• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pengukuran bobot kering tajuk tanaman kedelai dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 1. Bobot kering tajuk tanaman kedelai pada pemberian kompos TKKS dan mikoriza vesicular arbuskular di tanah Ultisol

Keterangan : Angka - angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan yang nyata pada Uji Duncan taraf α = 5%

Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 1 menunjukan bahwa

bobot kering tajuk tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos TKKS 250 g/polybag (B2) yaitu 6,02 g dan terendah pada kontrol atau tanpa perlakuan

kompos TKKS (B0) yaitu 1,83 g. Perlakuan B2 berbeda nyata dengan B0 tetapi tidak berbeda nyata dengan B1.

Pemberian kompos TKKS mampu meningkatkan bobot kering tajuk. Hal ini dikarenakan kompos TKKS mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara

yang cukup bagi pertumbuhan kedelai. Hal ini sesuai dengan pernyataan Carter (2001) bahwa bahan organik dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam

tanah, memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah, selain itu juga memperbaiki sifat-sifat kimia tanah seperti penurunan kelarutan aluminium, serta meningkatkan KTK tanah melalui gugus karboksil yang aktif. Unsur hara yang diserap oleh tanaman mampu meningkatkan proses pembelahan sel, fotosintesis, dan proses

lain dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang ditunjukan melalui bobot kering tajuk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rizqiani et al. (2006) bahwa unsur yang terserap dapat digunakan untuk mendorong pembelahan sel dan pembentukan sel-sel baru guna membentuk organ tanaman seperti daun, batang dan akar yang lebih baik sehingga dapat memperlancar proses fotosintesis.

Perlakuan mikoriza menunjukkan bobot kering tajuk yang tidak berbeda nyata secara statistik namun menghasilkan bobot kering tajuk tertinggi pada perlakuan mikoriza 8 g/polybag (M1) yaitu 4,49 g dan terendah pada perlakuan tanpa mikoriza (M0) yaitu 3,99 g. Hal ini dikarenakan pemberian mikoriza dapat menginfeksi sistem perakaran sehingga penyerapan unsur hara lebih meningkat dibandingkan tanpa pemberian mikoriza. Hal ini sesuai dengan pernyataan Masria (2015) bahwa mikoriza menginfeksi sistem perakaran tanaman inang dan memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan hara.

Serapan P Tanaman

Hasil pengukuran serapan P tanaman kedelai dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2. Serapan P tanaman kedelai pada pemberian kompos TKKS dan mikoriza vesicular arbuskular di tanah Ultisol

Keterangan : Angka - angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan yang nyata pada Uji Duncan taraf α = 5%

Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 2 menunjukan bahwa serapan P tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos TKKS 250 g/polybag (B2) yaitu 4,20 mg/tanaman dan terendah pada kontrol atau tanpa perlakuan kompos TKKS (B0) yaitu 1,62 mg/tanaman. Perlakuan B2 berbeda nyata dengan B0 tetapi tidak berbeda nyata dengan B1.

Pemberian kompos TKKS mampu meningkatkan serapan P tanaman. Hal ini dikarenakan asam-asam organik yang dihasilkan oleh dekomposisi bahan organik mampu bertindak sebagai pengkhelat senyawa Al dan Fe sehingga terjadi pelepasan P terikat menjadi P tersedia. Hal ini ditunjukkan pada Tabel 2 bahwa pemberian kompos TKKS 250 g/polybag mampu meningkatkan serapan P. Hal ini sesuai dengan pernyataan Weil dan Magdoff (2004) aktivitas asam-asam organik (asam humat dan asam fulvat serta asam-asam lainnya) hasil dekomposisi bahan organik menurunkan aktivitas aluminium dan besi, disebabkan oleh hasil pertukaran ligan dari oksidasi Al dengan asam-asam organik membentuk ikatan organo-logam yang dapat pula meningkatkan pH tanah, sehingga dengan demikian terjadi pelepasan P terikat menjadi P-tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.

Perlakuan mikoriza tidak berpengaruh nyata terhadap serapan P, akan tetapi menghasilkan serapan P tertinggi pada perlakuan mikoriza 8 g/polybag (M1) yaitu 3,22 mg/tanaman dan terendah pada perlakuan tanpa mikoriza (M0) yaitu 3,05 mg/tanaman. Hal ini dikarenakan mikoriza menghasilkan enzim fosfatase yang dapat melepaskan hara P yang terikat oleh Al dan Fe sehingga hara lebih tersedia bagi tanaman. Musfal (2010) menyatakan bahwa mikoriza mampu meningkatkan serapan hara, khususnya fosfat. Hal ini disebabkan jaringan hifa

eksternal mikoriza mampu memperluas bidang serapan. Mikoriza menghasilkan enzim fosfatase yang dapat melepaskan hara P yang terikat unsur Al dan Fe pada lahan masam sehingga hara lebih tersedia bagi tanaman.

Jumlah Polong

Hasil penghitungan jumlah polong tanaman kedelai dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Keterangan : Angka - angka yang diikuti notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukan perbedaan yang nyata pada Uji Duncan taraf α = 5%

Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 3 menunjukan bahwa jumlah polong tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos TKKS 250 g/polybag (B2) yaitu 34,00 dan terendah pada kontrol atau tanpa perlakuan kompos TKKS (B0) yaitu 11,38. Perlakuan B2 berbeda nyata dengan B0 dan B1.

Pemberian kompos TKKS mampu meningkatkan jumlah polong tanaman.

Hal ini ditunjukkan pada Tabel 3 bahwa pemberian kompos TKKS 250 g/polybag

mampu meningkatkan jumlah polong kedelai. Hal ini sesuai dengan pernyataan Samuli et al. (2012) menyatakan pemberian bahan organik mampu meningkatkan

jumlah polong pada tanaman kedelai hal ini disebabkan karena bahan organik selain memperbaiki kondisi tanah juga mampu menyuplai unsur hara yang dibutuhkan tanaman, mempercepat pendewasaan tanaman sehingga memberikan jumlah polong yang lebih baik.

Perlakuan mikoriza menunjukkan jumlah polong yang tidak berbeda nyata secara statistik namun menghasilkan jumlah polong tertinggi pada perlakuan mikoriza 8 g/polybag (M1) yaitu 25,00 dan terendah pada perlakuan tanpa mikoriza (M0) yaitu 21,67. Hal ini dikarenakan tanaman kedelai yang diberikan perlakuan mikoriza mengalami peningkatan dalam kemampuannya menyerap unsur hara, sehingga metabolisme untuk pertumbuhan tanaman kedelai menjadi lebih baik. Hal ini sesuai pernyataan Haris dan Adnan (2005) bahwa manfaat penambahan fungi mikoriza antara lain yaitu pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik sehingga hasil yang didapat jauh lebih banyak.

Jumlah Biji

Hasil penghitungan jumlah biji tanaman kedelai dapat dilihat pada tabel di bawah ini : menunjukan perbedaan yang nyata pada Uji Duncan taraf α = 5%

Berdasarkan data yang ditampilkan pada Tabel 4 menunjukan bahwa jumlah biji tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos TKKS 250 g/polybag (B2) yaitu 81,75 dan terendah pada kontrol atau tanpa perlakuan kompos TKKS (B0) yaitu 25,38. Perlakuan B2 berbeda nyata dengan B0 dan B1.

Pemberian kompos TKKS 250 g/polybag mampu meningkatkan jumlah biji kedelai. Hal ini dikarenakan kompos TKKS mampu meningkatkan

ketersediaan unsur hara bagi tanaman yang dapat meningkatkan proses fotosintesis sehingga fotosintat yang dihasilkan meningkat dan dapat mempengaruhi biji yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Zainal et al.

(2014) bahwa bahan organik berperan efektif dalam menambah unsur hara seperti hara P yang sangat penting untuk pembentukan dan pengisian polong yang akhirnya untuk pembentukan biji tanaman kedelai. Semakin baik pertumbuhan vegetatif tanaman kedelai maka proses fotosintesis akan berjalan dengan baik sehingga fotosintat yang dihasilkan makin banyak. Hasil fotosintesis dari fase vegetatif ke fase generatif akan disimpan sebagai cadangan makanan dalam bentuk karbohidrat yang berupa biji. Semakin tinggi fotosintat maka hasil biji juga akan semakin meningkat.

Jumlah biji tertinggi pada perlakuan mikoriza 8/polybag g (M1) yaitu 59,75 dan terendah pada perlakuan tanpa mikoriza (M0) yaitu 50,00. Perlakuan M1

berbeda nyata dengan M0. Hal ini dikarenakan pemberian mikoriza secara efektif dapat meningkatkan fosfor yang tersedia bagi tanaman. Fosfor berperan penting dalam meningkatkan produksi biji. Menurut Mulyani (2002), unsur hara P berperan penting dalam pengisian biji, pemasakan buah atau gabah, dan meningkatkan produksi biji-bijian. Hal ini sejalan dengan pernyataan Malik et al.

(2017) bahwa aplikasi fungi mikoriza arbuskula meningkatkan produksi tanaman kedelai dengan meningkatnya jumlah polong, bobot polong, jumlah biji, serta bobot 20 butir biji.

Bobot Biji

Hasil penghitungan bobot biji tanaman kedelai dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5. Bobot biji tanaman kedelai pada pemberian kompos TKKS dan mikoriza sama menunjukan perbedaan yang nyata pada Uji Duncan taraf α = 5%

Berdasarkan hasil pengukuran bobot biji yang ditampilkan pada Tabel 5

diketahui bobot biji tertinggi ditunjukkan pada pemberian kompos TKKS 250 g/polybag dengan mikoriza 8/polybag g yaitu 11,50 g dan bobot biji terendah

ditunjukkan oleh perlakuan tanpa kompos TKKS dan tanpa mikoriza yaitu 2,63 g.

Perlakuan B2M1 berbeda nyata dengan B0M0, B0M1, B1M0, B1M1, dan B2M0. Jika hasil perlakuan B2M1 dikonversikan ke dalam luasan hektar dengan jarak tanam 20 x 30 cm, maka diperoleh bobot biji sebesar 1.916 kg/ha atau setara dengan 1,9 ton/ha. Hal ini menunjukan bahwa hasil tersebut belum memenuhi kriteria daya hasil kedelai berdasarkan deskripsi kedelai varietas anjasmoro.

Pemberian kompos TKKS 250 g/polybag dan mikoriza 8g/polybag mampu meningkatkan bobot biji tanaman. Hal ini dikarenakan pemberian kompos TKKS mampu meningkatkan P tersedia bagi tanaman, dan mikoriza mampu memperluas perakaran tanaman sehingga penyerapan unsur hara yang tersedia menjadi lebih optimal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Novizan (2005) bahwa pada saat fase pertumbuhan generatif, fosfat dibutuhkan tanaman untuk sintesis protein dan proses enzimatik. Dengan demikian bila pengisian biji berjalan dengan optimal maka biji yang dihasilkan akan lebih bernas.

bobot biji tertinggi diperoleh pada perlakuan kompos TKKS 250 g/polybag (B2) yaitu 9,84 g dan terendah pada kontrol atau tanpa perlakuan kompos TKKS (B0) yaitu 2,84 g. Perlakuan B2 berbeda nyata dengan B0 dan B1. Hal ini dikarenakan kompos TKKS mampu meningkatkan ketersediaan fosfor. Fosfor berguna untuk mempercepat pemasakan buah atau biji. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sihaloho et al. (2015) fosfor dapat merangsang perkembangan akar sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, mempercepat pembungaan dan

pemasakan buah, biji atau gabah selain itu juga dapat menambah nilai gizi (lemak dan protein).

Pemberian mikoriza mampu meningkatkan bobot biji kedelai seperti terlihat pada Tabel 5. Bobot biji tertinggi pada perlakuan mikoriza 8 g/polybag (M1) yaitu 7,23 g dan terendah pada perlakuan tanpa mikoriza (M0) yaitu 5,78 g.

Perlakuan M1 berbeda nyata dengan M0. Hal ini dikarenakan dengan adanya fungi mikoriza arbuskular yang membantu penyerapan unsur hara dan membaiknya status serapan hara terutama fosfor. Menurut Husin (1989) dalam Zuhri dan Puspita (2008) menyatakan bahwa unsur P sangat penting dalam pertumbuhan dan menentukan hasil tanaman, karena peranan utama P adalah meningkatkan perkembangan akar, peningkatan kadar P dalam tanaman akan diikuti dengan meningkatnya serapan unsur hara lain, sehingga fotosintesis juga meningkat.

Dengan demikian fotosintat yang dihasilkan juga lebih besar sehingga meningkatkan pasokan berat kering ke dalam biji. Zuhri dan Puspita (2008) juga melaporkan bahwa pemberian Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) cenderung dapat meningkatkan umur berbunga, umur panen, jumlah polong, dan berat biji kering kedelai pada tanah Podzolik Merah Kuning.

Dokumen terkait