ANALISIS
AKSES
DAN
KONSUMSI
PANGAN
RUMAHTANGGA
PENERIMA
DAN
BUKAN
PENERIMA
PROGRAM
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
DI
DESA
WILAS
DAN
DESA
SULANGKIT,
KABUPATEN
KOTABARU,
KALIMANTAN
SELATAN
DESY LEO ARIESTA
DEPARTEMEN
GIZI
MASYARAKAT
FAKULTAS
EKOLOGI
MANUSIA
INSTITUT
PERTANIAN
BOGOR
ABSTRACT
DESY LEO ARIESTA. The Analyze of Food and Consumption Access of The
Households Beneficiary Program and non-Beneficiary Program of Community Development Program in Wilas and Sulangkit Village, Kotabaru Regency, Kalimantan Selatan. Under direction of YAYUK FARIDA BALIWATI.
The purpose of this study was to analyze the food and consumption acces of the households beneficiary and non-beneficiary of community development program in Desa Wilas and Desa Sulangkit, Kotabaru Regency, South Kalimantan. The study used cross sectional study design which include 46 households with purposive sampling. Desa Wilas is a program beneficiary and Desa Sulangkit is a non-beneficiary. The result showed that several programs that were done in Desa Wilas have been helping to increase food acces especially in social, physics, and economics. Social food acces component was dominated by the basic education periode (≤ 9 years) of husband and wife, as in the beneficiary village (81.8% and 91.3%) and in the non-beneficiary village (95.5% and 100%). All of the households (100%) in the beneficiary village have a high economy food acces while in the beneficiary households have a lower acces (91.3%). The whole food acces showed that the food access score increased if the education periode of husband and wife was longer and the economy acces was bigger. The average households food consumption is higher in beneficiary village (1280 kkal) than in non-beneficiary (1240 kkal). The households in beneficiary village (56.5%) had a higher good level (≥70%) of sufficiency energy than in the non-beneficiary village (47.8%). There were no differences of sufficient level of energy, the component, and the whole food acces between the two households (p>0.05). The periode of education of husband and wife and the whole food acces had possitive correlation (p<0.05) with sufficiency level of energy. Meanwhile there was no correlation between economy food acces and sufficiency level of energy (p>0.05).
RINGKASAN
DESY LEO ARIESTA. Analisis Akses dan Konsumsi Pangan Rumahtangga
Penerima dan Bukan Penerima Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Dibawah bimbingan YAYUK FARIDA BALIWATI
Desa wilas merupakan salah satu desa prioritas pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin. Laporan Dompet Dhuafa Republika (2010) sebagai mitra perusahaan menunjukkan bahwa potensi pertanian, perikanan, dan perkebunan di Desa Wilas sangat tinggi. Tingginya potensi tersebut belum tentu menjamin baiknya status gizi penduduk. Ariesta et al (2011) mencatat bahwa sebanyak 45% balita di Desa Wilas memiliki status gizi (BB/U) kurang. Menurut kategori WHO persentase tersebut termasuk permasalahan gizi yang sangat tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat perusahaan tersebut melalui konsep ketahanan pangan khususnya akses dan konsumsi pangan sebagai salah satu manifestasi status gizi yang baik.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis akses dan konsumsi pangan rumahtangga penerima program yaitu Desa Wilas dan bukan penerima program yaitu Desa Sulangkit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Tujuan khusus yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah 1) menganalisis program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin di desa penerima program pemberdayaan masyarakat, 2) menganalisis akses pangan pada rumahtangga dikedua desa, 3) menganalisis tingkat kecukupan energi pada rumahtangga dikedua desa, dan 4) menganalisis hubungan antara akses pangan dengan tingkat kecukupan energi (TKE) rumahtangga dikedua desa.
Penelitian ini menggunakan disain cross sectional study yang
dilaksanakan di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kecamatan Kelumpang Utara Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei-Juni 2012. Teknik penarikan contoh dilakukan secara purposif. Contoh yang dipilih untuk rumahtangga penerima program pemberdayaan masyarakat adalah rumahtangga di Desa Wilas yang mengikuti Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM) sebanyak 23 rumahtangga. Jumlah rumahtangga di Desa Sulangkit dipilih sampai mencapai 23 rumahtangga. Oleh karena itu, jumlah contoh yang dipilih sebanyak 46 rumahtangga.
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Microsoft Excel, Minitab 16 Statistical Software, dan SPSS 16.0 for windows. Statistika deskriptif digunakan untuk menunjukkan jumlah dan persentase komponen akses pangan rumahtangga dan TKE rumahtangga. Selanjutnya data dianalisis dengan uji
independent t-test. Akses pangan rumahtangga dibentuk dari komponen yang sudah ada dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Selain itu, Analisis regresi dummy juga dilakukan untuk mengetahui perbedaan akses pangan dikedua desa kaitannya dengan TKE. Selanjutnya, dilakukan uji korelasi
pearson antara komponen akses pangan dengan TKE rumahtangga.
analisis potensi dampak, beberapa program yang dijalankan di Desa Wilas membantu meningkatkan akses dan konsumsi pangan rumahtangga.
Rata-rata lama pendidikan formal suami di desa program adalah 5.87±4.47 tahun lebih lama dibandingkan dengan di desa nonprogram selama 4.87 ± 3.00 tahun. Tingkat pendidikan suami didominasi oleh kategori dasar baik di desa program (82.6%) maupun desa nonprogram (95,7%). Rata-rata lama pendidikan formal yang dilalui istri di desa program adalah 4.91±3.68 dan 4.35±3.05 tahun di desa nonprogram. Lama pendidikan istri juga didominasi oleh kategori dasar baik di desa program (91.35%) maupun desa nonprogram (100%).
Rata-rata pengeluaran total per kapita pada desa program adalah Rp.581.109 lebih tinggi dibanding desa nonprogram yaitu Rp.492.164. Sebanyak 100% rumahtangga didesa nonprogram tergolong memiliki akses ekonomi yang tinggi, sedangkan rumahtangga di desa program memiliki tersebar pada akses ekonomi rendah (4.3%), sedang (4.3%), dan tinggi (91.3%).
Persamaan Akses pangan (y) = 0.661*X1std + 0.567*X2std + 0.491*X3 std menunjukkan bahwa akses pangan akan bernilai tinggi jika pendidikan suami dan istri (akses sosial) lebih lama serta pengeluaran total per kapita (akses ekonomi) lebih besar. Persamaan tersebut juga menunjukkan bahwa koefisien X1std merupakan koefisien tertinggi, artinya pendidikan suami memilki peran yang sangat besar terhadap peningkatan akses pangan. Rata-rata nilai keseluruhan akses pangan lebih tinggi di desa program (1.262) dibandingkan dengan desa nonprogram (0.635). Hal ini menunjukkan bahwa rumahtangga di desa program cenderung memiliki suami dan istri yang berpendidikan lebih lama serta pengeluaran total per kapita per bulan yang lebih tinggi.
Jumlah rata-rata konsumsi energi di desa nonprogram lebih rendah (1242 kkal) dibandingkan dengan rumahtangga desa program (1280 kkal). Konsumsi energi didominasi oleh kelompok padi-padian. Rumahtanga dengan persentase TKE cukup (≥70%) lebih tinggi di desa program (56.5%) dibandingkan dengan desa nonprogram (47.8%). Kategori TKE kurang (<70%) lebih tinggi desa nonprogram (52.2%) dibandingkan dengan desa program (43.5%).
Rumahtangga di desa program dengan TKE kurang didominasi oleh suami yang berpendidikan dasar (88.9%) dan rumahtangga dengan TKE cukup juga memiliki suami yang berpendidikan dasar (76.9%). Rumahtangga desa nonprogram dengan TKE kurang seluruhnya (100%) memiliki suami yang berpendidikan dasar dan rumahtangga dengan TKE cukup didominasi juga oleh suami yang berpendidikan dasar (90.9%). Rumahtangga desa program yang tergolong TKE kurang seluruhnya (100%) memiliki istri berpendidikan dasar, dan rumahtangga dengan TKE cukup juga didominasi oleh pendidikan dasar istri (84.6%). Adapun di desa nonprogram seluruh (100%) rumahtangga dengan TKE kurang dan cukup memiliki istri yang berpendidikan dasar.
Rumahtangga desa program yang memiliki akses ekonomi tinggi dan tergolong TKE kurang sebesar 90%, sedangkan rumahtangga yang memiliki akses ekonomi tinggi dengan TKE cukup sebesar 92.3%. Adapun semua rumahtangga desa nonprogram yang tergolong akses ekonomi tinggi tersebar pada TKE kurang dan cukup.
ANALISIS
AKSES
DAN
KONSUMSI
PANGAN
RUMAHTANGGA
PENERIMA
DAN
BUKAN
PENERIMA
PROGRAM
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
DI
DESA
WILAS
DAN
DESA
SULANGKIT,
KABUPATEN
KOTABARU,
KALIMANTAN
SELATAN
DESY LEO ARIESTA
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Gizi pada Mayor Ilmu Gizi
Departemen Gizi Masyarakat
DEPARTEMEN
GIZI
MASYARAKAT
FAKULTAS
EKOLOGI
MANUSIA
INSTITUT
PERTANIAN
BOGOR
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Akses dan Konsumsi Pangan Rumahtangga Penerima dan Bukan Penerima Program
Pemberdayaan Masyarakat di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kabupaten
Kotabaru, Kalimantan Selatan adalah benar karya saya dengan arahan dari
dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan
tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Desember 2012
Desy Leo Ariesta
Judul : Analisis Akses dan Konsumsi Pangan Rumahtangga Penerima dan Bukan Penerima Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kabupaten Kotabaru,
Kalimantan Selatan Nama : Desy Leo Ariesta NIM : I14080011
Menyetujui:
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS
NIP. 19630312 198703 2 001
Mengetahui:
Ketua
Departemen Gizi Masyarakat
Dr. Ir. Budi Setiawan, MS
NIP. 19621218 198703 1 001
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-
Nya dalam proses penyusunan skripsi penelitian yang berjudul “Analisis Akses
Pangan dan Tingkat Kecukupan Energi Rumahtangga Penerima dan Bukan
Penerima Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa Wilas dan Desa
Sulangkit, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan”. Skripsi penelitian ini
merupakan prasyarat untuk memperoleh gelar Sarjana Gizi Institut Pertanian Bogor.
Skripsi penelitian ini merupakan gambaran detail mengenai latar
belakang, tujuan, manfaat, metode yang digunakan dalam penelitian, dan hasil
analisis karakteristik pemberdayaan masyarakat yang dilakukan PT Arutmin
Indonesia Tambang Senakin, Kalimantan Selatan. Dua desa dipilih untuk
membandingkan akses pangan dan tingkat kecukupan energi rumahtangga.
Selain itu, data dianalisis menggunakan statistika deskriptif dan satistika analitik
sehingga harapan akhirnya bisa dijadikan bahan penyempurnaan bagi program
pemberdayaan masyarakat kedepannya.
Bogor, Desember 2012
UCAPAN
TERIMA
KASIH
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-
Nya kepada peneliti dalam penyelesaian skripsi ini. Proses penyelesaian skripsi
ini juga tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah membantu. Oleh karena itu,
penghargaan dan ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada:
1. Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberikan arahan, motivasi, konsep berpikir mengenai topik
penelitian dan rangsangan untuk berbuat lebih baik.
2. Prof. Dr. Ir. Dadang Sukandar, M.Sc sebagai pemandu seminar dan penguji
skripsi yang telah banyak membantu dalam proses pengolahan dan analisis data.
3. Dr. Rimbawan sebagai dosen pembimbing akademik yang telah membantu
mengarahkan dan memberi motivasi selama masa perkuliahan.
4. PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin, terutama Community Department
(Mas Tomi, Pak Syamsir, Pak Daus, Pak Rusdi, Mas Arif, OJT), yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas selama proses pengambilan data mulai dari keberangkatan hingga perjalanan pulang ke Bogor, serta
“halabiuan” di pagi hari.
5. Mamah, uwa, kakak-kakak tercinta Teteh, A Dindin, A Nted, Teh Elis, Teh
Aam, serta semua keponakan Neng, Bibil, Iki, Ninda yang telah memberikan
penyegaran dan semangat selama proses penyelesaian skripsi ini.
6. Babulers dan semua anggota LAWALATA IPB atas kepercayaan dan
kekuatan persaudaraan.
7. Mirza Indra, sebagai guru semangat dan ikhlas.
8. Mufti Fathul Barri, yang telah sabar memberikan pengertian dan menjadi
teman diskusi sehingga skripsi ini bisa peneliti mengerti dengan baik.
9. Abah Rimah, Mamah Rimah, dan Rahimah, yang telah banyak sekali
membantu dalam pengambilan data, memberikan ilmu baru tentang budaya
Suku Banjar dan halabiuannya.
10. Kepala Desa Wilas sekeluarga, Nurul sekeluarga, dan seluruh masyarakat
Desa Wilas yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terima kasih atas
bantuan, ridho, cerita,dan penerimaan di daerah Suku Banjar.
11. Syifa sekeluarga dan Pak Imin sekeluarga di Desa Sulangkit yang telah
12. Kepala Desa Sulangkit dan seluruh masyarakat Desa Sulangkit baik yang menjadi responden atau tidak yang telah mengizinkan peneliti untuk
berkunjung ke desa.
13. Diny Anggris Febriana, Ade Yuliany Pratiwi, Dewi Ayu Wulandari, Ayu Sekarwulan Oktarina Yustika, dan Yasmin Ramadhini yang telah
memberikan warna kehidupan selama kuliah.
14. Asep Subarna, Nur Indah Fitria Ibrahim, Yulmiaris, Suci Latifah, dan teman-
teman se-bimbingan skripsi
15. Seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT membalas kebaikan dan memberikan kemuliaan bagi
semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini. Amin.
Bogor, Desember 2012
RIWAYAT
HIDUP
Penulis merupakan anak terakhir dari lima bersaudara, puteri pasangan
Dede Yuningsih dan Ahmad Apandi. Penulis lahir di Garut tanggal 22 Desember 1990. Pendidikan awal penulis diawali di SD Negeri Leles VI kemudian
dilanjutkan ke SMP Negeri 1 LELES, Kabupaten Garut. Selanjutnya, penulis
mengenyam pendidikan lanjutan di SMA AL-MA’SOEM, Jatinangor, Kabupaten
Sumedang. Penulis diterima sebagai mahasiswi mayor Ilmu Gizi melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008.
Selama menjadi mahasiswi, penulis aktif dalam unit kegiatan mahasiswa
(UKM) LAWALATA-IPB. Beberapa kegiatan yang pernah diikuti adalah Forum
Indonesia Muda (FIM) Rescue tahun 2010 dan Youth For Climate Change
(YFCC) tahun 2011. Pelatihan yang pernah diikuti penulis adalah Sertifikasi
kesehatan dan keselamatan kerja (K3) - teknisi akses tali, pendidik lingkungan
hidup, dan high rope access. Penulis juga memiliki pengalaman bekerja di Jejak
Alam Outdoor Services, Fema Adventure Park, dan LATIN.
Beberapa prestasi yang pernah diraih penulis adalah sebagai penulis
buku “Apotek Alam Bumi Dayak Kanayatn”, Poster Presentator dalam kegiatan
INAFOR, peserta PKM-AI DIKTI, dan penerima beasiswa pemerintah Provinsi
Jawa Barat satu siklus. Beberapa kegiatan yang pernah dilakukan penulis adalah
Ekspedisi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Ekspedisi Puteri Leuser,
Studi Etnofitomedika Suku Dayak Kanayatn, Pendakian beberapa gunung di
Pulau Jawa, dan aktif sebagai bendahara LAWALATA IPB selama dua periode kepengurusan.
Pengalaman lapangan yang pernah penulis ikuti adalah uji efikasi keju
nabati rendah lemak pada penderita hiperkolesterolemia, pelatihan pangan lokal
beragam, bergizi, berimbang, aman, dan halal (3B-AH), internship dietetik di
rumah sakit, kuliah kerja profesi gizi masyarakat, kajian sosial budaya pangan
pada suku dayak hindu budah bumi segandhu, dan pendidikan lingkungan hidup
DAFTAR
ISI
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN... xvi
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan... 2
Manfaat Penelitian... 3
TINJAUAN PUSTAKA... 4
Akses Pangan ... 4
Akses Sosial... 5
Akses Fisik ... 6
Akses Ekonomi ... 7
Konsumsi Pangan Rumahtangga ... 8
Tingkat Kecukupan Energi... 8
Metode Food Recall... 10
Pemberdayaan Masyarakat dan Community Sosial Responsibility (CSR)...11
KERANGKA PEMIKIRAN ... 14
METODE ... 16
Disain, Waktu, dan Lokasi Penelitian... 16
Teknik Penarikan Contoh ... 16
Jenis dan Cara Pengambilan Data ... 17
Pengolahan dan Analisis Data ... 18
Definisi Operasional ... 22
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24
Keadaan Umum Wilayah... 24
Gambaran Umum Desa Wilas ... 24
Gambaran Umum Desa Sulangkit... 24
Pekerjaan ... 25
Karakteristik Program Pemberdayaan Masyarakat ... 26
Kebijakan ... 26
Sumber Daya Manusia (SDM)... 27
Program... 31
Potensi Dampak Program Pemberdayaan Masyarakat terhadap Upaya Peningkatan Akses Pangan di Desa Wilas ... 33
Akses Pangan Rumahtangga ... 41
Akses Sosial... 41
Akses Ekonomi ... 44
Keseluruhan Akses Pangan ... 50
Konsumsi Pangan Rumahtangga ... 53
Hubungan Akses Pangan Rumahtangga Dengan Tingkat Kecukupan Energi ... 56
Akses Sosial... 56
Akses Ekonomi ... 58
Keseluruhan Akses Pangan ... 59
KESIMPULAN DAN SARAN ... 62
Kesimpulan ... 62
Saran... 62
DAFTAR PUSTAKA ... 64
DAFTAR
TABEL
1 Perbandingan evaluasi konvensional dengan evaluasi partisipatif ... .... 12
2 Jenis dan cara pengambilan data ... .... 17
3 Pengkategorian indikator variabel penelitian ... .... 22
4 Sebaran rumahtangga berdasarkan pekerjaan suami dan istri ... .... 25
5 Kebijakan visi dan misi tanggung jawab sosial perusahaan ... .... 26
6 Strategi prioritas tahunan Community Department tambang senakin ... .... 30
7 Lokasi desa penerima program pemberdayaan masyarakat ... .... 31
8 Program, sasaran, dan potensi dampak program yang dilaksanakan di Desa Wilas tahun 2011 ... .... 34
9 Statistik lama pendidikan suami di desa program dan nonprogram ... .... 41
10 Sebaran rumahtangga berdasarkan lama pendidikan suami ... .... 42
11 Statistik lama pendidikan istri di desa program dan nonprogram ... .... 43
12 Sebaran rumahtangga berdasarkan lama pendidikan istri ... .... 43
13 Sebaran rumahtangga berdasarkan jumlah anggota rumahtangga ... .... 45
14 Perbandingan pengeluaran total per kapita per bulan berdasarkan kelompok pengeluaran ... .... 46
15 Statistik pengeluaran total per kapita rumahtangga dalam satu bulan ... .... 49
16 Sebaran rumahtangga berdasarkan akses ekonomi pendekatan pengeluaran total per kapita per bulan ... .... 49
17 Hasil analisis PCA untuk akses pangan ... .... 51
18 Statistik skor akses pangan rumahtangga ... 52
19 Perbandingan konsumsi energi aktual contoh dengan konsumsi energi yang dianjurkan berdasarkan kelompok pangan per kapita per hari ... .... 53
20 Perbandingan rata-rata konsumsi, angka kecukupan gizi, dan tingkat kecukupan gizi rumahtangga desa program dan nonprogram ... .... 54
21 Sebaran rumahtangga berdasarkan tingkat kecukupan energi ... .... 55
22 Sebaran rumahtangga berdasarkan lama pendidikan suami dan tingkat kecukupan energi ... .... 56
23 Sebaran rumahtangga berdasarkan pendidikan istri dan tingkat kecukupan energi ... .... 57
24 Sebaran rumahtangga berdasarkan akses ekonomi dan tingkat kecukupan energi ... .... 58
26 Skor komponen utama akses pangan rumahtangga di desa program dan desa
nonprogram ... .... 75
27 Hasil regresi akses pangan dengan tingkat kecukupan energi ... .... 76
28 Hasil analisis korelasi pearson dengan akses pangan pada keseluruhan
DAFTAR
GAMBAR
1 Kerangka pemikiran akses dan konsumsi pangan rumahtangga penerima dan
bukan penerima program pemberdayaan masyarakat ... 15
2 Struktur organisasi Community Department Tambang Senakin ... 28
3 Komponen program pendidikan ... 35
4 Komponen program kesehatan ... 36
5 Tahapan program pemberdayaan ekonomi masyarakat ... 36
6 Komponen program ekonomi ... . 39
DAFTAR
LAMPIRAN
1 Contoh kuisioner penelitian ... 69
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketahanan pangan menjadi isu sejak adanya World Food Conference
pada tahun 1974. Oloyule et al (2009) dan Hariyadi (2008) mempunyai pendapat yang sama bahwa ruang lingkup ketahanan pangan saat ini tidak hanya
ketersediaan pangan, akan tetapi adanya stabilitas pangan, akses terhadap
pangan, dan pemanfaatan pangan. Perkembangan definisi ketahanan pangan ini
disebut Maxwell (1996) telah mencapai sekitar 200 definisi yang berbeda. Akan
tetapi, Indonesia memiliki definisi sendiri yang tertuang dalam UU Pangan Nomor
7 Tahun 1996 bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan
bagi rumahtangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik
jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.
Pencapaian ketahanan pangan ini merupakan salah satu prioritas
pembangunan nasional karena pangan merupakan kebutuhan dasar yang tidak
bisa digantikan dengan bahan lain. Rahayu (2007) menyatakan bahwa dalam
pemenuhan hak dasar rakyat, pemerintah bisa bekerjasama salah satunya adalah dengan pihak swasta. Hal ini dikarenakan pihak swasta yang
menjalankan bisnis ditengah masyarakat saat ini dituntut untuk melaksanakan pertanggungjawaban sosialnya atau disebut sebagai community social
responsibility (CSR) terhadap daerah sekitar perusahaan.
PT Arutmin Indonesia Tambang Senakin adalah salah satu perusahaan
yang menjalankan tanggung jawab sosialnya dengan konsep pemberdayaan
masyarakat. Millenium development goals (MDG’S) sebagai isu sentral saat ini
dijadikan salah satu acuan oleh community department dalam melaksanakan programnya. Program pemberdayaan tersebut meliputi bidang ekonomi,
kesehatan, pendidikan, sosial budaya, dan infrastruktur. Cakupan program ini
tersebar di empat kecamatan yaitu Kelumpang Utara, Kelumpang Tengah,
Pamukan Selatan, dan Sampanahan, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Namun, program pemberdayaan masyarakat diprioritaskan di desa-desa yang
terkena dampak langsung aktifitas pertambangan atau disebut daerah ring satu.
Desa wilas merupakan salah satu desa prioritas pelaksanaan program
pemberdayaan masyarakat. Laporan Dompet Dhuafa Republika (2010) sebagai mitra perusahaan menunjukkan bahwa potensi pertanian, perikanan, dan
perkebunan di Desa Wilas sangat tinggi. Tingginya potensi tersebut belum tentu
sebanyak 45% balita di Desa Wilas memiliki status gizi (BB/U) kurang. Menurut
kategori WHO persentase tersebut termasuk permasalahan gizi yang sangat
tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat perusahaan tersebut melalui konsep ketahanan
pangan khususnya akses dan konsumsi pangan sebagai salah satu manifestasi
status gizi yang baik.
Pengkajian ini juga membutuhkan desa pembanding yang memiliki
karakteristik sosial, ekonomi, dan ekosistem yang hampir sama dengan Desa
Wilas. Desa Sulangkit merupakan desa yang memiliki kondisi sosial ekonomi dan kondisi alam yang hampir sama dengan Desa Wilas. Letak desa ini
berdampingan dengan Desa Wilas. Jarak kedua desa tersebut sekitar empat kilometer. Desa Sulangkit adalah desa yang tidak menerima program
pemberdayaan dari pihak manapun. Oleh karena itu, Desa Sulangkit dijadikan
desa pembanding dalam menganalisis akses dan konsumsi pangan.
Tujuan
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk menganalisis akses dan konsumsi pangan rumahtangga penerima dan bukan penerima program
pemberdayaan masyarakat di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kabupaten
Kotabaru, Kalimantan Selatan. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis karakteristik program pemberdayaan masyarakat PT Arutmin
Indonesia Tambang Senakin di desa penerima program pemberdayaan masyarakat.
2. Menganalisis akses pangan pada rumahtangga di desa penerima dan bukan
penerima program pemberdayaan masyarakat.
3. Menganalisis tingkat kecukupan energi pada rumahtangga di desa penerima
dan bukan penerima program pemberdayaan masyarakat.
4. Menganalisis hubungan antara akses pangan dengan tingkat kecukupan energi rumahtangga di desa penerima dan bukan penerima program
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pengayaan ilmu
pengetahuan dalam bidang pangan dan kesehatan bagi masyarakat desa lingkar
tambang pada khususnya dan masyarakat lain pada umumnya. Hasil penelitian
ini juga dapat dijadikan bahan penyempurnaan dan pengembangan program
pemberdayaan masyarakat khususnya dalam pencapaian ketahanan pangan
TINJAUAN
PUSTAKA
Akses Pangan
Pada awalnya, konsep ketahanan pangan akan terjadi ketika pangan
telah tersedia sehingga negara-negara didunia fokus pada ketersediaan pangan
nasional dan internasional, keberlanjutan, dan pengimbangan fluktuasi harga.
Berbagai studi di Afrika menunjukkan hal yang berbeda yaitu meskipun pangan
telah tersedia, namun kondisi kelaparan tetap saja terjadi (De Wall dalam
Maxwell et al 1992). Selain itu, De Waal menemukan pada tahun 1984 di Darfur
orang-orang memilih kelaparan agar bisa mempertahankan aset mereka dan
mata pencaharian untuk masa depan. Pada akhirnya, Amartya Sen (1981) dalam
Maxwell (1996) menginisiasi perpindahan paradigma konsep ketahanan pangan
menjadi akses pangan sebagai titik fokus. Selanjutnya teori ini disebut sebagai
hak atas pangan (food entitlement). World Bank (1986) dalam Maxwell (1996)
mendefinisikan ketahanan pangan yaitu akses bagi semua orang setiap waktu
untuk mencukupi pangan untuk hidup aktif dan sehat.
Maxwell (1996) menyatakan bahwa peneliti dan praktisi pembangunan saat ini menyadari bahwa akses yang stabil dan ketersediaan pangan
merupakan dua kata kunci ketahanan pangan rumahtangga. Rumahtangga akan
mempunyai akses pangan yang stabil jika mereka dapat terus hidup artinya untuk memperoleh pangan (yang dibeli/produksi sendiri) tanpa merusak
lingkungan. Akses yang stabil juga dipengaruhi oleh mekanisme lokal, informasi sosial yang menyangga rumahtangga dari kejutan-kejutan periodik. Jadi,
indikator ketahanan pangan rumahtangga harus dapat mengukur perubahan hak
atas pangan (Downing 1990 dalam Maxwell et al 1992).
Hak atas pangan meliputi seberapa banyak rumahtangga yang bisa
mengakses pangan dari hasil produksi sendiri, pendapatan, berburu, dukungan
masyarakat, aset, dan migrasi. Beberapa variabel sosial ekonomi berpengaruh terhadap akses pangan rumahtangga ini (Maxwell 1996). Akses pangan rumahtangga yang stabil akan dijelaskan oleh pengertiannya dalam
menyediakan makanan (produksi, membeli, pemberian) dan mekanisme sosial
yang menyangga rumahtangga dari kejutan-kejutan periodik agar dapat terus
hidup sehat dan aktif. Departemen Pertanian (2008) mendefinisikan akses
pangan sebagai kemampuan rumahtangga secara periodik memenuhi sejumlah
hasil dari rumah atau pekarangan sendiri, pembelian, barter, pemberian, pinjaman, dan bantuan pangan.
Departemen Pertanian (2008) mengklasifikasikan akses pangan kedalam
tiga aspek yaitu fisik, ekonomi, dan sosial. Akses fisik meliputi ketersediaan
(produksi, konsumsi normatif) dan distribusi berupa infrastruktur pendukung
perolehan pangan. Akses ekonomi meliputi pendapatan, kerja dan, usaha. Akses
sosial berupa jumlah penduduk yang tidak tamat SD.
Akses Sosial
Departemen Pertanian (2008) mendefinisikan akses pangan sosial
sebagai kemampuan rumahtangga dalam memperoleh pangan yang dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan penduduk, bantuan sosial, budaya/kebiasaan makan,
konflik sosial keamanan, dan lainnya. Tingkat pendidikan dijadikan sebagai
indikator akses sosial dalam Departemen Pertanian (2008); Hildawati (2008);
Agustiani (2012). Tingkat pendidikan di suatu wilayah pada umumnya akan
mencerminkan keragaman mata pencaharian yang dijalani penduduk di wilayah tersebut (Sukandar dkk 2009). Hasil penelitian Sukandar dkk (2009) juga
menyebutkan bahwa tingkat pendidikan suami peserta PNPM Mandiri adalah rendah.
Hasil penelitian Agustiani (2012) menyatakan bahwa meskipun tidak
berbeda secara statistik, persentase keluarga yang memiliki akses pangan
komponen tingkat pendidikan suami lebih tinggi pada kelompok penerima apabila
dibandingkan dengan keluarga pada kelompok bukan penerima program desa mandiri pangan. Permatasari (2004) menemukan hal yang sama bahwa
sebagian besar tingkat pendidikan kepala keluarga petani adalah rendah. Sunarti
dkk (2009) juga menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa tingkat pendidikan formal istri dan suami yang bekerja sebagai penggarap dan buruh tani
didominasi oleh lulusan Sekolah Dasar (SD) atau tidak tamat SD.
Hasil penelitian Permatasari (2004) menyatakan bahwa tingkat
pendidikan ibu rumahtangga petani di Banten sebagian besar (62.9%) adalah sekolah dasar, hanya sebesar 2% ibu rumahtangga yang sampai pada
pendidikan lanjut. Rahayu (2007) juga menyatakan bahwa tingkat pendidikan ibu
rumahtangga petani di daerah sekitar perusahaan RAPP tergolong rendah
(70.6%). Hasil penelitian Agustiani (2012) juga menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan ibu rumah tangga di daerah pertanian didominasi oleh lulusan
Karsyono (2000) menyatakan bahwa tenaga kerja pertanian di wilayah
pedesaan didominasi oleh tenaga kerja dengan tingkat pendidikan SD atau tidak
tamat sekolah. Hal tersebut diduga menjadi penyebab rendahnya akses pangan. Behrman & Wolfe (1984) menyatakan bahwa akses pangan rumahtangga bergantung kepada pengambil keputusan yang salah satu karakteristiknya
adalah pendidikan formal.
Nurlatifah (2011) menjelaskan dalam hasil penelitiannya bahwa tingkat
pendidikan akan berpengaruh terhadap produktivitas dan output yang pada
akhirnya akan meningkatkan pendapatan. Peningkatan pendapatan selanjutnya
akan menentukan akses untuk mendapatkan pangan. Cohen (1981) dalam Hardinsyah (2007) mengidentifikasi pola pengambilan keputusan pemilihan
pangan dalam keluarga Indonesia adalah pola istri yang dominan. Behrman &
Wolfe (1984) juga menyatakan bahwa akses pangan rumahtangga bergantung
kepada pengambil keputusan yang salah satu karakteristiknya adalah pendidikan
formal ibu atau istri.
Akses Fisik
Wilayah dikatakan akses pangannya tinggi apabila diwilayah/daerah
tersebut terdapat pasar yang menjual bahan pangan pokok. Wilayah/daerah
tersebut dikatakan memiliki akses pangan yang sedang apabila tidak memiliki
pasar dalam wilayah/daerah tersebut, namun jarak terdekat wilayah/daerah
tersebut dengan pasar pasar yang menjual bahan pangan pokok kurang dari dan
atau sama dengan tiga kilometer. Adapun akses pangannya rendah apabila jarak
terdekat dengan pasar lebih dari tiga kilometer (Departemen Pertanian 2008).
Contoh indikator akses fisik diantaranya persentase desa yang tidak
memiliki akses penghubung yang memadai dan persentase rumah tangga tanpa
akses listrik (Departemen Pertanian 2008), kondisi jalan atau sarana penghubung (Nurlatifah 2011). Contoh lainnya adalah ketersediaan bahan
pangan di warung, kondisi jalan ke pasar, dan ada/tidak adanya pasar (Hildawati 2008).
Nurlatifah (2011) menyimpulkan dari hasil penelitiannya yaitu keberadaan
pasar memberikan kemudahan bagi rumahtangga untuk memenuhi kebutuhan
pangan yang bergizi dan beragam. Hal ini sejalan dengan kesimpulan penelitian FAO (2010) dalam Nurlatifah (2011) bahwa pasar merupakan salah satu
determinan pencapaian akses pangan yang selanjutnya akan meningkatkan
Akses Ekonomi
Akses ekonomi dapat diukur dengan berbagai indikator yaitu sumberdaya keuangan atau pendapatan (Eicker & Breisinger 2012); pendapatan
rumahtangga per kapita per bulan (Departemen Pertanian 2008); pengeluaran
total per kapita per bulan (Hildawati 2008; Agustiani 2012). Moho dan Wagner
(1981) dalam Hildawati (2008) menyatakan bahwa data pengeluaran dapat
menggambarkan pola konsumsi keluarga dalam pengalokasian pendapatan yang
biasanya relatif tetap. Pengeluaran pada keluarga yang berpendapatan rendah,
biasanya akan lebih besar jumlahnya daripada pendapatan mereka. Oleh karena
itu, data pengeluaran lebih mencerminkan pendapatan yang sebenarnya. Selain
itu, Purwantini & Mewa (2008) menyatakan bahwa secara alamiah kuantitas pangan yang dibutuhkan seseorang akan mencapai titik jenuh sementara
kebutuhan bukan pangan termasuk kualitas pangan yang tidak dibatasi dengan
cara yang sama. Oleh karena itu, besar pendapatan yang dibelanjakan untuk
pangan bisa dijadikan petunjuk kesejahteraan.
Sejalan dengan hal tersebut, Salvatore (2006) dalam Novita & Fardianah
(2011) menuliskan sebuah hukum yang dikenal sebagai Hukum Engel bahwa
bila selera tidak berbeda maka persentase pengeluaran untuk pangan akan menurun dengan meningkatnya pendapatan. Semakin rendah persentase
pengeluaran untuk pangan terhadap total pengeluaran semakin membaik tingkat perekonomian penduduk. Sebaliknya, semakin besar pangsa pengeluaran
pangan semakin kurang sejahtera rumahtangga yang bersangkutan.
Suhardjo (1989) menyatakan bahwa pengeluaran pangan rumahtangga
dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu subsidi pangan oleh pemerintah, pangan
yang dibagi-bagikan diantara anggota masyarakat pedesaan, jumlah dan ragam
pangan yang dibeli, harga pangan di pasaran, persediaan pangan yang dapat
diterima di pasaran, jumlah pendapatan yang dikeluarkan untuk pangan serta
pendapatan rumahtangga. Keluarga yang memiliki cukup akses secara ekonomi
dan pemenuhan kebutuhan pangan, pengetahuan gizi orang tua yang baik akan
berpengaruh terhadap semakin baiknya keragaman konsumsi pangan anggota
keluarganya (Hardinsyah 2007).
Pengeluaran total rata-rata per kapita per bulan Kalimantan selatan tahun
2011 adalah Rp.699.417, sedangkan pengeluaran untuk pangan adalah Rp.
pendapatan rumahtangga. Novita & Fardianah (2011) mencatat dari hasil penelitiannya di Kalimantan Selatan bahwa tingginya pengeluaran rumahtangga
petani padi sawah untuk pangan dibandingkan pengeluaran untuk bukan pangan menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan petani padi sawah harus terus ditingkatkan.
Konsumsi Pangan Rumahtangga
Hardinsyah & Briawan (1994) menjelaskan bahwa konsumsi pangan merupakan informasi tentang jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi
seseorang atau sekelompok orang pada waktu tertentu. Pemilihan cara yang
digunakan sangat ditentukan oleh satuan pengamatan (unit contoh), waktu, tenaga, dan dana yang tersedia. Ada dua pengertian mengenai penilaian
konsumsi pangan yaitu pertama penilaian terhadap kandungan zat gizi dari
makanan dan yang kedua membandingkan kandungan zat gizi makanan yang
dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang dengan angka kecukupannya.
Pemahaman kedua digunakan untuk mengetahui tingkat konsumsi zat gizi seseorang atau sekelompok orang. Untuk itu, penilaian konsumsi pangan
biasanya dilakukan terhadap makanan yang dikonsumsi dengan satuan per
orang per hari atau unit konsumen.
O’brien palce & Frankenberger (1988) dalam Maxwell et al (1992)
menyatakan bahwa penilaian frekuensi pangan terkait dengan pengumpulan
jumlah minimum makanan yang dikonsumsi fokus pada jumlah item makanan
dibatasi pada kelompok pangan dan menanyakan frekuensi konsumsi makanan
tersebut dibanding jumlah yang dikonsumsi. Informasi dikumpulkan dengan food
recall 24 jam. Rumahtanhga digolongkan kepada konsumsi pangan kurang dan
cukup. Suhardjo (1989) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
konsumsi pangan adalah cara penyimpanan bahan pangan, tersedianya bahan
bakar, beban pekerjaan, cara penyimpangan pangan, dan kebiasaan makan
tradisional seperti pola pembagian makanan kepada anggota-anggota keluarga.
Tingkat Kecukupan Energi
Konsumsi pangan sehari merupakan penjumlahan dari makan pagi,
siang, malam dalam kurun waktu 24 jam. Jika lebih dari satu hari, maka
konsumsi pangan per hari merupakan jumlah konsumsi pangan dibagi dengan jumlah hari survey. Satuannya gram per hari. Pada prinsipnya penilaian
keluarga (Hardinsyah & Briawan 1994). Menurut BPS (2011) konsumsi kalori per
kapita per hari Kalimantan Selatan di pedesaaan tahun 2011 adalah 2198 kilokalori.
Penilaian untuk mengetahui tingkat kecukupan energidilakukan dengan
membandingkan antar konsumsi energi aktual dengan kecukupan energi yang dinyatakan dalam persen. Indikator Standar Pelayanan Masyarakat (SPM)
membuat indikator konsumsi pangan ideal untuk energi adalah 2000 kilokalori.
Latief et al (2000) dalam WNPG VII menggolongkan tingkat kecukupan energi
dan protein menjadi kurang jika tingkat kecukupan gizi kurang dari 70% dan
cukup jika tingkat kecukupan gizi lebih besar sama dengan 70%. Agustiani
(2012) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa hasil uji beda independent t-test
menujukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara tingkat
konsumsi energi dan protein pada kelompok penerima dan bukan penerima
program desa mandiri pangan.
Alfitri (2002) menyimpulkan dari hasil penelitiannya di Kalimantan Selatan
bahwa tingkat pendidikan ibu berhubungan positif dengan jumlah pangan yang
dikonsumsi. Hickman et al (1993) dalam Hardinsyah (2007) menyatakan bahwa wanita terpelajar cenderung tertarik terhadap informasi dari media cetak
khususnya majalah dan koran. Ibu dengan tingkat pendapatan dan pendidikan
yang lebih tinggi mendapat paparan yang tinggi juga dari media cetak (BKKBN
dan community system foundation dalam Hardinsyah 2007). Semakin tinggi
pendidikan seseorang maka aksesnya terhadap media massa semakin tinggi
yang juga berarti akses terhadap informasi yang berkaitan dengan gizi semakin
tinggi (Hardinsyah 2007).
Hasil review Hardinsyah (2007) menyatakan bahwa para ibu dengan pendidikan lebih baik dapat memilih dan mengombinasikan beragam jenis
pangan dengan harga yang tidak mahal. Selain itu, hasil analisis multivariat di negara berkembang termasuk Indonesia tingkat pendidikan ibu dianggap
sebagai determinan penting dari asupan gizi atau pengelolaan gizi di tingkat
rumahtangga (Behrman & wolfe 1987; Behrman et al 1988).
Atmarita (2004) menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang untuk menyerap informasi dan
mengimplementasikan dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya
dalam hal kesehatan dan gizi. Soekirman (2000) mengemukakan bahwa pada
secara tidak langsung namun tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor
penyebab terjadinya kekurangan gizi. Sudut sosial ekonomi memandang tingkat pendidikan ibu rumah tangga merupakan salah satu aspek yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga.
Apriadji (1986) dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa orang yang memiliki pendidikan rendah belum tentu kurang mampu menyusun menu
makanan yang memenuhi persyaratan gizi dibanding orang yang berpendidikan
lebih tinggi. Hal ini disebabkan keingintahuan seseorang mengenai gizi akan
menambah pengetahuan gizinya. Akan tetapi, Omuemu et al (2012)
menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa rendahnya tingkat pendidikan,
besarnya rumahtangga, rendahnya pendapatan mejadi faktor yang signifikan
bagi terjadinya kerawanan pangan.
Purnamasari (2001) menyimpulkan dari hasil penelitiannya bahwa
pengeluaran pangan yang lebih besar memiliki tingkat kecukupan energi yang
lebih tinggi. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa semakin tinggi
pendapatan atau pengeluaran total maka semakin tinggi kuantitas konsumsi
pangan yang pada akhirnya mempengaruhi tingkat kecukupan energi
(Soekirman 2000; Baliwati & Retnanngsih 2004; Hildawati 2008; Agustiani 2012).
Aspek pendapatan tidak selalu mempengaruhi dalam pola konsumsi
pangan tetapi aspek lain seperti kebiasaan makan dan pola hidup sederhana,
pola pekerjaan petani yang tidak terlalu kompleks, dan konsep mengutamakan
makan di rumah yang dimasak terlalu kuat (Purwantini 2008). Jumlah anggota
rumahtangga berhubungan positif dan berpengaruh nyata terhadap konsumsi
pangan yang pada akhirnya meningkatkan pengeluaran untuk pangan (Rochaeni
& Lokollo 2005). Tingginya pendapatan per kapita disebabkan rata-rata jumlah
anggota rumahtangga relatif lebih kecil (Swastika dkk 2006).
Metode Food Recall
Metode food recall salah satu metode untuk mengumpulkan data
konsumsi pangan masyarakat. Widjajanti (2009) menyatakan bahwa metode
food recall memiliki presisi yang cukup tinggi bila dilakukan oleh orang yang ahli.
Kelebihan dari metode ini adalah waktu pelaksanaan cepat, respon responden
baik, akurasi tinggi, dan beban responden rendah. Sedangkan kekurangannya adalah mengandalakan ingatan dan hanya cocok untuk sebagian subjek
Jangka waktu minimal yang dibutuhkan untuk recall konsumsi gizi adalah
24 jam dalam kondisi konsumsi pangan dari hari ke hari tidak beragam dan
maksimal tujuh hari. Pengulangan recall dapat dilakukan untuk meningkatkan ketepatan data zat gizi yang diperoleh. Salah satu cara mengurangi bias/ketidaktepatan atau untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil
konsumsi gizi digunakan food models atau food picture (Widjajanti 2009).
Pemberdayaan Masyarakat dan Community Sosial Responsibility (CSR)
CSR telah menjadi perbincangan sejak terjadinya revolusi industri. Pada
saat itu perusahaan menganggap bahwa tanggung jawab perusahaan hanya
sebatas memberikan lapangan pekerjaan. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat menuntut lebih dari penyediaan lapangan pekerjaan. Hal ini
dikarenakan praktek usaha seringkali menimbulkan dampak negatif misalnya
eksploitasi berlebihan yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Oleh karena
itu, CSR melebarkan philantropinya pada konsep pemberdayaan masyarakat
pada tahun 80-an. Konsep ini dibahas lebih lanjut dalam kongres tingkat tinggi
(KTT) Bui di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Kemudian pada tahun 2002
diadakan World Summit on Sustainable Development di Johannesburg Afrika Selatan.
Konsep CSR terus berkembang dengan cepat sehingga tidak ada definisi
baku mengenai CSR. Namun, ada salah satu definisi menurut WIbisono (2007)
yaitu tanggung jawab perusahaan kepada para pemangku kepentingan untuk
berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif
yang mencakup aspek sosial dan lingkungan (triple botoom line) dalam rangka mencapai tujuan pemabangunan berkelanjutan. Chambers (2003) dalam
wibisono (2007) mengkalisfikasikan CSR dalam tiga aspek yaitu keterlibatan
dalam komunitas, pembuatan produk yang bisa dipertanggungjawabkan secara
sosial, dan employee relations.
Wibisono (2007) merangkum cara pandang perusahaan terhadap CSR
menjadi menjadi tiga yaitu basa basi atau keterpaksaan, upaya memenuhi
kewajiban, dan beyond compliance. Keterpaksaan tercermin dari pelaksanan CSR karena faktor eksternal. Upaya memenuhi kewajiban (compliance)
dilakukan karena ada regulasi hukum dan aturan yang memaksanya untuk
membuat produk ramah lingkungan dan adanya hadiah. Dorongan tulus dari
dalam (beyond compliance) berarti perusahaan telah menyadari bahwa tanggung
Siapa Ahli dari luar Anggota masyarakat, staf proyek,
kelangusngan perusahaan melainkan tanggung jawab sosial dan lingkungan
dengan dasar pemikirannya adalah kesehatan finansial.
Lubis (2011) menyatakan bahwa pembangunan atau perubahan telah dilakukan umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Pelaksanaan
pembangunan pada awalnya selalu dimulai dari atas. Meskipun cocok diterapkan
di berbagai negara, tetapi konsep pembangunan ini juga membawa dampak
negatif. Dampak tersebut berupa ketidakmerataan, pemusatan kekuasaan, dan
matinya inisiatif lokal. Padahal cara pandang pembangunan yang sebenarnya
adalah meningkatkan keberdayaan masyarakat. Konsep ini juga sejalan dengan
An-naf (2005) bahwa dasar pembangunan khususnya pertanian paling tidak
harus berkelanjutan dengan menjamin pelestarian dan penggunaan yang wajar
dari sumberdaya yang terbarukan, harus meningkatkan efisiensi ekonomi, dan
manfaatnya harus terdistribusi secara merata.
Pendekatan pembangunan ini bertumpu pada dua elemen pokok yaitu
kemandirian dan partisipasi. Masyarakat mandiri menentukan pembangunannya,
dan berpartisipasi senyatanya pada seluruh prosesnya. Kemandirian dalam hal
ini menyangkut tiga segi, yaitu kemandirian material, kemandirian intelektual, dan
kemandirian manajemen (Lubis 2011). Konsep pembangunan ini selanjutnya
dijadikan philantropi pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat.
Lubis (2011) menjelaskan tahapan pemberdayaan masyarakat dimulai
dengan identifikasi potensi dan masalah. Pada tahap ini secara partisipatif
merumuskan masalah dan potensi yang ada pada komunitas, bukan dari pihak
luar. Selanjutnya, penetapan tujuan, penetapan rencana kerja, kemudian aksi
atau pelaksanaan rencana kerja, dan pada akhirnya diadakan evaluasi kegiatan.
Tabel 1 Perbandingan evaluasi konvensional dengan evaluasi partisipatif
Aspek Evaluasi konvensional Evaluasi partisipatif
fasilitator
Indikator keberhasilan: efisiensi Masyarakat mengidentifikasi sendiri Apa Bagaimana Kapan Mengapa
biaya dan keluaran hasil produk yang telah dilakukan
Fokus pada objektivitas ilmiah, ada pola seragam, prosedur kompleks, akses terbatas pada hasil
Biasanya tergantung jadwal, kadangkala ada juga evaluasi midterm
Pertanggungjawaban biasanya sumatif, menentukan biaya selanjutnya
indikator keberhasilan, termasuk hasil yang dicapai
Evaluasi sendiri, metode sederhana yang diadaptasi dengan budaya lokal, terbuka ada diskusi hasil dengan melibatkan partisipan dalam proses evaluasi
Bergantung pada proses perkembangan masyarakat dan intensitas relatif sering
Wibisono (2007) menuliskan bahwa perencanaan program operasional ini sedapat mungkin diusahakan berbasis sumberdaya lokal, berbasis pada pemberdayaan masyarakat, mengutamakan program yang berkelanjutan, berdasar perencanaan partisipatif atau didahului oleh need assessment,
dihubungkan dengan bisnis inti perusahaan, dan fokus pada prioritas. Evaluasi
dan monitoring adalah salah satu kegiatan yang penting untuk melihat apakah
pelaksanaan pemberdayaan sesuai dengan yang direncanakan. Lubis (2011)
melanjutkan bahwa monitoring dan evaluasi perlu dilakukan secara partisipatif.
Tabel 1 diatas menyajikan perbandingan evaluasi konvensional dengan evaluasi
[image:30.612.123.523.68.758.2]KERANGKA
PEMIKIRAN
Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menggolongkan rumahtangga menjadi rumahtangga di perdesaan dan di perkotaan. Kaitannya dengan
ketahanan pangan, BPS (2011) menyatakan bahwa kerawanan pangan atau kondisi tidak tahan pangan banyak terjadi di rumahtangga perdesaan.
Pedalaman pulau Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan masih memiliki
desa-desa yang berada di pelosok atau sulit terjangkau baik melalui transportasi
maupun komunikasi (Ariesta dkk 2011).
Keberadaan perusahaan didaerah Kalimantan Selatan semestinya bisa membantu memperlancar akses terhadap pangan. Hal ini dikarenakan
perusahaan dituntut untuk melaksanakan pertanggungjawaban sosialnya dengan
memberdayakan masyarakat di desa-desa sekitar tempat pengusahaannya. Oleh karena itu, rumahtangga yang menjadi binaan perusahaan tersebut dikatakan rumahtangga penerima program pemberdayaan masyarakat,
sedangkan pembanding dalam penelitian ini disebut sebagai rumahtangga bukan
penerima program pemberdayaan masyarakat.
Berkaitan dengan akses pangan, faktor-faktor yang mempengaruhi akses
pangan tersebut bergantung pada jenis dan tujuan program pemberdayaan yang
dilaksanakan oleh perusahaan. Namun, dalam hal ini faktor tersebut digolongkan
berdasarkan Departemen Pertanian (2008) menjadi dua yaitu akses sosial dan
ekonomi. Akses sosial berupa lama pendidikan formal suami dan istri dan akses
ekonomi yang digunakan adalah pengeluaran total perkapita per bulan. Akses
fisik tidak dimasukan kedalam kerangka pemikiran karena akses fisik sebagai
output dari program pemberdayaan yang bersifat homogen pada masing-masing
desa sehingga dibahas dalam hubungannya dengan Tingkat Kecukupan Energi.
Akses pangan rumahtangga ini secara langsung akan berperan dalam
konsumsi rumahtangga yang dibuktikan dengan tingkat kecukupan energi. Status gizi merupakan dampak dari pemenuhan kebutuhan berdasarkan tingkat
kecukupan gizi. Hariyadi (2008) menegaskan bahwa indikator ketahanan pangan
ini harus bisa membentuk individu yang sehat dan produktif dimana salah satu
Akses pangan rumahtangga Program pemberdayaan
masyarakat
1. Kebijakan
2. Konsep dan strategi
Akses pangan secara sosial 1. Pendidikan kepala keluarga 2. Pendidikan istri
3. Program
Akses pangan secara ekonomi 1. Pengeluaran total perkapita per
bulan
Konsumsi Pangan
1. Jumlah pangan 2. Jenis pangan
Status gizi
Keterangan:
Variabel yang diteliti
Variabel yang tidak diteliti
Hubungan yang tidak dianalisis
Hubungan yang dianalisis
[image:32.612.74.499.63.753.2]
METODE
Disain, Waktu, dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini menggunakan disain cross sectional study karena dilaksanakan dalam satu waktu yaitu pada bulan Mei-Juni 2012. Lokasi
penelitian berada di Desa Wilas dan Desa Sulangkit, Kecamatan Kelumpang
Utara Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penetapan Desa Wilas sebagai
lokasi desa penerima program pemberdayaan masyarakat adalah 1) termasuk
ring 1 atau desa prioritas desa binaan, 2) terdapat salah satu program unggulan CD Senakin, 3) bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian, dan 4) kemudahan akses dari segi perijinan, transportasi, dan akomodasi. Desa
Sulangkit dipilih sebagai desa pembanding didasarkan pada kriteria sebagai
berikut 1) masyarakat Suku Banjar, 2) kesamaan karakteristik sosial ekonomi yaitu tingkat pendidikan suami dan istri didominasi oleh rendah, mata
pencaharian utama adalah pertanian dan perkebunan karet, 3) memiliki satu
arah aliran sungai dengan desa program, 4) jarak menuju ibukota kecamatan
tidak berbeda jauh, 5) sebagian besar kondisi jalan masih berlumpur.
Teknik Penarikan Contoh
Desa penerima program pemberdayaan masyarakat adalah Desa Wilas Sedangkan desa bukan penerima program pemberdayaan adalah Desa
Sulangkit. Contoh atau unit penelitian adalah rumahtangga di Desa Wilas dan Desa Sulangkit. Teknik penarikan contoh dilakukan dengan cara purposif.
Kriteria contoh di desa program adalah 1) rumahtangga yang mengikuti program
bidang ekonomi yaitu Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (PPEM), 2) merasakan program di bidang lainnya seperti pendidikan, infrastruktur,
kesehatan, dan sosial budaya, dan 3) bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Jumlah contoh yang mengikuti PPEM adalah sebanyak 25 rumahtangga. Namun, hanya 23 rumahtangga yang bisa dijadikan contoh pada waktu
pengambilan data. Hal ini dikarenakan satu contoh berada di luar daerah
penelitian selama dua bulan dan satu contoh tidak bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
Kriteria contoh di desa nonprogram adalah bersedia berpartisipasi dalam
penelitian yang dilakukan secara acak sampai mencapai 23 rumahtangga. Oleh
No Komponen Jenis Data Cara
Jenis dan Cara Pengambilan Data
Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder. Data primer
meliputi karakteristik rumahtangga (usia, berat badan, jenis kelamin, pekerjaan),
akses pangan sosial (lama pendidikan suami dan istri), akses pangan ekonomi
(pengeluaran total per kapita per bulan), akses pangan fisik (keberadaan, jarak,
dan kondisi jalan ke pasar, keberadaan bahan pangan di warung dan pedagang keliling), konsumsi pangan rumahtangga, dan karakteristik program
pemberdayaan masyarakat. Data-data tersebut didapatkan melalui wawancara
dengan instrumen kuisioner.
Data konsumsi pangan diperoleh dengan mengetahui jumlah dan jenis
pangan. Kedua jenis data ini diperoleh dengan metode food recall 1x24 jam
kepada seluruh anggota didalam rumahtangga. Food recall hanya dilakukan satu
kali karena jenis pangan yang dikonsumsi cenderung homogen (Widjajanti 2009).
Instrumen yang digunakan adalah food picture dan food recall sheet 1x24 jam
yang menggambarkan beberapa jenis pangan serta ukuran ruma