• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran Penelitian

Peningkatan produksi daging sapi harus didukung dengan rantai pasok yang efektif dan efisien agar mampu terdistribusi dengan baik sehingga komoditas daging sapi dapat terjangkau oleh masyarakat. Rantai pasok yang efisien dapat terlihat dari selisih margin antara satu mata rantai dengan mata rantai lainnya, semakin kecil selisih margin, rantai pasok semakin efisien. Pada penelitian ini akan dilihat bagaimana pemetaan distribusi pasokan daging sapi yang masuk ke wilayah Kota Bogor, lalu akan dilakukan analisis biaya transaksi serta faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan saluran pemasaran oleh pedagang daging sapi yang berawal dari RPH hingga ke konsumen akhir di Kota Bogor. Kerangka pemikiran penelitian disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2 Kerangka Pemikiran Penelitian

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian berawal dari Rumah Pemotongan Hewan yang berada di Kota Bogor, kemudian ditelusuri pasokan yang berasal dari RPH hingga ke tujuh pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor, yaitu Pasar Anyar, Pasar Bogor, Pasar Jambu Dua, Pasar Sukasari, Pasar Gunung Batu, Pasar Merdeka dan Pasar Padasuka. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Juni 2015 – Oktober 2015.

Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data primer adalah metode survey dengan melakukan observasi langsung dan wawancara yang dipandu oleh kuesioner kepada pedagang besar dan pengecer daging sapi. Hal ini bertujuan

Faktor yang berpengaruh dalam pemilihan saluran pemasaran

Analisis Regresi Logistik Biner

Implikasi Manajerial untuk Stakeholders

Biaya transaksi pemasaran daging sapi

Pilihan saluran pemasaran

Value Stream Mapping

Analisis Margin dan Nilai tambah

Analisis Efisiensi Pemasaran Jaringan Distribusi Rantai Pasok Daging Sapi di Kota Bogor

16

untuk memperoleh gambaran jaringan distribusi rantai pasok daging sapi dari RPH hingga sampai ke konsumen di Kota Bogor. Kuesioner tidak diberikan langsung kepada responden, peneliti menggunakan kuesioner pada saat mewawancarai responden agar tidak terjadi kesalahan persepsi dan pertanyaan lebih tersusun dengan baik.

Metode Penentuan Responden

Untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama, yaitu membuat pemetaan terkait jaringan distribusi rantai pasok daging sapi di Kota Bogor, responden ditentukan dengan cara purposive sampling. Responden yang ditentukan dengan purposive sampling adalah seseorang yang dinilai memiliki kapabilitas dan informasi mengenai jaringan distribusi daging sapi di Kota Bogor. Responden ahli dalam penelitian ini adalah Kepala RPH Kota Bogor dan staf ahli yang bertanggung jawab untuk mengawasi dan melaksanakan kegiatan operasional di RPH Kota Bogor, Dinas Peternakan dan Pertanian Pemerintah Kota Bogor, Dinas Ketahan Pangan Kota Bogor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bogor dan PD. Pasar Pakuan Jaya Kota Bogor. Setelah melakukan wawancara mendalam dengan responden ahli, peneliti mengikuti alur saluran pemasaran dari pedagang daging sapi di Kota Bogor dengan cara snowball sampling. Penelitian dimulai dari pedagang daging sapi yang telah terdaftar menjadi pengguna jasa RPH Kota Bogor. Responden pada penelitian ini terdiri atas 45 orang pedagang daging sapi yang tersebar di 7 pasar tradisional di Kota Bogor, yaitu Pasar Anyar, Pasar Bogor, Pasar Merdeka, Pasar Sukasari, Pasar Jambu Dua, Pasar Gunung Batu dan Pasar Padasuka. Pemetaan metode penentuan responden dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3 Pemetaan metode penentuan responden

Penelitian dimulai dari pedagang daging sapi yang telah terdaftar menjadi pengguna jasa RPH Kota Bogor. Pedagang daging sapi, baik pedagang besar maupun pedagang pengecer tersebar di 7 Pasar yang berada di Kota Bogor. Penentuan responden dilakukan dengan cluster sampling, yaitu populasi dibagi ke dalam kelompok kewilayahan kemudian memilih wakil tiap-tiap kelompok. Jumlah responden didalam suatu kelompok ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah populasi pedagang daging di masing-masing pasar. Responden

Pasar Anyar Pasar Bogor Pasar Merdeka Pasar Sukasari Pasar Jambu Dua Pasar Padasuka Pasar Gunung Batu RPH Pedagang Besar

pedagang besar akan diwawancarai untuk menganalisis biaya transaksi, nilai tambah dan faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan saluran pemasaran. Biaya transaksi akan dianalisis mulai dari pedagang besar, pedagang pengecer hingga sampai ke saluran pemasaran yang dipilih oleh pedagang tersebut.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Pemetaan jaringan distribusi daging sapi di wilayah Kota Bogor dianalisis dengan metode Value Stream Mapping (VSM) (Hines et al. 1999). Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis (1) efisiensi pemasaran, (2) nilai tambah dalam rantai pasokan, dan (3) biaya transaksi. Faktor yang berpengaruh terhadap pemilihan saluran pemasaran yang dilakukan oleh pedagang daging sapi akan dianalisis dengan menggunakan regresi logistik biner. Perangkat lunak yang digunakan untuk mengolah data adalah Microsoft Excel 2010 dan SPSS 21.

Value Stream Mapping (VSM)

Value Stream Mapping (VSM) memeriksa nilai tambah dari setiap langkah dalam proses rantai pasok (supply chain). Value Stream Mapping (VSM) adalah sebuah prinsip yang pada intinya hampir sama dengan basic flowchart (diagram alir dasar), yang membedakan adalah VSM menemukan dan memetakan kegiatan yang memiliki nilai tambah (value added work) dan kegiatan yang tidak memiliki nilai tambah (non-value added work). Secara langsung VSM menyumbang keuntungan bagi perusahaan dengan mengurangi non-value added work (Rother et al. 1999).

VSM menganut konsep lean manufacturing, yang bertujuan untuk meminimalisir waste dan menciptakan nilai tambah yang lebih bagi pelanggan. Nilai didefinisikan sebagai sesuatu yang berupa proses atau kegiatan yang akan menimbulkan keinginan bagi konsumen untuk membayarnya. Konsep lean (ramping) pada saat ini didefinisikan sebagai suatu cara pandang terhadap segala kegiatan dalam proses pasokan dengan memetakan aktifitas yang terjadi dalam proses pasokan dan menghilangkan waste yang terdapat dalam aktifitas tersebut (Colgan et al. 2013). Kunci utama dalam menerapkan konsep VSM adalah untuk melihat setiap proses kegiatan dalam pasokan adalah bagian dari aliran nilai dan mencari nilai yang dihasilkan dari aktifitas tersebut serta mengoptimalkan nilai yang terdapat pada sepanjang rantai pasokan.

VSM dibuat berdasarkan Five principles of Lean thinking (Womack dan Jones 2003) yaitu :

1. Value in the eye of the customer (nilai yang terlihat di mata konsumen). Nilai yang terlihat pada mata konsumen merupakan titik awal dari konsep lean. Dalam membuat suatu VSM hal yang pertama dilakukan adalah mampu memahami makna dari nilai yang diinginkan oleh konsumen. Nilai yang diinginkan merupakan suatu visi dari sebuah VSM. Mulai dari proses produksi produk dan metode yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk yang lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan konsumen.

2. Working in value streams (bekerja dalam aliran nilai) yaitu membuat, mengatur dan melakukan perbaikan dalam sepanjang aliran nilai.

18

3. Maximize the flow and pull (maksimisasi aliran dan tarikan), aliran produk, informasi dan keuangan yang mengalir tanpa henti dengan mengeliminasi waste dalam antrian, pergerakan, proses transportasi, persediaan, produk cacat, kelebihan produksi dan proses-proses yang tidak dibutuhkan. Semakin cepat produk sampai ke tangan konsumen semakin rendah biaya yang dikeluarkan.

4. Empower the people in the stream (memberdayakan pelaku dalam aliran), merupakan tugas utama dari stakeholder yang mengatur jalannya aliran nilai. Setiap proses harus mempunyai standarisasi agar kualitas yang dihasilkan seragam. Pengelolaan yang baik memungkinkan untuk pengambilan keputusan di tingkat yang lebih rendah, memberikan pelatihan untuk mencari akar permasalahan dan menyelesaikannya bagi setiap pelaku dalam pasokan. Serta, memberdayakan pelaku pasokan untuk melakukan lean improvement pada setiap melakukan kegiatan dalam proses pasokan. 5. Continue lean improvement until every process is 100% value add

(melanjutkan lean improvement hingga setiap proses menghasilkan nilai). Konsep lean merupakan strategi bisnis jangka panjang, bukan merupakan suatu inisiatif taktis dalam menghemat biaya. Lean improvement dihasilkan dari setiap perubahan kecil yang dilakukan setiap proses pasokan menuju aliran nilai yang lebih optimal. Konsep Plan – do – check – act merupakan metode ilmiah untuk menyelesaikan permasalahan dan perbaikan.

Analisis Efisiensi Pemasaran

Pengujian ini dapat dilakukan dengan menggunakan konsep efisiensi pemasaran dimana efisiensi pemasaran merupakan perbandingan antara total biaya dengan total nilai produk yang dipasarkan, sehingga dapat dirumuskan (Soekartawi, 1989):

�� = �� ×

Keterangan : EP : Efisiensi Pemasaran (%) TB : Total Biaya (Rp) TNP : Total Nilai Produk (Rp)

Penarikan kesimpulan dapat dilihat berdasarkan perbandingan nilai efisiensi pemasaran (EP) dimana rantai pasokan yang memiliki tingkat efisiensi pemasaran lebih tinggi adalah rantai pasokan yang memiliki nilai efisiensi pemasaran (EP) lebih kecil. Langkah selanjutnya untuk mengetahui efisiensi pemasaran dapat dilihat berdasarkan nilai distribusi margin pemasaran pada rantai pasokan daging sapi. Pengujian dapat dilakukan dengan menggunakan analisis margin pemasaran dan distribusi margin. Berikut adalah rumus untuk perhitungan margin pemasaran dan distribusi margin pemasaran (Rahim dan Hastuti, 2007):

1. Rumus margin pemasaran sapi potong hidup

� = �� − �

Keterangan :

MP : margin pemasaran (rupiah per ekor)

Pr : harga di tingkat pedagang besar (konsumen sapi hidup) Pf : harga di tingkat feedloter (rupiah per ekor)

2. Rumus margin pemasaran daging sapi

� = �� − �

Keterangan :

MP : margin pemasaran (rupiah per kg)

Pr : harga di tingkat konsumen daging (rupiah per kg) Pf : harga di tingkat pengusaha daging (rupiah per kg)

3. Rumus distribusi margin pemasaran sapi potong - Share biaya SBij= [Cij / (Pr – Pf)] x 100% - Share keuntungan SKj= [Pij/(Pr-Pf)] x 100% Pij = HJj-HBj-Cij Keterangan :

SBij : persentase biaya transaksi ke-i oleh lembaga pemasaran ke-j (%).

Cij : biaya transaksi ke-i oleh lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

SKj : persentase keuntungan lembaga pemasaran ke-j (%)

Pij : keuntungan lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

HJj : harga jual lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

HBj : harga beli lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

4. Rumus distribusi margin pemasaran daging sapi - Share biaya SBij= [Cij / (Pr – Pf)] x 100% - Share keuntungan SKj= [Pij/(Pr-Pf)] x 100% Pij = HJj-HBj-Cij Keterangan :

SBij : persentase biaya transaksi ke-i oleh lembaga pemasaran ke-j (%).

Cij : biaya transaksi ke-i oleh lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

SKj : persentase keuntungan lembaga pemasaran ke-j (%)

Pij : keuntungan lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

HJj : harga jual lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

HBj : harga beli lembaga pemasaran ke-j (rupiah per ekor)

Nilai margin pemasaran digunakan untuk mengetahui nilai share biaya dan share keuntungan setiap mata rantai. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan melihat shared value yang berkaitan dengan penerimaan nilai sebagai timbal balik dari kontribusi yang diberikan setiap mata rantai (Emhar et al. 2014).

Analisis Nilai Tambah

Analisis nilai tambah dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai tambah akibat proses pemotongan terhadap sapi potong hidup. Hasil pemotongan sapi berupa daging sapi sebagai produk utama (primary product) dan output lain sebagai side product seperti kepala, kulit, kaki, ekor, hati dan paru. Perhitungan nilai tambah produk dilakukan dengan mengkonversikan harga jual primary product dan side product dengan harga pasaran daging sapi setiap satu kilogramnya. Bentuk formulasi dari konversi adalah sebagai berikut (Emhar et al. 2014) :

20

Konversi Harga Produk (kg) = Penjualan Produk Harga 1 kg daging sapi

Nilai tambah diperoleh dari nilai output dikurangi dengan harga bahan baku dan harga input lain. Disamping itu, nilai tambah adalah nilai yang terdiri dari pendapatan tenaga kerja dan keuntungan yang diperoleh, sehingga dapat diformulasikan sebagai berikut:

VA = Nilai Output – Nilai Input Atau

VA = Biaya TK + π

Keterangan :

VA : value added atau nilai tambah pada hasil pemotongan sapi hidup menjadi primary product dan side product (Rp/kg)

Nilai output: nilai penjualan primary product dan side product (Rp/kg)

Nilai input : nilai bahan baku dan nilai input lain (tidak termasuk biaya tenaga kerja) yang menunjang proses pemotongan sapi (Rp/kg)

π : keuntungan yang diterima dari proses pemotongan (Rp/kg)

Biaya TK : pendapatan tenaga kerja langsung pada proses pemotongan (Rp/kg)

Nilai margin pemasaran digunakan untuk mengetahui nilai share biaya dan share keuntungan setiap mata rantai. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan melihat shared value yang berkaitan dengan penerimaan nilai sebagai timbal balik dari kontribusi yang diberikan setiap mata rantai (Emhar et al. 2014). Metode Hayami digunakan untuk menganalisis biaya transaksi dan nilai tambah pada rantai pasok. Adapun prosedur perhitungan analisis nilai tambah dengan metode Hayami dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Analisis biaya transaksi dan nilai tambah dengan menggunakan Metode Hayami

No Variabel Nilai

Output, Input dan Harga

1. Output (Kg) (a)

2. Input Bahan Baku (Kg) (b)

3. Input Tenaga Kerja (HOK) (c)

4. Faktor Konversi (d) = (a)/(b)

5. Koefisien TKL (HOK/Kg) (e) = (c)/(b)

6. Harga Output (IDR/Kg) (f)

7. Rata-rata upah tenaga kerja (IDR/HOK) (g)

Penerimaan dan keuntungan (IDR/Kg Bahan Baku)

8. Harga Input (IDR/Kg) (h)

9. Sumbangan Input lain (Biaya Transaksi)

No Variabel Nilai

Biaya RPH (IDR/Kg)

Biaya Retribusi Pasar (IDR/Kg) Biaya Listrik (IDR/Kg)

Biaya Sewa Kios/hari (IDR/Kg) Biaya Lain-lain (IDR/Kg)

Total Biaya Transaksi (IDR/Kg) (i)

10. Nilai Output (IDR/Kg) (j) = (d) x (f)

11. Nilai Tambah (IDR/Kg) (k) = (j) – (i) – (h)

Rasio Nilai Tambah (l) = (k)/(j)

12. Pendapatan Tenaga Kerja (m) = (e) x (g)

Imbalan Tenaga Kerja (n) = (m) / (k)

13. Keuntungan (o) = (k) – (m)

Tingkat Keuntungan (p) = (o) / (j)

Balas Jasa Faktor Produksi (IDR/Kg Bahan Baku)

14. Marjin (IDR/Kg) (q) = (j) – (h)

Pendapatan TKL (%) (r) = (m)/(q)

Sumbangan input lain (%) (s) = (i)/(q)

Keuntungan perusahaan (%) (t) = (o)/(q)

Sumber: Hayami dalam Emhar et al. 2014

Analisis Pilihan Saluran Pemasaran Daging Sapi

Analisis ini digunakan untuk melihat kecenderungan saluran pemasaran yang dipilih oleh pedagang dalam menjual daging sapi. Keputusan memilih saluran pemasaran merupakan keputusan penting dalam manajemen, termasuk manajemen rantai pasok. Teori saluran pemasaran memberikan insentif baik kepada upstream actors (sebagai contoh peternak) maupun downstream actors (sebagai contoh pedagang pengumpul dan pedagang lainnya) untuk membangun komunikasi dan hubungan untuk mengurangi ketidakpastian pasar dan berpeluang untuk merespon perubahan permintaan konsumen (Dilana 2013). Analisis pilihan saluran pemasaran pada daging sapi di Kota Bogor dilakukan dengan metode analisis regresi logistik biner.

Regresi logistik biner adalah analisis statistika yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara peubah respon yang berskala kategori biner dengan satu atau lebih peubah penjelas yang berskala kategori atau kontinu. Pada model regresi logistik tidak diperlukan adanya pengujian asumsi (Hosmer & Lemeshow 2000) yaitu uji normalitas dan uji asumsi klasik. Hosmer dan Lemeshow (2000) menjelaskan bahwa model regresi logistik dibentuk dengan menyatakan nilai E

(Y=1|x) sebagai π(x), dimana π(x) dinotasikan sebagai berikut: � � = [ + � � � � ]

22

Fungsi regresi di atas berbentuk non linier sehingga untuk membuatnya menjadi fungsi linier dilakukan transformasi logit sebagai berikut (Agresti 1990):

� � [� � ] = � [ − � � ] = �� �

Pengujian Parameter

Pengujian terhadap parameter model dilakukan sebagai upaya untuk memeriksa peranan peubah penjelas yang ada di dalam model. Menurut Hosmer & Lemeshow (2000), untuk mengetahui peran seluruh peubah penjelas di dalam model secara simultan dapat digunakan statistik uji-G. Hipotesis yang diuji adalah:

H0: 1= 2=…= p =0

H1: paling sedikit ada satu i ≠0, i=1,2,…,p Statistik uji-G didefinisikan sebagai:

� = − � [ ]

dimana L0 adalah fungsi kemungkinan maksimum tanpa peubah penjelas,

dan Lp merupakan fungsi kemungkinan maksimum dengan p peubah penjelas. Hipotesis nol ditolak jika G > X2p(α) (Hosmer & Lemeshow 2000). Uji nyata

parameter secara parsial yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik uji Wald. Statistik uji Wald didefinisikan sebagai berikut:

� = � �

Hipotesis nol ditolak jika �> Zα/2 Interpretasi Koefisien

Interpretasi koefisien untuk model regresi logistik adalah dengan melihat rasio oddsnya. Rasio odds (Ψ) adalah rasio peluang kejadian sukses dengan kejadian tidak sukses dari peubah penjelas terhadap peubah respon. Koefisien model logit ( ) mencerminkan perubahan nilai fungsi logit g(x) untuk perubahan satu unit peubah penjelas x. Rasio odds dapat didefinisikan sebagai:

� �

− � � = exp[ + �] �

misalnya x1=1 dan x2=0 merupakan nilai dari x, maka:

Ψ = exp[ � − � ]

dimana rasio odds Ψ = exp( i) ketika x1=1 dan x2=0.

Rasio odds untuk peubah kategorik menjelaskan bahwa kategori x=1

memiliki kecenderungan untuk terjadi y=1 sebesar Ψ kali dibandingkan kategori

x=0. Sedangkan jika peubahnya berskala numerik, maka interpretasinya setiap kenaikan satu satuan pada peubah x maka kecenderungan untuk terjadinya y=1

Dokumen terkait