• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman), kadar air benih setelah perendaman, dan jumlah daun. Perlakuan lama perendaman dengan air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah perendaman, perkecambahaan benih di penyemaian, panjang hipokotil, dan panjang epikotil.

Interaksi antara berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah perendaman.

Kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman)

Dari penelitian yang sudah dilakukan didapat kadar air awal benih kakao yaitu 35,72%. Data hasil pengamatan kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman) dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 4-5 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman).

Kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman) pada perlakuan berbagai media simpan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kadar air benih sebelum dan setelah penyimpanan (sebelum perendaman) pada perlakuan berbagai media simpan.

Media Simpan Kadar air sebelum penyimpanan

Tabel 1 menunjukkan bahwa benih kakao yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) mempunyai kadar air tertinggi 32,85 % yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain.

Persentase benih berkecambah di penyimpanan

Data hasil pengamatan benih berkecambah di penyimpanan dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 8-9 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap persentase benih berkecambah di penyimpanan.

Persentase benih berkecambah dan berjamur di penyimpanan pada perlakuan berbagai media simpan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.Persentase benih berkecambah dan berjamur di penyimpanan pada perlakuan berbagai media simpan.

Media Simpan Benih berkecambah di penyimpanan simpan zeolit (M3) cenderung mempunyai persentase benih berkecambah di penyimpanan terendah 0,75% dan pada media simpan serbuk gergaji (M2) cenderung mempunyai persentase benih berkecambah tertinggi 2,02%.

Persentase benih berjamur di penyimpanan

Data hasil pengamatan benih berjamur di penyimpanan dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 10-11 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap persentase benih berjamur di penyimpanan.

Tabel 2 menunjukkan bahwa benih kakao yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) cenderung mempunyai persentase benih berjamur di penyimpanan terendah 9,97% dan tanpa media simpan (M0) cenderung mempunyai persentase benih berjamur tertinggi 12,62%.

Kadar air benih setelah perendaman

Data hasil pengamatan kadar air benih setelah perendaman dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 6-7 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda, serta interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah perendaman.

Kadar air benih setelah perendaman pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda serta interaksinya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Kadar air benih setelah perendaman pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan nyatapada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 3 menunjukkan bahwa benih kakao setelah perendaman yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) mempunyai kadar air tertinggi (48,03%) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain. Benih kakao yang direndam selama 4 jam (L1) dan 12 jam (L3) mempunyai kadar air lebih tinggi yang berbeda nyata dengan lama perendaman 8 jam (L) tetapi berbeda

y = -0,0368x2 + 0,2146x + 38,478

Kadar air benih setelah perendaman (%)

Lama Perendaman (jam)

M0 : kontrol M1 : abu sekam M2 : serbuk gergaji M3 : zeolit

tidak nyata dengan tanpa perendaman (L0). Pada media simpan berupa zeolit pada lama perendaman 12 jam (M3L3) mempunyai kadar air benih tertinggi yaitu 50,93% yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar air benih setelah perendaman dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar

Laju perkecambahan di penyemaian

Data hasil pengamatan dan sidik ragam Lampiran 12-13 menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap laju perkecambahan di penyemaian.

Laju perkecambahan benih di penyemaian pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Laju perkecambahan benih di penyemaian pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan

Tabel 4 menunjukkan bahwa laju perkecambahan benih di penyemaian tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) yaitu 5,96 hari yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Perendaman air kelapa muda selama 8 jam (L2) menghasilkan laju perkecambahan benih tertinggi yaitu 5,90 hari yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.

Persentase perkecambahan di penyemaian

Data hasil pengamatan persentase perkecambahan di penyemaian dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 14-15 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap persentase perkecambahan di penyemaian, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan di penyemaian, serta

interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap persentase perkecambahan di penyemaian.

Persentase perkecambahan di penyemaian pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Persentase perkecambahan di penyemaian pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 5 menunjukkan bahwa persentase perkecambahan di penyemaian tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) 67,26% yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan persentase perkecambahan di penyemaian tertinggi sebesar 79,17% yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman dengan air kelapa muda terhadap persentase perkecambahan di penyemaian dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap

Persentase perkecambahan di penyemaian (%)

Lama Perendaman (jam)

Panjang hipokotil

Data hasil pengamatan panjang hipokotil dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 16-17 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang hipokotil, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap panjang hipokotil, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap panjang hipokotil.

Panjang hipokotil pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6.Panjang hipokotil pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 6 menunjukkan bahwa panjang hipokotil tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) 63,13 cm yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan panjang hipokotil tertinggi sebesar 75,08 cm yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang hipokotil dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4.Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang hipokotil.

Panjang epikotil

Data hasil pengamatan panjang epikotil dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 18-19 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang epikotil, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap panjang epikotil, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap panjang epikotil.

Panjang epikotil pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Panjang epikotil pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 7 menunjukkan bahwa panjang epikotil tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) 70,78 cm yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan panjang hipokotil tertinggi sebesar 86,30 cm yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang epikotil dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang epikotil.

Jumlah daun

Data hasil pengamatan jumlah daun dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 20-21 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun.

Jumlah daun pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 8.

y = 3,905x + 38,016

Tabel 8. Jumlah daun pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah daun tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan serbuk gergaji (M2) 3,69 helai yang berbeda nyata terhadap perlakuan (M1) 3,15 helai. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan jumlah daun tertinggi sebesar 3,59 helai yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya.

Pembahasan

Pengaruh berbagai media simpan terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam dapat diketahui bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah penyimpanan, setelah perendaman, dan jumlah daun.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao sebelum perendaman yang tertinggi diperoleh dengan media simpan zeolit (M3) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain. Hal ini dapat dilihat dari kadar air benih kakao pada perlakuan M3 dengan rataan 32,85%. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao sesudah perendaman yang tertinggi diperoleh dengan media simpan zeolit (M3) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain. Hal ini dapat dilihat dari kadar air benih

kakao pada perlakuan M3 dengan rataan 48,03%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan zeolit sebagai media simpan dapat mempertahankan kondisi simpan optimum, sehingga kadar air benih kakao dapat dipertahankan selama penyimpanan. Menurut Hartati et al., (2001) keunggulan lain dari zeolit yaitu sifat porous sehingga memungkinkan pertukaran oksigen lebih baik sehingga menjamin benih tetap melakukan respirasi dengan baik selama di penyimpanan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah daun tertinggi diperoleh pada media simpan serbuk gergaji (M2) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media simpan abu sekam (M1). Hal ini dapat dilihat dari jumlah daun pada perlakuan M2 dengan rataan 3,60 helai. Serbuk gergaji memiliki sifat higroskopis sehingga uap air yang menempel pada serbuk gergaji akan diserap oleh benih. Benih yang disimpan dengan media simpan yang tepat dapat mempertahankan kadar air dan cadangan makanan selama penyimpanan, sehingga kondisi fisiologis benih akan mempengaruhi perkecambahan. Menurut Sumampow (2011) Serbuk gergaji mempunyai sifat lambat lapuk sehingga media ini sangat baik untuk menyimpan air sehingga dapat mempertahankan kelembaban di sekitar benih. Penurunan kadar air benih rekalsitran kakao dalam masa simpan dapat menyebabkan penurunan mutunya.

Pengaruh lama perendaman pada air kelapa muda terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam dapat diketahui bahwa perlakuan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah perendaman, perkecambahaan benih di penyemaian, panjang hipokotil, dan panjang epikotil.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao setelah perendaman yang tertinggi diperoleh dengan lama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata dengan lama perendaman pada air kelapa muda 8 jam (L2). Keberadaan air di dalam benih mempengaruhi aktivitas metabolisme. Semakin lama benih direndam dengan air kelapa muda maka semakin banyak air kelapa muda yang masuk ke dalam endosperm benih sehingga kadar air benih kakao meningkat. Kadar air benih yang terlalu rendah menyebabkan menurunnya daya tumbuh benih dan benih kakao tergolong pada benih rekalsitran tidak mampu menahan dehidrasi berlebihan dan akan segera kehilangan viabilitasnya pada kelembaban yang relatif rendah. Menurut Tanjung (2016) Pada umumnya benih rekalsitran tidak tahan kering karena kelemahan fisiologi benih untuk mengembalikan organel sel yang telah mengalami perubahan akibat menurunnya kadar air benih. Ketidakmampuan ini berdampak pada kegagalan sel melakukan metabolisme untuk keperluan pemeliharaan dirinya maupun proses perkecambahan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase perkecambahan benih kakao di penyemaian tertinggi diperoleh pada lama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata pada lama perendaman lainnya, dengan rataan 79,17%. Panjang hipokotil benih kakao tertinggi diperoleh dengan lama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata dengan lama perendaman lainnya, dengan rataan 75,08%, dan panjang epikotil benih kakao tertinggi diperoleh padalama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata dengan lama perendaman lainnya, dengan rataan 86,30 %. Hal ini menunjukkan semakin lama benih direndam, maka semakin besar masuknya

air kelapa muda ke dalam endosperm sehingga perkembangan embrio dan daya benih untuk berkecambah lebih cepat. Air kelapa banyak mengandung bahan-bahan organik dan unsur hara yang bermanfaat bagi perkembangan embrio. Hal inilah yang diduga terjadi dalam benih yang direndam setelah disimpan, sehingga sisa cadangan makanan dalam benih lebih cepat dapat digunakan untuk perkembangan embrio sehingga embrio lebih cepat dapat memanfaatkan faktor pendukung berlangsungnya perkecambahan seperti air dan oksigen (O2).

Yong et al., (2009) menyatakan bahwa didalam air kelapa muda terdapat kandungan beberapa zat diantaranya adalah giberelin, sitokinin dan auksin yang berfungsi untuk memacu perpanjangan normal batang utuh, merangsang pembelahan dan pemanjangan sel, dan mampu memecah masa istirahat biji (pematahan dormansi), serta merangsang pembentukan akar liar yang tumbuh dari batang atau daun pada banyak spesies.

Pengaruh interaksi berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam dapat diketahui bahwa interaksi antara berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah perendaman.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao setelah perendaman yang tertinggi terdapat pada kombinasi perlakuan M3L3 yaitu media simpan zeolit dan lama perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam sebesar 50,93% yang berbeda nyata terhadap kombinasi lainnya. Penggunaan zeolit sebagai media simpan dapat mempertahankan kondisi simpan optimum, sehingga kadar air benih kakao dapat dipertahankan selama penyimpanan. Semakin lama benih direndam dengan air kelapa, maka semakin besar masuknya zat yang

terkandung dalam air kelapa berupa adalah giberelim, sitokinin dan auksin ke dalam endosperm benih kakao sehingga perkembangan embrio dan daya benih untuk berkecambah lebih cepat. Menurut Sutopo (2004) Faktor kondisi fisik dan fisiologi benih berkaitan dengan performa benih seperti tingkat kemasakan, tingkat kerusakan mekanis, tingkat keusangan (hubungan antara vigor awal dan lamanya disimpan), tingkat kesehatan, ukuran dan berat jenis, komposisi kimia, struktur, tingkat kadar air dan dormansi benih.

Dokumen terkait