• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Tahap II. Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery Persiapan Tempat Pembibitan

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil

Hasil

Dekomposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit

Dekomposisi tandan kosong kelapa sawit dengan perlakuan jenis dan dosis bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn serta waktu dekomposisi menghasilkan kualitas kompos yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada karakteristik kompos (Tabel 1) dan ketersediaan unsur hara pada kompos (Tabel 2).

Tabel 1. Karakteristik tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap Jenis, dosis, dan waktu dekomposisi

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit menggunakan bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap dosis dan waktu dekomposisi menghasilkan kompos dengan karakteristik yang berbeda meliputi kadar air berkisar antara 58,24%-79,69%, pH berkisar antara 7,01-9,21, C-organik berkisar antara 25,95-38,06 dan rasio C/N berkisar antara 7,65-36,20.

Tabel 2. Ketersediaan N, P, K dan Mg pada tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap Jenis, dosis dan waktu dekomposisi

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit menggunakan bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap dosis dan waktu dekomposisi menghasilkan kompos dengan ketersediaan unsur hara yang berbeda meliputi hara N berkisar antara 1,06%-3,39%, hara P berkisar antara 0,09%-0,32%, hara K berkisar antara 0,52%-1,57% dan hara Mg berkisar antara 1,13 ppm-1,84 ppm.

Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre nursery Umur Muncul Tunas

Hasil pengamatan umur muncul tunas bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 7-8. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas namun perbedaan waktu dekomposisi serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap umur muncul tunas.

Umur muncul tunas bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Umur muncul tunas kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa umur muncul tunas kelapa sawit paling cepat terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. stratophericus dengan dosis 50 ml/kg, B.

siamensis dengan dosis 50 ml/kg dan 100 ml/kg yaitu 1,33 MST. Sedangkan umur muncul tunas paling lama terdapat pada perlakuan kontrol yaitu, 2,50 MST.

Tinggi Tanaman

Hasil pengamatan tinggi bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 9-18.

Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri dan interaksi antara jenis bakteri dengan waktu dekomposisi berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit pada setiap waktu pengamatan namun perbedaan waktu dekomposisi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi bibit.

Tinggi bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Tinggi bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan (MST)

MST Jenis Bakteri

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa tinggi bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di dekompisi bakteri B. siamensis dosis 50 ml/kg yaitu 23,77 cm.

Sedangkan tinggi bibit terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 13,83 cm. Interaksi perlakuan yang menghasilkan tinggi bibit tertinggi adalah aplikasi bakteri B. siamensis 50 ml/kg dengan waktu dekomposisi 5 minggu (B4T1) yaitu 26,93 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Diameter Batang

Hasil pengamatan diameter batang bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 19-28. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri berpengaruh nyata terhadap diameter batang pada setiap waktu pengamatan namun perbedaan waktu dekomposisi serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang.

Diameter batang bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Diameter batang bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan (MST)

MST Jenis Bakteri

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa diameter batang bibit kelapa sawit terbesar terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. stratophericus dengan dosis 100 ml/kg dan B.

siamensis dengan dosis 50 ml/kg yaitu 0,82 cm. Sedangkan diameter batang terkecil terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 0,42 cm.

Jumlah Daun

Hasil pengamatan jumlah daun bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 29-38. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri berpengaruh nyata terhadap jumlah daun pada umur 4, 8 dan 12 MST, namun berpengaruh tidak nyata pada umur 6 dan 10 MST. Sedangkan perbedaan waktu dekomposisi serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun.

Jumlah daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan (MST)

MST Jenis Bakteri

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa jumlah daun bibit kelapa sawit terbanyak terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. siamensis dengan dosis 50 ml/kg yaitu 4,33 helai.

Sedangkan jumlah daun terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 3,00 helai.

Panjang Daun

Hasil pengamatan panjang bibit bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 39-48. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri berpengaruh nyata terhadap panjang daun pada setiap waktu pengamatan namun perbedaan waktu dekomposisi hanya berpengaruh nyata pada 6 MST. Sedangkan interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap panjang daun.

Panjang daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Panjang daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri,dosis dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan (MST)

MST Jenis Bakteri

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa panjang daun bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. siamensis dengan dosis 50 ml/kg yaitu 18,03 cm.

Sedangkan panjang daun terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 10,57 cm.

Panjang Akar

Hasil pengamatan panjang akar bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 49-50. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri dan waktu dekomposisi serta interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap panjang akar.

Panjang akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8. Panjang akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa panjang akar bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. siamensis dengan dosis 50 ml/kg yaitu 22,10 cm.

Sedangkan panjang akar bibit terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri

(kontrol) yaitu 12,70 cm. Waktu dekomposisi 5 minggu menghasilkan panjang akar 0,62 cm lebih panjang dibandingkan dengan 7 minggu. Interaksi perlakuan yang menghasilkan panjang akar bibit tertinggi adalah aplikasi bakteri B.

stratophericus 75 ml/kg dengan waktu dekomposisi 5 minggu (B2T1) yaitu 23,57 cm, yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan B. siamensis 50 ml/kg dengan waktu dekomposisi 5 minggu (B4T1) yaitu 23,07 cm.

Bobot Basah Akar

Hasil pengamatan bobot basah akar bibit kelapa sawit dengan media tanam tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion O.

rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 51-52. Berdasarkan sidik ragam tersebut muncul bahwa perlakuan jenis bakteri dan waktu dekomposisi berpengaruh nyata terhadap bobot basah akar namun interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata.

Bobot basah akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Bobot basah akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui bahwa bobot basah akar bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. stratophericus dengan dosis 75 ml/kg yaitu 2,02 g. Sedangkan bobot basah akar bibit terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 0,54 g. Waktu dekomposisi 7 minggu menghasilkan bobot basah akar 0,27 g lebih berat dibandingkan dengan 5 minggu.

Bobot Kering Akar

Hasil pengamatan bobot kering akar bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 53-54. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri dan waktu dekomposisi berpengaruh nyata terhadap bobot kering akar namun interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot kering akar.

Bobot kering akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10. Bobot kering akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi

Jenis Bakteri

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa bobot kering akar bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. stratophericus dengan dosis 75 ml/kg yaitu 0,53 g. Sedangkan bobot basah akar bibit terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 0,14 g. Waktu dekomposisi 7 minggu menghasilkan bobot kering akar 0,06 g lebih berat dibandingkan dengan 5 minggu.

Kandungan Klorofil Daun

Hasil pengamatan kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 55-56. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri dan waktu dekomposisi serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap kandungan klorofil daun.

Kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11. Kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.

Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. stratophericus dengan dosis 50 ml/kg yaitu 54,80 μmol/m2. Sedangkan kandungan klorofil daun terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 49,25 μmol/m2.

Pembahasan

Umur muncul tunas dipengaruhi oleh lamanya waktu dekomposisi, dimana tunas muncul lebih awal pada perlakuan kompos waktu dekomposisi 7 minggu.

Hal ini dikarenakan dekomposisi tandan kosong kelapa sawit selama 7 minggu telah terdekomposisi lebih lanjut yang ditandai dengan nisbah C/N yang lebih rendah (12.95) dibandingkan dengan 5 minggu (13,72), sehingga komponen yang dibutuhkan untuk memulai pertumbuhan bibit seperti unsur hara menjadi lebih tersedia. Waktu dekomposisi 7 minggu memiliki nilai C/N yang rendah dengan rataan umur muncul tunas 1,48 hari sedangkan waktu dekomposisi 5 minggu memiliki menunjukkan umur muncul tunas 1,71 hari. Menurut Yuwono (2008), nisbah C/N pada umumnya dinyatakan sebagai faktor penting yang mengindikasikan dekomposisi bahan organik dan pelepasan unsur hara. Semakin lama waktu dekomposisi, maka semakin lama pula waktu dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme sehingga nilai C/N menjadi rendah dan mendekati stabil. Selain itu, Hairiah et al (2000) menyatakan bahwa bahan organik dengan nisbah C/N yang rendah akan mengalami proses dekomposisi yang lebih cepat bila dibandingkan bahan organik dengan nisbah C/N lebih tinggi sehingga unsur hara lebih cepat tersedia bagi tanaman.

Waktu dekomposisi tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit, namun tinggi bibit kelapa sawit dengan waktu dekomposisi selama 5 minggu lebih tinggi dibandingkan dengan 7 minggu. Berdasarkan hasil analisis laboratorium, menunjukkan bahwa kandungan unsur hara pada pengomposan selama 5 minggu lebih tinggi dibandingkan 7 minggu, diantaranya hara N masing-masing 18,35%

dan 16,91%, dan hara K masing-masing 8,69% dan 5,54%, dimana hara tersebut sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan vegetatif seperti tinggi tanaman. Bibit kelapa sawit membutuhkan unsur hara N yang cukup tinggi untuk membentuk sel dan jaringan baru pada masa pertumbuhan vegetatif, khususnya tinggi bibit kelapa sawit. Menurut Notohadiprawiro et al (2006), nitrogen sangat dibutuhkan oleh tanaman pada fase pertumbuhan vegetatif, khususnya pertumbuhan batang yang memacu pertumbuhan tinggi tanaman. Selain itu, menurut Lakitan (2005), kalium berperan sebagai aktivator pada sintesis karbohidrat. Karbohidrat yang dihasilkan akan mempengaruhi aktivitas meristem apikal dalam proses pertumbuhan tinggi tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Sulistyowati (2011), bahwa pertumbuhan tinggi tanaman disebabkan oleh aktivitas meristem apikal yaitu bagian pucuk tanaman yang aktif membelah, sehingga tanaman akan bertambah tinggi. Aktivitas meristem apikal sangat tergantung pada ketersediaan karbohidrat yang diperoleh dari hasil fotosintesis.

Dekomposisi tandan kosong kelapa sawit selama 7 minggu menunjukkan diameter batang bibit kelapa sawit yang lebih besar dibandingkan dengan 5 minggu. Hal ini dikarenakan tandan kosong kelapa sawit dengan waktu dekomposisi selama 7 minggu telah mengalami proses dekomposisi dengan baik sehingga unsur hara yang dibutuhkan tanaman menjadi tersedia diantaranya unsur

hara P dan K yang berperan dalam pertambahan diameter batang. Hasil analisis hara juga menunjukkan bahwa kandungan hara P dan K pada tandan kosong kelapa sawit dengan waktu dekomposisi 7 minggu cukup tinggi berdasarkan standart SNI 19-7030-2004. Diketahui bahwa pembesaran diameter batang dipengaruhi oleh ketersediaan unsur kalium. Unsur kalium berperan mempercepat pertumbuhan jaringan meristematik terutama pada batang tanaman, menguatkan batang sehingga tidak mudah rebah, sangat penting dalam proses fotosintesis dimana semakin meningkatnya fotosintesis pada tanaman akan menambah ukuran diameter batang tanaman. Menurut Fajar et al (2016), bahwa batang merupakan daerah akumulasi pertumbuhan tanaman khususnya pada tanaman yang lebih muda sehingga dengan adanya unsur hara dapat mendorong pertumbuhan vegetatif tanaman diantaranya pembentukan klorofil pada daun sehingga akan memacu laju fotosintesis, semakin laju fotosintesis maka fotosintat yang dihasilkan akan berguna untuk memperbesar ukuran diameter batang tanaman..

Pertumbuhan diameter batang bibit kelapa sawit dipengaruhi oleh adanya unsur N, P dan K, tetapi unsur K merupakan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah lebih besar untuk pertumbuhan diameter bonggol bibit kelapa sawit. Unsur N tersedia berperan sebagai unsur utama pembentuk klorofil yang berguna untuk fotosintesis sedangkan unsur P yang tersedia berperan dalam menghasilkan energi yang juga bermanfaat dalam proses fotosintesis. Unsur kalium membantu dalam proses pembentukan karbohidrat sehingga karbohidrat yang terbentuk akan ditranslokasikan ke bagian batang.

Jumlah daun bibit kelapa sawit tidak berbeda nyata antara waktu dekomposisi 5 dengan 7 minggu, namun jumlah daun lebih tinggi pada waktu

dekomposisi 7 minggu yaitu 3,81 helai. Sama halnya dengan parameter diameter batang, bahwa hal ini juga dikarenakan kandungan unsur hara yang terdapat pada kompos tandan kosong kelapa sawit dengan waktu dekomposisi 7 minggu cukup tinggi berdasarkan standart SNI 19-7030-2004, khususnya hara N dan P. Kedua unsur hara tersebut berperan dalam pembentukan sel-sel baru dan komponen utama penyusun senyawa organik dalam tanaman yang mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman. Sesuai dengan literatur Lakitan (2005) bahwa ketersediaan unsur N dan P akan mempengaruhi daun dalam hal bentuk dan jumlah, dimana kandungan N yang terdapat dalam tanaman akan dimanfaatkan tanaman dalam pembesaran sel. Nitrogen dibutuhkan dalam jumlah relatif besar pada setiap pertumbuhan tanaman, khususnya pada tahap pertumbuhan vegetatif, seperti peningkatan jumlah daun (Novizan, 2005). Sedangkan unsur hara P berperan dalam pembelahan dan pembentukan organ tanaman. Pembelahan dan pembesaran sel-sel muda akan membentuk primordial daun (Hardjowigeno, 2007).

Hasil pengukuran panjang daun menunjukkan bahwa semakin lama waktu dekomposisi tandan kosong kelapa sawit bukan berarti menghasilkan pertumbuhan panjang daun yang lebih baik, dimana dekomposisi dengan waktu 5 minggu menghasilkan bibit yang memiliki panjang daun lebih baik dibandingkan dengan 7 minggu. Hal ini dikarenakan, disamping karena ketersediaan unsur hara, panjang daun juga dipengaruhi oleh sifat tanaman itu sendiri, dimana panjang daun dan komponen pertumbuhan lainnya akan bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Menurut Shintarika (2014), bahwa variabel dari pertumbuhan tanaman kelapa sawit akan saling mempengaruhi, jika tanaman

semakin tinggi maka akan meningkatkan pertumbuhan panjang dan diameter batang, panjang daun, panjang pelepah dan jumlah pelepah.

Bobot basah dan kering akar pada perlakuan waktu dekomposisi 7 minggu lebih tinggi dibandingkan dengan 5 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa pada perlakuan 7 minggu, tandan kosong kelapa sawit telah mengalami dekomposisi lebih lanjut yang ditandai dengan nisbah C/N yang lebih rendah dibandingkan dengan 5 minggu, selanjutnya unsur hara dapat diserap oleh akar yang akan digunakan dalam proses fotosintesis untuk pembentukan karbohidrat pada akhirnya berpengaruh terhadap bobot basah dan kering tanaman. Menurut Suhartono et al (2008), sel tanaman akan membesar seiring dengan menebalnya dinding sel dan terbentuknya selulosa pada tanaman. Pengaruh lainnya terkait dengan ketersediaan air bagi tanaman berupa transport hara dari tanah bagi tanaman. Hara yang berada dalam tanah diangkut melalui air yang terserap oleh tanaman melalui proses difusi-osmosis. Selain itu, Rahma (2014) menyatakan bahwa adanya peningkatan biomassa dikarenakan tanaman menyerap air dan hara lebih banyak, unsur hara memacu perkembangan organ pada tanaman seperti akar, sehingga tanaman dapat menyerap hara dan air lebih banyak selanjutnya aktifitas fotosintesis akan meningkat dan mempengaruhi peningkatan berat basah dan berat kering tanaman. Lebih lanjut, Fitriyah et al (2017), menyatakan bahwa proses fotosintesis yang berlangsung dengan baik, akan memacu penimbunan karbohidrat dan protein sebagai akumulasi hasil proses fotosintesis akan berpengaruh pada berat basah tanaman. Berat kering sebagai hasil representasi dari berat basah tanaman, merupakan kondisi tanaman yang menyatakan besarnya akumulasi bahan organik yang terkandung dalam tanaman tanpa kadar air.

Parameter kandungan klorofil pada daun bibit kelapa sawit lebih tinggi dihasilkan pada bibit yang diaplikasikan kompos tandan kosong kelapa sawit dengan waktu dekomposisi 5 minggu dibandingkan 7 minggu. Hal ini dikarenakan hasil analisis hara yang menunjukkan bahwa pada kompos dengan waktu dekomposisi 5 minggu menghasilkan hara yang lebih tinggi dan tersedia bagi tanaman seperti hara N dan Mg. Unsur hara tersebut mempunyai kontribusi positif pada proses pembentukan klorofil yang digunakan untuk proses fotosintesis, sehingga apabila proses fotosintesis berkurang maka akan dapat menghambat pertumbuhan, baik pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ai dan Banyo (2011), bahwa Nitrogen dan Magnesium berperan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis adalah proses menghasilkan karbohidrat yang membutuhkan klorofil sebagai tempat berlangsungnya, proses ini tidak akan terjadi bila Nitrogen dan Magnesium tidak tersedia untuk diserap oleh tanaman, jika kekurangan unsur tersebut maka akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Penggunaan bakteri simbion larva O. rhinoceros pada proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit, dimana perlakuan dekomposisi menggunakan B. siamensis dengan dosis 50 ml/kg tandan kosong kelapa sawit berperan meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, panjang akar. Sedangkan perlakuan B. stratosphericus dengan dosis 75 ml/kg tandan kosong kelapa sawit berperan

Penggunaan bakteri simbion larva O. rhinoceros pada proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit, dimana perlakuan dekomposisi menggunakan B. siamensis dengan dosis 50 ml/kg tandan kosong kelapa sawit berperan meningkatkan tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, panjang akar. Sedangkan perlakuan B. stratosphericus dengan dosis 75 ml/kg tandan kosong kelapa sawit berperan

Dokumen terkait