Analisis Aspek Nonfinansial
Analisis ini bertujuan untuk menilai kelayakan usaha budidaya ikan cupang Bapak A. Arifin dari aspek nonfinansial. Pada penelitian ini aspek nonfinansial yang akan dianalisis antara lain aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, serta aspek sosial dan lingkungan. Berikut penjelasan tentang aspek-aspek yang dianalisis:
Aspek Pasar
Pasar berkaitan dengan kelangsungan produksi suatu usaha, sehingga hal ini menjadikan pasar sebagai suatu aspek penting. Suatu usaha akan memperoleh keuntungan jika pasar menyerap hasil produksi dalam jumlah yang tinggi. Sebaliknya, jika pasar menyerap hasil produksi dalam jumlah yang rendah maka suatu usaha akan memperoleh kerugian. Pada penelitian ini hal yang dianalisis adalah permintaan dan penawaran serta pemasaran yang dilakukan oleh usaha Bapak A. Arifin.
1. Permintaan dan penawaran
Pendapatan utama usaha Bapak A. Arifin diperoleh dari hasil penjualan ikan cupang jantan. Ikan yang dijual merupakan ikan yang berumur 6 bulan. Setiap ikan dijual dengan harga Rp 8 500.00. Ikan-ikan ini akan dijual kepada pengumpul. Dalam 1 bulan ikan jantan yang diproduksi sekitar 3 000 ekor. Jumlah ini diketahui saat panen, dimana saat panen dilakukan penyortiran antara ikan jantan dan betina. Ikan yang dipanen akan langsng dijual kepada pengumpul. Pengumpul akan datang langsung ke tempat usaha. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemilik usaha, saat ini permintaan dari pengumpul sekitar 7 000 ekor dari 7 pengumpul. Jadi, satu pengumpul pemintaannya mencapai sekitar 1 000 ekor. Dengan demikian, ada sekitar 4 000 ekor ikan cupang yang akan dipenuhi oleh usaha Bapak A. Arifin untuk 7 pengumpul.
2. Pemasaran output
Usaha Bapak A. Arifin memiliki pelanggan tetap, yaitu pengumpul. Pelanggan tetap usaha ini terdiri dari 7 pengumpul. Pengumpul-pengumpul ini berasal dari Jakarta dan Bogor, 5 orang dari Jakarta dan 2 orang dari Bogor. Setiap pengumpul membeli langsung ke tempat usaha, sehingga usaha ini tidak mengeluarkan biaya pengiriman. Kemudian, para pengumpul akan menjualnya kepada pedagang pengecer dalam negeri, yaitu di daerah Jabodetabek, Lampung, Batam, Surabaya dan Kalimantan serta pedagang pengecer luar negeri, yaitu di negara Singapura dan Malaysia. Dari pedagang pengecer ikan tersebut akan dijual kepada konsumen akhir. Pedagang pengecer dalam negeri akan menjual kepada konsumen dalam negeri dan pedagang pengecer luar negeri akan menjual kepada konsumen luar negeri. Berikut saluran pemasaran usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin:
Gambar 4 Saluran pemasaran usaha budidaya ikan cupang (Betta splendens) Bapak A. Arifin di Jakarta Pusat
Berdasarkan analisis aspek pasar usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin layak untuk dijalankan. Hal ini dilihat dari adanya permintaan output
yang dihasilkan dan masih ada permintaan yang belum terpenuhi. Selain itu, usaha ini sudah memiliki pelanggan tetap, sehingga berapa pun output yang dihasilkan akan habis terjual.
Aspek Teknis
Analisis aspek teknis berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi suatu usaha. Pada penelitian ini analisis aspek teknis meliputi perencanaan lokasi, pemilihan peralatan dan teknologi yang digunakan, serta layout. Berikut penjelasannya:
1. Perencanaan lokasi usaha
Ada beberapa hal yang dipertimbangkan dalam perencanaan lokasi usaha Bapak A. Arifin, yaitu sarana jalan, ketersediaan tenaga kerja, sarana penunjang, serta aspek iklim dan aspek agronomis. Pertama, lokasi usaha ini sudah memiliki sarana jalan yang memadai. Jalan menuju lokasi merupakan jalan aspal, sehingga hal ini dapat memudahkan kegiatan usaha. Kedua,
Konsumen akhir dalam negeri Konsumen akhir luar negeri Pedagang pengecer luar negeri Pedagang pengumpul Produsen Pedagang pengecer dalam negeri
tenaga kerja pada usaha ini diperoleh dari sekitar lokasi usaha. Hal ini menunjukkan bahwa usaha Bapak A. Arifin tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh tenaga kerja. Ketiga, tersedianya sarana penunjang seperti air, listrik, dan telepon. Dalam bisnis perikanan, air merupakan hal yang sangat penting untuk keberlanjutan hidup ikan. Pada usaha ini sarana tersebut sudah tersedia dan tidak sulit untuk memperolehnya. Keempat, aspek iklim dan aspek agronomis berkaitan dengan proses produksi. Lokasi usaha ini memiliki suhu sekitar 28-30o C dan pH sekitar 6.5-7.0. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lesmana dan Dermawan (2011), yaitu suhu yang optimal untuk budidaya ikan cupang berkisar 28-30o C dengan nilai pH 6.8- 7.0.
2. Budidaya ikan cupang
Budidaya merupakan sistem produksi yang mencakup input produksi (prasarana dan sarana produksi), proses produksi (persiapan hingga pemanenan), dan output produksi (penanganan pascapanen dan pemasaran). Saat ini budidaya ikan cupang belum memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia). Ikan cupang memiliki siklus produksi selama 6 bulan. Berikut budidaya ikan cupang yang dilakukan oleh usaha Bapak A. Arifin:
a. Pengadaan sarana dan prasarana produksi
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan ikan cupang sangat beragam dan disesuaikan dengan lahan yang ada. Ukuran wadah yang digunakan sangat bervariasi. Belum ada ketentuan yang mengatur ukuran dan bentuknya, serta belum ada juga laporan tentang pengaruh perbedaan bahannya terhadap kehidupan ikan. Pada usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin wadah yang digunakan untuk pemeliharaan adalah bak semen dan botol-botol bekas.
Peralatan yang digunakan adalah selang, serokan, ember, dan baskom. Sumber air yang digunakan berasal dari air sumur. Sebelum digunakan air sumur ditampung atau diinapkan selama semalam (12 jam). Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kesadahan air yang disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), seng (Zn), dan mangaan (Mn).
Setiap bak semen diberi tanaman air, yaitu enceng gondok sebagai tempat perlindungan ikan dari sinar matahari langsung karena sinar matahari dapat menghambat pertumbuhan ikan cupang. Selama pemeliharaan pakan yang diberikan adalah kutu air (Dahpnia sp.). Berdasarkan penelitian Dewantoro (2001) tentang Fekunditas dan Produksi Larva pada Ikan Cupang (Betta splendens Regan) yang Berbeda Umur dan Pakan Alaminya menyatakan bahwa Dahpnia sp. merupakan pakan alami yang dapat memberikan fekunditas dan produksi larva paling tinggi. Selain itu, pakan lain yang diberikan saat pemeliharaan adalah pelet. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi jika Dahpnia sp. tidak ada.
Penyakit merupakan kendala utama dalam budidaya ikan. Dalam hal ini digunakan oxytetracycline dan garam. Oxytetracycline
digunakan sebagai obat saat ikan cupang terserang penyakit, sedangkan garam digunakan untuk pencegahan penyakit.
garam sebanyak 200 g/150 l air. Selain itu, usaha ini juga menjaga kebersihan fasilitas-fasilitas yang digunakan dan menjaga kualitas air. Penjagaan fasilitas-fasilitas dilakukan dengan selalu membersihkan wadah atau peralatan setelah digunakan, sedangkan penjagaan kualitas air dilakukan dengan pergantian air secara rutin, membersihkan enceng gondok yang busuk serta menguranginya jika terlalu padat, dan membersihkan pakan sebelum diberikan kepada ikan.
Gambar 5 Sarana dan prasarana produksi
b. Proses produksi
Ikan cupang memiliki siklus produksi selama 6 bulan. Ikan yang digunakan sebagai indukan adalah ikan yang sudah berumur 6 bulan serta tidak cacat fisik dan memiliki warna yang cerah. Perbandingan indukan yang digunakan adalah 1:1. Wadah yang digunakan sebagai tempat pemijahan adalah ember. Induk jantan dimasukkan terlebih dahulu ke dalam wadah pemijahan dan jika ikan tersebut sudah membuat sarang busa (bubble nest) yang banyak, kemudian induk betina dimasukkan ke dalam ember tersebut. Jika induk jantan menyerang terus-menerus maka sebaiknya induk betinanya diganti.
Setiap ember diberi daun ketapang sebanyak satu lembar yang digunakan untuk menurunkan pH karena dalam pemijahan diperlukan pH yang lebih asam daripada saat pemeliharaan. Telur yang dikeluarkan induk betina akan dibuahi oleh ikan jantan, kemudian akan diambil oleh induk jantan dengan mulutnya untuk disusun pada sarang busa. Setelah memijah induk betina segera dipisahkan. Telur akan menetas setelah 3 hari dan dipindahkan setelah berumur 7 hari ke dalam bak semen. Pakan larva saat berumur 4-7 hari adalah kuning telur. Setelah itu, selama pemeliharaan pakannya adalah kutu air yang diberikan pada pagi dan sore hari.
c. Penanganan pascapanen
Saat panen akan dilakukan penyortiran untuk memisahkan antara ikan yang akan dijual dengan ikan yang tidak akan dijual. Ikan yang dijual merupakan ikan yang tidak cacat secara fisik, seperti sirip tidak robek atau tubuh tidak luka, dan tidak sakit. Ikan yang akan dijual kemudian dibungkus dengan plastik kecil yang sudah berisi air. Setiap plastik diisi dengan satu ekor ikan cupang. Kemudian dibungkus lagi dengan kertas bekas agar ikan tersebut tidak dapat melihat sekitarnya apalagi jika melihat ikan cupang lainnya. Bungkus- bungkus tersebut akan disusun rapi ke dalam kardus. Kemudian ditutup rapat dengan lakban.
Gambar 6 Proses pascapanen 3. Tata letak (layout)
Layout merupakan suatu proses dalam penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Dalam budidaya ikan cupang penentuan bentuk dan penempatan sarana dan prasarana disesuaikan dengan lahan yang ada. Jadi, belum ada ketentuan yang mengatur tata letak yang baik dalam budidaya ikan cupang, sehingga penempatannya tergantung dari masing-masing pembudidaya itu sendiri. Begitu juga halnya dengan bentuk, ukuran, dan bahan wadah yang digunakan. Pada usaha ini wadah yang digunakan sebagai pemeliharaan adalah bak semen dan botol bekas. Bak semen yang digunakan berukuran 100 cm x 50 cm x 40 cm. Bentuk dan ukuran wadah yang dipilih serta penempatannya telah disesuaikan dengan lahan yang ada. Berikut layout usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.
Berdasarkan analisis aspek teknis, usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin dinyatakan layak untuk dijalankan karena lokasi usahanya sesuai untuk
memproduksi ikan cupang. Selain itu, lokasi usahanya juga memiliki sarana jalan yang memadai, memiliki sarana listrik, air, dan telepon, serta memiliki kemudahan dalam memperoleh tenaga kerja. Selanjutnya, karena budidaya ikan cupang belum memiliki SNI (Standar Nasional Indonesia) maka budidaya yang dilakukan usaha Bapak A. Arifin sama dengan budidaya yang dilakukan oleh pembudidaya ikan cupang pada umumnya.
Aspek Manajemen
Usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin sudah memiliki pembagian kerja antara lain 2 karyawan dan 1 manajer. Dengan adanya pembagian kerja, setiap pekerja akan menjalankan tugas dan kewajibannya sesuai dengan pembagian kerja yang telah diberikan. Dalam hal ini setiap aktivitas- aktivitas akan diawasi dan dikontrol oleh Bapak A. Arifin selaku pemilik usaha, sehingga bisnis dapat berjalan sesuai dengan rencana-rencana yang telah ditetapkan. Setiap karyawan memiliki tugas yang sama, yaitu semua kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan, proses produksi, hingga pascapanen. Selanjutnya, manajer bertugas dalam hal yang berkaitan dengan pengadaan sarana dan prasarana, perencanaan produksi, perencanaan keuangan dan pemasaran. Hal ini dapat dicantumkan dalam sebuah struktur organisasi, yaitu sebagai berikut:
Gambar 7 Struktur organisasi usaha budidaya ikan cupang (Betta splendens) Bapak A. Arifin
Saat ini usaha Bapak A. Arifin memiliki sebuah perencanaan. Dalam perencanaan dituntut adanya kemampuan meramalkan, mewujudkan, dan melihat ke depan dengan dilandasi tujuan-tujuan tertentu. Perencanaan yang akan dilakukan pada usaha ini adalah penambahan kapasitas produksi, sehingga perlu diperkirakan berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk penyiapan sarana dan prasarana, berapa output yang akan diproduksi, kebutuhan biaya untuk kegiatan produksi, serta penambahan tenaga kerja. Dalam rencana pengembangan akan dilakukan penambahan tenaga kerja sebanyak 2 orang.
Berdasarkan analisis aspek manajemen usaha budidaya ikan cupang milik Bapak A. Arifin dinyatakan layak karena usaha ini sudah menerapkan fungsi- fungsi manajemen menurut Rahardi et al. (1993), yaitu perencanaan,
Pemilik usaha
Manajer
pengorganisasian, pergerakan, dan pengawasan dalam manajemen produksi, manajemen pemasaran, dan manajemen keuangan. Pada tahun 2002 usaha ini mendapatkan penghargaan dari mantan gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Sutiyoso yang menyatakan bahwa usaha ini telah berhasil mengembangkan produksi ikan hias di lahan pekarangan. Hal ini merupakan bukti bahwa manajemen usaha ini sudah baik (Gambar 8).
Gambar 8 Penghargaan yang diperoleh usaha Bapak A. Arifin pada tahun 2002
Aspek Hukum
Setiap usaha memiliki ketentuan hukum yang berbeda-beda tergantung dari jenis usahanya. Ketentuan hukum merupakan hal yang harus dipenuhi sebelum menjalankan suatu usaha agar dikemudian hari bisnis tidak terbentur dengan permasalahan hukum atau perizinan. Usaha ini sudah terdaftar sebagai salah satu usaha perikanan di wilayah DKI Jakarta yang disetujui oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Edy Setiarto. Hal ini membuktikan bahwa usaha ini telah mendapatkan izin untuk menjalankan usaha dari pemerintah setempat. Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa usaha ini telah memenuhi ketentuan- ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, usaha ini juga memiliki sertifikat terhadap tanahyang dimiliki, sehingga permasalahan hukum tidak ada masalah. Dengan demikian dari aspek hukum usaha ini dinyatakan layak untuk dijalankan.
Gambar 9 Tanda daftar usaha perikanan usaha Bapak A. Arifin
Aspek Sosial dan Lingkungan
Jika dilihat dari aspek sosial, keberadaan usaha Bapak A. Arifin dapat mengurangi pengangguran dimana mempekerjakan warga sekitar sebagai pekerja pada usaha ini, yaitu sebanyak 2 orang. Kegiatan usaha ini menghasilkan limbah organik yang berasal dari tanaman air, pakan alami, dan daun ketapang yang telah digunakan. Limbah-limbah ini akan terurai dengan tanah, sehingga tidak memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan dan tidak ada keluhan dari warga sekitar. Selain itu, air limbahnya dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman hias. Usaha ini juga selalu menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang limbah pada tempatnya dan menjaga kebersihan selokan-selokan di sekitar usaha yang digunakan sebagai pengairan dari usaha ini, sehingga pengairannya berjalan dengan lancar. Dengan demikian, usaha ini layak untuk dijalankan dari aspek sosial dan lingkungan sebab keberadaan usaha ini dapat memberikan manfaat terhadap warga sekitar dan tidak ada keluhan dari mereka, serta memberikan manfaat terhadap lingkungan, sehingga usaha ini masih tetap bisa berjalan hingga sekarang.
Analisis Aspek Finansial
Analisis aspek finansial bertujuan untuk menilai kelayakan jika penambahan 200 bak semen pada usaha Bapak A. Arifin dijalankan. Untuk menilai kelayakan tersebut digunakan kriteria penilaian investasi. Kriteria penilaian investasi yang digunakan adalah Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C),
Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP). Semua itu dapat dilihat pada aliran kas (cash flow). Adapun komponen-komponen yang dianalisis pada aliran kas antara lain arus penerimaan (inflow), arus pengeluaran (outflow), net benefit. Sebelumnya akan dilakukan analisis laporan laba rugi. Dari analisis ini
akan diperoleh biaya pajak yang digunakan pada aliran kas (cash flow). Aliran kas diproyeksikan selama 10 tahun. Hal ini didasarkan pada umur ekonomis bak semen. Bak semen merupakan investasi yang sangat penting pada usaha ini karena merupakan tempat pemeliharaan ikan cupang dan memiliki biaya investasi paling besar.
Pada tahun pertama (2012) dengan rencana pengembangan usaha dilakukan pembangunan 200 bak semen beserta pembelian peralatan produksi, kemudian persiapan wadah, proses produksi, dan pemanenan. Pembangunan bak semen membutuhkan waktu sekitar 5 bulan, pembelian peralatan produksi dan persiapan wadah membutuhkan waktu sekitar 1 bulan, sehingga proses produksi baru dimulai pada bulan ketujuh (bulan Juli) dengan pemeliharaan yang berlangsung selama 6 bulan. Dengan demikian, panen baru akan dilakukan pada bulan ke-12 (bulan Desember). Untuk tahun kedua dan selanjutnya dilakukan dua kali siklus produksi. Kegiatan usaha budidaya ikan cupang (Betta splendens) Bapak A. Arifin dapat dilihat pada Lampiran 3.
Analisis Laporan Laba Rugi
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui besar laba bersih yang akan diterima oleh usaha Bapak A. Arifin selama 10 tahun. Laba bersih diperoleh setelah hasil penerimaan dikurangi biaya tetap, biaya variabel, biaya bunga, dan biaya pajak. Dalam biaya tetap akan dikeluarkan biaya penyusutan. Penyusutan merupakan biaya yang dikeluarkan sebagai akibat nilai investasi yang berangsur- angsur menyusut setiap tahunnya. Metode penyusutan yang digunakan pada penelitian ini adalah metode garis lurus, yaitu hasil pengurangan nilai beli dengan nilai sisa dibagi umur ekonomis.
Investasi yang memberikan biaya penyusutan dengan penambahan 200 bak semen adalah beton yang merupakan tempat pembangunan 200 bak semen, sumur, pompa air, kendaraan operasional, tandon, bak semen, botol, selang air, pipa air, rak, serokan kecil, serokan besar, ember. Selama umur bisnis, investasi yang memberikan nilai sisa merupakan investasi yang dikeluarkan saat tanpa penambahan 200 bak semen (2007), kemudian dikeluarkan kembali pada tahun ke-6 (2017) karena umur ekonomisnya sudah habis. Rincian biaya penyusutan tanpa dan dengan penambahan 200 bak semen dapat dilihat pada Lampiran 4 dan Lampiran 6.
Biaya bunga merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran bunga dan modal yang dipinjam. Modal yang digunakan oleh usaha Bapak A. Arifin merupakan modal sendiri, sehingga tidak ada biaya bunga dan kewajiban untuk mengembalikan modal yang digunakan. Oleh karena itu, biaya bunga yang dikeluarkan setiap tahun oleh usaha ini adalah 0 persen. Tarif pajak yang dikeluarkan adalah 25 persen. Penentuan tarif pajak didasarkan pada ketetapan pemerintah, yaitu UU RI No. 36 Tahun 2008 Pasal 17 ayat 2a. Biaya pajak ini akan digunakan dalam perhitungan aliran kas (cash flow) dan sudah dikeluarkan dari tahun pertama sebab pada tahun pertama baik tanpa maupun dengan penambahan 200 bak semen usaha ini sudah memperoleh laba bersih. Selama umur bisnis total laba bersih yang diperoleh dengan penambahan 200 bak semen oleh usaha ini adalah sebesar Rp 3 005 268 375.00. Dengan demikian, rata-rata laba bersih yang diperoleh per tahun adalah sebesar Rp 300 526 838.00, sehingga rata-rata laba bersih yang diperoleh per bulan adalah sebesar Rp 25 043 903.13.
Rincian laporan laba rugi tanpa dan dengan penambahan 200 bak semen dapat dilihat pada Lampiran 5 dan Lampiran 7.
Aliran Kas (Cash flow)
Aliran kas disusun untuk digunakan dalam pehitungan kelayakan investasi. Aliran kas usaha Bapak A. Arifin akan berbeda dengan aliran kas usaha lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh jenis usaha, kegiatan produksi, dan kesiapan dimulainya bisnis. Dari aliran kas akan terlihat rincian biaya-biaya yang dikeluarkan serta penerimaan yang diterima oleh usaha ini, sehingga akan terlihat seberapa besar manfaat bersih yang akan diperoleh dari biaya-biaya tersebut. Aliran kas terdiri dari arus penerimaan (inflow), arus pengeluaran (outflow), dan net benefit. Berikut rincian aliran kas pada usaha ini:
1. Arus penerimaan (Inflow)
Arus penerimaan terdiri dari semua komponen yang merupakan pemasukan dalam bisnis, baik saat permulaan atau selama bisnis berjalan. Penerimaan usaha Bapak A. Arifin berasal dari nilai produksi total dan nilai sisa. Adapun penerimaan usaha ini adalah sebagai berikut:
a. Nilai produksi total
Nilai produksi diperoleh dari hasil perkalian jumlah produksi ikan cupang yang dihasilkan dengan harga per ekor. Nilai produksi total mencakup nilai produksi yang dijual maupun nilai produksi yang tidak dijual. Nilai produksi yang dijual diperoleh dari hasil penjualan ikan cupang jantan dengan harga Rp 8 500.00 per ekor, sedangkan nilai produksi yang tidak dijual diperoleh dari jumlah produksi ikan cupang betina yang bukan dijadikan sebagai indukan seharga Rp 1 000 per ekor. Usaha ini tidak memiliki produk sampingan, sehingga nilai total produksi yang diperoleh adalah penjumlahan dari nilai produk yang dijual dengan nilai produk yang tidak dijual. Dalam satu tahun dilakukan 2 kali panen dengan siklus produksi selama 6 bulan. Untuk satu kali panen tanpa penambahan 200 bak semen, total produksi yang dihasilkan adalah 30 000 ekor yang terdiri dari 18 000 ekor ikan jantan dan 12 000 ikan betina. Dari 12 000 ekor ikan betina diambil sebanyak 120 ekor sebagai indukan. Dengan penambahan 200 bak semen ikan yang diproduksi untuk satu kali panen adalah 70 000 ekor yang terdiri dari 42 000 ekor ikan jantan dan 28 000 ekor ikan betina. Dari 28 000 ekor ikan betina diambil sebanyak 300 ekor sebagai indukan. Untuk tahun pertama dengan penambahan 200 bak semen (2012) nilai produksi total diperoleh dari nilai produksi total tanpa penambahan 200 bak semen. Untuk tahun kedua (2013) nilai produksi total diperoleh dari nilai produksi total tanpa dan dengan penambahan 200 bak semen, tetapi dengan 200 bak semen hanya dilakukan 1 kali panen karena pada tahun ini dilakukan rencana penambahan 200 bak semen. Untuk tahun ketiga hingga berikutnya (2014-2021) nilai produksinya diperoleh dari nilai produksi tanpa dan dengan penambahan 200 bak semen. Rincian penerimaan usaha Bapak A. Arifin dengan penambahan 200 bak semen dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Penerimaan usaha Bapak A. Arifin dengan penambahan 200 bak semena
1 2 3 4 ... 10
2012 2013 2014 2015 2021
Nilai produksi total:
1. Ikan cupang jantan 306.000.000 510.000.000 714.000.000 714.000.000 714.000.000 714.000.000 2. Ikan cupang betina 23.760.000 39.580.000 55.400.000 55.400.000 55.400.000 55.400.000 Nilai sisa: 1. Pompa air 1.250.000 2. Kendaraan operasional 6.500.000 3. Tandon 1.500.000 4. Bak semen 26.250.000 5. Botol 60.000 6. Rak 225.000 Total penerimaan 329.760.000 549.580.000 769.400.000 769.400.000 769.400.000 805.185.000 Penerimaan Tahun a
Sumber: Usaha budidaya ikan cupang (Betta splendens) milik Bapak A. Arifin (data diolah) 2013
b. Nilai sisa
Selain nilai produksi total, penerimaan usaha Bapak A. Arifin juga berasal dari nilai sisa. Nilai sisa merupakan nilai dari suatu barang yang diinvestasikan dan tidak habis dipakai selama umur bisnis. Nilai sisa dipengaruhi oleh umur bisnis, umur ekonomis, dan harga beli barang itu sendiri. Penentuan nilainya berdasarkan hasil bagi harga beli barang investasi dengan umur ekonomisnya kemudian dikalikan sisa tahun umur bisnis. Nilai sisa pada usaha ini diperoleh dari investasi yang dikeluarkan tanpa penambahan 200 bak semen dimana umur ekonomisnya tidak habis dengan estimasi penerimaan penambahan 200 bak semen. Nilai sisa tersebut adalah nilai sisa dari pompa air, kendaraan operasional, tandon, bak semen, botol, dan rak. Rincian nilai sisa dengan penambahan 200 bak semen dapat dilihat