• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Penanggulangan Bencana di Provinsi NTT

HASIL KEGIATAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI

III.3 Hasil Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Perencanaan Lintas Sektor Penanggulangan Bencana di Daerah Penanggulangan Bencana di Daerah Penanggulangan Bencana di Daerah

III.4.5 Hasil Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Penanggulangan Bencana di Provinsi NTT

Kota Kupang, Provinsi NTT merupakan salah satu kota dengan indeks risiko bencana yang tergolong tinggi. Tingginya indeks risiko bencana ini mengharuskan SKPD terkait untuk melakukan pengintegrasian kegiatan terkait dengan upaya penanggulangan bencana di daerah. Upaya penanggulangan yang akan dilakukan harus disesuaikan dengan kondisi daerah maupun SDM yang terdapat di daerah tersebut dalam hal ini Provinsi NTT. Kegiatan penanggulangan bencana di daerah, harus dikomandoi oleh BPBD Provinsi NTT untuk mengarahkan SKPD lain terkait upaya penanggulangan bencana. Oleh karena itu, Bappenas berkoordinasi dengan Bappeda Provinsi NTT, mencoba menjadi katalisator kegiatan pengintegrasian penanggulangan bencana di daerah dengan melakukan FGD di Kota Kupang mengundang SKPD terkait dengan Penanggulangan Bencana. FGD ini menghasilkan beberapa poin penting pembahasan di antaranya:

1. Terdapat perubahan mendasar dalam sistem perencanaan dan penganggaran nasional, bahwa prinsip money follow program memiliki arti: (1) Setiap Menteri dan Kepala Lembaga wajib mengendalikan anggaran di setiap K/L yang dipimpinnya; (2) Anggaran negara harus berorientasi manfaat untuk rakyat; (3) Kebijakan anggaran berdasarkan

money follow program, tidak semua Tusi harus dibiayai secara merata; (4) Pemangkasan program yang nomenklaturnya kurang jelas dan kurang bermanfaat bagi rakyat; (5) Pemangkasan regulasi yang menghambat pengambilan keputusan dan tindakan; (6) Peningkatan belanja modal dan fokus pada pembangunan infrastruktur; dan (7) Penyediaan SDM berkualitas dalam percepatan pembangunan.

2. Pendekatan holistic, tematik, integrative dan spasial menekankan pada Penanganan secara menyeluruh dan terfokus pada kegiatan yang relevan dengan pencapaian tujuan program prioritas, Keterpaduan seluruh kegiatan yang saling memperkuat dan selaras dalam mencapai sasaran prioritas nasional, dan Kegiatan prioritas direncanakan berdasarkan data dan informasi yang baik serta lokasi yang jelas sehingga memudahkan proses integrasi dan pemantauan kegiatan di lapangan.

39 3. Kegiatan strategis yang membutuhkan dana besar adalah kegiatan yang bersumber dari

dana BOS. Di provinsi NTT, Kegiatan prioritas daerah sesuai RPJMD terdiri atas 8 agenda, mitigasi bencana terkait dengan agenda ke-8. Potensi bencana yang sering dihadapi adalah bencana sosial, bencana kerusuhan (konflik), dan bencana alam. Pada Program Pemberdayaan masyarakat terdapat 7 program, salah satunya adalah program Tagana yang kini memliki 70 anggota Tagana. Untuk penanggulangan bencana sudah dirancang kegiatan-kegiatan dengan keluaran-target-alokasi yang terukur.

4. Salah satu agenda penting penanggulangan bencana di NTT adalah strategi sinergitas dan partnership pengembangan desa tangguh bencana. Banyaknya program-program terkait desa tangguh/ketahanan lingkungan yang didesain oleh kementerian/lembaga dan NGO’s (prokllim, pesisir tangguh bencana, kampong siaga bencana, daerah tangguh bencana, program Mercy Corps, dsb) merupakan potensi dan tantangan koordinasi dalam pengembangan Desa Tangguh Bencana.

5. Masukan dari Bappeda Provinsi NTT terkait perencanaan spasial bahwa sudah terdapat perencanaan spasial untuk kawasan hutan lindung berupa peta 1: 50.000 (skala kabupaten) namun demikian pendataan kawasan rawan bencana sangat diperlukan. Selain permasalahan perencanaan spasial, penganggaran penanggulangan bencana di daerah masih menjadi suatu hal yang kompleks. Apabila terjadi tanggap darurat tingkat nasional maka digunakan Dana Siap pakai (DSP); sementara Belanja Tak Terduga (belanja tanggap darurat) digunakan daerah untuk penanganan bencana. Mekanisme Belanja Tak Terduga/Tanggap Darurat melekat pada Bendahara Keuangan Daerah (Biro Keuangan Daerah) masih membutuhkan mekanisme dan proses yang tidak sederhana. Menanggapi isu tersebut memang diakui bahwa diperlukan proses yang cukup lama untuk mendudukan perencanaan spasial dalam PRB, contohnya sinkronisasi peta RTRW hingga pada akhirnya berkoordinasi dengan legislatif. Terdapat undang-undang yang kurang tepat dan diperlukan sinkronisasi lebih lanjut. Selain itu, pada Kebijakan One map Policy maka BIG akan membuat peta Dasar dan BNPB yang akan membuat peta tematik. 6. Kebanyakan daerah di NTT merupakan KRB sehingga memerlukan perhatian pemerintah

pusat. Dari segi penganggaran untuk PB di NTT masih dirasakan kurang. Sebagai gambaran, bencana Tsunami bukan hanya terjadi di Maumere, tapi juga di Ende- Maumere- flores Timur. Potensi sangat tinggi, tapi dari segi penganggaran belum mendukung. Terhadap persiapan menghadapi bencana di NTT, BNPB menekankan pentingnya kelembagaan/mitra misalnya UNDP dan penyusunan program-program yang nyata seperti pembuatan Sumur Bor dan Hutan Bakau pada strategi PRB. Bappenas mengarahkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya nyata dan bermanfaat langsung bagi masyarakat mengacu pada 3 strategi PRB dalam RPJMN yaitu internalisasi oenanggulangan bencana dalaam dokumen perencanaan, penurunan tingkat kerentanan, serta peningkatan kapasitas masyarakat dan Pemerintah. Perlu diingat keterbatasan dana BNPB dalam penanganan bencana. Dalam UU No. 23, peran pemerintah daerah sangat besar. Sementara ini, APBD NTT hanya berjumlah Rp 4 triliun

40 yang terbagi oleh beberapa SKPD. Bisa dilihat bantuan-bantuan asing dalam kegiatan PRB, maka memerlukan keberadaan NGOs untuk mendukung kegiatan-kegiatan PRB. 7. NTT mengalami bencana banjir dan kekeringan setiap tahun sehingga diperlukan

anggaran khusus, sehingga setiap tahun dianggarkan untuk kegiatan tak terduga yang dikhususkan untuk tanggap darurat khsuusnya pada kegiatan fisik (pembanguna irigasi sungai/penguatan tembok, pembetulan rumah-rumah penduduk). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memiliki kegiatan penanggulangan bencana, mohon informasi kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat. Terkait bencana kekeringan, untuk meningkatkan kapasitas masyuarkat maka dibuat kegiatan pembuangan embung. Karena selama ini ada potensi yang terbuang seperti run-off air terbuang secara percuma. Dana Desa, anggaran yang mendukung dana desa umumnya dipakai untuk pengadaan alat-alat berat dan upah operator. Dana Tak terduga disiapkan Rp 5 Miliar setiap tahun di Pemkab Kupang. Bantuan dari pusat tidak hanya dalam bentuk penganggaran tapi juga penyerahan asset berupa kendaraan operasionalisasi untuk tanggap darurat, namun pada prakteknya di lapangan ada beberapa kabupaten yang belum memaksimalkan bantuan kendaraan operasional tanggap darurat yang telah diberikan BNPB kepada daerah. Pilar masyarakat- pemerintah-swasta perlu diperkuat untuk mendukung pendanaan penanggulangan bencana, mengingat anggaran K/L terbatas untuk program PB.

8. Informasi awal, PMB NTT telah melaksanakan banyak kegiatan sejak tahun 1998, termasuk diantaranya membangun kesiapsiagaan dan pelatihan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Selain dengan masyarakat, PMB NTT juga berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk mendukung kegiatan PRB di wilayah kerja. PMB NTT juga telah berkoordinasi dengan BPBD dalam menyusn Rencana Kontijensi dan menyusun Sekolah Aman bencana. Salah satu hasil advokasi yang telah dilakukan adalah surat edaran untuk menciptakan Sekolah Aman bencana. Hambatan dalam perencanaan PRB adalah bahwa dalam pelaksanaan DAK, Juknis belum disiapkan untuk mendukung penyaluran DAK. Selain itu, terdapat aturan-aturan yang mengikat dan rigid menghambat koordinasi dalam pelaksanaan DAK. Perlu sinkronisi aturan-aturan di tingkat pusat dalam pembuatan Juknis sehingga memudahkan implementasi program-program yang didanai oleh DAK di daerah.

9. NTT sudah memiliki forum PRB yang terdiri atas NGOs, pemerintah, dan masyarakat yang sudah ada di hamper semua kabupaten/kota di NTT. Forum PRB berfungsi sebagai mitra pemerintah dalam implementasi PRB. Permasalahan yang kini dihadapi adalah terdapat 20 indikator dalam Desa Tangguh bencana dan harus diselesaikan dalam waktu 6 bulan. Bappeda menemui permasalahan dalam memenuhi tenggang waktu 6 bulan dalam pemenuhan indikator destana. Desa tangguh Bencana masih merupakan kegiatan baru dan disambut baik oleh pemprov dan pemkab Kupang. Namun diperlukan kejelasan terhadap indikator-indikator Desa tangguh bencana tersebut. Bappenas dan BNPB mengarahkan agar dari 20 indikator, ada sebagian indikator-indikator utama yang bisa

41 diacu dan dijadikan prioritas dalam membentuk masyakat tangguh bencana