Hasil
Parameter Pertumbuhan
Data pengamatan tinggi tanaman dan jumlah anakan padi sawah serta hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 6 sampai pada lampiran 17. Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman sedangkan terhadap jumlah anakan berpengaruh nyata pada umur pengamatan 2 MST dan 6 MST serta tidak nyata pada umur pengamatan 4 MST.
Tinggi Tanaman
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap tinggi tanaman (cm) disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Tinggi Tanaman (Cm) pada Setiap Umur Pengamatan
Umur
Rataan 59,66bB 64,4067bB 70,7267bAB 69,83bAB 83,5133aA 69,6273
6 MST
B1 88,39 83,48 87,6 94,2 98,55 88,4175
B2 96,37 91,99 98,62 98,23 97,49 96,3025
B3 88,54 93,97 90,45 92,45 102,73 91,3525
Rataan 91,1bAB 89,8133bB 92,2233bAB 94,96abAB 99,59aA 92,0242
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil uji beda rataan taraf 5% pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada faktor jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur pengamatan 4 MST dan 6 MST, sedangkan faktor jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur pengamatan 2 MST dan 4 MST.
Pada umur pengamatan 2 MST rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 51,055 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan B1 (jumlah 1 bibit) dan B3 (jumlah 3 bibit), sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan B1 (jumlah 1 bibit) yaitu 44,04 cm. Hal ini disebabkan jumlah 2 bibit lebih baik pada proses pemanfaatan unsur hara serta cahaya, dan air pada proses pertumbuhan tanaman.
Faktor jumlah populasi tanaman pada umur pengamatan 4 MST terhadap tinggi tanaman, rataan tertinggi terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 85,5133 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan L3, L2, L1, dan L0. Rataan tertinggi pada faktor jumlah bibit terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 77,16 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan B1 (jumlah 1 bibit). Sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan L0 (jumlah populasi 48 tanaman per rumpun) yaitu 59,66 cm dan B1 (jumlah 1 bibit) yaitu 65,634 cm.
Hasil analisis uji F taraf 5% pada umur pengamatan 6 MST rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 99,59 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan L0, L1, dan L2, sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per rumpun) yaitu 89,8133 cm. Perlakuan dengan jumlah populasi tanaman yang tinggi menunjukkan pertambahan tinggi tanaman yang
signifikan, hal ini berkaitan dengan proses persaingan dalam penyerapan cahaya matahari serta unsur hara yang tersedia pada lingkungan tumbuh.
Jumlah Anakan
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap jumlah anakan (batang) disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Jumlah Anakan (Batang) pada Setiap Umur Pengamatan
Umur berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil uji beda rataan taraf 5% pada Tabel 2 menunjukkan bahwa faktor jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata pada umur pengamatan 6 MST sedangkan faktor jumlah bibit berpengaruh nyata pada umur pengamatan 2 MST.
Pada umur pengamatan 4 MST faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan padi sawah.
Pada umur pengamatan 2 MST rataan jumlah anakan tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 5,88 batang yang berbeda nyata dengan
perlakuan B1, dan B3. Sedangkan rataan jumlah anakan terendah terdapat pada perlakuan B1 (jumlah 1 bibit) yaitu 3,32 batang.
Hasil uji F taraf 5% pada umur pengamatan 6 MST rataan jumlah anakan tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per rumpun) yaitu 27,36 batang yang berbeda nyata dengan perlakuan L2, L3, dan L4.
Sedangkan rataan jumlah anakan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 13,51 batang. Perlakuan dengan jarak tanam yang lebar menyebabkan pertambahan anakan lebih tinggi dikarenakan ruang tumbuh yang lebih lebar, sehingga penyerapan unsur hara, air, serta cahaya lebih baik per tanaman.
Parameter Produksi
Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit pada parameter produksi berpengaruh nyata terhadap jumlah malai per sampel (malai), bobot gabah bruto per plot (g), dan bobot gabah netto per plot (g), tetapi tidak nyata terhadap panjang malai per sampel (cm), bobot 1000 biji per sampel (g), dan bobot jerami kering per plot (g). Interaksi faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah bruto per plot (g), dan bobot gabah netto per plot (g) dan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter produksi lainnya.
Jumlah Malai
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap jumlah malai (malai) tersaji pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Jumlah Malai (malai) per Sampel
Jumlah Bibit
Rataan 21,64aA 19,44abAB 16,78bBC 17,31bAB 12,24cC
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil uji beda rataan pada taraf 5% menunjukkan bahwa pengaruh jumlah populasi tanaman terhadap jumlah malai berpengaruh nyata sedangkan pengaruh jumlah bibit tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah malai. Rataan jumlah malai tertinggi terdapat pada perlakuan L0 (jumlah populasi 48 tanaman per rumpun) yaitu 21,64 malai yang berbeda nyata dengan perlakuan L2, L3, dan L4, serta tidak berbeda nyata dengan perlakuan L1. Jumlah rataan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 114 tanaman per rumpun) yaitu 12,24 malai.
Panjang Malai
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap panjang malai (cm) disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Panjang Malai (cm) berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil analisis statistik uji F pada taraf 5% menunjukkan bahwa pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap panjang malai (cm) tidak
berpengaruh nyata. Tetapi dapat dilihat bahwa secara perhitungan rataan panjang malai tertinggi terdapat pada jumlah 2 bibit yaitu 24,54 cm, dan diikuti jumlah 3 bibit 23,55 cm serta jumlah 1 bibit 23,08 cm. Sedangkan rataan panjang malai tertinggi terdapat pada jumlah populasi 190 tanaman per petak yaitu 24,52 cm dan rataan terendah terdapat pada jumlah populasi 48 tanaman per petak yaitu 22,77 cm.
Bobot Gabah Bruto
Hasil uji beda rataan pengaruh interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot gabah bruto per plot (g) disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Gabah Bruto per Plot (g)
B1 2633bcdAB 2545cdABC 2700abcdAB 2550cdABC 2741abcdAB 2634abA B2 2796,67abcAB 2966,33aA 2613,33bcdAB 2736,67abcdAB 2656,67abcdAB 2753,933aA B3 2788,33abcAB 2959,33abA 2560cdABC 2400deBC 2093,33 eC 2560,2bA Rataan 2739,44abAB 2823,55aA 2624,44bcAB 2562,22bcB 2497,11cB
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Pada hasil analisis statistik uji beda rataan pada taraf 5% menunjukkan bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit serta interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah bruto per plot (g).
Pada faktor perlakuan jumlah bibit dapat dilihat berbeda nyata pada seluruh perlakuan. Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bobot gabah bruto tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 2753,933 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,18 ton. Sedangkan bobot gabah bruto terendah terdapat pada
perlakuan B3 (jumlah 3 bibit) yaitu 2560,2 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,534 ton.
Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bobot gabah bruto tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman) yaitu 2823,56 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,412 ton, sedangkan bobot gabah bruto terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman) yaitu 2497,11 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,324 ton.
Interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah bruto per plot (g). Berdasarkan Tabel 6 rataan bobot gabah bruto per plot tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per petak) yaitu 2966,33 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,89 ton. Sedangkan rataan bobot gabah bruto per plot terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 2093,33 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 6,98 ton.
Bobot Gabah Netto
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot gabah netto per plot (g) disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Gabah Netto per Plot (g)
Jumlah
B1 2427bcdABCD 2402cdeBCD 2423abcdABCD 2393bcdABCD 2518abcdABC 2433abA B2 2600abABC 2783aA 2413,333bcdABCD 2480abcdABC 2456,6667bcdABCD 2546,6aA
B3 2655abcABC 2708abAB 2323,333bcdABCD 2250deCD 1986,6667eD 2384,6bA
Rataan 2560,56abAB 2630,89aA 2386,67cB 2374,44cB 2320,44cB
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Pada hasil analisis statistik uji beda rataan pada taraf 5% menunjukkan bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit serta interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah netto per plot (g).
Pada faktor perlakuan jumlah populasi tanaman dapat dilihat berbeda nyata pada seluruh perlakuan. Berdasarkan tabel diatas diperoleh rataan bobot gabah netto tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman) yaitu 2630,89 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,77 ton, sedangkan rataan bobot gabah netto terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman) yaitu 2320,44 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 7,73 ton.
Berdasarkan faktor jumlah bibit diperoleh rataan bobot gabah netto tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 2546,6 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,488 ton, sedangkan rataan bobot gabah netto terendah terdapat pada perlakuan B3 (jumlah 3 bibit) yaitu 2384,6 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 7,94 ton.
Berdasarkan interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit diperoleh rataan bobot gabah netto per plot tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot) yaitu 2783 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,27 ton. Sedangkan rataan bobot gabah netto per plot terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 1986,67 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 6,62 ton.
Bobot 1000 Butir Gabah Kering
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot 1000 butir gabah kering (g) disajikan pada Tabel 7
Tabel 7. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Gabah 1000 Butir Gabah Kering per Plot (g)
Jumlah Bibit berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil analisis statistik uji F pada taraf 5% pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot 1000 biji gabah kering (g) tidak berpengaruh nyata. Tetapi dapat dilihat bahwa secara perhitungan rataan jumlah bibit tertinggi terdapat pada jumlah 1 bibit 26,89 gram, dan diikuti jumlah 2 bibit 26,81 gram serta jumlah 3 bibit 26,02 gram. Sedangkan rataan jumlah populasi tanaman tertinggi terdapat pada jumlah populasi 48 tanaman 27,51 gram dan rataan terendah terdapat pada jumlah populasi 60 tanaman 26,11 gram.
Bobot Jerami Kering
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot jerami kering (g) disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Jerami Kering per Plot (g)
Jumlah
B2 3726,67 4060,00 4650,00 4466,67 4170,00 2753,93 B3 4316,67 4190,00 3860,00 4256,67 2633,33 2560,2 Rataan 2739,44 2823,55 2624,44 2562,22 2497,11
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil analisis statistik uji F pada taraf 5% pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot jerami kering (g) tidak berpengaruh nyata. Tetapi dapat dilihat bahwa secara perhitungan rataan jumlah bibit tertinggi terdapat pada jumlah 2 bibit yaitu 2753,93 gram, dan diikuti jumlah 1 bibit 2633,93 gram serta jumlah 3 bibit 2560,20 gram. Sedangkan rataan jumlah populasi tanaman tertinggi terdapat pada jumlah populasi 60 tanaman per petak yaitu 2823,55 gram dan rataan terendah terdapat pada jumlah populasi 190 tanaman per petak yaitu 2497,11 gram.
Pembahasan
Pengaruh Sistem Tanam Jajar Legowo yang Dimodifikasi dan Jumlah Bibit terhadap Pertumbuhan Padi Sawah (Oryza sativa L.)
Pada hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa faktor jumlah bibit berpengaruh nyata pada awal masa pertumbuhan vegetatif, sedangkan faktor jumlah populasi berpengaruh nyata pada pertengahan masa pertumbuhan vegetatif. Hal ini terjadi karena pada awal masa pertumbuhan terjadi persaingan dan adaptasi dalam satu rumpun/lubang dalam pembentukan tunas sedangkan pada pertengahan masa pertumbuhan sudah terjadi persaingan antar rumpun/baris dalam proses pembentukan anakan dan pemanjangan batang hingga pembentukan malai (Makarim dan Suhartatik,2007).
Pada faktor jumlah populasi dapat dilihat bahwa jumlah populasi yang semakin banyak, jarak antar tanaman akan semakin rapat sehingga pengaruh pertumbuhan tanaman akan berbeda. Peningkatan jumlah populasi tanaman padi berkorelasi positif terhadap tinggi tanaman. Menurut literatur Aribawa (2012) Hal ini dapat disebabkan oleh adanya persaingan antar tajuk tanaman dalam pemanfaatan cahaya matahari, selain itu sifat dan ciri varietas yang dimiliki serta faktor iklim.
Kesuburan tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Makin subur tanah makin besar pertumbuhan tanaman yang ditandai salah satunya oleh tinggi tanaman akibat nutrisi yang terserap tanaman makin banyak. Diduga bahwa tanah sawah memiliki kandungan Kalium bekas jerami sehingga lebih subur
dibandingkan lahan kering. Maka pertumbuhan tanaman pun lebih subur (Yulyatin, 2013).
Pemakaian bibit per titik tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu rumpun. Jumlah bibit per titik tanam yang lebih sedikit akan memberikan ruang pada tanaman untuk menyebar dan memperdalam perakaran (Berkelaar, 2001).
Hal ini terjadi karena ruang tumbuh yang sempit dan terbatas menjadikan produksi jumlah anakan berkurang. Oleh karena padi bersifat merumpun melalui pembentukan anakan, maka penanaman dengan jarak tanam rapat mengakibatkan ruang tumbuh yang terbatas dan mengurangi produksi anakan, baik anakan total maupun anakan produktif. Anakan yang terbentuk pada kepadatan populasi tinggi adalah anakan primer dan sekunder, sedangkan anakan tersier yang terbentuk umumnya tidak mampu berkompetisi pada ruang tumbuh yang sempit (Sumardi,2010).
Pada fase vegetatif , tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup agar pertumbuhan tanaman dapat berkembang dengan baik. Dengan adanya penambahan dosis pupuk pada penelitian ini dapat dilihat bahwa pertumbuhan tanaman berkembang dengan baik dan penyerapan unsur hara dapat merata pada setiap tanaman karena unsur hara yang cukup.
Zeng and Shannon (2000) melaporkan bahwa peningkatan populasi tanaman per satuan luas berkorelasi negatif dengan jumlah anakan yang
dihasilkan, baik anakan total maupun anakan produktif, tetapi berkorelasi posistif dengan jumlah malai per satuan luas.
Atman (2007) menjelaskan, bahwa penanaman bibit dengan jumlah yang relatif lebih banyak menyebabkan terjadinya persaingan sesama tanaman padi (kompetisi inter spesies) yang sangat keras untuk mendapatkan air, unsur hara, CO2, O2, cahaya dan ruang untuk tumbuh, sehingga pertumbuhan akan menjadi tidak normal. Akibatnya, tanaman padi menjadi lemah, mudah rebah, mudah terserang penyakit, dan keadaan tersebut dapat mengurangi hasil gabah.
Sedangkan penggunaan jumlah bibit yang lebih sedikit (1-3 bibit per lubang tanam) menyebabkan persaingan sesama tanaman padi akan lebih ringan, lebih sedikitnya jumlah benih yang digunakan, sehingga mengurangi biaya produksi, dan penghasilan gabah akan meningkat.
Selanjutnya Masdar (2006) menyatakan bahwa jumlah bibit per lubang tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu rumpun.
Pengaturan jarak tanam dapat menghindari terjadinya tumpang tindih diantara tajuk tanaman, memberikan ruang bagi perkembangan akar dan tajuk tanaman dan meningkatkan efisiensi penggunaan benih. Pada tanah subur jarak tanam cenderung lebih lebar, sedangkan tanah yang kurang subur jarak tanam cendrung lebih rapat (Sumarno, 1986).
Hal ini disebabkan karena perlakuan jumlah 2 bibit per lubang tanam dengan frekuensi pengendalian gulma 10, 20, 30 dan 40 hst sudah mampu menyerap hara dengan baik dalam tanah dan gulma yang sering dicabut sudah mampu mengurangi adanya persaingan antara tanaman dan gulma sehingga
unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis lebih optimal.
Menurut Mubair dalam Purwasasmita dan Alik (2013) menyebutkan bahwa dengan menanam 3 bibit padi dalam satu lubang atau lebih akan menyebabkan terjadinya persaingan perebutan unsur hara dan sinar matahari sehingga pertumbuhan tidak maksimal. Pada bibit dari satu benih atau tunggal bisa menghasilkan 45-60 anakan, sedangkan yang ditanam 3-5 bibit hanya bisa menghasilkan 25-45 anakan. Berdasarkan penelitian Cahyono (2009) umur bibit 1 dan 2 minggu memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan umur 3 minggu.
Jumlah bibit per lubang tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu lubang tanam. Di Indonesia biasanya dianjurkan menanam 2 sampai 3 bibit per lubang tanam (Utomo dan Nazarudin, 2000).
Menurut Dacbhan dan Dibisono (2010) bertambahnya jumlah bibit per lubang tanam cenderung meningkatkan persaingan tanaman, baik antar tanaman dalam satu rumpun maupun antar tanaman yang berbeda rumpun. Akibatnya, kebugaran tanaman dan tingkat produksi bahan kering per tanaman cenderung menurun. Hasil penelitian Wangiana et al. (2009) memperlihatkan bahwa jumlah bibit per lubang tanam mampu memberikan pengaruh yang signifikan (berbeda nyata) terhadap pertumbuhan jumlah daun dan jumlah anakan per rumpun pada tanaman padi. Hasil penelitian Dacbhan dan Dibisono (2010) pemakaian 1 dan 2 bibit per lubang tanam memberikan hasil yang secara statistik lebih tinggi dibanding perlakuan 3 bibit per lubang tanam. Tanaman dengan 1 bibit per lubang
tanam menghasilkan 19,61 anakan produktif dan 8,09 ton gabah/ha. Pemakaian jumlah bibit 1 bibit per lubang tanam berarti telah menghemat biaya bibit 50%
dibandingkan pemakaian 2 bibit perlubang tanam.
Pengaruh Sistem Tanam Jajar Legowo yang Dimodifikasi dan Jumlah Bibit terhadap Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L.)
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah malai.
Rataan jumlah malai tertinggi terdapat pada perlakuan L0 (jumlah populasi tanaman 48 tanaman) , sedangkan rataan jumlah malai terendah terdapat pada perlakuan L2 (jumlah populasi 114 tanaman per rumpun). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah populasi tanaman yang sedikit maka jumlah malai akan semakin banyak.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap panjang malai. Hal ini dikarenakan jumlah pertumbuhan pada awal masa generatif yang merata sehingga panjang malai pada setiap perlakuan memiliki rataan yang tidak berbeda.
Pada hasil analisis uji beda rataan dengan parameter bobot gabah bruto per plot dapat dilihat bahwa jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata dengan rataan tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan hasil rataan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per plot). Hal ini dapat dikarenakan populasi tanaman yang semakin
banyak terjadi persaingan antar tanaman yang dapat mengunrangi produksi tanaman padi sawah.
Pada faktor jumlah bibit terhadap parameter bobot gabah bruto dapat dilihat bahwa rataan tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) dan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3 (jumlah 3 bibit). Hal ini berkaitan dengan unsur hara, jumlah cahaya yang dapat diserap oleh tanaman, serta perkembangan tanaman.
Pada interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap parameter bobot gabah bruto juga berpengaruh nyata. Rataan tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman). Hal ini menandakan bahwa dengan jumlah bibit yang banyak serta jumlah populasi yang semakin meningkat menyebabkan produksi tanaman tidak naik.
Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa faktor jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap parameter bobot gabah netto per plot. Rataan tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman).
Faktor jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata terhadap bobot gabah netto per plot. Pada rataan tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per plot) dan rataan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per plot).
Interaksi faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah netto per plot, hal ini dapat dilihat pada perlakuan dengan rataan tertinggi terdapat pada B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman per plot).
Pada parameter bobot 1000 biji gabah kering per sampel menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit. Hal ini dikarenakan bobot yang dihasilkan pada setiap plot sama.