• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEKOLAH DASAR

DAFTAR PUSTAKA

7 PEMBAHASAN UMUM

Keluarga dan sekolah merupakan lingkungan terdekat dengan anak usia sekolah dan langsung berpengaruh terhadap anak (Bronfenbrenner, 1979). Di lingkungan keluarga, interaksi yang terbentuk antara orang tua dan anak salah satunya adalah pengasuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki cenderung diasuh oleh ibu dengan gaya authoritarian, sedangkan anak perempuan cenderung diasuh oleh ibu dengan gaya authoritative. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sari (2013) yang mengungkapkan bahwa ibu akan mengasuh anaknya lebih authoritarian jika anak tersebut laki-laki. Pada dasarnya setiap anak memiliki hak yang sama dalam hal pengasuhan sebagaimana yang tertuang dalam UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Akan tetapi persepsi bahwa anak laki-laki harus lebih kuat dan tegas cenderung menyebabkan adanya perbedaan gaya pengasuhan antara anak laki-laki dan perempuan.

Sementara itu menurut Zhou et al. (2004) umumnya anak yang diasuh dengan gaya pengasuhan authoritarian akan memiliki kemampuan sosial yang rendah dan kepercayaan diri yang rendah. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan dan negatif antara gaya pengasuhan authoritarian ibu terhadap self esteem anak. Hal ini berarti bahwa semakin authoritarian gaya pengasuhan ibu, maka self esteem anak akan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chiew (2011) yang menyampaikan bahwa siswa yang diasuh dengan gaya authoritative memiliki self esteem yang lebih tinggi daripada siswa yang diasuh dengan gaya authoritarian. Demikian pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Driscoll (2012) mengungkapkan bahwa anak yang diasuh dengan gaya authoritarian memiliki self esteem yang lebih rendah daripada anak yang diasuh dengan gaya authoritative. Menurut Twenge dan Campbell (2002); Twenge dan Crocker (2002) dalam Guindon (2009) menyatakan bahwa self esteem yang rendah berhubungan dengan beberapa fenomena negatif seperti kehamilan di usia remaja, menkonsumsi alkohol dan obat-obat terlarang, bullying, depresi dan bunuh diri. Menurut Dake et al. (2003) salah satu karakteristik pelaku bullying adalah memiliki orang tua yang mengasuh dengan gaya authoritarian.

Menurut Timpano et al. (2010) bahwa gaya pengasuhan authoritarian merupakan gaya pengasuhan dengan tingkat kehangatan antara orang tua dan anak yang rendah namun dengan tingkat pendisiplinan yang tinggi. Menurut Baumrind (1991) gaya pengasuhan authoritarian akan menuntut anak untuk patuh, jika anak tidak mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan maka anak akan mendapatkan hukuman. Pada penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara gaya pengasuhan authoritarian ibu dengan kekerasan di rumah pada anak perempuan. Ini berarti bahwa semakin authoritarian ibu dalam mengasuh anak perempuan, maka kekerasan di rumah pada anak perempuan akan semakin meningkat.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kekerasan di rumah dengan korban bullying di sekolah pada anak perempuan. Ini berarti bahwa semakin tinggi kekerasan di rumah pada anak perempuan baik fisik, verbal maupun psikososial, maka anak perempuan akan semakin menjadi korban bullying di sekolah. Hal ini perlu mendapatkan perhatian serius karena menurut Sheras (2002) bahwa anak korban

bullying berpotensi menjadi pelaku bullying terhadap anak yang lain. Sementara pada anak laki-laki hubungan antara kekerasan di rumah dan korban bullying di sekolah tidak signifikan. Menurut Walker et al. (2004) dan Sullivan et al. (2005) terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam menyikapi situasi lingkungan yang sama. Dalam menyikapi masalah kekerasan di rumah dan bullying di sekolah, anak perempuan lebih menghindari kontak fisik daripada anak laki-laki.

Di lingkungan sekolah, salah satu interaksi yang terjadi dan menjadi permasalahan global adalah perilaku bullying. Adanya hubungan antara jenis kelamin dan perilaku bullying diungkapkan oleh Adilla (2009) melalui hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa pelajar laki-laki lebih sering melakukan tindakan bullying kepada pelajar lain, daripada pelajar perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa persentase pelaku bullying fisik dan verbal di sekolah oleh anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan persentase pelaku bullying non verbal di sekolah oleh anak laki-laki lebih rendah daripada anak perempuan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa persentase pelaku bullying verbal di sekolah lebih dominan dilakukan, baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Menurut James (2010) bahwa bullying verbal merupakan bentuk bullying yang umum terjadi di sekolah.

Berdasarkan korban bullying, hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase anak laki-laki yang menjadi korban bullying fisik lebih tinggi daripada anak perempuan, sedangkan persentase anak laki-laki yang menjadi korban bullying verbal dan non verbal lebih rendah dibandingkan anak perempuan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa persentase korban bullying non verbal lebih tinggi daripada persentase korban bullying yang lain, baik pada anak laki- laki maupun anak perempuan. Riauskina, Djuwita dan Soesetio (2005) mengemukakan bahwa anak laki-laki yang menjadi korban bullying memiliki persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena balas dendam atas perlakuan yang sama, sementara anak perempuan yang menjadi korban memiliki persepsi bahwa pelaku melakukan bullying karena ingin menunjukkan bahwa pelaku memiliki kekuasaan, marah pada korban karena tidak berperilaku seperti yang diharapkan pelaku, mendapat kepuasan setelah membully korbannya serta iri hati.

Menurut Dake et al. (2003) dan James (2010) menyatakan bahwa salah satu indikator anak menjadi korban bullying adalah memiliki self esteem yang rendah. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa korban bullying memiliki hubungan yang negatif dan sangat signifikan dengan self esteem anak. Hal ini berarti semakin meningkat perilaku bullying yang diterima anak, maka self esteem anak tersebut akan semakin rendah.

Menurut Dake et al. (2003) dan James (2010) menyatakan bahwa salah satu indikator anak menjadi korban bullying adalah memiliki self esteem yang rendah. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa korban bullying baik fisik, verbal maupun non verbal, memiliki hubungan yang negatif dan sangat signifikan dengan self esteem anak perempuan. Hal ini berarti semakin meningkat perilaku bullying yang diterima anak perempuan, maka self esteem anak tersebut akan semakin rendah.

8 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan gaya pengasuhan ibu terhadap anak, dalam penelitian ini ditemukan bahwa anak laki-laki cenderung diasuh secara authoritarian (otoriter) oleh ibu, sedangkan anak perempuan cenderung diasuh secara authoritative (demokratis). Terdapat hubungan yang signifikan dan negatif antara gaya pengasuhan authoritarian ibu dengan self esteem anak perempuan. Hal ini berarti bahwa semakin authoritarian ibu mengasuh anak perempuan, maka self esteem anak perempuan akan semakin rendah. Sementara itu hasil penelitian juga menunjukkan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara gaya pengasuhan authoritarian ibu dengan kekerasan di rumah pada anak perempuan.

Berdasarkan perilaku kekerasan pada anak, dalam penelitian ini ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kekerasan pada anak laki-laki dan pada anak perempuan. Akan tetapi kekerasan pada anak perempuan berhubungan positif dan signifikan dengan korban bullying di sekolah Hal ini berarti bahwa semakin anak perempuan mendapatkan kekerasan di rumah, maka akan semakin meningkat pula kemungkinan anak menjadi korban bullying di sekolah.

Terdapat hubungan yang signifikan dan negatif antara korban bullying dan self esteem pada anak perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin mengalami bullying di sekolah, self esteem anak perempuan akan semakin rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korban bullying verbal merupakan korban bullying dengan persentase terbesar, baik pada anak laki-laki maupun pada anak perempuan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa korban bullying didominasi oleh anak perempuan, sedangkan pelaku bullying didominasi oleh anak laki-laki.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh negatif terhadap self esteem anak adalah gaya pengasuhan authoritarian ibu dan korban bullying. Hal ini berarti bahwa semakin anak diasuh secara authoritarian oleh ibunya dan semakin mengalami bullying di sekolah, maka self esteem anak tersebut akan semakin rendah.

Saran

Bagi orang tua hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak. Meskipun terdapat perbedaan sifat dan karakteristik anak laki-laki dan perempuan, namun anak-anak berhak mendapatkan pengasuhan yang terbaik. Selain itu, orang tua juga disarankan untuk mengurangi bahkan menghentikan perilaku kekerasan pada anak apapun alasannya. Karena kekerasan pada anak di lingkungan rumah cepat atau lambat akan memberikan dampak bagi perkembangan anak.

Bagi pihak sekolah dan guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan gerakan stop bullying di sekolah seperti memberikan perhatian yang lebih terhadap interaksi antar siswa terutama siswa laki-laki saat berada di luar jam pelajaran sekolah (seperti saat istirahat dan pulang sekolah), menanamkan pelajaran budi pekerti seperti menumbuhkan rasa empati, rasa kasih sayang dan toleransi baik secara langsung maupun terintegrasi dalam kegiatan di kelas. Pertemuan antara guru dan orang tua murid juga harus sering

dilakukan secara rutin, ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada orang tua akan pentingnya peran orang tua dalam perkembangan anak.

Bagi pemerintah dan lembaga-lembaga terkait, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk menyusun program-program yang berhubungan dengan peningkatan kualitas keluarga dan sumber daya manusia. Penerapan Undang- undang no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak perlu ditingkatkan lagi untuk dapat melindungi hak-hak anak, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan siap untuk memajukan Indonesia di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Adilla N. Pengaruh Kontrol Sosial terhadap Perilaku Bullying Pelajar di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Kriminologi Indonesia 5:56-66

Becker GS. 1991. A Treatise on the Family. Cambridge: Harvard University Press.

Baumrind D. 1991. The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. Journal of Early Adolescence 11(1):56-95.

Barnard KE, Solchany JE. 2002. Mothering. Di dalam: Bornstein MH, editor. Handbook of Parenting: Being and Becoming a Parent. Volume ke-3. New Jersey: Lawrence Elbaum AssociatesBerryman JC. 2000. Older mothers and later motherhood. Di dalam: Sherr L, St.Lawrence JS, editor. Women, Health and the Mind. Chichester: John Wiley.

Bronfenbrenner U. 1979. The Ecology of Human Development: Experiments by Nature and Design. USA: President and Fellows of Harvard College.

Brooks JB. 2001. Parenting. Ed ke-3. California: Mayfield Publishing Company. Centi PJ. 1995. Mengapa Rendah Diri . Yogyakarta : Kanisius

Chao R, Tseng V. 2002. Parenting of Asians. Di dalam: Bornstein M, editor. Handbook of Parenting: Social Conditions and Applied Parenting. Vol ke-4. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Collins WA, Madsen SD, Susman-Stillman A. 2002. Parenting during middle childhood. Di dalam: Bornstein M, editor. Handbook of Parenting: Children and Parenting.Vol ke-1. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Coopersmith S. 1967. The Antecedents of Self-esteem. San Francisco: W H Freeman & Co.

Davidoff LL. 1988. Psikologi, Suatu Pengantar. Edisi kedua. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Geary DC & Flinn MV. 2001. Evolution of human parental behavior and the human family. Parenting: Science and Practice 1(1&2):5-61.

Gunarsa SD. 1997. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

__________ , Gunarsa YSD. 2000. Psikologi Praktis : Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Goleman D. 1995. Emotianal Intelligence. New York: Bantam Book.

Hakim T, 2002, Mengatasi Rasa Tidak Harga Diri, Jakarta : Purwa Suara.

Hoghughi M. 2004. Parenting – An introduction. Di dalam: Hoghughi M, Long N, editor. Handbook of Parenting: Theory and Research for Practice. London: Sage Publications Ltd.

Hurlock EB. 2004. Psikologi Perkembangan. Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama. Lickona T. 1994. Raising Good Children. New York: A Bantam Book.

Ling Y, Dariyo A. 2002. Interaksi Sosial di Sekolah dan Harga Diri Pelajar Sekolah Umum (SMU). Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan. Vol.IV No 7

Magdalena E. 2006. Karakteristik Korban Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Runah Sakit Kepolisian Pusat Raden said Sukanto Kramat Jati Jakarta. Tesis. Program studi kajian administrasi Rumah sakit. Fakultas kesehatan masyarakat. Depok: Universitas Indonesia Megawangi R. 1999. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi

Gender. Bandung: Mizan.

Newberger EH, Newberger CM, Hampton RL. 1983. Child Abuse: The Current Theory base and Future Research Needs. Journal of the American Academy of Child Psychiatry 22:262-268

Newman DM & Grauerholz E. 2002. Sociology of Families. California: Pine Forge Press.

Okorodudu GN. 2010. Influence of parenting styles on adolescent delinquency in Delta Central Senatorial District. Edo Journal of Counselling 3(1):58-86. Papalia DE, Olds SW, Feldman RD. 2004. Human Development (9th ed.). USA:

McGraw-Hill Book Company.

Shears JK, Whiteside-Mansell L, McKelvey L, Selig J. 2008. Assessing mothers’ and fathers’ authoritarian attitudes: The psychometric properties of a brief survey. Social Work Research 32(3):179-184.

Sheras P. 2002. Your Child : Bully or Victim?. New York: A Skylight Press Strong B, DeVault C. 1979. The Marriage and Family Experience. St. Paul: West

Publishing Company.

Sujiwo I. 2008. Hubungan antara Parenting Style Ibu dan Keterlibatan Sisiwa SMA dalam Perilaku Bullying [skripsi]. Depok: Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia

Sullivan K, Cleary M, Sullivan G. 2005. Bullying in Secondary Schools. California: Corwin Press

Suhendi HH, Wahyu R. 2001. Pengantar Studi Sosiologi Keluarga. Bandung: Pustaka Setia

Walker HM, Ramsey E, Greshan FM. 2004. Anti Social Behavior in School: Evidence-based Practices 2nd ed. Canada: Wadsworth

The Liang Gie. 1980. Cara Belajar yang Efesien. Jakarta : Gajah Mada University Press.

Timpano KR Keough ME, Mahaffey B, Schmidt NB, Abramowitz J. 2010. Parenting and obsessive compulsive symptoms: Implications of authoritarian parenting. Journal of Cognitive Psychotherapy: An International Quarterly 24(3):151-164Yussen SR, & Santrock, J. W. Child Cevelopment : An Introduction. Second Edition. Wn. C. Brown Company Publishers, Iowa, USA

Underwood MK, Beron KJ, Rosen LH. 2009. Continuity and change in social and physical aggression from middle childhood through early adolescence. Aggressive Behavior 35(5):357-75.

Dokumen terkait