DAFTAR PUSTAKA
Sheet 5. Pengeluaran rumahtangga
Jenis pengeluaran Pengeluaran Rp per
Harian Mingguan Bulanan Tahunan
1. PANGAN 1. Beras Sub total 1.1 2. Umbi-umbian 2.1. Ubi jalar 2.2. Singkong 2.3. Kentang Sub total 1.2 3. Jagung Sub total 1.3 4. Lauk (sebutkan) 4.1. Telur Ayam 4.2. Daging Ayam 4.3. Ikan Asin 4.4. Ikan segar 4.5. Tahu 4.6. Tempe 4.7. Daging sapi 4.8. 4.9. 4.10. Sub total 1.4 5. Sayur Sub total 1.5 6. Buah Sub total 1.6 7. Minyak goreng Sub total 1.7 8. Minuman 8. 1. Susu 8. 2. Kopi 8. 3. Gula 8. 4. Teh Sub total 1.8
9. Jajanan (Bakso, snack, permen, dll) 10.Lainnya 10.1. Kerupuk 10.2. Garam 10.3. Kecap
Jenis pengeluaran Pengeluaran Rp per
Harian Mingguan Bulanan Tahunan
10.4. Saos 10.5. Bumbu 10.6. Mie 10.7. Tepung 10.8. 10.10. Sub total 1.10 Tot Pangan 2. NONPANGAN 1.Sekolah 1.1.SPP/BP3/Les 1.2.Uang transport 1.3.Buku/alat tulis 1.4. Seragam sekolah 1.5. Sepatu 1.6. Sub total 2.1 2. Pakaian/jahit baju Sub total 2.2 3. Bahan bakar 3.1. Minyak tanah 3.2. Kayu bakar 3.3. Gas 3.3. Bensin 3.5. 3.6. Sub total 2.3 4. Kesehatan 4.1.Jasa dan/mantri 4.2. Vitamin/supleme 4.3. Obat-obatan 4.4. KB Sub total 2.4 5. Alat bersih 5.1. Sabun mandi 5.2. Odol 5.3. Sampoo 5.4. Conditioner 5.5. Sikat gigi 5.5. Kapas/pembalut 5.7. Sabun Cuci
Jenis pengeluaran Pengeluaran Rp per
Harian Mingguan Bulanan Tahunan
5.8. Sikat pakaian 5.9. Bedak 5.10. Lipstik 5.11. Deodoran 5.12. Minyak wangi 5.13. Sapu 5.14. 5.15. Sub total 2.5 6. Rokok Sub total 2.6 7. Lain-lain
7.1. Transpor selain anak
7.2. Sewa/ merawat rumah
7.3. PAM/beli air bersih
7.4. Rekreasi/hiburan 7.5. Sumbangan 7.6. Kredit/ Arisan 7.7. Pembayaran pajak 7.7. Telepon 7.9. Listrik 7.10. Tabungan 7.11 7.12 7.13 7.14 Sub total 2.7 Tot Nonpangan TOTAL PENGELUARAN
Lampiran 2 Hasil uji statistik contoh
Tabel 25 Hasil uji independent t-test komponen akses pangan dan tingkat kecukupan energi rumahtangga desa program dan desa nonprogram
Komponen Standard error Sig. (2 tailed) Keterangan
Lama pendidikan 1.124 0.379 Tidak berbeda suami
Lama pendidikan istri 0.997 0.574 Tidak berbeda Pengeluaran total per
kapita per bulan Skor komponen utama akses pangan Tingkat kecukupan 58016.6 0.133 Tidak berbeda 0.391 0.222 Tidak berbeda 5.04 0.855 Tidak berbeda energi
Tabel 26 Skor komponen utama akses pangan rumahtangga di desa program dan desa nonprogram
Rumah tangga
skor akses pangan Program nonprogram 1 4.187241 1.627341 2 -0.60319 -0.27807 3 2.570174 -0.19145 4 0.037343 -0.90433 5 0.351236 -0.06473 6 0.331195 0.61894 7 -1.46208 0.305387 8 -1.77122 0.013313 9 -1.19139 -1.24942 10 0.404135 -0.41072 11 0.900701 -0.82242 12 -0.71883 -0.33314 13 0.607095 -0.50639 14 3.921039 -0.27057 15 2.178116 0.893183 16 0.063931 0.20951 17 -1.01741 -0.39815 18 -0.45833 0.353859 19 0.344719 -1.80779 20 1.418507 -2.06995 21 -1.36151 0.470006 22 -1.00697 -0.14137 23 -2.112 -0.65557
1 (Constant)
Tabel 27 Hasil regresi akses pangan dengan tingkat kecukupan energi
Unstandardized
Model Coefficients Standard eror Sig. B 74.143 2.306 .000 pca 5.104 1.745 .005 (Constant) 74.960 3.323 .000 2 pca 5.218 1.793 .006 D -1.634 4.740 .732
Tabel 28 Hasil analisis korelasi pearson akses pangan dengan TKE pada keseluruhan contoh
Komponen Sig. (2 tailed) r
Lama pendidikan suami 0.025 0.331*
Lama pendidikan istri 0.023 0.335*
Pengeluaran total per kapita 0.073 0.267 Komponen utama akses pangan 0.005 0.404**
*korelasi signifikan pada level 0.05 **korelasi signifikan pada level 0.01
ABSTRACT
DESY LEO ARIESTA. The Analyze of Food and Consumption Access of The
Households Beneficiary Program and non-Beneficiary Program of Community Development Program in Wilas and Sulangkit Village, Kotabaru Regency, Kalimantan Selatan. Under direction of YAYUK FARIDA BALIWATI.
The purpose of this study was to analyze the food and consumption acces of the households beneficiary and non-beneficiary of community development program in Desa Wilas and Desa Sulangkit, Kotabaru Regency, South Kalimantan. The study used cross sectional study design which include 46 households with purposive sampling. Desa Wilas is a program beneficiary and Desa Sulangkit is a non-beneficiary. The result showed that several programs that were done in Desa Wilas have been helping to increase food acces especially in social, physics, and economics. Social food acces component was dominated by the basic education periode (≤ 9 years) of husband and wife, as in the beneficiary village (81.8% and 91.3%) and in the non-beneficiary village (95.5% and 100%). All of the households (100%) in the beneficiary village have a high economy food acces while in the beneficiary households have a lower acces (91.3%). The whole food acces showed that the food access score increased if the education periode of husband and wife was longer and the economy acces was bigger. The average households food consumption is higher in beneficiary village (1280 kkal) than in non-beneficiary (1240 kkal). The households in beneficiary village (56.5%) had a higher good level (≥70%) of sufficiency energy than in the non-beneficiary village (47.8%). There were no differences of sufficient level of energy, the component, and the whole food acces between the two households (p>0.05). The periode of education of husband and wife and the whole food acces had possitive correlation (p<0.05) with sufficiency level of energy. Meanwhile there was no correlation between economy food acces and sufficiency level of energy (p>0.05).
RINGKASAN
DESY LEO ARIESTA. Analisis Akses dan Konsumsi Pangan Rumahtangga
Penerima dan Bukan Penerima Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Dibawah bimbingan YAYUK FARIDA BALIWATI
Desa wilas merupakan salah satu desa prioritas pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin. Laporan Dompet Dhuafa Republika (2010) sebagai mitra perusahaan menunjukkan bahwa potensi pertanian, perikanan, dan perkebunan di Desa Wilas sangat tinggi. Tingginya potensi tersebut belum tentu menjamin baiknya status gizi penduduk. Ariesta et al (2011) mencatat bahwa sebanyak 45% balita di Desa Wilas memiliki status gizi (BB/U) kurang. Menurut kategori WHO persentase tersebut termasuk permasalahan gizi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat perusahaan tersebut melalui konsep ketahanan pangan khususnya akses dan konsumsi pangan sebagai salah satu manifestasi status gizi yang baik.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akses dan konsumsi pangan rumahtangga penerima program yaitu Desa Wilas dan bukan penerima program yaitu Desa Sulangkit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Tujuan khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah 1) menganalisis program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin di desa penerima program pemberdayaan masyarakat, 2) menganalisis akses pangan pada rumahtangga dikedua desa, 3) menganalisis tingkat kecukupan energi pada rumahtangga dikedua desa, dan 4) menganalisis hubungan antara akses pangan dengan tingkat kecukupan energi (TKE) rumahtangga dikedua desa.
Penelitian ini menggunakan disain cross sectional study yang
dilaksanakan di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kecamatan Kelumpang Utara Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei-Juni 2012. Teknik penarikan contoh dilakukan secara purposif. Contoh yang dipilih untuk rumahtangga penerima program pemberdayaan masyarakat adalah rumahtangga di Desa Wilas yang mengikuti Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM) sebanyak 23 rumahtangga. Jumlah rumahtangga di Desa Sulangkit dipilih sampai mencapai 23 rumahtangga. Oleh karena itu, jumlah contoh yang dipilih sebanyak 46 rumahtangga.
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel, Minitab 16 Statistical Software, dan SPSS 16.0 for windows. Statistika deskriptif digunakan untuk menunjukkan jumlah dan persentase komponen akses pangan rumahtangga dan TKE rumahtangga. Selanjutnya data dianalisis dengan uji
independent t-test. Akses pangan rumahtangga dibentuk dari komponen yang sudah ada dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Selain itu, Analisis regresi dummy juga dilakukan untuk mengetahui perbedaan akses pangan dikedua desa kaitannya dengan TKE. Selanjutnya, dilakukan uji korelasi
pearson antara komponen akses pangan dengan TKE rumahtangga.
Komitmen perusahaan lebih khusus ditetapkan dalam kebijakan mengenai visi dan misi tanggung jawab sosial perusahaan. Dokumen ini tertuang dalam memorandum Nomor 290/AI/VIII/2008. Program yang menjadi prioritas pada tahap kedua (2010-2013) adalah program bidang ekonomi. Berdasarkan
analisis potensi dampak, beberapa program yang dijalankan di Desa Wilas membantu meningkatkan akses dan konsumsi pangan rumahtangga.
Rata-rata lama pendidikan formal suami di desa program adalah 5.87±4.47 tahun lebih lama dibandingkan dengan di desa nonprogram selama 4.87 ± 3.00 tahun. Tingkat pendidikan suami didominasi oleh kategori dasar baik di desa program (82.6%) maupun desa nonprogram (95,7%). Rata-rata lama pendidikan formal yang dilalui istri di desa program adalah 4.91±3.68 dan 4.35±3.05 tahun di desa nonprogram. Lama pendidikan istri juga didominasi oleh kategori dasar baik di desa program (91.35%) maupun desa nonprogram (100%).
Rata-rata pengeluaran total per kapita pada desa program adalah Rp.581.109 lebih tinggi dibanding desa nonprogram yaitu Rp.492.164. Sebanyak 100% rumahtangga didesa nonprogram tergolong memiliki akses ekonomi yang tinggi, sedangkan rumahtangga di desa program memiliki tersebar pada akses ekonomi rendah (4.3%), sedang (4.3%), dan tinggi (91.3%).
Persamaan Akses pangan (y) = 0.661*X1std + 0.567*X2std + 0.491*X3 std menunjukkan bahwa akses pangan akan bernilai tinggi jika pendidikan suami dan istri (akses sosial) lebih lama serta pengeluaran total per kapita (akses ekonomi) lebih besar. Persamaan tersebut juga menunjukkan bahwa koefisien X1std merupakan koefisien tertinggi, artinya pendidikan suami memilki peran yang sangat besar terhadap peningkatan akses pangan. Rata-rata nilai keseluruhan akses pangan lebih tinggi di desa program (1.262) dibandingkan dengan desa nonprogram (0.635). Hal ini menunjukkan bahwa rumahtangga di desa program cenderung memiliki suami dan istri yang berpendidikan lebih lama serta pengeluaran total per kapita per bulan yang lebih tinggi.
Jumlah rata-rata konsumsi energi di desa nonprogram lebih rendah (1242 kkal) dibandingkan dengan rumahtangga desa program (1280 kkal). Konsumsi energi didominasi oleh kelompok padi-padian. Rumahtanga dengan persentase TKE cukup (≥70%) lebih tinggi di desa program (56.5%) dibandingkan dengan desa nonprogram (47.8%). Kategori TKE kurang (<70%) lebih tinggi desa nonprogram (52.2%) dibandingkan dengan desa program (43.5%).
Rumahtangga di desa program dengan TKE kurang didominasi oleh suami yang berpendidikan dasar (88.9%) dan rumahtangga dengan TKE cukup juga memiliki suami yang berpendidikan dasar (76.9%). Rumahtangga desa nonprogram dengan TKE kurang seluruhnya (100%) memiliki suami yang berpendidikan dasar dan rumahtangga dengan TKE cukup didominasi juga oleh suami yang berpendidikan dasar (90.9%). Rumahtangga desa program yang tergolong TKE kurang seluruhnya (100%) memiliki istri berpendidikan dasar, dan rumahtangga dengan TKE cukup juga didominasi oleh pendidikan dasar istri (84.6%). Adapun di desa nonprogram seluruh (100%) rumahtangga dengan TKE kurang dan cukup memiliki istri yang berpendidikan dasar.
Rumahtangga desa program yang memiliki akses ekonomi tinggi dan tergolong TKE kurang sebesar 90%, sedangkan rumahtangga yang memiliki akses ekonomi tinggi dengan TKE cukup sebesar 92.3%. Adapun semua rumahtangga desa nonprogram yang tergolong akses ekonomi tinggi tersebar pada TKE kurang dan cukup.
Hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan (p>0.05) lama pendidikan suami, lama pendidikan istri, pengeluaran total per kapita per bulan, nilai akses pangan, dan tingkat kecukupan energi antara desa program dan desa nonprogram. Hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat kecukupan energi dengan lama pendidikan suami (p<0.05, r=0.331), lama pendidikan istri (p<0.05, r=0.335), dan keseluruhan akses pangan (p<0.05, r=0.404).
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketahanan pangan menjadi isu sejak adanya World Food Conference pada tahun 1974. Oloyule et al (2009) dan Hariyadi (2008) mempunyai pendapat yang sama bahwa ruang lingkup ketahanan pangan saat ini tidak hanya ketersediaan pangan, akan tetapi adanya stabilitas pangan, akses terhadap pangan, dan pemanfaatan pangan. Perkembangan definisi ketahanan pangan ini disebut Maxwell (1996) telah mencapai sekitar 200 definisi yang berbeda. Akan tetapi, Indonesia memiliki definisi sendiri yang tertuang dalam UU Pangan Nomor 7 Tahun 1996 bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumahtangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
Pencapaian ketahanan pangan ini merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional karena pangan merupakan kebutuhan dasar yang tidak bisa digantikan dengan bahan lain. Rahayu (2007) menyatakan bahwa dalam pemenuhan hak dasar rakyat, pemerintah bisa bekerjasama salah satunya adalah dengan pihak swasta. Hal ini dikarenakan pihak swasta yang menjalankan bisnis ditengah masyarakat saat ini dituntut untuk melaksanakan pertanggungjawaban sosialnya atau disebut sebagai community social responsibility (CSR) terhadap daerah sekitar perusahaan.
PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin adalah salah satu perusahaan yang menjalankan tanggung jawab sosialnya dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Millenium development goals (MDG’S) sebagai isu sentral saat ini dijadikan salah satu acuan oleh community department dalam melaksanakan programnya. Program pemberdayaan tersebut meliputi bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial budaya, dan infrastruktur. Cakupan program ini tersebar di empat kecamatan yaitu Kelumpang Utara, Kelumpang Tengah, Pamukan Selatan, dan Sampanahan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Namun, program pemberdayaan masyarakat diprioritaskan di desa-desa yang terkena dampak langsung aktifitas pertambangan atau disebut daerah ring satu.
Desa wilas merupakan salah satu desa prioritas pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat. Laporan Dompet Dhuafa Republika (2010) sebagai mitra perusahaan menunjukkan bahwa potensi pertanian, perikanan, dan perkebunan di Desa Wilas sangat tinggi. Tingginya potensi tersebut belum tentu menjamin baiknya status gizi penduduk. Ariesta et al (2011) mencatat bahwa
sebanyak 45% balita di Desa Wilas memiliki status gizi (BB/U) kurang. Menurut kategori WHO persentase tersebut termasuk permasalahan gizi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat perusahaan tersebut melalui konsep ketahanan pangan khususnya akses dan konsumsi pangan sebagai salah satu manifestasi status gizi yang baik.
Pengkajian ini juga membutuhkan desa pembanding yang memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan ekosistem yang hampir sama dengan Desa Wilas. Desa Sulangkit merupakan desa yang memiliki kondisi sosial ekonomi dan kondisi alam yang hampir sama dengan Desa Wilas. Letak desa ini berdampingan dengan Desa Wilas. Jarak kedua desa tersebut sekitar empat kilometer. Desa Sulangkit adalah desa yang tidak menerima program pemberdayaan dari pihak manapun. Oleh karena itu, Desa Sulangkit dijadikan desa pembanding dalam menganalisis akses dan konsumsi pangan.
Tujuan
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis akses dan konsumsi pangan rumahtangga penerima dan bukan penerima program pemberdayaan masyarakat di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis karakteristik program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin di desa penerima program pemberdayaan masyarakat.
2. Menganalisis akses pangan pada rumahtangga di desa penerima dan bukan penerima program pemberdayaan masyarakat.
3. Menganalisis tingkat kecukupan energi pada rumahtangga di desa penerima dan bukan penerima program pemberdayaan masyarakat.
4. Menganalisis hubungan antara akses pangan dengan tingkat kecukupan energi rumahtangga di desa penerima dan bukan penerima program pemberdayaan masyarakat.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengayaan ilmu pengetahuan dalam bidang pangan dan kesehatan bagi masyarakat desa lingkar tambang pada khususnya dan masyarakat lain pada umumnya. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan bahan penyempurnaan dan pengembangan program pemberdayaan masyarakat khususnya dalam pencapaian ketahanan pangan rumahtangga desa lingkar tambang.
TINJAUAN PUSTAKA
Akses Pangan
Pada awalnya, konsep ketahanan pangan akan terjadi ketika pangan telah tersedia sehingga negara-negara didunia fokus pada ketersediaan pangan nasional dan internasional, keberlanjutan, dan pengimbangan fluktuasi harga. Berbagai studi di Afrika menunjukkan hal yang berbeda yaitu meskipun pangan telah tersedia, namun kondisi kelaparan tetap saja terjadi (De Wall dalam Maxwell et al 1992). Selain itu, De Waal menemukan pada tahun 1984 di Darfur orang-orang memilih kelaparan agar bisa mempertahankan aset mereka dan mata pencaharian untuk masa depan. Pada akhirnya, Amartya Sen (1981) dalam Maxwell (1996) menginisiasi perpindahan paradigma konsep ketahanan pangan menjadi akses pangan sebagai titik fokus. Selanjutnya teori ini disebut sebagai hak atas pangan (food entitlement). World Bank (1986) dalam Maxwell (1996) mendefinisikan ketahanan pangan yaitu akses bagi semua orang setiap waktu untuk mencukupi pangan untuk hidup aktif dan sehat.
Maxwell (1996) menyatakan bahwa peneliti dan praktisi pembangunan saat ini menyadari bahwa akses yang stabil dan ketersediaan pangan merupakan dua kata kunci ketahanan pangan rumahtangga. Rumahtangga akan mempunyai akses pangan yang stabil jika mereka dapat terus hidup artinya untuk memperoleh pangan (yang dibeli/produksi sendiri) tanpa merusak lingkungan. Akses yang stabil juga dipengaruhi oleh mekanisme lokal, informasi sosial yang menyangga rumahtangga dari kejutan-kejutan periodik. Jadi, indikator ketahanan pangan rumahtangga harus dapat mengukur perubahan hak atas pangan (Downing 1990 dalam Maxwell et al 1992).
Hak atas pangan meliputi seberapa banyak rumahtangga yang bisa mengakses pangan dari hasil produksi sendiri, pendapatan, berburu, dukungan masyarakat, aset, dan migrasi. Beberapa variabel sosial ekonomi berpengaruh terhadap akses pangan rumahtangga ini (Maxwell 1996). Akses pangan rumahtangga yang stabil akan dijelaskan oleh pengertiannya dalam menyediakan makanan (produksi, membeli, pemberian) dan mekanisme sosial yang menyangga rumahtangga dari kejutan-kejutan periodik agar dapat terus hidup sehat dan aktif. Departemen Pertanian (2008) mendefinisikan akses pangan sebagai kemampuan rumahtangga secara periodik memenuhi sejumlah pangan yang cukup melalui kombinasi cadangan pangan mereka sendiri dan
hasil dari rumah atau pekarangan sendiri, pembelian, barter, pemberian, pinjaman, dan bantuan pangan.
Departemen Pertanian (2008) mengklasifikasikan akses pangan kedalam tiga aspek yaitu fisik, ekonomi, dan sosial. Akses fisik meliputi ketersediaan (produksi, konsumsi normatif) dan distribusi berupa infrastruktur pendukung perolehan pangan. Akses ekonomi meliputi pendapatan, kerja dan, usaha. Akses sosial berupa jumlah penduduk yang tidak tamat SD.
Akses Sosial
Departemen Pertanian (2008) mendefinisikan akses pangan sosial sebagai kemampuan rumahtangga dalam memperoleh pangan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk, bantuan sosial, budaya/kebiasaan makan, konflik sosial keamanan, dan lainnya. Tingkat pendidikan dijadikan sebagai indikator akses sosial dalam Departemen Pertanian (2008); Hildawati (2008); Agustiani (2012). Tingkat pendidikan di suatu wilayah pada umumnya akan mencerminkan keragaman mata pencaharian yang dijalani penduduk di wilayah tersebut (Sukandar dkk 2009). Hasil penelitian Sukandar dkk (2009) juga menyebutkan bahwa tingkat pendidikan suami peserta PNPM Mandiri adalah rendah.
Hasil penelitian Agustiani (2012) menyatakan bahwa meskipun tidak berbeda secara statistik, persentase keluarga yang memiliki akses pangan komponen tingkat pendidikan suami lebih tinggi pada kelompok penerima apabila dibandingkan dengan keluarga pada kelompok bukan penerima program desa mandiri pangan. Permatasari (2004) menemukan hal yang sama bahwa sebagian besar tingkat pendidikan kepala keluarga petani adalah rendah. Sunarti dkk (2009) juga menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa tingkat pendidikan formal istri dan suami yang bekerja sebagai penggarap dan buruh tani didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) atau tidak tamat SD.
Hasil penelitian Permatasari (2004) menyatakan bahwa tingkat pendidikan ibu rumahtangga petani di Banten sebagian besar (62.9%) adalah sekolah dasar, hanya sebesar 2% ibu rumahtangga yang sampai pada pendidikan lanjut. Rahayu (2007) juga menyatakan bahwa tingkat pendidikan ibu rumahtangga petani di daerah sekitar perusahaan RAPP tergolong rendah (70.6%). Hasil penelitian Agustiani (2012) juga menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan ibu rumah tangga di daerah pertanian didominasi oleh lulusan sekolah dasar.
Karsyono (2000) menyatakan bahwa tenaga kerja pertanian di wilayah pedesaan didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan SD atau tidak tamat sekolah. Hal tersebut diduga menjadi penyebab rendahnya akses pangan. Behrman & Wolfe (1984) menyatakan bahwa akses pangan rumahtangga bergantung kepada pengambil keputusan yang salah satu karakteristiknya adalah pendidikan formal.
Nurlatifah (2011) menjelaskan dalam hasil penelitiannya bahwa tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas dan output yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan. Peningkatan pendapatan selanjutnya akan menentukan akses untuk mendapatkan pangan. Cohen (1981) dalam Hardinsyah (2007) mengidentifikasi pola pengambilan keputusan pemilihan pangan dalam keluarga Indonesia adalah pola istri yang dominan. Behrman & Wolfe (1984) juga menyatakan bahwa akses pangan rumahtangga bergantung kepada pengambil keputusan yang salah satu karakteristiknya adalah pendidikan formal ibu atau istri.
Akses Fisik
Wilayah dikatakan akses pangannya tinggi apabila diwilayah/daerah tersebut terdapat pasar yang menjual bahan pangan pokok. Wilayah/daerah tersebut dikatakan memiliki akses pangan yang sedang apabila tidak memiliki pasar dalam wilayah/daerah tersebut, namun jarak terdekat wilayah/daerah tersebut dengan pasar pasar yang menjual bahan pangan pokok kurang dari dan atau sama dengan tiga kilometer. Adapun akses pangannya rendah apabila jarak terdekat dengan pasar lebih dari tiga kilometer (Departemen Pertanian 2008).
Contoh indikator akses fisik diantaranya persentase desa yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai dan persentase rumah tangga tanpa akses listrik (Departemen Pertanian 2008), kondisi jalan atau sarana penghubung (Nurlatifah 2011). Contoh lainnya adalah ketersediaan bahan pangan di warung, kondisi jalan ke pasar, dan ada/tidak adanya pasar (Hildawati 2008).
Nurlatifah (2011) menyimpulkan dari hasil penelitiannya yaitu keberadaan pasar memberikan kemudahan bagi rumahtangga untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi dan beragam. Hal ini sejalan dengan kesimpulan penelitian FAO (2010) dalam Nurlatifah (2011) bahwa pasar merupakan salah satu determinan pencapaian akses pangan yang selanjutnya akan meningkatkan ketahanan pangan.
Akses Ekonomi
Akses ekonomi dapat diukur dengan berbagai indikator yaitu sumberdaya keuangan atau pendapatan (Eicker & Breisinger 2012); pendapatan rumahtangga per kapita per bulan (Departemen Pertanian 2008); pengeluaran total per kapita per bulan (Hildawati 2008; Agustiani 2012). Moho dan Wagner (1981) dalam Hildawati (2008) menyatakan bahwa data pengeluaran dapat menggambarkan pola konsumsi keluarga dalam pengalokasian pendapatan yang biasanya relatif tetap. Pengeluaran pada keluarga yang berpendapatan rendah, biasanya akan lebih besar jumlahnya daripada pendapatan mereka. Oleh karena itu, data pengeluaran lebih mencerminkan pendapatan yang sebenarnya. Selain itu, Purwantini & Mewa (2008) menyatakan bahwa secara alamiah kuantitas pangan yang dibutuhkan seseorang akan mencapai titik jenuh sementara kebutuhan bukan pangan termasuk kualitas pangan yang tidak dibatasi dengan cara yang sama. Oleh karena itu, besar pendapatan yang dibelanjakan untuk pangan bisa dijadikan petunjuk kesejahteraan.
Sejalan dengan hal tersebut, Salvatore (2006) dalam Novita & Fardianah (2011) menuliskan sebuah hukum yang dikenal sebagai Hukum Engel bahwa bila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk pangan akan menurun dengan meningkatnya pendapatan. Semakin rendah persentase pengeluaran untuk pangan terhadap total pengeluaran semakin membaik tingkat perekonomian penduduk. Sebaliknya, semakin besar pangsa pengeluaran pangan semakin kurang sejahtera rumahtangga yang bersangkutan.
Suhardjo (1989) menyatakan bahwa pengeluaran pangan rumahtangga