BAB III METODOLOGI PENELITIAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.2 Peningkatan Hasil Penelitian peraspek dari Prates, Siklus I, dan
4.2.2.10 Hasil Nilai Moderator Siklus I dan Siklus II pada Aspek
Skor rata-rata dari aspek tnonkebahasaan mengalami peningkatan. Skor rata-rata pada siklus I (lihat lampiran 5) mencapai 17,1 dan pada siklus II mencapai 19,2. Peningkatan yang terjadi sebesar 2,1. Hal ini dapat dilihat pada grafik 4.11 di bawah ini.
Grafik 4.11 Hasil skor rata-rata siswa sebagai moderator dalam diskusi panel dari aspek nonkebahasaan pada siklus I dan siklus II
Pada siklus I dan siklus II tidak ada siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat kurang dari aspek nonkebahasaan. Skor dengan kategori sangat kurang diperoleh 1 siswa pada siklus I, namun pada siklus II tidak ada. Selanjutnya, skor dengan kategori cukup diperoleh 3 siswa pada siklus I, dan 2 siswa pada siklus II. Skor dengan kategori baik diperoleh 2 siswa pada siklus I dan 3 siswa pada siklus II. Skor dengan kategori sangat baik diperoleh 1 siswa pada siklus I dan siklus II. Deskripsi aspek nonkebahasaan siswa sebagai moderator dengan masing-masing skor yang diperoleh dapat dilihat pada penjelasan berikut ini.
Berikut ini merupakan contoh siswa sebagai moderator yang mendapat skor 10 dengan kategori kurang, aspek nonkebahasaan yang diperoleh Eko
Hermanto, kelompok 2 pada siklus I. Moderator kurang mampu dalam mengemukakan maksud dan tujuan diskusi. Dari 5 kriteria penilaian pada aspek nonkebahasaan, ada 3 kriteria yang tidak terpenuhi. Pandangan moderator sudah diarahkan kepada lawan bicara, meskipun kadang-kadang menunduk. Gerak-gerik dan mimik juga tepat. Namun, sikap moderator kurang wajar, suara kurang nyaring, dan kurang lancar dalam memimpin jalannya diskusi. Suara moderator kurang dapat didengar oleh pendengar. Selain itu, moderator masih melihat catatan saat mengemuakakan kesimpulan.
Selanjutnya, contoh siswa yang mendapatkan skor 15 dengan kategori cukup pada aspek nonkebahasaan dijelaskan dari penilaian terhadap Anisa Nanindra, kelompok 1, siklus I. Annisa Nanindra sebagai moderator dapat mengemukakan maksud dan tujuan diskusi, dan mengemukakan kesimpulan dengan suara nyaring, sikap wajar, tenang, dan tidak kaku, pandangan diarahkan kepada lawan bicara. Suara moderator dapat didengar dengan jelas. Pandangan moderator selalu disesuaikan dengan lawan bicara. Ketika ia berbicara dengan panelis, pandangannya diarahkan kepada panelis. Kemudian ketika ia berbicara dengan pendengar untuk mengemukakan kesimpulan, pandangannya diarahkan kepada pendengar. Namun, ada gerak-gerik moderator yang kurang tepat. Ia sering melipatkan kedua tanggannya seperti akan tepuk tangan. Hal ini sangat mengganggu konsentrasi pendengar untuk mendengarkan kesimpulan yang akan disampikannya. Selain itu, moderator kurang lancar dalam memimpin jalannya diskusi. Hal ini tampak saat moderator memperkenalkan para panelis. Ia sering mengulangi nama panelis dan ada jeda panjang yang tidak wajar saat berbicara.
Kemudian pada siklus II, siswa yang mendapatkan skor 20 dengan kategori baik dideskripsikan berdasarkan skor yang diperoleh Andayani Widiyaningsih, kelompok 2. Dalam pelaksanaannya, moderator sudah dapat mengemukakan maksud dan tujuan diskusi dengan baik. Pada awal diskusi, moderator memperkenalkan para panelis dan mengemukakan persoalan yang akan disampaikan oleh masing-maisng panelis. Moderator melakukan semua itu dengan sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku, pandangan diarahkan kepada lawan bicara, gerak-gerik dan mimik tepat, dan suara nyaring. Namun, moderator kurang lancar dalam memimpin jalannya diskusi dan dalam mengemukakan kesimpulan. Hal ini tampak dari moderator yang mengulangi kata-kata beberapa kali dan ada jeda panjang yang sangat tidak wajar.
Siswa yang mendapatkan skor 20 tidak jauh berbeda dengan siswa yang mendapatkan skor 25 dengan kategori sangat baik pada aspek nonkebahasaan. Siswa yang mendapatkan skor tersebut berarti ia dapat berperan sebagai moderator dan mampu mengemukakan maksud serta tujuan diskusi dengan sangat baik. Pada mulanya, ia memperkenalkan para panelis dan menjelaskan topik yang akan disampaikan oleh masing-masing panelis. Selain itu, ia juga dapat mengemukakan kesimpulan dengan sangat baik. Semua itu dikemukakan oleh moderator dengan sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku. Pandangannya diarahkan kepada lawan bicara,baik kepada panelis maupun kepada pendengar. Gerak-gerik dan mimiknya juga tepat, suaranya nyaring, dan lancar. Moderator tampak percaya diri dan dapat berbicara dengan baik. Meskipun ada beberapa kekeliruan, ia dapat segera memperbaiki tanpa mengurangi rasa percaya diri.
Deskripsi tersebut merupakan skor yang diperoleh Puspita Wijayanti, kelompok 4, pada siklus II.
4.2.2.11 Peningkatan Selisih Skor Rata-rata Siswa sebagai Moderator dari Siklus I dan Siklus II pada Aspek Sikap
Skor rata-rata dari aspek sikap mengalami peningkatan. Skor rata-rata siklus I (lihat lampiran 5) mencapai 11,1 dan pada siklus II mencapi 13. Peningkatan yang terjadi sebesar 1,9. Hal ini dapat dilihat pada grafik 4.12 di bawah ini.
Grafik 4.12 Hasil skor rata-rata siswa sebagai moderator dalam diskusi panel dari aspek sikap pada siklus I dan siklus II
Pada tes siklus I dan tes siklus II, tidak ada siswa yang memperoleh skor dengan kategori sangat kurang untuk aspek sikap. Pada siklus I, ada satu siswa yang memperoleh skor dengan kategori kurang. Namun pada siklus II tidak ada siswa yang mendapat skor tersebut. Pada siklus I dan II juga tidak ada siswa yang mendapat skor dengan kategori cukup. Skor dengan kategori baik diperoleh 6
siswa pada siklus I, dan 4 siswa pada siklus II. Skor dengan kategori sangat baik diperoleh 2 siswa pada siklus II, tetapi pada siklus I tidak ada. Penjelasan dari masing-masing skor yang diperoleh siswa dapat dilihat pada uraian berikut ini.
Skor 6 dengan kategori kurang dalam aspek sikap akan dijelaskan berdasarkan skor yang diperoleh Eko Hermanto, kelompok 2 pada siklus I. Sikap moderator ini kurang mampu dalam menjamin pelangsungan diskusi. Diskusi kurang teratur dan tertib. Ia membiarkan para panelis berdiskusi bebas dengan berbisik-bisik. Hal ini menunjukkan moderator yang kurang dapat memelihara persahabatan dengan para panelis. Setelah diskusi bebas, panelis langsung mengemukakan pandapatnya sebelum dipersilakan oleh moderator. Dalam hal ini, moderator hanya diam saja, tidak ada tanda-tanda moderator akan mempersilakan panelis untuk menyampaikan diskusi bebas. Selain itu, moderator justru meminjam catatan dari panelis saat mengemukakan kesimpulan. Hal ini menunjukkan moderator yang kurang dapat memimpin diskusi. Meskipun demikian, moderator sudah dapat memperkenalkan para panelis dan pokok-pokok persoalan yang akan disampaikan oleh masing-masing panelis.
Setelah mengetahui deskripsi siswa dengan skor 6, berikut ini akan dijelaskan deskripsi siswa yang mendapatkan skor 12 dengan kategori baik. Salah satu siswa yang mendapat skor 12 yaitu Anisa Nanindra, kelompok 1, siklus I. Ketika menjadi moderator, sikapnya sudah mampu menjamin pelangsungan diskusi secara teratur dan tertib. Hal ini terbukti dari diskusi yang berjalan dengan lancar. Selain itu, moderator dapat mengantar masalah dengan tepat. Moderator sudah dapat memperkenalkan para penelis dengan hal-hal yang akan disampaikan oleh masing-maisng panelis. Namun, moderator kurang memelihara persahabatan
dengan para panelis. Hal ini tampak ketika diskusi bebas, para panelis hanya diam da nada yang berdiskusi dengan berbisik-bisik, tetapi moderator hanya diam saja. Sebaiknya moderator mengarahkan para panelis untuk berdiskusi dengan suara yang keras.
Selanjutnya, skor moderator yang paling tinggi pada aspek sikap yaitu skor 15 dengan kategori sangat baik. Hal ini dideskripsikan berdasarkan skor yang diperoleh Puspita Wijayati, kelompok 4, siklus II. Bila dilihat dari aspek sikap, ia sudah mampu menjamin pelangsungan diskusi secara tertib dan teratur. Hal ini terbukti dari diskusi yang dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, ia dapat mengantar masalah secara tepat. Dalam diskusi ini, para panelis menyampaikan masalah sesuai dengan topik yang diumumkan oleh moderator. Kemudian, moderator dapat memelihara persahabatan dengan para panelis. Hal ini tampak dari awal sampai akhir diskusi, seluruh kegiatan dikendalikan oleh moderator. Para panelis mulai berbicara setelah dipersilakan oleh moderator.