• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Analisis Data 1 Pengujian Asumsi Klasik

Dalam dokumen MANAJEMEN EKSPOR IMPOR INDONESIA (Halaman 105-109)

Pengaruh Kebijakan Moneter, PDB, dan FDI Terhadap Nilai Ekspor Indonesia

C. Teknik Analisis Data 1 Pengujian Asumsi Klasik

Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, harus terlebih dahulu melalui uji asumsi klasik. Pengujian ini dilakukan untuk memperoleh parameter yang valid dan handal. Pengujian asumsi klasik terdiri dari uji Normalitas, uji Multikolinearitas, uji Autokorelasi dan uji Heteroskedastisitas.

a) Uji Normalitas

Uji asumsi ini akan menguji data variabel bebas (X) dan data variabel terikat (Y) pada persamaan regresi yang dihasilkan, apakah berdistribusi normal atau berdistribusi tidak normal. Persamaan regresi dikatakan baik jika mempunyai data variabel bebas dan data variabel terikat berdistribusi mendekati normal atau normal sama sekali.

Uji normalitas dapat dilakukan dengan cara

grafik histogram dan normal probability plots. Cara

grafik histogram cukup dengan membandingkan

antara data riil/nyata dengan garis kurva yang terbentuk, apakah mendekati normal atau memang normal sama sekali. Jika data riil membentuk garis kurva cenderung tidak simetri terhadap mean maka dapat dikatakan data berdistribusi tidak normal, dan sebaliknya. Sementara cara normal probability plots

lebih handal daripada cara grafik histogram karena

cara ini membandingkan data riil dengan data distribusi normal (otomatis oleh computer) secara kumulatif. Suatu data dikatakan berdistribusi normal jika garis data riil mengikuti garis diagonal.

b) Uji Multikolinearitas

Salah satu asumsi dalam metode kuadrat terkecil adalah tidak adanya hubungan linear antara variable independent. Jika hal ini terjadi, maka dikatakan bahwa data mengalami multikolinearitas. Indikasi awal data yang mengalami multikolinearitas yaitu apabila model memiliki standard error yang besar dan nilai statistic t yang rendah. Ada beberapa metode yang digunakan untuk mendeteksi multikolinearitas dalam suatu model regresi. Salah satu ciri persamaan regresi yang mengalami masalah multikolinearitas adalah nilai R2 yang tinggi namun memiliki sedikit variable independent yang mempengaruhi variable dependent

secara signifikan. Metode yang digunakan untuk

mendeteksi multikolinearitas dalam penelitian ini adalah tolerance Variance Inflactor Factor (VIF).

Batas tolerance value di bawah 0.1 dan VIF adalah 10. Oleh karena itu jika nilai tolerance value 0.1 atau VIF di atas 10 maka data dikatakan mengalami multikolinearitas.

c) Autokorelasi

Autokorelasi merupakan korelasi yang terjadi antara anggota observasi yang terletak berderetan secara seri dalam bentuk waktu (jika data yang digunakan adalah data time series) atau korelasi empat variabel yang berdekatan (jika data yang digunakan

adalah data cross sectional). Uji AutoKorelasi

penelitian ini menggunakan uji LM test untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi. Karena jumlah data besar sebanyak 6484 Dasar pengambilan keputusan jika nilai residual di regresikan dengan variable dependent lagi residual p_valuenya lebih kecil dari 0.05 berarti ada masalah autokorelasi dan jika nilai p_valuenya lebih besar dari 0.05 maka berarti tidak ada masalah autokorelasi. Autokorelasi juga dapat ditentukan dengan menggunakan uji Durbin- Watson (DW), dengan ketentuan sebagai berikut:

- Terjadi autokorelasi positif jika nilai DW lebih kecil -2 (DW < -2)

- Tidak terjadi autokorelasi jika nilai DW berada diantara -2 dan +2 (-2<DW<+2)

- Terjadi autokorelasi negatif jika nilai DW

lebih besar +2 (DW > +2)

d) Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas merupakan varian variabel dalam model yang tak sama (konstan). Menurut Widarjono (2005), salah satu metode paling cepat yang bisa digunakan dalam mendeteksi masalah heteroskedastisitas adalah dengan mendeteksi pola

residual melalui sebuah grafik. Jika variabel memiliki

varian yang sama (homoskedastisitas) maka kita tidak mempunyai pola yang pasti dari residual. Sebaliknya jika residual memiliki sifat heteroskedastisitas, maka residual akan menunjukkan pola tertentu. Metode lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi heteroskedastisitas adalah metode Glejser. Yaitu dengan cara meregresikan semua variabel independen dengan variabel dependen absolut residual dan dari hasil tersebut semua variabel harus memiliki nilai p-value yang lebih besar dari 0.05 untuk dapat dikatakan bahwa model tidak memiliki masalah heteroskedastisitas.

2. Uji-t

Asumsi yang dipakai adalah apabila signifikansi t lebih besar dari tingkat alpha (α) yang ditetapkan, maka

variable independent tersebut tidak berpengaruh

terhadap variable dependent atau hipotesis yang diajukan tidak didukung oleh data. Tetapi sebaliknya apabila nilai sig t lebih kecil dari tingkat alpha yang digunakan maka data mendukung hipotesis penelitian. Penelitian akan menggunakan level of significance (α) = 5%, hal ini didasarkan pada penelitian-penelitian sebelumnya yang sejenis.

3. Melakukan Uji-f

Asumsi yang dipakai adalah, apabila Fhitung <

Ftabel, maka variable independent tersebut secara

simultan tidak berpengaruh terhadap variable

dependent atau hipotesis yang diajukan tidak didukung oleh data. Tetapi sebaliknya apabila nilai Fhitung > Ftabel, maka variable independent tersebut secara

simultan berpengaruh signifikan terhadap variable dependent atau data mendukung hipotesis penelitian.

HASIL

Dari hasil perhitungan dengan diperoleh hasil sebagai berikut: Dependent Variable: Y

Method: Least Squares Date: 10/11/2012 Time: 17:14

Sample: 1990 2010 Included observations: 21

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

C 66.09852 12.00486 5.505982 0.0001

X1 0.034710 0.271869 0.127673 0.9002

X2 0.010919 0.001569 6.958415 0.0000

X3 0.002374 0.000443 5.358234 0.0001

R-squared 0.876600 Mean dependent var 176.0456

Adjusted R-squared 0.850158 S.D. dependent var 46.71431

S.E. of regression 18.08287 Akaike info criterion 8.820937

Sum squared resid 4577.861 Schwarz criterion 9.018797

Log likelihood -75.38843 F-statistic 33.15085

Durbin-Watson stat 2.606016 Prob(F-statistic) 0.000001

Estimation Command: ===================== LS Y C X1 X2 X3 Estimation Equation: ===================== Y = C(1) + C(2)*X1 + C(3)*X2 + C(4)*X3 Substituted Coefficients: ===================== Y = 66.09851983 + 0.03471020858*X1 + 0.01091862389*X2 + 0.002373968281*X3 R2 = 0,88 Pembahasan

Berdasarkan hasil regresi persamaan ECM, nilai tukar

berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai

ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Jadi, semakin terdepresiasi nilai tukar, maka nilai ekspor Indonesiaakan meningkat dan memiliki pengaruh yang bermakna. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Komang dan Luh Gede (2011), bahwa nilai tukar berpengaruh positif dan

signifikan terhadap nilai ekspor.Kurs memainkan peranan penting dalam keputusan-keputusan pembelanjaan, karena kurs memungkinkan kita menerjemahkan harga-harga dari berbagai negara ke dalam satu bahasa yang sama. Bila semua kondisi lainnya tetap, apabila mata uang dalam negeri terdepresiasi menyebabkan harga ekspor lebih murah

sehingga permintaan barang ke luar negeri meningkat. Hal ini sesuai dengan pendekatan kurva J. Kurva J adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara nilai tukar riil dengan neraca perdagangan dalam jangka waktu pendek dan panjang.Pada kurva J dinyatakan asumsi bahwa depresiasi nilai tukar akan memperbaiki kondisi neraca perdagangan suatu negara pada jangka panjang.Sebelum melakukan pendekatan dengan kurva J, syarat utama harus tercapai terlebih dahulu yaitu berada dalam kondisi Marshall-Lerner. Kondisi Marshall-Lerner merupakan suatu kondisi dimana jumlah elastisitas impor dan ekspor terhadap nilai tukar riil lebih dari 1atau elastis (Krugman, 1994).

1. Inflasi (INF)

Hasil regresi persamaan ECM, inflasi berpengaruh positif, namun tidak signifikan terhadap nilai ekspor

Indonesia dalam jangka pendek.Jadi semakin tinggi

inflasi, maka nilai eksporakan semakin meningkat,

namun pengaruhnya tidak bermakna. Penalaran

pengaruh positif inflasi terhadap ekspor dan impor

terjadi karena pada saat kenaikkan harga barang- barang yang akan diekspor maka mata uang domestik cenderung terdepresiasi sehingga harga barang-barang untuk diekspor cenderung lebih murah, namun hal ini membutuhkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu (1) biaya-biaya input untuk memproduksi barang-barang tersebut memiliki proporsi impor yang rendah atau input produksi diperoleh dari dalam negri dan sedikit yang diperoleh dari impor, (2) saat terjadi goncangan nilai tukar

karena inflasi maka perusahaan-perusahaan memiliki

armada pemasaran dan penjualan yang baik (KOMPASIANA, 2012).

2. Produk Domestik Bruto (PDB)

Hasil regresi persamaan ECM, PDB berpengaruh

positif dansignifikan terhadap nilai eskpor Indonesia

dalam jangka pendek.Jadi semakin tinggi PDB, maka nilai ekspor Indonesiaakan semakin meningkat dan memiliki pengaruh yang bermakna.Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan olehMuhammad Tariq Majeed dan Eatzaz Ahmad (2006). Peningkatan dari PDB menciptakan lingkungan untuk keputusan investasi dan menambah perputaran

modal untuk meningkatkan produktifitas barang dan jasa. Pada akhirnya peningkatan produktifitas ini akan

mendorong peningkatan nilai ekspor. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori klasik yang dikemukakan oleh Adam Smith. Dikemukakan bahwa, kemakmuran

suatu negara ditentukan oleh besarnya PDB dan sumbangan perdagangan luar negeri terhadap pembentukan PDB negara tersebut. Dengan tingginya income, employmentdan devisa, maka akan mendorong peningkatan impor produk yang belum mencukupi, atau belum diproduksi di dalam negeri. Meningkatnya impor tentu akan diiringi dengan peningkatan transfer

teknologi, penanaman modal, dandemonstrations

effect yang positif, seperti manajemen pemasaran dan lain-lain. Jika hal ini terjadi, maka monopoli dalam negeri akan menurun, sedangkan persaingan akan meningkat sehingga mendorong peningkatan

produktifitas dan efisiensi. Bila produktifitas dan efisisensi meningkat, maka harga barang menjadi lebih

murah dan kualitas serta pelayanan akan lebih baik. Dengan demikian daya saing produk dalam negeri akan meningkat. Ini menjadikan akses ke pasar luar negeri akan semakin besar, sehingga dapat meningkatkan peluang ekspor.

3. Foreign Direct Investment (FDI)

Hasil regresi persamaan ECM,FDI berpengaruh positif

dan signifikan terhadap nilai ekspor Indonesia dalam

jangka pendek.Jadi semakin tinggi FDI, maka nilai ekspor Indonesiaakan semakin meningkat dan memiliki pengaruh yang bermakna.Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan olehMarco Fugazza (2004). Penanaman modal asing merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pihak asing dalam rangka menanamkan modalnya disuatu negara dengan tujuan untuk mendapatkan laba melalui penciptaan suatu produksi atau jasa. Dengan banyaknya FDI maka semakin besar dana investasi dalam negeri masuk sehingga akan meningkatkan

produktifitas ekspor di Indonesia.

SIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka diper- oleh simpulan bahwa sebesar 88% volume ekspor Indonesia mampu dijelaskan oleh variabel harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

dan Foreign Direct Investment sedangkan sisanya

sebesar 12% dijelaskan variabel lain di luar model. Berdasarkan uji t-statistik diperoleh nilai t-tabel = 1,761 sedangkan nilai t-statistik untuk harga minyak dunia = 0,12, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS = 6,96 dan Foreign Direct Investment = 5,36. Hal ini membuktikan bahwa secara parsial harga minyak

dunia tidak memiliki pengaruh terhadap volume ekspor Indonesia, sedangkan nilai tukar rupiah

terhadap dolar AS dan Foreign Direct Investment

secara parsial signifikan mempengaruhi volume ekspor.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Juda. 2011. Dibalik Kenaikan BI Rate. (Madani-ri.com)

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2013.

Perkembangan Ekonomi Makro. (www.

bappenas.go.id)

Fugazza, Marco 2004. Export Performance and Its

Determinants : Supply and Demand Constraints.

New York and Geneva

Majeed, Muhammad tari dan Eatzaz Ahmad.2006. Determinants of Exports in Developing

Countries. The Pakistan Development Review

Pramana, Komang Amelia Sri dan Luh Gede Meydianawathi. 2011. Variabel-variabel yang Mempengaruhi Ekspor Nonmigas Indonesia ke Amerika Serikat.

Vernon. R. 1966. International Investment and

International Trade in Product Cycle. The

quarterly Journals of Economics. Sarwedi. 2010. Analisis Determinan Penawaran Barang Ekspor di Indonesia.

Taylor, J.B. 1995. The Monetary Transmission

Mechanism : An Empirical Framework. Journal Of Economics Perspective.

ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN NELAYAN:

Dalam dokumen MANAJEMEN EKSPOR IMPOR INDONESIA (Halaman 105-109)