bentuk judi togel, tetapi anehnya judi togel justru marak pada saat musim paceklik, karena judi jenis ini nilainya sangat kecil. Lokalisasipun juga akan ramai pada saat mmusim ikan, meskipun stautus lokalisasi tersebut sebenarnya sudah ditutup. Namun secara illegal tetap buka, dan ini diketahui oleh aparat desa.
Kemiskinan yang merupakan indikator ketertinggalan masyarakat pesisir ini disebabkan paling tidak oleh tiga hal utama, yaitu (1) kemiskinan struktural, (2) kemiskinan super-struktural, dan (3) kemiskinan kultural (Nikijuluw. 2001). Lebih lanjut Victor P.H. Nikijuluw menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena pengaruh faktor atau variabel eksternal di luar individu. Adapun yang dimaksud dengan variabel-variabel tersebut adalah struktur sosial ekonomi masyarakat, ketersediaan insentif atau disinsentif pembangunan, ketersediaan fasilitas pembangunan, ketersediaan teknologi, dan ketersediaan sumberdaya pembangunan khususnya sumberdaya alam. Hubungan antara variabel-variabel ini dengan kemiskinan umumnya bersifat terbalik.
Artinya semakin tinggi intensitas, volume dan kualitas variabel-variabel ini maka kemiskinan semakin berkurang. Khusus untuk variabel struktur sosial ekonomi, hubungannya dengan kemiskinan lebih sulit
ditentukan. Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang terjadi di sekitar atau di lingkup nelayan menentukan kemiskinan dan kesejahteraan mereka.
Sementara yang dimaksud dengan kemiskinan super-struktural Victor P.H. Nikijuluw menjelaskan bahwa kemiskinan super struktural adalah kemiskinan yang disebabkan karena variabelvariabel kebijakan makro yang tidak begitu kuat berpihak pada pembangunan nelayan. Variabel-variabel superstruktur tersebut diantaranya adanya kebijakan fiskal, kebijakan moneter, ketersediaan hukum dan perundang-undangan, kebijakan pemerintahan yang diimplementasikan dalam proyek dan program pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini sangat sulit diatasi bila saja tidak disertai keinginan dan kemauan secara tulus dari pemerintah untuk mengatasinya. Kesulitan tersebut juga disebabkan karena kompetisi antar sektor, antar daerah, serta antar institusi yang membuat sehingga adanya ketimpangan dan kesenjangan pembangunan. Kemiskinan super-struktural ini hanya bisa diatasi apabila pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah, memiliki komitmen khusus dalam bentuk tindakan-tindakan yang bias bagi kepentingan masyarakat miskin. Dengan kata lain affirmative actions, perlu dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun daerah.
Adapun yang dimaksud dengan kemiskinan kultural, dijelaskan Victor P.H. Nikijuluw adalah sebagai kemiskinan yang disebabkan karena variabel-variabel yang melekat, inheren, dan menjadi gaya hidup tertentu. Akibatnya sulit untuk individu bersangkutan keluar dari kemiskinan itu karena tidak disadari atau tidak diketahui oleh individu yang bersangkutan. Variabel-variabel penyebab kemiskinan kultural adalah tingkat pendidikan, pengetahuan, adat, budaya, kepercayaan, kesetiaan pada pandangan-pandangan tertentu, serta ketaatan pada panutan.
Kemiskinan secara struktural ini sulit untuk diatasi.
Umumnya pengaruh panutan (patron) baik yang bersifat formal, informal, maupun asli (indigenous) sangat menentukan keberhasilan upaya-upaya pengentasan kemiskinan kultural ini. Penelitian di beberapa negara Asia yang masyarakatnya terdiri dari beberapa golongan agama menunjukkan juga bahwa agama serta nilai-nilai kepercayaan masyarakat memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap status sosial ekonomi masyarakat dan keluarga (Nikijuluw. 2001)
Sementara Kusnadi (2003) membedakan faktor penyebab kemiskinan nelayan dalam dua kelompok.
Pertama, sebab-sebab kemiskinan nelayan yang
bersifat internal, mencakup: (1) keterbatasan kualitas sumber daya manusia nelayan; (2) keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi penangkapan;
(3) hubungan kerja dalam organisasi penangkapan yang seringkali kurang menguntungkan buruh; (4) kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan;
(5) ketergantungan yang tinggi terhadap okupasi melaut; dan (6) gaya hidup yang dipandang boros, sehingga kurang berorientasi ke masa depan. Kedua, sebab-sebab kemiskinan yang bersifat eksternal, mencakup: (1) kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi pada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan parsial; (2) sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara; (3) kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, perusakan terumbu karang, dan konversi hutan bakau di kawasan pesisir; (4) penggunaan peralatan tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan; (5) penegakan hukum yang lemah terhadap perusak lingkungan; (6) terbatasnya teknologi pengolahan pasca panen; (7) terbatasnya peluang kerja di sektor non-perikanan yang tersedia di desa nelayan;
(8) kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan melaut sepanjang tahun; dan (9) isolasi geografis desa nelayan yang mengganggu mobilitas barang, jasa, modal dan manusia (Sudarso.
2007)
Lebih jauh diungkapkan Sudarso, bahwa kemiskinan nelayan terkait dengan dua hal, yaitu faktor alamiah dan non alamiah. Faktor alamiah, yakni yang berkaitan dengan fluktuasi musim-musim penangkapan dan struktur alamiah sumber daya ekonomi desa. Faktor non alamiah, yakni berhubungan dengan keterbatasan daya jangkau teknologi penangkapan, ketimpangan dalam sistem bagi hasil dan tidak adanya jaminan sosial tenaga kerja yang pasti, lemahnya penguasaan jaringan pemasaran dan belum berfungsinya koperasi nelayan yang ada, serta dampak negatif kebijakan modernisasi perikanan yang telah berlangsung sejak seperempat abad terakhir ini (Sudarso. 2007)
Kemiskinan nelayan juga terjadi di Malaysia, dan menurut Nik Hashim terdapat enam faktor yang menyebabkan mengapa nelayan di Malaysia mengalami kemiskinan. Keenam faktor tersebut seperti yang dinyatakan oleh Mohammad Raduan, Mohammad Sharir & Zarina Aziz sebagai berikut :
“Enam faktor yang diyakini sebagai punca kemiskinan nelayan : (i) Kekurangan modal untuk
PROSIDING PENELITIAN
106
membeli bot-bot dan peralatan modern, (ii) daya pengeluaran nelayan yang rendah, (iii) tingkat atau kadar pelaburan semula nelayan yang rendah, (iv) sistem perkongsian yang diamalkan dalam operasi penangkapan, (v) sistem harga yang merugikan nelayan dan (vi) corak penangkapan ikan yang bermusim. (Raduan, dkk. 2007)
Nelayan, sebagai kaum miskin kronis adalah mereka yang mengalami kekurangan kemampuan secara signifikan untuk jangka waktu lima tahun atau lebih dan dapat dibedakan dari orang miskin sementara yang cenderung mampu bergerak keluar-masuk dari kemiskinan (Hickey dan Bracking. 2005). Kemiskinan kronis terjadi ketika individu secara keuangan miskin, terhambat, kurang gizi dan atau putus sekolah di usia sekolah (Baulch dan Masset. 2003). Karakteristik yang paling sering dikaitkan dengan kemiskinan kronis adalah beberapa situasi yang tidak menguntungkan, yang berhubungan dengan satu atau lebih dari hal-hal berikut: modal manusia, komposisi demografis, lokasi, aset fisik, dan jenis pekerjaan, dan beberapa lainnya (Mckay dan Lawson. 2003). Karakteristik umum dari banyak orang miskin kronis di India adalah bahwa mereka mengalami beberapa bentuk yang merugikan, misalnya, janda kasta rendah dengan kondisi sakit-sakitan dan tinggal di daerah pedesaan yang terpencil (Mehta dan Shah. 2003). Ukuran baru dari kemiskinan kronis berfokus pada kerentanan rumah tangga miskin terhadap beberapa guncangan yang terjadi saja, meskipun konsumsi rata-rata mereka sudah terletak agak jauh di atas garis kemiskinan (Mc Culloch dan Calandrino. 2004) Sebagian besar dari individu yang menderita miskin kronis memiliki akses ke jaringan sosial yang minimal dan dan bahkan beberapa kehilangan unsur-unsur dasar dari jaminan sosial, sehingga dan menjadi lebih miskin.