(Oryza sativa L.) DI DESA TANJUNG REJO KECAMATAN PERCUT SEI TUAN
SKRIPSI
OLEH :
ENDOW RICHARDO 130301192
AGROTEKNOLOGI – ILMU TANAH
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018
(Oryza sativa L.) DI DESA TANJUNG REJO KECAMATAN PERCUT SEI TUAN
SKRIPSI
OLEH :
ENDOW RICHARDO 130301192
AGROTEKNOLOGI – ILMU TANAH
Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018
(Oryza Sativa L.) di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan Nama : Endow Richardo
NIM : 130301192 Prodi : Agroteknologi Minat : Ilmu Tanah
Disetujui Oleh Komisi Pembimbing :
(Prof. Dr. Ir. Erwin Masrul Harahap, MS.) (Benny Hidayat, SP., MP.) Ketua Anggota
Mengetahui,
(Dr. Ir. Sarifuddin, MP)
Ketua Program Studi Agroekoteknologi
ENDOW RICHARDO : Pengaruh Sistem Tanam Jajar Legowo Yang Dimodifikasi Dan Jumlah Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan, dibimbing oleh, ERWIN MASRUL HARAHAP dan BENNY HIDAYAT
Peningkatan produksi padi di Indonesia dipengaruhi beberapa faktor, salah satu yaitu penggunaan jumlah bibit serta pengoptimalan populasi tanaman melalui jarak tanam padi. Penggunaan jumlah bibit dan pengoptimalan populasi tanaman dapat berdampak terhadap pertumbuhan dan hasil produksi pada pertanaman padi.
Dengan jarak tanam yang dimodifikasi diharapkan dapat memberi dampak yang lebih baik dibandingkan dengan jarak tanam konvensional, hal ini terkait dengan cahaya yang diserap. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah populasi tanaman melalui modifikasi jarak tanam serta jumlah bibit per lubang tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dan dimulai pada bulan Mei sampai dengan September 2017. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap 2 Faktor, yaitu jumlah bibit ( 1 bibit, 2 bibit, 3 bibit ) dan Populasi tanaman berdasarkan sistem tanam jajar legowo yang dimodifikasi ( sistem tanam jarak konvensional dengan populasi 48 rumpun per petak, sistem tanam jajar legowo dengan populasi 60 rumpun per petak, sistem tanam jajar legowo dengan populasi 114 rumpun per petak, sistem tanam jajar legowo dengan populasi 154 rumpun per petak, sistem tanam jajar legowo dengan populasi 190 rumpun per petak).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 2 bibit per rumpun dan sistem tanam jajar legowo dengan populasi 60 rumpun per petak berpengaruh secara nyata dalam meningkatkan produksi padi sawah (Oryza sativa L.). Interaksi antara faktor jumlah bibit dan populasi tanaman tidak meningkatkan pertumbuhan tetapi berpengaruh nyata meningkatkan produksi padi sawah (Oryza sativa L.).
Kata Kunci : jajar legowo, jumlah bibit, padi sawah
ENDOW RICHARDO: The Influence of Modified Jaws System of Legowo And The Number Of Seeds To The Growth And Production Of Rice Field (Oryza Sativa L.) In Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan Sub-district, guided by, ERWIN MASRUL HARAHAP and BENNY HIDAYAT
Increased rice production in Indonesia is influenced by several factors, one of which is the use of the number of seeds and the optimization of the plant population through the spacing of rice. The use of seed quantities and optimization of plant populations can have an impact on growth and yield on rice cultivation. With modified spacing expected to give better impact compared with conventional spacing, this is related to light absorbed. The aim of this research is to know the effect of plant population through modification of plant spacing and number of seedlings per planting hole on growth and production of rice field (Oryza sativa L.) in Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan District.
The experiment was conducted at Tanjung Rejo Village, Percut Sei Tuan Subdistrict, Deli Serdang Regency and started from May until September 2017.
This research uses a Complete Randomized Design of 2 Factors, namely the number of seeds (1 seed, 2 seeds, 3 seeds) and the population of plants based on a modified legowo row planting system (conventional cropping system with population of 48 clumps per plot, legowo java planting system with population of 60 clumps per plot, legowo java planting system with population of 114 clumps per plot, legowo javan planting system with population of 154 clumps per plot, legowo row planting system with population of 190 clumps per plot). The results showed that the use of 2 seeds per hill and legowo javan planting system with population of 60 clumps per plot significantly influenced rice field production (Oryza sativa L.). The interaction between the number of seeds and the plant population did not increase the growth but significantly increased rice production (Oryza sativa L.).
Keywords: row legowo, number of seeds, rice paddy
RIWAYAT HIDUP
Penulis, Endow Richardo, lahir di Pekanbaru pada 03 Mei 1995. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Alm. Bapak Miduk Halomoan Simanullang dan Ibu Lisbet Hutabarat.
Adapun riwayat pendidikan penulis, yaitu pada tahun 2013, penulis lulus dari SMA Negeri 003 Batam dan pada tahun yang sama diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SBMPTN pada Program Studi Agroekoteknologi dan memilih minat studi Ilmu Tanah.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif mengikuti beberapa organisasi dan tercatat sebagai anggota HIMAGROTEK (Himpunan Mahasiswa Agroteknologi) Fakultas Pertanian USU Tahun 2013 – 2018, anggota Bidang Sosial HIMAGROTEK (Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi) Fakultas Pertanian USU Tahun 2016-2017, anggota PARINTAL (Putra-Putri Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup) Fakultas Pertanian USU tahun 2015-2018, anggota GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Fakultas Pertanian USU tahun 2015 - 2018.
Pada tahun 2016 penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Berangir, Labuhan Batu.
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Pengaruh Sistem Tanam Jajar Legowo Yang Dimodifikasi Dan Jumlah Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Almarhum Ayahanda yang selalu memberi dukungan selama masa hidupnya serta Ibunda yang tidak lelah – lelah nya memberi dukungan moril maupun materiil yang tidak terkira. Penulis juga ingin mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Ir. Erwin Masrul Harahap, M.S., dan Benny Hidayat, SP., MP., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada teman – teman serta adik – adik yang telah memberi dukungan dalam penyelesaian skripsi.
Semoga dengan adanya skripsi ini dapat membantu pihak-pihak yang membutuhkan informasi untuk kemajuan pertanian selanjutnya. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.
Medan, Mei 2018
Penulis
Hal.
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang... ... 1
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
Kegunaan Penulisan ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Sistem Tanam Jajar Legowo ... 6
Jumlah Bibit ... 9
Pertumbuhan dan Produksi Padi ... BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 11
Bahan dan Alat ... 11
Metode Penelitian ... 11
Pelaksanaan Penelitian... 13
Persiapan Lahan ... 13
Penyemaian ... 13
Penanaman ... 13
Pemeliharaan ... 14
Pemanenan ... 14
Parameter Penelitian ... 14
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 19
Pembahasan ... 34
Saran ... 44
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
No. Hal.
1. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Tinggi Tanaman (cm) pada Setiap Umur Pengamatan ... 17 2. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Jumlah
Anakan (batang) pada Setiap Umur Pengamatan ... 21 3. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Jumlah
malai (malai) per Sampel ... 24 4. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Panjang
Malai (cm) per Sampel ... 26 5. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Bobot
Gabah Bruto per Plot (g) ... 28 6. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit
terhadap Bobot Gabah Bruto per Plot (g) ... 28 7. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Bobot
Gabah Netto per Plot (g) ... 30 8. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit
terhadap Bobot Gabah Bruto per Plot (g) ... 28 9. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Bobot
Gabah 1000 Butir Gabah Kering per Plot (g) ... 31 10. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit terhadap Bobot
Jerami Kering per Plot (g) ... 32 11. Rataan Hasil Gabah dan Jerami Berdasarkan Jumlah Bibit dan Umur
Bibit Padi Sawah ... 51 12. Analisis Unsur Hara Tanaman Padi yang Hilang Akibat Panenan
(Jerami dan Gabah) ... 52
No. Hal.
1. Deskripsi Padi Sawah Varietas Ciherang ... 48
2. Bagan Plot Penelitian ... 49
3. Bagan Penanaman pada Plot ... 50
4. Perhitungan Dosis Pupuk ... 51
5. Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Penelitian ... 53
6. Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Padi Sawah 2 MST... 54
7. Sidik Ragam Tinggi Tinggi Tanaman Padi Sawah 2 MST ... 54
8. Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Padi Sawah 4 MST... 55
9. Sidik Ragam Tinggi Tanaman Padi Sawah Umur 4 MST ... 55
10. Data Pengamatan Tinggi Tanaman (cm) Padi Sawah 6 MST... 56
11. Sidik Ragam Tinggi Tanaman Padi Sawah 6 MST ... 56
12. Data Pengamatan Jumlah Anakan (batang) Tanaman Padi Sawah Umur 2 MST ... 57
13. Sidik Ragam Jumlah Anakan (batang) Tanaman Padi Sawah Umur 2 MST... 57
14. Data Pengamatan Jumlah Anakan (batang) Tanaman Padi Sawah Umur 4 MST ... 58
15. Sidik Ragam Jumlah Anakan (batang) Tanaman Padi Sawah Umur 4 MST... 58
16. Data Pengamatan Jumlah Anakan (batang) Tanaman Padi Sawah Umur 6 MST ... 59
17. Sidik Ragam Jumlah Anakan (batang) Tanaman Padi Sawah Umur 6 MST... 59
18. Data Jumlah Malai per Sampel (malai) Tanaman Padi Sawah ... 60
19. Sidik Ragam Jumlah Malai per Sampel Tanaman Padi Sawah ... 60
21. Sidik Ragam Panjang Malai per Sampel Tanaman Padi Sawah ... 60
22. Data Bobot Gabah Bruto per Plot (g) Tanaman Padi Sawah ... 61
23. Sidik Ragam Bobot Gabah Bruto per Plot Tanaman Padi Sawah ... 61
24. Data Bobot Gabah Netto per Plot (g) Tanaman Padi Sawah ... 62
25. Sidik Ragam Bobot Gabah Netto per Plot Tanaman Padi Sawah ... 62
26. Data Bobot Gabah 1000 Butir Gabah Kering per Plot (g) Tanaman Padi Sawah ... 64
27. Sidik Ragam Bobot Gabah 1000 Butir Gabah Kering per Plot Tanaman Padi Sawah ... 64
28. Data Bobot Jerami Kering per Plot (g) Tanaman Padi Sawah ... 65
29. Sidik Ragam Bobot Jerami Kering per Plot Tanaman Padi Sawah ... 65
30. Foto Penelitian ... 66
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk yang pesat saat ini memberi dampak yang luas bagi segala aspek, terutama di bidang pangan. Pangan merupakan hal mendasar yang harus dipenuhi bagi setiap manusia, dan pada masyarakat Indonesia padi merupakan tanaman pangan pokok utama yang dikonsumsi kebanyakan.
Namun pada hasil SUSENAS BPS pada tahun 2009-2014, bahwa konsumsi rumah tangga akan padi padian kapita per tahun mengalami penurunan dan naik pada tahun 2015 dengan konsumsi 84,889 kg/tahun. Dari data yang ada konsumsi masyarakat akan terus meningkat seiring pertambahan penduduk di Indonesia yang telah mencapai 255,46 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,59%
pada tahun 2015 (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2016).
Peningkatan produksi padi di Indonesia sampai pada tahun 2015 mencapai 75,39 juta ton dengan peningkatan 6,03% dari tahun 2014. Produktivitas padi nasional mencapai 53,41 kuintal/hektar membuat produktivitas padi meningkat
2,06 kuintal/hektar (3,85%) dengan luas panen 14,12 juta hektar (Badan Pusat Statistik,2016).
Sumatera utara merupakan penghasil padi keenam terbesar dengan produksi padi pada tahun 2015 mencapai 4,04 juta ton dengan produktivitas padi 51,74 kuintal/hektar dan luas panen 0,78 juta hektar. Maka dari itu diperlukan usaha – usaha agar produktivitas padi di Sumatera Utara dapat meningkat dari rata rata produktivitas nasional. Keberhasilan peningkatan produksi padi lebih banyak disumbangkan oleh peningkatan produktivitas dibandingkan dengan peningkatan luas panen (Sembiring,2008).
Dengan adanya hasil produktivitas yang rendah di Sumatera Utara terkhusus Kota Medan, menandakan terjadinya penurunan kualitas lahan serta pengetahuan akan sistem tanam yang kurang. Selain itu pelandaian produktivitas padi terjadi karena kurangnya ketersediaan teknologi spesifik lokasi dan tingkat adopsi teknologi anjuran yang masih relatif rendah. Penerapan teknologi di tingkat petani umumnya dari tahun ke tahun tidak berbeda, sehingga banyak komponen teknologi budidaya padi sawah perlu diperbaiki (Muljady, dkk., 2005).
Penggunaan pupuk secara rasional dan berimbang adalah salah satu faktor kunci untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian, khususnya di daerah tropis. Dalam implementasinya, penggunaan pupuk secara rasional dan berimbang perlu memperhatikan kadar hara di dalam tanah, jenis dan mutu pupuk, dan keadaan pedo-agroklimat, serta mempertimbangkan unsur hara yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berproduksi optimal (BPTP Gorontalo, 2008).
Jumlah bibit yang sesuai juga merupakan salah satu faktor untuk memperbaiki produksi tanaman padi. Para petani dalam membudidayakan tanaman padi sawah kurang memperhatikan jumlah bibit yang ditanam pada setiap lubang tanam, hal ini menjadikan paradigma pada masyarakat dimana jumlah bibit yang banyak maka produksi akan meningkat. Sistem budidaya padi sawah umumnya memakai 3-7 bibit/lubang tanam, terjadi persaingan unsur hara dan ruang gerak untuk perkembangan akar dan anakan yang pada akhirnya produktivitas rendah (Uphoff, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian Hasrizart (2008) bibit padi yang ditanam 1 bibit/lubang tanam memberikan hasil yang lebih tinggi 0,5%, bila dibandingkan 3 bibit/lubang tanam dan 5 bibit/lubang tanam. Namun pada lahan pertanian banyak
faktor yang menyebabkan bibit rusak, seperti adanya hama, penyakit pada saat pindah tanam, sehingga perlu dilakukan kembali pengembangan dengan menggunakan 2 atau 3 bibit/lubang tanam.
Produktivitas tanaman padi yang masih rendah juga disebabkan oleh penggunaan jarak tanam yang kurang tepat. Melalui pemilihan jarak tanam yang tepat tingkat persaingan antar maupun intern tanaman dapat ditekan serendah mungkin. Selain itu pemilihan jarak tanam juga dapat mengoptimumkan kemampuan tanaman dalam memanfaatkan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam proses fotosintesis seperti cahaya matahari, air dan hara. Jarak tanam merupakan salah satu teknik budidaya yang mengatur tata letak dan populasi tanaman dengan jarak yang pasti menurut dua arah tertentu dalam satu area (Zaubin, 1985).
Berdasarkan hasil penelitian Satria (2017) jarak tanam jajar legowo dapat memberikan peningkatan produktivitas padi sawah paling tinggi dibandingkan dengan perlakuan jarak tanam lainnya dengan luas lahan yang sama. Hal ini terlihat pada parameter pengamatan tertinggi seperti jumlah anakan per plot (batang), jumlah malai per plot (batang), jumlah biji bernas per plot (bulir), jumlah biji hampa per plot (bulir), bobot gabah bruto kering per plot (g), bobot gabah netto kering per plot (g) dan bobot jerami kering per plot (g).
Untuk memecahkan masalah masalah yang ada, penulis melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jumlah bibit dan sistem tanam legowo yang sesuai untuk mencapai produksi yang optimal. Dengan harapan hasil penelitian dapat menjadi acuan atau informasi yang berguna terkhusus bagi petani dalam budidaya tanaman padi sawah.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh jumlah bibit dan sistem tanam jajar legowo yang dimodifikasi terhadap pertumbuhan dan produksi padi sawah (Oryza sativa L.) di Kecamatan Percut Sei Tuan.
Hipotesis Penelitian
1. Jumlah 1 bibit per lubang tanam dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.).
2. Semakin tinggi populasi tanaman maka produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) akan meningkat.
3. Ada interaksi antara jumlah bibit per lubang tanam dan populasi tanaman
dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.).
Kegunaan Penelitian
Sebagai salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai sumber informasi bagi pihak - pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA Tanah Sawah
Lahan sawah merupakan sebutan berdasarkan tipe penggunaan lahan, dimana lahan tersebut ditanami padi sawah secara terus menerus sepanjang tahun atau secara periodik. Tanah sawah dapat berasal dari lahan kering yang diairi atau lahan basah yang dikurangi ketinggian airnya melalui drainase. Dengan demikian tanah sawah sangat beragam yang ditentukan oleh bagaimana sifat tanah asalnya (Madjid, dkk., 2011).
Proses pembentukan tanah sawah meliputi berbagai proses, meliputi:
gleisasi dan eluviasi, pembentukan karatan besi dan mangan, pembentukan warna kelabu (grayzation), pembentukan lapisan tapak baja, pembentukan selaput (cutan), penyebaran kembali basa- basa, dan akumulasi atau dekomposisi dan perubahan bahan organik (Hardjowigeno, 2005).
Lahan pertanian yang berada di lahan basah merupakan tanah tergenang.
Apabila tanah yang disawahkan tersebut pada awalnya berasal dari tanah kering, maka akan terjadi perubahan-perubahan sifat morfologi tanah yang cukup jelas, tetapi bila berasal dari tanah basah, maka perubahan-perubahan tersebut umumnya tidak begitu tampak. Praktek pengolahan tanah pada tanah sawah (pelumpuran/penggenangan) serta adanya proses reduksi - oksidasi dapat menyebabkan perubahan pada sifat - sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sawah (Prasetyo, dkk, 2004).
Penggenangan lahan kering menjadi lahan sawah mengakibatkan perubahan sifat fisik antara lain terbentuk lumpur, porositas meningkat dan bobot jenis tanah menurun. Sedang perubahan sifat kimia tanah pada tanah tergenang
yaitu penurunan kadar oksigen, perubahan potensial redoks (Eh), perubahan Ph tanah, terjadinya nitrifikasi (Madjid, et.al., 2011).
Produktivitas lahan sawah dapat menurun sebagai akibat dari: (1) pengurasan dan defisit hara karena yang terbawa panen lebih banyak dari hara yang diberikan melalui pemupukan atau penambahan dari air irigasi; (2) kelebihan pemberian hara tertentu dan kekurangan hara lainnya karena pemupukan yang tidak berimbang, dan (3) penurunan kadar bahan organik tanah. Degradasi tersebut tidak saja mengancam kuantitas (produktivitas) hasil padi, tetapi juga kualitasnya (Agus dan Mulyani, 2006).
Lahan sawah mempunyai tingkat kesuburan tanah yang relatif lebih tinggi dibandingkan lahan kering. Pada agroekosistem lahan sawah, tanah kahat N lebih banyak ditemui daripada kahat P, K dan unsur lainnya karena perilaku N yang sangat mudah hilang dari dalam tanah sawah (Setyorini, dkk, 2010).
Sistem Tanam Jajar Legowo
Pada budidaya tanaman padi upaya untuk mengatur lingkungan sebagai akibat terjadinya kompetisi antara tanaman di lapangan dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanamnya. Jarak tanam akan mempengaruhi populasi tanaman dan efisiensi penggunaan cahaya, juga mempengaruhi persaingan diantara tanaman dalam penggunaan air dan zat hara sehingga akan mempengaruhi hasilnya (Masdar, 2001).
Pengaturan jarak tanam sangat berkaitan erat dengan kerapatan tanaman.
Kerapatan tanaman akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan jarak tanam yang rapat akan meningkatkan jumlah populasi
namun kompetisi yang dialami tanaman juga semakin ketat. Kompetisi yang intensif antar tanaman dapat mengakibatkan perubahan morfologi pada tanaman, seperti berkurangnya organ yang terbentuk sehingga perkembangan tanaman menjadi terganggu (Harjadi, 1996).
Sistem tanam jajar legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua atau empat) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Istilah Legowo di ambil dari bahasa jawa, yaitu berasal dari kata ”lego”
berarti luas dan ”dowo” berarti memanjang. Legowo di artikan pula sebagai cara tanam padi sawah yang memiliki beberapa barisan dan diselingi satu barisan kosong (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2013).
Sistem tanam legowo merupakan salah satu komponen PTT pada padi sawah yang apabila dibandingkan dengan sistem tanam lainnya memiliki keuntungan sebagai berikut: Terdapat ruang terbuka yang lebih lebar diantara dua kelompok barisan tanaman yang akan memperbanyak cahaya matahari masuk ke setiap rumpun tanaman padi sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis yang berdampak pada peningkatan produktivitas tanaman (Sembiring, 2001).
Pada prinsipnya sistem tanam jajar legowo adalah meningkatkan populasi dengan cara mengatur jarak tanam. Sistem tanam ini juga memanipulasi tata letak tanaman, sehingga rumpun tanaman sebagian besar menjadi tanaman pinggir.
Tanaman padi yang berada di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak, sehingga menghasilkan gabah lebih tinggi dengan kualitas yang lebih baik (Ikhwani, dkk., 2013).
Peningkatan populasi padi dengan menggunakan sistem tanam jajar legowo tidak seragam, tergantung pada tipe jajar legowo yang digunakan.
Menurut Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP, 2013) tipe sistem tanam jajar legowo terbagi kedalam lima tipe yaitu tipe 2:1, tipe 3:1, tipe 4:1, tipe 5:1 dan tipe 6:1. Pengertian dari tipe legowo 2:1 adalah cara tanam yang memiliki dua barisan kemudian diselingi oleh satu barisan kosong dimana pada setiap baris pinggir mempunyai jarak tanam setengah kali jarak tanam antar barisan. Adapun pengertian dari jajar legowo 4:1 adalah cara tanam yang memiliki empat barisan kemudian diselingi oleh satu barisan kosong dimana setiap baris pinggir memiliki jarak tanam dua kali jarak tanam pada barisan tengah, demikian pula pada tipe jajar legowo 3:1, 5:1, dan 6:1 (BKP3K Gorontalo, 2012).
Hasil yang lebih tinggi dicapai dengan sistem tanam legowo dibandingkan dengan sistem tegel (25x25) cm. Semakin lebar jarak tanam menghasilkan anakan yang lebih banyak, pertumbuhan akar yang lebih baik disertai dengan berat kering akar dan tekanan turgor yang tinggi, serta kandungan prolin yang rendah dibandingkan dengan jarak tanam yang lebih sempit. Legowo 4:1 menghasilkan produksi gabah tertinggi, tetapi untuk mendapat bulir gabah berkualitas benih lebih baik jika digunakan legowo 2:1. Legowo 2:1 mampu mengurangi kehampaan akibat efek tanaman pinggir (Badan Litbang Pertanian, 2007).
Sistem tanam jajar legowo memiliki jumlah rumpun per satuan luas lebih banyak dibandingkan cara tanam tegel yang setara, misalnya tanam tegel 25 cm x 25 cm memiliki populasi 160.000 rumpun per ha, sedangkan legowo 2:1 yang setara dengan 25-50 cm x 12,5 cm memiliki populasi 213.333 rumpun. Orientasi
pertanaman jajar legowo meskipun pada populasi yang sama berpeluang menghasilkan gabah yang lebih tinggi karena lebih banyaknya fotosintesis yang terjadi, karena lebih efektifnya pertanaman menangkap radiasi surya dan mudahnya difusi gas CO2 untuk fotosintesis (Ikhwani, dkk., 2013).
Jumlah Bibit
Faktor populasi tanaman yang ditentukan oleh jumlah bibit per lubang dan jarak tanam merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman padi. Pemakaian bibit per titik tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu rumpun. Jumlah bibit per titik tanam yang lebih sedikit akan memberikan ruang pada tanaman untuk menyebar dan memperdalam perakaran (Berkelaar, 2001).
Penanaman bibit dengan jumlah relatif lebih banyak (5-10 batang/rumpun) menyebabkan terjadinya persaingan (kompetisi) sesama tanaman padi (kompetisi inter spesies) yang sangat berat, terutama dalam hal mendapatkan air, unsur hara, CO2, O2, cahaya dan ruang untuk tumbuh, sehingga pertumbuhan akar menjadi tidak normal. menyebabkan tanaman menjadi lemah, mudah rebah dan mudah terserang oleh hama dan penyakit. Penggunaan bibit umur muda (10-15 hari) dengan jumlah bibit kurang dari 5 batang/ rumpun dapat meningkatkan hasil, mutu gabah dan beras yang lebih baik (Standard Bulog) (Musa, 2000).
Menurut hasil penelitian Dacbhan dan Dibisono (2010) pemakaian 1 dan 2 bibit per lubang tanam memberikan hasil yang secara statistik lebih tinggi dibanding perlakuan 3 bibit per lubang tanam. Tanaman dengan 1 bibit per lubang tanam menghasilkan 19,61 anakan produktif dan 8,09 ton gabah/ha. Pemakaian
jumlah bibit 1 bibit per lubang tanam berarti telah menghemat biaya bibit 50%
dibandingkan pemakaian 2 bibit perlubang tanam.
Penanaman 1bibit / lubang tanam, sebelum keluar anakan pertama tumbuh pada batang primer, tanaman tersebut mempunyai waktu untuk recovery atau kembali menstabilkan diri di lapangan akhirnya anakan yang terbentuk akan maksimal. Anakan pertama tumbuh pada kondisi yang terbaik, sehingga terbentuk anakan yang banyak dan rumpun yang besar (Vallois, dkk., 2000).
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanjung Rejo, Kecamatan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat 20 m di atas permukaan laut. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei 2017 sampai dengan September 2017.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah benih padi dari varietas Ciherang, cup air mineral sebagai wadah media semai, lahan sawah Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan sebagai media tanam padi sawah, pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik, urea, SP-36, KCl, dolomit, ZA, dan pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit.
Alat yang digunakan pada penelitian ini yaitu ; traktor digunakan untuk mengolah tanah dan membersihkan lahan penelitian, tali plastik digunakan sebagai pembatas setiap plot percobaan, meteran untuk mengukur luas lahan, timbangan analitik untuk menimbang bahan pendukung penelitian, spidol/pensil sebagai alat tulis, kamera sebagai alat dokumentasi, dan sejumlah alat-alat pendukung proses penelitian.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang diulang sebanyak tiga kali yang diuji seperti berikut :
Faktor I : Jumlah Bibit (B) B1 : 1 bibit per rumpun B2 : 2 bibit per rumpun B3 : 3 bibit per rumpun
Faktor II : Modifikasi Sistem Tanam Jajar Legowo (L) (Lampiran 3).
L0 : Sistem tanam petani dengan populasi 48 rumpun/petak L1 : Sistem tanam jajar legowo dengan populasi 60 rumpun/petak L2 : Sistem tanam jajar legowo dengan populasi 114 rumpun/petak L3 : Sistem tanam jajar legowo dengan populasi 154 rumpun/petak L4 : Sistem tanam jajar legowo dengan populasi 190 rumpun/petak Sehingga diperoleh 15 kombinasi perlakuan sebagai berikut :
B1L0 B1L1 B1L2 B1L3 B1L4
B2L0 B2L1 B2L2 B2L3 B2L4
B3L0 B3L1 B3L2 B3L3 B3L4
Jumlah Ulangan : 3
Total Perlakuan : 15 x 3 = 45 perlakuan Model linier Rancangan Acak Lengkap Faktorial :
Yijk = µ + αi + βj + (αβ) ij + ∑ijk
Yijk : Hasil pengamatan untuk faktor jumlah bibit taraf ke-i, faktor modifikasi sistem tanam legowo taraf ke-j pada ulangan ke-k
µ : Rataan umum
αi : Pengaruh jumlah bibit pada taraf ke-i
βj : Pengaruh sistem tanam jajar legowo pada taraf ke-j
(αβ) ij : Interaksi antara jumlah bibit pada taraf ke-i dan modifikasi sistem tanam legowo pada taraf ke-j
∑ijk : Galat percobaan untuk faktor jumlah bibit taraf ke-i dan pengaruh modifikasi sistem tanam taraf ke-j pada ulangan ke-k
Selanjutnya data di analisis dengan Analisis Varian pada setiap parameter yang di ukur dan di uji lanjutan bagi perlakuan yang nyata dengan menggunakan Uji Jarak Duncan (Duncan’s Multiple Range Test) taraf 5 % dan 1 %.
Pelaksanaan Penelitian Persiapan lahan
Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna, kemudian dibuat petakan ukuran 2 m x 1,5 m sebanyak 45 petakan. Saluran air masuk dan air keluar diatur sedemikian rupa sehingga sistem pengairan berjalan baik dan lancar dengan sumber pengairan berasal dari irigasi dan hujan. Pemupukan dilakukan dua kali, yakni setelah pengolahan tanah dan 2 minggu setelah tanam. Pupuk organik sebagai pupuk dasar diberikan setiap plot dengan dosis 250 gr/plot dan pupuk ZA dengan dosis 22,22 gr/plot, pada umur tanaman 2 MST. Pupuk yang diberikan sesuai dengan target produksi yang akan dicapai yaitu 10 ton/ha, dengan dosis 10,32 Kg urea/lahan, 4,632 Kg SP-36/lahan, 11,940 Kg KCl/lahan, dan 11,644 Kg dolomit/lahan (Lampiran 4). Kemudian keempat pupuk tersebut diaplikasikan ketanah, dan tanah diolah kembali sehingga pupuk dapat tercampur merata di dalam tanah.
Penyemaian
Benih padi direndam selama 48 jam, kemudian benih ditiriskan selama 24 jam hingga benih berkecambah. Benih kemudian disemai didalam cup air mineral yang telah berisi media tanam yang sesuai selama 2 minggu. Setelah 2 minggu benih siap dipindahkan kelubang tanam menurut perlakuan yang telah ditentukan.
Penanaman
Penanaman di lahan dilakukan ketika umur bibit 2 minggu setelah semai.
Jumlah bibit yang ditanam per lubang dilakukan sesuai perlakuan, yaitu 1 bibit per lubang tanam, 2 bibit per lubang tanam, dan 3 bibit per lubang tanam.
Pemeliharaan
Pengendalian hama penyakit dilakukan terhadap tanaman yang terserang hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida dan fungisida sesuai gejala serangan yang ditemukan dilapangan. Penyiangan dilakukan secara manual dengan membersihkan petakan-petakan sawah hingga bersih dari gulma.
Pemanenan
Pemanenan dilakukan ketika tanaman telah menunjukkan kriteria matang panen dengan ciri-ciri daun bagian atas mengering, gabah matang penuh, keras dan berwarna kuning. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong batang dibawah malai dengan menggunakan sabit pada plot tanaman.
Parameter Penelitian
A. Pertumbuhan Tanaman Padi Sawah
Pengamatan pertumbuhan tanaman padi sawah dilakukan pada saat tanaman memasuki masa vegetatif awal hingga masa vegetatif akhir dengan interval waktu satu kali dalam dua minggu. Pengamatan yang dilakukan meliputi :
1. Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan mulai tanaman berumur 1 minggu setelah pindah tanam dengan interval waktu satu kali dalam 2 minggu hingga
tanaman mengeluarkan bulir. Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang sampai ujung daun setiap tanaman sampel per plot.
2. Jumlah Anakan per Rumpun (batang)
Jumlah anakan dihitung mulai tanaman berumur 1 minggu setelah pindah tanam dengan interval waktu satu kali dalam 2 minggu hingga tanaman mengeluarkan bulir. Jumlah anakan diukur dengan menghitung jumlah anakan dari setiap tanaman sampel per plot.
B. Produksi Tanaman Padi Sawah
Pengamatan produksi tanaman padi sawah dilakukan pada saat panen.
Pengamatan yang dilakukan meliputi : 1. Jumlah Malai (batang)
Jumlah malai dihitung saat panen dengan cara, menghitung semua malai yang sudah berisi dan matang menjadi buah pada rumpun setiap tanaman sampel per plot.
2. Panjang Malai (cm)
Panjang malai dihitung saat panen dengan cara, mengukur panjang semua malai yang sudah berisi dan matang menjadi buah pada setiap tanaman sampel per plot.
3. Bobot Gabah Bruto (g)
Bobot gabah bruto dihitung dengan cara menimbang hasil gabah hampa dan gabah bernas per plot yang dijemur selama satu hari dan dikonversikan ke hektar.
4. Bobot Gabah Netto (g)
Bobot gabah netto dihitung dengan cara menimbang hasil gabah bernas per plot yang telah dijemur selama satu hari dan dikonversikan ke hektar.
5. Bobot 1000 Butir Gabah Kering (g)
Bobot 1000 butir gabah kering dihitung dengan cara menimbang 1000 gabah bernas yang dikeringkan selama satu hari dari setiap rumpun tanaman sampel.
6. Bobot Jerami Kering (g)
Penghitungan bobot jerami kering dilakukan dengan mengeringkan jerami selama satu hari dari setiap rumpun tanaman per plot, kemudian ditimbang.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Parameter Pertumbuhan
Data pengamatan tinggi tanaman dan jumlah anakan padi sawah serta hasil analisis statistik sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 6 sampai pada lampiran 17. Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman sedangkan terhadap jumlah anakan berpengaruh nyata pada umur pengamatan 2 MST dan 6 MST serta tidak nyata pada umur pengamatan 4 MST.
Tinggi Tanaman
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap tinggi tanaman (cm) disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Tinggi Tanaman (Cm) pada Setiap Umur Pengamatan
Umur Pengamatan
Jumlah Bibit
Populasi Tanaman
L0 L1 L2 L3 L4 Rataan
2 MST
---Cm---
B1 43,45 39,64 48,11 44,96 54,39 44,04bA
B2 52,33 48,05 53,27 50,57 52,31 51,055aA
B3 44,94 46,38 45,81 44,59 50,79 45,43bA
Rataan 46,9067 44,69 49,0633 46,7067 52,4967 46,8417 4 MST
B1 58,25 58,2 62,46 64,37 84,89 65,634bB
B2 75,79 68,56 83,41 76,27 81,77 77,16aA
B3 44,94 66,46 66,31 68,85 83,88 66,088abAB
Rataan 59,66bB 64,4067bB 70,7267bAB 69,83bAB 83,5133aA 69,6273
6 MST
B1 88,39 83,48 87,6 94,2 98,55 88,4175
B2 96,37 91,99 98,62 98,23 97,49 96,3025
B3 88,54 93,97 90,45 92,45 102,73 91,3525
Rataan 91,1bAB 89,8133bB 92,2233bAB 94,96abAB 99,59aA 92,0242
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil uji beda rataan taraf 5% pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada faktor jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur pengamatan 4 MST dan 6 MST, sedangkan faktor jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur pengamatan 2 MST dan 4 MST.
Pada umur pengamatan 2 MST rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 51,055 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan B1 (jumlah 1 bibit) dan B3 (jumlah 3 bibit), sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan B1 (jumlah 1 bibit) yaitu 44,04 cm. Hal ini disebabkan jumlah 2 bibit lebih baik pada proses pemanfaatan unsur hara serta cahaya, dan air pada proses pertumbuhan tanaman.
Faktor jumlah populasi tanaman pada umur pengamatan 4 MST terhadap tinggi tanaman, rataan tertinggi terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 85,5133 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan L3, L2, L1, dan L0. Rataan tertinggi pada faktor jumlah bibit terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 77,16 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan B1 (jumlah 1 bibit). Sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan L0 (jumlah populasi 48 tanaman per rumpun) yaitu 59,66 cm dan B1 (jumlah 1 bibit) yaitu 65,634 cm.
Hasil analisis uji F taraf 5% pada umur pengamatan 6 MST rataan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 99,59 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan L0, L1, dan L2, sedangkan rataan tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per rumpun) yaitu 89,8133 cm. Perlakuan dengan jumlah populasi tanaman yang tinggi menunjukkan pertambahan tinggi tanaman yang
signifikan, hal ini berkaitan dengan proses persaingan dalam penyerapan cahaya matahari serta unsur hara yang tersedia pada lingkungan tumbuh.
Jumlah Anakan
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap jumlah anakan (batang) disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Jumlah Anakan (Batang) pada Setiap Umur Pengamatan
Umur Pengamatan
Jumlah Bibit
Populasi Tanaman
L0 L1 L2 L3 L4 Rataan
2 MST
---batang---
B1 1,9 2,9 2,9 2,3 6,6 3,32bA
B2 5,7 4,6 7,5 5,9 5,7 5,88aA
B3 2,9 3,4 2,3 2,5 7,2 3,66bA
Rataan 3,5 3,63333 4,23333 3,56667 6,5 4,28667
4 MST
B1 14,87 15,87 13,80 12,13 13,33 14,00
B2 25,73 31,13 18,60 14,93 12,27 20,53
B3 16,13 21,33 17,93 15,00 17,07 17,49
Rataan 18,91 22,78 16,78 14,02 14,22 17,34
6 MST
B1 24,87 20,53 22,33 18,67 12,33 19,75
B2 25,20 32,47 17,20 15,47 13,47 20,76
B3 30,33 29,07 19,67 14,07 14,73 21,57
Rataan 26,80aA 27,36aA 19,73bB 16,07bcB 13,51cB 20,69
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil uji beda rataan taraf 5% pada Tabel 2 menunjukkan bahwa faktor jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata pada umur pengamatan 6 MST sedangkan faktor jumlah bibit berpengaruh nyata pada umur pengamatan 2 MST.
Pada umur pengamatan 4 MST faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan padi sawah.
Pada umur pengamatan 2 MST rataan jumlah anakan tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 5,88 batang yang berbeda nyata dengan
perlakuan B1, dan B3. Sedangkan rataan jumlah anakan terendah terdapat pada perlakuan B1 (jumlah 1 bibit) yaitu 3,32 batang.
Hasil uji F taraf 5% pada umur pengamatan 6 MST rataan jumlah anakan tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per rumpun) yaitu 27,36 batang yang berbeda nyata dengan perlakuan L2, L3, dan L4.
Sedangkan rataan jumlah anakan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 13,51 batang. Perlakuan dengan jarak tanam yang lebar menyebabkan pertambahan anakan lebih tinggi dikarenakan ruang tumbuh yang lebih lebar, sehingga penyerapan unsur hara, air, serta cahaya lebih baik per tanaman.
Parameter Produksi
Dari hasil analisis sidik ragam dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit pada parameter produksi berpengaruh nyata terhadap jumlah malai per sampel (malai), bobot gabah bruto per plot (g), dan bobot gabah netto per plot (g), tetapi tidak nyata terhadap panjang malai per sampel (cm), bobot 1000 biji per sampel (g), dan bobot jerami kering per plot (g). Interaksi faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah bruto per plot (g), dan bobot gabah netto per plot (g) dan tidak berpengaruh nyata terhadap parameter produksi lainnya.
Jumlah Malai
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap jumlah malai (malai) tersaji pada Tabel 3.
Tabel 3. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Jumlah Malai (malai) per Sampel
Jumlah Bibit (B)
Populasi Tanaman (L)
Rataan
L0 L1 L2 L3 L4
---Malai---
B1 22,87 16,47 17,13 19,53 11,33 5,82222
B2 22,80 21,53 15,20 19,07 12,33 6,06222
B3 19,27 20,33 18,00 13,33 13,07 5,6
Rataan 21,64aA 19,44abAB 16,78bBC 17,31bAB 12,24cC
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil uji beda rataan pada taraf 5% menunjukkan bahwa pengaruh jumlah populasi tanaman terhadap jumlah malai berpengaruh nyata sedangkan pengaruh jumlah bibit tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah malai. Rataan jumlah malai tertinggi terdapat pada perlakuan L0 (jumlah populasi 48 tanaman per rumpun) yaitu 21,64 malai yang berbeda nyata dengan perlakuan L2, L3, dan L4, serta tidak berbeda nyata dengan perlakuan L1. Jumlah rataan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 114 tanaman per rumpun) yaitu 12,24 malai.
Panjang Malai
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap panjang malai (cm) disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Panjang Malai (cm)
Jumlah Bibit (B)
Populasi Tanaman (L)
Rataan
L0 L1 L2 L3 L4
---(cm)---
B1 25,58 16,47 25,06 23,32 24,97 23,08
B2 23,47 26,23 23,08 24,15 25,78 24,54
B3 19,27 26,89 24,98 23,80 22,82 23,55
Rataan 22,77 23,20 24,37 23,76 24,52 23,72
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil analisis statistik uji F pada taraf 5% menunjukkan bahwa pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap panjang malai (cm) tidak
berpengaruh nyata. Tetapi dapat dilihat bahwa secara perhitungan rataan panjang malai tertinggi terdapat pada jumlah 2 bibit yaitu 24,54 cm, dan diikuti jumlah 3 bibit 23,55 cm serta jumlah 1 bibit 23,08 cm. Sedangkan rataan panjang malai tertinggi terdapat pada jumlah populasi 190 tanaman per petak yaitu 24,52 cm dan rataan terendah terdapat pada jumlah populasi 48 tanaman per petak yaitu 22,77 cm.
Bobot Gabah Bruto
Hasil uji beda rataan pengaruh interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot gabah bruto per plot (g) disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Pengaruh Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Gabah Bruto per Plot (g)
Jumlah Bibit (B)
Populasi Tanaman (L)
Rataan
L0 L1 L2 L3 L4
---(g)---
B1 2633bcdAB 2545cdABC 2700abcdAB 2550cdABC 2741abcdAB 2634abA B2 2796,67abcAB 2966,33aA 2613,33bcdAB 2736,67abcdAB 2656,67abcdAB 2753,933aA B3 2788,33abcAB 2959,33abA 2560cdABC 2400deBC 2093,33 eC 2560,2bA Rataan 2739,44abAB 2823,55aA 2624,44bcAB 2562,22bcB 2497,11cB
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Pada hasil analisis statistik uji beda rataan pada taraf 5% menunjukkan bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit serta interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah bruto per plot (g).
Pada faktor perlakuan jumlah bibit dapat dilihat berbeda nyata pada seluruh perlakuan. Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bobot gabah bruto tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 2753,933 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,18 ton. Sedangkan bobot gabah bruto terendah terdapat pada
perlakuan B3 (jumlah 3 bibit) yaitu 2560,2 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,534 ton.
Berdasarkan Tabel 5 diperoleh bobot gabah bruto tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman) yaitu 2823,56 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,412 ton, sedangkan bobot gabah bruto terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman) yaitu 2497,11 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,324 ton.
Interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah bruto per plot (g). Berdasarkan Tabel 6 rataan bobot gabah bruto per plot tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per petak) yaitu 2966,33 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,89 ton. Sedangkan rataan bobot gabah bruto per plot terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 2093,33 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 6,98 ton.
Bobot Gabah Netto
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot gabah netto per plot (g) disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Gabah Netto per Plot (g)
Jumlah Bibit (B)
Populasi Tanaman (L)
Rataan
L0 L1 L2 L3 L4
---(g)---
B1 2427bcdABCD 2402cdeBCD 2423abcdABCD 2393bcdABCD 2518abcdABC 2433abA B2 2600abABC 2783aA 2413,333bcdABCD 2480abcdABC 2456,6667bcdABCD 2546,6aA
B3 2655abcABC 2708abAB 2323,333bcdABCD 2250deCD 1986,6667eD 2384,6bA
Rataan 2560,56abAB 2630,89aA 2386,67cB 2374,44cB 2320,44cB
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Pada hasil analisis statistik uji beda rataan pada taraf 5% menunjukkan bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit serta interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah netto per plot (g).
Pada faktor perlakuan jumlah populasi tanaman dapat dilihat berbeda nyata pada seluruh perlakuan. Berdasarkan tabel diatas diperoleh rataan bobot gabah netto tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman) yaitu 2630,89 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,77 ton, sedangkan rataan bobot gabah netto terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman) yaitu 2320,44 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 7,73 ton.
Berdasarkan faktor jumlah bibit diperoleh rataan bobot gabah netto tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) yaitu 2546,6 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 8,488 ton, sedangkan rataan bobot gabah netto terendah terdapat pada perlakuan B3 (jumlah 3 bibit) yaitu 2384,6 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 7,94 ton.
Berdasarkan interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit diperoleh rataan bobot gabah netto per plot tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot) yaitu 2783 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 9,27 ton. Sedangkan rataan bobot gabah netto per plot terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman per rumpun) yaitu 1986,67 gram yang dikonversi ke ton/ha mencapai 6,62 ton.
Bobot 1000 Butir Gabah Kering
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot 1000 butir gabah kering (g) disajikan pada Tabel 7
Tabel 7. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Gabah 1000 Butir Gabah Kering per Plot (g)
Jumlah Bibit (B)
Populasi Tanaman (L)
Rataan
L0 L1 L2 L3 L4
---(g)---
B1 29,30 26,11 26,94 26,30 25,82 26,89
B2 27,09 26,17 28,21 26,03 26,55 26,81
B3 26,15 26,06 24,64 26,10 27,15 26,02
Rataan 27,51 26,11 26,60 26,15 26,51
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil analisis statistik uji F pada taraf 5% pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot 1000 biji gabah kering (g) tidak berpengaruh nyata. Tetapi dapat dilihat bahwa secara perhitungan rataan jumlah bibit tertinggi terdapat pada jumlah 1 bibit 26,89 gram, dan diikuti jumlah 2 bibit 26,81 gram serta jumlah 3 bibit 26,02 gram. Sedangkan rataan jumlah populasi tanaman tertinggi terdapat pada jumlah populasi 48 tanaman 27,51 gram dan rataan terendah terdapat pada jumlah populasi 60 tanaman 26,11 gram.
Bobot Jerami Kering
Hasil uji beda rataan pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot jerami kering (g) disajikan pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengaruh Interaksi Jumlah Populasi Tanaman dan Jumlah Bibit Terhadap Bobot Jerami Kering per Plot (g)
Jumlah Bibit (B)
Populasi Tanaman (L) Rataan
L0 L1 L2 L3 L4
---(g)---
B1 2976,67 4506,67 4123,33 3860,00 3996,67 2633,93
B2 3726,67 4060,00 4650,00 4466,67 4170,00 2753,93 B3 4316,67 4190,00 3860,00 4256,67 2633,33 2560,2 Rataan 2739,44 2823,55 2624,44 2562,22 2497,11
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama adalah berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji Jarak Berganda Duncan
Hasil analisis statistik uji F pada taraf 5% pengaruh jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap bobot jerami kering (g) tidak berpengaruh nyata. Tetapi dapat dilihat bahwa secara perhitungan rataan jumlah bibit tertinggi terdapat pada jumlah 2 bibit yaitu 2753,93 gram, dan diikuti jumlah 1 bibit 2633,93 gram serta jumlah 3 bibit 2560,20 gram. Sedangkan rataan jumlah populasi tanaman tertinggi terdapat pada jumlah populasi 60 tanaman per petak yaitu 2823,55 gram dan rataan terendah terdapat pada jumlah populasi 190 tanaman per petak yaitu 2497,11 gram.
Pembahasan
Pengaruh Sistem Tanam Jajar Legowo yang Dimodifikasi dan Jumlah Bibit terhadap Pertumbuhan Padi Sawah (Oryza sativa L.)
Pada hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa faktor jumlah bibit berpengaruh nyata pada awal masa pertumbuhan vegetatif, sedangkan faktor jumlah populasi berpengaruh nyata pada pertengahan masa pertumbuhan vegetatif. Hal ini terjadi karena pada awal masa pertumbuhan terjadi persaingan dan adaptasi dalam satu rumpun/lubang dalam pembentukan tunas sedangkan pada pertengahan masa pertumbuhan sudah terjadi persaingan antar rumpun/baris dalam proses pembentukan anakan dan pemanjangan batang hingga pembentukan malai (Makarim dan Suhartatik,2007).
Pada faktor jumlah populasi dapat dilihat bahwa jumlah populasi yang semakin banyak, jarak antar tanaman akan semakin rapat sehingga pengaruh pertumbuhan tanaman akan berbeda. Peningkatan jumlah populasi tanaman padi berkorelasi positif terhadap tinggi tanaman. Menurut literatur Aribawa (2012) Hal ini dapat disebabkan oleh adanya persaingan antar tajuk tanaman dalam pemanfaatan cahaya matahari, selain itu sifat dan ciri varietas yang dimiliki serta faktor iklim.
Kesuburan tanah mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Makin subur tanah makin besar pertumbuhan tanaman yang ditandai salah satunya oleh tinggi tanaman akibat nutrisi yang terserap tanaman makin banyak. Diduga bahwa tanah sawah memiliki kandungan Kalium bekas jerami sehingga lebih subur
dibandingkan lahan kering. Maka pertumbuhan tanaman pun lebih subur (Yulyatin, 2013).
Pemakaian bibit per titik tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu rumpun. Jumlah bibit per titik tanam yang lebih sedikit akan memberikan ruang pada tanaman untuk menyebar dan memperdalam perakaran (Berkelaar, 2001).
Hal ini terjadi karena ruang tumbuh yang sempit dan terbatas menjadikan produksi jumlah anakan berkurang. Oleh karena padi bersifat merumpun melalui pembentukan anakan, maka penanaman dengan jarak tanam rapat mengakibatkan ruang tumbuh yang terbatas dan mengurangi produksi anakan, baik anakan total maupun anakan produktif. Anakan yang terbentuk pada kepadatan populasi tinggi adalah anakan primer dan sekunder, sedangkan anakan tersier yang terbentuk umumnya tidak mampu berkompetisi pada ruang tumbuh yang sempit (Sumardi,2010).
Pada fase vegetatif , tanaman membutuhkan unsur hara yang cukup agar pertumbuhan tanaman dapat berkembang dengan baik. Dengan adanya penambahan dosis pupuk pada penelitian ini dapat dilihat bahwa pertumbuhan tanaman berkembang dengan baik dan penyerapan unsur hara dapat merata pada setiap tanaman karena unsur hara yang cukup.
Zeng and Shannon (2000) melaporkan bahwa peningkatan populasi tanaman per satuan luas berkorelasi negatif dengan jumlah anakan yang
dihasilkan, baik anakan total maupun anakan produktif, tetapi berkorelasi posistif dengan jumlah malai per satuan luas.
Atman (2007) menjelaskan, bahwa penanaman bibit dengan jumlah yang relatif lebih banyak menyebabkan terjadinya persaingan sesama tanaman padi (kompetisi inter spesies) yang sangat keras untuk mendapatkan air, unsur hara, CO2, O2, cahaya dan ruang untuk tumbuh, sehingga pertumbuhan akan menjadi tidak normal. Akibatnya, tanaman padi menjadi lemah, mudah rebah, mudah terserang penyakit, dan keadaan tersebut dapat mengurangi hasil gabah.
Sedangkan penggunaan jumlah bibit yang lebih sedikit (1-3 bibit per lubang tanam) menyebabkan persaingan sesama tanaman padi akan lebih ringan, lebih sedikitnya jumlah benih yang digunakan, sehingga mengurangi biaya produksi, dan penghasilan gabah akan meningkat.
Selanjutnya Masdar (2006) menyatakan bahwa jumlah bibit per lubang tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu rumpun.
Pengaturan jarak tanam dapat menghindari terjadinya tumpang tindih diantara tajuk tanaman, memberikan ruang bagi perkembangan akar dan tajuk tanaman dan meningkatkan efisiensi penggunaan benih. Pada tanah subur jarak tanam cenderung lebih lebar, sedangkan tanah yang kurang subur jarak tanam cendrung lebih rapat (Sumarno, 1986).
Hal ini disebabkan karena perlakuan jumlah 2 bibit per lubang tanam dengan frekuensi pengendalian gulma 10, 20, 30 dan 40 hst sudah mampu menyerap hara dengan baik dalam tanah dan gulma yang sering dicabut sudah mampu mengurangi adanya persaingan antara tanaman dan gulma sehingga
unsur-unsur hara dan air dari dalam tanah dan penerimaan cahaya matahari untuk proses fotosintesis lebih optimal.
Menurut Mubair dalam Purwasasmita dan Alik (2013) menyebutkan bahwa dengan menanam 3 bibit padi dalam satu lubang atau lebih akan menyebabkan terjadinya persaingan perebutan unsur hara dan sinar matahari sehingga pertumbuhan tidak maksimal. Pada bibit dari satu benih atau tunggal bisa menghasilkan 45-60 anakan, sedangkan yang ditanam 3-5 bibit hanya bisa menghasilkan 25-45 anakan. Berdasarkan penelitian Cahyono (2009) umur bibit 1 dan 2 minggu memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan umur 3 minggu.
Jumlah bibit per lubang tanam berpengaruh terhadap pertumbuhan karena secara langsung berhadapan dengan kompetisi antar tanaman dalam satu lubang tanam. Di Indonesia biasanya dianjurkan menanam 2 sampai 3 bibit per lubang tanam (Utomo dan Nazarudin, 2000).
Menurut Dacbhan dan Dibisono (2010) bertambahnya jumlah bibit per lubang tanam cenderung meningkatkan persaingan tanaman, baik antar tanaman dalam satu rumpun maupun antar tanaman yang berbeda rumpun. Akibatnya, kebugaran tanaman dan tingkat produksi bahan kering per tanaman cenderung menurun. Hasil penelitian Wangiana et al. (2009) memperlihatkan bahwa jumlah bibit per lubang tanam mampu memberikan pengaruh yang signifikan (berbeda nyata) terhadap pertumbuhan jumlah daun dan jumlah anakan per rumpun pada tanaman padi. Hasil penelitian Dacbhan dan Dibisono (2010) pemakaian 1 dan 2 bibit per lubang tanam memberikan hasil yang secara statistik lebih tinggi dibanding perlakuan 3 bibit per lubang tanam. Tanaman dengan 1 bibit per lubang
tanam menghasilkan 19,61 anakan produktif dan 8,09 ton gabah/ha. Pemakaian jumlah bibit 1 bibit per lubang tanam berarti telah menghemat biaya bibit 50%
dibandingkan pemakaian 2 bibit perlubang tanam.
Pengaruh Sistem Tanam Jajar Legowo yang Dimodifikasi dan Jumlah Bibit terhadap Produksi Padi Sawah (Oryza sativa L.)
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah malai.
Rataan jumlah malai tertinggi terdapat pada perlakuan L0 (jumlah populasi tanaman 48 tanaman) , sedangkan rataan jumlah malai terendah terdapat pada perlakuan L2 (jumlah populasi 114 tanaman per rumpun). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah populasi tanaman yang sedikit maka jumlah malai akan semakin banyak.
Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap panjang malai. Hal ini dikarenakan jumlah pertumbuhan pada awal masa generatif yang merata sehingga panjang malai pada setiap perlakuan memiliki rataan yang tidak berbeda.
Pada hasil analisis uji beda rataan dengan parameter bobot gabah bruto per plot dapat dilihat bahwa jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata dengan rataan tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan hasil rataan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per plot). Hal ini dapat dikarenakan populasi tanaman yang semakin
banyak terjadi persaingan antar tanaman yang dapat mengunrangi produksi tanaman padi sawah.
Pada faktor jumlah bibit terhadap parameter bobot gabah bruto dapat dilihat bahwa rataan tertinggi terdapat pada perlakuan B2 (jumlah 2 bibit) dan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3 (jumlah 3 bibit). Hal ini berkaitan dengan unsur hara, jumlah cahaya yang dapat diserap oleh tanaman, serta perkembangan tanaman.
Pada interaksi jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit terhadap parameter bobot gabah bruto juga berpengaruh nyata. Rataan tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman). Hal ini menandakan bahwa dengan jumlah bibit yang banyak serta jumlah populasi yang semakin meningkat menyebabkan produksi tanaman tidak naik.
Pada tabel 6 dapat dilihat bahwa faktor jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap parameter bobot gabah netto per plot. Rataan tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman).
Faktor jumlah populasi tanaman berpengaruh nyata terhadap bobot gabah netto per plot. Pada rataan tertinggi terdapat pada perlakuan L1 (jumlah populasi 60 tanaman per plot) dan rataan terendah terdapat pada perlakuan L4 (jumlah populasi 190 tanaman per plot).
Interaksi faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap bobot gabah netto per plot, hal ini dapat dilihat pada perlakuan dengan rataan tertinggi terdapat pada B2L1 (jumlah 2 bibit dan jumlah populasi 60 tanaman per plot), sedangkan rataan terendah terdapat pada perlakuan B3L4 (jumlah 3 bibit dan jumlah populasi 190 tanaman per plot).
Pada parameter bobot 1000 biji gabah kering per sampel menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap faktor jumlah populasi tanaman dan jumlah bibit. Hal ini dikarenakan bobot yang dihasilkan pada setiap plot sama.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Bibit padi yang ditanam 2 bibit per lubang tanam nyata meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.).
2. Populasi tanaman yang tinggi nyata meningkatkan pertumbuhan tanaman padi sawah (Oryza sativa L.), tetapi tidak nyata meningkatkan produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.).
3. Interaksi antara jumlah bibit per rumpun dan jumlah populasi tanaman terhadap produksi tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) tertinggi terdapat pada perlakuan B2L1 (Bibit 2 Per Rumpun dan Jumlah Populasi 60 Rumpun Per Petak).
Saran
- Diperlukan penelitian lanjutan untuk menentukan jarak tanam yang tepat dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi padi sawah.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Koordinasi Penyuluhan, Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Provinsi Gorontalo. 2012. Modul Budidaya Padi Sistem Tanam Jajar Legowo.
Provinsi Gorontalo.
Agus, F., A. Mulyani. 2006. Judicious use of land resources for sustaining Indonesian rice self sufficiency. Proceedings International Rice Conference, 12-14 Sept. Denpasar, Bali. Indonesian Institute of Rice Research, Sukamandi.
Badan Litbang Pertanian. 2007. Petunjuk Teknis Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah Irigasi. Departemen Pertanian. Jakarta. 40 p.
Badan Pusat Statistik.2016. Produktivitas Padi Menurut Provinsi (kuintal/ha) 1993-2015. Statistik Indonesia. Jakarta
Balai Besar Pelatihan Pertanian. 2013. Sistem Jajar Legowo Dapat Meningkatkan Produktifitas Padi. Balai Besar Pelatihan Pertanian. Ketindan.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Gorontalo. 2008. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah. Agro Inovasi. Gorontalo hal 4-6.
Berkelaar, D. 2001. Sistem intensifikasi padi (The System of Rice Intensification-SRI): Sedikit Dapat Memberi Lebih Banyak. Buletin ECHO Development Notes, Januari 2001. ECHO Inc. 17391 Durrance Rd.
North Ft. Myers Fl.33917 USA.pp.1-6.
Dacbhan, S. M. B dan Dibisono. 2010. Pengaruh sistem tanam, varietas, jumlah bibit terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah (Oryza sativa L.). Jurnal Ilmiah Pendidikan Tinggi, 3(1): 47-57.
Hardjowigeno. 2005. Ilmu Tanah. Jakarta : Penerbit Pusaka Utama.
Harjadi, S. S. 1996. Pengantar Agronomi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Hasrizart, I. 2008. Pertumbuhan Dan Produksi Beberapa Varietas Padi Sawah (Oryza Sativa L.) Pada Persiapan Tanah Dan Jumlah Bibit Yang Berbeda.
Thesis. USU. Medan
Ikhwani, Gagad Restu Pratiwi, Eman Paturrohman, A.K. Makarim. 2013.
Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Penerapan Jarak Tanam Jajar Legowo. Puslitbang Tanaman. Bogor
Madjid, D. Bachtiar Efendi, Fauzi, Sarifudin, Hamidah Hanum. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Sumatera Utara. Hal. 166
Masdar. 2001. Respon Pertumbuhan Reproduktif Tanaman Padi Terhadap Jarak Tanam Dan Umur Bibit Pada Sistem Intensifikasi Padi (SRI).
Muljady, D. Mario; Anasiru, RH; Sarasutha, IGP; dan Husen Hasni, 2005.
Introduksi Model PTT dalam Meningkatkan Produksi dan Pendapatan Petani Padi di Sulawesi Tengah.
Musa, S. 2000. Program pengembangan komoditi serealia. Makalah disampaikan pada pertemuan regional peningkatan produksi tanaman pangan wilayah barat. Direktorat Jenderal Produksi Tanaman Pangan, Bukittinggi, 19-21 September 2000
Prasetyo, B. H., J. Sri Adiningsih, K. Subagyono dan R. D. M. Simanungkalit.
2004. Mineralogi, kimia, fisika dan biologi tanah sawah. Dalam Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Puslitbangtanak. Bogor.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2016. Perkembangan Konsumsi Rumah Tangga per Kapita di Indonesia 2009-2015.Jakarta
Satria, B. 2017. Peningkatan Produktivitas Padi Sawah (Oryza sativa L.) Melalui Penerapan Beberapa Jarak Tanam dan Sistem Tanam. Skripsi. USU.
Medan
Sembiring H., 2008. Kebijakan Penelitian dan Rangkuman Hasil Penelitian BB Padi dalam Mendukung P2BN. Pros. Seminar Apresiasi Hasil Penelitian Padi Menujang P2BN. BB Pen. Tan. Padi. Badan Litbang Deptan. Jakarta.
Sembiring, H. 2001. Komoditas Unggulan Pertanian Provinsi Sumatera Utara.
Sumatera Utara : Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Sumatera Utara. 58p
Setyorini, D., Sri Rochayati, Irsal Las. 2010. Pertanian Pada Ekosistem Lahan Sawah. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian
Uphoff N. 2001. Oppurtunities for raising yields by changing management practices: The system of rice intensification in Madagascar:
Agroecological Innovation: Increasing roof prodction With Participatory Development.
Vallois, P., N. Upphoff and A. Collick, 2000. Malagasy System of Rice Intensification (SRI). Early Rice Planting System. Miscellaneou. V.1.3- I.P.N.R.
Lampiran 1. Deskripsi Padi Sawah Varietas Ciherang
Nomor seleksi : S3383-1D-PN-41-3-1
Asal persilangan : IR18349-53-1-3-1-3/3*IR19661-131
Golongan : Cere
Umur tanaman : 116-125 hari
Bentuk tanaman : Tegak
Tinggi tanaman : 107-115 cm
Anakan produktif : 14-17 batang
Warna kaki : Hijau
Warna batang : Hijau
Warna telinga daun : Tidak berwarna Warna lidah daun : Tidak berwarna
Warna daun : Hijau
Muka daun : Kasar pada sebelah bawah
Posisi daun : Tegak
Daun bendera : Tegak
Bentuk gabah : Panjang ramping
Warna gabah : Kuning bersih
Kerontokan : Sedang
Kerebahan : Sedang
Tekstur nasi : Pulen
Kadar amilosa : 23%
Indeks Glikemik : 54
Bobot 1000 butir : 28 g
Rata-rata hasil : 6,0 t/ha
Potensi hasil : 8,5 t/ha
Ketahanan terhadap
Hama Penyakit : Tahan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan
agak tahan biotipe
Tahan terhadap hawar daun bakteri strain III dan IV
Anjuran tanam : Baik ditanam di lahan sawah irigasi dataran rendah sampai 500 m dpl.
Pemulia : Tarjat T, Z. A. Simanullang, E. Sumadi dan Aan A. Daradjat
Dilepas tahun : 2000