• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Daya Saing Usaha Anggrek (Vanda doughlas) di Kota Tangerang Selatan

Salah satu ciri suatu produk memiliki daya saing yang tinggi jika produk tersebut diproduksi secara efisien. Produksi akan efisien jika menghasilkan produk yang optimal dan menyebabkan biaya produksi menurun, sehingga keuntungan akan semakin meningkat. Pengukuran daya saing usahatani Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan menggunakan Tabel PAM. Hasil analisis PAM digunakan untuk melihat keunggulan kompetitif, keunggulan komparatif, serta dampak kebijakan input dan output yang mempengaruhi daya saing usahatani Vanda doughlas.

Analisis PAM dimulai dengan analisa usahatani yaitu data penerimaan, biaya produksi dan biaya tataniaga. Analisis usahatani digunakan untuk melihat efisiensi produksi. Selanjutnya harga pada analisis usahatanai dipisah berdasarkan harga privat dan harga sosial selama umur produksi anggrek Vanda doughlas (3 tahun). Masing-masing data tersebut dihitung berdasarkan harga privat dan harga sosial (bayangan). Selain itu, masing-masing biaya produksi pada harga privat dan sosial dibagi kedalam biaya input tradable dan faktor domestik. Proporsi Biaya

50

Input Terhadap Biaya Input Total Pengusahaan Anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan bisa dilihat pada Lampiran 3. Perhitungan Harga Bayangan Nilai Tukar dan Output terdapat pada Lampiran 4 dan Lampiran 5. Proses diskonto (discounting) diperlukan dalam kasus ini untuk menentukan Net Present Value (NPV) dari masing-masing bagian tersebut. Hasil perhitungan penerimaan, biaya produksi dan tataniaga tersebut di dalam budget privat dan budget sosial serta rekapitulasi privat dan rekapitulasi sosial dapat dilihat pada Lampiran 6, 7, 8, dan 9. Setelah perhitungan dilakukan, maka disusunlah Tabel PAM yang terdapat pada Tabel 23. Data penerimaan, biaya dan keuntungan pada tabel tersebut selanjutnya digunakan untuk menghitung nilai-nilai yang menjadi indikator daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap daya saing anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan.

Tabel 23 Policy Analysis Matrix (PAM) Usaha Anggrek Vanda doughlas di Kota Kota Tangerang Selatan (Rp/Ha)

Uraian Penerimaan Biaya Keuntungan Input Tradable Faktor Domestik Privat 2 383 046 400 10 551 583 1 444 518 425 927 976 392 Sosial 10 888 819 872 8 853 780 1 441 610 650 9 438 355 442 Dampak Kebijakan -8 505 773 472 1 697 803 2 907 775 -8 510 379 050 Berdasarkan Tabel 23 diketahui bahwa dampak kebijakan yang dihasilkan bernilai negatif untuk penerimaan, dan keuntungan, sementara dampak kebijakan input tradable dan faktor domestik bernilai positif. Dampak kebijakan pada penerimaan bernilai minus Rp8 505 773 472 per hektar. Hal ini terjadi karena harga Vanda doughlas privat yang lebih rendah dari harga sosialnya.Harga privat

Vanda doughlas sebesar Rp70 000 per ikat, sedangkan harga sosialnya sebesar Rp319 850 per ikat. Oleh karena itu, penerimaan Vanda doughlas pada privat lebih kecil dibandingkan penerimaan sosialnya dan keuntungan yang diperoleh di sosial juga menjadi leih tinggi dibandingkan keuntungan di privat. Penyebabnya, tidak ada kebijakan khusus yang memproteksi output Vanda doughlas di Indonesia. Kebijakan yang ada selama ini hanyalah subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter untuk jenis premium yang akan mengurangi biaya transportasi pemasaran output tetapi tidak berpengaruh langsung untuk memproteksi output Vanda doughlas. Oleh karena itu, kebijakan terhadap output yang ada selama ini yaitu subsidi BBM belum efektif. Pemerintah perlu membuat kebijakan baru terkait proteksi output Vanda doughlas guna meningkatkan daya saingnya sebagai komoditas promosi ekspor.

Harga sosial Vanda doughlas diperoleh dari harga perbatasan (border price) dikurangi dengan biaya perijinan, jasa karantina, pengemasan dan tansportasi. Harga perbatasan yang digunakan adalah nilai Free on Board (FOB) dari output

Vanda doughlas yaitu sebesar US$13.3 per kilogram. Nilai FOB digunakan karena output Vanda doughlas merupakan komoditas ekspor. Biaya perijinan berdasarkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of

51

Wild Flora and Fauna ) sebesar Rp4 783.42. Biaya jasa karantina yang terdiri dar pemeriksaan, laboratorium, dan dokumen bernilai Rp Rp12 000. Biaya pengemasan sebesar Rp555.55 per kilogram. Sedangkan biaya transportasi ke bandara sebesar Rp14 666.67. Biaya transportasi yang dihitung sudah dikurangi subsidi BBM untuk jenis premium sebesar Rp3 000 per liter.

Tingkat bunga yang digunakan pada saat proses discounting selama umur ekonomi adalah sama, baik untuk privat maupun sosial yaitu 6.82 persen. Nilai ini diperoleh dari persentase modal pinjaman dan modal sendiri dari tingkat suku bunga deposito dan Kredit Mikro Bank Mandiri pada tahun 2012. Pemilihan Bank Mandiri karena bank tersebut merupakan bank terbesar di Indonesia dari aset, pinjaman, dan deposit. Perhitungan suku bunga modal berdasarkan pembagian persentase dengan asumsi modal investasi 90 persen dan 10 persen modal kerja. Asumsi ini digunakan berdasarkan data yang diperoleh bahwa terdapat 3 orang dari 30 responden yang sedang mendapatkan bantuan hibah input bibit dan peralatan (bambu) dari Dinas Pertanian Kota Tangerang Selatan.

Dampak Kebijakan pada biaya input tradable bernilai positif yaitu Rp1 697 803 per hektar. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah, pelaku usaha anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan menerima harga yang lebih tinggi dari harga yang seharusnya dibayar (harga privat). Kebijakan yang dimaksud adalah adanya bea masuk sebesar 5 persen dan pajak pertambahan nilai sebesar 10 persen dari Pemerintah atas input tradable

yaitu pupuk anorganik (pupuk cair) dan obat-obatan (antracol, rizotin, dursban).

Harga privat input tradable lebih tinggi dari harga sosialnya. Pada harga privat, pupuk anorganik sebesar Rp50 000 per botol, antracol Rp100 000 per botol,

rizotin Rp42 000 per botol,dan dursban Rp40 000 per botol. Sedangkan pada harga sosial, pupuk anorganik sebesar Rp42 750 per botol, antracol Rp85 500 per botol, rizotin Rp34 020 per botol, dan dursban Rp32 400 per botol. Namun, input

tradable ini tidak sepenuhnya 100 persen bersifat tradable. Melainkan, 36 persen berasal dari asing dan 64 persen domestik (Input-Output Indonesia, 2008). Oleh karena itu, hanya 36 persen saja dari input tradable yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait bea masuk 5 persen dan PPN 10 persen. Berdasarkan hasil dampak kebijakan pada input tradable yang diperoleh dari analisis PAM pada Tabel 23 bernilai positif, maka kebijakan pajak bea masuk 5 persen dan PPN 10 persen atas input produksi (pupuk anorganik dan obat-obatan) efektif.

Dampak kebijakan yang terjadi pada faktor domestik juga bernilai positif yaitu Rp2 907 775 per hektar. Hal ini juga mengindikasikan bahwa dengan adanya kebijakan pemerintah tentang bea masuk 5 persen dan PPN 10 persen atas pupuk anorganik dan obat-obatan juga mempengaruhi komponen faktor domestik Vanda doughlas. Namun pengaruhnya hanya 64 persen saja. Kebijakan pemerintah yang juga mempengaruhi faktor domestik adalah subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter untuk jenis premium yang akan mengurangi 100 persen biaya transportasi input. Pengaruh kebijakan subsidi BBM lebih besar pengaruhnya dibandingkan kebijakan bea masuk dan PPN, maka petani anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan mengeluarkan biaya atas faktor domestik yang lebih tinggi (privat) dibandingkan dengan harga ekonominya (sosial). Oleh karena itu, kebijakan tersebut efektif dilaksanakan.

Keuntungan privat yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga berlaku yang mencerminkan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh semua

52

kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Berdasarkan Tabel 23 dapat diketahui bahwa keuntungan privat yang diperoleh dari usahatani anggrek Vanda doughlas

adalah Rp927 976 392 per hektar (hasil selisih dari total penerimaan dan total biaya tradable dan domestik). Secara finansial kegiatan pengusahaan anggrek

Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan mampu memberikan keuntungan yang positif bagi pendapatan petani. Sehingga, kegiatan usahatani Vanda doughlas layak untuk dilakukan. Jika dihitung dari nilai R/C rasio pada analisa usahataninya, diperoleh nilai 1.638. Artinya, setiap Rp1 per hektar biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam Vanda doughlas, maka penerimaan yang akan diperoleh sebesar Rp1.638 per hektar. Sehingga bisa disimpulkan bahwa usahatani

Vanda doughlas layak diusahakan dan efisien secara produksi. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan Sagala (2012) yang mengatakan bahwa nilai R/C rasio usahatani Vanda doughlas di Kelurahan Pondok Benda Kota Tangerang Selatan sebesar 1.73. Artinya nilai R/C (Revenue/Cost) rasio pada analisis usahatani yang diperoleh pada penelitian ini tidak berbeda jauh dengan hasil yang diperoleh oleh penelitian sebelumnya. Perhitungan budget privat anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan terdapat pada Lampiran 6 dan rekapitulasi dari budget

privat yang telah terdiskonto terdapat pada Lampiran 8.

Keuntungan sosial yaitu perhitungan penerimaan dan biaya berdasarkan harga pada pasar persaingan sempurna yang mewakili biaya imbangan sosial yang sesungguhnya, dimana harga ini tidak mengandung nilai-nilai kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Pada komoditas tradable, harga bayangan (sosial) adalah harga yang terjadi di pasar internasional. Berdasarkan Tabel 23 dapat diketahui bahwa keuntungan sosial yang diperoleh dari pengusahaan anggrek

Vanda doughlas adalah Rp9 438 355 442 per hektar. Hal ini disebabkan oleh harga jual sosial output Vanda doughlas yang lebih tinggi yaitu Rp319 850 per ikat dibandingkan harga jual privatnya yaitu Rp70 000 per ikat. Hal ini menggambarkan bahwa tanpa adanya kebijakan pemerintah, pengusahaan anggrek

Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan masih menguntungkan karena masih memberikan keuntungan yang positif dan cukup besar. Artinya, kebijakan yang memliki pengaruh terhadap input dan output Vanda doughlas yaitu pajak bea masuk 5 persen, PPN 10 persen, dan subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter belum terlaksanakan dengan efektif. Oleh karena itu diperlukan evaluasi dari kebijakan yang sudah ada atau pembuatan kebijakan baru yang mampu memproteksi output Vanda doughlas.

Meskipun keuntungan sosial Vanda doughlas yang diperoleh lebih besar dibandingkan pada kondisi adanya kebijakan atau intervensi pemerintah (harga privat). Secara ekonomi kegiatan tersebut tetap menguntungkan untuk dijalankan. Perhitungan budget sosial anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan dapat dilihat pada Lampiran 7 dan rekapitulasi dari budget sosial yang telah terdiskonto dapat dilihat pada Lampiran 9. Berdasarkan rekapitulasi budget privat dan budget sosial yang telah terdiskonto tersebut, kemudian diperoleh tabel PAM anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatansecara keseluruhan.

Berdasarkan hasil analisis keuntungan, maka dapat disimpulkan bahwa pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan menguntungkan secara finansial maupun ekonomi. Sehingga pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan layak untuk dijalankan baik secara finansial maupun ekonomi. Kondisi ini didukung oleh adanya kebijakan pemerintah Kota

53 Tangerang Selatan yang ingin mengembangkan Vanda doughlas sebagai komoditas unggulan wilayahnya melalui penerapan Vanda doughlas sebagai icon

Kota Tangerang Selatan dan menjadikannya sebagai varietas nasional. Oleh karena itu usahatani Vanda doughlas dapat terus dikembangkan di Kota Tangerang Selatan.

Selanjutnya, hasil dari tabel PAM yang telah diperoleh digunakan untuk melihat tingkat daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap anggrek

Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan. Analisis daya saing anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan dapat dilihat dari keunggulan komparatif dan kompetitif. Analisis keunggulan komparatif dapat diukur dengan indikator Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) dan Keuntungan Sosial (KS). Nilai dari indikator keunggulan komparatif dan kompetitif anggrek Vanda doughlas di di Kota Tangerang Selatan terdapat pada Tabel 24.

Tabel 24 Nilai Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Anggrek Vanda doughlas Di Kota Tangerang Selatan

Uraian Satuan Nilai

Keunggulan Kompetitif

Keuntungan Privat Rp/ha 927 976 392

Rasio Biaya Privat (PCR) 0.6089

Keunggulan Komparatif

Keuntungan sosial Rp/ha 9 438 355 442

Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) 0.1325

Analisis keunggulan kompetitif anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan dapat dilihat dari nilai Rasio Biaya Privat (PCR) dan Keuntungan Privat (KP). Nilai PCR dan KP dalam analisis keunggulan kompetitif merupakan indikator yang menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan sumberdaya dan tingkat keuntungan pengusahaan anggrek Vanda doughlas secara finansial (privat). Adapun nilai PCR anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan adalah sebesar 0.6089, artinya usahatani anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan memiliki keunggulan kompetitif (PCR<1). Nilai PCR sebesar 0.6089 menunjukkan bahwa untuk mendapatkan nilai tambah output Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan sebesar satu satuan pada harga privat, maka diperlukan tambahan biaya faktor domestik kurang dari satu satuan yaitu sebesar 0.6089. berdasarkan nilai PCR tersebut, Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan dapat dikatakan memiliki keunggulan kompetitif. Selain itu, dapat diartikan juga bahwa usahatani Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan dapat membayar faktor domestiknya. Keunggulan kompetitif akan meningkat jika biaya faktor domestik dapat diminimumkan dan atau memaksimalkan nilai tambah output (Pranoto 2011). Menurut Pranoto (2011), peningkatan nilai tambah output dapat ditingkatkan dengan penggunaan teknologi yang dapat menurunkan biaya per unit output.

Hasil Penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kapaj

et al. (2010) yang mengatakan bahwa nilai PCR<1 mengindikasikan bahwa produsen memiliki keuntungan finasial (privat) positif atau memiliki keunggulan kompetitif. Semakin kecil nilai PCR, maka semakin tinggi keunggulan

54

kompetitifnya. Dengan demikian, usahatani anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan menunjukkan penggunaan sumberdaya yang efisien secara finansial sehingga memiliki keunggulan kompetitif. Hal ini juga dapat menggambarkan bahwa anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan mampu bersaing dengan komoditas sejenis di pasar internasional ketika dilakukan kegiatan ekspor.

Berdasarkan hasil analisis PAM, dapat diketahui bahwa nilai keuntungan privat yang diperoleh selma umur produksi dari anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan bernilai positif yaitu Rp927 976 392 per hektar. Hal ini menunjukkan bahwa secara finansial, yaitu pada kondisi adanya kebijakan dari pemerintah, anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan menguntungkan dan layak untuk diusahakan.

Nilai DRC anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan yang dihasilkan oleh analisis PAM adalah 0.1325. Artinya, jika Vanda doughlas

diproduksi di dalam negeri (Kota Tangerang Selatan) hanya membutuhkan biaya sebesar 0.1325 satu satuan, sehingga terjadi penghematan biaya sebesar 0.8675 satu satuan. Artinya, memproduksi Vanda doughlas di dalam negeri akan menjadi lebih murah dibandingkan jika mengimpor dari negara lain sehingga Vanda doughlas yang diproduksi Kota Tangerang Selatan berdaya saing karena memiliki keunggulan komparatif. Semakin kecil nilai DRC (DRC<1) yang diperoleh, maka semakin tinggi keunggulan komparatif yang dimiliki. Dengan demikian, pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan menunjukkan penggunaan sumberdaya yang efisien secara ekonomi (sosial) sehingga memiliki keunggulan komparatif (berdaya saing) dan memiliki peluang menjadi komoditas promosi ekspor.

Hasil DRC yang diperoleh dari penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Najazadeh et al. (2011), Ugochukwu dan Ezedinma (2011), dan Basavaraj et al. (2013) yang mengatakan bahwa nilai DRC<1 mengindikasikan suatu komoditas memiliki keunggulan komparatif. Semakin kecil nilai DRC, maka semakin tinggi keunggulan komparatif komoditas tersebut. Indikator keunggulan komparatif lainnya adalah nilai keuntungan sosial (KS) yang diperoleh dari sistem komoditas yang diteliti. Berdasarkan hasil analisis, PAM dapat diketahui bahwa penerimaan dari pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan secara ekonomi bernilai positif yaitu Rp9 438 355 442 per hektar. Hal ini mengindikasikan bahwa pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan masih menguntungkan dan efisien secara ekonomi sehingga layak diusahakan.

Jika dibandingkan dengan nilai DRC, nilai PCR yang dihasilkan ternyata lebih rendah. Maka, dapat disimpulkan bahwa anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan memiliki keunggulan komparatif yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan keunggulan kompetitifnya, namun masih tetap berdaya saing. Artinya, kebijakan terkait input-output yaitu pajak bea masuk atas input produksi (pupuk anorganik dan obat-obatan) sebesar 5 persen, PPN 10 persen, dan subsidi BBM untuk jenis premium sebesar Rp3 000 per liter terhadap Vanda doughlas yang sudah diterapkan selama ini justru mengurangi keunggulan Vanda doughlas secara finansial dan menurunkan keunggulan kompetitifnya.

Perbandingan selanjutnya yang dapat disimpulkan adalah nilai keuntungan sosial yang lebih besar dibandingkan keuntungan privatnya. Hal ini berarti

55 pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan lebih menguntungkan saat tidak adanya kebijakan dari pemerintah terhadap input yang dikeluarkan dan output yang dihasilkan. Dampak kebijakan dari keuntungan menunjukkan angka negatif sebesar Rp8 510 379 050 per hektar. Artinya, penerapan kebijakan pemerintah terhadap anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan yaitu pajak bea masuk atas input produksi (pupuk anorganik dan obat-obatan) sebesar 5 persen, PPN 10 persen, dan subsidi BBM untuk jenis premium sebesar Rp3 000 per liter membuat petani Vanda doughlas kehilangan keuntungan sebesar Rp8 510 379 050 per hektar. Hal ini disebabkan oleh rendahnya harga output anggrek Vanda doughlas yang diterima petani dibandingkan harga sosialnya yaitu Rp319 850 per ikat untuk harga sosial dan Rp70 000 per ikat untuk harga privatnya. Bisnis bunga potong seperti anggrek

Vanda doughlas sangat bergantung pada perayaan hari-hari besar seperti Natal dan tahun baru serta kondisi cuaca. Harga anggrek Vanda doughlas akan meningkat hingga tiga kali lipat saat hari-hari besar tiba dan akan menurun jika kondisi cuaca hujan bahkan banjir. Harga jual yang tinggi akan meningkatkan penerimaan petani, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika tidak ada bantuan (kebijakan) dari pemerintah. Hal tersebut menyebabkan keuntungan privat menjadi lebih rendah dibandingkan keuntungan sosialnya. Oleh karena itu, kebijakan terkait

Vanda doughlas yang sudah diterapkan selama ini yaitu pajak bea masuk atas input produksi sebesar 5 persen, PPN sebesar 10 persen, dan subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter untuk jenis premium tidak efektif dan perlu dievaluasi.

Analisis Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Usaha Anggrek (Vanda doughlas) di Kota Tangerang Selatan

Suatu kebijakan pemerintah dalam suatu aktivitas ekonomi dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap pelaku dari sistem tersebut. Kebijakan pemerintah pada sektor pertanian dapat menentukan keberhasilan pengembangan usaha dalam rangka meningkatkan devisa. Kebijakan dapat memengaruhi keuntungan maupun produktivitas suatu kegiatan ekonomi. Berdasarkan hal tersebut, kebijakan pemerintah diduga mampu memengaruhi kondisi daya saing suatu komoditas. Kebijakan pemerintah yang bisa diperhitungkan dalam analisis PAM teterhadap saya saing anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan merupakan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah pusat (Nasional) seperti penerapan pajak impor bahan baku pertanian sebesar 5 persen dan PPN input produksi sebesar 10 persen yang berpengaruh pada harga input produksi yaitu pupuk anorganik (atonik) dan obat-obatan (rizotin,

antracol, dursban) dan subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter untuk jenis premium yang akan mengurangi biaya transportasi pembelian input produksi dan pemasaran output anggrek Vanda doughlas.

Dampak kebijakan pemerintah dapat dilihat dari analisis matriks PAM melalui beberapa indikator. Indikator-indikator dampak kebijakan pemerintah terhadap anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan terdiri dari dampak kebijakan terhadap output (Transfer Output dan Kebijakan Proteksi Output Nominal), dampak kebijakan terhadap input (Transfer Input, Transfer Faktor, dan

56

Koefisien Proteksi Input Nominal), dan dampak kebijakan terhadap input-output (Koefisien Proteksi efektif, Transfer Bersih, Koefisien Keuntungan, dan Rasio Subsidi Produsen) terdapat pada Tabel 25.

Tabel 25 Indikator-Indikator Dampak Kebijakan Pemerintah terhadap Anggrek

Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan

Indikator Satuan Nilai

Dampak Kebijakan Terhadap Output

Transfer Output (TO) Rp/ha -8 505 773 472

Koefisien Proteksi Output Nominal (NPCO) 0.2189 Dampak Kebijakan Terhadap Input

Transfer Input (TI) Rp/ha 1 697 803

Transfer Faktor (TF) Rp/ha 2 907 775

Koefisien Proteksi Input Nominal (NPCI) 1.1918 Dampak Kebijakan Terhadap Input-Output

Koefisien Proteksi Efektif (EPC) 0.2181

Transfer Bersih (TB) Rp/ha -8 510 379 050

Keofisien Keuntungan (PC) 0.0983

Rasio Subsidi Produsen (SRP) -3.4871

Dampak Kebijakan terhadap Output

Pemberlakuan kebijakan pemerintah yaitu subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter untuk jenis premium terhadap output anggrek Vanda doughlas

menyebabkan harga output anggrek Vanda doughlas yang diterima petani pada harga privat berbeda dengan harga pada pasar persaingan sempurna (tidak ada kebijakan pemerintah dan distorsi pasar). Sampai saat ini belum ada kebijakan pemerintah yang langsung mengenai output Vanda doughlas. Namun ada kebijakan subsidi BBM yang nantinya akan mempengaruhi biaya tataniaga dari distribusi output Vanda doughlas. Subsidi BBM sebesar Rp3 000 per liter premium akan mengurangi biaya transportasi tataniaga Vanda doughlas. Dampak kebijakan pemerintah terhadap output dapat dilihat dari dua indikator yaitu transfer output (TO) dan koefisien proteksi output nominal (NPCO). Nilai transfer output (TO) yang dihasilkan pada pengusahaan anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan adalah sebesar minus Rp8 505 773 472 per hektar. Artinya harga output anggrek Vanda doughlas di pasar domestik lebih rendah dari harga internasionalnya. Hal ini bisa terlihat dari harga output pada struktur harga privat yang lebih rendah dibandingkan harga sosialnya yaitu Rp70 000 per ikat (harga privat) dan Rp319 850 per ikat (harga sosial).

Hasil analisis pada penelitian ini sama dengan hasil penelitian Pranoto (2011) yang menyebutkan bahwa nilai TO negatif dapat diinterprestasikan bahwa harga produk ditingkat petani atau domestik lebih rendah dari harga di pasar internasional. Hal ini berarti harga jual Vanda doughlas domestik lebih murah dari harga di pasar internasional. Artinya tidak ada kebijakan Pemerintah (disproteksi) yang melindungi secara langsung output anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan. Sementara itu, kebijakan yang sudah ada selama ini yaitu subsidi BBM ternyata belum mampu memberikan dampak positif bagi petani.

57 Berdasarkan nilai TO yang negatif (TO<0) tersebut, maka yang terjadi adalah konsumen menerima insentif dari produsen (petani) anggrek Vanda doughlas di Kota Tangerang Selatan karena konsumen membeli produk dengan harga yang lebih murah sehingga produsen dirugikan. Oleh karena itu, kebijakan subsidi

Dokumen terkait