Chart Title
6. Hasil Observasi
Hasil observasi perilaku siswa dihitung dan dianalisis. Hasil analisis antar siklus digunakan untuk melihat perkembangan perilaku siswa selama diberikan tindakan. Hasil observasi tampak sebagai berikut
Tabel 4.9
Hasil Observasi Pelaksanaan Peningkatan Karakter Ksatria Siswa Kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Batar Melalui Pendidikan Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal
Dengan Pendekatan Experiential Learning No Item Siklus I Siklus II Siklus III PENGAMAT 1 7 5 3 2 7 4 2 3 0 0 0 4 4 2 0 5 9 11 13 6 10 12 11 7 5 4 2 8 4 4 0 9 4 3 2
114 10 7 9 10 11 5 7 9 12 4 4 0 13 4 5 6 14 0 0 0 15 5 7 4 16 4 5 4 17 0 0 0 18 5 2 0 19 3 0 0 20 4 2 2
Berdasarkan data tabel di atas, jika dilihat dalam bentuk grafik tampak sebagai berikut.
Grafik 4.7 Hasil Observasi Peningkatan Karakter Ksatria Siswa Kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Batar Melalui Pendidikan
Karakter Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal Dengan Pendekatan Experiential Learning
7 7 0 4 9 10 5 4 4 7 5 4 4 0 5 4 0 5 3 4 5 4 0 2 11 12 4 4 3 9 7 4 5 0 7 5 0 2 0 2 3 2 0 0 13 11 2 0 2 10 9 0 6 0 4 4 0 0 0 2 0 2 4 6 8 10 12 14
115
Berdasarkan grafik dan tabel di atas tampak bahwa hasil observasi pada siklus I menunjukan ada 7 siswa yang malu atau malas bertanya, ada 7 siswa yang enggan menyampaikan pendapat, ada 4 siswa yang tidak mendengarkan teman yang sedang berbicara, ada 4 siswa yang menyalahkan orang lain. Tetapi ada beberapa siswa yang menunjukan karakter ksatria yaitu ada 9 siswa yang menanggapi pertanyaan peneliti. Ada 10 siswa yang menunjukan sikap menolong dan ada 7 siswa yang menunjukan sikap tanggung jawab.
Pada siklus II setelah diberikan layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning tampak bahwa ada 5 siswa yang malu atau malas bertanya, ada 4 siswa yang enggan menyampaikan pendapat, 2 siswa tidak memperhatikan fasilitator. Tetapi sikap karakter siswa meningkat bahwa ada 11 siswa yang menanggapi pertanyaan peneliti, 12 siswa bersikap tolong menolong, 9 siswa menunjukan sikap tanggung jawab.
B. Pembahasan
Peningkatan karakter ksatria melalui pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning berjalan sesuai dengan rencana. Penelitian tindakan yang terdiri dari tiga siklus memperoleh data tentang siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016. Hasil penelitian tindakan mengungkap adanya peningkatan karaketr ksatria sebelum dan sesudah, serta peningkatan setiap siklus.
116
Berdasarkan siklus I dengan topik bimbingan “Berani Mengakui Kesalahan” menunjukan hasil bahwa sebagian besar siswa memiliki karakter ksatria dengan kategori sedang berjumlah 14 siswa dan 8 siswa yang berada pada kategori tinggi. Hal tersebut menandakan bahwa siswa sudah menerapkan karakter ksatria dengan baik. Penerapan karakter ksatria yang telah dilakukan dengan baik dipengaruhi adanya pendidikan karakter yang sudah diterima baik dalam keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat sehingga secara tidak langsung siswa sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan pendapat Kementrian Pendidikan Nasional (2010), pendidikan karakter terkait erat dengan habit atau kebiasaan yang terus menerus dipraktikan atau dilakukan.
Pada siklus II dengan topik bimbingan “Berani Meminta dan Memberi Maaf” menunjukan hasil bahwa sebagian besar siswa memiliki karakter ksatria dengan kategori tinggi berjumlah 14 siswa sedangkan siswa yang memiliki karakter ksatria pada kategori sedang berjumlah 8 orang. Jika dibandingkan dengan siklus I terjadi peningkatan pada siswa yang berada pada kategori sedang di siklus ke II meningkat menjadi kategori tinggi. Peningkatan jumlah siswa yang berada dalam kategori sedang menjadi tinggi diduga karena telah mengikuti layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning. Hal tersebut didukung oleh data observasi yang menunjukan ada 9 siswa yang bersikap tanggung jawab dapat diluhat pada grafik 4.7.
117
Pada siklus III dengan topik bimbingan “Berani Mengungkapkan Pendapat Didepan Umum” yang menekankan pada upaya perbaikan dari siklus II menunjukan hasil bahwa meningkatnya siswa pada kategori tinggi menjadi sangat tinggi berjumlah 1 siswa, pada kategori tinggi berjumlah 12 siswa sedangkan pada kategori sedang berjumlah 9 siswa. Jika ditinjau dari rata-rata siklus II 69,81 meningkat pada siklus III menjadi 70,09.
Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) diberikan layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter ksatria adalah sebagian besar memiliki karakter ksatria sanggat tinggi dan tinggi. Hal ini diduga karena telah memperoleh pendidikan karakter yang cukup, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat, sehingga mereka memiliki sikap ksatria dalam peranannya sebagai peserta didik. Selain itu karakter ksatria siswa meningkat dikarenakan siswa telah memiliki sikap berani mau mengakui kesalahan, menghargai orang lain sehingga mau belajar dari pengalaman orang lain dan mau bertanggung jawab dengan segala keputusan yang sudah diambil. Hal ini sesuai dengan pendapat Fathurrahman & Fatriyani (2013), yang menjelaskan bahwa karakter ksatria merupakan kemampuan menerima keunggulan orang lain dan menerima kekurangan diri sendiri.
118
Buchori (Fathurrahman, dkk, 2013) menyebutkan bahwa upaya pengembangan karakter salah satunya karakter ksatria seharusnya mampu membawa siswa ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke pengalaman nilai secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Terbentuknya karakter ksatria juga dipengaruhi oleh pola asuh orang tua yang terwujud dalam bentuk cara mendidik anak. Orang tua yang melatih anak sejak dini untuk bersikap berani dalam mengakui kesalahan, bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil dan belajar dari pengalaman orang lain. Peran guru dalam membentuk karakter ksatria juga sangat diperlukan ketika peserta didik di lingkungan sekolah maka guru dapat mengontrol jika siswa bersikap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada dan mendukung sikap siswa yang mencerminkan karakter ksatria. Lingkungan masyarakat yang kondusif dan saling menghargai merupakan faktor pendorong perkembangan peserta didik.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dipahami bahwa banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat. Dalam prespektif pedagogis, peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi yang bersifat laten, sehingga membutuhkaan binaan dan bimbingan untuk mengaktualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia yang cakap Desmita (2009). Oleh karena itu, peranan orang tua dan guru sangat diperlukan untuk membantu peserta didik mengenal, memahami dan melakukan nilai nilai karakter ksatria dalam kehidupan sehari-hari.
119
Proses implementasi layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning mendapatkan penilaian secara langsung dari siswa. Siswa memberikan penilaian dan hasil penilaian ada 11 item dari 30 item yang berada pada presentase 100%. 11 item tersebut adalah semangat dalam mengikuti kegiatan, senang melakukan kegiatan, manfaat bagi perbaikan perilaku, berani bertanggung jawab, menghargai teman, keinginan untuk menolong orang lain, terdorong untuk lebih aktif, mempererat persaudaraan, mendorong untuk lebih disiplin. Siswa merasa senang dalam mengikuti bimbingan berarti model ini dapat diterima oleh siswa sehingga lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan peneliti.
Sesuai dengan pendapat Prayitno dkk (1989), tentang pendekatan experietial learning adalah suatu pendekatan dalam penyelenggaraan dinamika kelompok, dikatakan efektif ketika dapat menghadirkan suasana kejiwaan yang sehat diantara peserta kegiatan, meningkatkan spontanitas, munculnya perasaan positif, meningkatnya minat atau gairah untuk lebih terlibat dalam proses kegiatan, memungkinkan terjadinya katarsis, serta meningkatnya pengetahuan dan ketrampilan sosial.
Pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning, telah disusun menjadi tema besar yaitu, “Pendidikan Karakter Ksatria sebagai Peserta didik” dengan tiga topik bimbingan yakni Berani Mengakui Kesalahan, Berani Meminta dan Memberi Maaf, Berani Berpendapat di Depan Umum. Bimbingan klasikal
120
dengan pendekatan experiential learning bertujuan untuk membantu mengoptimalkan proses belajar siswa dalam mengenal, memahami, menginternalisasikan nilai karakter khususnya karakter ksatria sebagai peserta didik yang ditemukan selama mengikuti pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning. Pendekatan experiential learning menekankan pada munculnya perasaan positif dalam diri siswa. Perasaan positif yang muncul akan meningkatkan karakter ksatria sehingga siswa dapat berani mengakui kesalahan, dan belajar dari pengalaman orang lain.
Hasil perhitungan uji T Wilcoxon menunjukan bahwa implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning dalam meningkatkan karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 sebelum dan sesudah diberikan perlakuan terdapat peningkatan tetapi tidak signifikan. Namun, jika ditinjau berdasarkan selisih mean posttest dan pretest terjadi peningkatan karakter ksatria siswa setelah mengikuti bimbingan klasikal. Hal ini diduga karena keterbatasan pada aspek-aspek yang ada pada instrumen sehingga tidak benar-benar mengungkap karakter ksatria pada siswa. Selain itu karena tidak berdistribusi normal.
Berdasarkan tiga data yaitu (1) Tes Ksarakter Ksatria, (2) Skala Penilaian Diri Karakter Ksatria, (3) Kuesioner Validasi Model Hasil uji T Wilcoxon pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal
121
dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat sebelum dan sesudah diberikan perlakuan tidak signifikan meningkatkan karakter ksatria pada siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat. Berdasarkan hasil data Skala Penilaian Diri Karakter Ksatria siklus I dan II sebagian besar siswa memiliki karakter ksatria dalam kategori sedang dan sangat tinggi sedangkan pada siklus III ada siswa yang meningkat pada kategori sangat tinggi dan tinggi. Jika ditinjau berdasarkan dari hasil Validasi Efektivitas Model yang diisi oleh siswa, program ini mampu meningkatkan karakter ksatria pada siswa. Oleh karena itu, model ini sangat baik digunakan untuk meningkatkan karakter ksatria.
122 BAB V PENUTUP
Bab ini dipaparkan kesimpulan, keterbatasan, dan saran terhadap hasil penelitian.
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kesimpulan penelitian adalah karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 dapat ditingkatkan melalui pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning. Kesimpulan utama tersebut disimpulkan berdasarkan kesimpulan-kesimpulan khusus sebagai berikut:
1. Upaya peningkatan karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 melalui pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experintial learning melalui tahapan kegiatan pembukaan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Pendekatan experiential learning tampak dalam tahap kegiatan inti, yang meliputi: mengalami, membagikan pengalaman, memproses pengalaman, merumuskan kesimpulan, dan menerapkan.
2. Karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter ksatria adalah sebagian siswa berada pada kategori sangat tinggi dan tinggi.
123
3. Karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat mengalami peningkatan pada siklus I, menurun pada siklus II, dan meningkat tajam pada siklus III. Akan tetapi, ditemukan beberapa siswa yang tingkat karakter ksatrianya menurun dan ada siswa yang tingkat karakter ksatrianya tetap.
4. a.Terdapat peningkatan tetapi tidak signifikan karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 sebelum dan sesudah mendapatkan pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning. b. Ada peningkatan secara signifikan karakter ksatria siswa kelas VIII A
SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 antar siklus pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiantial learning.
5. Implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning efektif meningkatkan karakter ksatria Siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016.