• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN 1.Hasil Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang Gambaran Mekanisme Koping pada Pasien Luka Kaki Diabetes di Asri Wound Care Centre. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juli 2016 di Asri Wound Care Centre.

1.1. Deskripsi Karakteristik Responden

Deskripsi karakteristik responden terdiri dari: jenis kelamin, agama, umur, suku dan pendidikan. Data karakteristik responden ditampilkan hanya untuk melihat distribusi demografi dari responden saja. Data yang diperoleh berdasarkan tabel 1, jumlah jenis kelamin responden laki-laki dan perempuan adalah sama yaitu sebanyak 50%. Sebanyak 91% responden beragama Islam. Menurut karakteristik umur, sebanyak 50% responden berusia 51-60 tahun. Sebanyak 36% responden bersuku lain-lainnya. Dan karakteristik responden berdasarkan pendidikan, sebanyak 41% berpendidikan SMA.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Karakteristik Responden di AsriWound Care Centre (n=22)

Karakteristik Frekuensi (f) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 11 11 50 50 Agama Islam Kristen 20 2 91 9

23 Umur 41-50 tahun 51-60 tahun >60 tahun 4 11 7 18 50 32 Suku Batak Toba Mandailing Karo Jawa Lain-lainnya 2 5 1 6 8 9 22 4 27 36 Pendidikan Tidak Sekolah SD SMP SMA Diploma Sarjana 0 5 3 9 3 2 0 23 13 41 14 9

1.2 Mekanisme Koping Pada Pasien Luka Kaki Diabetes

Dari hasil kumulatif seluruh sub variabel mekanisme koping, maka hasil penelitian kepada 22 responden didapatkan sebanyak 86% responden memiliki mekanisme koping yang adaptif.

Tabel 2. Distribusi Frekuensi dan Persentase Berdasarkan Mekanisme Koping Pada Pasien Luka Kaki Diabetes di Asri Wound Care Centre (n=22)

Mekanisme Koping Frekuensi (f) Persentase (%)

Adaptif Maladaptif 19 3 86 14

24

2. Pembahasan

2.1. Gambaran data demografi responden luka kaki diabetes 2.1.1. Jenis Kelamin

Hasil penilitian yang dilakukan di Asri Wound Care Centrediketahui bahwa mayoritas responden antara laki-laki sama perempuan sama besar, hal ini tidak sesuai dengan teori (Siswanto, 2007) yang menyatakan bahwa perempuan biasanya mempunyai daya tahan yang lebih baik terhadap stresor dibanding dengan laki-laki.

2. Umur

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas umur 51-60 tahun. Umur termuda adalah 45 tahun dan tertua adalah 75 tahun. Menurut Smelzer & Bare (2008), komplikasi diabetes melitus merupakan jenis luka yang paling banyak dengan persentasi antara 90-95% dari seluruh penderita luka dan sangat banyak dialami oleh dewasa diatas 40 tahun. Hal ini disebabkan karena resistensi insulin cenderung meningkat pada usia 40-65 tahun, disamping adanya riwayat obesitas dan faktor keturunan.

Menurut Izucchi (2005) faktor resiko terjadi luka kaki diabetes salah satunya adalah umur dan akan meningkat pada usia dewasa awal dan juga dewasa lanjut. Hasil penelitian sesuai dengan teori bahwa sebagian responden berumur 59 tahun dengan usia termuda 45 tahun dan tertua 75 tahun.

25

3. Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan sebagian besar berada pada kategori tingkat pendidikan tinggi yaiti SMA 9 (41%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Suryani (2014) mengenai faktor yang mempengaruhi management perawatan diri luka diabetes di Medan bahwa 25 ( 59,5%) responden berada pada kategori pendidikan tinggi. Hal ini berbeda dengan penelitian Bai, Chiou, dan Chang (2009) di Taiwan tentang perilaku perawatan diri dan faktor yang mempengaruhi luka diabetes melitus sebagian besar responden berpendidikan rendah (52,7%).

2.2. Strategi koping responden luka kaki diabetes 1. Problem-focused coping

Pada penelitian ini menunjukkan jumlah responden luka kaki diabetes menjalani perawatan luka yang memiliki kategori adaptif yaitu 19 orang (86%). Sedangkan pasien luka kaki diabetes yng memiliki kategori maladaptif 3 orang (14%). Dari hasil penelitian didapatkan mekanisme koping kategori adaptif. Sejalan dengan teori Lazarus dan Folkman (1984) koping yang berfokus problem-focused copingyaitu usaha mengatasi stres dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Mencari informasi mengenai suatu masalah, mengumpulkan solusi yang dapt dijadikan alternatif.

26

2. Emotion-focused coping

Pada penelitian ini menunjukkan jumlah responden luka kaki diabetes menjalani perawatan luka yang memiliki kategori adaptif yaitu 21 orang (95%). Sedangkan pasien luka kaki diabetes yng memiliki kategori maladaptif 1 orang (5%). Dari hasil penelitian didapatkan mekanisme koping kategori adaptif. Sejalan dengan teori Lazarus dan Folkman (1984) koping yang berfokus emotion-focused copingyaitu berusaha mengenal stres dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh satu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan. Menghindar, meminimalisir, menjaga jarak, selektif memilih perhatian dan mencri nilai positif dari sebuah peristiwa negatif.

2.2. Gambaran mekanisme koping responden luka kaki diabetes

Pada hasil penelitian ini menunjukkan jumlah pasien luka kaki diabetes yang menjalani perawatan luka yang memiliki mekanisme koping adaptif yaitu 19 orang (86%). Sedangkan pasien luka kaki diabetes yang memiliki mekanisme koping maladaptif 3 orang(14%). Dari hasil penelitian di dapatkan mekanisme koping pasien luka kaki diabetes yang menjalani perawatan luka adalah adaptif.

Sejalan dengan penelitian Sarafino (2008) pasien yang memiliki mekanisme koping yang adaptif pada pasien yang mengalami luka kaki diabetes adalah sebanyak 40 orang (55,6%) sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah 32 orang (44,4%).

27

Sesuai dengan penelitian Suryani & Widyasih (2008) yang menyatakan bahwa penggunaan koping yang adaptif membantu individu dalam beradaptasi untuk menghadapi keseimbangan. Adaptasi individu yang baik muncul reaksi untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan proses kognitif, efektif dan psikomotor (bicara dengan oranglain untuk mencari jalan keluar suatu masalah, membuat berbagai tindakan dalam menangani situasi dan belajar dari pengalaman masa lalu). Sesuai dengan pernyataan Lazarus dan Folkman (1984) mekanisme koping yang efektif adalah koping yang membantu sesorang untuk menoleransi dan menerima situasi menekan, serta tidak merisaukan tekanan yang tidak dapat dikuasainya. Sesuai dengan pernyataan Taylor (1991), mengemukakan agar koping dilakukan dengan efektif, maka strategi koping perlu mengacu pada lima fungsi tugas koping yang dikenal dengan istilah coping task, yaitu sebagai berikut: mengurangi kondisi lingkungan yang berbahaya dan meningkatkan pospek untuk memperbaikinya, menoleransi atau menyesuaikan diri dengan kenyataan yang negatif, mempertahankan gambaran diri yang positif, mempertahankan keseimbangan emosional, dan melanjutkannya terhadap hubungan dengan orang lain (Nasir dan Muhith, 2011).

28

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait