Suhu dan Kelembaban
Rataan suhu lingkungan kandang tropis lebih rendah dari suhu optimum untuk pertumbuhan broiler secara optimal pada broiler umur 3 minggu dan lebih tinggi pada broiler umur 4-5 minggu. Rata-rata suhu dan kelembaban kandang selama penelitian disajikan pada Tabel 3.
Kandang kontrol (AC) menunjukkan rataan suhu sebesar 26.4 oC dengan kelembaban 78.4% sedangkan pada kandang tropis rataan suhu sebesar 27.6 oC dengan kelembaban 81.0%. Suhu rataan pada kandang kontrol sudah memenuhi kebutuhan suhu ideal untuk pertumbuhan broiler akan tetapi dengan kelembaban yang relatif lebih tinggi dari petunjuk pemeliharaan yang dikeluarkan oleh Charoen Pokphand. Menurut Kuczynski (2002), suhu nyaman untuk broiler periode grower (3-5 minggu) agar dapat bereproduksi optimal yaitu 19 oC-27 oC. Charoen Pokphand (2005) menyatakan bahwa suhu optimum untuk pertumbuhan broiler berturut-turut berdasarkan umur pemeliharaan yaitu umur 1-3 hari: 32 oC; umur 4-6 hari: 31 oC; umur 7-14 hari: 30 oC; umur 15-21 hari: 28 oC, dan umur 22-35 hari: 26 oC dengan kelembaban yaitu 60%.
Tabel 3 Rataan suhu dan kelembaban (RH) harian di kandang percobaan selama penelitian
Minggu ke-
Kandang kontrol (AC) Kandang tropis Suhu (oC) RH (%) Suhu (oC) RH (%) Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore Pagi Siang Sore 1 26.6 27.6 29.1 77.6 78.9 69.7 24.0 32.8 27.7 96.7 60.0 81.9 2 26.4 27.6 28.0 78.0 75.0 73.6 25.0 33.1 28.0 93.7 61.4 83.9
11
Pengkondisian kandang broiler pada suhu nyaman dilakukan pada saat broiler berumur 3 minggu yaitu 19 oC - 27 oC. Hal ini dilakukan karena pada umur 3 minggu, broiler membutuhkan suhu nyaman untuk menyeimbangkan suhu tubuh sehingga bisa berproduksi dan berkembang dengan baik. Menurut Efendi (2010) broiler yang berumur 3 minggu ke atas rentan terkena stres panas. Terlihat pada Tabel 3, suhu kandang kontrol pada umur pemeliharaan 3-5 minggu suhu di pagi hari konstan pada 23 oC - 25 oC akan tetapi mengalami kenaikan di siang dan sore hari, dengan kelembaban yang relatif konstan. Pada kandang kontrol, nilai suhu masih tergolong ideal untuk pertumbuhan broiler akan tetapi kelembaban yang relatif lebih tinggi memberikan efek negatif pada broiler. Terdapatnya variasi suhu selama pemeliharaan disebabkan karena adanya cuaca mendung dan hujan yang mengakibatkan turunnya suhu dan meningkatkan kelembaban. Hal ini disebabkan disain kandang kontrol masih belum maksimal mencegah pengaruh lingkungan dari luar yang berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban di dalam kandang. Tingginya kelembaban di kandang kontrol disebabkan karena kurangnya exhaust fan dalam kandang sehingga kurangnya aliran uap air yang berada dari dalam ke luar kandang.
Cekaman panas pada ayam terjadi di waktu siang hari, karena suhu rataan pada siang hari pada kandang tropis yaitu 32.9 oC yang melebihi suhu nyaman dan kelembaban yang lebih tinggi (81%) memberikan efek negatif pada broiler (Tabel 3). Cekaman panas pada broiler ditandai dengan aktivitas panting dan mengembangkan sayapnya untuk membantu mengeluarkan panas tubuh. Broiler tidak memiliki kelenjar keringat sehingga rentan terhadap stres sehingga broiler sulit untuk membuang panas tubuh ke lingkungannya (Hilman et al. 2000; Etches et al. 2008). Tingginya kelembaban di kandang tropis disebabkan karena terjadinya hujan di pagi hari, sore dan malam hari atau dini hari serta beberapa kali terjadi mendung di siang hari.
Tabel 3 memperlihatkan fluktuatif suhu kandang tropis dengan rendah di pagi hari dan tinggi di siang hari kemudian mulai turun lagi di sore hari. Fluktuatif suhu ini sangat mempengaruhi homeostasis tubuh broiler dalam menyeimbangkan suhu tubuh terhadap respon suhu lingkungan. Suhu lingkungan yang rendah dibutuhkan oleh broiler untuk melepaskan panas dalam tubuh akibat metabolisme yang terjadi pada tubuh broiler. Laju metabolisme akan semakin meningkat dengan semakin bertambahnya umur broiler, sehingga meningkatkan panas yang dihasilkan oleh tubuh. Proses pelepasan panas tubuh ini adalah upaya untuk menyeimbangkan suhu tubuh dan lingkungan melalui evaporasi salah satunya dengan cara panting (mengeluarkan panas melalui mulut) sehingga performa broiler tidak terganggu karena adanya stres panas.
Broiler berumur 1-2 minggu membutuhkan suhu tinggi untuk membantu tumbuh dan berkembang akan tetapi suhu tinggi ini tidak berlaku untuk broiler yang berumur 3 minggu keatas. Broiler yang berumur 3 minggu keatas rentan terhadap suhu tinggi. Pada saat broiler terkena stres panas, suhu tubuh akan meningkat dan broiler akan banyak minum air untuk menurunkan suhu tubuh dan mengganti kehilangan air yang merupakan mekanisme evaporasi saluran pernafasan dari paru-paru melalui mulut. Pernafasan akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya suhu dan kelembaban. Pernafasan meningkat dari
12
panas. Apabila pernafasan kurang cepat untuk mengeluarkan uap air dari paru-paru ke lingkungan maka akan menyebabkan kematian (Suprijatna et al. 2005).
Kuantifikasi Ekspresi Gen Heat Shock Protein 70 (HSP70)
Broiler yang dipelihara di kandang tropis yang disuplementasi selenium dengan broiler yang dipelihara di kandang kontrol (AC) tidak berbeda nyata (P>0.05) dari segi ekspresi gen HSP70. Pemberian selenium dalam pakan broiler yang dipelihara di daerah tropis dapat menurunkan ekspresi gen HSP70 dan sebaliknya ekspresi gen HSP70 tinggi pada pada broiler yang dipelihara di daerah tropis tanpa penambahan selenium (Gambar 1). Hal ini disebabkan karena broiler yang dipelihara di suhu tropis terkena stres panas yang memicu terekspresinya gen HSP70. Tubuh akan berusaha mengembalikan ke kondisi homeostasis sebelum terkena stres apabila zona homeostasis ternak ini terganggu. Tubuh tidak bisa lagi mengatasi efek stres melalui jalur metabolisme dan akan menggunakan jalur genetis dengan mengaktifkan gen HSP70 yang berfungsi apabila ternak mengalami stres yang terus meningkat. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa broiler yang terkena stres panas akan mengalami peningkatan kadar ekspresi gen HSP70 (Gabriel et al. 1996; Mahmoud et al. 2004; Zhen et al. 2006; Yu dan Endong 2008; Tamzil et al. 2013).
Gambar 1 Ekspresi gen HSP70 pada organ otak dan dada broiler. ( ) AC: broiler dipelihara di kandang kontrol ber AC tanpa suplementasi selenium, ( ) NS: broiler dipelihara di kandang tropis tanpa suplementasi selenium, ( ) PS: broiler dipelihara di kandang tropis dengan suplementasi 0.30 ppm selenium. Garis vertikal di atas tiap balok data menunjukkan galat baku dan huruf-huruf di atas balok data menunjukkan perbandingan nilai tengah eskpresi gen pada tiap kelompok perlakuan berdasarkan uji beda nyata terkecil pada taraf
0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 Otak Dada Re lat ive mRNA lev el b b a b b a
13
2007) dan ekspresi HSP70 ini paling banyak terdapat pada jaringan saraf/otak (Tanguay et al. 1993; Bodega et al. 2002). Hasil ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Guerreiro (2004) bahwa ekspresi gen HSP70 memiliki 3 sampai 4 kali lebih tinggi tingkat ekspresi pada otak dibandingkan dengan jaringan hati pada broiler yang terkena stres panas. Gen HSP70 ini bertanggung jawab atas bahaya panas dan hanya berfungsi dalam kondisi stres (Tamzil et al. 2013). Produksi HSP70 di dalam tubuh menggunakan segala nutrien yang masih ada di dalam tubuh dan bertindak sebagai last defender dengan berperan menjadi protektor bagi protein yang sensitif terhadap suhu tinggi dan melindunginya dari after effect seperti proses degradasi maupun denaturasi sehingga mencegah protein rusak baik sementara maupun permanen yang selanjutnya mempengaruhi kelangsungan hidup ternak tersebut (Surai 2003; Etches et al. 2008; Noor dan Seminar 2009).
Saat cekaman panas muncul, mRNA akan mengirim pesan untuk memproduksi gen yang berperan apabila ternak tercekam panas seperti gen HSP70 dan GPX, sedangkan tRNA akan membawa pesan untuk pembentukan protein. Pada saat ternak mengalami stres, gen-gen ini akan diproduksi secara besar-besaran sedangkan produksi protein lain akan terhenti, akan tetapi jika keadaan sudah dalam keadaan normal, maka akan kembali seperti biasa. Selenium mempengaruhi ekspresi gen HSP70 dan GPX dapat dilihat dari dua pendekatan. Pertama, selenium secara langsung bekerja mengurangi radikal bebas dan bersama-sama dengan enzim GSH-Px dengan aktifitas antioksidannya sehingga gen HSP70 dan GPX tidak perlu diproduksi dan terkespresi untuk bekerja melindungi sel dari kerusakan radikal bebas dalam tubuh. Kedua, ada kemungkinan selenium berikatan dengan aktivator transkripsi pada proses penyalinan kode genetika yang terdapat pada urutan DNA menjadi molekul RNA pada proses ekspresi gen. Ikatan ini akan menginduksi perubahan konformasi yang memungkinkan faktor menstimulasi ekpresi dari gen HSP70 dan begitu juga dengan gen GPX.
Temperatur, kelembaban, hiperoksia, radiasi, UV, dan gelombang mikro merupakan salah satu bentuk stress yang termasuk ke dalam stress yang berasal dari pengaruh lingkungan. Stres juga dapat diakibatkan oleh faktor dari keadaan status nutrisi dan stres internal. Stres-stres inilah yang membentuk radikal bebas yang memicu peroksidasi dan kerusakan lipid, protein dan DNA. Sebagai respon pertahanan pertama, tubuh melakukan homeostasis salah satunya dengan sistem antioksidan yang ada di dalam tubuh yang berupa pemanfaatan deposisi nutrien, seperti vitamin A, E, dan C; mineral seperti mineral Se dan Zn; karotenoid; glutathione, ubiquinol, asam urat, enzim (SOD, GSH-Px katalis) untuk mengatasi radikal bebas tersebut. Namun, apabila cekaman panas berlangsung lama, dan stres terus meningkat, dan tubuh tidak mampu mengatasinya, maka tubuh akan menggunakan jalur genetik, yakni melalui gen HSP70 yang akan terekspresi, gen ini bertanggungjawab atas bahaya panas dan hanya berfungsi dalam kondisi stres. Untuk mencegah aktivitas ekspresi dari gen HSP70 yang terjadi saat sistem antioksidan di dalam habis, dapat dilakukan dengan memberi asupan dari luar yakni dengan cara optimalisasi pakan, melakukan adisi agen antioksidan (sintetis dan alami) baik vitamin, mineral (selenium), esensial oil, antibiotik dan
obat-14
pengondisian lingkungan agar ternak berada pada suhu nyaman untuk hidup pokok, tumbuh-kembang, produksi, dan reproduksi ternak tersebut (Surai 2003).
Kuantifikasi Ekspresi Gen Glutathione Peroxidase (GPX)
Hasil kuantifikasi dari ekspresi gen glutathione peroxidase (GPX) dapat dilihat pada Gambar 2. Broiler yang dipelihara di kandang tropis yang disuplementasi selenium dengan broiler yang dipelihara di kandang kontrol (AC) tidak berbeda nyata (P>0.05) dari segi ekspresi gen GPX. Pemberian selenium dalam pakan broiler yang dipelihara di daerah tropis dapat menurunkan ekspresi gen GPX dan sebaliknya ekspresi gen GPX tinggi pada pada broiler yang dipelihara di daerah tropis tanpa penambahan selenium. Hal ini disebabkan karena broiler yang dipelihara di suhu tropis terkena stres panas yang memicu terekspresinya gen GPX.
Gambar 2 Ekspresi gen GPX pada organ otak dan dada broiler. ( ) AC: broiler dipelihara di kandang ber AC tanpa suplementasi selenium, ( ) NS: broiler dipelihara di kandang tropis tanpa suplementasi selenium, ( ) PS: broiler dipelihara di kandang tropis dengan suplementasi 0.30 ppm selenium. Garis vertikal di atas tiap balok data menunjukkan galat baku dan huruf-huruf di atas balok data menunjukkan perbandingan nilai tengah eskpresi gen pada tiap kelompok perlakuan berdasarkan uji beda nyata terkecil pada taraf nyata 0.05.
Gambar 2 menunjukkan bahwa ekspresi gen GPX pada jaringan dada lebih tinggi dibandingkan pada otak broiler. Hal ini berkaitan dengan status selenium pada ternak atau sel, yang digunakan sebagai indikator biokimia terhadap kebutuhan selenium oleh tubuh ternak. Surai (1999) menyatakan bahwa aktifitas GPX meningkat pada embrio anak ayam yang diinkubasi selama penetasan.
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 Otak Dada Re lat ive mRNA lev el b b b b a a
15
transportasi asam amino, selanjutnya selenium akan berikatan dengan protein membentuk selenoprotein seperti selenocystein atau selenomethionin yang akan digunakan dalam regulasi ekpresi gen GPX dalam tubuh ternak.
Glutathione Peroxidase (GPX) merupakan nama lain untuk famili multiple isozyme. Ada empat macam GPX yaitu yang mengandung selenocystein pada sel aktif (GPX seluler = GPX-1), GPX saluran pencernaan (GPX-2), GPX plasma (GPX-3) dan GPX fosfolipid (GPX-4). GPX bersamaan dengan superokside dismustase dan katalase merupakan sistem antioksidan enzimatis dalam mereduksi produk radikal bebas. GPX seluler (GPX1) memiliki peran penting dalam pertahanan antioksidan selular untuk mereduksi produk radikal bebas seperti H2O2 atau hidroperoksida lain menjadi air atau menjadi ikatan alkohol (Surai 2003). GPX1 pada level molekuler memiliki peran penting dalam mendeteksi sistem pertahanan antioksidan dalam memproteksi sel dari kerusakan oksidatif dan mRNA GPX1 dapat terekspresi disemua jaringan yang memiliki tingkat ekspresifitas yang berbeda di tiap jaringan.
Aktifitas Enzim Glutation Peroksidase (GSH-Px)
Aktifitas enzim GSH-Px yang lebih tinggi (P<0.05) ditunjukkan pada kandang tropis tanpa penambahan selenium (Tabel 4). Aktivitas enzim GSH-Px pada broiler akan meningkat akibat cekaman panas (Pamok et al. 2009). GSH-Px merupakan enzim antioksidan yang dapat mengurangi pengaruh negatif dari radikal bebas di dalam sel, karena mendetoksifikasi hidrogen peroksida dan hiperperoksida lipid menjadi komponen yang tidak beracun. Selenium merupakan bagian dari sistem enzim antioksidan (glutathione; H2O2 oxidoreductase) yang mendetoksifikasi H2O2 dan hidroperoksida organik (Surai 2003). Oleh karena itu, selenium dapat meningkatkan aktifitas enzim antioksidan dalam tubuh dalam menangkal radikal bebas. Selenium tidak hanya digunakan oleh enzim GSH-Px tetapi juga oleh selenoenzim lain maka dengan penambahan selenium organik relatif mengurangi aktivitas dari enzim GSH-Px karena sama-sama bekerja dengan selenoenzim lain yang juga bekerja menangkal radikal bebas. Selain itu selenium yang digunakan merupakan selenium organik yang penyerapannya lebih baik di dalam tubuh.
Tabel 4 Pengaruh penambahan selenium organik terhadap aktifitas enzim GSH-Px dan kandungan MDA ayam broiler percobaan
Perlakuan Enzim GSH-Px (mU mg-1 protein-1) MDA (mg 100-1 g-1)
AC 148.27±23.4b 0.3698±0.0722b
NS 277.33±81.6a 1.1906±0.3610a
PS 155.26±30.4b 0.5631±0.2004b
AC: Ayam dipelihara di kandang ber AC tanpa suplementasi selenium, NS: ayam dipelihara di kandang tropis tanpa suplementasi selenium, PS: ayam dipelihara di kandang tropis dengan suplementasi 0.30 ppm selenium. Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan).
16
merupakan mineral yang sangat penting dalam pertahanan antioksidan dan merupakan bagian penting dari enzim GSH-Px, serta ketersediaan mineral ini merupakan kunci efektifitas terhadap sintesis GSH-Px. Selain itu, selenium berperan langsung dalam menangkap radikal bebas di sel ketika ternak tercekam panas (Fairweather-Tait et al. 2010). Selenium organik tidak hanya digunakan untuk enzim GSH-Px akan tetapi juga digunakan oleh selenoenzim lain seperti thioredoxin reductase dan selenoprotein yang lain. Katabolisme protein pada proteosom pada saat ternak terkena stres panas akan menggunakan selenomethionin, yaitu sumber selenium yang berikatan dengan protein dalam sel tubuh, yang akan mensintesis selenoprotein baru seperti GSH-Px, thioredoxin reductase dan methionine sulphoxide reductase yang berperan sebagi antioksidan dalam tubuh (Lyons et al. 2007). Pertahanan antioksidan tubuh ternak juga dilakukan oleh non-selenium GSH-Px yang juga menjadikan radikal bebas H2O2
dan hidroperoksida organik sebagai substratnya (Leeson dan Summers 2001; Surai 2003). GSH-Px Se Komponen stabil Kecukupan asupan Se GSSG membran Merusak SH protein enzim dan jaringan Reaksi dengan TBA MDA Perubahan warna Kekurangan Se OH OO -Reaksi produksi radikal bebas Vitamin E Lemak di membran sel Superoxide ion O2- + 2H+ Superoxide dismutase OKSIDASI Superoxide dismutase GSH-Px Se OH + O 2 + OH -Fe+++ GSSH Kecukupan Se H 2O 2 H 2O Kekurangan Se + O 2 -GSH GSH
17
membran sehingga akan menyebabkan kerusakan sel. Ketika mitokondria dan mikrosom memproduksi antibodi dan mekanisme pertahanan yang lain, maka ketersediaan selenium tidak hanya penting untuk pencegahan, tetapi juga sangat penting untuk pemeliharaan sel yang merespon untuk membentuk mekanisme pertahanan dari penyakit dan pengaruh stres yang lain. Enzim GSH-Px memiliki fungsi utama yaitu mendetoksifikasi hidrogen peroksida dan mengubah hidroperoksida lipid menjadi komponen yang tidak beracun, sehingga dapat melindungi sel dari kerusakan karena adanya radikal bebas (Leeson dan Summers 2001; Surai 2003). Enzim GSH-Px merupakan protein yang berbentuk tentramer dengan bobot molekul 85000D. GSH-Px memiliki 4 atom selenium yang terikat sebagai selenocysteine.
Kandungan Malondialdehid (MDA)
Kadar MDA pada broiler yang dipelihara di daerah tropis yang disuplementasi selenium tidak berbeda nyata (P>0.05) dengan kadar MDA pada broiler yang dipelihara di kandang kontrol (AC) dan lebih rendah (P<0.05) dibandingkan dengan kadar MDA pada broiler yang dipelihara di kandang tropis tanpa penambahan selenium (Tabel 4). Suplementasi selenium nyata dapat menurunkan kadar MDA pada broiler yang di pelihara di daerah tropis. MDA merupakan produk radikal bebas yang dibentuk dari hasil peroksida lipid (Clarkson dan Thomson 2000). Hasil penelitian sependapat dengan Rao et al. (2013) bahwa pemberian selenium organik dapat menurunkan kadar MDA pada ayam yang dipelihara di lingkungan tropis. MDA dapat mengindikasikan tingkat kerusakan sel atau jaringan tubuh akibat radikal bebas. Mineral selenium, yang berperan sebagai antioksidan, dapat mencegah terjadinya stres panas yang memicu dihasilkannya radikal bebas dalam metabolisme tubuh. Selenium mengubah radikal bebas menjadi produk yang lebih stabil, sehingga peroksidasi lipid terhenti. Selain itu, selenium juga dapat mengurangi peroksida yang sudah terbentuk (Fellenberg dan Speisky 2006).
Malondialdehida terpicu awalnya karena cekaman panas memunculkan radikal bebas dalam tubuh yang menimbulkan stres oksidatif dan menurunkan status kesehatan ternak, sehingga nutrien yang masuk ke tubuh kurang dan digunakan sebagian untuk mempertahankan tubuh dari stres, sehingga kebutuhan fisiologis lainnya jadi berkurang. Peroksida lipid merupakan reaksi berantai yang berasal dari senyawa radikal hidroksil (-OH) dengan menyerang asam lemak tidak jenuh ganda atau poly unsaturated fatty acid (PUFA) pada membran sel. PUFA yang banyak dalam membran sel menjadi target utama oksidan karena sangat rentan terhadap terjadinya autokatalisis peroksidasi. Senyawa radikal hidroksil mengekstraksi satu Hidrogen dari lemak poliunsaturated (LH), sehingga terbentuk radikal lemak (L-) yang memicu terbetuknya MDA pada jaringan (Mujahid et al. 2007).
Mekanisme penghambat radikal bebas terdiri dari antioksidan endogen dan eksogen. Antioksidan endogen terdiri dari superoksid dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH-Px), katalase, sedangkan antioksidan eksogen terdiri dari vitamin C, selenium, betakaroten dan vitamin E (Surai 2003). Selenium selain
18
akan berperan secara langsung dalam menangkap radikal bebas dalam jalur metabolisme pada tubuh (Fairweather-Tait et al. 2010), selain itu suplementasi selenium sebagai antioksidan dalam pakan dapat menurunkan peroksidasi lemak pada jaringan dalam daging (MDA) dan meningkatkan stabilitas oksidasi pada otot sehingga dapat lebih tahan selama penyimpanan, meningkatkan kualitas dan meningkatkan nilai ekonomis daging. Menurut Fassah (2012) penambahan antioksidan dapat menurunkan MDA dan total SFA (asam lemak jenuh) serta meningkatkan PUFA daging sehingga meningkatkan stabilitas oksidasi daging yang meningkatkan kualitas daging.
Performa Broiler
Suplementasi selenium organik pada broiler yang dipelihara di kandang tropis nyata meningkatkan (P<0.05) konsumsi ransum, bobot badan, pertambahan bobot badan dan konversi ransum dibandingkan dengan broiler yang dipelihara pada kandang tropis dan tidak disuplementasi selenium (Tabel 5). Suplementasi selenium organik menghasilkan performa yang sama dengan broiler yang dipelihara pada kandang kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi selenium cukup efektif mengatasi cekaman panas pada broiler yang dipelihara pada kandang tropis yang mempunyai suhu dan kelembaban bervariasi.
Pada lingkungan tropis, broiler mengalami fluktuasi variatif suhu yang berdampak pada stres sebagai akibat respon fisiologis karena pengaruh lingkungan, sehingga akan berdampak terhadap penurunan performa, seperti rendahnya produktifitas dan tingginya mortalitas. Pada suhu lingkungan yang tinggi, konsumsi ransum akan menurun. Demikian pula berlaku sebaliknya, pada kondisi dibawah thermoneutral zone, akan menyebabkan konsumsi pakan meningkat. Untuk setiap kenaikan 1 oC pada suhu lingkungan di atas 24.5 oC, terjadi penurunan konsumsi sebesar 1.58% (NRC 1994). Penurunan dari konsumsi broiler yang dipelihara pada kandang tropis terjadi karena ayam tersebut terkena stres panas yang membuat asupan pakan pada ayam lebih rendah yang berakibat pada rendahnya bobot badan dan pertumbuhan bobot badan. Cekaman panas pada broiler berakibat menurunkan konsumsi ransum, pertumbuhan bobot badan dan konversi ransum (Kusnadi 2006).
Pemberian selenium pada broiler yang dipelihara pada kandang tropis dapat memperbaiki performa dari broiler mendekati performa pada ayam yang dipelihara pada kandang kontrol (AC) yang dipelihara pada suhu thermonetral zone (19 oC-27 oC). Hal ini disebabkan karena selenium mampu mencegah stres panas yang dapat menurunkan performa dari broiler. Selenium bekerja sebagai antioksidan yang mampu mengatasi radikal bebas yang terjadi pada tubuh unggas yang tercekam panas. Pada saat ayam tercekam panas, tubuh akan mengeluarkan
19
Tanda-tanda klinis terhadap ayam yang mati tidak mencirikan ayam terkena penyakit. Menurut Tarmudji (2005) tanda-tanda klinis setelah ayam mati terkena penyakit adalah hidung berair, berlendir, pembengkakan sinus kepala, pembengkakan kelopak mata dan gangguan pernafasan.
Tabel 5 Performa broiler pada percobaan pemberian selenium pada ayam umur 35 hari (5 minggu)
Peubah Perlakuan
AC NS PS
Konsumsi (g ekor-1) 2215±34a 1929±182b 2153±136a Bobot badan (g ekor-1) 1351±51a 1078±42b 1308±53a
PBB (g ekor-1) 1310±51a 1035±42b 1266±54a
Konversi ransum 1.69 ±0.04b 1.86 ±0.11a 1.70 ±0.12b
Mortalitas*) (%) 5 7.5 2.5
AC: Ayam dipelihara di kandang ber AC tanpa suplementasi selenium, NS: ayam dipelihara di kandang tropis tanpa suplementasi selenium, PS: ayam dipelihara di kandang tropis dengan suplementasi 0.30 ppm selenium, PBB: pertumbuhan bobot badan. *) Tanpa diuji statistik. Angka-angka pada baris yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji Duncan).
Rekayasa genetik menyebabkan strain broiler sekarang lebih cepat menghasilkan pertambahan bobot badan disertai dengan produksi panas yang tinggi. Umur yang semakin bertambah dan bobot badan semakin meningkat selama pertumbuhan disebabkan karena kebutuhan akan nutrien untuk hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan reproduksi berbanding lurus dengan tingkat konsumsi ransum. Selain besar tubuh ayam, umur ayam, daya aktifitas, kuantitas ransum, status kesehatan, bentuk makanan, imbangan nutrien, kecepatan pertumbuhan serta kebakaan (genetik); suhu dan kelembaban lingkungan turut mempengaruhi tingkat asupan pakan ternak (NRC 1994; Mujahid et al. 2009).
Ayam terkena panas maka akan menimbulkan stres oksidatif. Stres oksidatif yaitu ketidakseimbangan antara radikal bebas (prooksidan) dan antioksidan yang dipicu oleh dua kondisi yaitu kekurangan antioksidan dan kelebihan produksi