BAB V Bab ini berisikan kesimpulan mengenai hasil penelitian serta saran dan rekomendasi bagi perusahaan maupun lembaga jurusan dimana
D. Hasil Pelaksanaan Program Pembinaan Kemandirian
Program pembinaan kemandirian adalah salah satu program yang ada di Lapas Terbuka Jakarta yang diharapkan dapat memberikan bekal keterampilan atau keahlian dalam bidang tertentu sehingga membuat WBP yang telah keluar dari lembaga ini dapat mandiri nantinya dalam hal mencari mata
16
Wawancara dengan Ibu Puji Indrayani selaku staf Bidang Kegiatan Kerja dilakukan pada 6 Januari 2014.
pencaharian.17 Hal inilah yang diungkapkan oleh Ibu Puji Indrayani kepada penulis tentang definisi pembinaan kemandirian menurut beliau.
Beberapa orang WBP yang telah mengikuti program pembinaan kemandirian dan merasakan manfaat dari program tersebut adalah AH dan AG. Mereka ada dua orang WBP yang mengikuti program pembinaan kemandirian peternakan ayam broiler. AH merupakan pencetus yang mengusulkan program ini berjalan kembali. Ia kemudian menjalankan kembali program peternakan ayam yang semula vakum. Ia merekrut beberapa orang WBP lainnya untuk belajar menternakan ayam broiler karena semasa masih bekerja dulu, ia pernah menangani proyek peternakan ayam. Sehingga ia memiliki keahlian di bidang tersebut. Berikut pernyataan AH saat diwawancarai oleh peneliti:
“Saya dulu pernah menggarap proyek peternakan mbak. Pernah lihat proyeknya, lalu dari situ jadi tahu seluk beluknya. Lalu saya lihat disini ada lahan, kenapa tidak dimanfaatkan. Kemudian saya usulkan untuk diadakan kembali program peternakan. Karena waktu saya tiba, program peternakan ayam sedang tidak jalan karena ketiadaan dana. Lalu saya mengajak beberapa warga (Warga Binaan Pemasyarakatan) untuk ikut program ini. Karena saya ingin mengembangkan program ini agar bisa dijalankan terus disini mbak, jangan sampai berhenti. Karena keuntungannya lumayan mbak. Nantinya bisa ada pemasukan untuk warga, dan ada pemasukan untuk lapas juga.”18
AG merupakan WBP yang direkrut AH dalam proses peternakan ayam broiler. AG mengaku ia senang diajak oleh AH dalam program peternakan
17
Wawancara dengan Ibu Puji Indrayani selaku staf Bidang Kegiatan Kerja dilakukan pada 6 Januari 2014.
18
ayam karena ia memang memiliki minat terhadap pemeliharaan ayam. Hal ini terungkap dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti berikut ini:
“Pertama, karena saya diajak. Kedua, karena saya memang berminat pada peternakan ayam mbak. Dulu waktu di kampung pernah memelihara beberapa ekor ayam tapi bukan ayam petelur ya, tapi ayam hias. Ya cukup senang ya dengan ayam. Nah dari situ saya ingin mencoba menternakkan ayam mbak.”19
Manfaat mendapat keterampilan tambahan juga dirasakan oleh WBP berinisial AN yang baru berusia 18 tahun saat pindah ke Lapas Terbuka Jakarta. Setelah mengikuti program kemandirian ia menjadi lebih termotivasi untuk melanjutkan sekolahnya yang sempat terputus akibat masuk Lembaga Pemasyarakatan dan bekerja untuk mengumpulkan modal untuk berwirausaha budidaya cacing. Hal ini seperti yang AN ungkapkan kepada penulis dari wawancara.
“Setelah keluar sih mau nerusin sekolah lagi kak. Mau kuliah juga. Mungkin kalau ada kesempatan ingin juga buka usaha budidaya cacing. Tidak begitu sulit juga sih prosesnya.”20
Keadaan Lapas yang terbuka membuat sisi psikologis mereka menjadi lebih tenang, tidak merasa tertekan dengan tidak adanya kurungan dan jeruji serta dinding yang tinggi seperti bangunan Lapas pada umumnya. Sehingga mereka bisa menjalankan program pembinaan kemandirian yang disiapkan selama mereka menunggu hari pembebasan bersyarat yang telah ditentukan sebelum mereka pindah. Maka, lingkungan Lapas yang terbuka dapat dikatakan pula mendukung program pembinaan dari sisi psikologis dan mental
19
Wawancara dengan Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan pada 9 Januari 2014. 20
para WBP. Hal ini diungkapkan oleh J yang mengikuti program pembinaan kemandirian yaitu bekerja pada pihak ke-3 serta AG yang mengikuti program peternakan ayam kepada penulis sebagai berikut.
“Kalau manfaat sebenarnya sangat besar ya mbak. Tapi manfaat itu tergantung juga dari orang yang menjalaninya benar-benar bersungguh-sungguh dan bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada atau tidak. Kalau buat saya sangat bermanfaat. Disini kan bisa dikatakan kita sudah setengah bebas ya mbak. Karena Lapasnya terbuka, kita bisa keluar dari ruangan kita, bergaul dengan bebas, dan ruangannya juga seperti kamar di rumah sendiri. Kalau saya yang bekerja di luar malah bisa bersosialisasi lebih lagi dengan masyarakat luas. Ya karena memang itulah tujuannya kan diadakannya Lapas Terbuka ini mbak. Supaya warga binaan disini bisa bersosialisasi, bercampur lagi, naik kepercayaan dirinya di dalam masyarakat.”21
“Disini lebih sejuk ya mbak, lebih tenang karena sedikit ya mbak. Ya kalau disini harus bisa jaga diri dan disiplin ya mbak. Karena disini kita yang menjalankan program-program yang ada disini. Staf dan petugas hanya mengarahkan saja. Kita disini dituntut untuk mandiri ya mbak. Karena hampir semua disini warga jalankan sendiri dari mulai bersih-bersih, kegiatan keseharian, program juga.”22
Dari beberapa orang WBP yang penulis wawancarai, mereka mengemukakan bahwa ada perubahan dalam diri mereka. Selain kehidupan mereka lebih teratur dan disiplin, semangat dan motivasi mereka pun tumbuh setelah mengikuti program-program yang ada di Lapas Terbuka Klas IIB Jakarta. Hal ini sesuai dengan apa yang telah penulis jabarkan di bab Landasan Teori sebelumnya, bahwa salah satu unsur dalam kemandirian adalah seseorang mampu mengatur dirinya sendiri serta memiliki hasrat dalam bersaing dan memajukan dirinya.
21
Wawancara dengan Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan pada 9 Januari 2014. 22
Selain karena lingkungan yang mendukung, dengan adanya keahlian yang mereka dapat, hal tersebut juga menumbuhkan motivasi dalam diri mereka untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik dengan berbekal keterampilan yang telah mereka dapatkan. Dengan demikian aspek kemandirian secara emosional telah dapat mereka raih selain juga pencapaian dalam kemandirian ekonomi yang mereka niatkan untuk mereka capai.
100
A. Kesimpulan
Dari penelitian yang telah dilakukan peneliti dalam kurun waktu 5 bulan sejak September 2013 hingga Januari 2014 diketahui bahwa program pembinaan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Terbuka Klas IIB Jakarta ada dua macam yaitu pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian. Pembinaan kemandirian mencakup hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan seperti keterampilan pertukangan, perikanan, peternakan, dan budidaya cacing. Sedangkan pembinaan kepribadian bersifat pemberian bimbingan kerohanian serta bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu terdapat pembinaan melalui program integrasi ke dalam masyarakat yaitu bekerja pada pihak ketiga (P3) dimana Warga Binaan Pemasyarakatan diperbolehkan mengusulkan diri untuk bekerja di luar lembaga sesuai dengan keahlian yang dimilikinya dengan diawasi oleh pihak Lapas dan telah memenuhi syarat tertentu.
Dari hasil penelitian dapat diketahui pula mengenai hambatan-hambatan yang dihadapi oleh pihak Lapas Terbuka dalam melaksanakan program pembinaan kemandirian yaitu:
1. Minimnya anggaran dana 2. Jumlah program minim
4. Sedikitnya mitra kerja
5. Kemauan Warga Binaan Pemasyarakatan kurang
B. Saran
Untuk meningkatkan kualitas program pembinaan kemandirian di Lapas Terbuka Klas IIB Jakarta maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
a. Memperbanyak materi pelatihan pembinaan sehingga semakin banyak hal yang dapat dipelajari oleh Warga Binaan Pemasyarakatan. Materi pelatihan tidak hanya bersifat praktik lapangan tetapi juga kursus-kursus bahasa maupun komputer sehingga Warga Binaan Pemasyarakatan memiliki bekal yang dapat digunakan secara maksimal ketika telah keluar dari Lapas Terbuka Klas IIB Jakarta.
b. Memperluas jaringan kerjasama dengan mitra kerja dari luar lembaga agar semakin banyak Warga Binaan Pemasyarakatan yang dapat mengikuti program P3. Selain itu, memperluas jaringan kerjasama juga memungkian untuk meningkatkan baik jumlah maupun kualitas program pelatihan yang ada.
c. Adanya pengontrolan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan sehingga, semua Warga Binaan Pemasyarakatan yang ada dapat mengikuti program pembinaan yang ada di Lapas Terbuka Klas IIB Jakarta.
102
Psychological Journal No. 2). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 1993.
Atmasasmita, Romli. Strategi Pembinaan Pelanggar Hukum. Bandung: Alumni, 1982.
Azwar. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1991.
Basri, Hasan. Remaja Berkualitas (Problematika Remaja dan Solusinya). Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000.
Basrowi dan Sudikin. Metodologi Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendikia, 2002.
Harsono, C.I. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Jakarta: Djambatan, 1995. Jones, Charles O. An Introduction to the Study of Public Policy. Brooks: Cole
Publishing Company, 1996.
---Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor : M. 02-Pk.04.10 Tahun 1990 Tentang Pola Pembinaan Narapidana/Tahanan Menteri Kehakiman Republik Indonesia.
Maleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004.
Masrun, Sikap Mandiri Anak Kost. Bandung: Tarsito, 1986.
Masrun dkk. Studi Mengenai Kemandirian Pada Penduduk Di Tiga Suku Bangsa
(Jawa, Batak, Bugis). Yogyakarta: Kantor Menteri Negara dan
Lingkungan Hidup Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 1986. McCarthy, Belinda et, al. Community Based Corrections. Wadsworth. 2001. Miles, Matthew dan Huberman, Michael A, Analisis Data Kualitatif: Buku
Sumber Tantang Metode-Metode Baru. Jakarta: UI Press, 1992. Mutadin, Z. Kemandirian Sebagai Kebutuhan Psikologis Remaja, 2002.
Muladi. Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. Semarang: Badan Penerbit Undip, 1995.
Nawawi, Prof. Dr. Hadari. Metode penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991.
Nuryoto, S. Kemandirian Remaja Ditinjau dari Tahap Perkembangan, Jenis Kelamin, dan Peran Jenis (Anima Indonesia Psychological Journal No. 2). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 1993.
Panjaitan, Petrus Irwan dan Simorangkir, Pandapotan. Lembaga Pemasyarakatan Dalam Prespektif Sistem Peradilan Pidana Penjara. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995.
Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan.
Reksodiputro, Mardjono. Hak Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana (Buku Ketiga). Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi UI, 2007.
Snarr, Richard. Introductio to Corrections. Medison: Brown and Brenchmark. Sugiyono. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan RD. Bandung:
Alfabeta, 2008.
Suprayogo, Imam dan Tobroni. Metode Penelitian, Sosial Agama. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.
Toha, Chabib. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.
Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
Wahono, K. Arti Kemandirian Bagi Mahasiswa UI (Studi Kasus Mahasiswa UI yang Tinggal Terpisah dari Orang Tua dan Tinggal Bersama Orang Tua). Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997.
Yulianiti, P.D.Perbedaan Kemandirian Ditinjau Dari Pola Asuh Orangtua dan Jenis Kelamin Pada Siswi Kelas I SMU Negeri 1 Ungaran Tahun Ajaran
2003/2004. UKSW, 2004.
Internet :
Data jumlah Narapidana di Unit Pelayanan Teknis Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia diperoleh dari website
http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/current/monthly pada tanggal 12
September 2013.
Surat Edaran dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan
butir nomor 1, diunduh dari website
http://www.kemenkumham.go.id/berita/headline/1942-penempatan-narapidana-ke-lembaga-pemasyarakatan-lapas-terbuka pada tanggal 25
106
Lampiran 1 Dokumentasi Penelitian Papan Selamat Datang menuju Lapas Terbuka Jakarta Pintu Masuk Lapas Terbuka Jakarta
Kegiatan Pembinaan Kemandirian Peternakan Ayam Broiler
Kegiatan Pembinaan Kemandirian Perikanan
Masjid di Lapas Terbuka Klas IIB Jakarta
Meja-meja di Ruang tengah yang digunakan untuk istirahat pegawai maupun Warga Binaan Pemasyarakatan jika ada kunjungan dari keluarga
Ruang untuk bermain musik
Biodata Informan
Nama :
Jabatan :
Pelaksanaan wawancara :
Pertanyaan:
1. Sejak kapan program pembinaan keterampilan kerja bagi Narapidana diselenggarakan oleh Lapas Terbuka Jakarta?
2. Apa saja progam pembinaan keterampilan kerja yang telah terselenggara di Lapas Terbuka Jakarta sejak berdirinya hingga sekarang?
3. Apa alasan dan latar belakang pemilihan program pembinaan keterampilan kerja yang sekarang diselenggarakan oleh Lapas Terbuka Jakarta?
4. Adakah kerja sama dengan pihak luar Lapas Terbuka Jakarta dalam menyelenggarakan program pembinaan keterampilan kerja?
5. Apakah ada proses penilaian atau evaluasi bagi Narapidana yang mengikuti program keterampilan kerja?
Inisial Informan :
Usia :
Bidang program : Waktu wawancara :
Daftar Pertanyaan:
1. Berapa lama anda menjadi WBP di Lapas Terbuka Jakarta? 2. Sejak kapan anda menjadi WBP di Lapas Terbuka Jakarta?
3. Darimana anda mengetahui informasi tentang adanya Lapas Terbuka Jakarta sehingga anda bisa masuk menjadi WBP di Lapas Terbuka Jakarta?
4. Program pembinaan kemandirian apa yang anda ikuti selama berada di Lapas Terbuka Jakarta?
5. Mengapa anda memilih program kemandirian tersebut?
6. Menurut anda, apa kekurangan dan hambatan yang dimiliki oleh Lapas Terbuka Jakarta dalam menyelenggarakan program pembinaan kemandirian yang anda ikuti? 7. Menurut anda, apakah kekurangan dan hambatan yang anda temui dalam mengikuti
program pembinaan kemandirian di Lapas Terbuka Jakarta, baik dari dalam diri anda sendiri maupun hambatan dari luar?
8. Apa yang anda harapkan setelah menjadi WBP dan menjalani program pembinaan kemandirian di Lapas Terbuka Jakarta?
9. Apakah anda mengharapkan adanya program-program lain di Lapas Terbuka Jakarta? Jika iya, program apa yang anda inginkan?
Informan : Bpk Rio Chaidir (Kasi Perawatan)
Ibu Puji Indrayani (Staf Bidang Pembinaan)
Pertanyaan:
1. Apa saja program pembinaan yang ada di Lapas Terbuka Jakarta?
Kalau di Lapas itu secara garis besar kan program pembinaannya ada dua, itu pertama pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian. Kalau program kemandirian itu salah satunya bercocok tanam (pertanian), perikanan, peternakan lele, nah itu program kemandirian. Kalau yang berkaitan dengan pembinaan kepribadian itu pembinaan mental, bernegara, agama. Pembinaan bernegara misalnya seperti kita mendorong WBP untuk memperingati hari besar atau peringatan hari nasional. Kalau pembinaan agama, kita ada semua tergantung dari kondisi WBP. Kalau ada yang nasrani, kita antarkan untuk mengikuti kebaktian di gereja terdekat. Kalau untuk yang muslim biasanya diadakan shalat berjamaah, pengajian setiap malam Jumat, dan istighozah setiap hari Selasa dan Kamis, ada juga pelajaran membaca al Quran.
2. Mengapa program-program tersebut yang dipilih sebagai program pembinaan di Lapas Terbuka Jakarta?
Ini memang sudah digariskan ada di Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 21 tahun 2013. Itu yang terbaru, kan kalau keputusan seperti itu ada urutannya. Pertama, undang-undang, terus peraturan pemerintah, turun lagi peraturan menteri. Nah, itu ada di peraturan menteri itu. Di setiap lapas pasti ada dua macam pembinaan itu, tetapi kontennya saja yang berbeda-beda di tiap Lapas. Kenapa
mengembangkan sesuai dengan kondisi dan dana yang ada bila mendukung.
3. Apakah WBP diperkenankan memilih program pembinaan yang ada atau menjalani semua program pembinaan yang ada di Lapas Terbuka Jakarta?
Sebelum mereka (WBP) menjalankan pembinaan disini kan kita asesmen dulu. Nah, WBP yang masuk kesini kan sebenarnya WBP yang sudah menjalani setengah dari masa hukumannya. Ketika mereka ingin masuk pindah kesini di Lapas awal juga mereka telah diasesmen juga, untuk menelusuri minat dan bakat WBP apakah ia bisa cocok dengan pembinaan yang ada disini atau tidak. Jika tidak ya dia tetap akan ada di Lapas awal, tidak pindah kesini. Tetapi jika cocok baru akan dipindahkan kesini. Nah, setelah masuk kesini pun kami akan lakukan asesmen kembali untuk benar-benar mengetahui minat WBP. Mereka juga masuk ke dalam masa orientasi selama tiga hari. Istilahnya pengenalan lingkungan seperti itu ketika sampai disini. Kalau di Lapas yang biasa (lapas tertutup) orientasinya sebulan. Tapi karena disini masanya singkat jadi hanya tiga hari. Setelah diketahui hasilnya, maka baru kami akan arahkan program yang mana yang bisa ia jalankan, jika ia minatnya menjadi tukang kayu, ya kami arahkan ke perbengkelan kayu, kalau ke peternakan, kami arahkan untuk memilih peternakan ikan atau ayam. Atau ia bisa juga kerja mandiri, kerja mandiri dengan pihak ketiga atau kerja di luar Lapas dengan mitra kerja kita. Kalau sekarang mitra kita baru ada satu.
dana ya trus sama sarana dan prasarana. Oh ya, juga selain itu mitra kerja. Saat ini mitra kerja kita kan cuma satu ya. Harusnya jika memang ingin memasyarakatkan dan mengintegrasikan WBP dengan masyarakat, semakin banyak iya berinteraksi dengan dunia luar dan bekerja dengan pihak ketiga, maka tujuan pemasyarakatan dan pembinaan bisa tercapai. Karena tugas kami disini kan mengembalikan fungsi dia dan kepercayaan diri WBP agar bisa berintegrasi dengan baik ketika ia kembali ke masyarakat. Tapi dengan adanya mitra kerja kita yang saat ini hanya satu lembaga, kita jadi susah juga untuk mengarahkan menyalurkan WBP untuk kerja mandiri. Jika WBP hanya bekerja disini-sini (di dalam lingkungan Lapas) kan interaksinya hanya dengan kami saja para petugas, sedangkan jika ia keluar interaksi akan semakin banyak. Termasuk pendidikan juga. Disini juga ada WBP yang ingin meneruskan pendidikannya, tetapi kita tidak mampu menyalurkan karena tidak adanya dana maupun mitra yang bisa membantu menyalurkan.
Waktu : 11 Desember 2013 Narasumber : Pak Rio Chaidir Jabatan : Kasubsie Perawatan
1. Menurut Anda, apakah yang dimaksud dengan program kemandirian? Program kemandirian menurut saya yang ada di Lapas Terbuka ini itu adalah pembekalan yang kami berikan kepada WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) agar ketika mereka keluar dari sini, setelah selesai menjalani masa tahanan, mereka dapat memiliki bekal bagi penghidupan mereka. Namun, menurut saya, sebuah program kemandirian tidak dapat berjalan lancar apabila mental dan kepribadian mereka (WBP) tidak diperbaiki atau dibekali dengan yang positif dulu. Karena, saya pikir ya, setiap orang berbuat jahat tidak melulu karena ekonomi yang kurang, tetapi bisa juga karena iman mereka lemah. Bisa jadi, sebenarnya ada WBP yang pintar, pendidikannya bagus, punya skill, tetapi karena imannya lemah, ia mau cepat saja dalam mendapatkan materi, akhirnya berbuat jahat, korupsi, atau mencuri. Padahal bisa bekerja yang halal.
2. Apa saja kendala yang dihadapi selama menjalankan program kemandirian?
Kendalanya sudah pasti ada di dana ya. Anggaran yang turun memang kurang mencukupi untuk membuat banyak program kemandirian bagi WBP. Karena kita maunya kan WBP itu disini jangan sampai nganggur ya. Masa menunggu bebasnya bisa digunakan dan dimanfaatkan dengan baik, sehingga ketika keluar
cocok ya dengan lingkup perkotaan. Disini programnya pertanian, peternakan, perikanan. Kalau di lingkup perkotaan keterampilan yang diperlukan seperti kerja bangunan, pertukangan cukup cocok juga, reparasi elektronik atau tenaga administratif seperti menggunakan komputer. Tapi sulit ya, lagi-lagi kurangnya dana faktornya. Selain itu juga mungkin tenaga Sumber Daya Manusia juga cukup mempengaruhi. Disini kan tidak ada yang ahli perikanan, sarjana pertanian, peternakan. Jadi bila mau membuat program kemandirian harus mengundang tenaga ahli dari luar. Tetapi itupun tenaga ahli jarang bisa datang untuk melatih dan memantau karena mereka juga memiliki kesibukannya masing-masing.
3. Apakah ada WBP yang tidak mau mengikuti program kemandirian dan bagaimana menghadapinya?
Ada. Pasti ada WBP seperti itu. Biasanya yang seperti itu yang memiliki pendidikan yang cukup menengah. Karena mereka pendidikan tinggi, tidak mau kan mengikuti program pertanian, peternakan. Tapi, kita anjurkan untuk mengikuti. Karena jika tidak ikut dia akan mencoreng catatan kelakuannya selama berada di dalam dan bisa jadi semakin lama bebasnya karena mendapat hukuman karena tidak menjalankan program yang ada.
4. Bagaimana pengaruh sumber daya manusia yang ada di Lapas Terbuka Jakarta, baik WBP maupun pegawainya?
Untuk staf ya cukup membantu ya. Karena kalau mereka tidak ada, ya program juga tidak bisa berjalan. Kalau untuk WBP memang ya
seperti itu kadang sulit untuk diberi pelatihan.
5. Bagaimana proses pengajuan program apabila ada WBP yang ingin mengajukan program baru untuk dibuat, atau apabila ada WBP yang berkenan untuk bekerja pada pihak ke-3?
Prosesnya itu, jika mereka ada ide untuk program maka disampaikan ke kita. Lalu kita menyampaikan kepada Kasubsi bidang Kegiatan Kerja, dari situ disampaikan dalam rapat ke Kalapas. Jika ada dana, ada ruang dan segala keperluannya ada, maka Kalapas bisa saja menyetujui. Tapi bisa juga ditolak bila memang tidak ada dana. Kalau untuk bekerja pada pihak ke-3 ya mereka harus tahu dulu ingin bekerja dimana. Kalau sudah ada referensi, kita tinggal survei ke tempat kerjanya. Kalau belum ada referensi, bisa kita carikan tempat kerjanya mbak. Tapi dengan catatan bahwa dia memang benar-benar mau bekerja dengan jujur. Disini kan kalau melanggar maka hukumannya akan makin lama. Kalau dia baik, dia cepat keluarnya. Tapi kalau tidak, dia akan ada catatan buruk yang membuat dia makin lama disini.
Narasumber : Pak Iwan
Waktu : 20 Desember 2013
Jabatan : Staf Bidang Kegiatan Kerja
1. Program kemandirian apa saja yang saat ini sedang berjalan di Lapas Terbuka Jakarta?
Untuk saat ini program sedang berhenti, karena menjelang akhir