• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Iradiasi terhadap Kelimpahan BeberapaPatogen Tumbuhan

Iradiasi sinar gamma sebesar 50 Gy hingga 1000 Gy tidak mampu mengeliminasi E. carotovora, Pseudomonas kelompok fluorescent, dan C. personata pada umbi bawang merah. Masih ditemukan pertumbuhan bakteri pada media buatan dengan kepadatan koloni yang tinggi setelah perlakuan iradiasi (Gambar 5). Perkecambahan spora C. personata juga masih terjadi pada larutan yang mengandung dekstrosa dan L-arginin setelah perlakuan iradiasi (Gambar 6). Hal ini menunjukkan bahwa iradiasi dosis rendah hingga 1000 Gy belum mencukupi untuk mengeliminasi ketiga patogen.

Iradiasi dengan dosis 1500 Gy mampu mengeliminasi Pseudomonas

kelompok fluorescent pada umbi bawang merah. Namun hingga dosis 5000 Gy iradiasi tidak dapat mengeliminasi bakteri E. carotovora (Tabel 1). Jika dilihat dari kemampuannya bertahan hidup setelah iradiasi, E. carotovora lebih tahan dibanding Pseudomonas kelompok fluorescent. Hal ini sejalan dengan penelitian Spalding dan Reeder (1986) bahwa beberapa bakteri Pseudomonas kelompok fluorescent lebih rentan dibanding E.carotovora ketika diiradiasi hingga 1000 Gy pada buah tomat. Menurut Beraha et al. (1959), E. carotovora tetap tumbuh dan menyebabkan gejala busuk lunak pada kentang yang diiradiasi sinar gamma sebesar 4774 Gy.

Iradiasi dengan dosis 2000 Gy menyebabkan spora C. personata tidak berkecambah dalam larutan dekstrosa yang ditambah dengan L-arginin (Tabel 2). Hal ini menunjukkan bahwa untuk tujuan mengeliminasi C. personata pada umbi bawang merah, dosis iradiasi sinar gamma yang diperlukan minimal 2000 Gy. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Saleh et al. (1988) menunjukkan bahwa iradiasi sinar gamma sebesar 2900 Gy dapat menyebabkan cendawan

Curvularia geniculata menjadi tidak aktif. Iradiasi sebesar 1000 Gy sampai 3000 Gy pada miselium cendawan dapat digunakan untuk dekontaminasi spesies yang rentan dan tahan terhadap iradiasi.

Menurut Jitareerat et al. (2005) dan Beraha et al. (1959), iradiasi sebesar 2000 Gy pada buah pisang dapat mengeliminasi Colletotrichum musae, namun

21 hingga dosis iradiasi 4564 Gy tidak mampu membunuh dan mempengaruhi patogenisitas Fusarium spp. Konidia Fusarium sp. dan C. personata bersifat multiseluler dan memiliki dinding sel yang tebal. Struktur sel ini memberikan kontribusi pada ketahanan cendawan terhadap sinar gamma. Jika iradiasi dilakukan pada miselium, dosis iradiasi yang dibutuhkan akan lebih rendah. Konidia lebih tahan terhadap iradiasi dibanding miselium (Saleh et al. 1988).

Gambar 5 Pertumbuhan E. carotovora (a) dan Pseudomonas kelompok

fluorescent (b) setelah perlakuan iradiasi sinar gamma sebesar 1000 Gy. Koloni bakteri ditunjukkan dengan tanda panah.

Gambar 6 Perkecambahan spora C. personata pada larutan yang mengandung dekstrosa dan L-arginin setelah perlakuan iradiasi sinar gamma sebesar 225 Gy. (a) spora berkecambah; (b) spora tidak berkecambah.

22

Tabel 1 Kelimpahan bakteri E. carotovora dan Pseudomonas kelompok fluorescent setelah perlakuan beberapa dosis iradiasi

Dosis (Gy)

Kelimpahan bakteri (cfu/g)

E. carotovora Pseudomonas kelompok fluorescent Kontrol 1.2 x 105 1.0 x 108 50 2.0 x 104 8.1 x 107 75 1.7 x 104 6.8 x 107 100 1.7 x 104 5.7 x 107 125 6.5 x 103 4.7 x 107 150 5.0 x 103 5.5 x 107 175 3.6 x 103 4.7 x 106 200 2.7 x 103 3.7 x 106 225 2.1 x 103 2.0 x 106 1000 3.0 x 103 1.2 x 106 1500 1.0 x 103 0 2000 1.9 x 103 0 3000 1.6 x 103 0 4000 1.0 x 103 0 5000 1.5 x 103 0

Fusarium sp. dan C. personata merupakan spesies cendawan yang tahan terhadap iradiasi sinar gamma. Iradiasi sinar gamma dosis rendah (5 Gy sampai 250 Gy) pada Fusarium sp. menstimulasi produksi total protein dan asam amino. Peningkatan produksi protein dan asam amino memberikan pengaruh pada peningkatan ketahanan cendawan terhadap iradiasi (Geweely & Nawar 2006).

Iradiasi sinar gamma sebesar 526 Gy mampu menghambat pertumbuhan koloni C.

kikuchii dibanding tanpa iradiasi. Iradiasi dapat menginduksi terbentuknya variasi morfologi pada koloni, berupa penghambatan pembentukan pigmen ungu pada koloni cendawan. Namun demikian, iradiasi hingga dosis 526 Gy tidak mempengaruhi sporulasi C. kikuchii (Lo 1963).

Faktor lain yang mempengaruhi ketahanan mikroorganisme terhadap iradiasi sinar gamma adalah kandungan air pada umbi bawang merah. Penyerapan energi iradiasi oleh molekul air akan menghasilkan radikal bebas yang reaktif dan bereaksi dengan molekul organik seperti DNA di dalam sel patogen. Reaksi yang terjadi mengacaukan proses-proses biokimia di dalam sel sehingga mengganggu keseimbangan sel dan akhirnya menyebabkan kematian patogen (Skou 1971). Reaksi radikal bebas dari molekul air memberikan pengaruh tambahan pada

23 kerusakan sel patogen, selain pengaruh langsung dari energi iradiasi terhadap patogen. Kandungan air pada umbi bawang merah berkisar antara 80% hingga 83%, sehingga sebagian besar interaksi iradiasi dengan patogen terjadi secara tidak langsung.

Pada bawang merah yang telah diiradiasi masih ditemukan beberapa genus cendawan lain yaitu Aspergillus sp., Penicillium sp., Rhizopus sp., dan Fusarium

sp. Kelembaban ruang simpan setelah iradiasi berkisar antara 60% sampai 95% dengan suhu 22 oCsampai 34 oC. Pada tingkat kelembaban lebih dari 85% dapat merangsang perkembangan mikroba terutama cendawan (Badan Pengawas Obat dan Makanan 2004).

Aspergillus sp. merupakan kelompok cendawan yang resisten terhadap paparan iradiasi gamma. Untuk tujuan pengawetan beberapa jenis makanan, sterilisasi produk dari cendawan Aspergillus sp. biasanya menggunakan dosis iradiasi hingga 10.000 Gy. A. niger merupakan penyebab penyakit Black mold

pada umbi bawang merah. R. stolonifer merupakan penyebab penyakit mushy rot

pada bawang merah (Sumner 1999). P. hirsutum merupakan penyebab penyakit

blue mold pada umbi bawang putih dan bawang merah (Davis 1999). F. oxysporum merupakan penyebab penyakit Fusariumbasal plate rot pada bawang merah (Havey 1999).

Tabel 2 Perkecambahan spora cendawan C. personata setelah perlakuan beberapa dosis iradiasi

Dosis (Gy) Spora berkecambah (%)

Kontrol 20 225 7 1000 2 1500 1 2000 0 3000 0 4000 0 5000 0

Persentase Perkecambahan dan Daya Tumbuh Bawang Merah

Perlakuan beberapa dosis iradiasi sinar gamma terhadap bawang merah menunjukkan pengaruh yang berbeda pada persentase perkecambahan umbi.

24

Iradiasi sebesar 1000 Gy dan 225 Gy menyebabkan peningkatan persentase umbi berkecambah dibandingkan dengan kontrol masing-masing sebesar 46% dan 36%. Pada dosis 50 Gy dan 75 Gy, persentase umbi berkecambah lebih rendah dibandingkan dengan kontrol (Tabel 3). Pada dosis 50 Gy dan 75 Gy hanya ditemukan 10% dan 11% umbi berkecambah dibandingkan dengan kontrol sebesar 20%. Penggunaan iradiasi sinar gamma dengan dosis rendah dapat menghambat perkecambahan umbi, sedangkan iradiasi dengan dosis tinggi justru meningkatkan jumlah umbi berkecambah.

Persentase umbi berkecambah pada bawang merah yang tidak diberi perlakuan iradiasi (kontrol) tergolong rendah yaitu sebesar 20%. Hal ini disebabkan bawang merah yang digunakan sebagai bahan uji merupakan bawang merah konsumsi dengan kualitas yang rendah. Bawang merah untuk tujuan konsumsi biasanya sudah dipanen pada usia tanam kurang dari 55 hari, sedangkan untuk bibit pada usia tanam 60 sampai 80 hari. Selain itu, bawang merah konsumsi biasanya tidak dipilih dari tanaman yang sehat, seperti halnya bawang merah untuk tujuan sebagai bibit (Karno 2011). Daya kecambah dan daya tumbuh umbi pada usia tanaman muda relatif rendah. Hal ini berkaitan dengan pertumbuhan jaringan penunjang (supporting tissue) yang belum sempurna, berat kering umbi rendah, dan secara fisiologis umbi belum tua (Kamil 1979).

Tabel 3 Rerata perkecambahan umbi bawang merah 4 bulan setelah perlakuan beberapa dosis iradiasi

Angka dalam kolom yang sama diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5%.

Dosis (Gy) Perkecambahan (%)

Kontrol 20.33 cde 50 10.00 e 75 11.00 de 100 22.67 cd 125 17.00 cde 150 20.67 cde 175 17.67 cde 200 27.00 bc 225 36.00 ab 1000 46.33 a

25 Pengamatan umbi berkecambah dilakukan setiap minggu hingga 16 minggu. Iradiasi sebesar 50 Gy dan 75 Gy mampu menurunkan persentase umbi berkecambah mulai minggu ke-11 hingga minggu ke-16 atau 4 bulan penyimpanan (Gambar 7). Pada minggu pertama hingga minggu ke-8 iradiasi dosis 50 Gy dan 75 Gy lebih banyak menyebabkan umbi berkecambah, namun pada minggu berikutnya lebih rendah dibandingkan dengan kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan iradiasi sinar gamma sebesar 50 Gy dan 75 Gy dapat digunakan untuk menghambat perkecambahan bawang merah hingga 4 bulan penyimpanan.

Menurut Nouri dan Toofanian (2001), iradiasi sinar gamma dengan dosis rendah (100 Gy) dapat menghambat perkecambahan umbi hingga 7 bulan penyimpanan. Skou (1971) menyatakan bahwa iradiasi dosis 60 Gy sampai 120 Gy dapat menghambat perkecambahan umbi bawang bombai, sedangkan dosis 500 Gy sampai 5000 Gy menyebabkan stimulasi pada perkecambahan umbi.

Gambar 7 Perkecambahan umbi bawang merah 16 minggu setelah perlakuan beberapa dosis iradiasi.

Iradiasi sinar gamma dapat menimbulkan perubahan kimia ketika berinteraksi dengan materi atau benda. Saat berlangsungnya iradiasi maupun

0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 U m bi be rke c a m ba h ( % )

Waktu simpan (minggu)

Kontrol 50Gy 75Gy 100Gy 125Gy

26

setelah iradiasi selesai terjadi perubahan kimia akibat adanya eksitasi, ionisasi, dan reaksi-reaksi kimia (Badan Tenaga Nuklir Nasional 2009). Perubahan kimia yang terjadi pada sel hidup akan menghambat sintesis DNA sehingga proses pembelahan sel terganggu. Gangguan pembelahan sel ini menyebabkan proses kehidupan normal dalam sel juga terganggu. Sifat ini kemudian banyak dikembangkan untuk tujuan penghambatan perkecambahan umbi atau memperpanjang masa simpan umbi kentang dan bawang bombai (Skou 1971).

Perlakuan beberapa dosis iradiasi sinar gamma mempengaruhi pertumbuhan bakal tunas umbi bawang merah pada 30 hari setelah perlakuan. Perlakuan iradiasi sebesar 200 Gy sampai 1000 Gy cenderung merangsang pertumbuhan bakal tunas jika dibandingkan dengan tanpa iradiasi (Gambar 8). Namun pada iradiasi sebesar 50 Gy, pertumbuhan bakal tunas lebih rendah dibandingkan dengan kontrol dan dosis iradiasi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa iradiasi pada dosis rendah (50 Gy) mampu menghambat pertumbuhan bakal tunas umbi bawang merah. Iradiasi pada dosis 200 Gy atau lebih justru merangsang pertumbuhan bakal tunas umbi bawang merah.

Persentase umbi tumbuh normal pada dosis 1000 Gy lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan dosis 50, 75, 100, 150, 175, dan 200 Gy. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan iradiasi menggunakan dosis lebih dari 225 Gy cenderung meningkatkan persentase umbi yang tumbuh normal. Sedangkan pada dosis 50 Gy, persentase umbi tumbuh normal menurun jika dibandingkan dengan kontrol (Tabel 4). Pada umbi yang tumbuh normal, iradiasi dosis 50 Gy menyebabkan penurunan panjang tunas hingga 2 cm.

Iradiasi pada dosis 50 Gy dapat menurunkan jumlah umbi yang masih layak sebagai bibit tanaman. Pada dosis tersebut diperoleh persentase umbi tumbuh normal sebesar 78%, sedangkan standar daya kecambah untuk bibit yang baik harus dihasilkan umbi tumbuh normal minimal 80% (Kamil 1979). Sehingga iradiasi dosis 50 Gy dapat digunakan untuk menghindari penyalahgunaan bawang merah konsumsi menjadi bibit tanaman.

27

Gambar 8 Pertumbuhan bakal tunas umbi bawang merah pada 30 hari setelah perlakuan beberapa dosis iradiasi, a) kontrol; b) 50 Gy; c) 100 Gy; d) 150 Gy; e) 200 Gy; dan f) 1000 Gy. Pertumbuhan bakal tunas ditunjukkan oleh tanda panah.

Tabel 4 Pertumbuhan umbi bawang merah setelah perlakuan iradiasi

Dosis (Gy) Umbi tumbuh normal (%)* Tunas normal (cm)**

Kontrol 92.00 ab 6.2 50 78.25 e 4.2 75 83.00 cde 5.8 100 88.75 abcd 5.5 125 92.00 ab 6.0 150 85.50 bcde 6.3 175 82.25 de 6.0 200 83.25 cde 6.0 225 94.00 a 6.3 1000 90.75 abc 7.3

F hitung : 3.67 dan Pvalue : 0.003

Angka dalam kolom yang sama diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5%

*

Pengamatan selama 60 hari setelah perlakuan

**

28

Hasil pengamatan pertumbuhan kecambah bawang merah setelah ditanam di media tanah menunjukkan bahwa tunas pada umbi yang diiradiasi mengalami kelayuan pada semua dosis kecuali pada kontrol. Hal ini sesuai dengan pernyataan Borzouei et al. (2010) bahwa dosis antara 100 sampai 200 Gy dan lebih menyebabkan stimulasi sementara pada perkecambahan. Bakal tunas yang terpapar iradiasi mengalami peningkatan jumlah klorofil sebesar 64.5%.

Peningkatan jumlah klorofil tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan panjang tunas. Meskipun demikian pertumbuhan kecambah tidak berkembang lebih lanjut, layu, dan akhirnya mengalami kematian.

Kematian tunas umbi bawang merah setelah perlakuan iradiasi disebabkan oleh terhambatnya pertumbuhan akar pada umbi. Akar pada umbi berfungsi menambatkan umbi pada tanah dan menyerap air dari tanah (Kamil 1979). Fungsi akar dalam penyerapan air dan mineral tanah terganggu akibat pertumbuhan akar yang tidak normal. Pertumbuhan akar pada umbi yang tidak diiradiasi terlihat panjang, sedangkan akar pada umbi yang diiradiasi pada semua dosis terlihat pendek atau bahkan tidak tumbuh (Gambar 9). Kematian tunas pada umbi yang diiradiasi kemungkinan disebabkan oleh tidak tersedianya air dalam jumlah yang cukup untuk melanjutkan metabolisme sel jaringan tunas.

Gambar 9 Pertumbuhan akar umbi bawang merah setelah perlakuan iradiasi, a) kontrol; b) 50 Gy; c) 75 Gy; d) 100 Gy; e) 125 Gy; f) 150 Gy; g) 175 Gy; h) 200 Gy; i) 225 Gy; dan j) 1000 Gy.

29 Parameter yang terpenting dalam proses iradiasi adalah jumlah energi ionisasi yang terserap oleh produk target (dosis serap). Dosis serap yang dibutuhkan untuk mencegah pertunasan sangat bergantung pada kondisi pertanaman, periode dormansi bawang, kondisi perlakuan dan suhu penyimpanan setelah iradiasi. Umumnya dosis serap yang sesuai untuk menghambat pertunasan bawang merah berkisar antara 20 sampai 150 Gy. Jika iradiasi dilakukan pada saat 1 sampai 2 bulan setelah pemanenan, maka dosis serap yang sesuai berkisar antara 20 Gy sampai 70 Gy (Badan Pengawas Obat dan Makanan 2004). Iradiasi pada umbi yang tidak lagi dalam masa dorman justru akan meningkatkan pertunasan umbi. Iradiasi pada dosis lebih dari 80 Gy menyebabkan tunas-tunas akan tumbuh selama waktu tertentu tetapi kemudian layu dan akhirnya mengalami kematian (International Atomic Energy Agency 1997).

Persentase Umbi Layak Jual

Perlakuan beberapa dosis iradiasi sinar gamma terhadap bawang merah memberikan pengaruh yang berbeda pada persentase umbi layak jual. Iradiasi sinar gamma dengan dosis 225 Gy dan 1000 Gy menyebabkan penurunan persentase umbi layak jual jika dibandingkan dengan kontrol. Iradiasi sebesar 50 Gy sampai 75 Gy dapat meningkatkan masa simpan bawang merah, meskipun dalam analisis ragam tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (Tabel 5). Iradiasi dosis 50 Gy meningkatkan persentase umbi layak jual sebesar 8.7%. Peningkatan jumlah umbi yang layak jual berarti juga memperpanjang masa simpan bawang merah. Iradiasi dengan dosis 50 Gy dan 75 Gy mampu meningkatkan jumlah umbi layak jual mulai minggu ke-8 hingga minggu ke-16 (Gambar 10).

Penggunaan iradiasi sinar gamma dosis 225 Gy dan 1000 Gy menyebabkan penurunan persentase umbi layak jual jika dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan iradiasi dosis tinggi dapat mendorong peningkatan kebusukan dan pengaruh lain yang tidak dikehendaki yang merugikan pada iradiasi komersial (Matsuyama & Umeda 1983). Skou (1971) menyatakan bahwa peningkatan dosis iradiasi akan menyebabkan peningkatan kebusukan umbi di tempat penyimpanan.

30

Iradiasi sebesar 5000 Gy menyebabkan kebusukan yang parah pada umbi bawang bombai.

Tabel 5 Persentase umbi bawang merah layak jual setelah perlakuan iradiasi

Dosis Iradiasi (Gy) Umbi layak jual (%)*

Kontrol 74.667 ab 50 83.333 a 75 82.667 a 100 68.000 bc 125 74.000 ab 150 71.667 abc 175 72.667 abc 200 62.333 bc 225 56.667 c 1000 17.333 d

F hitung : 18.47 dan Pvalue : 0.000

Angka dalam kolom yang sama diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5%

*

Pengamatan selama 60 hari setelah perlakuan.

Gambar 10 Persentase umbi bawang merah layak jual setelah perlakuan iradiasi selama 16 minggu penyimpanan.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 U m b i la y ak j u a l (% )

Waktu simpan (minggu)

Kontrol 50Gy 75Gy 100Gy 125Gy

31 Kerusakan umbi setelah iradiasi berupa kebusukan terjadi karena adanya kematian sel akibat paparan iradiasi pada umbi bawang merah. Kematian sel akan menyebabkan disfungsi jaringan tanaman, kerusakan jaringan, hingga kebusukan jaringan tanaman (Badan Pengawas Obat dan Makanan 2004). Kandungan air yang tinggi pada umbi akan meningkatkan jumlah radikal bebas dari molekul air. Hal ini meningkatkan pengaruh tidak langsung terhadap sel tanaman akibat reaksinya dengan radikal bebas. Selain itu, umbi bawang merah yang telah diberi perlakuan iradiasi lebih rentan terhadap serangan mikroorganisme dari luar dibandingkan dengan yang tidak diiradiasi (Skou 1971).

Keefektifan iradiasi dalam mempertahankan daya simpan atau

meningkatkan jumlah umbi bawang merah yang layak jual bervariasi. Hal ini tergantung pada ukuran umbi, kondisi tanah dan iklim selama pertumbuhan di pertanaman. Kerusakan umbi dapat terjadi sejak di lahan selama pemanenan, pengeringan, selama pengangkutan ke gudang penyimpanan, dan selama pengemasan. Pemanenan secara mekanis dan penanganan yang kurang baik selama di pergudangan dapat memperberat kerusakan fisik, terutama memar pada umbi bawang merah (Badan Pengawas Obat dan Makanan 2004).

Kelayakan Teknik Perlakuan Iradiasi Sinar Gamma

Data kelimpahan patogen tumbuhan, persentase umbi berkecambah dan umbi layak jual setelah iradiasi menunjukkan bahwa tidak terdapat dosis iradiasi sinar gamma yang mampu memenuhi ketiga asumsi ideal. Untuk tujuan devitalisasi umbi dan meningkatkan persentase umbi layak jual, diperoleh dosis optimal sebesar 50 Gy. Namun dosis tersebut belum mampu mengeliminasi OPTK sasaran karena masih terdapat patogen tumbuhan model yang hidup (Gambar 11). Dosis yang mampu mengeliminasi patogen lebih besar dari 5000 Gy, tetapi dosis tersebut menyebabkan kerusakan pada umbi bawang merah.

Kaitannya dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18 Tahun 2008, iradiasi sinar gamma tidak dapat digunakan untuk memenuhi persyaratan impor bawang merah. Tidak terpenuhinya ketiga asumsi ideal menjadi dasar untuk tidak merekomendasikan iradiasi sinar gamma sebagai alternatif perlakuan karantina terhadap impor bawang merah untuk konsumsi ke Indonesia.

32

Iradiasi sinar gamma dapat digunakan untuk keperluan karantina pada kisaran dosis yang disesuaikan dengan jenis OPTK, dan tingkat kerentanan produk terhadap iradiasi. Perlakuan iradiasi sinar gamma dengan dosis rendah (kurang dari 1000 Gy) dapat menghambat perkecambahan umbi, pertunasan, pertumbuhan akar, menghambat pemasakan buah, membunuh serangga pada biji-bijian, buah, dan kacang-kacangan. Iradiasi pada dosis sedang (1000 Gy sampai 10.000 Gy) dapat menghilangkan mikroba termasuk patogen tanaman pada biji-bijian dan kacang-kacangan (Arvanitoyannis & Stratakos 2010b). Dosis iradiasi untuk tujuan karantina pada lalat buah (Tephritidae) telah ditetapkan sebesar 150 Gy, dan 400 Gy untuk semua serangga lain kecuali famili Lepidoptera. Perlakuan dosis radiasi tersebut berlaku untuk semua komoditas hortikultura bentuk segar (Follet 2001). Namun iradiasi sinar gamma dengan dosis lebih dari 1000 Gy tidak dapat digunakan untuk produk-produk segar seperti umbi bawang merah karena menyebabkan kerusakan umbi (International Atomic Energy Agency 1997).

Gambar 11 Perbandingan nilai ideal dan dosis iradiasi sinar gamma terhadap persentase umbi berkecambah, umbi layak jual, dan kelimpahan OPT setelah perlakuan.

0 2 4 6 8 10 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 ideal kont 50 75 100 125 150 175 200 225 1000 lo g cf u /g U m b i la y a k j u a l, k e c a m b a h , d a n k e li m p a h a n Ce rc o sp o ra ( % ) Dosis (Gy)

33

Dokumen terkait