• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Optimasi Penggunaan, serta Pola dan Struktur Pertumbuhan masing-masing

Dalam dokumen MANAJEMEN EKSPOR IMPOR INDONESIA (Halaman 150-155)

dalam Pengembangan UMKM diI Provinsi Lampung

B. Hasil Optimasi Penggunaan, serta Pola dan Struktur Pertumbuhan masing-masing

Sektor Ekonomi

Setelah lima daerah terpilih sebagai daerah potensial pengimplementasian LKD di Provinsi

Lampung, selanjutnya analisis Location Quotient

(LQ), Klassen Typology, dan HP Filter dilakukan untuk melihat sektor potensial yang dimiliki oleh setiap daerah terpilih serta mengetahui bagaimana pengoptimalan penggunaan sektor potensial yang telah dilaksanakan oleh setiap daerah dan pola pertumbuhan dari setiap sektor di masing-masing daerah potensial. Berikut merupakan hasil analisis Location Quotient (LQ), Klassen Typology, dan HP Filter pada lima daerah potensial pengimplementasian LKD di Provinsi Lampung.

1. Lampung Tengah

Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Location Quotient (LQ) diketahui terdapat 3 sektor

basis dengan nilai LQ>1 di kabupaten Lampung

Tengah. Ketiga sektor tersebut yaitu (1) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, (2) Industri Pengolahan dan, (3) Konstruksi. Lebih jauh, analisis Klassen

Typology menunjukkan bahwa 2 dari ketiga sektor

potensial di kabupaten Lampung Tengah merupakan sektor dengan pola dan struktur pertumbuhan sektor maju dan tumbuh pesat dan satu sektor merupakan sektor maju namun tertekan yaitu konstruksi. Sebagai

daerah yang memiliki 5 unit topografi yaitu daerah topografi berbukit sampai bergunung, daerah topografi

berombak sampai bergelombang, daerah dataran aluvial, daerah rawa pasang surut, dan daerah river basin serta mata pencaharian penduduk utama dalam sektor pertanian, industry, dan jasa, mampu menjadikan 3 sektor tersebut sebagai sektor potensial di kabupaten Lampung Tengah. Selain itu, daerah topografi berombak sampai bergelombang dengan kemiringan

antara 8o – 15o dan ketinggian antara 300m – 500 m dpal menjadikan berbagai jenis tanaman perkebunan seperti kopi, cengkeh, lada dan tanaman pangan seperti padi, jagung, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran tumbuh dengan baik di daerah ini. Jumlah produksi ikan yang telah mencapai 27.288,50 ton di tahun 2014 dengan jumlah armada kapal 612 unit yang didominasi oleh kapal motor serta jumlah industry kecil yang tumbuh 0,57% di tahun 2013 dengan pertumbuhan nilai investasi 0,08% dan nilai produksi 0.11% semakin mendukung ketiga sektor tersebut sebagai sektor potensial di kabupaten Lampung Tengah.

Setelah analisis LQ dan Klassen Typology,

selanjutnya dilakukan analisis HP Filter untuk melihat optimasi penggunaan sektor potensial di kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan analisis HP Filter terlihat bahwa sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan sektor industry pengolahan memiliki nilai actual yang melebihi nilai potensialnya, serta sektor konstruksi yang telah mencapai nilai optimumnya. Selain ketiga sektor tersebut, terdapat 2 sektor lain di Lampung Tengah yang memiliki nilai actual melebihi nilai potensialnya yaitu Perdagangan, hotel, dan restoran yang termasuk dalam kategori sektor potensial Lampung Tengah serta sektor Jasa-jasa yang termasuk dalam kategori sektor relative tertinggal di Lampung Tengah. Sementara itu, sektor potensial lain di kabupaten Lampung Tengah seperti pertambangan dan penggalian masih memiliki nilai actual yang kurang dari nilai potensalnya (belum optimum).

2. Pesisir Barat

Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Location Quotient (LQ) diketahui terdapat 4 sektor

basis dengan nilai LQ>1 di kabupaten Pesisir Barat,

keempat sektor tersebut yaitu: (1) pertanian, kehutanan, dan perikanan, (2) perdagangan, hotel, dan restoran, (3) keuangan, real estate, dan jasa perusahaan, dan (4) jasa-jasa. Lebih jauh analisis Klassen Typology menunjukkan bahwa 2 sektor basis di kabupaten Pesisir Barat yaitu pertanian, kehutanan, dan perikaan serta keuangan, real estate, dan jasa perusahaan memiliki pola dan struktur pertumbuhan sebagai sektor maju dan tumbuh pesat. Sedangkan dua sektor lainnya yaitu perdagangan, hotel, dan restoran serta jasa-jasa memiliki pola dan struktur pertumbuhan sebagai sektor maju namun tertekan. Dengan keadaan wilayah sepanjang pantai Pesisir Barat umumnya datar sampai berombak dengan kemiringan berkisar 3%-5%

rendah, serta luas panen sebesar 12.577 Ha dengan produksi 77.418 ton semakin mendukung sektor pertanian, kehuanan, dan perikanan sebagai sektor basis dengan pola pertumbuhan yang maju dan tumbuh pesat.

Dalam sektor perdagangan, di kabupaten Pesisir Barat baru terdapat 15 pasar dengan 103 kios dan 572 los. Jumlah los terbanyak berada di pasar Way Batu kecamatan Pesisir Tengah dengan jumlah kios 50 buah, namun di kecamatan Pesisir Utara, Lemong secara keseluruhan di semua pasar belum terdapat kios. Sama halnya dengan jumlah kios terbanyak, jumlah los terbanyak juga terdapat di pasar Way Batu kecamatan Pesisir Tengah dengan jumlah los 120 buah, namun di kecamatanLemong tidak memiliki los di seluruh pasar kecamatan tersebut. Selain itu, angka partisipasi sekolah di kabupaten Pesisir Barat juga secara umum mengalami penurunan dari tahun 2010 hingga 2012, jumlah partisipasi sekolah pun semakin menurun seiring dengan semakin meningkatnya jenjang pendidikan sekolah. Di tahun 2012 partisipasi sekolah di SMA/MA di kabupaten Pesisir Barat hanya sebesar 46,64%. Selain itu, jumlah angkatan kerja di kabupaten Pesisir Baratpun didominasi dari tingkat SD ke bawah yaitu sebanyak 153.220 jiwa. Sektor perdagangan yang masih belum menjangkau banyak wilayah dan tingkat pendidikan yang masih rendah dapat menjadi salah satu penyebab tertekannya sektor potensial di kabupaten Pesisir Barat.

Setelah analisis LQ dan Klassen Typology,

selanjutnya dilakukan analisis HP Filter untuk melihat optimasi penggunaan sektor potensial di kabupaten Pesisir Barat. Berdasarkan analisis HP Filter terlihat bahwa seluruh sektor basis di kabupaten Pesisir Barat telah memiliki nilai actual melebihi nilai potensialnya. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian yang termasuk dalam kategori sektor potensial di kabupaten Pesisir Barat masih memiliki nilai actual yang kurang dari nilai potensalnya (belum optimum).

3. Lampung Selatan

Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Location Quotient (LQ) diketahui terdapat 5 sektor basis di kabupaten Lampung Selatan. Kelima sektor tersebut yaitu: (1) industry pengolahan, (2) listrik, gas, dan air bersih, (3) konstruksi, (4) perdagangan, hotel, dan restoran, dan (5) pengangkutan dan komunikasi. Lebih jauh, analisis Klassen Typology menunjukka bahwa 2 sektor dari kelima sektor basis termasuk dalam kategori sektor yang memiliki pola dan struktur

pertumbuhan sebagai sektor maju dan tumbuh pesat, kedua sektor tersebut yaitu industry pengolahan dan perdagangan, hotel dan restoran. Sementara 3 sektor basis lainnya yaitu listrik, gas dan air bersih; konstruksi; serta pengangkutan dan komunikasi termasuk dalam kategori sektor maju namun tertekan. Sebagai salah satu sektor dengan pola pertumbuhan sebagai sektor maju namun tertekan, jumlah daya listrik yang terpasang di kabupaten Lampung Selatan adalah sebesar 95 KW dengan listrik yang terjual sebesar 316.442.318 KWh dan yang menghilang 73.117.612 KWh di tahun 2011. Jumlah listrik yang menghilang di tahun 2011 ini terus meningkat setiap tahunnya, sedangkan jumlah listrik yang terjual secara umum mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik kabupaten Lampung Selatan, di tahun 2009 jumlah listrik yang terjual mencapai 320.370.777 KWh dan mengalami penurunan di tahun 2010 menjadi 291.131.289 KWh, meskipun di tahun 2011 mengalami peningkatan kembali namun belum mencapai jumlah listrik yang terjual di tahun 2010.

Pertumbuhan yang baik terjadi di sektor Industri di kabupaten Lampung Selatan, di kabupaten ini telah terdapat 33 industri besar-sedang yang memiliki 73 perusahaan dan mampu menyerap 8.254 tenaga kerja. Dan secara keseluruhan terdapat 2.079 industri di kabupaten Lampung Selatan yang didominasi oleh industry mikro sebesar 1.341 industri. Selain itu, jumlah hotel dan akomodasi lainnya di kabupaten Lampung Selatan pun terus mengalami peningkatan. Tercatat di tahun 2013, Lampung Selatan telah memiliki 99 hotel dan 614 akomodasi lainnya. Hal ini semakin mendukung kedua sektor basis menjadi sektor yang terus maju dan tumbuh pesat.

Setelah analisis LQ dan Klassen Typology,

selanjutnya dilakukan analisis HP Filter untuk melihat optimasi penggunaan sektor potensial di kabupaten Lampung Selatan. Berdasarkan analisis HP Filter terlihat bahwa sektor industry pengolahan serta perdagangan, hotel, dan restoran telah memiliki nilai actual melebihi nilai potensialnya, sektor pengangkutan dan komunikasi serta konstruksi yang telah mencapai nilai optimum, namun sektor listrik, gas, dan air bersih memiliki nilai actual yang kurang dari nilai potensalnya (belum optimum). Selain kedua sektor basis dengan pola sektor maju dan tumbuh pesat, terdapat 2 sektor lain yang memiiki nilai actual melebihi nilai potensalnya yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki pola sebagai sektor potensial dan sektor jasa-jasa yang memiliki pola sebagai sektor relative tertinggal.

4. Bandar Lampung

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode Location Quotient (LQ) diketahui terdapat 7

sektor basis dengan nilai LQ>1 di kota Bandar

Lampung. Ketujuh sektor tersebut yaitu: (1) industry pengolahan, (2) listrik, gas, dan air bersih, (3) konstruksi, (4) perdagangan, hotel, dan restoran, (5) pengangkutan dan komunikasi, (6) keuangan, real estate, dan jasa perusahaan, dan (7) jasa-jasa. Lebih jauh, analisis Klassen Typology menunjukkan bahwa 3 dari 7 sektor basis di Bandar Lampung telah termasuk dalam kategori sektor maju dan tumbuh pesat, ketiga sektor tersebut yaitu industry pengolahan; pengangkutan dan komunikasi; serta keuangan, real estate, dan jasa perusahaan. Sementara itu, keempat sektor lainnya yaitu listrik, gas, dan air bersih; konstruksi; perdagangan, hotel, dan restoran; serta jasa-jasa termasuk dalam kategori sektor maju namun tertekan. Sebagai ibu kota Provinsi Lampung, tedapat 214 perusahaan di Bandar Lampung yang mampu menyerap 7.017 tenaga kerja. Dari sektor listrik, gas, dan air bersih terdapat 55.358.708.444 m3 air yang terjual dengan nilai Rp.6.622.171.919 di tahun 2014, serta 68.123.379 KWh listrik dengan nilai Rp. 72.710.123.512. Sementara dari sektor perdagangan, volume ekspro kota Bandar Lampung di tahun 2014 menurun drastis menjadi 4.394.270 ton dari sebelumnya 10.971.239 ton di tahun 2013. Sementara volume impor di Bandar Lampung terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini dapat menjadi salah satu factor yang menyebabkan sektor maju di kota Bandar Lampung masih dalam kondisi tertekan.

Setelah analisis LQ dan Klassen Typology,

selanjutnya dilakukan analisis HP Filter untuk melihat optimasi penggunaan sektor potensial di kota Bandar Lampung. Berdasarkan analisis HP Filter terlihat bahwa 3 sektor basis telah memiliki nilai actual yang melebihi nilai potensialnya, ketiga sektor tersebut yaitu industry pengolahan serta perdagangan, hotel, dan restoran. Sementara itu, sektor basis lain seperti sektor listrik, gas, dan air bersih; keuangan, real estate, dan jasa perusahaan; serta jasa-jasa masih memiliki nilai actual yang kurang dari nilai potensalnya (belum optimum). Sedangkan sektor konstruksi telah mencapai nilai optimumnya.

5. Mesuji

Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode Location Quotient (LQ) diketahui terdapat 2 sektor basis di kabupaten Mesuji, kedua sektor basis tersebut

yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan serta industry pengolahan. Lebih jauh, analisis Klassen

Typology menunjukkan bahwa sektor industry

pengolahan telah termasuk dalam kategori sektor maju dan tumbuh pesat, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih termasuk dalam kategori sektor maju namun tertekan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Mesuji diketahui bahwa sektor pertanan, kehutanan, dan perikanan merupakan lapangan kerja utama penduduk kabupaten Mesuji dengan 122.454 keluarga keluarga tani. Selain itu, berdasarkan data penggunaan lahan pertanian kabupaten Mesuji tahun 2014, masih terdapat 193 sawah dan 13.039 tanah kering yang tidak diusahakan. Pengoptimalan tanah kering menjadi lading/huma dan tegal/kebun perlu ditingkatkan jika melihat jumlah ladag/huma yang masih 9.438 dan tegal/kebun 9.084 di kabupaten Mesuji jauh dibawah jumlah yang tidak diusahakan.

Setelah analisis LQ dan Klassen Typology,

selanjutnya dilakukan analisis HP Filter untuk melihat optimasi penggunaan sektor potensial di kabupaten Mesuji. Berdasarkan analisis HP Filter terlihat bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memiliki nilai actual yang melebihi nilai potensialnya, sedangkan sektor industry pengolahan telah berada dalam kisaran nilai optimumnya. Selain sektor basis, terdapat 2 sektor lain di kabupaten Mesuji yang memiliki nilai optimum melebihi nilai aktualnya, kedua sektor tersebut yaitu perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor jasa-jasa.

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

SIMPULAN

1. terdapat 5 daerah yang menjadi prioritas pengimplementasian LKD di Provinsi Lampung. Kelima daerah tersebut adalah:

a. Lampung Tengah, kabupaten ini menjadi

daerah yang tepat untuk menerapkan LKD karena merupakan kabupaten yang memiliki tingkat penetrasi perbankan rendah namun dengan tingkat penetrasi telekomunikasi yang tinggi, memiliki tingkat utilitasi layanan keuangan baik tabungan maupun kredit yang rendah, serta salah satu kabupaten dengan total PDRB terbesar di Provinsi Lampung.

b. Pesisir Barat, kabupaten ini menjadi daerah yang tepat untuk menerapkan LKD karena merupakan kabupaten yang memiliki tingkat penetrasi perbankan rendah namun dengan tingkat penetrasi telekomunikasi yang tinggi, memiliki tingkat utilitasi layanan keuangan baik tabungan maupun kredit yang rendah, serta salah satu daerah dengan jumlah ketersediaan layanan terendah di Provinsi Lampung.

c. Lampung Selatan, kabupaten ini menjadi

daerah yang tepat untuk menerapkan LKD karena memiliki tingkat utilitasi layanan keuangan baik tabungan maupun kredit yang terendah, total PDRB terbesar, serta kondisi infrastruktur terbaik untuk pengimplementasian LKD di Provinsi Lampung

d. Bandar Lampung, ibu kota provinsi Lampung ini menjadi daerah yang tepat untuk menerapkan LKD karena merupakan daerah yang memiliki yang memiliki tingkat penetrasi perbankan rendah namun dengan tingkat penetrasi telekomunikasi yang tinggi, salah satu daerah dengan total PDRB terbesar di Provinsi Lampung, serta daerah dengan kondisi infrastruktur terbaik untuk pengimplementasian LKD di Provinsi Lampung

e. Mesuji, kabupaten ini menjadi daerah yang tepat untuk menerapkan LKD karena merupakan daerah yang memiliki tingkat penetrasi perbankan rendah namun dengan tingkat penetrasi telekomunikasi yang tinggi, salah satu daerah dengan tingkat utilitasi layanan keuangan baik tabungan maupun kredit yang terendah di Provinsi Lampung, serta salah satu daerah dengan jumlah ketersediaan layanan terendah di Provinsi Lampung.

2. Berdasarkan hasil perhitungan dengan

menggunakan metode Location Quotient(LQ),

diketahui sektor-sektor basis yang dapat dikembangkan sebagai saranan dan peluang pengembangan UMKM di setiap daerah terpilih pengimplementasian LKD. Berikut merupakan sektor potensial di setiap daerah terpilih: 3. Berdasarkan hasil perhitungan dengan

menggunakan metode Klassen Typology dan

analisis HP Filter diketahui pola dan struktur pertumbuhan dari setiap sektor basis potensial di setiap daerah terpilih, berikut merupakan hasil analisi untuk masing-masing daerah:

4. Layanan keuangan dan perbankan merupakan

salah satu sektor penting yang berkontribusi bagi perekonomian suatu daerah. Keberadaan bank dan lembaga keuangan tentunya dapat menopang aktivitas ekonomi masyarakat di suatu daerah, memudahkan masyarakat di suatu daerah untuk menjangkau sumber modal yang pada akirnya mampu mendorong sektor produktif di daerah tersebut untuk tumbuh dan berkembang. Keberadaan Layanan Keuangan Digital (LKD) disuatu daerah tentunya akan semakin memudahkan masyarakat untuk berhubungan dengan bank dan lembaga keuangan sehingga mampu menopang setiap kegiatan ekonomi masyarakat di daerah tersebut dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian daerah. Selain itu, UMKM juga memegang peranan yang sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah. Dengan pemilihan sektor potensial yang tepat dan memiliki struktur berkelanjutan yang dikembangkan menjadi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan kemudahan akses terhadap lembaga keuangan dan perbankan tentunya mampu mengembangkan sektor produktif daerah dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian di daerah tersebut.

SARAN

1. Berdasarkan hasil analisa menggunakan metode

AHP serta memperhitungkan kondisi sosal cultural serta keamanan di kabupaten/kota, maka Lampung Tengah, Pesisir Barat, Lampung Selatan, Bandar Lampung, dan Mesuji ditetapkan sebagai wilayah di provinsi Lampung yang menjadi daerah prioritas pengembangan LKD. 2. Pemerintah daerah diharapkan mampu

mengembagkan sektor potensial yang dimiliki oleh setiap daerah dan memperhatikan penggunaan dari setiap sektor tersebut. Penggunaan dan pengembangan pada sektor yang tepat mampu mengembangkan sektor produktif daerah dan tentunya meningkatkan perekonomian daerah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

B. Habaradas, Raymund; dan Mar Andriel Umali.

2013. The microfinance Industry in the

Philippines: Striving for Financial Inclusion in

the midst of Growth. Working Paper 2013-05

Center for Business Research & Development. Badan Pusat Statistik. www.bps.go.id. Diakses pada 1 Mei 2016.

Bank Indonesia. www.bi.go.id. Diakses pada 1 Mei 2016.

Digital Financial Services in the Pacific Experience

and Regulatory Issues. 2016. Asian Development Bank.

Financial Literacy Baseline Survey. 2014. Bank

Indonesia.

Handfield, Robert; Steven V. Walton; Robert Sroufe;

Steven A. Melynk. 2002. Applying environmental criteria to supplier assesment: A Study in the Application of the Analytical Hierarcy Process. European Journal of Operational Research 141 (2002) 70-87.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. www.kemenkeu.go.id. Diakses pada 2 Mei 2016.

Mahmud, M Wildan. 2015. Analisis Struktur Ekonomi

dan Identifikasi Sektor Unggulan di Kabupaten

Nganjuk.

Micu, N. 2010. State of the Art of Microfinance: A

Narrative. Pinoy Me Foundation, Ninoy and

Cory Aquino Foundation, and Hanns Seidel Foundation.

Muelgini, Yoke dan Ria Pujianti. 2016. Identifikasi

Potensi Implementasi inovasi Layanan Keuangan Digital (LKD) Dalam Pengembangan UMKM di Provinsi Lampung

Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Selaku Ketua Komite Kebijakan Pembiayaan Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Nomor 4 Tahun 2015.

Rahmana, Arief; Yani Iriani; dan Rienna Oktarina.

2012. Strategi Pengembangan Usaha Kecil

Menengah Sektor Industri Pengolahan. Jurnal Tekhnik Industri Vol. 13 No.1.

Situmorang, J. 2008. Strategi UMKM dalam

Menghadapi Iklim Usaha yang Tidak Kondusif. Infokop Vol.16 Hal 88-101.

Winarni, E.S. 2006. Strategi Pengembangan Usaha

Kecil melalui Peningkatan Aksesbilitas Kredit Perbankan. Infokop No. 29.

Dalam dokumen MANAJEMEN EKSPOR IMPOR INDONESIA (Halaman 150-155)