EVALUASI HASIL DAN KUALITAS HASIL 14 GENOTIPE CABAI (Capsicun annuum L.) DAN KERAGAMAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakterisasi Daya Hasil 14 Genotipe Tanaman Cabai.
Hasil karakterisasi daya hasil dari 14 genotipe tanaman cabai yang telah digalurkan sedemikian rupa sehingga memenuhi syarat homosigositas dilakukan untuk karakter kuantitatif dan kualitatif khusus daya hasil berdasarkan Descriptors for Capsicum (IPGRI 1985). Karakter kuantitatif yang dimaksudkan adalah panjang buah, tebal daging buah, bobot per buah dan bobot buah per tanaman. Hasil analisis ragam karakter kuantitatif tersebut disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Kuadrat Tengah Karakter Panjang Buah, Tebal Kulit Buah, Bobot per Buah dan Bobot Buah per Tanaman pada Beberapa Genotipe Tanaman Cabai Sumber Keragaman Derajat Bebas Panjang Buah Tebal Daging Buah Bobot per Buah Bobot Buah per Tanaman Ulangan 1 0,28tn 0,07tn 0,56tn 7,58tn Genotipe 13 20,69** 0,33** 18,43** 22978,72* KK (%) 8,07 8,05 11,52 25,36
Keterangan : **: nyata pada taraf 1 %, *: nyata pada taraf 5%, tn: tidak nyata
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan seperti terlihat pada Tabel 3, genotipe menunjukan pengaruh nyata untuk semua karakter kuantitatif yang diamati. Hal ini mengindikasikan adanya perbedaan yang cukup berarti diantara 14 genotipe pada populasi yang diamati. Perbedaan ini menjadi sumber keragaman yang sangat penting dalam program pemulian tanaman khususnya dalam rangka menyeleksi genotipe-genotipe tertentu yang akan dijadikan tetua untuk pelaksanaan progam pemuliaan tanaman selanjutnya. Hasil analisis juga memperlihatkan ulangan tidak memberikan pengaruh yang nyata untuk semua karakter kuantitatif yang diamati.
Nilai tengah 14 genotipe tanaman cabai untuk karakter panjang buah, tebal daging buah, bobot per buah dan bobot buah per tanaman disajikan pada Tabel 4.
Hasil analisis terhadap karakter panjang buah 14 genotipe tanaman cabai dengan menggunakan DMRT menunjukkan perbedaan yang nyata. Panjang buah genotipe-genotipe cabai ini berkisar antara 3,41 cm yang terbentuk pada genotipe-genotipe IPB C20, hingga 13,90 cm pada genotipe IPB C128, dengan nilai tengah sebesar 10,20 cm. Genotipe IPB C20 tergolong jenis cabai rawit, memiliki ukuran panjang buah yang tidak berbeda nyata dengan ukuran panjang buah yang terbentuk pada genotipe IPB C10 yang juga tergolong dalam jenis cabai rawit.
Tabel 4. Nilai Tengah Karakter Panjang Buah, Tebal Daging Buah, Bobot per Buah dan Bobot Buah per Tanaman pada Beberapa Genotipe Tanaman Cabai Genotipe Panjang Buah
(cm)
Tebal Daging Buah (mm)
Bobot per Buah (g)
Bobot Buah per Tanaman (g) IPB C2 12,34 abcd 2,09abc 7,01de 371,49ab
IPB C9 9,20 ef 1,49e 5,78efg 393,46ab
IPB C10 3,51 g 0,98f 0,89i 102,69c
IPB C14 8,29 f 1,75cde 4,87fg 428,66a
IPB C15 10,70 cde 1,79cde 5,73efg 469,52a
IPB C19 13,18 ab 2,21a 11,10a 379,34ab IPB C20 3,41 g 1,83bcde 2,44h 193,97bc IPB C105 10,64 de 1,54de 4,27g 359,68ab IPB C110 12,64 abc 1,14f 2,53h 329,96ab IPB C128 13,90 a 2,03abc 9,38bc 439,11a IPB C129 10,37 de 2,15ab 8,32cd 501,91a IPB C130 11,53 bcd 2,28a 10,20ab 372,34ab IPB C131 11,52 bcd 1,85bcd 5,99ef 459,23a IPB C132 11,57 bcd 2,26a 7,89cd 335,15ab Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama
tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan DMRT
Panjang buah yang dihasilkan pada genotipe IPB C128 tidak berbeda nyata dengan ukuran panjang buah yang dihasilkan pada genotipe IPB C2, IPB C19 dan IPB C110. Genotipe-genotipe yang memiliki buah dengan ukuran panjang ini
tergolong dalam jenis cabai besar, semi keriting dan cabe keriting. Tebal daging buah merupakan salah satu karakter yang menentukan besarnya nilai produksi tanaman cabai. Apabila genotipe-genotipe memiliki tebal daging buah yang berbeda maka bobot buah yang dihasilkan akan berbeda walaupun ukuran panjang buahnya sama.
Berdasarkan hasil analisis yang disajikan pada Tabel 4, nilai tengah dari karakter tebal daging buah adalah sebesar 1,81 mm. Daging buah cabai yang paling tipis adalah 0,98 mm yang terbentuk pada genotipe IPB C10 (cabai rawit) tidak berbeda nyata dengan tebal kulit buah yang tebentuk pada genotipe IPB C110 (cabai keriting) sebesar 1,14 mm. Kulit buah yang paling tebal terbentuk pada genotipe IPB C130 yaitu sebesar 2,28 mm tidak berbeda nyata dengan tebal kulit buah yang terbentuk pada genotipe IPB C132 (2,26 mm), IPB C19 (2,21 mm), IPB C129 (2,15 mm), IPB C2 (2,09 mm) dan genotipe IPB C128 (2,03 mm).
Hasil analisis 14 genotipe tanaman cabai memperlihatkan nilai tengah bobot per buah cabai adalah sebesar 6,17 g. Bobot per buah genotipe-genotipe ini berkisar antara 0,89 g (IPB C10), hingga 110,95 g (IPB C19). Bobot per buah yang rendah terdapat pada genotipe IPB C10, berbeda nyata dengan 13 genotipe lainnya, disebabkan genotipe ini termasuk dalam jenis cabai rawit yang secara anatomi memiliki bentuk buah dengan ukuran yang kecil. Genotipe IPB C20 juga tergolong jenis cabai rawit namun memiliki ukuran buah yang lebih besar dan daging buah yang lebih tebal dari genotipe IPB C10 sehingga bobot per buahnya juga menjadi lebih besar. Bobot per buah cabai yang tertinggi yang terbentuk pada genotipe IPB C19, tidak berbeda nyata dengan bobot per buah yang terbentuk pada genotipe IPB C130 (101,95 g). Kedua genotipe ini tergolong jenis cabai besar.
Hasil analisis bobot buah per tanaman memperlihatkan nilai tengah bobot buah per tanaman adalah sebesar 366,89 g, dengan kisaran berat antara 102,69 g (IPB C10) hingga 501,91 g (IPB C129). Genotipe IPB C10 yang memiliki bobot buah per tanaman terkecil ini, tidak berbeda nyata dengan bobot buah per tanaman yang terbentuk pada genotipe IPB C20 (193,97 g). Kedua genotipe ini tergolong jenis cabai rawit. Bobot buah per tanaman yang tergolong dalam kelompok tinggi adalah genotipe-genotipe IPB C129, IPB C15, IPB C131, IPB C128 dan IPB
C14. Untuk genotipe-genotipe yang tergolong berproduksi sedang adalah genotipe IPB C9, IPB C19, IPB C130, IPB C2, IPB C105, IPB C132 dan IPB C110.
Karakter kualitatif yang diamati dalam penelitian ini adalah warna buah muda, warna buah intermediet dan warna buah matang. Hasil pengamatan karakter warna buah disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa genotipe – genotipe memiliki warna buah muda hijau (IPB C2, IPB C10, IPB 19, IPB 105, IPB 128, IPB 129, IPB 130, IPB 131, IPB 132), hijau kusam (IPB C15), hijau muda (IPB C9, IPB C14), hijau tua (IPB C110) dan ungu (IPB C20). Warna buah intermediet yaitu hijau kekuningan (IPB C14), ungu (IPB C20) dan genotipe yang lainnya warna buah intermedietnya adalah hijau. Semua genotipe yang diamati memiliki buah matang berwarna merah. Penampilan dari 14 genotipe uji disajikan pada lampiran 1 dan 2.
Tabel 5. Warna Buah Muda, Warna Buah Intermediet dan Warna Buah Matang Beberapa Genotipe Tanaman Cabai
Genotipe Warna Buah
Muda Intermediet Masak
IPB C2 Hijau Hijau Merah
IPB C9 Hijau muda Hijau Merah
IPB C10 Hijau Hijau Merah
IPB C14 Hijau muda Hijau kekuningan Merah
IPB C15 Hijau kusam Hijau Merah
IPB C19 Hijau Hijau Merah
IPB C20 Ungu Ungu Merah
IPB C105 Hijau Hijau Merah
IPB C110 Hijau tua Hijau Merah
IPB C128 Hijau Hijau Merah
IPB C129 Hijau Hijau Merah
IPB C130 Hijau Hijau Merah
IPB C131 Hijau Hijau Merah
Penentuan Kadar Capsaicin, Vitamin A dan Vitamin C untuk Evaluasi Calon Tetua
Capsaicin merupakan salah satu produk metabolit sekunder tanaman cabai yang menentukan rasa pedas (Greenleaf 1986). Produk metabolit sekunder lainnya yang dihasilkan oleh tanaman cabai adalah provitamin A dan vitamin C. Hasil analisis ragam karakter capsaicin, vitamin A dan vitamin C disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Kuadrat Tengah Karakter Kadar Capsaicin, Vitamin A dan Vitamin C pada Beberapa Genotipe Tanaman Cabai
Sumber Keragaman
Derajad Bebas
Capsaicin Vitamin A Vitamin C
Ulangan 1 91,80tn 134.285,40tn 62,22tn
Genotipe 13 8.717,11** 9.545.197,20** 702,72**
KK (%) 5,60 5,31 6,88
Keterangan : ** = nyata pada taraf 1 %, tn = tidak nyata
Genotipe-genotipe yang diteliti memiliki perbedaan yang nyata untuk karakter capsaicin, vitamin A dan vitamin C, yang ditunjukkan dengan hasil analisis ragam dari perlakuan genotipe yang sangat nyata. Perbedaan ini sangat berguna sebagai sumber genetik untuk melakukan studi pendugaan parameter genetik untuk karakter - karakter yang diamati. Hasil analisis juga memperlihatkan ulangan tidak berpengaruh nyata untuk semua karakter yang diamati. Nilai tengah karakter kadar capsaicin, vitamin A dan vitamin C serta hasil DMRT disajikan pada Tabel 7.
Capsaicin
Hasil pengamatan kadar capsaicin menunjukkan adanya perbedaan diantara empat belas genotipe yang diuji. Perbedaan ini mengakibatkan terdistribusinya genotipe-genotipe dimaksud ke dalam sebaran genotipe yang
memiliki kadar capsaicin tinggi, sedang (moderat) dan rendah. Hingga saat ini pengelompokan genotipe-genotipe cabai kedalam kelompok kadar capsaicin tinggi, moderat dan rendah belum dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Oleh sebab itu batasan statistik yang jelas dari setiap kelompok belum terstandarisasi untuk dapat dipakai dalam mengelompokan genotipe-genotipe uji.
Tabel 7. Nilai Tengah Karakter Kadar Capsaicin, Vitamin A dan Vitamin C pada Beberapa Genotipe Tanaman Cabai
Genotipe Capsaicin (ppm) Vitamin A (IU/100 g) Vitamin C (mg/100 g) IPB C2 342,46 g 6405,50 g 86,84 def
IPB C9 428,20cdef 8007,30def 83,27 def
IPB C10 611,19 a 9407,10 c 127,70 a IPB C14 397,77 efg 8997,90 cd 64,94 g IPB C15 471,86 bcd 13056,30 a 110,75 bc IPB C19 381,48 fg 7700,90 ef 98,13 cd IPB C20 471,81 bcd 8661,80cde 121,39 ab IPB C105 468,76 bcd 12132,60 ab 94,41 d IPB C110 515,04 b 7841,60 ef 95,52 d IPB C128 394,19 efg 7373,30 fg 75,45 fg IPB C129 484,01 bc 12376,60 ab 93,20 de
IPB C130 446,57 cde 11512,60 b 87,48 def
IPB C131 418,69 def 8020,20def 79,23 efg IPB C132 426,23cdef 7029,30 fg 64,99 g Keterangan : angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada kolom yang sama
tidak berbeda nyata pada taraf 5% berdasarkan DMRT
Namun demikian, berdasarkan hasil uji DMRT yang dilakukan terhadap nilai tengah dari 14 genotipe uji, maka dibuatlah sebaran genotipe dengan memperhatikan hasil uji beda tersebut. Hasil sebaran genotipe berdasarkan data nilai tengah kadar capsaicin 14 genotipe uji adalah: Genotipe IPB C10 yang memiliki kadar capsaicin sebesar 611,19 ppm tergolong genotipe yang memiliki kadar capsaicin tinggi.
Genotipe ini adalah grup cabai rawit dari spesies Capsicum annuum L. Berdasarkan hasil uji DMRT genotipe ini berbeda nyata dengan 13 genotipe yang lainnya.
Genotipe IPB C110 (grup cabai keriting) memiliki kadar capsaicin yang tergolong sedang yaitu sebesar 515,04 ppm. Genotipe ini tidak berbeda nyata dengan beberapa genotipe yang kadar capsaicinnya tergolong sedang atau moderat yaitu genotipe IPB C129 (484,01 ppm), IPB C15 (471,86 ppm), IPB C20 (471,71 ppm) dan IPB C105 (468,76 ppm. Masih ada genotipe-genotipe lainnya yang tergolong rendah dimana genotipe yang satu dengan genotipe lainnya tidak berbeda nyata yaitu genotipe IPB C130 (446,57 ppm), IPB C9 (428,82 ppm), IPB C132 (426,23 ppm), IPB C131 (418,69 ppm), IPB C14 (397,77 ppm), IPB C128 (394,19 ppm) dan genotipe IPB C19 (381,48 ppm). Genotipe IPB C2 memiliki kadar capsaicin yang tergolong rendah yaitu sebesar 342,46 ppm walaupun kadar capsaicinnya masih tidak berbeda nyata dengan IPB C14, IPB C128 dan IPB C19.
Berdasarkan sebaran genotipe di atas maka terpilihlah genotipe IPB C10 mewakili kadar capsaicin tinggi, genotipe IPB C20, IPB C15 dan genotipe IPB C9 mewakili genotipe dengan kadar capsaicin sedang/moderat, genotipe IPB C2 mewakili genotipe dengan kadar capsaicin rendah. Selain pemilihan berdasarkan sebaran ini maka pemilihan tetua juga berdasarkan kemudahan dari setiap genotipe untuk melakukan persilangan satu dengan lainnya. Kelima genotipe terpilih diketahui memiliki kemampuan dan kemudahan dalam melakukan persilangan. Mengingat populasi yang digunakan akan mengacu kepada kadar capsaicin ini maka kadar vitamin C, diharapkan juga telah terwakili dalam kelima genotipe terpilih.
Vitamin A
Hasil analisis DMRT terhadap nilai tengah 14 genotipe uji menunjukan adanya perbedaan yang cukup berarti diantara genotipe-genotipe uji untuk karakter kadar vitamin A. Kadar vitamin A terbesar adalah 13.056,3 IU/100 g yang terbentuk pada genotipe IPB C15. Kadar vitamin A yang terbentuk pada genotipe IPB C15 ini tidak berbeda nyata dengan kadar vitamin A yang terbentuk pada genotipe IPB C129 (12.376,6 IU/100 g) dan IPB C105 (12.132,6 IU/100 g) serta berbeda nyata dengan
kadar vitamin A pada 11 genotipe lainnya. Genotipe IPB C2 memiliki kadar vitamin A terkecil yaitu sebesar 6.405,5 IU/100 g, tidak berbeda nyata dengan kadar vitamin A yang terbentuk pada genotipe IPB C128 (7.373,3 IU/100 g) dan genotipe IPB C132 (7.029,3 IU/100 g).
Seperti diketahui bahwa kebutuhan seseorang akan vitamin A per hari adalah sebesar 5.000 IU (Djawarningsih 2005). Untuk itu semua genotipe yang digunakan sebenarnya telah memiliki kadar vitamin A yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seseorang. Namun demikian yang menjadi masalah adalah apakah seseorang itu mampu untuk mengkonsumsi 100 g cabai dalam sehari.
Pengelompokan vitamin A berdasarkan besarnya kadar yang dimiliki oleh setiap genotipe uji ternyata menyebar juga dalam 5 genotipe yang terpilih dalam penentuan tetua berdasarkan kadar capsaicin. Namun analisis genetik untuk karakter kadar vitamin A ini tidak dilakukan.
Vitamin C
Kebutuhan seseorang akan vitamin C per hari adalah sebesar 60 mg. Berdasarkan data pada Tabel 11, kadar vitamin C pada 14 genotipe uji berkisar antara 64,94 mg/100 g (IPB C14) hingga 127,70 mg/100 g (IPB C10) dengan nilai tengah sebesar 91,66 mg/100 g. Kadar vitamin C tertinggi yang terbentuk pada genotipe IPB C10 tidak berbeda nyata dengan kadar vitamin C yang tebentuk pada genotipe IPB C20 namun berbeda nyata dengan genotipe uji lainnya. Genotipe IPB C14 memiliki kadar vitamin C terendah tidak berbeda nyata dengan genotipe IPB C128, IPB C131 dan genotipe IPB C132.
Lima genotipe yang telah terpilih pada pemilihan tetua untuk karakter capsaicin masih memiliki nilai tengah kadar vitamin C yang menyebar dalam kategori tinggi (IPB C10, IPB C20), sedang (IPB C15) dan agak rendah (IPB C2, IPB C9). Walaupun penyebaran keragaman dari lima genotipe untuk karakter kandungan vitamin C tidak seperti penyebaran atau pengelompokan yang terjadi pada karakter capsaicin, namun pendugaan parameter genetik dari karakter kandungan vitamin C ini masih bisa dilakukan.
Koefisien Keragaman Genetik (KKG), Heritabilitas (h2bs) dan Korelasi (r)
Variasi genetik untuk semua sifat yang diamati dihitung dari koefisien keragaman genetik (KKG). Berdasarkan hasil analisis, nilai KKG menunjukkan kriteria tinggi untuk semua karakter, kecuali kadar capsaicin (Tabel 8), sehingga dapat dikatakan bahwa keragaman genetik cabai untuk karakter-karakter yang diamati cukup tinggi. Keadaan ini menunjukkan bahwa sebagian besar karakter memiliki peluang terhadap usaha-usaha perbaikan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Allard (1960), bahwa semakin tinggi nilai KKG maka peluang dalam usaha perbaikan yang efektif dalam seleksi lebih besar pula sehingga dapat meningkatkan kemajuan genetik hasil seleksi. Selanjutnya Rasyad (1996) mengemukakan bahwa nilai koefisien keragaman genetik tinggi, maka faktor genetik akan berpengaruh besar pada penampilan karakter tersebut.
Tabel 8. Nilai Koefisien Keragaman Genetik (KKG) dan Heritabilitas Karakter-karakter yang Diamati pada Beberapa Genotipe Tanaman Cabai
Karakter Koefisien Keragaman Genetik Heritabilitas Nilai (%) Kriteria Nilai (%) Kriteria
Panjang Buah 31,01 besar/tinggi 96,73 tinggi Tebal Kulit Buah 21,71 besar/tinggi 93,55 tinggi Bobot per Buah 48,52 besar/tinggi 97,26 tinggi Bobot Buah per Tanaman 23,06 besar/tinggi 62,31 tinggi
Kadar Capsaicin 14,23 sedang 92,80 tinggi
Kadar Vitamin A 23,50 besar/tinggi 97,51 tinggi Kadar Vitamin C 19,86 besar/tinggi 94,33 tinggi
Heritabilitas adalah parameter genetik yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu genotipe dalam populasi tanaman dalam mewariskan karakter yang
dimilikinya atau suatu pendugaan yang mengukur sejauh mana variabilitas penampilan suatu genotipe dalam populasi terutama yang disebabkan oleh peranan faktor genetik (Poehlman dan Sleeper 1995). Heritabilitas suatu karakter penting diketahui, terutama untuk menduga besarnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta pemilihan lingkungan yang sesuai untuk proses seleksi (Sutjahyo el al. 2005).
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, maka semua karakter yang diamati menunjukkan nilai heritabilitas yang tinggi yang berkisar antara 62,31 % (bobot buah per tanaman) hingga 97,51 % (kadar vitamin A). Hal ini menunjukkan bahwa karakter-karakter yang diamati sangat dipengaruhi oleh faktor genetik atau peran faktor lingkungan dalam penampilan karakter tersebut kecil. Nilai heritabilitas rendah untuk suatu karakter menggambarkan karakter tersebut sangat dipengaruhi faktor lingkungan (Fehr 1987).
Untuk mengevaluasi keeratan hubungan antara karakter kadar capsaicin, vitamin A dan vitamin C maka dilakukan uji korelasi. Analisis korelasi dilakukan untuk mengetahui adanya keeratan hubungan dua peubah atau lebih, dan bila ada maka diukur tingginya derajad keeratan hubungan tersebut yang disebut dengan koefisien korelasi. Besaran koefisien korelasi (r) tidak menggambarkan hubungan sebab akibat antara dua peubah atau lebih tetapi hanya menggambarkan keterkaitan linier antar peubah. Koefisien korelasi dinotasikan dengan r dan nilai yang berkisar antara 1 hingga -1 (Mattjik dan Sumertajaya 2006).
Dalam menentukan sifat-sifat yang ada kaitannya dengan sifat yang dituju, maka diperlukan informasi hubungan antara sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat yang akan diperbaiki. Adanya hubungan antar satu sifat atau lebih sangat baik sebagai indikator untuk memperbaiki suatu sifat melalui sifat lainnya (Permadi et al. 1993).
Hasil analisis korelasi karakter kadar capsaicin, vitamin A dan vitamin C pada genotipe tanaman cabai yang diuji disajikan pada Tabel 8. Data pada Tabel 8 memperlihatkan karakter kadar capsaicin berkorelasi positif dengan karakter vitamin A dengan nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,4261 dan peluang nyata 0,0238. Namun demikian tingkat hubungan linear kedua karakter ini tidak erat karena nilai
korelasinya lebih mendekati ke nilai nol. Untuk itu semakin tinggi kadar capsaicin tidak erat hubungannya dengan semakin tingginya kadar vitamin A. Mattjik dan Sumertajaya (2005) mengemukakan bahwa nilai koefisien korelasi (r) yang mendekati 0 (nol) menunjukan hubungan kedua peubah atau karakter tersebut tidak linear.
Tabel 9. Koefisien Korelasi Karakter Kadar Capsaicin, Vitamin A dan Vitamin C pada Genotipe Tanaman Cabai
Vitamin A Vitamin C
Capsaicin 0,4261* 0,6348**
(0,0238) (0,0003) Vitamin A 1,0000 0,3249 tn
(0,0916)
Keterangan : **: nyata pada taraf 1 %, *: nyata pada taraf 5%, tn: tidak nyata, angka dalam kurung merupakan peluang nyata
Hasil analisis korelasi juga memperlihatkan adanya korelasi yang positif antara kadar capsaicin dengan vitamin C. Berdasar nilai korelasi dari karakter kadar capsaicin dan vitamin C (0,6348) yang lebih mendekati nilai 1, maka kedua karakter ini memiliki hubungan linear yang cukup erat. Ini berarti bahwa kenaikan kadar capsaicin pada cabai akan diikuti oleh kenaikan kadar vitamin C. Menurut Mattjik dan Sumertajaya (2005) nilai koefisien korelasi (r) yang mendekati 1 atau -1 menunjukan semakin erat hubungan linear antara kedua peubah atau karakter tersebut. Karakter vitamin A dan vitamin C tidak memiliki korelasi yang tidak nyata.
Hasil penelitian untuk mengevaluasi 14 genotipe tanaman cabai, merekomendasikan 5 genotipe yang dijadikan sebagi calon tetua untuk persilangan setengah dialel (Bab IV) berdasarkan kadar capsaicin, vitamin C dan kemudahan dalam melakukan persilangan antar genotipe. Kelima genotipe tersebut adalah genotipe IPB C2 dan IPB C15 (grup cabai semi keriting), genotipe IPB C9 (grup cabai besar) serta genotipe IPB C10 dan IPB C20 (grup cabai rawit). Penampilan lima genotipe terpilih diperlihatkan pada Gambar 4.
Gambar 4. Penampilan 5 Genotipe Terpilih yang Digunakan sebagai Tetua dalam Persilangan Setengah Dialel.
SIMPULAN
1. Genotipe IPB C10 memiliki kadar capsaicin dan vitamin C tertinggi, masing-masing sebesar 61,19 ppm dan 127,70 mg/100 g. Kadar vitamin A tertinggi adalah pada genotipe IPB C15 yaitu sebesar 13.056,30 IU/100 g.
2. Genotipe IPB C2 memiliki kadar capsaicin dan vitamin A terendah dan genotipe IPB C14 memiliki kadar vitamin C terendah.
3. Keragaman genetik tanaman cabai untuk karakter panjang buah, tebal kulit buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman, kadar vitamin A dan kadar vitamin C tergolong tinggi kecuali keragaman genetik karakter kadar capsaicin tergolong sedang.
4. Nilai heritabilitas karakter panjang buah, tebal kulit buah, bobot per buah, bobot buah per tanaman, kadar capsaicin, kadar vitamin A dan kadar vitamin C tergolong tinggi.
5. Karakter kadar capsaicin berkorelasi positif dengan karakter vitamin A dan vitamin C namun karakter kadar vitamin A dan vitamin C tidak memiliki hubungan korelasi.
6. Lima genotipe direkomendasikan untuk dijadikan calon tetua untuk persilangan setengah dialel pada Bab IV berdasarkan kadar capsaicin, vitamin C dan kemudahan dalam melakukan persilangan. Lima genotipe tersebut adalah IPB
C2 (capsaicin rendah, vitamin C rendah), IPB C9 (capsaicin sedang, vitamin C rendah), IPB C10 (capsaicin tinggi, vitamin C tinggi), IPB C15 (capsaicin sedang, vitamin C sedang) dan IPB C20 (capsaicin sedang, vitamin C sedang).