SEKOLAH DASAR
HASIL Karakteristik Anak dan Keluarga
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan rata-rata usia anak perempuan dengan rentang usia seluruh anak antara 9 sampai 13 tahun. Berdasarkan hasil uji beda, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara usia anak laki-laki dan anak perempuan. Untuk karakteristik keluarga, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan keluarga anak laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pendapatan keluarga anak perempuan dengan kisaran pendapatan keluarga seluruh anak antara Rp 700.000 sampai Rp 19.000.000 per bulan. Untuk usia ibu, rata-rata usia ibu pada anak laki-laki lebih tinggi dari rata-rata usia ibu pada anak perempuan. Sementara itu, rata-rata lama pendidikan ibu anak perempuan lebih tinggi dari rata-rata lama pendidikan ibu anak laki-laki. Meskipun terdapat perbedaan rata-rata dari variabel karakteristik keluarga antara anak laki-laki dan perempuan, namun hasil uji beda menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara anak laki-laki dengan anak perempuan untuk variabel karakteristik keluarga.
Tabel 3 Rata-rata karakteristik keluarga berdasarkan jenis kelamin anak
Berdasarkan status bekerja ibu (Tabel 4), proporsi terbesar ibu dalam penelitian ini adalah tidak bekerja dengan persentase 78% pada anak laki-laki dan 68% pada anak perempuan, sedangkan sisanya merupakan ibu bekerja. Adapun pekerjaan ibu pada anak laki-laki adalah pegawai negeri sipil (8%), karyawan swasta (4%), wiraswasta (6%) dan pekerjaan lainnya (4%). Sementara pekerjaan ibu pada perempuan adalah pegawai negeri sipil (2%), karyawan swasta (12%), wiraswasta (4%) dan pekerjaan lainnya (14%).
Karakteristik Keluarga
Min – Maks
Laki-laki Perempuan Uji
Beda T-test Rata-rata ± sd Rata-rata ± sd Usia Anak (tahun) 9 - 13 11.06 ± 0.682 10.96 ± 0.669 0.461 Pendapatan keluarga (Rp/bln dalam ribuan) 700 - 19000 3354560±3037682.2 3488800±2797839.3 0.819
Usia ibu (tahun) 29 - 56 41.12±4.619 39.42±6.185 0.123
Lama Pendidikan Ibu (tahun)
Tabel 4 Sebaran responden menurut status bekerja ibu berdasarkan jenis kelamin responden
Gaya Pengasuhan Ibu
Tabel 5 menunjukkan bahwa rata-rata skor gaya pengasuhan authoritative dan permisive ibu pada anak laki laki lebih rendah daripada anak perempuan, akan tetapi rata-rata skor gaya pengasuhan authoritarian ibu pada anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan. Berdasarkan uji beda gaya pengasuhan ibu pada anak laki-laki dan perempuan diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara gaya pengasuhan authoritative dan authoritarian ibu pada anak laki-laki dan anak perempuan, sedangkan variabel gaya pengasuhan permisive ibu tidak berbeda secara signifikan untuk kedua kelompok responden.
Tabel 5 Rata-rata gaya pengasuhan ibu berdasarkan jenis kelamin responden
Skor masing-masing gaya pengasuhan dibandingkan untuk melihat dominasi gaya pengasuhan yang dilakukan ibu terhadap anaknya. Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar anak laki-laki (80%) dan anak perempuan (96%) di asuh oleh ibu dengan gaya authoritative. Hanya sebagian kecil saja yang diasuh oleh ibu dengan gaya authoritarian atau permisive.
Tabel 6 Sebaran gaya pengasuhan ibu berdasarkan jenis kelamin anak
Perilaku Bullying di Sekolah
Tabel 7 menunjukkan bahwa rata-rata skor korban bullying fisik pada anak laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, sedangkan rata-rata skor korban bullying verbal dan non verbal pada anak laki-laki lebih rendah daripada anak perempuan. Berdasarkan hasil uji beda, tidak ada perbedaan
Karakteristik Keluarga
Laki - laki Perempuan
Total
n % n %
Ibu tidak bekerja 38 76 35 70 73%
Ibu bekerja 12 24 15 30 27% Gaya Pengasuhan Ibu Min- maks Laki-laki Perempuan Uji beda T- test Rata-rata ± sd Rata-rata ± sd Authoritative 17-68 71.02±12.02 78.20±11.89 0.003** Authoritarian 11-44 50.00±10.36 44.59±11.22 0.014* Permisive 10-40 51.1±10.451 52.75±8.15 0.381 Gaya pengasuhan Jenis kelamin Total Laki-laki Perempuan n % n % n % Authoritative 40 80 48 96 88 88 Authoritarian 6 12 2 4 8 8 Permisive 4 8 - - 4 4
yang signifikan antara rata-rata skor korban bullying pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Tabel 7 menunjukkan bahwa rata-rata skor pelaku bullying baik fisik, verbal maupun non verbal pada anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan yang signifikan antara rata-rata skor pelaku bullying oleh anak laki-laki dan anak perempuan.
Tabel 7 Rata-rata skor perilaku bullying di sekolah
Tabel 8 menunjukkan bahwa persentase anak laki-laki yang menjadi korban bullying fisik lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan persentase anak laki-laki yang menjadi korban bullying verbal dan non verbal lebih rendah dibandingkan anak perempuan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa persentase korban bullying non verbal lebih tinggi daripada persentase korban bullying yang lain, baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Secara keseluruhan persentase anak perempuan (56%) yang menjadi korban bullying lebih tinggi daripada anak laki-laki.
Tabel 8 Sebaran anak berdasarkan jenis korban bullying di sekolah dan jenis kelamin
Tabel 9 menunjukkan bahwa persentase pelaku bullying fisik dan verbal di sekolah oleh anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan persentase pelaku bullying non verbal di sekolah oleh anak laki-laki lebih rendah daripada anak perempuan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa persentase pelaku bullying verbal di sekolah lebih sering dilakukan, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Secara keseluruhan persentase anak laki-laki (74%) yang menjadi korban bullying lebih tinggi daripada anak perempuan.
Perilaku bullying di Sekolah
Min - maks
Laki-laki Perempuan Uji beda T- test Rata-rata ± sd Rata-rata ± sd Korban Fisik 0-12 23.66±16.44 22.16±20.79 0.690 Verbal 0-15 21.55±14.00 24.00±20.25 0.484 Non Verbal 0-18 27.88±16.63 33.22±19.81 0.148 Pelaku Fisik 0-6 16.66±19.92 8.00±14.38 0.014* Verbal 0-21 46.00±14.07 30.88±19.18 0.000* Non Verbal 0-42 26.28±13.30 18.85±12.04 0.004*
Jenis korban bullying di Sekolah Laki-laki Perempuan n % n % Fisik 2 4 1 2 Verbal 1 2 6 12 Non verbal 9 18 14 28
Lainnya (kombinasi antara fisik, verbal atau non verbal)
1 2 7 14
Tabel 9 Sebaran anak berdasarkan jenis pelaku bullying di sekolah dan jenis kelamin
Self esteem Anak
Tabel 10 menunjukkan bahwa sebagian besar anak laki-laki (82%) dan anak perempuan (86%) memiliki tingkat self esteem tinggi, sedangkan sisanya memiliki tingkat self esteem rendah. Tabel 10 juga menunjukkan bahwa rata- rata skor self esteem anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki. Akan tetapi berdasarkan hasil uji beda T-test, tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantara kedua kelompok tersebut.
Tabel 10 Sebaran anak menurut tingkat self esteem dan rata- rata skor self esteem anak berdasarkan jenis kelamin
Hubungan Antar Variabel
Hubungan antara gaya pengasuhan ibu dengan self esteem anak
Hasil uji korelasi yang disajikan dalam Tabel 11 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara gaya pengasuhan authoritarian ibu dengan self esteem anak Hal ini berarti semakin authoritarian ibu dalam mengasuh anak, maka self esteem akan semakin rendah.
Tabel 11 Koefisien korelasi antara gaya pengasuhan dengan self esteem anak
Keterangan : ** signifikan pada p ≤ 0.01
Jenis bullying di Sekolah Laki-laki Perempuan
n % n %
Fisik 1 2 0 0
Verbal 33 66 19 38
Non verbal 3 6 3 6
Lainnya (kombinasi antara fisik, verbal atau non verbal)
0 0 0 0
Total pelaku Bullying 37 74 22 44
Self esteem anak Laki - laki Perempuan Total
n % n % n %
Rendah (<70) 9 18 7 14 16 16
Tinggi (≥ 70 ) 41 82 43 86 84 84
Self esteem anak (36-144)
75.27±7.87 76.61±6.10
Uji Beda T-test 0.346
Gaya Pengasuhan Ibu Self esteem anak
Authoritative 0.092
Authoritarian -0.324**
Hubungan perilaku bullying di sekolah dengan self esteem anak
Tabel 12 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara korban bullying baik fisik, verbal maupun non verbal dengan self esteem anak. Ini berarti bahwa semakin meningkatnya perilaku bullying, maka self esteem anak akan semakin menurun. Selain itu Tabel 12 juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif dan signifikan antara pelaku bullying fisik dan non verbal dengan self esteem anak. Ini berarti bahwa semakin meningkat pelaku bullying fisik dan non verbal maka self esteem anak akan semakin rendah.
Tabel 12 Koefisien korelasi antara perilaku bullying di sekolah dengan self esteem anak
Keterangan : * signifikan pada p ≤ 0.05, ** signifikan pada p ≤ 0.01
Faktor-faktor yang mempengaruhi self esteem anak
Berdasarkan hasil uji regresi menunjukkan bahwa self esteem anak dipengaruhi oleh gaya pengasuhan authoritarian ibu dan korban bullying di sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin authoritarian ibu dalam mengasuh dan semakin sering anak menjadi korban bullying, maka self esteem anak akan semakin rendah. Dari hasil uji regresi tersebut diketahui bahwa nilai adjusted R square dari penelitian ini adalah 0.136 ini menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut memiliki pengaruh sebesar 13.6% terhadap self esteem anak, dan sebesar 86.4% dipengaruhi oleh variabel-variabel di luar penelitian ini.
Perilaku bullying di Sekolah Self esteem anak
Korban Fisik -0.263** Verbal -0.381** Non Verbal -0.238* Pelaku Fisik -0.304** Verbal 0.001 Non Verbal -0.267**
Tabel 13 Hasil analisis regresi linear berganda faktor-faktor yang mempengaruhi self esteem anak
Keterangan : * signifikan pada p ≤ 0.05, Dependent variable : self esteem
PEMBAHASAN
Keluarga dan sekolah merupakan lingkungan terdekat dengan anak usia sekolah dan langsung berpengaruh terhadap anak (Bronfenbrenner, 1979). Di lingkungan keluarga, interaksi yang terbentuk antara orang tua dan anak salah satunya adalah pengasuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki- laki cenderung diasuh oleh ibu dengan gaya authoritarian, sedangkan anak perempuan cenderung diasuh oleh ibu dengan gaya authoritative. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) yang mengungkapkan bahwa ibu akan mengasuh anaknya lebih authoritarian jika anak tersebut laki-laki. Pada dasarnya setiap anak memiliki hak yang sama dalam hal pengasuhan sebagaimana yang tertuang dalam UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Akan tetapi persepsi bahwa anak laki-laki harus lebih kuat dan tegas cenderung menyebabkan adanya perbedaan gaya pengasuhan antara anak laki-laki dan perempuan. Menurut Timpano et al. (2010) bahwa gaya pengasuhan authoritarian merupakan gaya pengasuhan dengan tingkat kehangatan antara orang tua dan anak yang rendah namun dengan tingkat pendisiplinan yang tinggi. Menurut Baumrind (1991) gaya pengasuhan authoritarian akan menuntut anak untuk patuh, jika anak tidak mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan maka anak akan mendapatkan hukuman.
Menurut Zhou et al. (2004) umumnya anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan authoritarian akan memiliki kemampuan sosial yang rendah dan kepercayaan diri yang rendah. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan negatif antara gaya pengasuhan authoritarian ibu terhadap self esteem anak. Hal ini berarti bahwa semakin authoritarian gaya pengasuhan ibu, maka self esteem anak akan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chiew (2011) yang menyampaikan bahwa siswa yang diasuh dengan gaya authoritative memiliki self esteem yang lebih tinggi daripada siswa yang diasuh dengan gaya
Variabel Independent B Beta Sig
(Konstanta) 148.347 0.000
Jenis kelamin anak (0=laki-laki, 1=perempuan) 1.022 0.051 0.656
Usia anak (tahun) -1.805 -0.120 0.243
Usia ibu (tahun) -0.145 -0.079 0.445
Lama pendidikan ibu (tahun) -0.379 -0.111 0.290
Status bekerja ibu (0=tidak bekerja, 1= bekerja) -0.061 -0.003 0.980
Pendapatan keluarga (Rp/bulan) 2.711E-7 0.078 0.457
Gaya pengasuhan authoritative ibu 0.082 0.100 0.349
Gaya pengasuhan authoritarian ibu -0.230 -0.252 0.020*
Gaya pengasuhan permisive ibu -0.054 -0.050 0.635
Korban bullying di sekolah -0.194 -0.305 0.007**
Pelaku bullying di sekolah 0.043 0.053 0.676
F 2.300 R2 0.241
authoritarian. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Driscoll (2012) mengungkapkan bahwa anak yang diasuh dengan gaya authoritarian memiliki self esteem yang lebih rendah daripada anak yang diasuh dengan gaya authoritative. Menurut Twenge dan Campbell (2002); Twenge dan Crocker (2002) dalam Guindon (2009) menyatakan bahwa self esteem yang rendah berhubungan dengan beberapa fenomena negatif seperti kehamilan di usia remaja, menkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang, bullying, depresi dan bunuh diri. Menurut Dake et al. (2003) salah satu karakteristik pelaku bullying adalah memiliki orang tua yang mengasuh dengan gaya authoritarian.
Di lingkungan sekolah, salah satu interaksi yang terjadi dan menjadi permasalahan global adalah perilaku bullying. Adanya hubungan antara jenis kelamin dan perilaku bullying diungkapkan oleh Adilla (2009) melalui hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa pelajar laki-laki lebih sering melakukan tindakan bullying kepada pelajar lain, daripada pelajar perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa persentase pelaku bullying fisik dan verbal di sekolah oleh anak laki- laki lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan persentase pelaku bullying non verbal di sekolah oleh anak laki-laki lebih rendah daripada anak perempuan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa persentase pelaku bullying verbal di sekolah lebih dominan dilakukan, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Menurut James (2010) bahwa bullying verbal merupakan bentuk bullying yang umum terjadi di sekolah.
Berdasarkan korban bullying, hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase anak laki-laki yang menjadi korban bullying fisik lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan persentase anak laki-laki yang menjadi korban bullying verbal dan non verbal lebih rendah dibandingkan anak perempuan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa persentase korban bullying non verbal lebih tinggi daripada persentase korban bullying yang lain, baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan. Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2005) mengemukakan bahwa anak laki-laki yang menjadi korban bullying memiliki persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena balas dendam atas perlakuan yang sama, sementara anak perempuan yang menjadi korban memiliki persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena ingin menunjukkan bahwa pelaku memiliki kekuasaan, marah pada korban karena tidak berperilaku seperti yang diharapkan pelaku, mendapat kepuasan setelah membully korbannya serta iri hati.
Menurut Dake et al. (2003) dan James (2010) menyatakan bahwa salah satu indikator anak menjadi korban bullying adalah memiliki self esteem yang rendah. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa korban bullying memiliki hubungan yang negatif dan sangat signifikan dengan self esteem anak. Hal ini berarti semakin meningkat perilaku bullying yang diterima anak, maka self esteem anak tersebut akan semakin rendah.