• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUPUK DI LAHAN PASANG SURUT ABSTRAK

HASIL Keragaan Tanaman Utama

Hasil analisis ragam gabungan tanaman utama menunjukkan bahwa dari semua perlakuan yaitu faktor lokasi (L), waktu pemupukan tanaman utama (U), waktu panen tanaman utama (P), genotipe (G), kombinasi dan interaksi perlakuan-perlakuan tersebut, hanya faktor lokasi dan interaksi PxL yang berpengaruh sangat nyata terhadap hasil panen tanaman utama (P<0.01). Lokasi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, diameter batang, dan hasil panen tanaman utama. Perbedaan tipe luapan air antara pasang surut tipe A dan B serta reaksi dan kesuburan tanah yang beragam menyebabkan umur panen beragam.

Interaksi PxL berpengaruh nyata terhadap hasil panen tanaman utama berarti tipologi lahan yang berbeda menyebabkan waktu pemasakan bulir juga berbeda. Menurut Naeem et al. (2013), umur tanaman berhubungan dengan umur berbunga dan umur berbunga responsif terhadap perbedaan wilayah agroklimat karena dikendalikan oleh banyak gen (poligenik).

Panen lebih awal tidak baik dilakukan di lokasi yang selalu basah seperti Pulang Pisau karena hasil tanaman utama akan rendah (Tabel 6.1). Diantara tiga genotipe yang diuji, Inpara 2 menghasilkan lebih banyak gabah hijau pada umur panen 30 hsb di Pulang Pisau sehingga umur panen lebih panjang. Waktu pemasakan genotipe Inpara 2 lebih panjang terutama pada perlakuan pemupukan 7 hari sebelum masa panen. Inpara 2 yang dipanen pada umur 30 hsb di Pulang Pisau mempunyai banyak bulir hijau, anakan dari setiap rumpun tidak serentak masak.

Faktor genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, dan diameter batang tanaman utama. Interaksi GxL berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman (P<01) dan diameter batang (P<0.05). Perlakuan waktu pemupukan dan waktu panen tanaman utama tidak mempengaruhi hasil panen maupun peubah tanaman utama lainnya di masing-masing lokasi karena perlakuan waktu pemupukan dan waktu panen diaplikasikan menjelang panen, bukan pada saat pertumbuhan.

Tabel 6.1 Interaksi waktu panen tanaman utama padi dengan lokasi

Waktu pemupukan Hasil gabah tanaman utama (t ha-1)

Kapuas Pulang Pisau

25 hsb 3,95 ± 0.86 2,89 ± 0.44

30 hsb 3,23 ± 0.49 3,12 ± 0.64

35 hsb 3,48 ± 0.55 3,20 ± 0.64

Pupuk yang diberikan 7 hari menjelang panen tidak berpengaruh terhadap hasil panen tanaman utama. Sebelumnya Turner dan Fund (1993) telah melaporkan bahwa pemberian pupuk 10 hari setelah berbunga tidak meningkatkan hasil tanaman utama dan ratun.

Panen yang dipercepat 5 hari maupun diperlambat 5 hari dari waktu panen normal tidak menyebabkan hasil panen berbeda dengan waktu panen normal. Waktu panen tanaman utama yang dipercepat 5 hari menyebabkan hasil semua genotipe turun di Pulang Pisau, dibanding hasil di Kapuas. Hal ini diduga berhubungan dengan kondisi lahan yang selalu tergenang dan cuaca dominan mendung pada musim hujan, sehingga proses pengisian bulir dan pemasakan lebih lambat.

Genotipe memberikan respon terbaik pada kombinasi perlakuan panen pada umur 25 hsb di Kapuas (lahan tipe C, lebih kering) sebesar 3.95 t ha-1 GKG. Waktu panen yang dipercepat atau diperlambat berakibat terhadap kesempurnaan pengisian biji. Di Kapuas, kondisi air dapat dikendalikan dan penyinaran cukup selama fase pemasakan biji sehingga pada umur 25 hsb biji sudah mencapai bobot panen yang optimal, berbeda tidak nyata dengan umur panen 30 dan 35 hsb.

Kombinasi Kapuas dan waktu panen tanaman utama 25 hsb (L1P1) dengan kombinasi Pulang Pisau dan waktu panen tanaman utama 25 hsb (L2P1) berbeda nyata. Hasil panen yang diperoleh di lahan tipe luapan B lebih rendah dari hasil di lahan tipe luapan C jika waktu panen dipercepat 5 hari atau panen pada saat masak fisiologis.

Respon Tanaman Ratun terhadap Waktu Pemupukan, Waktu Panen dan Genotipe pada Dua Tipologi Lahan

Pengaruh tunggal masing-masing perlakuan sangat nyata terhadap hasil ratun, tetapi interaksi Lokasi x Waktu pemupukan x Waktu panen x Genotipe berpengaruh tidak nyata terhadap hasil ratun. Hasil ratun semua genotipe tidak berbeda satu sama lain ketika diperlakukan dengan waktu pemupukan dan waktu panen tanaman utama di kedua lokasi. Memang secara kualitas kedua lokasi berbeda jika dilihat dari peubah hasil dan peubah lainnya yang diamati, tetapi berdasarkan hasil ratun, efek lokasi melemah ketika lokasi dikombinasikan baik dengan genotipe, waktu panen tanaman utama, waktu pemupukan tanaman utama maupun kombinasi ketiga perlakuan tersebut dengan lokasi. Hasil yang diperoleh dari semua pasangan

perlakuan yang melibatkan genotipe dan waktu panen tanaman utama tidak nyata dipengaruhi oleh perlakuan tersebut.

Respon genotipe terhadap perlakuan waktu pemupukan, waktu panen tanaman utama, dan interaksinya jelas terlihat pada tanaman ratun. Faktor lokasi berpengaruh sangat signifikan terhadap tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah rumpun hidup, diameter batang dan hasil panen ratun. Respon genotipe pada dua tipologi lahan pasang surut akibat perlakuan berbeda satu sama lain. Interaksi lokasi dengan waktu pemupukan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah rumpun hidup, diameter batang (P<0.01), dan berpengaruh nyata terhadap hasil ratun (P<0.05). Hasil tanaman ratun juga dipengaruhi oleh waktu panen tanaman utama dan genotipe (P<0.01).

Waktu pemupukan tanaman utama berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif, jumlah rumpun hidup, dan hasil panen ratun sedangkan waktu panen tanaman utama berpengaruh terhadap jumlah rumpun hidup (P<0.01), diameter batang (P<0.01) dan hasil panen ratun (P<0.01). Genotipe berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif, jumlah rumpun hidup, dan diamater batang. Waktu pemupukan ditentukan oleh kondisi lokasi, artinya tidak semua lokasi dapat dipupuk pada waktu yang sama. Waktu pemupukan tidak hanya ditentukan oleh fase pertumbuhan tanaman, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan terutama tinggi luapan air. Lokasi yang sesuai yang menyebabkan tanaman utama tumbuh baik, belum tentu menghasilkan ratun yang baik. Hasil ratun lebih tinggi jika tanaman utama dipupuk 23 hsb. Pada perlakuan tersebut jumlah anakan produktif ratun lebih tinggi yaitu 8.2 anakan dan persentase rumpun hidup 61%.

Panen tanaman utama pada saat masak fisiologis (25 hsb) menghasilkan 1.31 t ha-1 GKG, hampir sama dengan panen pada 30 hsb. Pada umur panen tersebut, jumlah rumpun hidup ratun dan anakan produktif masing-masing mencapai 69% dan 7.4 anakan. Genotipe IPB107-F-18 memberikan hasil ratun tertinggi 1.57 t ha-1 sebagai kontribusi jumlah rumpun hidup dan anakan produktif yang lebih banyak (Tabel 6.2). Wei et al. (2010) menyampaikan bahwa pemupukan 8-12 hari sebelum panen memacu pertumbuhan tunas dan meningkatkan hasil ratun. Peningkatan ini sebagai akibat umur yang lebih panjang, jumlah anakan produktif dan jumlah gabah per malai yang lebih banyak.

Hasil ratun yang diperoleh sudah cukup tinggi untuk lahan pasang surut, bahkan IPB107-F-18 mampu memberikan hasil ratun 2.11 t ha-1 GKG di Pulang Pisau atau hanya turun 43 % dibandingkan hasil tanaman utama. Menurut Susilawati (2011), hasil ratun > 2 t ha-1 sudah tergolong tinggi. Penurunan tersebut lebih rendah dibandingkan yang telah dilaporkan oleh Noor (2006) untuk varietas Ciherang dan BP 360 masing-masing 60.1% dan 73.5%.

Sistem perakaran ratun lebih dangkal dibandingkan tanaman utama sehingga lebih sedikit mendapat cekaman keracunan besi maupun anoxia di Pulang Pisau. Sistem perakaran dangkal ini menjadi masalah di Kapuas yang lebih kering. Tanaman di Pulang Pisau juga stress akibat cekaman, tetapi tanaman ratun di Kapuas lebih stress karena kekurangan air sehingga hasil ratun lebih rendah.

Tabel 6.2 Pengaruh tunggal faktor lokasi, waktu pemupukan, waktu panen tanaman utama, dan genotipe terhadap karakter ratun padi

Perlakuan Tinggi (cm) Jumlah anakan produktif (m-2) Jumlah rumpun hidup (m-2) Diameter batang (cm) Hasil (t ha-1) Lokasi Kapuas 62.6 b 160.0 b 13.5 b 0.29 b 1.05 b Pulang Pisau 71.5 a 195.0 a 14.9 a 0.32 a 1.39 a Waktu Pemupukan 23 hsb 66.5 a 205.0 a 14.7 a 0.31 a 1.32 a 30 hsb 67.1 a 175.0 b 14.6 a 0.31 a 1.25 b 37 hsb 67.4 a 152.5 c 13.3 b 0.30 a 1.10 c Waktu Panen 25 hsb 67.6 a 185.0 a 16.6 a 0.33 a 1.31 a 30 hsb 65.4 a 182.5 a 15.5 a 0.31 b 1.29 a 35 hsb 68.0 a 167.5 b 10.6 b 0.29 c 1.07 b Genotipe IPB107-F-14-5-1 70.8 a 137.5 b 13.1 b 0.34 a 1.34 b IPB107-F-18 69.7 a 155.0 b 15.8 a 0.31 b 1.57 a Inpara 2 60.5 b 240.0 a 13.8 b 0.26 c 0.76 c

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom perlakuan yang sama berarti berbeda tidak nyata menurut uji Tukey .05.

Baik melalui analisis per lokasi maupun gabungan, interaksi waktu pemupukan x waktu panen tanaman utama x genotipe (UxPxG) berpengaruh tidak nyata terhadap hasil panen ratun maupun total hasil (hasil tanaman utama + ratun). Noor (2006) juga melaporkan bahwa tidak terdapat interaksi varietas x sistem ratun x pupuk terhadap pertumbuhan, komponen hasil dan hasil gabah kering padi ratun.

Faktor lokasi berpengaruh sangat nyata terhadap hasil tanaman utama dan hasil ratun, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap total hasil (tanaman utama + ratun) pada analisis ragam gabungan. Lokasi yang sesuai menyebabkan potensi genetik melalui hasil panen tanaman utama terekspresi cukup baik tetapi lokasi yang tidak sesuai menekan ekspresi genetik tanaman utama, sehingga hasil panen rendah. Potensi genetik yang belum terekspresi tersebut tidak hilang. Pada kondisi yang tepat, potensi tersebut akan terekspresi pada ratun. Hal inilah yang menyebabkan total hasil cenderung menuju suatu nilai yang membuat lingkungan yang berbeda seolah-olah berkualitas sama. berbeda dengan hasil tanaman utama saja atau hasil ratun saja.

Tabel 6.3 Pengaruh waktu pemupukan tanaman utama terhadap hasil ratun padi di Kapuas dan Pulang Pisau

Waktu pemupukan Hasil panen ratun (t ha-1)

Kapuas Pulang Pisau

23 hsb 1,22 a 1,43 a

30 hsb 1,03 b 1,47 a

37 hsb 0,92 c 1,28 b

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata menurut uji Tukey 0.05

Tabel 6.3 menunjukkan bahwa waktu pemupukan tanaman utama yang tepat untuk memperoleh hasil panen ratun yang tinggi harus mempertimbangkan faktor lokasi atau tipe luapan air dan kadar besi dalam tanah. Waktu pemupukan yang terbaik di lahan tipe luapan C seperti Kapuas adalah 23 hari sejak tanaman utama berbunga (hsb), tetapi di lahan tipologi B seperti Pulang Pisau, pemupukan tanaman utama dapat dilakukan pada hari ke-23 hingga hari ke-30 sejak tanaman utama berbunga. Hal ini berbeda dengan yang disampaikan Turner dan Fund (1993) yang menyatakan pemberian pupuk N tidak bermanfaat lagi terhadap hasil tanaman utama maupun hasil ratun jika diberikan setelah tanaman utama berbunga.

Hasil panen ratun rendah di kedua lokasi pada perlakuan pemupukan tanaman utama 37 hsb. Pada 37 hsb tanaman utama sudah habis dipanen, artinya pupuk yang diberikan hanya sedikit yang diserap tanaman dibandingkan dengan pemupukan pada saat tanaman utama belum dipanen (23 dan 30 hsb). Hal ini berhubungan dengan sistem aliran hara dari larutan tanah ke dalam tanaman akibat transpirasi di daun. Pupuk yang diberikan terutama N segera diserap akar dalam jumlah yang lebih besar dan diangkut ke daun. Tunggul jerami tidak melakukan fungsi transpirasi seaktif daun, oleh karena itu hara yang diserap oleh akar tunggul jerami juga lebih sedikit. Menurut Huossainzade et al. (2011), pemberian 60 kg ha-1 N berpengaruh nyata terhadap hasil, jumlah anakan produktif, dan tinggi ratun.

Pemupukan tanaman utama yang lebih awal berpengaruh positif terhadap hidup atau viabilitas tunas ratun. Di lokasi yang lebih kering, pemupukan tanaman utama harus dilakukan 7 hari sebelum panen, lebih dari itu pemupukan tidak bermanfaat karena kebanyakan tunas ratun sudah tidak viabel seiring penuaan tanaman utama. Tetapi di lokasi yang basah, penuaan tanaman lebih lambat sehingga tunas masih viabel hingga saat panen.

Tanaman utama yang dipanen 25 hsb maupun 30 hsb memberikan pengaruh yang sama terhadap hasil ratun dan lebih tinggi dibandingkan panen umur 35 hsb. Terdapat perbedaan respon tanaman utama dengan ratun pada waktu panen tanaman utama 25 hsb. Hasil tanaman utama terendah pada 25 hsb, tetapi hasil ratun tertinggi pada 25 hsb. Di Kapuas, jika waktu panen tanaman utama diperlambat 5 hari tidak mengurangi hasil ratun genotipe IPB107-F-18 dan IPB107-F-14-5-1 jika tanaman dipupuk 7 hari sebelum panen tanaman utama. Hasil ratun IPB107-F-18 < 1 t ha-1 jika

panen tanaman utama lebih lambat 7 hari baik dipupuk saat panen maupun 1 minggu setelah panen tanaman utama. Hal ini tidak terjadi di Pulang Pisau. Ratun IPB107-F- 14-5-1 dan Inpara 2 memberikan respon terbaik pada perlakuan waktu pemupukan tanaman utama dipercepat 7 hari sebelum panen dan waktu panen dipercepat 5 hari sebelum tanaman utama masak 100%, dengan hasil masing-masing 1.44 t ha-1 dan 0.89 t ha-1 GKG.

Di Kapuas, hasil ratun semua genotipe menurun tajam jika waktu panen tanaman utama ditunda 5 hari dan waktu pemupukan ditunda 7 hari sejak tanaman utama masak, tetapi di Pulang Pisau penurunan hasil ratun lebih sedikit. Pengaruh tunggal waktu panen 35 hsb memberikan hasil yang kurang baik terhadap ratun tetapi jika tanaman dipupuk lebih awal, hasil ratun akan lebih tinggi. Penurunan hasil ini disebabkan oleh penurunan jumlah anakan produktif, jumlah rumpun hidup, dan diameter batang. Mobasser et al. (2012) juga menyampaikan bahwa jumlah total anakan dan anakan produktif per rumpun, jumlah total gabah per malai, dan persentase gabah isi tanaman ratun menurun secara nyata dengan penundaan waktu panen tanaman utama. Menurut Yazdpour et al. (2012), waktu panen tanaman utama mempengaruhi hasil panen gabah dan indeks panen tanaman ratun, tetapi tidak mempengaruhi tinggi tanaman, panjang malai, dan hasil jerami.

Genotipe IPB107-F-18 memberikan hasil ratun lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe lain pada semua taraf waktu panen tanaman utama. Waktu panen dan waktu pemupukan yang diperlambat dari waktu masak tanaman utama tidak baik untuk IPB107-F-18 karena hasil akan turun menjadi 0.74 t ha-1 GKG (Tabel 6.5).

Pengaruh interaksi Lokasi dengan Waktu Panen terhadap Total Hasil

Analisis varians gabungan total hasil (hasil tanaman utama + ratun) menunjukkan hanya perlakuan G dan interaksi LxP yang berpengaruh nyata terhadap total hasil. Hasil tertinggi genotipe IPB107-F-18 sebanyak 4.83 t ha-1 GKG dan terendah Inpara 2 sebesar 4.22 t ha-1. Interaksi lokasi dengan waktu panen tanaman utama (LxP) menunjukkan kombinasi L1P1 memberikan hasil tertinggi 5.12 t ha-1 GKG dan terendah L2xP1 4.34 t ha-1. L1P2 dan L1P3 sebesar 4.35 t ha-1 (Tabel 6.4). Tabel 6.4 Efek genotipe dan interaksi lokasi x waktu panen terhadap total hasil padi

Genotipe

Lokasi Rata-rata

Genotipe

Kapuas Pulang Pisau

Waktu panen (hsb) 25 30 35 25 30 35 IPB107-F-14-5-1 5.19 4.47 4.27 4.58 4.45 4.36 4.55 ab IPB107-F-18 5.16 4.68 4.64 4.62 5.21 4.69 4.83 a Inpara 2 5.01 3.89 4.13 3.84 4.08 4.35 4.22 b Interaksi LxP 5.12 a 4.35 b 4.35 b 4.34 b 4.58 ab 4.47 ab

Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti berbeda nyata menurut Uji Duncan 0.05

Tabel 6.5 Hasil tanaman utama dan ratun tiga genotipe padi yang diperlakukan dengan waktu pemupukan dan waktu panen tanaman utama di dua lokasi

Waktu pemupukan (hari setelah berbunga (hsb) Waktu panen (hsb)

Genotipe Hasil panen di Kapuas

(t ha-1)

Hasil panen di Pulang Pisau

(t ha-1) Rata-rata hasil (t ha-1) TU R Kontribusi ratun (%) TU + R (t ha-1) Tanaman Utama (TU) Ratun (R) TU+R Tanaman

Utama Ratun TU+R

23 25 IPB107-F-14-5-1 3.37 1.44 4.81 2.76 1.60 4.35 3.07 1.52 49.59 4.59 23 25 IPB107-F-18 3.65 1.56 5.21 2.64 1.87 4.51 3.15 1.72 54.53 4.87 23 25 Inpara 2 4.58 0.89 5.47 2.68 1.13 3.81 3.63 1.01 27.82 4.64 23 30 IPB107-F-14-5-1 3.07 1.28 4.35 3.36 1.68 5.04 3.22 1.48 46.03 4.70 23 30 IPB107-F-18 3.14 1.49 4.63 2.47 1.73 4.19 2.81 1.61 57.40 4.42 23 30 Inpara 2 2.98 0.72 3.70 2.93 0.89 3.83 2.96 0.81 27.24 3.77 23 35 IPB107-F-14-5-1 3.36 1.20 4.56 2.80 1.46 4.26 3.08 1.33 43.18 4.41 23 35 IPB107-F-18 3.14 1.82 4.96 2.56 1.60 4.15 2.85 1.71 60.00 4.56 23 35 Inpara 2 3.72 0.55 4.27 3.02 0.92 3.95 3.37 0.74 21.81 4.11 30 25 IPB107-F-14-5-1 4.58 0.96 5.54 3.04 1.94 4.98 3.81 1.45 38.06 5.26 30 25 IPB107-F-18 3.84 1.46 5.29 2.93 1.98 4.91 3.39 1.72 50.81 5.11 30 25 Inpara 2 4.39 0.69 5.08 3.12 0.83 3.95 3.76 0.76 20.24 4.52 30 30 IPB107-F-14-5-1 3.39 1.27 4.65 2.82 1.43 4.25 3.11 1.35 43.48 4.46 30 30 IPB107-F-18 3.52 1.44 4.96 3.73 2.11 5.84 3.63 1.78 48.97 5.41 30 30 Inpara 2 3.25 0.82 4.06 3.07 1.10 4.16 3.16 0.96 30.38 4.12 30 35 IPB107-F-14-5-1 3.38 1.03 4.40 3.09 1.56 4.65 3.24 1.30 40.03 4.54 30 35 IPB107-F-18 3.81 0.98 4.78 2.89 1.53 4.42 3.35 1.26 37.46 4.61 30 35 Inpara 2 4.07 0.62 4.69 3.79 0.74 4.53 3.93 0.68 17.30 4.61 37 25 IPB107-F-14-5-1 4.05 1.16 5.21 2.83 1.56 4.39 3.44 1.36 39.53 4.80 37 25 IPB107-F-18 3.39 1.58 4.97 2.88 1.56 4.43 3.14 1.57 50.08 4.71 37 25 Inpara 2 3.68 0.78 4.47 3.17 0.59 3.76 3.43 0.69 20.00 4.12 37 30 IPB107-F-14-5-1 3.09 1.31 4.40 2.66 1.42 4.07 2.88 1.37 47.48 4.25 37 30 IPB107-F-18 3.26 1.19 4.45 3.58 2.00 5.58 3.42 1.60 46.64 5.02 37 30 Inpara 2 3.34 0.57 3.91 3.47 0.79 4.26 3.41 0.68 19.97 4.09 37 35 IPB107-F-14-5-1 3.27 0.59 3.86 2.94 1.23 4.17 3.11 0.91 29.31 4.02 37 35 IPB107-F-18 3.45 0.74 4.19 3.80 1.69 5.49 3.63 1.22 33.52 4.85 37 35 Inpara 2 3.12 0.32 3.44 3.90 0.67 4.57 3.51 0.50 14.10 4.01 Rata-rata 3.55 1.05 4.60 3.07 1.39 4.46 3.31 1.22 37.59 4.53 95

Tanaman utama yang dipanen lebih awal 5 hari di Kapuas memberikan total hasil tertinggi (5.12 t ha-1 GKG) dan panen tanaman utama sesuai dengan umur panen 30 hsb maupun diperlambat 5 hari (35 hsb) memberikan total hasil yang lebih rendah. Kontribusi tanaman utama terhadap total hasil lebih besar di Kapuas, tetapi di Pulang Pisau hasil tanaman utama tidak sebaik di Kapuas sehingga walaupun hasil ratun lebih baik di Pulang Pisau, total hasil di Kapuas lebih tinggi pada saat panen 25 hsb.

Waktu panen tanaman utama 30 dan 35 hsb memberikan total hasil yang berbeda tidak nyata di Kapuas maupun di Pulang Pisau. Faktor lokasi terlihat sangat penting dalam menentukan hasil panen pada saat panen dilakukan 5 hari menjelang masak 100% atau umur 25 hsb. Kondisi basah dan musim hujan di Pulang Pisau memperlambat masa pengisian dan pemasakan biji. Di lahan yang lebih kering dan penyinaran cukup, proses pemasakan lebih cepat sehingga pada waktu 5 hari menjelang panen, hanya bulir yang berada di pangkal malai (kira-kira ¼ dari panjang malai) yang belum masak.

Ratun genotipe IPB107-F-18 berpenampilan lebih baik dan waktu masak lebih serentak dibandingkan IPB107-F-14-5-1 dan Inpara 2 di dua lokasi. Genotipe Inpara 2 mampu menghasilkan ratun di kedua lokasi namun hasilnya rendah. Genotipe tersebut memang menghasilkan lebih banyak anakan produktif, tetapi malai sangat pendek dan banyak gabah hampa. Di Kapuas, Inpara 2 menghasilkan anakan produktif rata-rata 9.2 batang per rumpun, lebih banyak dibandingkan IPB107-F-14- 5-1 dan IPB107-F-18 yang masing-masing sebanyak 4.8 dan 5.3 anakan. Di Pulang Pisau jumlah anakan produktif Inpara 2 juga lebih tinggi dan berbeda nyata dengan IPB107-F-14-5-1 dan IPB107-F-18, masing-masing 10.0, 6.3. dan 7.1 batang.

PEMBAHASAN

Rata-rata hasil tanaman utama di Kapuas lebih tinggi dibandingkan Pulang Pisau masing-masing 3.55 dan 3.07 t ha-1. Hasil yang lebih rendah di Pulang Pisau disebabkan cekaman lingkungan yang lebih berat terutama kadar besi dan pirit yang sangat tinggi ditambah luapan air yang rutin, sehingga tanah lebih lama tergenang. Gejala cekaman besi ditunjukkan oleh bronzing dan nekrosis pada daun.

Cekaman genangan menghambat sejumlah proses fisiologis di dalam tanaman. Konsentrasi oksigen terlarut di dalam larutan air tanah turun drastis (Grichko dan Glick 2001) sehingga pernafasan aerobik dan sintesis ATP di dalam mitokhondria akar terbatas (Greenway dan Gibbs 2003). Penurunan energi berdampak pada status nutrisi tanaman (Pang et al. 2007), serapan nutrisi dan air, menghambat pertumbuhan akar (Hapsari dan Adie 2010), menurunkan pengangkutan solute ke tajuk dan pengangkutan fotosintat ke akar melalui floem (Colmer 2003), yang berlanjut pada berkurangnya berat kering dan hasil tanaman.

Tanaman ratun memperoleh manfaat dengan kecukupan air di lahan tipe B Pulang Pisau, sehingga rata-rata hasil ratun di Pulang Pisau lebih tinggi dibandingkan Kapuas masing-masing 1.39 t ha-1 dan 1.05 t ha-1. Hal ini dibantu oleh akar-akar adventif yang tetap tumbuh dalam kondisi cukup air. Pertumbuhan akar adventif dari

buku/nodal selama genangan air lazim terjadi pada gramineae dan banyak spesies lahan basah (Kovar dan Kuchenbuch 1994). Perkembangan akar adventif menjadi sangat penting saat kekurangan oksigen menyebabkan kematian sebagian besar akar utama (Solaiman et al. 2007) dan keberadaan akar adventif penting dalam menjaga pertumbuhan tanaman selama genangan air.

Kondisi lebih kering di Kapuas setelah panen tanaman utama menyebabkan ratun tidak tumbuh optimal karena akar adventif tidak berkembang. Menurut Mengel dan Wilson (1981), pengairan dangkal (5-8 cm) yang dilanjutkan dengan penggenangan singkat setelah panen tanaman utama baik untuk menyediakan kelembaban bagi pertumbuhan ratun, diikuti dengan penggenangan 10-15 cm. Hasil 69% lebih tinggi jika penggenangan segera dilakukan.

Hasil panen ratun yang tinggi pada perlakuan panen tanaman utama yang dipercepat berhubungan dengan jumlah anakan dan rumpun hidup yang lebih banyak. Tanaman yang dipotong pada saat aktif melakukan metabolisme mirip dengan pematahan dominansi apikal pada tanaman dikotil yang memacu pecahnya dormansi tunas lateral. Pada fase masak fisiologis, sebagian biji padi terutama pada bagian pangkal malai belum menguning sempurna. Biji-biji tersebut diduga masih memiliki kapasitas untuk menyerap fotosintat dan karbohidrat yang terdapat di batang. Patahnya kapasitas menyerap tersebut memacu tunas lateral yang dorman membesar dan mulai tumbuh. Srivastava (2002) menyatakan bahwa tunas lateral berada dalam keadaan diam hingga dibebaskan dari hambatan dan salah satu cara membebaskan tunas lateral dari penghambat pertumbuhannya adalah dengan memotong pucuk apikal. Tunas-tunas lateral masih segar sebelum tanaman melebihi umur panen normal dan semuanya dapat segera tumbuh setelah tanaman utama dipotong. Hal inilah yang menyebabkan jumlah anakan ratun lebih banyak pada perlakuan panen tanaman utama yang dipercepat.

SIMPULAN

Hasil ratun tidak dipengaruhi oleh interaksi lokasi x waktu pemupukan tanaman utama x waktu panen tanaman utama x genotipe. Hasil panen ratun maupun total hasil (ratun + tanaman utama), berbeda antar tipologi lahan pasang surut. Hasil ratun genotipe IPB107-F-18 lebih tinggi jika tanaman utama dipupuk dan dipanen lebih awal baik di lahan tipe B maupun C. Panen tanaman utama lebih awal lima hari dari umur panen normal di lokasi Kapuas memberikan total hasil tanaman utama dan ratun tertinggi yaitu 5.12 t ha-1 GKG dan terendah 4.34 t ha-1 GKG jika genotipe ditanam di Pulang Pisau. Panen tanaman utama yang lebih lambat dari waktu panen normal di Kapuas memberikan hasil yang rendah.

7

KERAGAAN RATUN GALUR-GALUR HARAPAN PADI

Dokumen terkait