• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Letak geografis Kabupaten Mappi pada 06°.28' - 56°.4' Lintang Selatan dan 139°.2' – 11°.0' Bujur Timur. Sebagian besar wilayah Kabupaten Mappi memiliki ketinggian antara 0 – 100 m di atas permukaan laut, merupakan daerah dataran rendah dan berawa. Luas wilayah Kabupaten Mappi sebesar 28.518 km2, jumlah penduduk sebanyak 81.395 jiwa. Kepadatan penduduk hanya mencapai 2,85 jiwa/km2 (BPS 2010).

Batas wilayah Kabupaten Mappi di sebelah utara berbatasan dengan Distrik Atsy dan Distrik Suator Kabupaten Asmat dan sebelah timur berbatasan dengan Distrik Kouh, Distrik Mandobo, Distrik Jair kabupaten Boven Digoel, sebelah barat berbatasan dengan Distrik pantai Kasuari, Distrik Fayit Kabupaten Asmat dan laut Arafura dan sebelah selatan berbatasan dengan Distrik Okaba dan Distrik Kimaam Kabupaten Merauke (BPS 2011).

Wilayah Kabupaten Mappi dibagi menjadi sepuluh (10) distrik, yaitu Distrik Obaa (ibukota Kepi), Passue (Kotiak), Nambioman Bapae (Mur), Minyamur (Kabe), Edera (Bade), Venaha (Sahapikiya), Citak-Mitak (Senggo), Kaibar (Amasu), Haju (Yagatsu) dan Assue (Eci). Batas wilayah dan tata letak masing-masing Distrik tertera pada Gambar 6.

2 Hasil dan Pembahasan

1) Karakteristik ekologi pertumbuhan tebu rawa

Tempat tumbuh (plant habitat) berdasarkan lingkungan secara umum tumbuhan tersebut tumbuh (Simpson 2006) tebu rawa tumbuh di tepi sungai yang airnya bergerak, pertumbuhannya meluas cenderung masuk ke arah dalam badan sungai dan dapat mengikuti pergerakan air sungai. Pada tempat tertentu yang tidak ada naungan pertumbuhan dominan sampai menutup permukaan air sungai, namun pada tempat yang banyak naungan atau permukaan airnya dangkal pertumbuhannya relatif sedikit.

Tebu rawa termasuk golongan tumbuhan air, akarnya tidak menempel pada substrat tertentu, mengapung bebas di permukaan air sungai, sehingga dapat mengikuti pergerakan air. Bagian tumbuhan mulai pucuk batang atau sulurnya sampai pucuk daun tumbuh di atas permukaan air, sedangkan bagian akar, batang dan sulurnya tumbuh mengapung di bawah permukaan air. Bagian tumbuhan yang terbawa pergerakan air dan terpisah dari populasi awalnya akan tumbuh sebagai tumbuhan baru dan berkembang menjadi kelompok populasi baru, sehingga penyebarannya sangat cepat. Bentuk pertumbuhan tebu rawa pada populasi yang padat sampai menutup permukaan sungai, populasi di pinggir sungai maupun bagian tumbuhan yang membentuk populasi baru dapat dilihat pada Gambar 7.

Di wilayah Kabupaten Mappi, penyebaran tumbuhan tebu rawa tidak terdapat pada semua sungai, populasi tumbuhan tebu rawa hanya ditemukan pada aliran Sungai Obaa, Miwamen, Keeme, Widelman dan Eilanden. Sungai-sungai tersebut menyambung dan saling berhubungan satu sama lainya (nama sungai berdasarkan peta rupa bumi Indonesia edisi I 2004). Sebaran tumbuhan tebu rawa sepanjang ±340 km, pertumbuhannya rata-rata di tepi sungai selebar ± 2 m ke arah badan sungai, hanya tempat tertentu saja yang populasinya menutup permukaan air sungai. Berdasarkan data tersebut estimasi jumlah populasi tumbuhan tebu rawa sebesar ± 6,8 juta tumbuhan. Peta sebaran tumbuhan tebu rawa di Kabupaten Mappi dapat dilihat pada Gambar 8.

Populasi tebu rawa di pinggiran sungai Populasi tebu rawa menutup permukaan air sungai

Gambar 7 Populasi tumbuhan tebu rawa.

Ekologi merupakan salah satu faktor yang berinteraksi langsung dengan pertumbuhan tanaman. Berdasarkan sifatnya komponen ekologi dapat dibedakan menjadi dua yaitu komponen abiotik dan biotik. Komponen ekologi abiotik adalah komponen ekologi yang sifatnya tidak hidup sedangkan ekologi biotik adalah komponen ekologi yang bersifat hidup. Komponen ekologi yang dilakukan pengukuran dan pengamatan sebagai berikut:

A Komponen abiotik

Komponen abiotik yang dilakukan pengukuran dan pengamatan adalah komponen air, tanah dan udara. Komponen air dilakukan pengukuran terhadap pH, temperatur, dan total dissolved solid (TDS), komponen udara dilakukan pengamatan terhadap curah hujan dan komponen tanah dilakukan pengujian laboratorium terhadap kandungan unsur C, N, P dan K.

(1) Komponen air

Air di lingkungan tempat tumbuh tebu rawa memiliki pH rata-rata 4, tingkat keasaman air tersebut rendah sehingga dikatogorikan asam. TDS hasil pengukuran antara 6 – 8 ppm. TDS adalah ukuran zat terlarut baik organik maupun anorganik yang terdapat dalam sebuah larutan. Kekeruhan erat sekali hubungannya dengan kadar zat tersuspensi yang ada dalam air tersebut (Huda 2009). Adanya kekeruhan akan menghambat proses masuknya sinar matahari ke dalam perairan, sehingga dapat menghambat proses fotosintesis, menghambat ketersediaan O2 di dalam perairan. Peningkatan konsentrasi padatan terlarut berkorelasi secara positif dengan nilai kekeruhan dan berkorelasi negatif dengan kelarutan oksigen (Huda 2009). Standar baku mutu air minum berdasarkan PP 82 tahun 2001, residu tersuspensi klas I adalah 50 ppm, klas II adalah 50 ppm, klas III 400 ppm dan klas IV 400 ppm (seperti terlampir), sehingga air yang ada di Sungai Obaa, Miwamen, Keeme memiliki air yang masih cukup jernih.

Temperatur air sungai dilakukan pengukuran pada waktu siang hari, hasil pengukuran temperatur pada 6 (enam) lokasi tidak menunjukkan perbedaan suhu yang signifikan, temperatur berkisar antara 28,2°C – 30°C. Hasil pengukuran pH, TDS dan temperatur air tertera pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil pengamatan pH, TDS, temperatur air pada tempat pertumbuhan tebu rawa No Parameter pengamatan Hasil pengamatan (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 pH 4 4 4 4 4 4 2 TDS (ppm) 8 7 7 6 8 6 3 Temperatur (°C) 28,2 29,5 29 30 30 29,6 Sumber: Data primer hasil pengamatan, 2012.

(2) Komponen udara

Curah hujan di wilayah Kabupaten Mappi belum dilakukan pemantauan secara khusus oleh Badan Meteorologi dan Geofisika. Oleh sebab itu dilakukan pendekatan dengan pengambilan data di wilayah Kabupaten Merauke. Letak Kabupaten Merauke berdampingan dengan Kabupaten Mappi, sebelum dilakukan pemekaran wilayah administrasi Kabupaten Mappi merupakan bagian dari Kabupaten Merauke dan memiliki agroklimat yang hampir sama. Curah hujan rata-rata bulanan dan tahunan selama lima tahun tertera pada Gambar 9.

Bulan rata- rata/ bulan (mm) Januari 256,8 Pebruari 327,8 Maret 457,8 April 279,4 Mei 170,4 Juni 88,4 Juli 38,2 Agustus 50,4 September 46 Oktober 145,5 November 130,8 Desember 391,5 Rata-rata/th (mm) 2.383 Sumber : Stasiun Meteorologi Mopah Merauke, 2012.

Gambar 9 Curah hujan rata-rata per bulan dan per tahun selama lima tahun (2008-2012) di wilayah Kabupaten Merauke dan sekitarnya.

Iklim adalah faktor utama yang berpengaruh terhadap distribusi dan menunjukan struktur adaptasi dari suatu tumbuhan (Parker 2006). Menurut teori Schmidt – Ferguson, klasifikasi iklim dilakukan dengan menentukan nilai Q yaitu perbandingan antara bulan kering (BK) dan bulan basah (BB) dikalikan 100%. Curah hujan tinggi atau BB curah hujan rata-rata per bulan lebih dari 100 mm, terjadi pada bulan Oktober sampai dengan bulan Mei, curah hujan rendah atau BK curah hujan rata-rata per bulan lebih kecil dari 60 mm terjadi pada bulan Juli sampai September dan bulan lembab (BL) curah hujan rata-rata antara 60-100 mm terjadi pada bulan Juni saja. Nilai Q=(BK/BBx100%), nilai Q=37,5%. Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt – Ferguson iklim yang dimiliki Kabupaten Mappi termasuk tipe iklim C yaitu daerah agak basah, hutan rimba, daun gugur pada musim kemarau .

(3) Komponen tanah

Analisa unsur hara dilakukan terhadap unsur C organik, nitrogen, potasium (K), fosfor (P) dan C/N rasio. Hasil analisa perbandingan C/N rasio adalah 7,95 lebih rendah dari standar SNI yaitu 10-20. Kandungan C/N rasio makin rendah menunjukan bahwa bahan organik terdekomposisi lebih baik dan menjadi humus, sehingga memberikan asupan unsur hara yang baik terhadap tumbuhan yang hidup di sekitarnya. Kandungan K 279,44 ppm dan P 280,90 ppm. Hasil analisa unsur hara dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Hasil pengujian laboratorium terhadap C/N rasio, C organik, nitrogen, potasium (K) dan fosfor (P) pada tanah dari dasar sungai tempat tumbuh tumbuhan tebu rawa

No Parameter Hasil Satuan Teknik analisis 1 C/N Ratio 7,95 - Dengan penghitungan

2 C Organik 1,67 % b/b Titrimetry (Chromat oxidation) 3 Nitrogen 0,21 % b/b Titrimetry (Kjeldahl)

4 Potassium (K) 279,44 ppm AAS

5 Fosfor (P) 280.90 ppm Spectrometry Sumber : Hasil pengujian laboratorium terpadu IPB, 2012.

B Komponen biotik

Komponen ekologi pada tempat pertumbuhan tebu rawa yang sifatnya biotik dilakukan pengamatan terhadap vegetasi yang tumbuh disekitar pertumbuhan tebu rawa baik yang ada di dalam perairan maupun di pinggiran

sungai dan binatang yang hidup di perairan di sekeliling pertumbuhan tebu rawa secara visual.

Vegetasi yang tumbuh bersamaan diperairan lingkungan tumbuh tebu rawa adalah padi rawa/rumput padi-padian (Oryza rufipogon), rumput pisau (Eleocharis dulcis), pandan (Pandanaceae) dan pohon gempol (Nuclea grandifolia DC). Sedangkan yang tumbuh di pinggiran sungai adalah bus putih/kayu putih (Melaleuca symphiocarpa ) (Boland et al

.

2006) dan sirka (Livistona benthamii) (Dowe 2010). Tumbuhan tebu rawa berkompetisi dengan tumbuhan jenis pandan, pada tempat tertentu apabila tumbuhan pandan tumbuh subur, tumbuhan tebu rawa tertekan dan populasinya menipis. Semakin dangkal perairan sungai tempat tumbuh tumbuhan tebu rawa, populasi semakin menurun dan akhirnya tidak ada sama sekali, namun sebaliknya pada padi rawa/rumput padi-padian (Oryza rufipogon) semakin dangkal pertumbuhannya semakin lebat.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat setempat perairan di bawah pertumbuhan tebu rawa digunakan binatang air sebagai tempat berlindung. Dibawah pertumbuhan tebu rawa tersebut air lebih jernih, hal ini disebabkan karena tumbuhan tebu rawa memiliki akar serabut dan bulu-bulu akar serabut yang padat dan rapat. Bulu-bulu akar tersebut juga berfungsi sebagai penyaring partikel yang larut di dalam air sungai tersebut. Sehingga ikan lebih menyukai hidup dibawahnya dan dijadikan tempat pemijahan ikan tawar. Menjadi kebiasaan masyarakat setempat dalam pencarian ikan cenderung memilih tempat di bawah pertumbuhan tebu rawa tersebut. Jenis binatang yang hidup di air tawar yang ada di bawah populasi tebu rawa antara lain kakap batu, gastor, betik, lele, gabus, duri, ikan sembilah, gurameh, arwana/kaloso, kura-kura, penyu dan buaya. Hasil pengamatan vegertasi dan binatang tertera pada Tabel 3.

Tabel 3 Hasil pengamatan vegetasi dan binatang yang dapat dilihat secara visual hidup di sekitar pertumbuhan tebu rawa

No Parameter pengamatan Hasil pengamatan (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Jenis vegatasi diperairan Rumput pisau, padi rawa Rumput pisau, padi rawa, pandan Rumput pisau, padi rawa, pandan Rumput pisau, padi rawa, pandan Rumput pisau, padi rawa, pandan Rumput pisau, padi rawa 2 Jenis vegetasi dipinggir sungai Sirka, kayu bus putih Sirka, kayu bus putih, pandan Sirka, kayu bus putih Sirka, kayu bus putih

3 Binatang air kakap batu, gastor, betik, lele, gabus, duri, ikan sembilah, gurameh, arwana/kaloso, kura-kura, penyu dan buaya. Sumber: Data primer hasil pengamatan, 2012.

2) Aspek taksonomi tumbuhan

Taksonomi tumbuhan adalah merupakan bagian utama dari sistematik. Taksonomi meliputi empat komponen yaitu diskripsi, identifikasi, nomenklatur dan klasifikasi. Divisi atau bagian di dalam sistem taksonomi disebut taxa (Simpson 2006). Morfologi adalah bentuk dasar dari diskripsi taksonomi (Parker 2004). Diskripsi adalah sifat atau atribut yang diberikan kepada suatu taxon, sifat ini disebut karakter. Identifikasi adalah proses dari penggabungan sesuatu yang takson belum diketahui dengan yang sudah diketahui, atau pengenalan sesuatu yang belum diketahui adalah baru untuk ilmu pengetahuan dan dijamin dengan diskripsi dan penamaan resmi. Nomenklature adalah penamaan formal dari taxa menurut sistem yang standar. Klasifikasi adalah pembentukan kelompok- kelompok dari seluruh tumbuhan hingga dapat disusun takson-takson secara teratur mengikuti suatu hierarki.

Diskripsi adalah karakter (Simpson 2006), sebagai dasar dari diskripsi taksonomi adalah morfologi. Dari morfologi tumbuhan dapat diidentifikasi karakter utamanya. Hasil pengamatan karakter tumbuhan tebu rawa adalah sebagai berikut:

(1) Batang

Tumbuhan tersebut memiliki batang memanjang secara horizontal tumbuh dibawah permukaan air, pada akhir batang berangsur-angsur mengecil dan tumbuh tegak keatas permukaan air, dan pada ujung batang tersebut tumbuh daun mengumpul secara lebat. Bentuk batang silindris, berukuran panjang lebih kurang 150 cm dan diameter berukuran lebih kurang antara 10-15 cm. Internode/antar buku pada batang cenderung pendek antara 2-3 cm, akar tumbuh lebat pada buku- buku batang tersebut. Warna kulit luar coklat kehitaman, sedangkan daging dalam batang putih kotor. Bentuk batang seperti pada tanaman talas memanjang. Pada batang utama diantara daun tumbuh sulur antara 1 – 4 sulur per batang, tumbuh menjalar horizontal. Batang dan sulur tumbuh mencari tempat yang sela sehingga kait mengait sangat kuat. Penampang melintang, buku-buku, bentuk dan cara hidup batang di bawah permukaan air seperti tertera pada Gambar 10.

Gambar 10 Penampang melintang batang, buku-buku, bentuk batang, akar pada batang dan letak pertumbuhan batang di bawah permukaan air dari tumbuhan tebu rawa.

(2) Sulur (stolon)

Sulur atau juga disebut runner adalah cabang dengan buku-buku panjang menjulur dibawah permukaan tanah. Karakter khusus sulur merupakan peralihan untuk menjadi plantlet/anakan baru. Ciri khusus sulur berfungsi sebagai perbanyakan vegetatif, akan tetapi sebagai peralihan plantlet sering menjadi terpisah dari tanaman induknya (Simpson 2006). Pada tumbuhan tebu rawa sulur tumbuh dari sela daun batang induk yang masih hijau menjulur horizontal dibawah permukaan air dengan dibungkus pelepah daun. Ujung dari sulur tumbuh tegak ke atas dan ditumbuhi daun yang mengumpul. Panjang sulur bisa mencapai 2-3 m; diameternya sekitar 3-4 cm. Buku-buku lebih lebar dibanding pada batang yaitu pada pangkal sulur sekitar 4 cm ketengah melebar sampai 11 cm; selanjutnya ke arah ujung menyempit lagi sekitar 7 – 8 cm. Sulur ini tumbuh horizontal ke segala arah sehingga saling bertumpukan dengan sulur yang lain tidak beraturan saling kait mengait. Kaitan tumbuhan tebu rawa tersebut sangat kuat sehingga sulit dipisahkan kecuali dipotong. Ayaman tumbuhan tersebut cukup kuat untuk menyangga perahu. Menurut mitosnya tumbuhan tersebut digunakan sebagai pertahanan armada suku pedalaman setempat untuk mempertahankan serangan dari musuhnya. Kaitan sulur maupun batang yang sangat kuat menyebabkan terhambatnya transportasi air sungai, sehingga sulit musuh untuk melewati halangan tersebut.

Gambar 11 Gambar ukuran perbandingan sulur dengan batangnya, beberapa ukuran sulur, tempat tumbuh sulur dari batang induknya, daun yang tumbuh tegak pada ujung sulur dan cara sulur tumbuh di bawah permukaan air dari tumbuhan tebu rawa.

(3) Daun

Daun adalah bagian tanaman yang tumbuh diatas permukaan tanah/air umumnya dorsiventrally flattened dan biasanya berfungsi untuk fotosintesis dan respirasi (Simpson 2006). Pada tumbuhan tebu rawa daun tumbuh pada ujung batang dan ujung sulurnya. Pada batang daun tumbuh pada pucuk batang yang meruncing, tumbuh tegak ke atas di atas permukaan air. Daun tumbuh menempel pada batang seperti pelepah, ke arah pucuk cenderung mengumpul. Helaian daun bagian bawah ukuran lebih sempit sekitar 5 cm dibanding bagian tengah daun makin lebar ukuran sampai 12 cm dan ke ujung semakin mengecil yang akhirnya meruncing, tumbuh tegak ke atas dan kaku. Warna daun yang lebih tua berwarna hijau tua, makin ke pucuk warna daun semakin muda. Panjang daun antara 1,5 – 2 m. Jumlah daun pada satu pucuk batang berjumlah sekitar 20 helai daun. Pelepah daun tumbuhnya berselang seling, jaraknya antar pelepah sekitar 0,5 cm dan mengumpul. Sedangkan pada sulur daun tumbuh dipucuk sulurnya tumbuh ke atas. Ukuran daun lebih kecil dibanding daun pada batang yaitu ukuran daun paling panjang sekitar 50 cm lebar pada tengah daun sekitar 7 cm.

Daun pada tumbuhan tebu rawa termasuk daun tunggal setiap pelepah daun menempel pada batang. Tipe tepi daun rata (Tjitrosoepomo 2007), permukaan daun tidak berbulu cenderung licin, ujung daun meruncing disebutnya

narrowly acute dimana ujung daun meruncing membentuk sudut < 45° (Simpson 2004). Vena pada daun memiliki patron paralel dimana vena utama dan cabang vena atau vena sekunder paralel satu sama lainnya dan berakhir pada pangkal daun. Secara umum disebut craspedodromous. Subtipenya parallelodromous

dimana dua atau lebih vena primer dan sekunder paralel satu sama lain, meliputi/menutup pucuknya (Simpson 2004). Bentuk daun, pangkal daun maupun ujung daun dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 12 Bentuk daun secara keseluruhan, bagian yang menempel pada batang, bentuk ujung daun kumpulan daun pada batang dan cara tumbuh daun pada batang dan sulur di atas permukaan air dari tumbuhan tebu rawa.

(4) Akar

Akar pada tumbuhan tebu rawa memiliki sistem perakaran serabut. Berdasarkan habitat tumbuhan, tebu rawa termasuk tumbuhan air yang memiliki perakaran tumbuh dan berkembang mengapung di bawah permukaan air, menuju ke bawah dasar sungai (Simpson 2006). Berdasarkan sifat melekat habitatnya, tumbuhan tebu rawa termasuk tumbuhan yang merekat dengan menggunakan alat perekat akar (Nugroho et al. 2006). Akar tumbuh di dalam air, pada batang utama akar tumbuh pada setiap buku batang, sedangkan di sulurnya akar tumbuh pada ruas bukunya kecuali ruas yang masih muda mendekati pucuknya akar belum numbuh. Pada batang utamanya akar serabut tumbuh berukuran besar, panjangnya bisa mencapai 75 cm, diameternya antara 7 mm dan memiliki bulu akar yang lebat. Pada sulurnya akar tumbuh pada buku-buku sulurnya berukuran lebih kecil dan tumbuh bulu akar. Warna akar pada kulit luar berwarna coklat tua, sedangkan bagian dalamnya berwarna putih kotor.

Gambar 13 Pertumbuhan akar pada batang, sulur dan penampang melintang akar dari tumbuhan tebu rawa.

(5) Buah

Batang bunga tumbuh dari bagian atas batang tanaman yang ditumbuhi daun mengumpul di atas selanjutnya muncul batang bunga yang tumbuh ke arah atas. Pada batang bunga utama tumbuh cabang pada setiap bukunya yang tumbuh secara horizontal berjumlah antara 5 sampai 6 cabang. Pada setiap buku, cabang berjumlah 3, setiap cabang tumbuh anak-anak cabang dan pada anak-anak cabang tersebut tumbuh buah. Cabang batang pada buku-buku tumbuh secara beraturan berselang-seling behadapan. Cabang bagian bawah tajuk melebar semakin ke atas bentuknya semakin mengerucut. Tipe pertumbuhan buah pada batang yang tajuknya dari bawah melebar makin ke atas mengerucut disebut penicle (Stern 2006).

Tipe cabang pada batang bunga (Simpson 2006) adalah diskripsi karakter kaitannya dengan posisi dari batang atau cabang, tetapi juga berdasarkan pada struktur batang, pertumbuhan dan orientasi. Stem habit mewakili kemampuan adaptasi dimana menambah survival dan reproduksi. Pada tumbuhan tebu rawa termasuk jenis acaulescent dimana tumbuhan terbuka dengan daun sebagai alat fotosintesis hanya tumbuh diatas tanah/permukaan air. Bentuk tipe cabang, anak cabang dan posisi buah dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 14 Bagian generatif tumbuhan tebu rawa dan bentuk susunan cabang pada batang bunga dari tumbuhan tebu rawa.

Klasifikasi, kingdom adalah divisi pertama dari taxa. Tumbuhan termasuk kingdom plantae, divisi spermophyta yaitu tumbuhan berbunga yang menghasilkan biji. Spermophyta dibagi menjadi 2 (dua) divisi yaitu

Gymnospermae dan Angiospermae. Tebu rawa termasuk divisi Angiospermae. Angiospermae adalah tumbuhan yang memiliki bunga dan biji yang selalu dilindungi oleh buah. Divisi Angiospermae dibagi menjadi dua yaitu

Monocotyledoneae dan Dicotyledoneae. Tumbuhan tebu rawa termasuk

monocotyledoneae karena memiliki satu cotyledon (embryonic leaf) di dalam biji, cabangnya terbentuk dari kumpulan fibrovasculer tanpa kulit luar kayu, dan memiliki akar serabut.

Sub divisi selanjutnya adalah Order, Family, Genus, Species, Form, Varietas/cultivar/clone (Parker 2004). Menurut Simpson (2006) Klasifikasi dari

Hanguana malayana adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Superdivision : Spermatophyta Phylum (Division) : Magnoliophyta Class : Liliopsida Subclass : Liliidae Order : Commelinales Family : Hanguanaceae Genus : Hanguana Blume

Species : malayana

3) Potensi tebu rawa

Tumbuhan tebu rawa mempunyai potensi yang terkandung pada daun, sulur dan batang. Untuk mengetahui lebih lanjut potensi yang dimiliki tumbuhan tersebut dilakukan analisa terhadap kandungan senyawa metabolisme primer dan sekunder.

Analisa senyawa primer

Senyawa primer adalah senyawa yang memiliki molekul besar seperti karbohidrat dan protein. Analisa senyawa metabolisme primer dilakukan secara kuantitatif pada batang dan sulur tumbuhan tebu rawa. Secara fisiologis batang

dan sulur tebu rawa menunjukan adanya indikasi terhadap kandungan senyawa primer. Selanjutnya dilakukan analisa untuk mengetahui kandungan senyawa primer secara kuantitatif. Analisa kandungan karbohidrat menggunakan metode phenol sulfat (spektrofotometer), analisa protein menggunakan methode Kjeldhal (titrimetri) dan analisa sukrosa, glukosa dan fruktosa menggunakan analisis High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Hasil analisa pada batang tanaman setiap 100 gran bahan segar mengandung karbohidrat sebesar 2,62%, dimana setiap berat 100 gram bahan padat mengandung 2,62 gram karbohidrat; kandungan protein sebesar 2,70%; sukrosa sebesar <0,01%; glukosa sebesar <0,01 % dan fruktosa sebesar <0,01%. Hasil analisa kuantitatif pada sulur tumbuhan tebu rawa diperoleh hasil kandungan karbohidrat sebesar 18,59%; protein sebesar 1,57%; sukrosa sebesar <0,01%; glukosa sebesar 0,50% dan fruktosa sebesar <0,38%. Hasil analisa kandungan senyawa primer secara kuantitatif tertera pada Tabel 4.

Kandungan karbohidrat pada sulur lebih besar dari pada pada batang, kandungan protein di batang lebih besar daripada di sulurnya. Sedangkan kandungan sukrosa, glukosa dan fruktosa rendah. Apabila dibandingkan dengan talas kandungan karbohidrat lebih rendah sedangkan kandungan protein pada tebu rawa lebih tinggi dari tumbuhan talas. Kandungan karbohidrat pada talas 77,9%, Sagu KH 94%, protein 0,2% (PSEKP 2011).

Tabel 4 Hasil analisa kandungan karbohidrat, protein, sukrosa, glukosa dan fruktosa pada batang dan sulur tumbuhan tebu rawa

Parameter Hasil analisa Satuan Teknik analisis Batang Sulur

Karbohidrat 2,62 18,59 % (b/b) Phenol Sulfat (Spektrofotometer) Protein 2,70 1,57 % (b/b) Kjeldhal (Titrimetri)

Sukrosa <0,01 <0,01 % (b/b) HPLC Glukosa <0,01 0,50 % (b/b) HPLC Fruktosa <0,01 0,38 % (b/b) HPLC Sumber : Hasil pengujian laboratorium terpadu IPB, 2012.

Analisa metabolisme sekunder

Untuk mengetahui adanya senyawa sekunder pada tumbuhan tebu rawa, maka langkah awal dilakukan analisa kualitatif terhadap kandungan senyawa alkaloid, hidroquinon, tanin, flavonoid, saponin, steroid dan triterpenoid pada daun, batang dan sulur tumbuhan tebu rawa.

Analisa pada daun diperoleh hasil adanya indikasi kandungan hidroquinon, tanin, flavonoid, saponin, steroid, sedangkan alkaloid dan tripenoid

Dokumen terkait