Keadaan Umum Wilayah
Gambaran Umum Desa Wilas
Lokasi. Desa wilas adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan
Kelumpang Utara. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Sulangkit, sebelah timur dengan Desa Mangga, sebelah selatan dengan Desa Manggis, dan sebelah barat dengan Kecamatan Sampanahan. Luas Desa Wilas sekitar 20 km2. Area tersebut mencakup lahan persawahan, kebun karet, ladang pemukiman, dan sisanya masih berbentuk hutan karena belum dimanfaatkan. Seluruh penduduk Desa Wilas adalah Suku Banjar. Jumlah penduduk seluruhnya yang bermukim di Desa Wilas sebanyak 221 KK atau 807 warga dengan jumlah laki-laki 403 orang dan perempuan sebanyak 404 orang.
Akses menuju ibukota kecamatan ditempuh selama 45 menit menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat dengan jarak 12 kilometer. Desa Pudi sebagai Ibukota kecamatan menjadi salah satu alternatif pasar yang biasa dikunjungi oleh warga Desa Wilas. Selain itu, pusat perdagangan lain terletak di Desa Geronggang yang berjarak 45 kilometer melalui jalan tambang PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin. Adapun akses desa menuju ibukota kabupaten harus ditempuh melalui jalan darat baik menuju Desa Pudi maupun Desa Geronggang yang kemudian dilanjutkan dengan menggunakan speed boat
ataupun kapal cepat. Umumnya warga menggunakan kendaraan roda dua sebagai alat transportasi utama.
Sarana dan prasarana. Desa Wilas memiliki prasarana jalan yang sudah
rusak untuk akses keluar desa. Kondisi jalan utama menuju Desa Wilas ke Desa Geronggang cukup baik. Sedangkan menuju Desa Sulangkit rusak. Adapun menuju Desa Mangga rusak berlumpur pada satu titik. Kondisi jalan belum ada pengerasan secara merata, masih didominasi oleh jalan tanah yang sulit dilalui terutama pada saat hujan turun. Sarana pemerintah yang ditemui di Desa Wilas adalah kantor desa, pasar, TPA, SD, SMP,dan Puskesdes. Pada tahun 2012, sumber listrik untuk Desa Wilas berasal dari generator milik Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Gambaran Umum Desa Sulangkit
Lokasi. Desa Sulangkit merupakan desa yang berbatasan dengan Desa
Sukadana di sebelah utara. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Pudi Seberang, sebelah selatan dengan Desa Mangga, dan sebelah barat dengan
0,018jiwa/km . Jarak tempuh desa menuju ibukota kecamatan adalah 10
Jenis pekerjaan Nonprogram
Desa Wilas. Luas wilayah desa ini adalah 33 km2. Jumlah penduduk Desa Sulangkit seluruhnya berjumlah 175 Jiwa dimana jumlah laki-laki 92 jiwa dan perempuan 83 jiwa. Kepadatan penduduk Desa Sulangkit adalah
2
kilometer sedangkan ke ibukota kabupaten adalah 70 kilometer (RPJMD Sulangkit 2011).
Sarana dan prasarana. Ruas jalan Desa yang melewati Desa Sulangkit
sepanjang ± 6 kilometer yang menghubungkan poros jalan antar Desa Sulangkit dengan Desa Pudi dan Desa Sekandis. Panjang jalan Desa seluruhnya berjumlah ± 9 kilometer yang terdiri dari jalan utama desa dan jalan lingkungan. Adapun jalan lainnya adalah titian atau jembatan kayu dan jalan setapak. Berdasarkan data Desa Sulangkit pada tahun 2011 jumlah sekolah untuk SD sebanyak 1 buah dan TPA 1 buah.
Pekerjaan
Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan pada suami/istri di desa program (40%) dan nonprogram (58,1%) adalah petani. Suami dan istri didesa nonprogram tidak ada yang menjadi buruh non tani (0%). Di desa program terdapat 26,7% suami atau istri yang bekerja sebagai buruh non tani. Kondisi ini dikarenakan di desa program memiliki jumlah penduduk yang lebih besar sehingga warga yang akan memulai pertanian atau memanen hasilnya cenderung meminta bantuan warga lainnya dengan upah berupa uang tunai Rp. 50.000,- per hari atau bagi hasil panen.
Tabel 4 Sebaran rumahtangga berdasarkan pekerjaan suami dan istri
Program Jumlah % Jumlah % Petani 25 58.1 18 40.0 Buruh tani 0 0.0 12 26.7 Buruh nontani 0 0.0 0 0.0 PNS 0 0.0 1 2.2 Jasa 1 2.3 0 0.0 Pedagang 2 4.7 1 2.2 Tidak bekerja 1 2.3 0 0.0 IRT 9 20.9 6 13.3 Lainnya 5 11.6 7 15.6
Pekerjaan lainnya di desa program (15,6%) lebih tinggi dibanding desa nonprogram (11,6%). Kondisi ini diduga karena jarak desa program lebih dekat
dengan perusahaan dan kontraktor tambang. Beberapa pekerjaan lainnya adalah kontraktor thiess, kontrak dengan penanaman karet PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin, dan sebagian menjadi guru honorer.
Karakteristik Program Pemberdayaan Masyarakat
Kebijakan
Dasar kebijakan Community Department (CD) tercantum dalam dokumen kebijakan, keselamatan, dan kesehatan kerja, lingkungan serta kemasyarakatan (K3LK) yang dibuat oleh perusahaan. Dokumen tersebut mencantumkan lima poin kebijakan yang dua poin diantaranya adalah kebijakan dasar yang berhubungan dengan kemasyarakatan. Kebijakan tersebut adalah 1) mengembangkan hubungan baik dengan masyarakat setempat melalui komunikasi yang terbuka dan proaktif yang didasari atas keyakinan, saling percaya, dan kebersamaan dan 2) mendorong keterlibatan secara aktif dari semua pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan kebijakan ini.
Komitmen perusahaan ini lebih khusus ditetapkan dalam kebijakan mengenai visi dan misi tanggung jawab sosial perusahaan. Dokumen ini tertuang dalam memorandum Nomor 290/AI/VIII/2008 yang ditandatangani oleh Chief Executive Officer (CEO) pada tahun 2008. Berikut adalah kebijakan yang terdiri dari visi, misi, tujuan, dan strategi.
Tabel 5 Kebijakan visi dan misi tanggung jawab sosial perusahaan1
Komponen Uraian
Visi Berdayanya masyarakat lingkar tambang menjadi mandiri dan sejahtera. Misi Memberdayakan sumber daya lokal dengan berpegang pada nilai-nilai
adat dan budaya setempat.
Tujuan 1. Berpartisipasi dalam pembangunan daerah dengan membangun struktur komunitas yang tidak berdaya menjadi lebih berdaya dalam menciptakan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat setempat. 2. Menjalin hubungan yang harmonis dengan pemangku kepentingan,
berdasarkan atas keyakinan, saling percaya, kebersamaan, dan saling menguntungkan.
Strategi 1. Membangun kemitraan atas dasar saling menguntungkan antara perusahaan, masyarakat, pemerintah, dan mitra kerja.
2. Hidup berdampingan dengan masyarakat, harmonis, dan saling percaya dimana perusahaan beroperasi.
3. Membangun keswadayaan masyarakat dalam rangka mengelola dan mengembangkan potensi sumberdaya lokal.
4. Berbasis komunitas dan sumberdaya lokal.
5. Melaksanakan prinsip-prinsip pengembangan masyarakat (Community
Development).
6. Menyiapkan kemandirian masyarakat pasca tambang.
1 Sumber: memorandum Nomor 290/AI/VIII/2008
Wibisono (2007) merangkum cara pandang perusahaan terhadap CSR menjadi menjadi tiga yaitu pertama basa basi atau keterpaksaan, kedua upaya
memenuhi kewajiban (compliance), dan ketiga dorongan tulus dari dalam (beyond compliance). Perusahaan telah menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan lagi sekedar kegiatan ekonomi untuk mencipatakan profit demi kelangsungan perusahaan melainkan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dasar pemikirannya adalah kesehatan finansial.
Berdasarkan pembagian tersebut, cara pandang PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin terhadap pelaksanaan CSR termasuk pada golongan tiga. Perusahaan telah menyadari bahwa masyarakat sekitar daerah operasi tambang harus mandiri dan sejahtera. Hal ini dibuktikan dengan adanya komitmen perusahaan dalam kebijakan tanggung jawab sosial perusahaan yang tercantum dalam tabel 4. Manager site Senakin, sebagai pimpinan tertinggi daerah
tambang, mempunyai prinsip bahwa jika masyarakat lokal sekitar tambang tidak lebih mandiri setelah adanya perusahaan, maka pelaksanaan program ini terbilang gagal. Wibisono (2007) menyatakan bahwa alasan pertama diimplementasikannya CSR adalah komitmen pemimpinnya. Selain itu, kutipan dari supervisor community development mengenai kewajiban CSR sebagai berikut:
“Konsumen akan melihat predikat proper yang diberikan kementrian lingkungan hidup atas pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan ini sehingga pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat ini merupakan kesadaran perusahaan untuk investasi kesehatan dan kemajuan finansial”
Cara pandang dan prinsip ini juga sejalan dengan pernyataan Lubis (2011) bahwa dua elemen pokok dari pemberdayaan adalah kemandirian dan partisipasi. Berdasarkan kebijakan yang tercantum dalam tabel 4 dapat dilihat bahwa perusahaan memiliki cita-cita untuk menjadikan masyarakat mandiri dengan sumber daya lokal yang dimilikinya. Oleh karena itu, prinsip pemberdayaan masyarakat telah tertuang dalam kebijakan yang diacu oleh pelaksana program sehingga harapannya visi tersebut bisa dicapai pada akhir operasi tambang tahun 2017.
Sumber Daya Manusia (SDM)
Community Department (CD) didukung oleh sumberdaya manusia
dengan struktur seperti gambar 2. Berdasarkan gambar tersebut, community
superintendent berada langsung dibawah manager PT Arutmin Tambang Senakin. Selanjutnya dalam community department dibagi menjadi dua sub yaitu community development (comdev) dan community relation (comrel). Masing-
kemasyarakatan Asset
masing sub ini dipimpin oleh seorang supervisor. Pelaksanaan kegiatan comdev
dibagi menjadi tiga bidang yaitu ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Bidang kesehatan dan pendidikan dilaksanakan secara mandiri oleh pelaksana CD Senakin. Adapun dalam bidang ekonomi, CD senakin membentuk LPPM dan project karet serta bermitra dengan Dompet Duafa Corpora. Bidang infrastruktur, sosial budaya, dan hubungan kemasyarakatan dilakukan oleh comrel. Bidang comrel dibantu oleh seorang asset protection yang berada langsung dibawah
admin & la supraintendent.
CD Senakin bekerjasama dengan berbagai lembaga evaluasi seperti CFCD (Corporate Forum for Community Development) dan SII (Social
Investment Indonesia) untuk melakukan evaluasi program di lapangan. Selain itu, kerjasama dengan berbagai stakeholder ini membantu dalam perencanaan program pemberdayaan yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya.
Senakin mine manager
Superintendent Superintendent Community Superintendent Admin & LA Superintendent Community Development Supervisor Community Relation Supervisor Community Development officer Community Development officer Community Relation Officer Community Relation Officer Assisstant project karet Assisstant comdev LPPM Dompet Dhuafa Kontrak Protection LCO
Konsep dan Strategi
PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin telah melaksanakan program pemberdayaan masyarakat sekitar tambang sejak dimulai beroperasinya tambang pada tahun 1988. Awalnya pelaksanaan program ini dipicu oleh tuntutan masyarakat yang menuntut kompensasi dari kegiatan PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin. Sejak tahun 2000 program untuk masyarakat mulai ditata dan diarahkan pada kegiatan yang mempunyai nilai-nilai pemberdayaan masyarakat (SII 2012).
Pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat disusun atas sebuah konsep dan strategi yang dibuat untuk mencapai visi departemen. Pada dasarnya konsep ini bertujuan untuk menguatkan sisi perekonomian masyarakat sehingga tercapai masyarakat mandiri pada tahun 2017. Kerangka kerja pemberdayaan masyarakat menitikberatkan pada penguatan ekonomi. Penguatan ekonomi ini didukung oleh pelaksanaan program-program di bidang kesehatan dan pendidikan. Selain itu, program dibidang infrastruktur dan kegiatan sosial lainnya dilakukan untuk mencapai target masyarakat mandiri pada akhir operasi tambang. Secara tidak langsung, bidang kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur bukan menjadi tujuan utama pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
Strategi yang dilakukan CD adalah membagi target pencapaian program dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan “memberi” yang dilaksanakan pada tahun 2004-2009. Strategi ini ditujukan untuk menumbuhkembangkan usaha dengan membangun dasar-dasar ekonomi. Secara umum, konsep pemberdayaan masyarakat ini merupakan kerjasama dari bagian community
development (comdev) dan community relation (comrel). Ruang lingkup comdev adalah membangun dasar ekonomi, membangun dan mengembangkan potensi sumberdaya lokal sebagai dasar menuju masyarakat yang percaya diri untuk menjadi mandiri dan sejahtera. Sedangkan ruang lingkup comrel memberikan dukungan kepada tim comdev dalam membangun prasarana dasar dan mendorong terciptanya tatanan masyarakat yang kondusif, harmonis, gotong royong, jujur, dan dinamis.
Tahap kedua (2010-2013) merupakan tahap transisi menuju masyarakat mandiri. Tahap ini dilaksanakan dengan konsep “mengajak” dimana dilakukan program-program penguatan usaha dan membangun jaringan, serta penguatan organisasi dan permodalan. Selanjutnya, tahap ketiga yang akan dilaksanakan
Budaya - Ring I, II, III
Budaya Kesehatan Infrastruktur - Ring I, II, III
pada tahun 2014-2017 berada pada tahap “membangun”. Pada tahap ini diharapkan adanya kestabilan usaha, kepercayaan diri, adanya jaringan, dan modal yang kuat. Target ini merupakan indikator pencapaian masyarakat mandiri atau keterandalan masyarakat dalam bidang ekonomi pada tahun 2017.
Tabel 6 Strategi prioritas tahunan Community Department tambang senakin1
Prioritas Ke- Strategi program 2004-2009 2010-2013 2014-2017 Mandiri Keterangan 1 Infrastruktur Ekonomi Pertanian Pertanian Ring I dan II 2 Pendidikan Sosial Budaya Perdagangan Perdagangan Ring I, II,III 3 Kesehatan Infrastruktur Sosial
4 Ekonomi Pendidikan Pendidikan - Ring I, II, III
5 Sosial
6 Donation Donation Donation - Ring I, II, III
1 Sumber: SII (2012)
Community Department (CD) PT PT Arutmin Indonesia Tambang
Senakin Tambang Senakin menurunkan konsep tersebut menjadi program objektif tahunan. Hasilnya adalah adanya skala prioritas pelaksanaan program pemberdayaan yang dilakukan setiap jangka waktu yang disertakan. Berdasarkan tabel 6, pada tahun 2011 (2010-2013) prioritas pelaksanaan program adalah bidang ekonomi. Prioritas kedua yang dijalankan adalah bidang sosial budaya, selanjutnya bidang infrastruktur. Sedangkan bidang pendidikan dan kesehatan berada pada skala prioritas empat dan lima.
Pelaksanaan program pendidikan dan kesehatan belum menjadi prioritas utama karena berdasarkan kerangka kerja CD, kedua bidang ini merupakan bidang pendukung penguatan bidang ekonomi. Selain itu, sampai saat ini belum dilakukan pemetaan khusus mengenai bidang kesehatan dan pendidikan. Pada Akhirnya, program-program kesehatan dan pendidikan yang dilaksanakan pada tahun 2011 masih mengacu pada pelaksanaan program pada tahun-tahun sebelumnya. Adapun pelaksanaan program infrastuktur dilaksanakan berdasarkan kebutuhan nyata dari masyarakat melalui proposal yang diajukan masyarakat ke perusahaan. Kegiatan sosial budaya dilaksanakan dalam rangka untuk mendekatkan hubungan antara pelaku usaha dengan masyarakat setempat.
Hasil wawancara dengan salah satu staff CD menuturkan bahwa strategi prioritas bidang ini telah dilaksanakan terlebih untuk periode kedua yaitu tahun 2010-2013. Akan tetapi, SII (2012) menunjukkan bahwa kerangka kerja dan strategi pelaksanaan CD ini belum dapat secara jelas mendeskripsikan indikator-
indikator serta target pencapaian perusahaan ditiap tahap setiap tahunnya meskipun menyertakan rencana waktu dari setiap tahapan.
Program
Rancangan program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin mengacu pada standar CSR ISO:26000, Proper lingkungan hidup, dan mendukung percepatan Millenium Development Goals (MDG’s).
Rancangan ini tentu saja disesuaikan dengan keadaan dan terutama kebutuhan aktual masyarakat di desa sekitar tambang. Kondisi dan kebutuhan masyarakat ini dilakukan melalui kegiatan pemetaan sosial (social mapping) yang
dilaksanakan oleh lembaga kompeten. Selain itu, pengajuan proposal dan informasi dari masyarakat lokal menjadi sumber penting lainnya dalam merancang program.
Program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin dilaksanakan di 28 desa yang dibagi menjadi tiga ring atau prioritas impelementasi program. Ring 1 merupakan desa-desa yang terkena dampak pertambangan secara langsung. Ring 2 merupakan desa-desa yang tidak terkena dampak pertambangan secara langsung. Ring 3 merupakan desa-desa yang tidak terkena dampak.
Tabel 7 Lokasi desa penerima program pemberdayaan masyarakat1
Kecamatan Desa
Ring 1 Ring 2 Ring 3
Kelumpang tenga
Sebuli, tamiang bakung
Tebing tinggi, Tanah Rata, Senakin, Senakin Seberang Tanjung Selayar, Sungai Pinang, Sungai Punggawa Kelumpang Utara Pamukan Selatan
Mangga, Wilas, Sungai Seluang
Gunung Calang, Sekandis, Talusi
Pudi, Pudi Seberang - Sukadana - Sampanahan Gunung Batu Besar,
Besuang, Papaan Sepapah, Sungai Betung Sukamaju, Banjarsari, Tanjung Sari, Sampanahan 1 Sumber: SII (2012)
Lubis (2011) menjelaskan tahapan program pemberdayaan masyarakat dimulai dengan identifikasi potensi dan masalah. Selanjutnya, penetapan tujuan, penetapan rencana kerja, kemudian aksi atau pelaksanaan rencana kerja, dan pada akhirnya diadakan evaluasi kegiatan. Evaluasi dan monitoring adalah salah satu kegiatan yang penting untuk melihat apakah pelaksanaan pemberdayaan sesuai dengan yang direncanakan.
Tahap pertama adalah identifikasi potensi dan masalah. Tahap pertama ini dilakukan oleh pihak luar seperti Corporate Forum for Community
Development (CFCD) setiap tiga tahun sekali. Selain itu, dilaksanakan juga oleh tim Dompet Dhuafa menurut desa yang dijadikan sasaran program. Selanjutnya penetapan tujuan dan rencana kerja didiskusikan dengan staf community department (CD) karena aksi program pemberdayan masyarakat ini akan dilaksnaakan oleh staf, supervisor, tim dompet dhuafa, dan tim LPPM.
Wibisono (2007) berpendapat bahwa pelaksanaan program CSR atau pemberdayaan ini sedapat mungkin diupayakan memenuhi beberapa poin, diantaranya berbasis sumberdaya lokal, berbasis pada pemberdayaan masyarakat, mengutamakan program yang berkelanjutan, berdasar perencanaan partisipatif atau didahului oleh penilaian kebutuhan (need assessment), dihubungkan dengan bisnis inti perusahaan, dan fokus pada prioritas. Berdasarkan hal tersebut, maka CD PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin telah berupaya memenuhi semua poin tersebut.
Berbasis sumberdaya lokal telah dibuktikan PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin dalam kebijakan dasar perusahaan. Selain itu, penguatan berbagai kelompok usaha masyarakat setempat dengan potensi daerahnya. Selain itu, dilaksanakan modifikasi bibit karet yang berasal dari karet lokal yang selanjutnya akan dipergunakan oleh masyarakat setempat.
Berbasis pada pemberdayaan masyarakat merupakan konsep CD PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin dalam melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Hal ini dibuktikan dalam memorandum Nomor 290/AI/VIII/2008 bahwa community development merupakan salah satu strategi yang harus dijalankan dalam CSR.
Perencanaan partisipatif dilakukan CD PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin setiap tiga tahun sekali oleh pihak luar atau setiap akan melaksanakan program baru seperti kegiatan pendampingan oleh Dompet Dhuafa. CD PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin memiliki prioritas bidang yang dijadikan acuan. Hal tersebut merupakan bukti bahwa perusahaan tersebut mengutamakan program yang berkelanjutan seperti pada bidang ekonomi dan mengutamakan prioritas pada tahun strategi. Adapun hubungan dengan bisnis inti, perusahaan melaksanakan mining tour sebagai salah satu cara pemberdayaan dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai kegiatan pertambangan.
Tahap selanjutnya adalah aksi atau implementasi program. Implementasi program dilaksanakan berdasarkan rencana program yang telah dibuat. Adapun
tahap evaluasi dilakukan secara berjangka dan tahunan. Evaluasi berjangka dilaksanakan setiap hari untuk mengevaluasi sekaligus monitoring program yang sedang dilaksanakan. Evaluasi tahunan dilaksanakan dengan mengundang pihak luar seperti tim dari CFCD. Evaluasi yang dilaksanakan oleh pihak luar ini melibatkan partisipasi masyarakat. Berdasarkan tipe evaluasi pada tabel 1 oleh Lubis (2011), evaluasi yang dilaksanakan oleh CD merupakan kombinasi dari evaluasi konvensional dan evalusi partisipatif.
Evaluasi konvensional meliputi pelaku evaluasi adalah pihak luar sedangkan evaluasi berjangka dilakukan oleh staf dan perangkat CD. Hal yang dievaluasi berdasarkan indikator keberhasilan biasanya berupa kepuasan masyarakat dan output yang dihasilkan. Evaluasi CD dilakukan dengan pola seragam dan tergantung jadwal. Hasil dari evaluasi ini menjadi bahan pelaksanaan anggaran biaya dan program yang akan dilaksanakan di tahun berikutya. Evaluasi tahunan ini juga melibatkan masyarakat di ring 1 sebagai prioritas responden sasaran program pemberdayaan masyarakat.
Potensi Dampak Program Pemberdayaan Masyarakat terhadap Upaya
Peningkatan Akses Pangan di Desa Wilas
Program bidang ekonomi sebagai program inti yang berjalan di Desa Wilas adalah Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM) dari tim Dompet Dhuafa sebagai mitra CD dalam pelaksanaan program pemberdayaan. Adapun program di bidang kesehatan dijalankan di Desa Wilas adalah pemberian makanan tambahan bagi balita setiap tiga bulan, bantuan peralatan kesehatan, dan insentif bagi bidan. Program di bidang pendidikan yang dijalankan adalah Kuliah Kerja Profesi IPB, penelitian, mining tour, pelatihan kompetensi guru, dan kompetisi pendidikan. Bidang infrastruktur yang turut dibantu perusahaan adalah penyediaan sarana air bersih, perbaikan sarana jalan, penyediaan jaringan listrik, dan pembangunan sarana olahraga, bedah rumah. Selain itu, dibidang sosial budaya, perusahaan telah melaksanakan perayaan hari besar agama islam, pembianaan olahraga dan kesenian, kegiatan keagamaan, dan sosialisasi seputar operasional tambang.
Tabel 8 menunjukkan potensi dampak program pemberdayaan masyarakat berdasarkan elemen penting akses dan konsumsi pangan dalam KUKP 2010-2014. Program yang dilaksanakan menyentuh ranah upaya peningkatan akses pangan yaitu akses sosial, fisik, dan ekonomi pangan. Selain itu, salah satu dampak dari bantuan makanan tambahan bisa membantu
posyandu Balita Peningkatan konsumsi pangan
KUM Peningkatan akses ekonomi
2 Insentif tenaga kemasyarakatan Umum Peningkatan akses ekonomi
2 Pembinaan olahraga dan
4 Sosialisasi seputar operasional
3 Pembangunan jalan desa Umum Peningkatan akses fisik & sosial
peningkatan konsumsi makanan bagi balita. Hanya saja, program tersebut tidak dirancang menjadi program yang saling berkaitan. Hal ini dibuktikan dengan tujuan program pemberdayaan masyarakat CD adalah membentuk masyarakat yang mandiri ekonomi. Bidang lainnya seperti kesehatan dan pendidikan merupakan tujuan penunjang masyarakat mandiri ekonomi.
Hal ini diduga akses pangan khususnya dan sistem ketahanan pangan umumnya belum tersosialisasi kepada perusahaan. Rahayu (2007) menyatakan dalam penelitiannya mengenai potensi dampak program pemberdayaan masyarakat di PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bahwa belum konsep ketahanan pangan belum disosialisasikan kepada perusahaan karena belum ada peraturan yang mengikat secara khusus mengenai penerapan konsep ini.
Tabel 8 Program, sasaran, dan potensi dampak program yang dilaksanakan di Desa Wilas tahun 2011
No Program Sasaran Potensi Dampak
A Pendidikan
1 Kompetisi pendidikan Siswa SMP - 2 Magang dan KKN & Penelitian Mahasiswa - 3 Pelatihan kompetensi guru Guru - B Kesehatan
1 Bantuan makanan tambahan
3 Bantuan pendidikan untuk bidan Bidan - 4 Bantuan tanggap darurat Umum - C Ekonomi
1
Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM) tim dompet dhuafa
pangan
Pangan D Sosial Budaya Dan Keagamaan
1 PHBN Umum -
kesenian Umum -
3 Kegiatan keagamaan Umum -
tambang Umum -
E Pengembangan Infrastruktur
1 Rehabilitasi sarana pendidikan Umum -
2 Air bersih Umum Peningkatan akses fisik pangan
pangan
4 Pembangunan jaringan listrik Umum Peningkatan akses fisik pangan
5 Bedah rumah Umum -
Program Bidang Pendidikan. Pelaksanaan program pendidikan memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia masyarakat sekitar tambang. Program pendidikan yang telah dilaksanakan adalah 1) kuliah kerja profesi dan penelitian, 2) kompetisi pendidikan, 3) mining tour, 4) pelatihan kompetensi guru.
Pelaksanaan program pendidikan ini memang belum optimal diakarenakan tidak adanya data yang mendukung mengenai kebutuhan pendidikan masyarakat. Program yang telah dijalankan berdampak pada peningkatan pengetahuan dan kompetensi mengajar guru menjadi lebih baik. Selanjutnya, pengetahuan yang meningkat dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi siswa. Dampak dari kompetensi mengajar guru yang baik dapat meningkatkan kapasitas guru dalam mengajar.
Dana