• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Observasi dan Wawancara

4.1 Hasil Observasi dan Wawancara

Pembimbing di Pesantren Darul Hikmah berjumlah sembilan orang semuanya berjenis kelamin wanita karena di Pesantren diterapkan pemisahan antara siswa laki-laki dan perempuan. Di dalam penelitian ini peneliti hanya mengambil tiga orang pembimbing untuk dijadikan sebagai informan utama dan tiga orang siswi sebagai informan tambahan. Tiga siswi sebagai informan tambahan bertujuan untuk menegaskan informasi yang diterima dari informan utama yaitu pembimbing kegiatan public speaking (muhadoroh). Penentuan dari jumlah informan karena jumlah informan tersebut telah memenuhi kebutuhan penelitian dan data telah mengalami kejenuhan. Proses wawancara dimulai pada tanggal 24 April 2013. Namun sejak awal bulan April peneliti telah melakukan proses pra observasi untuk melihat proses bimbingan di Pesantren Darul Hikmah, ditambah juga dengan proses pra observasi yang dilakukan peneliti setelah judul penelitian ini disetujui oleh Departemen. Hal ini membuat peneliti tidak menemukan kesulitan yang berarti untuk melakukan wawancara dan observasi di Pesantren Darul Hikmah dalam upaya pengumpulan data penelitian.

Peneliti merasa sangat nyaman berada di Pesantren darul Hikmah. Ustajah dan siswi-siswi di pesantren ini begitu hangat dan ramah terhadap peneliti. Persaudaraan, keakraban dan sikap saling berbagi, perasaan senasib dan sepenanggungan begitu jelas terlihat dari seluruh siswi di pesantren ini. Siswi kebanyakan berasal dari luar kota. Mereka begitu bahagia dan tidak ada perasaan tertekan karena tinggal diasrama yang penuh dengan peraturan dan dapat dikatakan terpisah dari dunia luar. Di pesantren siswi dilarang membawa alat-alat komunikasi, seperti handhpone, gadget, ipad dan radio.

Para siswi diajarkan hidup berbagi dan saling tolong menolong. Tidak ada senioritas dan keangkuhan yang ditunjukkan siswi senior terhadap siswi junior. Tidak

bimbingan. Pembimbing tetap bersikap sebagaimana kakak yang melindungi dan menyayangi adik-adiknya. Begitu juga siswi junior yang dibimbing menganggap pembimbing sebagai kakak sendiri. Panggilan “ukhti” begitu menggambarkan kesopanan dan kedekatan diantara mereka.

Hari Minggu merupakan hari bebas bagi anak-anak sekolah pada umumnya. Atau lebih tepatnya hari istirahat tetapi tidak bagi anak-anak Pesantren darul Hikmah. Tidak ada hari kosong yang tidak diisi dengan aktivitas. Setiap hari di pesantren selalu ada kegiatan agar waktu tidak terbuang sia-sia. Setiap hari Minggu diadakan kegiatan bimbingan. Kegiatan bimbingan ini dilakukan seminggu sekali pada hari minggu tepat setelah ba’da ashar dengan tujuan membimbing dan mengajarkan, melatih adik-adik (siswi junior) pidato. Setelah selesai shalat ashar siswi-siswi berkumpul di aula kelas untuk mengikuti bimbingan. Tanpa disuruh oleh pembimbing mereka sudah duduk rapi membentuk lingkaran dengan teman-teman satu kelompoknya.

Setelah bercanda dan menanyak kabar tampak pembimbing mulai membuka kegiatan bimbingan (proses bimbingan) dengan sebelumnya mengucapkan salam kepada adik-adik bimbingannya. Suasana yang sangat akrab terjalin tanpa ada jarak sinioritas yang menghalangi kedekatan diantara pembimbing dengan adik-adik bimbingannya. Setelah pembimbing memberikan materi pelajaran tentang pidato maka pembimbing menyuruh adik-adik bimbingannya untuk membuat teks pidato dengan topik yang tidak ditentukan dalam waktu dua puluh menit dan dengan bahasa yang disesuaikan dengan yang diwajibkan pada minggu tersebut. Mereka dengan serius tetapi tetap santai membuat teks pidato. Setelah waktu dua puluh menit yang diberikan oleh pembimbing habis, maka pembimbing mengumpulkan kertas-kertas berisi teks pidato adik-adik bimbingannya. Kemudian memanggil satu persatu siswi untuk mengambil teks pidatonya dan membacakannya didepan teman-teman satu kelompok. Membaca disini bukan berarti membaca dalam arti sesungguhnya tetapi disini siswi disuruh untuk berpidato dengan menggunakan teks.

Pembimbing sangat sabar sekali membimbing adik-adik bimbingannya. Ada saja siswi yang sedang latihan berpidato tetapi pandangannya terpaku dengan teks yang ditangannya, dengan kata lain anak tersebut tidak ada kontak mata dengan teman-teman (audiens). Maka pembimbing mengingatkan siswi tersebut untuk tetap menjaga kontak mata dengan teman-temannya. Ada juga siswi saat ditunjuk berpidato tetapi berpidato dengan posisi berdiri tegak dan kaku tidak ada gerakan badan. Pembimbingpun mencontohkan gerakan (gesture) yang tepat saat mengucapkan

kata-kata yang perlu diikuti dengan gerakan. Begitu juga dengan vokal siswi yang malu-malu biasanya suaranya lebih pelan dari biasanya, pembimbing juga mengingatkan dengan sabar agar siswi tersebut lebih mengeraskan suaranya.

Suasana yang terjalin sangat akrab, tidak hanya diantara pembimbing dengan adik-adik bimbingannya tetapi juga sesama siswi bimbingan. Sesama siswi bimbingan juga ada yang membantu, seperti mengajari temannya gerakan apa yang cocok atau kata-kata yang baik untuk membuka dan menutup pidato bila mereka melihat pembimbing masih sibuk membimbing siswi yang lain.

Setelah semua siswi maju untuk latihan berpidato. Maka pembimbing memberikan nilai dan saran kepada adik bimbingannya mana yang masih perlu untuk diperbaiki. Dan memberikan nasihat agar adik bimbingannya rajin latihan sebelum tampil pidato pada malam hari yang telah ditentukan.

Proses wawancara dilakukan di ruang kelas Pesantren darul Hikmah setelah jam pulang sekolah. Hal ini dikarenakan semua informan berstatus pelajar. Peneliti tidak merasa terlalu sulit dalam mewawancarai para pembimbing dan siswi di Pesantren Darul Hikmah karena sebelumnya peneliti sudah sering berbincang-bincang dengan mereka saat melakukan proses pra observasi dan proses observasi yang membuat peneliti sering datang ke Pesantren Daruls Hikmah untuk melihat proses bimbingan yang berlangsung disana. Proses wawancara berjalan dengan santai namun tetap dapat memperoleh informasi yang mendalam. Berikut hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap lima orang pembimbing dan ilma orang siswi Pesantren Darul Hikmah Medan yang dijadikan sebagai informan.

Informan Utama Informan 1

Nama : Ikhsani Safitri Jumlah siswi yang dibimbing : Sepuluh Siswi

Ikhsani Safitri adalah informan pertama yang peneliti wawancarai. Proses wawancara berlangsung pada hari Minggu, tanggal 21 April 2013 setelah jam bimbingan berakhir, kurang lebih pukul enam sore bertempat di dalam kelas. Kondisi ruangan kelas yang telah sepi membuat peneliti dapat dengan leluasa dan fokus untuk mewawancarai informan.

Ikhsani Safitri sebuah nama yang indah dan cocok diberikan kepadanya. Ikhsani Safitri berperawakan sedang, memakai kaca mata, berkulit hitam manis, hidung mancung dan terlihat begitu anggung dan lembut. Sani adalah panggilan yang diberikan teman-temannya di pesantren. Selain sebagai pembimbing, Sani juga menjabat sebagai ketua Osis di Pesantren ini. Dua peran yang harus sama-sama dijalani dimana dia juga tidak melupakan tugas utamanya sebagai siswi. Tentu ini menuntut kerja keras dan kemampuan yang lebih agar semuanya dapat berjalan seimbang. Namun, Sani tetap senang menjalani perannya dan merasa tidak terbebani. Ini terlihat dari senyumya yang selalu terkembang saat membimbing adik-adik. Menurut Sani, mengajarkan apa yang dia ketahui kepada orang lain merupakan suatu kebahagian tersendiri. Apalagi Sani bercita-cita menjadi seorang guru. Bagi Sani, menjadi seorang pembimbing dapat dijadikan sebagai proses latihan mengajar.

Berdasarkan pengalamannya Sani tidak mengalami banyak kesulitan dalam membimbing adik-adik tersebut. Jika menemui kesulitan maka Sani dapat segera mengatasinya. Penampilan Sani yang sederhana serta sikapnya yang dewasa membuat adik-adik bimbingannya yang berjumlah sepuluh orang sangat dekat dengannya. Bahkan mereka terkadang suka bermanja-manja dengan Sani, mereka sudah menganggap Sani seperti kakak kandung mereka sendiri.

Bagi Sani tugasnya sebagai pembimbing adalah membantu adik-adik bimbingannya untuk belajar dan mengembangkankan bakat pidato yang ada dalam diri mereka serta menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian adik-adik saat berbicara didepan umum. Sani juga selalu mengingatkan kepada adik-adik bimbingannya untuk selalu antusias dalam mengikuti bimbingan.

“Saya bimbing adik-adik agar dapat tampil berpidato dengan baik, dan supaya mereka gak takut atau malu-malu pas tampil pidato.”

Dalam materi pelajaran yang diberikan kepada adi-adik bimbingannya, Sani sengaja merancang materi pelajaran disertai dengan memberikan contoh-contoh. Dalam berpidato bahasa yang digunakan harus baku. Tidak boleh menggunakan bahasa sehari-hari tetapi bahasa yang digunakan dalam berpidato harus bahasa formal. “Saya contohkan biasanya kata-kata seperti “aku” dan kata-kata tidak baku lainnya gak boleh dipakek untuk pidato.”

Metode pengajaran yang Sani terapkan bermacam-macam. Terkadang Sani juga mengkombinasikan beberapa metode yang ada dengan tujuan agar adik-adik bimbingannya tidak bosan. Hal ini juga bertujuan untuk membuat siswi lebih

bersemangat dalam menerima materi pelajaran dan lebih cepat menangkap materi pelajaran yang diberikan.

“Pakai metode diskusi, disinikan bimbingannya perkelompok-kelompok jadi bukan saya saja yang ngasih masukan tapi kami juga sering diskusi. Kadang siswi bimbingan ada yang ngasih saran atau masukan sama teman yang lain.”

Pada saat bimbingan, Sani sebagai pembimbing selalu berupaya untuk meningkatkan rasa percaya diri siswi bimbingannya. Upaya-upaya tersebut dia mulai dengan mendengarkan alasan adik-adik kurang percaya diri saat tampil berpidato didepan umum. Kemudian Siti berusaha dengan membuat suasana bimbingan tidak tegang tetapi seperti diskusi agar mereka merasa nyaman curhat dengannya. Dengan kedekatan yang terjanlin dan saling keterbukaan akan memudahkan siswi dalam menerimah dan memahami materi yang ia berikan.

“Lebih saya tekankan kepada adik-adik untuk sering latihan dan selalu memperhatikan kemajuan rasa percaya diri mereka dalam berpidato.”

Sani juga selalu memberikan motivasi kepada adik-adik bimbingannya untuk selalu percaya diri saat tampil berpidato. Sani juga menyadari usia adik-adik yang masih remaja. Mereka lebih mudah merasa malu, dan canggung saat tampil didepan umum. Oleh karena itu saat bimbingan berlangsung Sani selalu memberikan motivasi kepada mereka agar lebih percaya diri saat berpidato. Karena menurut Sani tanpa rasa percaya diri dalam menyampaikan pidato akan terlihat aneh. Seseorang tampil berpidato sebagai pembicara maka dialah yang menjadi pusat perhatian banyak orang. Intinya dia akan dinilai dari setiap kata-kata yang diucapkannya serta penampilan dan gerak-geriknya. Jadi sudah seharusnyalah sebagai pembicara dalam berpidato tampil secara maksimal.

“Biasanya adik yang tampil percaya diri saat berpidato diberi pujian. Saya bilang kalau adik tersebut bisa jadi ustajah trus bilang ke adik yang lain supaya jangan malu-malu dan takut karna semua orang bisa berpidato dengan baik.”

Sani tidak hanya memberikan motivasi tetapi juga memberikan tips-tips yang sering dia terapkan sewaktu dia masih mengikuti kegiatan public speaking (muhadoroh). Karena tips-tips yang dia berikan bukan dari buku tetapi dari pengalaman dia sendiri maka biasanya lebih mudah untuk diikuti adik-adik bimbingannya.

“Tips yang saya berikan lebih ke Agamanya, kayak baca doa sebelum tampil berpidato. Trus Jangan ninggalin shalat lima waktu biar rasa percaya diri kita keluar saat pidato dan latihan itu yang penting.”

Hidup dan menimbah ilmu di Pesatren yang dilengkapi dengan asrama, Hampir dua puluh empat jam bertemu menjadikan Sani sering menjalin komunikasi dengan adik-adik bimbingannya. Diluar jam bimbingan Sani sering menanyakan tentang persiapan mereka untuk tampil berpidato. Apa masih ada kesulitan-kesulitan yang mereka rasakan.

“Biasanya saya nanyak udah kayak mana persiapan untuk tampil.”

Menurut Sani gesture sangat perlu dalam berpidato karena dapat melengkapi maksud dari kata-kata yang disampaikan si pembicara. Gesture juga dapat menarik perhatian audiens asal dalam penggunaannya sesuai dan tidak berlebihan. Sani tidak merasa kesulitan dalam melatih gesture (gerak tubuh) karena ia dapat langsung memberi contoh kepada adik-adik bimbingannya.

“Saya contohkan sama adik-adik kalau pidato yang isinya ada kata-kata yang nuntut orang lain melakukan sesuatu. Seperti mengatakan ‘ayo’ diikuti gerakan tangan diangkat dan dikepalkan.”

Vokal dalam pidato juga tidak kalah penting. Oleh karena itu melatih vokal juga menjadi tugas pembimbing. Materi bagus, persiapan cukup, gesture memikat tetapi vokal tidak jelas maka itu tidak berarti apa-apa. Karena dalam berpidato isi dari apa yang disampaikan si pembicara yang menjadi fokus perhatian audiens melalui suara si pembicara. Oleh karena itu saat latihan Sani selalu memperhatikan vokal adik-adik bimbingannya, karena biasanya mereka bila merasa malu, canggung dan tidak percaya diri maka saat berbicara suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

“Saya sering menyuruh adik-adik satu satu untuk membaca teks dengan kuat-kuat.”

Sani dalam menentukan penilaian kepada adik-adik bimbingannya. Apakah yang diajarkan efektif atau tidak dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka saat berpidato yaitu saat mereka dapat giliran untuk berpidato sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan atau saat mereka mengikuti lomba pidato yang rutin diadakan di pesatren dua kali dalam setahun, berarti persemester.

“kalau adik-adik yang saya bimbing bisa tampil pidato secara maksimal kayak merasa tenang, gak gugup, vokalnya jelas, berani natap audiens. Berarti dia udah tampil percaya diri.”

Sani juga menyadari keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya. Apabila setelah melakukan evaluasi tetapi adik bimbingannya masih juga belum bisa tampil percaya diri saat berpidato. Maka Sani akan lebih sering memperhatikan adik tersebut saat bimbingan.

“Waktu bimbingan saya suruh dia kasih pertanyaan biar dia terbiasa ngomong didepan teman-temannya.”

Informan 2

Nama : Asmaul Husna

Jumlah siswi yang dibimbing : Sepuluh Orang

Husna adalah informan kedua yang peneliti wawancarai. Proses wawancara berlangsung pada tanggal 24 April 2013 setelah pulang sekolah. Kira-kira pukul 15.00 WIB. Husna adalah sosok yang sangat ramah dan mudah tersenyum. Husna bersuku Jawa, hal ini terlihat dari paras wajahnya yang mencerminkan bahwa ia adalah orang suku Jawa. Husna memiliki badan yang cukup tinggi bila dibandingkan teman-teman yang lain sekitar 160 cm dengan ukuran tubuh yang langsing. Husna memiliki kulit yang hitam, saat dia tersenyum sangat manis. Tutur katanya juga sopan dan lembut. Hal ini peneliti rasakan saat berwawawancara dengannya. Sikap Husna terhadap adik bimbingannya yang berjumlah sepuluh orang juga sangat hangat dan lembut. Saat bimbingan Husna tidak pernah marah kepada adik-adik bimbingannya. Apabila mereka tidak fokus mendengarkan saat ia memberi arahan, ia hanya mengingatkan agar adik-adik mendengarkan penjelasannya.

Mengajarkan dan melatih berpidato kepada adik-adik bimbingannya, seperti itulah Husna memaknai tugasnya sebagai pembimbing. Dengan arahan-arahan dan mengajarkan apa yang dia ketahui tentang pidato kepada adik-adik bimbingannya agar mereka lebih memahami cara berpidato. Dengan pengetahuan itu maka mereka bisa lebih percaya diri saat berpidato.

“Saya ajarin mereka cara berpidato kalau tau ilmunya kan lebih mudah prakteknya.”

Dalam menyampaikan materi kepada adik-adik Husna selalu membuat hal-hal yang menarik. Dalam arti Husna tidak selalu memberi materi tetapi juga menguji kemampuan dan pengetahuan mereka tentang pidato dengan cara bertanya kepada

adik-adik bimbingannya. Menurut Husna dengan bertanya ia dapat mengetahui kemampuan adik-adik tersebut dan melatih keaktifan mereka saat belajar. Dengan cara seperti ini Husna menjadi tahu pemahaman apa yang kurang dari adik-adik tersebut.

“Saya sering nanyak sama adik-adik waktu bimbingan jadi dari situ kan bisa nambah pengetahuan mereka mengenai pidato.”

Agar adik-adik tidak cepat lupa dengan arahan-arahan dan materi tentang pidato yang Husna berikan saat bimbingan. Husna selalu berusaha mengingatkan mereka. Bahkan hal ini dilakukan Husna diluar jam bimbingan. Bila adik-adik terus-menerus diingatkan maka apa yag disampaikan oleh pembimbingnya akan melekat dalam ingatan mereka.

“Sering-sering saya ingatkan, supaya mereka terus ingat dengan arahan-arahan yang saya berikan.”

Husna selalu berusaha untuk meningkatkan rasa percaya diri adik-adik bimbingannya saat tampil berpidato. Husna merasa sedih kalau melihat adik-adik bimbingannya merasa cemas, takut dan tertekan saat berpidato. Husna sering mengajak adik-adik bimbingannya untuk aktif saat proses bimbingan. Husna biasanya sebelum memulai bimbingan, ia akan memanggil adik bimbingannya satu persatu untuk maju kedepan untuk menceritakan aktivitasnya hari itu dimulai dari bangun pagi sampai mengikuti bimbingan.

“Upaya yang saya lakukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka adalah dengan membiasakan mereka tampil berbicara didepan teman-teman kelompoknya.”

Menurut Husna adik-adik bimbingannya harus sering diberi motivasi. Agar mereka terpacu semangatnya untuk terus belajar dan mempebaiki kesalahan yang pernah mereka lakukan saat berpidato. Husna juga sering memberikan nasehat agar adik-adik tidak malas belajar dan berlatih. Diakhir jam bimbingan Husna selalu memberikan cerita-cerita yang penuh inspirasi. Husna selalu menekankan adik-adik untuk selalu berpikir positif dan percaya pada kemampuan mereka. Bahwa semua manusia memliki potensi yang sama tergantung kita bagaimana mengoptimalkan potensi yang kita miliki.

“Saya motivasi adik-adik dengan cerita-cerita penuh inspirasi dan selalu mengatakan kepada mereka bahwa kita sama seperti orang lain. Kalau orang lain bisa tampil percaya diri mengapa kita tidak.”

Tidak hanya cukup memberikan materi, memotivasi dan berupaya untuk meningkatkan rasa percaya diri adik-adik bimbingannya saat berpidato. Husna juga memberikan tips-tips untuk diterapkan adik-adik sebelum mereka tampil berpidato. Biasanya tips-tips yang Husna berikan cukup mudah untuk dipraktekkan tetapi membuahkan hasil yang tidak mengecewakan.

“Saya sarankan adik-adik untuk sering-sering latihan pidato didepan kaca dan sebelum naik kepodium untuk berpidato saya sarankan adik-adik untuk menarik napas perlahan-lahan dan mengeluarkannya tiga kali berturut-turut. Ini membantu mereka untuk lebih rileks.”

Husna begitu peduli kepada adik-adik bimbingannya. Bahkan diluar jam bimbingan Husna sering mendatangi adik-adik bimbingannya kekamar mereka untuk memastikan keadaan adik-adik bimbingannya. Karena Husna telah menganggap mereka seperti adik sendiri. Menurut Husna dengan sering berkomunikasi dan memberi perhatian membuat mereka merasa diperhatikan dan bersemangat sehingga saran-saran yang ia berikan selalu mereka ingat dan terapkan. Husna juga menghindari ada jarak diantara dia dengan adik-adik bimbingannya.

“Kalau malam sering datang kekamar mereka sekedar nanyak udah ngerjain PR belum?.”

Dalam melatih gerak tubuh (gesture) dalam berpidato. Husna tidak memberi materi khusus untuk mengajarkan hal ini kepada adik-adik bimbingannya. Saat proses bimbingan, Husna akan menyuruh adik-adik bimbingannya untuk tampil latihan berpidato. Dan biasanya saat mereka tampil latihan berpidato itulah Husna memberi saran gerakan yang cocok untuk menyertai kata-kata yang mereka ucapkan dengan mencontohkan gerakan yang sesuai. Menurut Husna gerakan tubuh (gesture) digunakan untuk penyampaian pikiran dan perasaan tertentu dan gerakan tubuh lebih berarti dari pada kata-kata.

“Kalau adik-adik latihan pidato, Saya sering kasih saran kalau menyambut atau menyapa audiens sebaiknya tangan dikembangkan kearah mereka sebagai sambutan.”

Menurut Husna vokal harus diperhatikan saat berpidato. Salah satunya adalah Intonasi. Ketepatan berbicara akan menghindarkan dari kesalahan tafsir. Selain itu audiens juga lebih mudah menerima pesan apabila pembicara mengucap tiap kata dengan ejaan yang tepat. Husna sering menyarankan kepada adik-adik untuk mengucapkan kata-kata sesuai dengan ejaannya seperti; mengucap kata “suka”, ucapkanlah su-ka, jangan su-kak. Husna sering mengalami kesulitan saat melatih

vokal adik-adik karena mereka berasal dari suku yang berbeda-beda. Sehingga dialek mereka susah untuk dirubah Husna juga melatih intonasi adik-adik dengan sering menyuruh mereka mengucapkan alphabet A,B, sampai Z. Karena bahasa Indonesia mengenal huruf ‘c’ dengan intonasi ‘ce’ bukan ‘se’ , huruf ‘q’ dengan bunyi ‘qi’ bukan ‘kyu’, dan huruf ‘z’ dengan lafal ‘zet’ bukan ‘set’.

“Melatih intonasi dengan sering menyuruh mengucapkan alphabet agar artikulasi yang mereka ucapkan jelas.”

Penilaian yang Husna lakukan untuk menentukan berhasil tidaknya proses bimbingan yang ia lakukan terhadap adik-adik dalam menentukan kepercayaan diri mereka saat tampil berpidato adalah dengan melihat kemajuan-kemajuan/peningkatan dalam yang terjadi saat adik tersebut berpidato. Menurut Husna mudah saja baginya untuk menilai apakah adik yang ia bimbing berhasil tampil percaya diri saat berpidato yaitu dengan memperhatikan bahasa nonverbal (gerak-gerik) dari adik tersebut. Kalau adik tersebut bersikap tenang dan berbicara dengan lancar dan tidak terburu-buru seperti ingin segera menyudahi pidatonya maka adik tersebut telah tampil percaya diri saat berpidato.

“Saya lihat dari gerak-gerik dan tempo bicaranya kalau dia tidak melakukan gerakan yang tidak perlu dan berulang-ulang seperti berulang-ulang membetulkan aksesoris yang ia kenakan dan berbicaranya tidak terburu-bur, suaranya jelas dan gerakannya luwes berarti adik tersebut udah percaya diri.”

Tidak selamanya dalam proses bimbingan berhasil sesuai dengan harapan.

Dokumen terkait