Analisis Jaringan Distribusi Rantai Pasok Daging Sapi di Kota Bogor Struktur jaringan distribusi daging sapi pada umumnya memiliki beberapa karakteristik yang sama. Pola aliran dalam jaringan distribusi rantai pasokan daging sapi menunjukkan ada tiga aliran yang ada dalam pola tersebut yaitu berupa aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi. Aliran produk mengalir dari hulu hingga hilir yaitu dari peternak sapi potong hingga konsumen daging sapi. Aliran keuangan mengalir dari hilir ke hulu yaitu dari konsumen akhir daging sapi ke peternak sapi potong. Aliran informasi mengalir pada mata rantai secara timbal balik. Jaringan distribusi daging sapi yang terdapat di Kota Bogor umumnya mengikuti pola seperti yang ditunjukan dalam Value Stream Mapping yang disajikan pada Gambar 4.
Aliran Produk Pada Jaringan Distribusi Daging Sapi
Aliran produk merupakan aliran komoditas mulai dari hulu (upstream) dalam bentuk sapi hidup hingga ke hilir dalam bentuk daging (downstream). Pedagang Sapi Hidup mendapatkan pasokan yang berasal dari peternak lokal seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Lampung. Peternak lokal tidak langsung memasok pasokan sapi hidupnya langsung ke pedagang besar daging, tetapi dijual terlebih dahulu ke pedagang pengumpul yaitu pedagang sapi hidup. Selain dari peternak lokal, pasokan sapi juga diperoleh dari feedloter yang merupakan sapi impor. Sapi yang diimpor mayoritas berasal dari Australia. Importir sapi memasok sapi impor ke Feedloter yang terdapat dibeberapa wilayah di Indonesia. PT. Great Giant Livestock yang berlokasi di Kecamatan Terbanggi Besar Kabupaten Lampung Tengah menjadi pemasok terbanyak bagi RPH Kota Bogor. Dalam satu bulan, PT. Great Giant Livestock memasok 400 hingga 700 ekor sapi. PT. Rumpinari Agro Industri menjadi pemasok terbanyak kedua dengan jumlah pasokan 300 hingga 500 ekor sapi/bulan. Pemasok terbanyak ketiga adalah PT. Karyana Gita Utama yaitu sebanyak 200 hingga 300 ekor, sedangkan sisanya dipasok oleh beberapa feedloter lainnya, seperti PT. Widodo Makmur, PT. Lembu Jantan Perkasa, PT. Agrisatwa, PT. Tanjung Unggul Mandiri dan PT. Septia. Total sapi yang masuk ke RPH Kota Bogor mencapai 1000 ekor hingga 1500 ekor/ bulan, dengan rata-rata bobot karkas 200 kg hingga 250 kg/ekor.
24 v Pedagang Sapi hidup Peternak Lokal Harga Jual Sapi/kg : IDR 38 000
Pedagang Besar Daging Sapi I | 550-600 kg/hari/orang
Harga Jual Sapi/kg: 47 000
Harga Jual Sapi/kg : IDR 35 000
RPH Kota Bogor |
Sapi dipotong 30-50 ekor/ hari, kemudian didistribusikan Feedloter Pasar Anyar | 8 orang Pasar Bogor | 7 orang Harga Jual Daging Sapi/kg :
IDR 87 000
Pasar Bogor | 14 orang
Pasar Anyar | 19 orang
Pedagang Pengecer Daging Sapi | 45-60 kg/hari/orang Pasar Merdeka |
5 orang
Pasar Sukasari | 2 orang
Pasar Gunung Batu | 2
orang Pasar Jambu Dua | 6 orang Pasar Padasuka | 2 orang
Pasar Anyar | 16 orang
Pasar Jambu dua | 1 orang
Pasar Bogor| 14 orang
Pasar Merdeka | 1 orang
Harga Jual Daging Sapi/kg : IDR 110 000
Pedagang Besar Daging Sapi II| 200-250 kg/hari/orang
Rumah Tangga 10% Industri Kecil Menengah 60% Hotel, Restoran dan Katering 30% Konsumen Harga Jual Daging Sapi/kg :
IDR 120 000 Keterangan : Saluran 5 Operasi 1 6 Pasar : 2 7 3 8 4 9
Lead time 21 Jam
20 jam
13 jam 1 jam
Value Added time 13 Jam
Gambar 4VSM Saluran Pemasaran Daging Sapi di Kota Bogor
Harga Jual Daging Sapi/kg : IDR 80 000 Importir Frozen Meat Pemerintah
Berdasarkan Gambar 4, dapat diketahui bahwa aliran jaringan distribusi produk sapi hidup yang didapatkan oleh Pedagang Besar Daging Sapi I (PBDS I) mempunyai dua alternatif, yaitu dipasok oleh Pedagang Sapi Hidup atau membeli langsung dari Feedloter. PBDS I merupakan pedagang besar daging sapi yang pasokan awalnya berupa sapi hidup, kemudian dibawa ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) untuk dipotong menjadi karkas yang kemudian didistribusikan ke Pasar di Kota Bogor.
Jumlah sapi yang dipotong oleh masing-masing PBDS I berkisar antara satu ekor hingga sepuluh ekor, disesuaikan dengan prediksi jumlah permintaan pasar. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak RPH Terpadu Kota Bogor, rata-rata jumlah sapi yang dipotong dalam satu hari sebanyak 50 ekor. Pemotongan biasa dilakukan pada malam hari diantara pukul 22.00 hingga pukul 05.00. Kapasitas penampungan di RPH mampu menampung Sapi hidup sebanyak 400 ekor. Waktu tunggu sapi hingga dipotong maksimal lima hari terhitung sejak sapi tersebut masuk ke RPH. Prosedur pemotongan hewan secara benar harus sesuai dengan persyaratan kesehatan masyarakat veteriner (kesmavet), kesejahteraan hewan (animal walfare) dan syariah agama. Pihak RPH dalam proses rantai pasokan daging sapi berperan dalam melayani jagal untuk melakukan pemotongan dengan melakukan pemeriksaan terhadap sapi. Pemeriksaan dilakukan dua kali yaitu ante-mortem (pemeriksaan sebelum sapi dipotong) dan post-mortem (pemeriksaan setelah hewan dipotong). Namun, terkadang masih ditemukan pemotongan terhadap sapi betina meskipun ada kebijakan pemerintah terkait larangan pemotongan sapi betina. Penyimpangan terhadap kebijakan ini terjadi karena faktor harga sapi yang tinggi. Harga sapi jantan lebih mahal jika dibandingkan dengan harga sapi betina, sehingga tidak jarang ditemukan pengusaha daging melakukan pemotongan terhadap sapi betina.
Sapi yang telah dipotong dan telah berbentuk karkas, selanjutnya akan didistribusikan oleh PBDS I. PBDS I akan mendistribusikan daging sapi ke Pedagang Besar Daging Sapi II (PBDS II) atau langsung memasok kebutuhan konsumen akhir dengan pasokan yang cukup besar, seperti Industri Kecil Menengah (IKM) atau Hotel, Restoran dan Katering (Horeka). PBDS II merupakan pedagang besar daging yang membeli karkas dari PBDS I dalam jumlah pasokan berkisar antara 100kg hingga 250 kg/ hari dengan pengalaman berdagang lebih dari satu tahun. PBDS I mendistribusikan daging sapi ke PBDS II yang terdapat di pasar yang terdapat di Kota Bogor,beberapa wilayah di Kabupaten Bogor dan sekitarnya.
Pasar di Kota Bogor, dikelola oleh Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya. Terdapat 3 kriteria pasar, yaitu pasar besar, pasar sedang dan pasar kecil. Kriteria tersebut dikategorikan berdasarkan luas pasar dan jumlah pedagang yang terdapat didalam pasar tersebut. Pasar besar di Kota Bogor adalah Pasar Anyar dan Pasar Bogor, pasar sedang di Kota Bogor adalah Pasar Jambu Dua, Pasar Merdeka dan Pasar Sukasari, sedangkan yang termasuk Pasar Kecil adalah Pasar Gunung Batu dan Pasar Padasuka.
PBDS II pada umumnya menjual daging di Pasar Besar, yaitu Pasar Anyar dan Pasar Bogor. Setelah sapi dipotong dan telah berbentuk karkas, daging diantarkan ke kios-kios yang terdapat di Pasar tersebut. Kendaraan yang seharusnya dipakai untuk mengantarkan daging adalah kendaraan khusus pengantar daging, yang merupakan kendaraan pick-up dengan bak tertutup dan memiliki pendingin, dengan tujuan menjaga kualitas daging yang diantarkan sampai ketempat tujuan. Namun, selama proses penelitian berlangsung banyak terlihat daging sapi diantar menggunakan kendaraan pick- up dengan bak terbuka. Daging diletakan begitu saja tanpa menggunakan penutup. Waktu
26
pengantaran daging rata-rata pada malam hari atau dini hari. PBDS II akan mendistribusikan dagingnya ke pedagang pengecer maupun langsung ke konsumen akhir seperti IKM, Horeka atau Konsumen Rumah Tangga.
Pedagang Pengecer (PP), dengan kisaran volume penjualan mulai dari 25 kg hingga 100 kg/hari, baik di pasar besar, pasar sedang atau pasar kecil, mendapat pasokan daging sapi dari PBDS II, pasokannya dapat diantar atau diambil dari PBDS II sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan. Pedagang pengecer sebagian besar hanya mendistribusikan pasokan dagingnya khusus untuk konsumen rumah tangga. Jumlah pedagang daging sapi di Pasar Kota Bogor disajikan dalam Tabel 4.
Tabel 4 Jumlah pedagang daging di Kota Bogor
No. Lokasi Jumlah Pedagang
1 Pasar Anyar 43
2 Pasar Bogor 32
3 Pasar Jambu Dua 6
4 Pasar Merdeka 4
5 Pasar Sukasari 2
6 Pasar Gunung Batu 2
7 Pasar Padasuka 2
Sumber : Data Primer Oktober 2015
Konsumen daging sapi di Kota Bogor, berdasarkan hasil observasi sebagian besar merupakan industri kecil menengah dengan presentase 60%. Hotel, restoran dan katering berada pada posisi kedua yaitu 30%, dan sisanya merupakan konsumen Ibu Rumah Tangga yaitu 10%. Permintaan terhadap daging sapi dapat berubah pada musim-musim tertentu, seperti pada saat hari besar atau hari raya pada umumnya permintaan terhadap daging sapi meningkat. Secara keseluruhan, aliran produk mengalami perubahan bentuk, milik, lokasi dan waktu selama proses distribusi.
Operasi pasar adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah atau kerjasama pemerintah dengan lembaga usaha, untuk menghindari atau mengatasi terjadinya kenaikan harga suatu barang. Operasi pasar dilakukan dengan cara meningkatkan pasokan pada komoditas hingga terjadi keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Dalam arti yang lebih luas, operasi pasar berfungsi untuk meredam gejolak harga, dengan melakukan penjualan pada saat harga pasar naik dan melakukan pembelian pada saat harga menurun. Operasi pasar terutama dilakukan terhadap komoditas yang mempunyai nilai strategis, seperti daging sapi. Tindakan ini biasanya dilakukan pada waktu gejala kekosongan pasokan barang mulai terlihat. Operasi pasar dapat dilakukan sebagai kegiatan untuk mencegah kenaikan harga (preventif) atau upaya untuk menstabilkan harga (represif). Operasi pasar dilakukan agar harga yang terjadi berkisar antara harga pagu (ceiling price) dan harga dasar (floor price). Operasi pasar pada komoditas daging sapi di Kota Bogor dilakukan ketika menjelang hari raya. Operasi pasar dilakukan sehingga memotong rantai pasokan dari importir daging sapi beku yang dibeli oleh pemerintah dan langsung dijual ke konsumen akhir. Pemerintah berperan sebagai pedagang pengecer. Jumlah pembelian masing-masing konsumen pada saat operasi pasar pada umumnya dibatasi, yaitu 2 kg per orang.
Aliran Keuangan Pada Jaringan Distrbusi Daging Sapi
Aliran keuangan, merupakan perpindahan uang yang mengalir dari hilir ke hulu. Aliran keuangan mengalir dari konsumen hingga ke peternak sapi potong hidup. Berdasarkan Gambar 4 tentang pola aliran dalam jaringan distribusi daging sapi menunjukan bahwa keuangan mengalir dari feedloter/blantik ke peternak. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai dan akan terjadi transaksi apabila ada kesepakatan dan kesesuaian produk dengan harga yang ditawarkan oleh peternak. Aliran keuangan juga mengalir dari pedagang sapi ke feedloter. Pembayaran terhadap pembelian sapi potong dilakukan secara langsung di feedlot dimana sapi potong itu diperoleh. Pembelian sapi bisa dilakukan secara tunai maupun secara kredit. Perbedaan sistem pembelian ini dipengaruhi oleh kemampuan modal pembeli sapi, karena harga sapi saat ini relatif mahal. Sistem pembayaran pada pembelian sapi bisa dilakukan secara kredit sesuai dengan kesepakatan antara feedloter dan pedagang sapi. Terdapat pedagang sapi yang membeli sapi secara putus, terdapat pula pedagang sapi yang sudah menjadi kepercayaan feedloter dan hanya membayar sesuai dengan jumlah sapi yang sudah terjual.
Aliran keuangan mengalir juga dari pedagang besar daging sapi ke RPH terkait biaya retrbusi pemotongan. Aliran keuangan tidak berkaitan dengan produk, karena pihak RPH hanya berperan dalam melayani dan mengawasi pemotongan sapi potong, serta memastikan bahwa sapi yang dipotong memenuhi kriteria baik secara kesehatan maupun secara peraturan yang berlaku. Aliran keuangan terletak pada pembayaran retribusi sebesar IDR 25.000, biaya pemeriksaan kesehatan hewan (ante-mortem dan post-mortem) sebesar IDR 10.000, biaya tempat penampungan (paling lama 5 hari) IDR 8.000, biaya pakan hewan IDR 8.000/ekor/hari dan biaya pemeriksaan pengeluaran hewan IDR 5.000/ekor.
Aliran keuangan mengalir dari pedagang pengecer mengalir ke pedagang besar daging sapi. Terdapat dua jenis pembayaran yaitu pembayaran tunai diawal dan pembayaran tunai diakhir. Pembayaran tunai diawal artinya pedagang pengecer melakukan pembayaran sesuai dengan jumlah daging sapi yang dibeli, sedangkan pada sistem pembayaran di akhir artinya pedagang pengecer melakukan pembayaran setelah daging terjual.
Aliran keuangan yang berasal dari konsumen, baik pedagang bakso, hotel restoran dan katering atau konsumen rumah tangga mengalir ke pedagang pengecer atau ke pedagang besar. Konsumen biasanya sudah mempunyai langganan tersendiri dalam membeli daging sapi. Konsumen yang membeli daging dalam jumlah besar biasanya membeli langsung dari pedagang besar daging sapi di pasar besar. Konsumen biasanya merupakan pedagang bakso atau pengusaha rumah makan, hotel dan katering. Transaksi yang dilakukan secara tunai dan langsung ketika melakukan transaksi di pasar.
Aliran Informasi pada Jaringan Distribusi Daging Sapi
Aliran informasi merupakan aliran yang terjadi secara timbal balik, baik dari hulu ke hilir atau hilir ke hulu. Informasi yang mengalir berkaitan dengan stok sapi hidup, jumlah permintaan, harga sapi hidup, harga daging sapi maupun informasi terkait kebijakan dan peraturan dalam tata niaga daging sapi. Aliran informasi yang ada mengalir secara vertikal dan horizontal. Pada aliran vertikal terdapat koordinasi pada mata rantai yang berbeda yaitu antara peternak, feedloter, pedagang sapi, RPH, pedagang besar daging, pedagang pengecer dan konsumen. Pada aliran horizontal terjadi koordinasi pada sesama anggota mata rantai. Contoh dari koordinasi horizontal yaitu adanya koordinasi antar pedagang sapi terkait stok sapi yang terdapat di feedloter.
28
Terdapat beberapa aliran informasi yang mengalir secara vertikal antar mata rantai dalam rantai pasokan daging sapi, antara lain:
a. Antara Feedloter/Peternak dengan pedagang sapi
Aliran informasi yang terjadi antara Feedloter dan pedagang sapi berkaitan dengan jumlah sapi yang dibutuhkan oleh pedagang sapi untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Kecocokan harga dan kondisi sapi yang dibeli menjadi objek utama dalam komunikasi yang terjalin antara pedagang sapi dan feedloter. Walaupun tidak terikat dengan kontrak pedagang sapi pada umumnya sudah mempunyai langganan tersendiri, jika feedlot langganannya tidak mempunya stok yang sesuai dengan keinginan pedagang, baru pedagang tersebut akan mencari feedloter yang lain.
b. Antara pedagang sapi dengan pedagang besar daging sapi
Aliran informasi yang mengalir antara pedagang sapi dan pedagang besar daging sapi terkait dengan jumlah permintaan terhadap sapi yang siap dipotong di RPH. Sistem jual beli sapi juga dilakukan secara berlangganan. Masing- masing pedagang besar daging sapi sudah mempunyai langganan tersendiri. Para pedagang sapi juga berkomitmen untuk menjaga pasokan daging sapi secara kontinu. Apabila stok di pedagang sapi sedang tidak mencukupi kebutuhan, maka pedagang sapi akan berinisiatif untuk mencarikan stok tambahan untuk langganannya.
c. Antara RPH dengan pedagang besar daging sapi
Informasi yang mengalir dari pihak RPH ke pihak pedagang besar daging sapi yang memotong sapinya di RPH terkait dengan berbagai peraturan dan prosedur yang harus dilaksanakan baik sebelum proses pemotongan hewan, ketika proses pemotongan dan setelag proses pemotongan hewan. Pihak RPH juga harus memastikan bahwa sapi yang dipotong dalam keadaan sehat dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
d. Antara pedagang besar dengan pedagang pengecer
Aliran informasi antara pedagang besar dengan pedagang pengecer terkait dengan jumlah daging sapi yang akan diminta oleh pedagang pengecer untuk dijual lagi ke konsumen. Informasi yang mengalir khususnya dari pedagang pengecer yang melakukan sistem pembayaran di akhir, berkaitan dengan jumlah daging sapi yang terjual setiap harinya. Aliran informasi yang mengalir dari pedagang besar ke pedagang pengecer berkaitan dengan jumlah stok daging sapi dan harga daging sapi di tingkat pedagang pengecer.
e. Antara konsumen dengan pedagang besar dan pedagang pengecer
Konsumen daging sapi adalah orang yang melakukan pembelian terhadap daging sapi baik konsumen akhir maupun konsumen yang akan membeli daging dengan tujuan untuk dijual kembali setelah diolah. Konsumen daging sapi di Kota Bogor sebagian besar merupakan industri kecil menengah, disusul dengan hotel, restoran dan katering (horeka) dan konsumen rumah tangga. Aliran informasi terjadi antara konsumen ke pedagang pengecer dan konsumen ke pedagang besar terkait dengan jumlah permintaan daging sapi. Hubungan komunikasi akan mengalir antara pedagang besar ke konsumen dan dari pedagang pengecer ke konsumen terkait stok daging sapi, kualitas daging sapi dan harga daging sapi. Adanya informasi jumlah permintaan dari konsumen berpengaruh terhadap jumlah dan ukuran tubuh sapi yang dipotong. Karena informasi tersebut akan mengalir kepada pedagang besar agar mampu
memperkirakan jumlah daging yang harus dihasilkan dan disesuaikan dengan kondisi fisik atau berat sapi dalam kondisi hidup.
Upaya untuk mengoptimalkan ketiga aliran yang ada pada rantai pasokan daging sapi dapat dilakukan dengan pendekatan sistem dengan melibatkan beberapa pihak, seperti peternak, pedagang sapi potong, pedagang besar daging, pengecer, konsumen dan pihak pemerintah sebagai penentu kebijakan.
Persediaan sapi hidup di Kota Bogor belum mampu memenuhi kebutuhan konsumen, sehingga sebagian besar sapi didatangkan dari daerah lain atau dari luar negeri. Jumlah perbandingan sapi lokal dan sapi impor yang masuk ke RPH kota Bogor pada tahun 2012-2013 yaitu 60% sapi lokal 40% sapi impor, pada tahun 2013-2014 yaitu 40% sapi lokal dan 60% sapi impor, dan pada tahun 2014-2015 pasokan sapi lokal hanya 20% dan didominasi oleh sapi impor sebanyak 80%. Pada tahun 2015 ini juga sempat terjadi kelangkaan daging sapi, dikarenakan harga sapi yang melambung tinggi akibat pasokannya yang sangat terbatas dengan dikuranginya kuota impor sapi oleh pemerintah, akibatnya pedagang daging sapi di Kota Bogor tidak berjualan hingga 4 hari dan kegiatan distribusi daging di Kota Bogor dan beberapa kota besar lainnya terhenti. Kejadian tersebut juga tidak luput dari peran oknum importir yang mencari keuntungan berlebih dengan memanfaatkan situasi yang ada dan memaksa pemerintah untuk menambah kuota sapi impor lebih banyak lagi.
Berdasarkan pemetaan yang telah dilakukan dengan menggunakan value stream mapping terlihat jelas bahwa transportasi merupakan permasalahan utama dalam proses pasokan daging sapi. Waktu dan biaya terbesar dihabiskan dalam proses transportasi, terutama untuk sapi lokal yang berasal dari luar wilayah Jawa Barat yang transportasinya sebagian besar masih menggunakan truk dengan kapasitas 8-10 ekor sapi hingga 20-30 ekor sapi jika menggunakan truk fuso. Sapi impor yang menggunakan transportasi masal dengan menggunakan kapal laut khusus pengangkut hewan ternak yang mampu mengangkut sekitar 4000 ekor sapi siap potong dalam satu kapal. Kondisi sapi yang diangkut dengan jalur darat dengan perjalanan yang melebihi 200 km sudah tidak memadai apabila diangkut dengan menggunakan truk. Sapi akan mengalami penyusutan bobot hingga mencapai 8,75% per ekor. Jika rata-rata berat sapi 300 kg/ekor maka dengan harga sapi potong IDR 38.000/kg berat hidup, jumlah waste yang menjadi tambahan biaya bagi konsumen tanpa menghasilkan nilai tambah apapun adalah sebesar 26,25 kg/ekor atau IDR 997.500/ekor. Kota Bogor berada di provinsi Jawa Barat yang merupakan salah satu provinsi yang paling banyak mengkonsumsi daging sapi, bersama dengan DKI Jakarta dan Banten. Total kebutuhan konsumsi daging sapi dari tiga daerah tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari BPS tahun 2014 mencapai 60 ribu ekor/bulan dan dipasok oleh sapi lokal sebanyak 38 ribu ekor/bulan oleh peternak lokal dan sisanya oleh pasokan daging sapi impor. Karena tingginya biaya pembelian bahan baku dan biaya transaksi dalam proses distribusi daging sapi, tentunya berpengaruh terhadap daging sapi yang harus dibayar oleh konsumen.
Analisis Biaya Transaksi pada Rantai Pasok
Tingkat Efisiensi Pemasaran, Margin Pemasaran dan Distribusi Margin
Salah satu indikator untuk mengetahui tingkat keberhasilan rantai pasokan adalah dengan mengetahui efisiensi pemasaran (Emhar 2014). Menurut Daniel (2004), sistem pemasaran dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan produk dari produsen
30
hingga ke konsumen dengan biaya yang rendah (Aisyah et al. 2013) Disamping itu, pemasaran yang efisien apabila mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayarkan konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan pemasaran tersebut (Amirah et al. 2015). Sapi potong lokal yang masuk ke wilayah Kota Bogor, mayoritas berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sapi potong impor berasal dari Australia. Terdapat dua jenis pedagang sapi hidup, yaitu pedagang sapi yang membeli dengan sistem putus kepada feedloter, terdapat pula pedagang sapi yang ditunjuk oleh feedloter sebagai reseller dan jumlah uang yang dibayarkan sesuai dengan sapi yang terjual.
Sapi potong yang dijual oleh pedagang sapi hidup, kemudian dijual kepada pedagang besar daging sapi. Berdasarkan data BPS 2015, minimnya pasokan sapi melambungkan harga daging hingga IDR 130.000/kg. Dari 14.7 juta populasi sapi di Indonesia, 11 juta (75%) merupakan aset keluarga yang hanya dijual ketika ada keperluan mendesak. Sisanya, sekitar 3.7 juta (25%) merupakan milik perternakan dan hanya 2 juta yang dipasok ke pasar. Kebutuhan pasokan sapi pada tahun 2015, periode Januari- Agustus adalah 1.8 juta ekor, dipenuhi oleh pasokan lokal 1.5 juta ekor dan mengalami defisit sebesar 300 ribu ekor, dan impor menjadi satu pilihan yang tidak dapat dihindari untuk memenuhi kebutuhan pasokan sapi potong di Indonesia. Berdasarkan Value Stream Mapping yang disajikan dalam Gambar 4, terdapat beberapa alternatif saluran distribusi daging sapi untuk sampai ke konsumen akhir, yaitu :
1. Peternak lokal – Pedagang Sapi Hidup – PBDS I – Konsumen
2. Peternak lokal – Pedagang Sapi Hidup – PBDS I – PBDS II – Konsumen 3. Peternak lokal – Pedagang Sapi Hidup – PBDS I – PBDS II – PP – Konsumen 4. Feedloter – Pedagang Sapi Hidup – PBDS I – Konsumen
5. Feedloter – Pedagang Sapi Hidup – PBDS I – PBDS II – Konsumen 6. Feedloter – Pedagang Sapi Hidup – PBDS I – PBDS II – PP – Konsumen