• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2002-2006

Dari hasil analisis citra diperoleh informasi penggunaan/penutupan lahan. Interpretasi dan klasifikasi terhadap citra, menghasilkan kelas-kelas penggunaan/penutupan lahan sementara, dan setelah diverifikasi di lapangan menjadi kelas penggunaan/penutupan lahan. Post klasifikasi menghasilkan peta penggunaan/penutupan lahan dua titik tahun dengan nilai akurasi > 85%. Untuk mendapatkan nilai perubahan penggunaan/penutupan lahan dua titik tahun, dilakukan perbandingan terhadap penggunaan tahun 2002 dan 2006, dengan proses tumpang tindih antara kedua peta tersebut.

Jenis, luas dan masing-masing perubahan penutupan/penggunan lahan di wilayah Kabupaten Sumedang tahun 2002 dan 2006 disajikan pada Tabel 6. Tabel 6. Luas dan Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2002 dan 2006

No

Kelas Tahun 2002 Tahun 2006 Perubahan

Penggunaan Lahan

Luas

(ha) % Luas (ha) % (ha) %*)

1 Hutan 28.124 18,48 23.569 15,48 -4569 -3,00 2 Kebun Campuran 38.825 25,51 36.997 24,31 -1842 -1,20 3 Ladang 26.849 17,64 34.226 22,48 7354 4,84 4 Lahan Terbuka 2.114 1,39 3.058 2,01 220 0,62 5 Permukiman 10.737 7,05 12.591 8,27 2154 1,22 6 Sawah 35.761 23,49 34.897 22,93 -869 -0,56 7 Semak Belukar 7.906 5,19 4.995 3,28 -2401 -1,91 8 Air 1.904 1,25 1.887 1,24 -47 -0,01 152.220 100 152.220 100 0 0,00

Keterangan : *) per Luas Total

Peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2002 dan tahun 2006 disajikan pada Gambar 4 dan Gambar 5.

Gambar 4. Peta Penutupan/Penggunaan Lahan Kabupaten Sumedang Tahun 2002

4

Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa pada tahun 2002 penggunaan lahan pertanian memilki porsi terbesar yakni kebun campuran sebesar 38.815 ha (25,50%), sawah seluas 35.761 hektar ( 23,49%), dan ladang/tegalan seluas 26.839 hektar (17,63%). Sementara hutan memiliki porsi luas 28.114 hektar (18,47%). Penggunaan sawah banyak terdapat di Kecamatan Ujungjaya, yang merupakan daerah dataran rendah.

Untuk penggunaan lahan non-pertanian, penutupan/penggunaan lahan untuk pemukiman sebesar 11,751 hektar (7,72%). Penggunaan untuk pemukiman secara umum tersebar di semua wilayah Kabupaten Sumedang namun dalam luasan yang kecil. Kawasan terbangun terkonsentrasi di Sumedang Kota dan di wilayah barat. Sumedang Kota yang meliputi Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan merupakan pusat pemerintahan dan pusat perdagangan dan jasa. Wilayah Kabupaten Sumedang Bagian Barat yakni di Kecamatan Jatinangor, Cimanggung dan Tanjungsari. Ketiga kecamatan ini merupakan wilayah yang mempunyai jarak terdekat dengan pusat propinsi dibanding kecamatan lain, sehingga menjadi penyangga dari perkembangan Bandung. Selain itu, di wilayah barat Kabupaten Sumedang berdiri kawasan Perguruan Tinggi tepatnya di Kecamatan Jatinangor dan kawasan industri di Kecamatan Cimanggung dan Jatinangor.

Penutupan/penggunaan lahan berupa semak belukar mempunyai porsi cukup besar yakni seluas 7.072 hektar (4,65%), dan tersebar di seluruh wilayah. Sementara penutupan/penggunaan lahan berupa lahan terbuka dan tubuh air masing-masing seluas 1.964 hektar (1,29%) dan 1.904 hektar (1,25%).

Penutupan/penggunaan lahan pada tahun 2006, masih didominasi lahan pertanian yakni kebun campuran seluas 36.973 hektar (24,29%), sawah 34.892 hektar (22,92%) dan ladang/tegalan seluas 34.193 hektar (22,46%). Sementara hutan memiliki porsi luas 23.545 hektar (15,47%). Pemukiman dengan penggunaan sebesar 13.905 ha (9,13%) terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Sumedang Bagian Barat. Lahan terbuka memiliki luas 2.154 hektar (1,42%), semak belukar 4.672 hektar (3,07%) dan tubuh air 1.887 hektar (1,24%).

Perubahan Penutupan/ Penggunaan Lahan

Dengan menumpangtindihkan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2002 dengan 2006 diperoleh matriks perubahan penutupan/penggunaan lahan sebagaimana disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Matrik Perubahan Penutupan/Penggunaan Lahan Tahun 2002-2006

2006 2002 Hutan Kebun Cam-puran Ladang Lahan Terbu ka Permu kiman Sawah Semak Belu-kar Tubuh Air Total Hutan 22.977 2.284 1.678 286 102 235 562 - 28.124 Kebun Cam-puran 452 33.647 3.538 297 336 93 462 - 38.825 Ladang - 560 25.072 247 376 379 187 28 26.849 Lahan Terbuka - 126 623 993 282 52 21 17 2.114 Permu-kiman - - - - 10.737 - - - 10.737 Sawah - 132 494 525 574 33.861 61 114 35.761 Semak Belukar 140 248 2.803 696 178 135 3.702 4 7.906 Tubuh Air - - 18 14 6 142 - 1.724 1.904 Total 23.569 36.997 34.226 3.058 12.591 34.897 4.995 1.887 152.220

Berdasarkan Tabel 7 tersebut, penyusutan luas hutan sebagian besar berubah menjadi kebun campuran 2.309 hektar atau sekitar 8,21% dari luas asal dan menjadi ladang seluas 1.678 hektar atau sekitar 6% dari luas asal. Sementara yang berubah menjadi penutupan/penggunaan lain relatif kecil, yakni menjadi lahan terbuka 276 hektar (0,98%), permukiman 151 hektar (0,54%), sawah 245 hektar (0,87%) dan semak belukar 502 hektar (1,79%). Terjadi pula perubahan yang cukup berarti pada penggunaan lahan pertanian menjadi non-pertanian, pada kelas sawah menjadi permukiman, yakni sekitar 712 hektar. Perubahan Tegalan/Ladang menjadi permukiman sekitar 451 hektar, sementara perubahan kebun campuran menjadi permukiman sekitar 437 hektar.

Terjadi penambahan luas pada penutupan/penggunaan lahan permukiman dari 11.751 hektar pada tahun 2002 menjadi 13.905 pada tahun 2006 atau bertambah sekitar 2.154 hektar. Luasan ini sebagian besar berasal dari sawah seluas 712 hektar, juga dari hutan 151 hektar, kebun campuran 437 hektar, ladang 451 hektar, lahan terbuka 248 hektar dan semak belukar 149 hektar. Ladang bertambah dari 26.839 hektar pada tahun 2002 menjadi 34.193 hektar pada tahun 2006 atau bertambah 7.354 hektar. Sementara lahan terbuka bertambah sekitar 220 hektar yakni dari 1.964 hektar pada tahun 2002 menjadi 2.154 hektar pada tahun 2006, yang berasal dari hutan 1678 hektar, kebun campuran 3.543 hektar, semak belukar 2.742 hektar dan lahan terbuka 679 hektar.

Peningkatan lahan permukiman banyak terjadi di daerah Kecamatan Jatinangor, Cimanggung dan Tanjungsari, yang merupakan daerah industri dan penyangga Bandung serta di Kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan yang merupakan pusat pemerintahan. Peningkatan luas lahan terbuka terjadi di Kecamatan Cimalaka, Paseh, Conggeang, dan Buahdua. Dari data survey lapang diketahui bahwa kelas ini berada di kaki gunung Tampomas yang merupakan daerah pertambangan galian type-C yang terus dieksplorasi sejak tahun 2000 hingga saat ini.

Sementara hutan, sawah, kebun campuran dan semak belukar mengalami penurunan, seiring dengan meningkatnya luas permukiman, ladang dan lahan terbuka. Hutan menyusut dari 28.114 hektar menjadi 23.545 hektar atau sekitar 5.569 hektar. Sementara kebun campuran, semak belukar dan sawah menyusut masing-masing seluas 1.842 hektar, 2.401 hektar dan 869 hektar.

Pemanfaatan Ruang Tahun 2002-2006

Perubahan penutupan/penggunaan lahan akan berimplikasi terhadap pelaksanaan RTRW. Untuk mengetahui implikasi perubahan penutupan/ penggunaan lahan terhadap pelaksanaan RTRW, perlu diketahui terlebih dahulu struktur pemanfaatan ruang Kabupaten Sumedang tahun 2002 dan tahun 2006. Pemanfaatan ruang diperoleh dengan memadukan dan mengkompilasikan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2002 dan 2006 dengan RTRW, hasil survey lapang serta data penggunaan lahan dari Kabupaten Sumedang dalam Angka Tahun 2002 dan 2007. Pemaduan dan kompilasi pemanfaatan ruang disajikan

pada Tabel 8, sementar luas dan perubahan pemanfaatan ruang tahun 2002 dan 2006 disajikan pada Tabel 9 berikut ini.

Tabel 8. Padanan Data Pemanfaatan Ruang dengan Peta Penutupan/Penggunaan Lahan

NO Pemanfaatan

Ruang Sumber Data

1. Hutan Lindung - Kelas Hutan dari Peta Penutupan/ Penggunaan Lahan - Dokumen RTRW 2002-2012

2. Sempadan Sungai - Dokumen RTRW 2002-2012 3. Pertanian Lahan

Kering

- Kelas Ladang dan Kebun Campuran dari Peta Penutupan/ Penggunaan Lahan

- Dokumen RTRW 2002-2012 4. Pertanian Lahan

Basah

- Kelas Sawah dari Peta Penutupan/ Penggunaan Lahan - Dokumen RTRW 2002-2012

5. Permukiman - Kelas Permukiman dari Peta Penutupan/ Penggunaan Lahan

- Dokumen RTRW 2002-2012

6. Industri - Kelas Permukiman dari Peta Penutupan/ Penggunaan Lahan

- Survey Lapang - RTRW 2002-2012

- Kabupaten Sumedang dalam Angka 2002 dan 2007 7. Galian-C - Kelas Lahan Terbuka dari Peta Penutupan/

Penggunaan Lahan - Survey Lapang - RTRW 2002-2012

- Kabupaten Sumedang dalam Angka 2002 dan 2007 Berdasarkan Tabel 9, pada tahun 2002, kawasan lindung di Kabupaten Sumedang seluas 41.293 hektar (27,13%), yang terdiri dari tutupan hutan lindung/konservasi seluas 24.989 hektar (16,42%) dan sempadan sungai seluas 16.304 hektar (10,71%). Hutan lindung tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Sumedang terutama di Kecamatan Cimalaka, Buahdua dan Conggeang sekitar gunung Tampomas, Kecamatan Sumedang Selatan, Cibugel, Cimanggung sekitar gunung Kareumbi dan Kecamatan Wado. Sementara itu, kawasan budidaya seluas 110.927 hektar (72,87%). Kawasan budidaya didominasi oleh kegiatan pertanian dengan luas 99.906 hektar (65,30%), dengan porsi terbesar sekitar 64,549 hektar (42,42%) merupakan pertanian lahan kering, sedangkan pertanian lahan basah sekitar 34.857 hektar (22,90%). Penggunaan pertanian

lahan basah banyak terdapat di Kecamatan Ujungjaya, Buahdua, Conggeang dan Darmaraja, sedangkan pertanian lahan kering banyak dijumpai di Kecamatan Cibugel, Tanjungmedar, Wado, Conggeang dan Buahdua.

Tabel 9. Luas dan Perubahan Pemanfaatan Ruang Tahun 2002 dan 2006

No Pemanfaatan Ruang 2002 2006 Perubahan

(ha) (%) (ha) (%) (ha) (%)

1 Kawasan Lindung 41.293 27,13 36.904 24,24 -4.389 -2,88 Hutan Lindung/Konservasi 24.989 16,42 20.600 13,53 -4.389 -2,88 Sempadan Sungai 16.304 10,71 16.304 10,71 0 0 2 Kawasan Budidaya 110.927 72,87 115.316 75,76 4.389 2,88 a Budidaya Pertanian 99.406 65,30 101.539 66,71 2.133 1,4 Pertanian Lahan Kering 64.549 42,41 67.501 44,34 2.952 1,94 Pertanian Lahan Basah 34.857 22,90 34.038 22,36 -819 -0,54 b Non Pertanian 11.521 7,57 13.777 9,05 2.256 1,48 Permukiman 10.683 7,02 12.407 8,15 1.724 1,13 Industri 468 0,31 683 0,45 215 0,14 Galian C 370 0,25 687 0,45 317 0,2 152.220 100 152.220 100 0 0

Kegiatan non-pertanian hanya memiliki porsi 11.521 hektar (7,57%). Untuk kegiatan budidaya non pertanian, penggunaan/penutupan lahan berupa permukiman memiliki porsi luas sekitar 10.683 hektar (7,02%), dan secara umum tersebar di semua wilayah Kabupaten Sumedang namun dalam luasan yang kecil. Kegiatan industri memiliki luas 468 hektar (0,31%), terdapat di Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung yang merupakan kawasan industri di Kabupaten Sumedang.

Pada tahun 2006, tutupan kawasan lindung memiliki porsi luas sekitar 36.904 hektar (24,24%) meliputi tutupan hutan lindung/konservasi dengan porsi luas 20.600 hektar (13,53%), dan sempadan sungai 16.304 hektar (10,71%). Kawasan budidaya seluas 115,316 hektar (75,76%), dengan budidaya pertanian 101.539 hektar (66,71%) dan budidaya non pertanian seluas 13.777 hektar

(9,05%). Kegiatan pertanian lahan kering mendomonasi kawasan budidaya pertanian, dengan luas 67.501 hektar (44,34%). Sementara pertanian lahan basah memiliki porsi luas sekitar 34.038 hektar (22,36%).

Kawasan budidaya non-pertanian memiliki porsi luas 13.777 hektar (9,05%). Permukiman mendominasi dengan penggunaan sebesar 12.407 hektar

(8,15%) dan terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Sumedang Bagian Barat. Kegiatan industri memiliki luas 683 hektar (0,45%), terkonsentrasi di Kecamatan Cimanggung dan Jatinangor.

Perubahan Pemanfaatan Ruang

Hasil analisis pemanfaatan ruang dari tahun 2002-2006, sebagaimana terlihat pada Tabel 9, menunjukkan bahwa terjadi perubahan pada berbagai pemanfaatan, baik peningkatan maupun penurunan. Perubahan pemanfaatan ruang ini terjadi di seluruh kecamatan di Kabupaten Sumedang, sebagaimana terlihat pada Tabel 10.

Penurunan luas yang cukup berarti terjadi pada pemanfaatan ruang dari kawasan lindung menjadi kegiatan budidaya, yaitu seluas 4.389 hektar (2,88%). Penyusutan ini terjadi pada tutupan hutan lindung/konservasi, sementara untuk pemanfaatan ruang berupa sempadan sungai diasumsikan tetap. Peningkatan luas pemanfaatan ruang kawasan budidaya terbesar terjadi pada budidaya non-pertanian, yakni bertambah seluas 2.256 hektar (1,48%), sementara budidaya pertanian bertambah luasannya sekitar 1.991 hektar (1,31%). Perubahan tutupan lahan pada kawasan hutan lindung menjadi kawasan budidaya ini didorong oleh pertumbuhan penduduk, sehingga memerlukan lahan baik untuk tempat tinggal, lahan usaha maupun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Peningkatan luas pemanfaatan ruang untuk kegiatan budidaya pertanian terjadi karena peningkatan luas lahan pertanian lahan kering seluas 2.952 hektar (1,94%). Peningkatan pertanian lahan kering ini sejalan dengan penurunan luas tutupan pada kawasan hutan lindung, yang banyak dijadikan ladang/huma oleh masyarakat. Sementara itu, penggunaan/penutupan lahan untuk pertanian lahan basah justru mengalami penurunan seluas 819 hektar (0,54%). Penurunan pertanian lahan basah terjadi karena banyaknya lahan sawah yang dikonversi menjadi kawasan terbangun terutama permukiman.

Tabel 10. Luas Perubahan Pemanfaatan Ruang Tahun 2002-2006 per Kecamatan

No Kecamatan H.Ldg PLK PLB Pmkm Indtr Gal-C

1 Buahdua -235 219 -16 20 0 12 2 Cibugel -262 243 -1 20 0 0 3 Cimalaka -153 -12 -49 149 0 65 4 Cimanggung -115 -79 -65 141 118 0 5 Cisarua 0 -15 -32 47 0 0 6 Cisitu -176 177 -21 20 0 0 7 Conggeang -260 226 -3 23 0 14 8 Darmaraja -276 223 -4 57 0 0 9 Ganeas 0 -12 -68 80 0 0 10 Jatigede -264 251 -4 17 0 0 11 Jatinangor -5 -151 -88 147 97 0 12 Jatinunggal -244 234 -3 13 0 0 13 Pamulihan -184 91 -49 142 0 0 14 Paseh -8 -105 -75 103 0 85 15 Rancakalong -260 224 0 36 0 0 16 Situraja -238 208 -17 47 0 0 17 Sukasari -222 154 -1 69 0 0 18 Sumedang Selatan -259 180 -62 141 0 0 19 Sumedang Utara 0 -59 -83 142 0 0 20 Surian -259 250 -1 10 0 0 21 Tanjungkerta -1 15 -21 7 0 0 22 Tanjungmedar -109 101 -5 13 0 0 23 Tanjungsari -60 -43 -69 142 0 30 24 Tomo -277 180 -39 36 0 100 25 Ujungjaya -281 236 -42 76 0 11 26 Wado -241 216 -1 26 0 0

Keterangan : H Ldg : Hutan Lindung PLK : Pertanian Lahan Kering PLB : Pertanian Lahan Basah Pmk : Pemukiman

Tabel 11. Data Kependudukan Kabupaten Sumedang Tahun 2006

NO Kecamatan

Jumlah Penduduk Laju

Pertum-Buhan Luas (km2) Kepadatan Penduduk (Jiwa/ km2) 2005 (Jiwa) 2006 (Jiwa) 1 Buahdua 32.324 33.592 3,92 131,37 256 2 Cibugel 20.352 21.330 4,81 48,8 437 3 Cimalaka 55.613 56.918 2,35 41,61 1.368 4 Cimanggung 70.455 74.020 5,06 40,76 1.816 5 Cisarua 20.159 20.190 0,15 18,92 1.067 6 Cisitu 26.399 27.962 5,92 53,31 525 7 Conggeang 29.952 31.431 4,94 105,31 298 8 Darmaraja 37.905 39.897 5,26 54,94 726 9 Ganeas 23.172 24.255 4,67 21,36 1.136 10 Jatigede 24.607 25.675 4,34 111,97 229 11 Jatinangor 90.431 95.517 5,62 26,2 3.646 12 Jatinunggal 41.591 43.446 4,46 61,49 707 13 Pamulihan 37.349 38.675 3,55 52,28 740 14 Paseh 36.658 37.856 3,27 34,37 1.101 15 Rancakalong 49.528 51.930 4,85 57,85 898 16 Situraja 35.631 37.282 4,63 54,03 690 17 Sukasari 29.639 30.956 4,44 47,12 657 18 Sumedang Selatan 72.220 75.268 4,22 117,37 641 19 Sumedang Utara 80.359 84.087 4,64 28,26 2.975 20 Surian 11.361 12.240 7,74 50,74 241 21 Tanjungkerta 33.129 34.350 3,69 40,14 856 22 Tanjungmedar 24.017 25.311 5,39 65,14 389 23 Tanjungsari 65.931 67.992 3,13 35,62 1.909 24 Tomo 23.326 24.329 4,30 66,26 367 25 Ujungjaya 30.195 31.457 4,18 80,56 390 26 Wado 43.520 45.708 5,03 76,42 598 Kab. Sumedang 1.045.823 1.091.674 4,38 1522,2 717

Perubahan pemanfaatan ruang terkait dengan jumlah, pertumbuhan dan kepadatan penduduk. Dengan membandingkan luas perubahan pemanfaatan ruang tahun 2002-2006 pada Tabel 9 dengan data kependudukan pada Tabel 10, terlihat bahwa perubahan pemanfaatan ruang sejalan dengan pertumbuhan dan kepadatan penduduk.

Penurunan luas tutupan pada kawasan hutan lindung dan peningkatan luas pertanian lahan kering terkait dengan pertumbuhan penduduk. Umumnya kecamatan-kecamatan yang tingkat penyusutan tutupan di kawasan hutan lindung dan peningkatan pertanian lahan keringnya relatif tinggi merupakan kecamatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk di atas rata-rata pertumbuhan penduduk Kabupaten Sumedang. Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Cibugel, Surian, Conggeang, Darmaraja, Rancakalong, Situraja dan Sukasari dan Wado. Sementara Kecamatan Sumedang Utara dan Kecamatan Jatinangor walaupun memiliki pertumbuhan penduduk relatif tinggi, penyusutan tutupan pada kawasan hutan lindungnya rendah, karena kedua kecamatan tersebut memiliki luas kawasan hutan lindung rendah. Sementara pertanian lahan kering di kedua kecamatan tersebut juga mengalami penurunan karena peningkatan luas permukiman di dua kecamatan tersebut lebih dominan.

Pertumbuhan penduduk akan disertai oleh peningkatan kebutuhan ruang baik untuk keperluan tempat tinggal maupun untuk areal usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Persaingan pemanfaatan ruang mendorong terjadinya perubahan pemanfaatan ruang dari suatu pemanfaatan ke pemanfaatan lain. Guna memenuhi kebutuhan hidupnya, orang akan mencari pencaharian sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya yang ada, misalnya orang di perdesaan berusaha di bidang pertanian dan masyarakat perkotaan di bidang non-pertanian.

Kecamatan-kecamatan yang tingkat penyusutan luas tutupan di kawasan hutan lindung sebagaimana disebutkan di atas, merupakan kecamatan-kecamatan yang umumnya berupa perdesaan, yang mempunyai jarak ke pusat pelayanan relatif jauh. Manakala pertumbuhan penduduk di kecamatan-kecamatan tersebut relatif tinggi, maka kebutuhan akan lahan pertanian meningkat sebagai upaya pemenuhan kebutuhannya. Sementara lahan pertanian yang tersedia sudah

terbatas, pada akhirnya mendorong orang untuk mencari lahan baru dengan membuka areal hutan untuk dijadikan areal pertanian, sehingga pada kecamatan-kecamatan tersebut terjadi penyusutan luas tutupan pada kawasan hutan lindung, sedangkan pertanian lahan kering mengalami peningkatan.

Kecamatan-kecamatan yang peningkatan luas ruang permukimannya relatif tinggi seperti Kecamatan Jatinangor, Sumedang Utara, Cimanggung dan Tanjungsari merupakan kecamatan yang mempunyai laju pertumbuhan penduduk di atas rata-rata pertumbuhan penduduk Kabupaten Sumedang dan mempunyai kepadatan penduduk relatif tinggi jauh di atas rata-rata kepadatan penduduk Kabupaten Sumedang. Kecamatan-kecamatan tersebut juga mengalami penyusutan luas pertanian lahan basah. Disamping terjadi penyusutan pertanian lahan basah, di kecamatan-kecamatan tersebut pertanian lahan keringpun mengalami penyusutan, berbeda dengan kecamatan-kecamatan lain yang umumnya mengalami peningkatan.

Kecamatan-kecamatan tersebut di atas merupakan kecamatan perkotaan. Sumedang Utara merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan, sementara Kecamatan Jatinangor dan Tanjungsari merupakan Kecamatan yang berbatasan dengan Bandung, sehingga menjadi kawasan penyangga Bandung. Di samping itu, Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung merupakan Kecamatan tempat berdirinya kawasan industri Kabupaten Sumedang, dan kawasan pendidikan di Kecamatan Jatinangor. Berbeda dengan kecamatan lain yang umumnya pertumbuhan penduduknya merupakan pertumbuhan alami yang dipengaruhi oleh kelahiran dan kematian, pada kecamatan ini, selain faktor kelahiran dan kematian, pertumbuhan penduduk yang dominan disebabkan oleh faktor migrasi, dengan berdatangannya pendatang dari luar kecamatan, sehingga pertumbuhan penduduk akan serta merta diikuti oleh kebutuhan lahan untuk tempat tinggal, maka pertumbuhan penduduk mendorong terjadinya peningkatan luas permukiman.

Sebagai masyarakat perkotaan, umumnya mata pencaharian adalah non-pertanian. Pertumbuhan penduduk di Kecamatan Jatinangor, Sumedang Utara, Tanjungsari dan Cimanggung, tidak serta merta meningkatkan areal pertanian sebagaimana kecamatan lain yang telah disebutkan di atas, bahkan lahan pertanian yang ada tergeser menjadi penggunaan lain, karena di wilayah perkotaan lahan

non-pertanian lebih menguntungkan (mempunyai nilailand rentyang lebih tinggi) dibanding lahan pertanian. Dengan kondisi tersebut, selain meningkatkan luas permukiman, pertumbuhan penduduk di kecamatan-kecamatan tersebut (kecamatan perkotaan) juga menyebabkan penurunan luas areal pertanian baik pertanian lahan kering maupun lahan basah. Luas areal industri di Kecamatan Cimanggung dan Jatinangor mengalami peningkatan.

Gambar 6. Perubahan Penutupan/ Penggunaan Lahan menjadi Pemukiman di Lereng Gunung Geulis Kecamatan Tanjungsari

Untuk kegiatan budidaya non-pertanian, hampir semua jenis pemanfaatan ruang mengalami peningkatan. Peningkatan terbesar terjadi pada pemukiman yang bertambah seluas 1.724 hektar (1,13%). Peningkatan luas pemukiman ini mengakibatkan penurunan luas lahan pertanian lahan basah, dan terjadi karena pertumbuhan penduduk. Peningkatan lahan pemukiman banyak terjadi di wilayah Kabupaten Sumedang bagian barat yakni daerah Kecamatan Jatinangor, Cimanggung dan Tanjungsari, yang merupakan daerah industri, kawasan pendidikan dan penyangga Bandung. Selain itu, luas pemukiman juga meningkat di Kecamatan Sumedang Utara yang merupakan pusat pelayanan jasa dan perdagangan, serta Kecamatan Sumedang Selatan sebagai pusat pemerintahan dan Kecamatan Cimalaka yang mempunyai akses yang tinggi ke pusat pemerintahan dan pusat jasa perdagangan.

Disamping permukiman, industri dan pertambangan galian-C juga mengalami peningkatan masing-masing seluas 215 hektar (0,14%) dan 317 hektar (0,20%). Pertambangan galian-C banyak ditemukan di Kecamatan Cimalaka, Paseh dan Conggeang di kaki gunung Tampomas yang terus dieksplorasi sejak tahun 2000 hingga saat ini.

Gambar 7. Pertambangan Galian C di Lereng Gunung Tampomas Identifikasi Pusat-pusat Perubahan Pemanfaatan Ruang

Penentuan pusat-pusat perubahan pemanfaatan ruang dilakukan berdasarkan kepada nilai LQ > 1, Hasil perhitungan LQ disajikan pada Tabel 12. Selain menunjukkan pusat-pusat perubahan pemanfaatan ruang, dengan mengelompokkan kecamatan-kecamatan yang menjadi pusat perubahan penutupan/penggunaan lahan, Tabel 12 juga memperlihatkan keterkaitan antar perubahan suatu pemanfaatan ruang dengan pemanfaatan ruang lainnya.

Hasil analisis spasial dan perhitungan indeks LQ, menunjukkan bahwa terjadi pemusatan perubahan pemanfaatan ruang di beberapa kecamatan. Pusat penurunan luas tutupan pada kawasan hutan lindung, terjadi hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Sumedang kecuali Kecamatan Cimalaka, Paseh

Tanjungsari, Cimanggung, Jatinangor, Sumedang Utara, Ganeas, Cisarua, Tanjungkerta. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang terletak di wilayah Sumedang Kota (sekitar pusat pemerintahan) dan wilayah barat Kabupaten Sumedang, yang umumnya mempunyai luas hutan lindung rendah. Kecamatan di wilayah Sumedang Kota yang mempunyai hutan lindung relatif luas hanya Kecamatan Sumedang Selatan, sementara kecamatan di wilayah barat yang menjadi pusat penyusutan hutan lindung adalah Kecamatan Sukasari dan Pamulihan.

Penurunan luas tutupan hutan lindung, umumnya sejalan dengan peningkatan luas pertanian lahan kering. Kecuali Kecamatan Tomo, Sumedang Selatan dan Pamulihan, kecamatan yang menjadi pusat penurunan luas tutupan hutan lindung merupakan pusat peningkatan pertanian lahan kering. Kecamatan-kecamatan pusat peningkatan areal pertanian lahan kering adalah Kecamatan Jatigede, Cibugel, Jatinunggal, Surian, Wado, Buahdua, Tanjungmedar, Rancakalong, Situraja, Sukasari, Conggeang, Ujungjaya, Cisitu dan Darmaraja.

Kecamatan-kecamatan yang menjadi pusat penurunan tutupan di kawasan hutan lindung dan peningkatan pertanian lahan kering, merupakan kecamatan yang lokasinya relatif jauh dengan pusat pemerintahan dan dengan pusat perdagangan dan jasa kecuali Kecamatan Sumedang Selatan. Walaupun berada di pusat pemerintahan kabupaten, namun wilayah Kecamatan Sumedang Selatan pada umumnya berupa wilayah perdesaan, dan memiliki areal hutan lindung yang luas. Banyak desa yang relatif rendah aksesibilitasnya dibanding desa-desa di kecamatan kota seperti Kecamatan Sumedang Utara.

Pusat peningkatan luas permukiman adalah Kecamatan Jatinangor, Sumedang Utara, Sumedang Selatan, Cimanggung, Tanjungsari, Ganeas, Cisarua, Cimalaka, Pamulihan Tanjungkerta dan Paseh. Kecamatan-kecamatan tersebut umunya adalah kecamatan yang terletak di wilayah kota atau yang mempunyai aksesibilitas yang tinggi ke pusat pemerintahan seperti Kecamatan Sumedang Utara, Sumedang Selatan, Cimalaka, Ganeas dan Cisarua. Selain kecamatan di wilayah kota, pusat peningkatan pemukiman terjadi di kecamatan wilayah barat, yang merupakan kecamatan yang mempunyai jarak ke pusat propinsi relatif dekat yakni Kecamatan Jatinangor, Cimanggung, Tanjungsari, Sukasari dan Pamuliha,

Selain itu, di wilayah barat juga berdiri kawasan industri tepatnya di Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung serta kawasan pendidikan di Kecamatan Jatinangor.

Tabel 12. Hasil Perhitungan LQ

NO Kecamatan H. Ldg PLK PLB Pmkm Idtr Gal-C

1 Buahdua 1,21 1,27 0,44 0,26 0,00 0,86 2 Cibugel 1,29 1,35 0,03 0,25 0,00 0,00 3 Cimalaka 0,93 0,08*) 1,59 2,30 0,00 5,45 4 Cimanggung 0,58 0,44*) 1,74 1,79 12,04 0,00 5 Cisarua 0,00 0,46*) 4,73 3,30 0,00 0,00 6 Cisitu 1,16 1,31 0,74 0,33 0,00 0,00 7 Conggeang 1,28 1,25 0,08 0,29 0,00 0,95 8 Darmaraja 1,28 1,16 0,10 0,67 0,00 0,00 9 Ganeas 0,00 0,22*) 5,90 3,30 0,00 0,00 10 Jatigede 1,28 1,36 0,10 0,21 0,00 0,00 11 Jatinangor 0,03 0,90*) 2,50 1,99 10,51 0,00 12 Jatinunggal 1,28 1,38 0,08 0,17 0,00 0,00 13 Pamulihan 1,02 0,57 1,46 2,01 0,00 0,00 14 Paseh 0,06 0,81*) 2,77 1,81 0,00 8,11 15 Rancakalong 1,30 1,25 0,00 0,46 0,00 0,00 16 Situraja 1,21 1,19 0,46 0,61 0,00 0,00 17 Sukasari 1,29 1,01 0,03 1,02 0,00 0,00 18 Sumedang Selatan 1,04 0,82 1,34 1,45 0,00 0,00 19 Sumedang Utara 0,00 0,60*) 4,06 3,30 0,00 0,00 20 Surian 1,29 1,40 0,03 0,13 0,00 0,00 21 Tanjungkerta 0,06 0,99 6,62 1,05 0,00 0,00 22 Tanjungmedar 1,24 1,29 0,30 0,38 0,00 0,00 23 Tanjungsari 0,45 0,36*) 2,78 2,72 0,00 3,13 24 Tomo 1,14 0,83 0,86 0,38 0,00 5,67 25 Ujung Jaya 1,13 1,06 0,90 0,78 0,00 0,61 26 Wado 1,29 1,30 0,03 0,35 0,00 0,00 (-) (+) (-) (+) (+) (+)

Keterangan : H Ldg : Hutan Lindung PLK : Pertanian Lahan Kering PLB : Pertanian Lahan Basah Pmk : Pemukiman

Idtr : Industri Gal-C : Pertambangan Galian C (-) : Penyusutan

Kecamatan-kecamatan yang merupakan pusat peningkatan areal permukiman umumnya juga merupakan pusat atau basis penyusutan areal pertanian lahan basah. Kecuali Kecamatan Sukasari, kecamatan yang menjadi pusat peningkatan permukiman adalah juga merupakan pusat penyusutan luas pertanian lahan basah. Letak kecamatan-kecamatan tersebut yang memiliki akses ke pusat pemerintahan dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi mendorong terjadinya konversi lahan-lahan pertanian lahan basah, sehingga kecamatan-kecamatan tersebut menjadi pusat perubahan pertanian lahan basah. Disamping terkait dengan pertanian lahan basah, pusat peningkatan permukiman juga berhubungan dengan penyusutan pertanian lahan kering.

Pusat peningkatan luas kawasan industri terjadi di Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung, yang merupakan kecamatan lokasi kawasan industri Kabupaten Sumedang. Peningkatan luas industri terkait dengan penurunan luas pertanian lahan kering dan pertanian lahan basah, dan diikuti dengan peningkatan luas pemukiman. Sedangkan pusat peningkatan lahan pertambangan Galian C adalah Kecamatan Tomo, Tanjungsari, Cimalaka, Paseh, Conggeang dan Buahdua.

Lokasi pusat-pusat perubahan pemanfaatan ruang banyak terjadi di wilayah kecamatan, yang merupakan pusat-pusat jasa perdagangan dan kawasan pendidikan dan industri, atau yang berdekatan dengan pusat-pusat pertumbuhan misal kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan atau yang mempunyai jarak lebih dekat dengan ibukota Propinsi. Selain berbatasan dengan Kabupaten Bandung, Kecamatan Jatinangor juga merupakan kawasan Pendidikan di mana terdapat empat Perguruan Tinggi (Unpad, IPDN, Unwim dan Ikopin). Selain itu, di Jatinangor bagian selatan juga merupakan kawasan industri. Kondisi demikian mendorong pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di Jatinangor relatif cepat sehingga menyebabkan terjadinya perubahan penggunaan lahan menjadi pemukiman. Hasil analisis LQ menunjukan kalau Jatinangor menjadi pusat peningkatan luas pemukiman. Peningkatan luas pemukiman di Kecamatan Jatinangor berkaitan dengan penurunan luas pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering.

Demikian halnya dengan Kecamatan Cimanggung yang merupakan kawasan industri Kabupaten Sumedang. Kecamatan ini juga berbatasan dengan Kecamatan Rancaekek dan Cicalengka Kabupaten Bandung yang juga merupakan kawasan industri di Kabupaten Bandung. Sebagai kawasan industri, Kecamatan Cimanggung mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif cepat, sehingga mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan menjadi

Dokumen terkait