DAFTAR LAMPIRAN
C. PENELITIAN UTAMA
2. Hasil Karakterisasi Bioplastik a Densitas
Nilai densitas bioplastik Tween20 0%, 5%, 10%, dan 15% secara berturut-turut yaitu 0,67 g/cm3, 0,64 g/cm3, 0,62 g/cm3 dan 0,52 g/cm3. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi penambahan konsentrasi pemlastis Tween20 maka semakin rendah densitas yang dihasilkan. Hal itu disebabkan oleh terbentuknya ikatan hidrogen pada saat penambahan pemlastis Tween20. Hasil denstitas bioplastik dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Grafik hubungan densitas (g/cm3) dengan konsentrasi Tween20 (%)
Ikatan hidrogen menyebabkan struktur rantai polimer semakin berongga. Semakin banyak pemlastis Tween20 yang ditambahkan, semakin banyak ikatan hidrogen yang terbentuk. Semakin banyak ikatan hidrogen yang terbentuk, maka struktur polimer semakin berongga, ruangan di antara molekul-molekul akan menjadi lebih besar, sehingga volume bertambah dan densitas pun berkurang. Proses pembentukan ikatan hidrogen antara PHA dan Tween20 diduga terjadi seperti tergambar pada Gambar 12.
Nilai densitas bioplastik yang dihasilkan lebih rendah jika dibandingkan dengan densitas PHA (PHB) menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) yaitu sebesar 1,2 - 1,5 g/cm3. Lafferty et al di dalam Rehm dan Reed (1988) mengatakan bahwa nilai densitas yang rendah menunjukkan daerah amorf (tidak teratur) yang lebih besar daripada daerah kristalin (teratur). Oleh karena itu bisa diartikan rendahnya densitas bioplastik yang dihasilkan, disebabkan oleh daerah amorf yang lebih besar.
0.52 0.62 0.64 0.67 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0 5 10 15 Konsentrasi Tw een20 (%)
Gambar 12. Proses pembentukan (a) ikatan hidrogen antara (b) PHA dan (c) Tween20 (berdasarkan Syarifuddin, 1994)
b. Kekuatan Tarik
Kekuatan tarik merupakan salah satu karakterisasi terhadap sifat mekanik suatu bahan polimer. Pengukuran kekuatan tarik akan menghasilkan dua hasil uji yaitu kekuatan tarik saat putus (tensile strength) dan perpanjangan pada saat putus (elongation at break). Hasil pengujian kekuatan tarik dan perpanjangan putus selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8. Grafik hubungan kekuatan tarik dan konsentrasi Tween20 dapat dilihat pada Gambar 13.
Pada grafik hubungan kekuatan tarik dengan konsentrasi Tween20, dapat dilihat bahwa terjadi penurunan kekuatan tarik seiring dengan peningkatan konsentrasi Tween20. Hal itu sesuai dengan pernyataan Figuly (2004) yang mengatakan bahwa pemlastis yang ditambahkan ke dalam suatu polimer cenderung menurunkan kekuatan tarik polimer tersebut. Penurunan kekuatan tarik tersebut disebabkan oleh terbentuknya ikatan hidrogen antara PHA dan pemlastis Tween20 (Beeler dan Finney di dalam Anonim, 1982).
(a)
(b)
Gambar 13. Grafik hubungan kekuatan tarik (tensile strenght) (MPa) dengan konsentrasi Tween20 (%)
Ikatan hidrogen jauh lebih lemah dibandingkan dengan ikatan kovalen. Energi ikatan hidrogen berkisar antara 0,4 sampai 40 kJ/mol dan hanya merupakan sepersepuluh kekuatan ikatan kovalen (Companion, 1991). Semakin banyak pemlastis yang ditambahkan maka semakin banyak ikatan hidrogen yang terbentuk sehingga ikatan dalam polimer semakin lemah. Ikatan yang semakin lemah menyebabkan gaya yang dibutuhkan untuk memutuskan rantai ikatan semakin rendah. Hal ini yang menyebabkan nilai kekuatan tarik semakin menurun.
Bioplastik PHA tanpa penambahan pemlastis (Tween20 0%) mempunyai kekuatan tarik sebesar 3,11 MPa. Angka ini menunjukkan bahwa diperlukan gaya sebesar 3,11 N untuk memutus rantai polimer bioplastik per satu satuan luas mm2. Nilai kekuatan tarik yang dihasilkan bioplastik ini sangat berbeda dengan nilai kekuatan tarik PHB menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991), yaitu sebesar 40 MPa. Hal ini dikarenakan perbedaan derajat kristalinitas (Cowd,1991). Derajat kristalinitas yang dimiliki bioplastik PHA dari hidrolisat pati sagu lebih rendah (50,52%) dibandingkan derajat kristalinitas PHB menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) (65-80%). Derajat kristalinitas yang
1.38 2.26 2.28 3.11 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 0 5 10 15 Konsentrasi Tw een20 (%)
lebih rendah menunjukkan daerah kristalin yang lebih rendah. Daerah kristalin yang lebih rendah menunjukkan gaya antarrantai polimer yang lebih rendah sehingga gaya yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan pun semakin rendah.
c. Perpanjangan Putus
Pengujian perpanjangan putus dilakukan untuk mengetahui besarnya pertambahan panjang suatu polimer sebelum akhirnya putus. Pengukuran perpanjangan putus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kekuatan tarik. Hasil pengujian perpanjangan putus dapat dilihat pada Gambar 14.
Gambar 14. Grafik hubungan perpanjangan putus (%) dengan konsentrasi Tween20 (%)
Pada grafik hubungan perpanjangan putus dengan konsentrasi Tween20, dapat dilihat bahwa bioplastik tanpa penambahan pemlastis (Tween20 0%) mempunyai perpanjangan putus sebesar 1,06 %. Angka ini menunjukkan bahwa dengan gaya sebesar 3,11 MPa, maka bioplastik dapat dipanjangkan hingga 1,06% dari panjang semula.
Penambahan pemlastis Tween20 sebesar 5% mampu meningkatkan perpanjangan putus menjadi 1,22 %. Peningkatan nilai perpanjangan putus ini sesuai dengan pernyataan Figuly (2004) yang mengatakan
0.99 1.11 1.22 1.06 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 0 5 10 15 Konsentrasi Tween20 (%)
bahwa pemlastis yang ditambahkan dapat meningkatkan perpanjangan putus suatu bahan polimer. Peningkatan perpanjangan putus ini disebabkan oleh terbentuknya ikatan hidrogen antara molekul PHA dan molekul Tween20. Ikatan hidrogen lebih panjang dari ikatan kovalen tetapi ikatannya lebih lemah (Companion, 1991). Semakin banyak ikatan hidrogen yang terbentuk menyebabkan rantai semakin panjang. Oleh karena itu terjadi peningkatan perpanjangan putus rantai setelah penambahan pemlastis Tween20.
Pada grafik hubungan perpanjangan putus dengan konsentrasi Tween20 dapat dilihat bahwa perpanjangan putus tertinggi didapatkan pada titik konsentrasi Tween20 5% kemudian menurun setelah ditambahkan Tween20 sebesar 10% dan 15%. Hal ini menunjukkan bahwa titik jenuh pembentukan ikatan hidrogen PHA dengan molekul Tween20 terjadi pada konsentrasi Tween20 5% dimana gugus OH pada PHA telah habis berikatan dengan molekul Tween20. Apabila ditambahkan pemlastis lagi, maka akan menyebabkan molekul pemlastis tambahan tersebut dalam keadaan bebas sehingga menghambat pemuluran rantai PHA dan Tween20 yang terbentuk. Oleh karena itu terjadi penurunan perpanjangan putus pada konsentrasi Tween20 10% dan 15%.
Nilai perpanjangan putus bioplastik PHA yang dihasilkan (1,06%) berbeda dengan perpanjangan putus PHB menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) yaitu sebesar 6-8%. Sifat suatu bahan polimer dipengaruhi panjang rantai polimer (bobot molekul), susunan rantai di dalam polimer, serta derajat kekristalan (Cowd, 1991). Dalam hal ini, perbedaan perpanjangan putus antara bioplastik dengan perpanjangan putus PHB menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) disebabkan oleh panjang rantai polimer (bobot molekul) berbeda. Bobot molekul PHB menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) yaitu sebesar 1.105- 8.105.
Bobot molekul suatu polimer dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain metode isolasi (ekstraksi granula PHB dari biomassa prokariotik), galur bakteri yang digunakan, waktu pemanenan sel, substrat yang digunakan, serta kondisi kultivasi (suhu, tekanan oksigen) (Laffertyet aldi dalam Rehm dan Reed, 1988). Brandlet al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) tidak menyebutkan metode isolasi, galur bakteri, waktu pemanenan sel, substrat, serta kondisi kultivasi yang digunakan untuk pembentukan PHB-nya, tetapi apabila dalam proses pembentukan bioplastik PHB terdapat salah satu faktor yang berbeda maka bioplastik yang dihasilkan akan mempunyai bobot molekul yang berbeda. Perpanjangan putus bioplastik PHA pati sagu yang lebih rendah menunjukkan bobot molekul yang lebih rendah dari PHB menurut Brandl et al (1990) di dalam Atkinson dan Mavituna (1991) yaitu lebih rendah dari nilai 1.105.
d. Analisa Hubungan Kekuatan Tarik dan Perpanjangan Putus Hasil dari pengukuran kekuatan tarik dan pengukuran perpanjangan putus bioplastik dihubungkan dalam kurva yang disebut sebagai kurva tegangan-regangan (stress-strain curve). Tiap formulasi bioplastik yang dihasilkan (Tween20 0%, 5%, 10%, dan 15%), diplotkan pada kurva yang berbeda-beda untuk menunjukkan perbedaan karakteristik dari bioplastik yang dihasilkan.
Dari keempat kurva tegangan-regangan bioplastik yang dihasilkan, terlihat bahwa nilai perpanjangan putus (regangan) terbesar terdapat pada bioplastik dengan konsentrasi Tween20 sebesar 5%. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik terbaik bioplastik yang dihasilkan berdasarkan sifat elastisitasnya terdapat pada bioplastik Tween20 5%.
Gambar 15. Kurva tegangan-regangan bioplastik.
Kurva tegangan-regangan dapat menggambarkan tipe karakteristik bahan polimer. Menurut Allcock dan Lampe (1981), terdapat lima tipe karakteristik bahan polimer berdasarkan kurva tegangan-regangan yang dapat dilihat pada Gambar 16.
Gambar 16. Karakteristik kurva tegangan-regangan lima tipe bahan polimer (Allcock dan Lampe, 1981)
Berdasarkan lima tipe bahan menurut Allcock dan Lampe (1981), kurva tegangan-regangan bioplastik PHA yang dihasilkan tanpa penambahan pemlastis (Tween20 0%) menunjukkan karakteristik bahan polimer tipe (c) yaitu tipe karakterisitik kaku dan rapuh. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya kekuatan tarik bahan polimer dibandingkan perpanjangan putusnya. Namun seiring dengan penambahan pemlastis, kurva tegangan-regangan bioplastik cenderung menuju tipe kurva (a) yaitu tipe karakteristik elastis namun lemah.
Berdasarkan karakteristik tegangan-regangan bahan bioplastik yang dihasilkan, aplikasi yang cocok untuk bioplastik tersebut yaitu sebagai bahan penyalut obat lepas lambat (slow release medicine). Obat lepas lambat berbeda dari obat lainnya dalam hal kecepatan pengeluaran zat aktif dalam obat tersebut. Menurut Sinaga (2004) obat yang dikapsulkan semata-mata untuk menutupi rasa atau baunya yang tidak enak, menggunakan bahan kapsul yang larut air. Zat aktif dalam obat tersebut akan segera dikeluarkan jika sudah masuk dalam tubuh karena sifat penyalutnya yang larut air. Namun pada obat lepas lambat mempunyai tujuan khusus. Obat-obat lepas lambat (slow release medicine) dirancang untuk bekerja secara bertahap, 8 jam, 12 jam, 24 jam atau lebih. Zat aktifnya dilepas sedikit demi sedikit dari formulasinya untuk diserap oleh tubuh dan bekerja dalam waktu yang cukup panjang. Dosisnya sudah diatur sedemikian rupa sehingga penyerapannya oleh tubuh sesuai dengan keperluan (Sinaga, 2004).
Mekanisme kerja obat lepas lambat (slow release medicine) dapat dilihat pada Gambar 17. Bahan penyalut untuk obat lepas lambat (slow release medicine) ini harus mempunyai karakteristik tidak larut air supaya tidak mudah terdegradasi pada tubuh mengandung 80% air. Sifat PHA yang tidak larut air cocok dengan karakteristik yang diperlukan sebagai bahan penyalut untuk obat lepas lambat (slow release medicine).
Gambar 17. Mekanisme kerja obat lepas lambat (slow release medicine) (Allcock dan Lampe, 1981)
Hal yang perlu diperhatikan bahan penyalut untuk obat lepas lambat (slow release medicine) adalah kecepatan degradasinya dalam tubuh, serta sifat bahannya yang tidak beracun. Bioplastik PHA dapat terdegradasi dalam tubuh melalui reaksi enzimatis. Enzim depolymerase yang terdapat dalam tubuh manusia dapat memecah polimer PHA menjadi monomer-monomernya. Hasil degradasi PHA yaitu asam D(-)-3-hidroksialkanoat merupakan bahan metabolit intermediat pada semua organisme tingkat tinggi termasuk manusia. Monomernya dapat berperan sebagai metabolisme lipid dan berfungsi sebagai sumber energi bagi jaringan tubuh terutama hati dan otak (Lafferty et al di dalam Rehm dan Reed, 1988). Tween20 merupakan satu jenis pemlastis dari golongan asam lemak tersubstitusi. Tween20 merupakan turunan dari PEG-sorbitan monolaurat. Sorbitan monolaurat sendiri merupakan hasil esterifikasi antara sorbitol dan asam laurat. Tween20 bersifat tidak beracun (non toxic) karena terbuat dari bahan alami yaitu minyak kelapa dan bersifat biodegradabel. WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa jumlah konsumsi Tween20 yang dapat diterima tubuh manusia sekitar 0-25 mg/kg berat tubuh (Anonimc, 2006).
e. Analisa Gugus Fungsi
Analisa gugus fungsi bioplastik dilakukan untuk mengindentifikasikan struktur bioplastik baik yang mengandung senyawa organik maupun senyawa anorganik. Analisa gugus fungsi dilakukan dengan menggunakan Fourier Transform Infra Red Spectrofotometer (FTIR). Hasil analisa gugus fungsi pada bioplastik tanpa pemlastis (Tween20 0%) dan bioplastik konsentrasi Tween20 5% dapat dilihat pada Gambar 18.
(a)
(b)
Gambar 18. Hasil FTIR pada bioplastik Tween20 0% (a) dan bioplastik Tween20 5% (b)
Identifikasi gugus fungsi pada bioplastik Tween20 0% pada Tabel 8 menunjukkan bahwa gugus-gugus pembentuk struktur rantai PHA (Gambar 1) terdapat pada bioplastik tersebut. Gugus-gugus tersebut antara lain C=O/C-O-C ester, CH2, OH karboksilat, CH serta CH3. Gugus ester yang terlihat pada hasil spektrum FTIR bioplastik Tween20 0% menunjukkan ikatan antar monomer PHA membentuk polimer PHA. Gugus OH karboksilat menunjukkan gugus OH pada ujung-ujung rantai PHA. Gugus CH3 (metil) menunjukkan jenis PHA pada bioplastik yaitu jenis PHB. Hal ini sesuai pernyataan Doi et al (1990) yang menyebutkan bahwa jenis polimer yang diproduksi oleh Ralstonia eutropha adalah homopolimer PHB dengan penggunaan glukosa sebagai substrat. Pada identifikasi gugus fungsi pada bioplastik Tween20 0% juga memperlihatkan adanya gugus NH amida protein pada bioplastik yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lafferty et al di dalam Rehm dan Reed (1988) yang menyebutkan bahwa komposisi PHB yang terisolasi dari granula terdiri dari 98% PHB dan 2% protein.
Pada tabel identifikasi gugus fungsi bioplastik dengan konsentrasi Tween20 5%, terlihat adanya puncak absorbansi (peak) gugus OH ikatan hidrogen. Hal ini membuktikan bahwa perubahan karakteristik pada bioplastik PHA dengan penambahan pemlastis Tween20 disebabkan oleh terbentuknya ikatan hidrogen antara molekul PHA dan molekul Tween20. Pada tabel hasil identifikasi gugus fungsi bioplastik 5% Tween20 juga memperlihatkan gugus-gugus dominan pada molekul Tween 20, yaitu gugus C-O eter serta C=O/C-O-C ester. Pada tabel hasil identifikasi gugus fungsi bioplastik 5% Tween20, tidak terlihat adanya puncak absorbansi (peak) gugus OH asam karboksilat seperti yang terlihat pada hasil identifikasi bioplastik 0% Tween20. Hal ini menunjukkan bahwa gugus OH karboksilat pada rantai PHA telah habis bereaksi dengan molekul Tween20 membentuk ikatan hidrogen.
Tabel 8. Identifikasi Gugus Fungsi Bioplastik
Bioplastik 0% Tween20 Bioplastik 5% Tween20 No Bilangan Gelombang (cm-1) Inten- sitas Identifikasi Bilangan Gelombang (cm-1) Inten- sitas Identifikasi 1 3440,38 sedang NH amida protein 2969,83*/** sedang OH (ikatan hidrogen) 2 2974,79* sedang OH karboksilat 2877,27*/** sedang CH (stretching)
3 2931,13* tajam 1722,51*/** tajam C=O ester 4 2854,13* sedang CH 1457,92 rendah ttd 5 1751,04* tajam C=O ester 1380,78* rendah CH3 6 1455,57* sedang CH2 1283,92*/** sedang C-O ester 7 1380,61* tajam CH3 1227,35*/** sedang C-O ester
8 1310,87 tajam N=O 1132,58** sedang C-O eter 9 1310,87-
1064,10* tajam
C-O-C
polimer 1055,60** sedang C-O eter 10 979,65-
462,83 sedang ttd
979,66-
516,82 rendah ttd Catatan: Berdasarkan Nur dan Adijuwana, 1989
*Gugus fungsi PHA ** Gugus fungsi Tween20
ttd = tidak diketahui
f. Analisa Sifat Termal
Sifat termal suatu polimer ditentukan oleh titik leleh (melting point, Tm) maupun suhu transisi kaca (glass transition temperature, Tg). Hasil analisa sifat termal DSC pada bioplastik Tween20 0% dan bioplastik Tween20 5% dapat dilihat pada Gambar 19.
Pada hasil analisa termal DSC bioplastik Tween20 0% (Gambar 19.a) terlihat bahwa terdapat dua puncak penyerapan energi untuk melelehkan sampel (titik leleh, Tm) yaitu sebesar 13,91 J/g pada suhu 149,84oC serta 73,76 J/g pada suhu 168,72oC. Dua titik leleh menunjukkan terdapatnya dua buah komponen pada bioplastik 0% Tween20. Komponen dengan titik leleh sebesar 168,72 oC merupakan komponen PHB karena menurut Lafferty et al di dalam Rehm dan Reed (1988) titik leleh PHB bervariasi di antara 157oC – 188oC. Puncak penyerapan energi yang tajam pada suhu tersebut menunjukkan bahwa PHB merupakan komponen dominan penyusun
bioplastik tersebut. Komponen dengan titik leleh sebesar 149,84oC, diduga sebagai pengotor bioplastik karena bioplastik yang dihasilkan tidak 100% murni PHB tetapi terdapat komponen-komponen lain seperti protein (+ 2%) (Laffertyet al di dalam Rehm dan Reed, 1988).
(a)
(b)
Gambar 19. Hasil analisa termal DSC pada bioplastik Tween20 0% (a) dan bioplastik Tween20 5% (b)
Pada hasil analisa termal DSC bioplastik Tween20 5% (Gambar 19.b) terlihat adanya tiga titik leleh komponen penyusun bioplastik yaitu 30,54oC, 144,54oC dan 163,88oC. Komponen dengan titik leleh sebesar 163,88oC merupakan komponen PHB sesuai dengan pernyataan Lafferty et al di dalam Rehm dan Reed (1988). Dua komponen lainnya merupakan komponen pengotor. Bertambahnya komponen pengotor disebabkan oleh ditambahkannya pemlastis ke dalam bioplastik yang dihasilkan.
Komponen PHB pada bioplastik Tween20 5% mempunyai titik leleh yang lebih rendah (163,88oC) jika dibandingkan titik leleh komponen PHB pada bioplastik 0% Tween20 (168,72oC). Hal ini disebabkan komponen PHB pada bioplastik 5% Tween20, tidak murni PHB tetapi sudah berikatan hidrogen dengan molekul Tween20. Hal ini sesuai dengan pernyataan Figuly (2004) yang menyatakan bahwa pemlastis yang ditambahkan dapat menurunkan titik leleh komposisi. Penurunan titik leleh inilah yang diinginkan setelah penambahan pemlastis karena dengan titik leleh yang lebih rendah pemrosesan bioplastik dengan metode pelelehan dapat dilakukan karena rentang antara suhu pelelehan dengan suhu degradasi bioplastiknya semakin jauh.
Hasil analisa termal DSC baik pada bioplastik 0% Tween20 maupun bioplastik 5% Tween20 tidak memperlihatkan adanya suhu transisi gelas (Tg). Hal ini disebabkan karena bioplastik PHA merupakan jenis polimer semikristalin yang memiliki daerah kristalin maupun daerah amorf. Jenis polimer yang benar-benar kristalin (tidak memiliki daerah amorf) tidak mempunyai suhu Tg. Jenis polimer yang benar-benar amorf (tidak memiliki daerah kristalin), suhu Tg-nya dapat terukur dengan jelas. Namun pada polimer semikristalin, suhu Tgtidak dapat diukur dengan jelas karena suhu Tg hanya terukur pada daerah amorf pada polimer semikristalin tersebut (Rabek, 1983).
g. Derajat kristalinitas
Pengukuran derajat kristalinitas dilakukan untuk mengetahui besarnya daerah kristalin pada suatu bahan polimer. Hasil pengukuran derajat kristalinitas berdasarkan entalpi pelelehan bioplastik dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Hasil pengukuran derajat kristalinitas berdasarkan entalpi pelelehan bahan.
Bioplastik Entalpi pelelehan
sampel (∆Hf) Kristalinitas (Xc)
0% Tween20 73,76 J/g 50,52 %
5% Tween20 72,81 J/g 49,86 %
Dari hasil pengukuran derajat kristalinitas dapat dilihat bahwa terjadi penurunan kristalinitas bioplastik tanpa pemlastis (0% Tween20) yaitu sebesar 50,52 % menjadi 49,86 % sesudah ditambahkan pemlastis (5% Tween20). Penurunan derajat kristalinitas menunjukkan penurunan daerah kristalin pada polimer bioplastik. Penurunan daerah kristalin menunjukkan penyusunan struktur rantai yang semakin tidak teratur. Susunan rantai yang semakin tidak teratur (amorf) menyebabkan sifat polimer semakin elastis. Ketidakteraturan struktur polimer tersebut disebabkan oleh adanya ikatan hidrogen antara PHA dan molekul Tween20.
Derajat kristalinitas bioplastik yang dihasilkan (50,52%) lebih rendah dibandingkan dengan PHB menurut Brand et al (1990) di dalam Atkinson dan Mativuna (1991) yaitu sebesar 65-80%. Hal ini menunjukkan bahwa daerah kristalin pada bioplastik PHA dari substrat hidrolisat pati sagu lebih rendah sehingga sifat polimer yang dihasilkan lebih elastis dibandingkan PHB menurut Brand et al (1990) di dalam Atkinson dan Mativuna (1991).
Derajat kristalinitas berhubungan dengan sifat mekanik bahan polimer yaitu kekuatan tarik. Suatu polimer dengan derajat kristalinitas
yang tinggi mempunyai keteraturan struktur yang tinggi, rantainya dapat saling mendekat dalam jarak yang dekat secara sejajar. Jarak yang dekat ini menyebabkan gaya antarrantai yang kuat pada polimer tersebut. Gaya antarrantai yang kuat menyebabkan kekuatan untuk memutuskan rantai juga semakin besar. Oleh karena itu suatu polimer yang memiliki derajat kristalinitas yang tinggi, kekuatan tariknya akan tinggi pula.