• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH BERBAGAI MEDIA SIMPAN DAN LAMA PERENDAMAN PADA AIR KELAPA MUDA TERHADAP VIABILITAS BENIH KAKAO (Theobroma cacao L.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH BERBAGAI MEDIA SIMPAN DAN LAMA PERENDAMAN PADA AIR KELAPA MUDA TERHADAP VIABILITAS BENIH KAKAO (Theobroma cacao L."

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH BERBAGAI MEDIA SIMPAN DAN LAMA PERENDAMAN PADA AIR KELAPA MUDA TERHADAP VIABILITAS BENIH KAKAO (Theobroma cacao L.)

SKRIPSI

OLEH :

M. ALWAN RYANDI SIREGAR / 130301210 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

PENGARUH BERBAGAI MEDIA SIMPAN DAN LAMA PERENDAMAN PADA AIR KELAPA MUDA TERHADAP VIABILITAS BENIH KAKAO (Theobroma cacao L.)

SKRIPSI

OLEH :

M. ALWAN RYANDI SIREGAR / 130301210 BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(3)

Judul Penelitian : Pengaruh Berbagai Media Simpan dan Lama Perendaman pada

Air Kelapa Muda Terhadap Viabilitas Benih Kakao (Theobroma Cacao L.)

Nama : M. Alwan Ryandi Siregar

NIM : 130301210

Program Studi : Agroteknologi

Minat : Budidaya Pertanian dan Perkebunan

Disetujui Oleh : Komisi Pembimbing

(Ir. Haryati, MP) (Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP) Ketua Anggota

Mengetahui :

(Dr. Ir. Sarifuddin, MP) Ketua Program Studi Agroteknologi

(4)

ABSTRACT

MUHAMMAD ALWAN RYANDI SIREGAR: The Influence of Various Storage Media and Soaking Time of Young Coconut Water on the Viability of Cocoa Seed (Theobroma cacao L.) is guided by HARYATI and RATNA ROSANTY LAHAY.

Cocoa seeds need to be maintained viability during storage and delivery to planting. This is because cocoa seeds are a type of recalcitrant seed that has no dormancy period and high moisture content. This study aims to determine the influence of various storage media and soaking time of young coconut water to viability of cocoa seed (Theobroma cacao L.). The research was conducted at Seed Technology Laboratory of Agriculture Faculty of Universitas Sumatera Utara Medan with height + 25 meter above sea level, from November to December 2017, using completely randomized design with 2 factors of treatment.

The first factor is various storage media with 4 types namely, control, rice husk ash, sawdust, and zeolite. The second factor is long soaking with young coconut water 100% concentration with 4 levels ie, 0, 4, 8 and 12 hours. The observed parameters were seed moisture content, percentage of seeds germinated in storage, percentage of moldy seeds in storage, rate of germination, percentage of seeds germinated in seeding, length of hypocotyl, length of epicotyl, number of leaves. The results showed that the treatment of various storage media had significant effect on seed moisture content after storage (before soaking), seed moisture content after soaking, with the highest result obtained on the treatment of zeolite store media and number of leaves on the treatment of sawdust media.

Treatment of soaking time with young coconut water had significant effect on seed moisture content parameters after soaking, the percentage of seeds germinated in seeding, hypocotyl length, and epicotyl length with the highest yield obtained at 12 hours long soaking. The interaction between various storage media and soaking time of young coconut water significantly influenced moisture content after soaking with the highest result was obtained from the combination of zeolite storage media and the soaking of young coconut water for 12 hours.

Keywords: Cocoa Seed. Viability, Storage Media, Soaking Time , Young Coconut Water,

(5)

ABSTRAK

MUHAMMAD ALWAN RYANDI SIREGAR : Pengaruh Berbagai Media Simpan dan Lama Perendaman dengan Air Kelapa Muda terhadap Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L.) dibimbing oleh HARYATI dan RATNA ROSANTY LAHAY.

Benih kakao perlu dipertahankan viabilitasnya selama penyimpanan dan pengiriman sampai ke penanaman. Hal ini dikarenakan benih kakao merupakan jenis benih rekalsitran yang tidak memiliki masa dormansi dan berkadar air tinggi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai media simpan dan lama perendaman dengan air kelapa muda terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan dengan ketinggian + 25 meter dpl, dari bulan November sampai Desember 2017, menggunakan rancangan acak lengkap dengan 2 faktor perlakuan. Faktor pertama adalah berbagai media simpan dengan 4 jenis yaitu, kontrol, abu sekam padi, serbuk gergaji, dan zeolit.

Faktor kedua adalah lama perendaman dengan air kelapa muda konsentrasi 100%

dengan 4 taraf yaitu, 0, 4, 8 dan 12 jam. Parameter pengamatan adalah kadar air benih,persentase benih berkecambah di penyimpanan, persentase benih berjamur di penyemaian, laju perkecambahan, persentase benih berkecambah di penyemaian, panjang hipokotil, panjang epikotil, jumlah daun. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah penyimpanan (sebelum perendaman) dan kadar air setelah perendaman dengan hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit dan jumlah daun pada perlakuan media simpan serbuk gergaji. Perlakuan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah perendaman, perkecambahaan benih di penyemaian, panjang hipokotil, dan panjang epikotil dengan hasil tertinggi masing-masing diperoleh pada perlakuan lama perendaman 12 jam. Interaksi antara berbagai media simpan dan lama perendaman air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air sesudah perendaman dengan hasil tertinggi diperoleh pada kombinasi media simpan zeolit dan perendaman air kelapa muda selama 12 jam.

Kata kunci : Viabilitas, Media Simpan, Lama Perendaman, Air Kelapa Muda, Benih Kakao.

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan 06 Juli 1995 dari ayahanda Bachtiar Efendi Siregar dan Ibunda Riyadul Wardiah, penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara.

Tahun 2013 penulis lulus dari SMA Negeri 7 Medan dan pada tahun yang sama penulis masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur SBMPTN, penulis memilih program studi Agroteknologi, minat Budidaya Pertanian dan Perkebunan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan yaitu anggota Himpunan Mahasiswa Agroekotekologi periode 2013/2017, anggota Himpunan Mahasiswa Islam, Komisariat Fakultas Pertanian periode 2013/2017, anggota Forum Mahasiswa Agroteknologi/Agroekoteknologi Indonesia, penulis menjadi salah satu asisten di Laboratorium Budidaya Tanaman Kelapa Sawit dan Karet periode 2015/2016, asisten di Laboratorium Teknologi Budidaya Tanaman Perkebunan periode 2016/2017, asisten di Laboratorium Ilmu Gulma periode 2017/2018, asisten di Laboratorium Teknologi Benih periode 2017/2018 dan penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di PT Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Berangir , Labuhan Batu Utara sejak 11 Juli 2016 – 20 Agustus 2016.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Adapun judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Berbagai Media Simpan dan Lama Perendaman pada Air Kelapa Muda Terhadap Viabilitas Benih Kakao (Theobroma cacao L.)” sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis berterimakasih kepada Ir. Haryati, MP. , selaku ketua komisi pembimbing dan kepada Ir. Ratna Rosanty Lahay, MP.

selaku anggota komisi pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan masukan selama penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak mengalami kekurangan. Oleh karena itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.

Medan, April 2018

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRACT ... i

ABSTRAK ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 4

Hipotesis Penelitian ... 4

Kegunaan Penelitian ... 4

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman ... 5

Syarat Tumbuh ... 7

Iklim ... 7

Tanah ... 7

Viabilitas Benih ... 8

Penyimpanan Benih ... 9

Serbuk Gergaji ... 10

Abu Sekam Padi ... 10

Zeolit ... 11

Air Kelapa Muda ... 12

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu ... 14

Bahan dan Alat ... 14

Metode Penelitian ... 14

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Benih ... 17

Pemberian Fungisida ... 17

(9)

Penyimpanan Benih ... 17

Persiapan Larutan Perendaman ... 17

Perendaman Benih ... 18

Pengecambahan Benih ... 18

Pemeliharaan ... 18

Pengamatan Parameter ... 18

Kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman) ... 18

Persentase benih berkecambah di penyimpanan ... 19

Persentase benih berjamur di penyimpanan ... 19

Kadar air benih setelah perendaman ... 19

Laju perkecambahan di penyemaian ... 19

Persentase perkecambahan di penyemaian ... 20

Panjang hipokotil ... 20

Panjang epikotil ... 20

Jumlah daun ... 20

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 21

Pembahasan ... 30

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 35

Saran ... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36

LAMPIRAN ... 39

(10)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Kadar air benih sebelum dan setelah penyimpanan (sebelum perendaman) pada perlakuan berbagai media simpan ... 21 2. Persentase benih berkecambah dan berjamur di penyimpanan

pada perlakuan berbagai media simpan ... 22 3. Kadar air benih setelah perendaman pada perlakuan berbagai

media simpan ... 23 4. Laju perkecambahan di penyemaian pada berbagai media simpan

dan lama perendaman pada air kelapa muda ... 25 5. Persentase perkecambahan di penyemaian pada berbagai media

simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda ... 26 6. Panjang hipokotil pada perlakuan berbagai media simpan dan

lama perendaman pada air kelapa muda ... 27 7. Panjang epikotil pada perlakuan berbagai media simpan dan lama

perendaman pada air kelapa muda ... 28 8. Jumlah daun pada perlakuan berbagai media simpan dan lama

perendaman pada air kelapa muda ... 30

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar

air benih setelah perendaman ... 24 2. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar

air benih setelah perendaman pada berbagai media simpan ... 24 3. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap

persentase perkecambahan benih di penyemaian ... 26 4. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap

panjang hipokotil ... 28 5. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap

panjang epikotil ... 29

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Bagan penelitian ... 39

2. Bagan penanaman ... 40

3. Data pengamatan kadar air benih setelah penyimpanan ... 41

4. Sidik ragam kadar air benih setelah penyimpanan ... 41

5. Data pengamatan persentase benih berkecambah di penyimpanan ... 42

6. Sidik ragam persentase benih berkecambah di penyimpanan ... 42

7. Data pengamatan persentase benih berjamur di penyimpanan ... 43

8. Sidik ragam persentase benih berjamur di penyimpanan ... 43

9. Data pengamatan kadar air benih setelah perendaman ... 44

10. Sidik ragam kadar air benih setelah perendaman ... 44

11. Data pengamatan laju perkecambahan di penyemaian ... 45

12. Sidik ragam laju perkecambahan di penyemaian ... 45

13. Data pengamatan persentase perkecambahan di penyemaian ... 46

14. Sidik ragam persentase perkecambahan di penyemaian ... 46

15. Data pengamatan panjang hipokotil ... 47

16. Sidik ragam panjang hipokotil ... 47

17. Data pengamatan panjang epikotil ... 48

18. Sidik ragam panjang epikotil ... 48

19. Data pengamatan jumlah daun ... 49

20. Sidik ragam jumlah daun ... 49

21. Rekapitulasi rataan dwikasta seluruh parameter ... 50

22. Persiapan bahan tanam ... 51

(13)

23. Pengaplikasian perlakuan dan penanaman ... 52 24. Perkecambahan benih kakao ... 53

(14)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang cukup potensial.

Kakao merupakan penghasil devisa negara terbesar ketiga pada sub sektor perkebunan setelah karet dan kelapa sawit, pentingnya tanaman kakao dalam perekonomian Indonesia, membuat permintaan tanaman kakao meningkat (Ratnawati et al., 2014).

Data dari Direktorat Jenderal Perkebunan (2015) produksi kakao di Indonesia di tahun 2016 yaitu sebesar 760.429 ton yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 661.243 ton. Provinsi Sulawesi menjadi daerah sentra produksi kakao dengan 494.241 ton diikuti Sumatera dengan 168.450 ton dan provinsi lainnya.

Peningkatan permintaan kakao membuat masyarakat mengusahakan perbanyakan tanaman baik secara generatif maupun vegetatif. Perbanyakan secara generatif yang paling sering dilakukan oleh masyarakat dibandingkan perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif. Perbanyakan secara generatif dianggap lebih mudah untuk dikembangkan, selain itu perbanyakan ini mampu menghasilkan bibit dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang singkat (Ratnawati et al., 2014).

Benih kakao bermutu, umumnya hanya disediakan oleh perkebunan besar.

Perkebunan besar terletak berjauhan dengan perkebunan rakyat, sehingga memerlukan waktu relatif lama selama pengiriman, sehingga dapat menurunkan mutu benih, terutama mutu fisiologis (Adelina dan Maemunah, 2004).

(15)

Benih kakao termasuk benih rekalsitran, yang tidak memiliki masa dormansi dan berkadar air tinggi. Benih kakao perlu dipertahankan viabilitasnya

selama penyimpanan dan pengiriman sampai ke tujuan penanaman (Sumampow, 2011).

Masalah utama dalam penyimpanan benih kakao adalah terkait dengan kadar air benih yakni bila tinggi maka akan memacu perkecambahan di penyimpanan dan timbulnya jamur, sebaliknya jika kadar air terlalu rendah benih akan sukar berkecambah, selain itu semakin lama penyimpanan persentase berkecambah benih akan menurun.

Upaya mempertahankan viabilitas benih kakao salah satunya adalah mempertahankan kadar air selama penyimpanan. Dari hasil penelitian Misrun (2010) menunjukkan bahwa kadar air benih kakao pada wadah simpan serbuk gergaji semakin meningkat dengan bertambahnya periode simpan dari 4,8 sampai 12 hari yaitu 35,88%, 43,52%, 45,85%. Sedangkan pada wadah simpan abu sekam yaitu 38,39 %, 47,76 %, 53,30 %.

Menurut Rahardjo (2012) abu sekam padi merupakan bahan desikan yang dapat digunakan untuk mempertahankan daya tumbuh benih kakao dalam penyimpanan karena kemampuannya menyerap kelembaban udara di sekitar benih. Kelembaban udara yang tinggi mengakibatkan kandungan air benih kakao meningkat menyebabkan laju respirasi juga meningkat, dan terjadi penggunaan cadangan makanan secara besar-besaran sehingga benih cepat kehilangan daya tumbuh.

Menurut Tanjung (2016) penambahan zeolit pada kemasan merupakan salah satu solusi untuk mempertahankan kodisi simpan yang optimum. Hasil

(16)

penelitian Tanjung (2016) menunjukkan bahwa penyimpanan dengan zeolit mempertahankan kadar air benih pala tetap tinggi dari 34.61% menjadi 39.69%, sedangkan penyimpanan tanpa zeolit menurunkan kadar air benih pala dari 27.83% menjadi 22.86%.

Dari hasil penelitian Misrun (2010) dapat dilihat bahwa pada penyimpanan 12 hari ke 16 hari persentase benih kakao berkecambah menurun dari 87,13 % menjadi 58,06 %. Setelah dikeluarkan dari buah benih kakao cepat kehilangan daya tumbuhnya sehingga bertambahnya lama penyimpanan akan mengurangi persentase benih untuk berkecambah.

Laju penurunan ini disebabkan karena telah terjadi perombakan cadangan makanan dalam benih selama penyimpanan, sehingga benih kehilangan daya tumbuh. Tetapi benih yang telah mengalami penurunan daya tumbuh pada saat penyimpanan, dapat diperlambat laju penurunan viabilitas dan vigornya dengan

menggunakan GA3, GA3 + NAA atau menggunakan air kelapa (Maemunah dan Adelina, 2009).

Menurut Morel (1974) dalam Bey et al. (2006) air kelapa muda merupakan suatu bahan alami yang di dalamnya terkandung hormon seperti sitokinin 5,8 mg/l yang dapat merangsang pertumbuhan tunas dan mengaktifkan kegiatan jaringan atau sel hidup, hormon auksin 0,07 mg/l dan sedikit giberelin serta senyawa lain yang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan.

Hasil penelitian Slamet et al. (2015) menunjukkan bahwa persentase perkecambahan benih kakao dengan perlakuan perendaman air kelapa muda 36 jam memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 24 dan 12 jam. Hal ini diduga dalam air kelapa banyak mengandung bahan-bahan organik

(17)

dan unsur hara yang bermanfaat bagi perkembangan embrio sehingga dapat memacu persentase perkecambahan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui viabilitas benih kakao pada berbagai media simpan dan perendaman dengan air kelapa muda.

Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.).

Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh berbagai media simpan dan lama perendaman dengan air

kelapa muda serta interaksi keduanya terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.).

Kegunaan Penelitian

Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapat gelar sarjana di Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini juga diharapkan berguna sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

(18)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Kakao (Theobroma cacao L) termasuk ke dalam divisi Spermatophyta, subdivisi Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, ordo Malvales, family

Sterculiaceae, genus Theobroma, spesies Theobroma cacao L.

(Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).

Tanaman kakao termasuk tanaman tahunan yang tergolong dalam kelompok tanaman caulofloris, yaitu tanaman yang berbunga dan berbuah pada batang dan cabang. Tanaman ini pada garis besarnya dapat dibagi atas dua bagian, yaitu bagian vegetatif yang meliputi akar, batang, daun dan bagian generatif yang meliputi bunga dan buah (Lukito, 2010).

Akar kakao termasuk akar tunggang (radix primaria). Pertumbuhan akar kakao dapat mencapai 8 meter ke arah samping dan 15 meter ke arah bawah.

Kakao yang diperbanyak secara vegetatif pada awal pertumbuhannya tidak menumbuhkan akar tunggang, melainkan akar-akar serabut yang banyak jumlahnya (Oktaviani, 2008).

Perkembangan akar sangat dipengaruhi oleh struktur tanah, air tanah, dan aerasi di dalam tanah. Pada tanah yang drainasenya jelek dan permukaan air tanahnya tinggi, akar tunggang tidak dapat tumbuh lebih dari 45 cm. Hal yang sama akan terjadi apabila permukaan tanah terlalu dalam (Wood, 1985).

Tanaman kakao bersifat dimorfisme, yang artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ke atas disebut tunas ortotrop atau tunas air (wiwilan atau chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya

(19)

ke samping disebut dengan plagiotrop (cabang kipas atau fan) (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).

Bunga kakao tergolong bunga sempurna, terdiri dari kelopak daun (calyx) sebanyak 5 lembar dan benang sari (androecium) berjumlah 10 helai. Diameter bunga 1,5 cm, bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2-4 cm.

Tanaman kakao bersifat caulifflora, yaitu bunga tumbuh dan berkembang dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Tempat tumbuh bunga tersebut semakin lama semakin membesar dan menebal atau biasa disebut dengan bantalan bunga (Lukito, 2010).

Warna buah tanaman kakao sangat beragam, tetapi pada dasarnya hanya ada dua macam warna. Buah yang ketika muda berwarna hijau atau hijau agak putih jika sudah masak akan berwarna kuning. Sementara itu, buah yang ketika muda berwarna merah, setelah masak berwarna jingga (orange). Kulit buah untuk jenis Criollo memiliki 10 alur dalam dan dangkal silih berganti. Dan jenis Trinitario memiliki 12 alur buah nampak jelas, kulit tebal tetapi lunak dan permukaan kasar. Sedangkan jenis Forastero umumnya permukaan halus atau rata dan kulit buah tipis (Susanto, 1994).

Biji kakao tidak mengalami masa dormansi sehingga penyimpanan biji untuk benih dengan waktu yang agak lama tidak memungkinkan. Biji ini diselimuti oleh lapisan yang lunak dan manis. Pulp ini dapat menghambat

perkecambahan dan karenanya biji yang akan digunakan untuk menghindari dari kerusakan biji dimana jika pulp ini tidak dibuang maka didalam

penyimpanan akan terjadi proses fermentasi sehingga dapat merusak biji (Heddy, 1990).

(20)

Syarat Tumbuh Iklim

Menurut Siregar et al. (2004) areal penanaman kakao yang ideal adalah daerah-daerah bercurah hujan 1100 – 3000 mm per tahun atau rata-rata optimumnya sekitar 1500 mm/tahun yang terbagi merata sepanjang tahun (tidak ada bulan kering). Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman kakao juga dipengaruhi oleh sifat fisik tanah itu sendiri.

Tanaman kakao dapat tumbuh baik pada suhu 18 – 32 ºC dengan suhu rata-rata tahunan 25 ºC, suhu rata-rata bulanan terdingin tidak boleh kurang dari 15 ºC. Pengaruh suhu terhadap kakao erat kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari dan kelembaban. Pada suhu rendah sering menyebabkan pembungaan terlambat dan penurunan suhu di bawah 22 ºC menyebabkan primordia bunga terhenti (Wachjar dan Iskandar, 1988).

Ditinjau dari wilayah penanamannya, tanaman kakao ditanam pada daerah yang berada pada 100°LU sampai dengan 100°LS. Namun pada umumnya penyebaran pertanaman kakao terletak pada daerah 70°LU sampai dengan 180°LS dan cukup toleran pada daerah 200°LU sampai 200°LS. Daerah penanaman kakao di Indonesia berada pada 50°LU sampai dengan 100°LS dan daerah ini termasuk ideal jika disertai dengan ketinggian tidak lebih dari 800 m dari permukaan laut (Siregar et al., 2004).

Tanah

Kakao memerlukan pH tanah yang netral atau berkisar 5,6-6,8 agar dapat tumbuh dengan baik. Sifat ini khusus berlaku untuk tanah atas (top soil), sedangkan tanah bawah (subsoil) keasaman tanah sebaiknya netral, agak asam

(21)

atau agak basa. Tanaman kakao membutuhkan tanah berkadar bahan organik tinggi, yaitu diatas 3%. Kadar bahan organik yang tinggi akan memperbaiki struktur tanah, biologi tanah, kemampuan penyerapan (absorpsi) hara, dan daya simpan lengas tanah (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, 2004).

Bahan organik yang tersedia di dalam tanah berkorelasi positif dengan pertumbuhan tanaman, produksinya meningkat seiring peningkatan kadar bahan organik tanah dari 3% ke 6%. Ketersediaan unsur hara dalam tanah dapat ditandai dengan pH tanah. Walaupun tanaman kakao masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,0-8,0, tetapi tanaman kakao akan tumbuh dan berproduksi optimum pada kisaran pH 6,0-7,0 (Susanto, 1994).

Viabilitas Benih

Mutu benih dapat dilihat dari viabilitas maupun vigor benih. Mutu benih dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor genetik, lingkungan dan status benih (kondisi fisik dan fisiologi benih). Genetik merupakan faktor bawaan yang berkaitan dengan komposisi genetika benih. Setiap varietas memiliki identitas genetika yang berbeda (Sutopo, 2004).

Viabilitas benih merupakan salah satu unsur dalam mutu fisiologis benih.

Viabilitas dapat dilihat dari daya berkecambah dan bobot kering kecambah normal. Daya berkecambah menginformasikan kemungkinan benih tumbuh normal pada kondisi lapang dan lingkungan yang optimum. Penurunan viabilitas merupakan salah satu indikator kemunduran benih (Sadjad et al., 1999).

Faktor kondisi fisik dan fisiologi benih berkaitan dengan performa benih seperti tingkat kemasakan, tingkat kerusakan mekanis, tingkat keusangan (hubungan antara vigor awal dan lamanya disimpan), tingkat kesehatan, ukuran

(22)

dan berat jenis, komposisi kimia, struktur, tingkat kadar air dan dormansi benih (Sutopo, 2004).

Penyimpanan Benih

Penyimpanan benih adalah mengkondisikan benih pada suhu dan kelembaban optimum untuk benih agar bisa mempertahankan mutunya. Tujuan

dari penyimpanan benih adalah untuk mengawetkan cadangan makanan

tanaman bernilai ekonomis dari satu musim ke musim berikutnya (Justice dan Bass, 2002).

Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih dalam periode simpan yang selama mungkin, agar benih dapat ditanam pada tahun-tahun berikutnya atau untuk tujuan pelestarian benih dari suatu jenis tanaman (Sutopo, 2004).

Tujuan lain penyimpanan benih adalah untuk mendukung kegiatan produksi tanaman dalam menyediakan benih bermutu sebelum datang musim tanam. Lamanya daya simpan benih dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu genetik dari tanaman induk, kondisi lingkungan simpan, keadaan fisik maupun fisiologis benih digunakan bertujuan membunuh penyakit, cendawan, bakteri, biji gulma, nematoda, dan serangga tanah (Kuswanto, 2003).

Kondisi penyimpanan sangat mempengaruhi viabilitas dan vigor benih.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan benih, yaitu kadar air, kelembaban dan suhu ruang. Suhu ruang simpan berperan dalam mempertahankan viabilitas dan vigor benih selama penyimpanan. Pada suhu rendah, respirasi berjalan lambat dibanding suhu tinggi. Dalam kondisi tersebut, viabilitas benih dapat dipertahankan lebih lama. (Harrington, 1972).

(23)

Serbuk Gergaji

Media simpan serbuk gergaji merupakan limbah yang berasal terutama dari industri penggergajian kayu. Limbah tersebut dapat menimbulkan pengotoran lingkungan apabila tidak dapat diatasi, baik pembuangan maupun pemanfaatannya (Anggraini, 2000).

Serbuk gergaji kayu mengandung komponen kimia yang sama dengan yang terkandung dalam batang kayu, yakni komponen sellulosa, lignin, hemisellulosa dan zat ekstraktif. Disamping itu serbuk gergaji juga mengandung 0,24% N, 0,20% P dan 0,45% K. Debu dari kayu cukup kaya akan zat makanan bagi tumbuh-tumbuhan terutama CaCO3 (Darusman 1983).

Hasil penelitian Sumampow (2011) menunjukkan bahwa semakinbesar dosis serbuk gergaji viabilitas benih kakao semakin baik. Hal ini ditunjukkan dengan semakin besar daya kecambah benih yaitu 65,85 % dengan 20 g, 72,29 % dengan 40 g dan 81,15 % dengan 60 g. Penyimpanan pada media serbuk gergaji dapat mengontrol kadar air benih kakao selama penyimpanan.

Abu Sekam Padi

Menurut Rahardjo (2012) abu sekam padi merupakan bahan desikan yang dapat digunakan untuk mempertahankan daya tumbuh benih dalam penyimpanan karena kemampuannya menyerap kelembaban udara di sekitar benih. Kelembaban udara yang tinggi mengakibatkan kandungan air benih meningkat menyebabkan laju respirasi juga meningkat, dan terjadi penggunaan cadangan makanan secara besar-besaran sehingga benih cepat kehilangan daya tumbuh.

Sekam padi merupakan bahan berligno-selulosa dan mengandung silika (SiO2) yang tinggi. Kandungan kimia sekam padi terdiri atas 50% selulosa, 25-

(24)

30% lignin, dan 15-20% silika. Sekam padi sebagai bahan baku untuk menghasilkan abu sekam padi dari pembakaran sekam padi pada suhu 400°- 500°C akan menjadi silika amorphous dan pada suhu lebih besar dari 1.000°C akan menjadi silika kristalin (Bakri, 2008).

Pemberian abu sekam padi 5-10 g/100 benih mampu mempertahankan daya berkecambah benih kakao 99-100% setelah penyimpanan benih selama dua minggu. Pemberian abu sekam padi pada benih kakao yang lebih banyak selama

disimpan dua minggu cenderung menurunkan daya berkecambah (Rahardjo, 2012).

Zeolit

Zeolit telah diketahui mampu bertindak sebagai adsorben (penyerap), mekanismenya melalui proses pengikatan senyawa dan molekul tertentu yang hanya terjadi dipermukaan. Zeolit merupakan senyawa alumino silikat terhidrat yang mempunyai struktur kerangka tiga dimensi terbuka yang dibangun oleh tetrahedral-tetrahedral SiO44- dan AlO45- dengan atom O sebagai penghubung antara atom Si dan Al membentuk rongga-rongga dan saluran yang teratur yang ditempati oleh molekul-molekul air dan kation yang dapat bergerak bebas,

sehingga memungkinkan pertukaran ion tanpa merusak struktur zeolite (Rosita, 2014).

Kondisi simpan yang optimum diharapkan dapat mempertahankan viabilitas benih tetap tinggi selama di penyimpanan. Penambahan zeolit pada kemasan merupakan salah satu solusi untuk mempertahankan kodisi simpan yang optimum. Hal ini disebabkan dengan penggunaan zeolit, RH lingkungan

(25)

penyimpanan lebih terkendali sehingga kadar air benih dipertahankan tetap tinggi (Tanjung, 2016).

Keunggulan lain dari zeolit yaitu sifat porous sehingga memungkinkan pertukaran oksigen lebih baik sehingga menjamin benih tetap melakukan respirasi dengan baik selama di penyimpanan (Hartati et al., 2001).

Hasil penelitian Mira (1999) menunjukkan bahwa zeolit dimanfaatkan sebagai media pelembab dalam penyimpanan benih lengkeng dengan persentase daya berkecambah 81,20% dibandingkan dengan media serbuk gergaji dengan daya berkecambah 74,13%.

Air Kelapa Muda

Air kelapa muda merupakan suatu bahan alami yang di dalamnya terkandung hormon seperti sitokinin 5,8 mg/l yang dapat merangsang pertumbuhan tunas dan mengaktifkan kegiatan jaringan atau sel hidup, hormon auksin 0,07 mg/L dan sedikit giberelin serta senyawa lain yang dapat menstimulasi perkecambahan dan pertumbuhan (Bey et al., 2006)

Berdasarkan hasil analisis hormon yang dilakukan oleh Savitri (2005) ternyata dalam air kelapa muda terdapat giberelin (0,460 ppm GA3, 0,255 ppm GA5, 0,053 ppm GA7), sitokinin (0,441 ppm kinetin, 0,247 ppm zeatin) dan auksin (0,237 ppm IAA).

Air kelapa muda memberikan pengaruh terhadap persentase perkecambahan benih kakao. Hasil penelitian Slamet et al., (2015) menunjukkan bahwa persentase perkecambahan benih kakao dengan perlakuan perendaman air kelapa muda 36 jam memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 24 dan 12 jam. Hal ini diduga dalam air kelapa banyak mengandung

(26)

bahan-bahan organik dan unsur hara yang bermanfaat bagi perkembangan embrio sehingga dapat memacu persentase perkecambahan.

(27)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian + 25 meter di atas permukaan laut, mulai bulan November sampai dengan Desember 2017.

Bahan dan Alat

Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benih kakao lokalyang telah dipanen dari buahnya sebagai komoditi penelitian, fungisida Delsene MX 200 sebagai fungisida, kardus sebagai wadah penyimpanan, pasir sebagai media perkecambahan, serbuk gergaji, abu sekam padi dan zeolitsebagai media simpan, air kelapa muda sebagai larutan perendaman, aquades untuk melembabkan media simpan, abu gosok untuk membersihkan pulp benih, bak kecambah sebagai wadah perkecambahan.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat tulis, ayakan, kantung plastik, beaker glass, timbangan analitik, oven, ember, pisau, label nama, kalkulator, handsprayer, dan kamera.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor :

Faktor I :Penyimpanan dengan berbagai jenis media simpan (M) dengan 4 jenis : M0 : kantung plastik berlubang

M1 : kantung plastik berlubang dengan serbuk gergaji 500 g / perlakuan M2 : kantung plastik berlubang dengan abu sekam padi 500 g / perlakuan M3 : kantung plastik berlubang dengan zeolit 500 g / perlakuan.

(28)

Faktor II :Lama perendaman dengan air kelapa muda100% (L) dengan 4 taraf:

L0: Tanpa perendaman/Kontrol L1 : 4 jam

L2 : 8 jam L3 : 12 jam

Sehingga diperoleh 16 kombinasi perlakuan, yaitu :

Jumlah ulangan : 3

Jumlah bak kecambah : 48

Jumlah benih/bak kecambah : 14 benih Jumlah kebutuhan benih seluruhnya : 672 benih

Data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dengan model linear sebagai berikut :

Yijk = μ + ρi + αj + βk + (αβ)jk + εijk

i = 1, 2, 3 j = 1, 2, 3, 4 k = 1, 2, 3, 4,

dimana :

Yijk : Data hasil pengamatan dari unit percobaan ulangan ke-i dengan perlakuan berbagai media simpan ke-j dan lama perendaman air kelapa muda taraf ke-k

μ : Nilai tengah

M0L0 M1L0 M2L0 M3L0

M0L1 M1L1 M2L1 M3L1

M0L2 M1L2 M2L2 M3L2

M0L3 M1L3 M2L3 M3L3

(29)

ρi : Pengaruh ulangan ke-i

αj : Pengaruh perlakuan berbagai media simpan ke-j

βk : Pengaruh perlakuan lama perendaman air kelapa muda pada taraf ke-k (αβ)jk : Pengaruh interaksi dari perlakuan berbagai media simpan ke-j dan

perlakuan lama perendaman air kelapa muda pada taraf ke-k

εijk : Galat dari ulangan ke-i, perlakuan berbagai media simpan ke-j dan perlakuan lama perendaman air kelapa muda pada taraf ke-k

Jika dari hasil analisis sidik ragam menunjukkan pengaruh yang nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Beda Rataan berdasarkan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% (Steel and Torrie, 1993).

(30)

PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Benih

Buah kakao yang telah dipanen dalam kondisi matang fisiologis, kemudian dikupas dan biji dikeluarkan. Biji yang digunakan adalah biji yang berkualitas baik, memiliki ukuran dan warna seragam secara visual, tidak cacat dan tidak terserang hama dan penyakit. Biji dibersihkan dari pulpnya dan dicuci dengan air.

Pemberian Fungisida

Benih dimasukkan kedalam larutan fungisida Delsene MX 200 sebanyak 2 g/liter air selama 5 menit untuk menghindari serangan jamur. Kemudian dikeringkan selama 1 jam.

Persiapan Media Simpan

Media simpan yang digunakan adalah serbuk kayu gergaji, abu sekam padi dan zeolit yang masing-masing media tersebut disterilkan pada suhu 100° C dengan oven selama 1 jam.

Penyimpanan Benih

Benih disimpan pada kantung plastik yang sudah dilubangi di wadah kardus dengan ukuran 30 cm x 22 cm x 21 cm dan dilapisi media simpan sebanyak 500 g / perlakuan lalu disimpan selama satu minggu.

Persiapan Larutan Perendaman

Larutan yang digunakan untuk perlakuan perendaman adalah air kelapa muda dengan konsentrasi 100% yang berasal dari buah kelapa muda yang memiliki ciri seragam.

(31)

Perendaman Benih

Benih yang telah disimpan selama satu minggu, dibersihkan dengan kain kemudian direndam dengan air kelapa muda sesuai dengan perlakuan.

Pengecambahan Benih

Setelah dilakukan perendaman, benih dikecambahkan di bak kecambah plastik dengan ukuran 30 cm x 22 cm x 4 cm sebanyak 14 benih per-bak kecambah dengan media pasir yang telah diayak dan disterilkan dengan digonseng selama 2 jam, sedalam 2 cm dengan permukaan benih yang rata menghadap ke bawah.

Pemeliharaan

Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan handsprayer hingga media menjadi lembab, pemeliharaan dilakukan setiap hari sampai 20 hari setelah ditanam pada bak perkecambahan.

Pengamatan Parameter

Kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman)

Pengukuran kadar air awal dilakukan dengan diambil sebanyak 5 biji dari buah. Lalu kadar air diukur lagi setelah benih disimpan dalam berbagai media simpan. Kadar air benih diukur dengan cara mengovenkan sampel pada suhu 105°C selama 24 jam dengan rumus:

Berat Basah- Berat Kering

% Kadar air benih = x 100%

Berat Basah

(32)

Persentase benih berkecambah di penyimpanan

Persentase benih berkecambah pada penyimpanan dihitung dengan rumus:

Jumlah benih berkecambah

% Benih berkecambah = x 100%

Jumlah benih disimpan Persentase benih berjamur di penyimpanan

Persentase benih berjamur pada penyimpanan dihitung dengan rumus:

Jumlah benih berjamur

% Benih berjamur = x 100%

Jumlah benih disimpan Kadar air benih setelah perendaman

Kadar air diukur lagi setelah benih dilakukan perendaman pada air kelapa muda. Kadar air benih diukur dengan cara mengovenkan sampel pada suhu 105°C selama 24 jam dengan rumus:

Berat Basah- Berat Kering

% Kadar air benih = x 100%

Berat Basah Laju perkecambahan di penyemaian

Laju perkecambahan diukur dengan menghitung jumlah hari yang diperlukan untuk munculnya radikula atau plumula. Perhitungan laju perkecambahan menggunakan formulasi Sutopo (2004) sebagai berikut :

N1T1 + N2T2 + … … … +NxTx Rata- rata hari =

Jumlah total benih berkecambah Keterangan :

N :Jumlah benih yang berkecambah pada satuan waktu tertentu

(33)

T :Menunjukkan jumlah waktu antara awal pengujian sampai dengan|

akhir dan interval tertentu suatu pengamatan.

Persentase perkecambahan di penyemaian

Pengamatan persentase percekambahan benih diamati pada setiap perlakuan pada akhir pengamatan. Dengan cara menghitung jumlah benih yang berkecambah pada setiap bak kecambah. Persentase perkecambahan (%) dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Jumlah benih yang berkecambah

Persentase perkecambahan = x 100%

Jumlah benih yang ditanam Panjang hipokotil

Pengukuran ini dilakukan pada hari ke-14 setelah benih dikecambahkan.

Pengukuran dimulai dari atas radikel sampai batas terangkatnya kotiledon.

Panjang epikotil

Pengukuran dimulai dari atas kotiledon sampai batas bawah plumula.

Jumlah daun

Pengamatan dilakukan pada hari ke ke-14 setelah benih dikecambahkan.

(34)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang dilakukan, diperoleh bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman), kadar air benih setelah perendaman, dan jumlah daun. Perlakuan lama perendaman dengan air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah perendaman, perkecambahaan benih di penyemaian, panjang hipokotil, dan panjang epikotil.

Interaksi antara berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah perendaman.

Kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman)

Dari penelitian yang sudah dilakukan didapat kadar air awal benih kakao yaitu 35,72%. Data hasil pengamatan kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman) dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 4-5 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman).

Kadar air benih setelah penyimpanan (sebelum perendaman) pada perlakuan berbagai media simpan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kadar air benih sebelum dan setelah penyimpanan (sebelum perendaman) pada perlakuan berbagai media simpan.

Media Simpan Kadar air sebelum penyimpanan

Kadar air setelah penyimpanan ...%...

M0 (Kontrol) 35,72 27,19c

M1 (Abu Sekam) 35,72 27,46bc

M2 (Serbuk Gergaji) 35,72 28,24b

M3 (Zeolit) 35,72 32,85a

(35)

Tabel 1 menunjukkan bahwa benih kakao yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) mempunyai kadar air tertinggi 32,85 % yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain.

Persentase benih berkecambah di penyimpanan

Data hasil pengamatan benih berkecambah di penyimpanan dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 8-9 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap persentase benih berkecambah di penyimpanan.

Persentase benih berkecambah dan berjamur di penyimpanan pada perlakuan berbagai media simpan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2.Persentase benih berkecambah dan berjamur di penyimpanan pada perlakuan berbagai media simpan.

Media Simpan Benih berkecambah di penyimpanan

Benih berjamur di penyimpanan ...%...

M0 (Kontrol) 1,51 12,62

M1 (Abu Sekam) 1,76 10,10

M2 (Serbuk Gergaji) 2,02 10,35

M3 (Zeolit) 0,75 9,97

Tabel 2 menunjukkan bahwa benih kakao yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) cenderung mempunyai persentase benih berkecambah di penyimpanan terendah 0,75% dan pada media simpan serbuk gergaji (M2) cenderung mempunyai persentase benih berkecambah tertinggi 2,02%.

Persentase benih berjamur di penyimpanan

Data hasil pengamatan benih berjamur di penyimpanan dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 10-11 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap persentase benih berjamur di penyimpanan.

(36)

Tabel 2 menunjukkan bahwa benih kakao yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) cenderung mempunyai persentase benih berjamur di penyimpanan terendah 9,97% dan tanpa media simpan (M0) cenderung mempunyai persentase benih berjamur tertinggi 12,62%.

Kadar air benih setelah perendaman

Data hasil pengamatan kadar air benih setelah perendaman dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 6-7 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda, serta interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah perendaman.

Kadar air benih setelah perendaman pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda serta interaksinya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Kadar air benih setelah perendaman pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan L0(0) L1(4) L2(8) L3(12)

……….%……….…………

M0 (Kontrol) 38,09j 39,91i 36,68k 36,15l 37,71d M1 (Abu Sekam) 42,03g 43,54f 40,77h 40,41h 41,69c M2 (Serbuk Gergaji) 45,06e 44,76e 43,56f 45,49d 44,72b M3 (Zeolit) 46,49c 44,75e 49,94b 50,93a 48,03a

Rataan 42,92ab 43,24a 42,74b 43,24a

Keterangan :Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan berbeda tidak nyatapada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 3 menunjukkan bahwa benih kakao setelah perendaman yang disimpan pada media simpan zeolit (M3) mempunyai kadar air tertinggi (48,03%) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain. Benih kakao yang direndam selama 4 jam (L1) dan 12 jam (L3) mempunyai kadar air lebih tinggi yang berbeda nyata dengan lama perendaman 8 jam (L) tetapi berbeda

(37)

y = -0,0368x2 + 0,2146x + 38,478 R² = 0,6456

y = -0,0292x2 + 0,1587x + 42,368 R² = 0,6291 y = 0,0348x2 - 0,4157x + 45,26

R² = 0,6074 y = 0,0426x2 - 0,0486x + 45,931

R² = 0,7543

30,00 33,00 36,00 39,00 42,00 45,00 48,00 51,00 54,00

0 4 8 12

Kadar air benih setelah perendaman (%)

Lama Perendaman (jam)

M0 : kontrol M1 : abu sekam M2 : serbuk gergaji M3 : zeolit

tidak nyata dengan tanpa perendaman (L0). Pada media simpan berupa zeolit pada lama perendaman 12 jam (M3L3) mempunyai kadar air benih tertinggi yaitu 50,93% yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar air benih setelah perendaman dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar air benih setelah perendaman.

Hubungan antara berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap kadar air benih setelah perendaman dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan lama perendaman padaair kelapa muda terhadap kadar air

ŷ = 0,0048x3 - 0,0833x2 + 0,3371x + 42,917 r = 1

40,00 41,00 42,00 43,00 44,00 45,00

0 4 8 12

Kadar air benih setelah perendaman (%)

Lama Perendaman (jam)

(38)

Laju perkecambahan di penyemaian

Data hasil pengamatan dan sidik ragam Lampiran 12-13 menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap laju perkecambahan di penyemaian.

Laju perkecambahan benih di penyemaian pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Laju perkecambahan benih di penyemaian pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan L0(0) L1(4) L2(8) L3(12)

………hari……….…………

M0 (Kontrol) 5,89 5,40 6,08 5,75 5,78

M1 (Abu Sekam) 5,28 5,67 6,04 5,48 5,62

M2 (Serbuk Gergaji) 5,81 5,73 5,71 6,03 5,82

M3 (Zeolit) 6,12 6,25 5,76 5,70 5,96

Rataan 5,77 5,76 5,90 5,74

Tabel 4 menunjukkan bahwa laju perkecambahan benih di penyemaian tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) yaitu 5,96 hari yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya. Perendaman air kelapa muda selama 8 jam (L2) menghasilkan laju perkecambahan benih tertinggi yaitu 5,90 hari yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.

Persentase perkecambahan di penyemaian

Data hasil pengamatan persentase perkecambahan di penyemaian dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 14-15 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap persentase perkecambahan di penyemaian, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap persentase perkecambahan di penyemaian, serta

(39)

interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap persentase perkecambahan di penyemaian.

Persentase perkecambahan di penyemaian pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Persentase perkecambahan di penyemaian pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan L0(0) L1(4) L2(8) L3(12)

……….%……….…………

M0 (Kontrol) 19,05 50,00 59,52 76,19 51,19

M1 (Abu Sekam) 38,10 69,05 52,38 78,57 59,52 M2 (Serbuk Gergaji) 38,10 64,29 50,00 76,19 57,14

M3 (Zeolit) 38,10 71,43 73,81 85,71 67,26

Rataan 33,33c 63,69b 58,93b 79,17a

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 5 menunjukkan bahwa persentase perkecambahan di penyemaian tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) 67,26% yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan persentase perkecambahan di penyemaian tertinggi sebesar 79,17% yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman dengan air kelapa muda terhadap persentase perkecambahan di penyemaian dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap

ŷ = 3,318x + 38,86 r = 0,9

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00

0 4 8 12

Persentase perkecambahan di penyemaian (%)

Lama Perendaman (jam)

(40)

Panjang hipokotil

Data hasil pengamatan panjang hipokotil dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 16-17 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang hipokotil, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap panjang hipokotil, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap panjang hipokotil.

Panjang hipokotil pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6.Panjang hipokotil pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan L0(0) L1(4) L2(8) L3(12)

………cm……….…………

M0 (Kontrol) 20,63 46,77 56,37 67,00 47,69

M1 (Abu Sekam) 35,67 66,43 47,43 76,47 56,50 M2 (Serbuk Gergaji) 37,67 60,83 48,57 73,33 55,10

M3 (Zeolit) 37,07 66,53 65,37 83,53 63,13

Rataan 32,76c 60,14b 54,43b 75,08a

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 6 menunjukkan bahwa panjang hipokotil tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) 63,13 cm yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan panjang hipokotil tertinggi sebesar 75,08 cm yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang hipokotil dapat dilihat pada Gambar 4.

(41)

Gambar 4.Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang hipokotil.

Panjang epikotil

Data hasil pengamatan panjang epikotil dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 18-19 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang epikotil, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap panjang epikotil, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap panjang epikotil.

Panjang epikotil pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Panjang epikotil pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan L0(0) L1(4) L2(8) L3(12)

………cm……….…………

M0 (Kontrol) 17,83 55,67 68,80 77,00 54,83

M1 (Abu Sekam) 26,23 77,60 46,07 85,30 58,80 M2 (Serbuk Gergaji) 38,17 76,73 47,33 83,30 61,38

M3 (Zeolit) 41,13 67,63 74,73 99,60 70,78

Rataan 30,84c 69,41b 59,23b 86,30a

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

ŷ = 3,031x + 37,41 r = 0,892

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00

0 4 8 12

Panjang Hipokoil (cm)

Lama Perendaman (jam)

(42)

Tabel 7 menunjukkan bahwa panjang epikotil tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan zeolit (M3) 70,78 cm yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan panjang hipokotil tertinggi sebesar 86,30 cm yang berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya.

Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang epikotil dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Hubungan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap panjang epikotil.

Jumlah daun

Data hasil pengamatan jumlah daun dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 20-21 yang menunjukkan bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun, serta interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun.

Jumlah daun pada berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda dapat dilihat pada Tabel 8.

y = 3,905x + 38,016 r = 0,8670

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00

0 4 8 12

Panjang epikotil (cm)

Lama Perendaman (jam)

(43)

Tabel 8. Jumlah daun pada perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda.

Media Simpan Lama Perendaman (jam)

Rataan L0(0) L1(4) L2(8) L3(12)

………helai……….…………

M0 (Kontrol) 3,17 3,46 3,49 3,51 3,41ab

M1 (Abu Sekam) 2,58 3,27 3,42 3,30 3,15b

M2 (Serbuk Gergaji) 4,04 3,67 3,46 3,60 3,69a

M3 (Zeolit) 3,63 3,53 3,30 3,96 3,60a

Rataan 3,36 3,49 3,42 3,59

Keterangan : Angka – angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata pada Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah daun tertinggi diperoleh pada perlakuan media simpan serbuk gergaji (M2) 3,69 helai yang berbeda nyata terhadap perlakuan (M1) 3,15 helai. Perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam (L3) menghasilkan jumlah daun tertinggi sebesar 3,59 helai yang berbeda tidak nyata terhadap perlakuan lainnya.

Pembahasan

Pengaruh berbagai media simpan terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam dapat diketahui bahwa perlakuan berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah penyimpanan, setelah perendaman, dan jumlah daun.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao sebelum perendaman yang tertinggi diperoleh dengan media simpan zeolit (M3) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain. Hal ini dapat dilihat dari kadar air benih kakao pada perlakuan M3 dengan rataan 32,85%. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao sesudah perendaman yang tertinggi diperoleh dengan media simpan zeolit (M3) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media lain. Hal ini dapat dilihat dari kadar air benih

(44)

kakao pada perlakuan M3 dengan rataan 48,03%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan zeolit sebagai media simpan dapat mempertahankan kondisi simpan optimum, sehingga kadar air benih kakao dapat dipertahankan selama penyimpanan. Menurut Hartati et al., (2001) keunggulan lain dari zeolit yaitu sifat porous sehingga memungkinkan pertukaran oksigen lebih baik sehingga menjamin benih tetap melakukan respirasi dengan baik selama di penyimpanan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah daun tertinggi diperoleh pada media simpan serbuk gergaji (M2) yang berbeda nyata dengan benih yang disimpan pada media simpan abu sekam (M1). Hal ini dapat dilihat dari jumlah daun pada perlakuan M2 dengan rataan 3,60 helai. Serbuk gergaji memiliki sifat higroskopis sehingga uap air yang menempel pada serbuk gergaji akan diserap oleh benih. Benih yang disimpan dengan media simpan yang tepat dapat mempertahankan kadar air dan cadangan makanan selama penyimpanan, sehingga kondisi fisiologis benih akan mempengaruhi perkecambahan. Menurut Sumampow (2011) Serbuk gergaji mempunyai sifat lambat lapuk sehingga media ini sangat baik untuk menyimpan air sehingga dapat mempertahankan kelembaban di sekitar benih. Penurunan kadar air benih rekalsitran kakao dalam masa simpan dapat menyebabkan penurunan mutunya.

Pengaruh lama perendaman pada air kelapa muda terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam dapat diketahui bahwa perlakuan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah perendaman, perkecambahaan benih di penyemaian, panjang hipokotil, dan panjang epikotil.

(45)

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao setelah perendaman yang tertinggi diperoleh dengan lama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata dengan lama perendaman pada air kelapa muda 8 jam (L2). Keberadaan air di dalam benih mempengaruhi aktivitas metabolisme. Semakin lama benih direndam dengan air kelapa muda maka semakin banyak air kelapa muda yang masuk ke dalam endosperm benih sehingga kadar air benih kakao meningkat. Kadar air benih yang terlalu rendah menyebabkan menurunnya daya tumbuh benih dan benih kakao tergolong pada benih rekalsitran tidak mampu menahan dehidrasi berlebihan dan akan segera kehilangan viabilitasnya pada kelembaban yang relatif rendah. Menurut Tanjung (2016) Pada umumnya benih rekalsitran tidak tahan kering karena kelemahan fisiologi benih untuk mengembalikan organel sel yang telah mengalami perubahan akibat menurunnya kadar air benih. Ketidakmampuan ini berdampak pada kegagalan sel melakukan metabolisme untuk keperluan pemeliharaan dirinya maupun proses perkecambahan.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase perkecambahan benih kakao di penyemaian tertinggi diperoleh pada lama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata pada lama perendaman lainnya, dengan rataan 79,17%. Panjang hipokotil benih kakao tertinggi diperoleh dengan lama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata dengan lama perendaman lainnya, dengan rataan 75,08%, dan panjang epikotil benih kakao tertinggi diperoleh padalama perendaman pada air kelapa muda 12 jam (L3) yang berbeda nyata dengan lama perendaman lainnya, dengan rataan 86,30 %. Hal ini menunjukkan semakin lama benih direndam, maka semakin besar masuknya

(46)

air kelapa muda ke dalam endosperm sehingga perkembangan embrio dan daya benih untuk berkecambah lebih cepat. Air kelapa banyak mengandung bahan- bahan organik dan unsur hara yang bermanfaat bagi perkembangan embrio. Hal inilah yang diduga terjadi dalam benih yang direndam setelah disimpan, sehingga sisa cadangan makanan dalam benih lebih cepat dapat digunakan untuk perkembangan embrio sehingga embrio lebih cepat dapat memanfaatkan faktor pendukung berlangsungnya perkecambahan seperti air dan oksigen (O2).

Yong et al., (2009) menyatakan bahwa didalam air kelapa muda terdapat kandungan beberapa zat diantaranya adalah giberelin, sitokinin dan auksin yang berfungsi untuk memacu perpanjangan normal batang utuh, merangsang pembelahan dan pemanjangan sel, dan mampu memecah masa istirahat biji (pematahan dormansi), serta merangsang pembentukan akar liar yang tumbuh dari batang atau daun pada banyak spesies.

Pengaruh interaksi berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda terhadap viabilitas benih kakao (Theobroma cacao L.)

Berdasarkan hasil pengamatan dan sidik ragam dapat diketahui bahwa interaksi antara berbagai media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air setelah perendaman.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air benih kakao setelah perendaman yang tertinggi terdapat pada kombinasi perlakuan M3L3 yaitu media simpan zeolit dan lama perendaman pada air kelapa muda selama 12 jam sebesar 50,93% yang berbeda nyata terhadap kombinasi lainnya. Penggunaan zeolit sebagai media simpan dapat mempertahankan kondisi simpan optimum, sehingga kadar air benih kakao dapat dipertahankan selama penyimpanan. Semakin lama benih direndam dengan air kelapa, maka semakin besar masuknya zat yang

(47)

terkandung dalam air kelapa berupa adalah giberelim, sitokinin dan auksin ke dalam endosperm benih kakao sehingga perkembangan embrio dan daya benih untuk berkecambah lebih cepat. Menurut Sutopo (2004) Faktor kondisi fisik dan fisiologi benih berkaitan dengan performa benih seperti tingkat kemasakan, tingkat kerusakan mekanis, tingkat keusangan (hubungan antara vigor awal dan lamanya disimpan), tingkat kesehatan, ukuran dan berat jenis, komposisi kimia, struktur, tingkat kadar air dan dormansi benih.

(48)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Berbagai media simpan berpengaruh nyata terhadap kadar air benih setelah penyimpanan dan setelah perendaman dengan rataan tertinggi diperoleh pada media simpan zeolit yaitu 32,85% dan 48,03%, dan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada media simpan serbuk gergaji yaitu 3,69 helai.

2. Lama perendaman dengan air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air sesudah perendaman dengan rataan tertinggi diperoleh pada lama perendaman 12 jam sebesar 43,24%, perkecambahaan benih di penyemaian pada lama perendaman 12 jam sebesar 79,17%, panjang hipokotil pada lama perendaman 12 jam sebesar 75,08 cm, dan panjang epikotil pada lama perendaman 12 jam sebesar 86,30 cm.

3. Interaksi perlakuan berbagai media simpan dan lama perendaman dengan air kelapa muda berpengaruh nyata terhadap kadar air sesudah perendaman dengan rataan tertinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan media simpan zeolit dan lama perendaman denga air kelapa muda 12 jam sebesar 50,93%.

Saran

Penggunaan media simpan zeolit dan perendaman air kelapa muda selama 12 jam dapat dijadikan alternatif mempertahankan viabilitas benih kakao selama penyimpanan sampai ke penanaman.

Gambar

Gambar  2.  Hubungan  lama  perendaman  padaair  kelapa  muda  terhadap  kadar  air
Tabel  5.  Persentase  perkecambahan  di  penyemaian  pada  perlakuan  berbagai  media simpan dan lama perendaman pada air kelapa muda
Gambar  4.Hubungan  lama  perendaman  pada  air  kelapa  muda  terhadap  panjang                      hipokotil
Tabel  7  menunjukkan  bahwa  panjang  epikotil  tertinggi  diperoleh  pada  perlakuan media simpan zeolit (M 3 ) 70,78 cm yang berbeda tidak nyata terhadap  perlakuan  lainnya

Referensi

Dokumen terkait

Data hasil pengamatan tinggi bibit dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 15-16 yang menunjukkan bahwa lama penyimpanan dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap

Data pengamatan pertambahan diameter batang 2 - 12 MSPT dan sidik ragamnya dapat dilihat pada lampiran 29 - 40 yang menunjukkan perlakuan komposisi media

Dalam praktiknya penyusunan proses RAPBM di MIS Tanjungsari sudah mempraktikkan pendapatnya Liphan (1985) yaitu merencanakan, mempersiapkan, mengelola pelaksanaan,

2.  Mohon  beri  tanda  ”ü”  untuk  jawaban  yang  sesuai  dengan  kondisi  perusahaan anda, apakah melakukan atau tidak kegiatan­kegiatan berikut: 

Pada pengamatan hari ke-0 hingga hari ke-5 untuk perlakuan dengan menggunakan sedimen bakau dan sedimen rawa jumlah bakteri masih sedikit, hal ini disebabkan

Sedangkan golongan ulama Zaidiah menerima hadis mudallas karena hadis ini eksistensinya sama dengan hadis Mursal (Hadis mursal diterima oleh jumhur). Sedangkan ulama

terjadi karena edge cutoff dan utility ratio adalah bagian dari edge filtering yang merupakan proses penyeleksian edge namun terjadi pemotongan node sebanyak 1

Dalam hal terdapat perbedaan data antara DIPA Petikan dengan database RKA-K/L-DIPA Kementerian Keuangan maka yang berlaku adalah data yang terdapat di dalam database