TINJAUAN PUSTAKA 1. Luka Kaki Diabetes
2. Mekanisme Koping
2.3. Penggolongan mekanisme koping
Menurut Suryani & Widyasih (2008) secara garis besar mekanisme koping terdiri dari mekanisme koping adaptif dan maladaptif:
2.3.1. Mekanisme koping adaptif
Penggunaan koping yang adaptif membantu individu dalam beradaptasi untuk menghadapi keseimbangan. Adaptasi individu yang baik muncul reaksi untuk menyelesaikan masalah dengan melibatkan proses kognitif, efektif dan psikomotor (bicara dengan orang lain untuk mencari jalan keluar suatu masalah, membuat berbagai tindakan dalam menangani situasi dan belajar dari
12
pengalaman masa lalu). Kegunaan koping adaptif membuat individu akan mencapai keadaan yang seimbang antara tingkat fungsi dalam memelihara dan memperkuat kesehatan fisik dan psikologi. Kompromi merupakan tindakan adaptif yang dilakukan oleh individu untuk menyelesaikan masalah, lazimnya kompromi dilakukan dengan cara bermusyawarah atau negosiasi untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, secara umum kompromi dapat mengurangi ketegangan dan masalah dapat di selesaikan. Mekanisme koping adaptif yang lain adalah berbicara dengan orang lain tentang masalah yang sedang dihadapi, mencoba mencari informasi lebih banyak tentang masalah yang sedang dihadapi, berdoa, melakukan latihan fisik untuk mengurangi ketegangan masalah, membuat berbagai alternatif tindakan untuk mengurangi situasi, dan merasa yakin bahwa semua akan kembali stabil, mengambil pelajaran dari peristiwa atau pengalaman masa lalu.
2.3.2. Mekanisme koping maladaptif
Penggunaan koping yang maladaptif dapat menimbulkan respon negatif dengan munculnya reaksi mekanisme pertahanan tubuh dan respon verbal. Perilaku mekanisme koping maladaptif antara lain perilaku agresi dan menarik diri. Perilaku agresi dimana individu menyerang objek, apabila dengan ini individu mendapat kepuasan, maka individu tidak akan berperilaku agresi. Perilaku agresi (menyerang) terhadap sasaran atau objek dapat merupakan benda, barang atau orang atau bahkan terhadap dirinya sendiri. Adapun perilaku menarik diri dimana perilaku yang menunjukan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain, jadi secara fisik dan psikologis individu secara
13
sadar pergi meninggalkan lingkungan yang menjadi sumber stresor misalnya ; individu melarikan diri dari sumber stres. Sedangkan reaksi psikologis individu menampilkan diri seperti apatis, pendiam dan munculnya perasaan tidak berminat yang menetap pada individu. Perilaku yang dapat dilakukan adalah menggunakan alkohol atau obat-obatan, melamun dan fantasi, banyak tidur, menangis, beralih pada aktifitas lain agar dapat melupakan masalah.
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Pasien luka kaki diabetes yang sukar sembuh merupakan komplikasi kronis yang bisa muncul bila kadar gula darah tidak dikontrol dengan baik. Klien diabetes sangat beresiko terhadap kejadian luka kaki (Litzelman, 1993;Ekaputra, 2013). Luka pada kaki yang disebut luka kaki diabetes sering menyebabkan frustasi, tidak hanya bagi para penyandang diabetes tetapi juga keluarga, perawat serta dokter yang merawatnya karena proses penyembuhannya yang sangat lama dan mahal serta sering sekali tidak mampu menyelamatkan kaki tersebut (Ekaputra, 2013).
Pasien luka diabetes umumnya terlambat menyadari bahwa telah terjadi luka pada kakinya, hal ini semakin diperparah karena kaki yang terluka tersebut tidak dirawat dan mendapat perhatian serius, serta ditambah dengan adanya gangguan aliran darah ke perifer kaki yang disebabkan karena komplikasi makrovaskular, mengakibatkan luka tersebut sukar untuk sembuh dan akan menjadi borok/ulkus (Soebardi, 2006)
Smeltzer and Bare (2002) menyatakan luka dapat berkembang menjadi kematian jaringan, yang apabila tidak ditangani dengan baik secara intensif dapat menyebabkan gangren, yang pada penderita diabetes disebut gangren diabetik. Gangren diabetik merupakan suatu komplikasi yang ditimbulkan akibat infeksi atau suatu proes peradangan luka pada tahap lanjut yang disebabkan karena perubahan degenaratif atau perawatan yang kurang intensif, yang dikaitkan
2
dengan penyakit diabetes. Infeksi pada kaki diabetes dapat terjadi pada kulit, otot dan tulang yang umumnya dapat disebabkan oleh kerusakan dari pembuluh darah, syaraf dan menurunnya aliran darah kedaerah luka (Erman, 1998).
Pravelensi luka kaki diabetes di Kenya 4,6% dan di Belanda 20,4%. Studi rumah sakit, menunjukkan bahwa pravelensi kaki diabetes adalah antara 11,7% dan 19,1% diantara penderita diabetes di Nigeria. Pravelensi kaki diabetes pasien rawat inap dengan dibetes di Iran adalah 20% (Desalu et al., 2011).Di Indonesia penderita luka kaki diabetes sebesar 15% dari penderita DM. Di RSCM, pada tahun 2003 masalah kaki diabetes masih merupakan masalah besar. Sebagian besar penderita DM selalu terkait dengan luka kaki diabetes.
Hasil data awal di klinik Asri Wound Care Centre Medan pada Januari - Desember 2014, pasien yang mengalami luka kaki diabetes sebanyak 312 orang. Pada Januari - September 2015, pasien yang mengalami luka kaki diabetes sebanyak 310 orang.
Seseorang dengan penyakit kronis tidak memikirkan bahwa mereka sakit dan berperilaku seperti kebiasaan sehari-hari. Masalah psikologis dan sosial harus diperhatikan karena gejala yang ditimbulkan dan juga ketidakmampuan karena sakit akan mengancam identitas, menyebabkan perubahan-perubahan dalamperan, megubah citra tubuh dan mengganggu gaya hidup yang ada (Smeltzer, 2007).
Mekanisme koping yang digunakan pasien luka diabetes di RS Sadikin Bandung pada tahun 2000 adalah koping yang berpusat pada masalah sebanyak 26,83% yaitu konfrontasi dan perencanaan pemecahan masalah, koping yang
3
berpusat pada emosi sebanyak 19,51% seperti mencari dukungan sosial, penerimaan, menjaga jarak, kontrol diri dan penghindaran (Mutoharoh, 2010).
Pasien yang memiliki self-efficacyyang rendah memiliki mekanisme koping yang maladaptif. Individu yang memiliki self-efficacy yang rendah (kurang keyakinan pada kemampuannya untuk melaksanakan tugas-tugas dengan sukses) cenderung berfokus pada tidak adekuatnya yang dipersepsikan. Individu dengan
self-efficacy yang tinggi meyakini bahwa kerja keras untuk menghadapi tantangan
hidup, sementara rendahnya self-efficacy kemungkinan besar akan memperlemah bahkan menghentikan usaha seseorang. (Nevid, 2003; Suryani, 2014).
Hasil wawancara pada beberapa penderita luka kaki diabetes didapatkan penggunaan mekanisme koping yang berbeda. Sebagian pasien ada yang sudah menerima keadaan mereka tapi ada beberapa penderita yang masih menyangkal dan bersikap diam untuk menghadapi masalah yang mereka hadapi. Kondisi pnderita tersebut menarik perhatian peneliti sebagai calon tenaga keperawatan. Keperawatan adalah sebagai profesi yang unik karena keperawatan ditunjukkan pada berbagai respon individu dan keluarga terhadap masalah kesehatan yang dihadapinya. (Potter & Perry, 2005).
Depresi merupakan hal yang dapat terjadi pada pasien luka kaki diabetes, tetapi gambaran mekanisme koping yang bagaimana pada pasien luka kaki diabetes yang akan diteliti. Berdasarakan uraian diatas peneliti sangat tertarik untuk meneliti gambaran mekanisme koping bagaimana pada pasien luka kaki diabetes.
4