Pola Konsumsi Pangan Sumber Protein Hewani di Kabupaten Bogor Pola konsumsi pangan protein hewani masyarakat dapat dijelaskan berdasarkan proporsi pengeluaran terhadap komoditi tersebut. Besarnya proporsi pengeluaran dapat dipengaruhi oleh faktor harga komoditi dan jumlah komoditi yang dikonsumsi. Berdasarkan tingkat pendapatan rumah tangga, jumlah rumah tangga yang mengkonsumsi komoditi pangan sumber protein hewani terbesar pada golongan pendapatan menengah dengan jumlah 789 rumah tangga. Selanjutnya diikuti oleh golongan pendapatan rendah dengan jumlah 184 rumah tangga, dan golongan pendapatan tinggi dengan jumlah 152 rumah tangga. Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi konsumsi pangan protein hewani rumah tangga golongan pendapatan atas lebih besar dibandingkan dengan golongan pendapatan menengah dan rendah.
Pada Tabel 2 dan Tabel 5 terlihat bahwa pangan sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi secara berurutan berasal dari kelompok ikan, telur, unggas, susu, dan daging. Kecenderungan tersebut dapat terlihat karena adanya pengaruh dari harga komoditi ikan, unggas, dan telur yang relatif lebih murah dibandingkan komoditi yang berasal dari daging jenis ruminansia dan susu. Besarnya proporsi konsumsi (Tabel 2) dan proporsi pengeluaran (Tabel 5) menunjukkan bahwa semakin tinggi golongan pendapatan maka semakin besar nilai proporsi konsumsi dan proporsi pengeluaran masyarakat terhadap komoditi pangan sumber protein hewani.
Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi konsumsi komoditi golongan pendapatan rendah, menengah dan golongan pendapatan tinggi memiliki urutan
15 yang sama dari yang banyak dikonsumsi yaitu ikan-telur-unggas-susu-daging. Rumah tangga di golongan pendapatan rendah tidak mengkonsumsi komoditi daging jenis ruminansia sehingga proporsi konsumsi untuk komoditi daging jenis ruminansia bernilai nol. Secara umum dapat dikatakan bahwa tingkat proporsi konsumsi komoditi ikan paling besar dibandingkan komoditi protein hewani lain yaitu sebesar 9.44 kg/kapita/tahun dan daging memiliki proporsi terkecil sebesar 0.38 kg/kapita/tahun.
Tabel 2 Proporsi konsumsi kelompok pangan protein hewani di Kabupaten Bogor tahun 2012
Golongan pendapatan Daging Unggas Ikan Telur Susu (kg/kapita/tahun)
Umum 0.379 5.231 9.438 7.638 4.187
Rendah 0.000 1.770 6.517 5.484 0.631
Menengah 0.167 4.967 9.136 7.290 3.802
Tinggi 2.036 11.121 14.842 12.315 10.866
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui besarnya proporsi dari daging sapi, daging kerbau, dan daging kambing yang terdapat dalam daging ruminansia yang dianalisis. Daging Sapi memiliki proporsi terbesar dari konsumsi daging jenis ruminansia yaitu sebesar 92 persen, diikuti oleh daging kerbau dengan proporsi 5.72 persen, dan daging kambing memiliki proporsi terkecil sebesar 2.28 persen dari total konsumsi daging jenis ruminansia di Kabupaten Bogor.
Tabel 3 Proporsi konsumsi daging sapi, daging kerbau, dan daging kambing di Kabupaten Bogor Komoditi Rata-rata konsumsi Nilai minimum Nilai maksimum Proporsi konsumsi (%) (kg/kapita/tahun) Sapi 0.349 0 25.714 92.002 Kerbau 0.022 0 12.857 5.720 Kambing 0.009 0 5.143 2.278 Total 0.380 0 43.714 100
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Pada Tabel 4 menunjukkan kecukupan konsumsi setara protein hewani per kapita per hari di Kabupaten Bogor pada tahun 2012. Total konsumsi masyarakat di Kabupaten Bogor terhadap pangan sumber protein hewani adalah 10.24 gr/kapita/hari. Jika dikaitkan dengan target pemerintah untuk mencapai konsumsi pangan sumber protein hewani sebesar 7.2 gr/kapita/hari pada tahun 2014 maka
16
target tersebut dapat tercapai. Total konsumsi setara protein hewani terbesar berada pada daging sapi sebesar 0.180 gr/kapita/hari dari total konsumsi daging jenis ruminansia. Sedangkan secara keseluruhan total konsumsi setara protein hewani terbesar berada pada konsumsi komoditi ikan sebesar 4.396 gr/kapita/hari. Tabel 4 Kecukupan konsumsi setara protein hewani masyarakat di Kabupaten
Bogor tahun 2012 Sumber protein Kandungan protein (%) Proporsi konsumsi pangana (kg/kapita/tahun) Proporsi konsumsi pangan (gr/kapita/hari) Total konsumsi setara protein (gr/kapita/hari) Sapi 18.8b 0.349 0.956 0.180 Kerbau 18.7b 0.022 0.059 0.011 Kambing 16.6b 0.009 0.024 0.004 Unggas 18.2b 5.231 14.331 2.608 Ikan 17.0c 9.438 25.857 4.396 Telur 12.8b 7.638 20.925 2.678 Susu 3.2 b 4.187 11.471 0.367 Total 10.244
Sumber: aSUSENAS 2012 (diolah); bSuyatno (2010); cRismayanthi (2011) (diolah)
Pada Tabel 5 menunjukkan proporsi pengeluaran konsumsi komoditi pangan sumber protein hewani masyarakat di Kabupaten Bogor secara umum maupun berdasarkan golongan pendapatan secara berurutan yang banyak dikonsumsi adalah ikan-telur-unggas-susu-daging. Sedangkan pada golongan pendapatan tinggi memiliki urutan proporsi konsumsi ikan-susu-telur-unggas-daging. Secara umum komoditi ikan memiliki proporsi pengeluaran terbesar yaitu 44.52 persen dari total proporsi pengeluaran komoditi pangan sumber protein hewani dan daging berada pada proporsi pengeluaran terkecil sebesar 1.67 persen. Tabel 5 Proporsi pengeluaran konsumsi pangan sumber protein hewani
masyarakat di Kabupaten Bogor tahun 2012 Golongan
pendapatan
Daging Unggas Ikan Telur Susu (%) Umum 1.679 16.187 44.518 23.771 13.844 Rendah 0.998 7.431 64.256 24.941 3.372 14.252 Menengah 1.085 17.523 43.053 24.088 Tinggi 7.109 20.041 27.312 20.525 25.013
17 Komoditi protein yang berasal dari kelompok ikan lebih banyak dikonsumsi dibandingkan dengan komoditi yang berasal dari kelompok daging jenis ruminansia. Kecenderungan pola konsumsi tersebut diperkirakan karena adanya pengaruh harga relatif dari komoditi-komodoti pangan protein serta selera dan kebiasaan konsumsi rumah tangga di Kabupaten Bogor. Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa komoditi yang memiliki harga relatif paling mahal adalah kelompok daging jenis ruminansia sedangkan yang memiliki harga relatif paling murah adalah kelompok telur.
Tabel 6 Rata-rata harga komoditi kelompok pangan sumber protein hewani di Kabupaten Bogor tahun 2012
Golongan pendapatan
Daging Unggas Ikan Telur Susu (Rp/kg)
Umum 83676 28411 35057 17656 42244
Rendah 83256 23375 41613 15123 23125
Menengah 84651 27500 33823 17351 38953
Tinggi 83121 33141 33037 21764 56317
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Perhitungan Tingkat Elastisitas Harga dan Pengeluaran dari Komoditi Pangan Sumber Protein Hewani di Kabupaten Bogor
Elastisitas Harga Sendiri
Seluruh komoditi pangan sumber protein hewani yang dianalisis bersifat inelastis dikarenakan elastisitas harga bernilai negatif atau kurang dari 1. Artinya, perubahan terhadap harga tidak berpengaruh terlalu besar pada perubahan permintaan terhadap komoditi yang bersangkutan. Berdasarkan sifat dari kurva permintaan ketika terjadi kenaikan harga dari suatu komoditi maka menurunkan permintaan komoditi tersebut.
Pada Tabel 7 menunjukkan besarnya elastisitas harga sendiri secara umum pada komoditi daging jenis ruminansia sebesar -0.490, unggas sebesar -0.889, ikan sebesar -0.979, telur sebesar -0.908, dan susu sebesar -0.915. Elastisitas harga sendiri komoditi ikan memiliki nilai terbesar di semua golongan pendapatan. Sedangkan komoditi daging jenis ruminansia memiliki nilai elastisitas harga terkecil, artinya komoditi tersebut kurang sensitif terhadap perubahan harga sendiri dan permintaannya cenderung lebih stabil terhadap perubahan harga sendiri. Daging jenis ruminansia memiliki sifat yang paling inelastis sehingga harga daging tidak banyak berpengaruh pada kuantitas permintaan daging itu sendiri. Secara umum dapat diartikan saat elastisitas harga komoditi ikan bernilai -0.98 yang artinya jika harga naik 10 persen maka permintaan untuk kelompok komoditi ikan turun sebesar 9.8 persen.
18
Tabel 7 Elastisitas harga sendiri, harga silang dan pengeluaran di Kabupaten Bogor tahun 2012
Kelompok
Daging Unggas Ikan Telur Susu Pengeluaran Pangan
Golongan pendapatan secara umum
Daging -0.490 -0.006 -0.029 -0.010 -0.010 2.344 Unggas -0.284 -0.889 -0.031 -0.006 -0.051 0.943 Ikan -0.833 -0.019 -0.979 0.014 -0.120 0.832 Telur -0.488 -0.015 -0.023 -0.908 -0.062 0.912 Susu -0.250 -0.014 -0.028 -0.002 -0.915 1.158
Golongan pendapatan rendah
Daging -0.108 -0.014 -0.021 -0.011 -0.038 3.310 Unggas -0.285 -0.768 -0.032 -0.013 -0.152 0.875 Ikan -1.886 -0.016 -0.962 0.030 -0.619 0.884 Telur -0.866 -0.032 -0.014 -0.912 -0.263 0.916 Susu -0.188 -0.043 -0.032 -0.011 -0.582 1.647
Golongan pendapatan menengah
Daging -0.199 -0.006 -0.031 -0.011 -0.009 3.081 Unggas -0.467 -0.896 -0.030 -0.004 -0.052 0.947 Ikan -1.258 -0.018 -0.981 0.013 -0.114 0.827 Telur -0.762 -0.014 -0.023 -0.909 -0.061 0.913 Susu -0.396 -0.013 -0.028 -0.002 -0.918 1.153
Golongan pendapatan atas
Daging -0.896 -0.002 -0.032 -0.007 -0.011 1.318 Unggas -0.079 -0.908 -0.040 -0.002 -0.032 0.954 Ikan -0.142 -0.023 -1.013 -0.001 -0.051 0.727 Telur -0.105 -0.014 -0.046 -0.897 -0.032 0.898 Susu -0.095 -0.006 -0.015 0.009 -0.962 1.087
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Elastisitas Harga Silang
Elastisitas harga silang untuk secara umum dan semua golongan pendapatan menunjukkan nilai dominan yang negatif. Artinya, sifat hubungan antar komoditi pangan sumber protein hewani adalah komplementer atau pelengkap. Hasil tersebut kurang sesuai dengan hipotesis dimana hubungan antara komoditi pangan sumber protein hewani diperkirakan bersifat subtitusi. Perbedaan hipotesis ini diperkirakan karena adanya perkembangan dan perubahan terhadap pola konsumsi masyarakat didukung adanya perbedaan selera, kemudahan memperoleh, dan keanekaragaman jenis komoditi sumber protein hewani. Selain itu, adanya sifat dari konsumsi terhadap daging yang cenderung memiliki sifat tak tergantingan dengan pangan protein hewani lainnya. Misalnya pada konsumsi
19 makanan seperti bakso, rendang, steak, dan sebagainya yang menggunakan jenis daging ruminansia seperti daging sapi, sulit untuk digantikan konsumsinya dengan jenis pangan protein hewani lainnya. Nilai elastisitas silang yang bersifat komplementer misalnya antara komoditi daging terhadap ikan bernilai -0.833 artinya jika harga daging naik sebesar 10 persen maka permintaan terhadap komoditi ikan turun sebesar 8.33 persen.
Pada Tabel 7 terdapat elastisitas harga silang yang bernilai positif. Artinya, terdapat hubungan subtitusi antar komoditi. Sifat subtitusi tersebut terdapat pada golongan pendapatan secara umum, golongan pendapatan rendah, dan golongan pendapatan menengah yaitu hubungan antara harga telur terhadap permintaan ikan yang secara berurutan bernilai 0.014, 0.030, dan 0.013. Sedangkan pada golongan pendapatan tinggi terdapat hubungan subtitusi antara harga telur terhadap permintaan susu dengan nilai elastisitas silang sebesar 0.009. Nilai elastisitas silang antara komoditi telur terhadap ikan sebesar 0.014 maka dapat diartikan bahwa jika harga telur naik sebesar 10 persen maka permintaan ikan meningkat sebesar 0.14 persen. Adanya perbedaan sifat barang yang bersubtitusi di setiap golongan pendapatan diperkirakan karena adanya perbedaan perlakuan terhadap komoditi tersebut oleh konsumen.
Pada Tabel 7 dapat dianalisis bahwa secara umum dan berdasarkan golongan pendapatan, elastisitas silang terbesar berada pada hubungan antara harga daging terhadap permintaan ikan sebesar -0.833 secara umum, -1.886 pada golongan pendapatan rendah, 1.258 pada golongan pendapatan menengah, dan -0.142 pada golongan pendapatan atas. Sedangkan secara umum, elastisitas silang terkecil berada pada hubungan antara harga telur terhadap permintaan susu sebesar -0.002. Pada golongan pendapatan rendah, elastisitas silang terkecil terdapat pada hubungan antara harga telur terhadap permintaan daging dan susu sebesar -0.011. Begitu juga pada golongan pendapatan menengah dengan elastisitas silang sebesar -0.002 pada hubungan antara harga telur dengan permintaan susu. Sedangkan pada golongan pendapatan atas, elastisitas silang terkecil terdapat pada hubungan antara harga telur tehadap permintaan ikan sebesar -0.001.
Secara keseluruhan perubahan harga yang terjadi pada daging jenis ruminansia memberi pengaruh paling besar terhadap permintaan komoditi pangan sumber protein hewani terutama pada ikan. Sedangkan harga komoditi yang memberikan pengaruh terkecil pada perubahan permintaan komoditi protein hewani adalah telur. Pada golongan pendapatan atas memiliki permintaan yang lebih stabil terhadap perubahan harga komoditi pangan sumber protein hewani karena memiliki nilai elastisitas silang yang cenderung lebih kecil dibandingkan dengan elastisitas silang golongan pendapatan lain.
Elastisitas Pengeluaran
Elastisitas pengeluaran secara umum dan berdasarkan golongan pendapatan bernilai positif. Artinya komoditi pangan sumber protein hewani termasuk jenis barang normal. Elastisitas pengeluaran komoditi pangan sumber protein hewani di semua golongan pendapatan menunjukkan kecenderungan ketika pengeluaran meningkat maka permintaan terhadap komoditi pangan sumber protein hewani juga meningkat namun dengan nilai elastisitas yang
20
semakin kecil seiring dengan tingkat pendapatan yang semakin tinggi. Hal ini dapat dianalisis bahwa semakin tinggi pendapatan maka permintaan terhadap pangan protein hewani semakin stabil terutama pada masyarakat berpendapatan tinggi. Besarnya pengeluaran konsumen terhadap pangan sumber protein hewani cenderung dipengaruhi oleh harga relatif komoditi tersebut.
Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai elastisitas pengeluaran terbesar terdapat pada daging jenis ruminansia di semua golongan pendapatan yaitu pada golongan pendapatan rendah, menengah, dan atas secara berurutan bernilai 3.310, 3.081, dan 1.318. Pada jenis barang normal, barang-barang dengan elastisitas pendapatan lebih besar dari 1 dapat disebut barang mewah (luxury). Misalnya, ketika elastisitas pengeluaran daging sebesar 3.3 berarti kenaikan pengeluaran sebesar 10 persen menyebabkan kenaikan pembelian daging sebesar 33 persen. Elastisitas pengeluaran terkecil pada golongan pendapatan menengah dan atas terdapat pada komoditi ikan sebesar 0.827 dan 0.727. Sedangkan pada golongan pendapatan rendah, komoditi unggas memiliki elastisitas pengeluaran terkecil sebesar 0.875. Semakin meningkatnya pendapatan maka konsumsi daging jenis ruminansia semakin stabil karena nilai elastisitas pengeluarannya semakin kecil. Artinya, konsumsi daging jenis ruminansia sangat dipengaruhi oleh besarnya pendapatan konsumen dan besarnya pengeluaran konsumen. Konsumsi komoditi yang memiliki pengaruh kecil terhadap pendapatan konsumen adalah komoditi ikan. Artinya, pengaruh dari harga relatif komoditi ikan lebih kecil dibandingkan permintaan terhadap konsumsi komoditi ikan.
Simulasi Dampak Perubahan Harga Daging Sapi Terhadap Pola Konsumsi Komoditi Pangan Sumber Protein Hewani di Kabupaten Bogor
Penerapan kebijakan dari Pemerintah terhadap harga komoditi pangan sumber protein hewani mempengaruhi pola konsumsi masyarakat pada komoditi tersebut maupun komoditi pangan sumber protein lain yang sejenis. Simulasi dilakukan ketika terjadi perubahan harga daging sapi pada periode tertentu. Sebab berdasarkan nilai elastisitasnya, komoditi daging memiliki pengaruh yang besar terhadap konsumsi sumber protein hewani lain dan komoditi daging sapi memiliki proporsi paling besar pada konsumsi daging jenis ruminansia seperti pada Tabel 3. Simulasi harga ini dapat mengetahui besarnya perubahan proporsi kuantitas konsumsi komoditi pangan sumber protein hewani dan kecukupan konsumsi pangan setara protein hewani masyarakat.
Harga dasar yang digunakan dalam simulasi adalah harga komoditi daging jenis ruminansia pada Tabel 6 sebesar Rp 83,676/kg dibandingkan dengan harga
rata-rata daging sapi lokal di Kabupaten Bogor pada tahun 2013 sebesar Rp 88,304/kg dan tahun 2014 (hingga Februari) sebesar Rp 91,781. Dilakukan
dua simulasi berdasarkan golongan pendapatan secara umum yaitu simulasi dampak kenaikan harga daging sapi sebesar 5.5 persen pada tahun 2013 dan kenaikan harga daging sapi hingga Februari 2014 sebesar 9.7 persen.
Tabel 8 menunjukkan bahwa pada kenaikan harga daging sapi sebesar 5.5 persen, konsumsi komoditi daging jenis ruminansia menurun sebanyak 0.010 kg/kapita/tahun sehingga proporsi konsumsi akhir menjadi 0.370 kg/kapita/tahun. Komoditi unggas mengalami penurunan konsumsi sebanyak 0.082
21 kg/kapita/tahun, ikan sebanyak 0.432 kg/kapita/tahun, telur sebanyak 0.205 kg/kapita/tahun, dan susu sebanyak 0.058 kg/kapita/tahun dari jumlah konsumsi awal sehingga proporsi konsumsi akhir komoditi unggas, ikan, telur, dan susu secara berurutan menjadi 5.148 kg/kapita/tahun, 9.008 kg/kapita/tahun, 7.435 kg/kapita/tahun, dan 4.132 kg/kapita/tahun.
Tabel 8 Perubahan pola konsumsi komoditi dengan kenaikan harga daging sapi 5.5% Sumber protein Perubahan konsumsi (%) Pola konsumsi awal (kg/kapita/tahun) Pola konsumsi akhir (kg/kapita/tahun) Perubahan konsumsi (kg) Daging -2.696 0.380 0.370 -0.010 Unggas -1.560 5.230 5.148 -0.082 Ikan -4.579 9.440 9.008 -0.432 Telur -2.685 7.640 7.435 -0.205 Susu -1.377 4.190 4.132 -0.058
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Pada Tabel 9 menunjukkan simulasi peningkatan harga daging sapi sebesar 9.7 persen pada 2014 (hingga Februari 2014). Adanya peningkatan harga daging sapi sebesar 9.7 persen menyebabkan turunnya proporsi komoditi daging jenis ruminansia sebesar 0.018 kg/kapita/tahun, unggas sebesar 0.144 kg/kapita/tahun, ikan sebesar 0.762 kg/kapita/tahun, telur sebesar 0.362 kg/kapita/tahun, dan susu sebesar 0.102 kg/kapita/tahun sehingga proporsi akhir komoditi pangan sumber protein hewani kelompok daging, unggas, ikan, telur, dan susu secara berurutan menjadi 0.362 kg/kapita/tahun, 5.086 kg/kapita/tahun, 8.678 kg/kapita/tahun, 7.278 kg/kapita/tahun, dan 4.088 kg/kapita/tahun.
Tabel 9 Perubahan pola konsumsi komoditi dengan kenaikan harga daging sapi 9.7% Sumber protein Perubahan konsumsi (%) Proporsi konsumsi awal (kg/kapita/tahun) Proporsi konsumsi akhir (kg/kapita/tahun) Perubahan konsumsi (kg) Daging -4.755 0.380 0.362 -0.018 unggas -2.752 5.230 5.086 -0.144 ikan -8.075 9.440 8.678 -0.762 telur -4.734 7.640 7.278 -0.362 Susu -2.429 4.190 4.088 -0.102
22
Kenaikan harga daging sapi membuat permintaan konsumsi pangan sumber protein hewani lain berkurang begitu juga sebaliknya. Berdasarkan simulasi yang telah dilakukan dapat dijelaskan bahwa semakin besar persentase kenaikan harga daging sapi maka semakin kecil proporsi konsumsi komoditi pangan sumber protein hewani masyarakat.
Setelah mengetahui besarnya proporsi konsumsi dari daging sapi, kerbau, dan kambing pada Tabel 3 maka dapat dianalisis besarnya perubahan konsumsi ketiga jenis daging tersebut saat terjadi kenaikan harga pada daging sapi. Berdasarkan Tabel 10 dan Tabel 11 dapat dianalisis bahwa saat terjadi kenaikan harga daging sapi sebesar 5.5 persen maka besarnya proporsi konsumsi daging ruminansia menurun menjadi 0.370 kg/kapita/tahun terdiri dari daging sapi sebanyak 0.340 kg/kapita/tahun, daging kerbau sebanyak 0.021 kg/kapita/tahun, dan daging kambing sebanyak 0.0084 kg/kapita/tahun. Sedangkan pada kenaikan harga daging sapi sebesar 9.7 persen proporsi konsumsi akhir daging jenis ruminansia menurun menjadi 0.362 kg/kapita/tahun yang terdiri dari proporsi daging sapi sebesar 0.333 kg/kapita/tahun, daging kerbau sebesar 0.021 kg/kapita/tahun, dan daging kambing sebesar 0.0082 kg/kapita/tahun.
Tabel 10 Proporsi konsumsi daging saat kenaikan harga daging sapi 5.5% Sumber protein Proporsi (%) Proporsi konsumsi daging Proporsi konsumsi akhir (kg/kapita/tahun) Sapi 92.002 0.370 0.340 Kerbau 5.720 0.370 0.021 Kambing 2.278 0.370 0.008 Total 100 0.370
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Tabel 11 Proporsi konsumsi daging saat kenaikan harga daging sapi 9.7 % Sumber protein Proporsi (%) Proporsi konsumsi daging Proporsi konsumsi akhir (kg/kapita/tahun) Sapi 92.002 0.362 0.333 Kerbau 5.720 0.362 0.021 Kambing 2.278 0.362 0.008 Total 100 0.362
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Setelah melakukan simulasi dampak kenaikan harga daging sapi, dianalisis kecukupan konsumsi setara protein hewani. Pada Tabel 12 menunjukkan bahwa saat terjadi kenaikan harga daging sapi sebesar 5.5 persen maka proporsi konsumsi pangan sumber protein hewani dan total kecukupan konsumsi setara
23 protein hewani mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kecukupan konsumsi setara protein sebelum kenaikan harga daging sapi (Tabel 4). Ketika terjadi kenaikan harga sebesar 5.5 persen, total kecukupan konsumsi setara protein hewani adalah 9.922 gr/kapita/hari. Nilai tersebut memenuhi masih target pemerintah dalam mencapai kecukupan konsumsi protein hewani sebesar 7.2 gr/kapita/hari.
Tabel 12 Kecukupan konsumsi pangan setara protein hewani dengan kenaikan harga daging sapi 5.5 %
Sumber protein Kandungan protein (%) Proporsi konsumsi pangana (kg/kapita/tahun) Proporsi konsumsi pangan (gr/kapita/hari) Total konsumsi setara protein (gr/kapita/hari) Sapi 18.8b 0.340 0.932 0.175 Kerbau 18.7b 0.021 0.058 0.011 Kambing 16.6b 0.008 0.023 0.004 Unggas 18.2b 5.148 14.105 2.567 Ikan 17.0c 9.008 24.679 4.195 Telur 12.8b 7.435 20.370 2.607 Susu 3.2 b 4.132 11.321 0.362 Total 9.922
Sumber: aSUSENAS 2012 (diolah); bSuyatno (2010); cRismayanthi (2011) (diolah)
Tabel 13 Kecukupan konsumsi pangan setara protein hewani dengan kenaikan harga daging sapi 9.7%
Sumber protein Kandungan protein (%) Proporsi konsumsi pangana (kg/kapita/tahun) Proporsi konsumsi pangan (gr/kapita/hari) Total konsumsi setara protein (gr/kapita/hari) Sapi 18.8b 0.333 0.912 0.172 Kerbau 18.7b 0.021 0.057 0.011 Kambing 16.6b 0.008 0.023 0.004 Unggas 18.2b 5.086 13.934 2.536 Ikan 17.0c 8.678 23.774 4.042 Telur 12.8b 7.278 19.941 2.552 Susu 3.2 b 4.088 11.201 0.358 Total 9.674
Sumber: aSUSENAS 2012 (diolah); bSuyatno (2010); cRismayanthi (2011) (diolah)
Selanjutnya, dilakukan simulasi untuk mengetahui kondisi saat proporsi kecukupan konsumsi setara protein hewani memiliki nilai yang sama dengan
24
target konsumsi protein hewani pemerintah yaitu sebesar 7.2 gr/kapita/hari. Pada Tabel 14 menunjukkan kenaikan harga daging sapi sebesar 50.8 persen atau menjadi Rp 126,200/kg dari harga dasar sebesar Rp 83,676/kg (Tabel 6). Kenaikan harga daging sapi sebesar 50.8 persen menurunkan proporsi konsumsi masyarakat menjadi 0.285 kg/kapita/tahun.
Tabel 14 Perubahan pola konsumsi komoditi dengan kenaikan harga daging sapi 50.8% Sumber protein Perubahan konsumsi (%) Proporsi konsumsi awal (kg/kapita/tahun) Proporsi konsumsi akhir (kg/kapita/tahun) Perubahan konsumsi (kg) Daging -24.901 0.380 0.285 -0.095 unggas -14.413 5.230 4.476 -0.754 ikan -42.292 9.440 5.448 -3.992 telur -24.795 7.640 5.746 -1.894 Susu -12.722 4.190 3.657 -0.533
Sumber: SUSENAS 2012 (diolah)
Pada Tabel 15 menunjukkan kecukupan konsumsi pangan setara protein hewani saat terjadi kenaikan harga daging sapi sebesar 50.8 persen. Ketika harga daging sapi naik sebesar 50.8 persen maka total kecukupan konsumsi setara protein hewani menjadi 7.251 gr/kapita/hari. Nilai tersebut sama dengan target konsumsi pangan protein hewani yang ditetapkan pemerintah yaitu sebesar 7.2 gr/kapita/hari.
Tabel 15 Kecukupan konsumsi pangan setara protein hewani dengan kenaikan harga daging sapi 50.8%
Sumber protein Kandungan protein (%) Proporsi konsumsi pangana (kg/kapita/tahun) Proporsi konsumsi pangan (gr/kapita/hari) Total konsumsi setara protein (gr/kapita/hari) Sapi 18.8b 0.263 0.719 0.135 Kerbau 18.7b 0.016 0.045 0.008 Kambing 16.6b 0.007 0.018 0.003 Unggas 18.2b 4.476 12.264 2.232 Ikan 17.0c 5.448 14.925 2.537 Telur 12.8b 5.746 15.742 2.015 Susu 3.2 b 3.657 10.019 0.321 Total 7.251
25 Saat nilai kecukupan konsumsi pangan sumber protein hewani masyarakat sama dengan target konsumsi pangan protein yang ditetapkan pemerintah maka nilai tersebut menjadi nilai minimum bagi pemerintah untuk menjaga konsumsi protein hewani masyarakat. Sebab jika nilai konsumsi pangan sumber protein hewani tersebut berada di bawah standar kecukupan konsumsi yang ditetapkan pemerintah maka dapat mempengaruhi pola konsumsi serta pemenuhan kecukupan konsumsi setara protein hewani masyarakat. Hal tersebut dapat mempengaruhi tujuan pemerintah dalam mengembangkan sumber daya manusia yang cerdas dan berkualitas.