DAYA TUMBUH BIBIT KELAPA SAWIT DI PRE NURSERY DENGAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT YANG TERDEKOMPOSISI
BAKTERI SIMBION LARVA Oryctes rhinoceros Linn (COLEOPTERA:SCARABIDAE)
TESIS
OLEH:
KARTIGEN / 177001024 AGROTEKNOLOGI
PROGRAM STUDI MAGISTER AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
DAYA TUMBUH BIBIT KELAPA SAWIT DI PRE NURSERY DENGAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT YANG TERDEKOMPOSISI
BAKTERI SIMBION LARVA Oryctes rhinoceros Linn (COLEOPTERA:SCARABIDAE)
TESIS
OLEH:
KARTIGEN/ 177001024 AGROTEKNOLOGI
Tesis Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Magister di Program Studi Magister Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
PROGRAM STUDI MAGISTER AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
Telah diuji pada
Tanggal : 13 Agustus 2021
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Ir. Marheni, MP
Anggota : 1. Prof.Dr. Ir.Darma Bakti ,MS 2. Dr. Ir. Jonatan Ginting, MS
3. Dr. Mariani Br. Sembiring, SP, MP
ABSTRACT
Kartigen. 2021. "Growth of Oil Palm Seedlings in Pre nursery Using Oil Palm Empty Bunches Decomposed of Oryctes rhinoceros Linn Larva Symbiont (Coleoptera: Scarabidae) " supervised by Marheni and Darma Bakti. This study aims to determine the potential of the symbiont bacteria O. rhinoceros as decomposers of oil palm empty bunches and determine the growth rate of oil palm seedlings in the pre-nursery on planting media resulting from the decomposition of oil palm empty bunches. This research was conducted in the greenhouse of Plant Seedling and Plant Protection Center (BBPPTP), Medan and the propagation of horn beetle larva symbiont bacteria at the Disease Laboratory of the Faculty of Agriculture, University of North Sumatra, Medan in January-May 2021. The study used a factorial randomized block design (RBD), with 2 treatment and 3 replications. The first factor is the type of activator bacteria consisting of 7 levels, namely: without activator bacteria, Bacillus stratosphericus 50 ml/kg, Bacillus stratosphericus 75 ml/kg, Bacillus stratosphericus 100 ml/kg, Bacillus siamensis 50 ml/kg, Bacillus siamensis 75 ml/kg and Bacillus siamensis 100 ml/kg. The second factor is the decomposition time consisting of 2 levels, namely 5 and 7 weeks. The results showed that the use of larva symbionts of O. rhinoceros with different doses and time of decomposition in the decomposition process of oil palm empty bunches significantly increased the growth of oil palm seedlings in the pre-nursery. The type and dose of larva symbiont bacteria that gave the best effect on growth was B. siamensis 50 ml/kg oil palm empty bunches. The decomposition time that gave the best effect on growth was 5 weeks. The interaction of B. siamensis 50 ml/kg oil palm empty bunches with a decomposition time of 5 weeks resulted in the best growth of oil palm seedlings in the pre-nursery.
Keywords: oil palm empty bunches, symbiont bacteria, dosage, time of decomposition and type of bacteria.
ABSTRAK
Kartigen. 2021. “Daya Tumbuh Bibit Kelapa Sawit Di Pre nursery Dengan Tandan Kosong Kelapa Sawit Yang Terdekomposisi Bakteri Simbion Larva Oryctes Rhinoceros Linn (Coleoptera:Scarabidae)” dibimbing oleh Marheni dan Darma Bakti. Penelitian bertujuan untuk mengetahui potensi bakteri simbion O.
rhinoceros sebagai pendekomposer tandan kosong kelapa sawit dan mengetahui tingkat pertumbuhan bibit kelapa sawit di pre nursery pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan dan perbanyakan bakteri simbion larva kumbang tanduk di Laboratorium Penyakit Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan pada Januari- Mei 2021. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 Blok. Faktor pertama yaitu jenis bakteri aktivator terdiri dari 7 taraf, yaitu: tanpa bakteri aktivator, Bacillus stratosphericus 50 ml/kg, Bacillus stratosphericus 75 ml/kg, Bacillus stratosphericus 100 ml/kg, Bacillus siamensis 50 ml/kg, Bacillus siamensis 75 ml/kg dan Bacillus siamensis 100 ml/kg. Faktor kedua yaitu waktu dekomposisi terdiri dari 2 taraf yaitu 5 minggu dan 7 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bakteri simbion larva O. rhinoceros dengan perbedaan dosis dan waktu dekomposisi dalam proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit berpengaruh nyata meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit di pre nursery . Jenis dan dosis bakteri simbion larva yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan adalah B. siamensis 50 ml/kg tandan kosong kelapa sawit.
Waktu dekomposisi yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan adalah 5 minggu. Interaksi B. siamensis 50 ml/kg tandan kosong kelapa sawit dengan waktu dekomposisi 5 minggu menghasilkan pertumbuhan bibit kelapa sawit terbaik di pre nursery .
Kata kunci: tandan kosong kelapa sawit, bakteri simbion, dosis, waktu dekomposisi dan jenis bakteri.
RIWAYAT HIDUP
Kartigen, dilahirkan di Medan pada tanggal 10 Desember 1983 dari ayahanda Siwalinggam dan ibunda Manon. Penulis merupakan anak kelima dari lima bersaudara.
Pendidikan formal yang pernah ditempuh adalah SD Swasta Trisakti Medan lulus pada tahun 1995, SMP Swasta Teladan Sumatera Utara lulus tahun 1998 dan tahun 2003 penulis lulus dari SMK Swasta Pembina Medan. Pada tahun 2007, penulis melanjutkan pendidikan D-IV melalui Program beasiswa Badan SDM Pertanian Kementerian Pertanian pada program studi Penyuluhan Pertanian, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian jurusan Peyuluhan Perkebunan Medan.
Penulis menyelesaikan studi D-IV pada tahun 2011 dan pada tahun 2017 penulis melanjutkan studi S2 di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis telah mengikuti seminar International Conference on Forestry and Plantation Conference yang diselenggarakan oleh “10th Kuala Lumpur International Agriculture” tahun 2021 sebagai oral presenter.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis ini tepat pada waktunya.
Adapun judul dari tesis ini adalah “Daya Tumbuh Bibit Kelapa Sawit Di Pre nursery Dengan Tandan Kosong Kelapa Sawit Yang Terdekomposisi Bakteri Simbion Larva Oryctes rhinoceros Linn (Coleoptera:Scarabidae)” yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar magister Program Studi Agroteknologi Minat Hama dan Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua yang telah memberikan dukungan finansial dan spiritual. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada ibu Dr. Ir. Marheni, MP., selaku Ketua Komisi Pembimbing dan bapak Prof.Dr. Ir.Darma Bakti, MS., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah membantu dan membimbing dalam menyelesaikan tesis ini.
Terima kasih juga penulis sampaikan kepada semua teman-teman Magister Agroteknologi angkatan 2017 yang telah memberikan dukungan kepada penulis serta kepada seluruh staf pengajar, pegawai serta kerabat di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara yang telah berkontribusi dalam kelancaran studi dan penyelesaian tesis ini. Semoga tesis ini dapat bermanfaat.
Medan, Agustus 2021
Kartigen
DAFTAR ISI
ABSTRACT ……….………... i
ABSTRAK... ………... ii
RIWAYAT HIDUP…..………... iii
KATA PENGANTAR …..………... iv
DAFTAR ISI ……….….……….. v
DAFTAR TABEL……. ……….. vii
DAFTAR LAMPIRAN ……….. viii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 3
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 5
Manfaat Penelitian ... 5
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit ... 6
Syarat Tumbuh ... 8
Pembibitan Pre nursery ... 9
Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) ... 11
Peran Mikroorganisme dalam Dekomposisi ... 12
Bakteri Simbion ... 13
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 15
Bahan dan Alat Penelitian ... 15
Metode Penelitian... 16
Pelaksanaan Penelitian ... 17
Dekomposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 17
Persiapan Alat dan Bahan ... 17
Pembuatan Media ... 18
Pembiakan Bakteri ... 18
Penghitungan Kerapatan Bakteri ... 18
Aplikasi Bakteri pada TKKS ... 18
Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre nursery ... 19
Persiapan Tempat Pembibitan ... 19
Persiapan Media Pertumbuhan ... 19
Penyediaan Bahan Tanaman (Kecambah) ... 19
Penanaman Kecambah Kelapa Sawit ... 19
Pemeliharaan Tanaman ... 20
Penyiraman... 20
Penyiangan ... 20
Parameter Pengamatan ... 20
Umur Muncul Tunas (hari) ... 20
Tinggi Tanaman (cm) ... 20
Diameter Batang (hari) ... 20
Jumlah Daun (helai) ... 21
Panjang Daun (cm) ... 21
Panjang Akar (cm) ... 21
Bobot Basah Akar (g) ... 21
Bobot Kering Akar (cm) ... 21
Kandungan Klorofil Daun (μmol/m2)... 21
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil ... 23
Dekomposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 23
Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre nursery ... 24
Umur Muncul Tunas (hari) ... 24
Tinggi Tanaman (cm) ... 25
Diameter Batang (hari) ... 27
Jumlah Daun (helai) ... 29
Panjang Daun (cm) ... 31
Panjang Akar (cm) ... 33
Bobot Basah Akar (g) ... 34
Bobot Kering Akar (cm) ... 35
Kandungan Klorofil Daun (μmol/m2) ... 36
Pembahasan ... 37
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 45
Saran ... 45 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Karakteristik tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap jenis, dosis dan waktu dekomposisi ... 23 2. Ketersediaan N, P, K dan Mg pada tandan kosong kelapa sawit yang
terdekomposisi bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap jenis, dosis dan waktu dekomposisi ... 24 3. Umur muncul tunas kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis
dan waktu dekomposisi ... 25 4. Tinggi bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri dan waktu
dekomposisi pada setiap waktu pengamatan ... 26 5. Diameter batang bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis
dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan... 28 6. Jumlah daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan
waktu dekomposisi tandan kelapa sawit pada setiap waktu pengamatan .. 30 7. Panjang daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis
dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan... 32 8. Panjang akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis
dan waktu dekomposisi tandan kosong kelapa sawit ... 33 9. Bobot basah akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis
dan waktu dekomposisi tandan kosong kelapa sawit ... 34 10. Bobot kering akar bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri,
dosis dan waktu dekomposisi tandan kosong kelapa sawit ... 35 11. Kandungan klorofil daun bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis
Bakteri, dosis dan waktu dekomposisi tandan kosong kelapa sawit ... 36
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Sertifikat Kecambah Kelapa Sawit ... 50
2. Bagan Penelitian ... 51
3. Jadwal Penelitian ... 52
4. Hasil Analisis Tanah ... 53
5. Hasil Analisis Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit ... 54
6. Suhu dan Kelembaban ... 62
7. Data Pengamatan Umur Muncul Tunas ... 63
8. Sidik Ragam Umur Muncul Tunas ... 63
9. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 4 MST ... 64
10. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 4 MST ... 64
11. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 6 MST ... 65
12. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 6 MST ... 65
13. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 8 MST ... 66
14. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 8 MST ... 66
15. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 10 MST ... 67
16. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 10 MST ... 67
17. Data Pengamatan Tinggi Tanaman 12 MST ... 68
18. Sidik Ragam Tinggi Tanaman 12 MST ... 68
19. Data Pengamatan Diameter Batang 4 MST ... 69
20. Sidik Ragam Diameter Batang 4 MST ... 69
21. Data Pengamatan Diameter Batang 6 MST ... 70
22. Sidik Ragam Diameter Batang 6 MST ... 70
23. Data Pengamatan Diameter Batang 8 MST ... 71
24. Sidik Ragam Diameter Batang 8 MST ... 71
25. Data Pengamatan Diameter Batang 10 MST ... 72
26. Sidik Ragam Diameter Batang 10 MST ... 72
27. Data Pengamatan Diameter Batang 12 MST ... 73
28. Sidik Ragam Diameter Batang 12 MST ... 73
29. Data Pengamatan Jumlah Daun 4 MST ... 74
30. Sidik Ragam Jumlah Daun 4 MST ... 74
31. Data Pengamatan Jumlah Daun 6 MST ... 75
32. Sidik Ragam Jumlah Daun 6 MST ... 75
33. Data Pengamatan Jumlah Daun 8 MST ... 76
34. Sidik Ragam Jumlah Daun 8 MST ... 76
35. Data Pengamatan Jumlah Daun 10 MST ... 77
36. Sidik Ragam Jumlah Daun 10 MST ... 77
37. Data Pengamatan Jumlah Daun 12 MST ... 78
38. Sidik Ragam Jumlah Daun 12 MST ... 78
39. Data Pengamatan Panjang Daun 4 MST ... 79
40. Sidik Ragam Panjang Daun 4 MST ... 79
41. Data Pengamatan Panjang Daun 6 MST ... 80
42. Sidik Ragam Panjang Daun 6 MST ... 80
43. Data Pengamatan Panjang Daun 8 MST ... 81
44. Sidik Ragam Panjang Daun 8 MST ... 81
45. Data Pengamatan Panjang Daun 10 MST ... 82
46. Sidik Ragam Panjang Daun 10 MST ... 82
47. Data Pengamatan Panjang Daun 12 MST ... 83
48. Sidik Ragam Panjang Daun 12 MST ... 83
49. Data Pengamatan Panjang Akar ... 84
50. Sidik Ragam Panjang Akar ... 84
51. Data Pengamatan Bobot Basah Akar ... 85
52. Sidik Ragam Bobot Basah Akar ... 85
53. Data Pengamatan Bobot Kering Akar ... 86
54. Sidik Ragam Bobot Kering Akar ... 86
55. Data Pengamatan Kandungan Klorofil Daun ... 87
56. Sidik Ragam Kandungan Klorofil Daun ... 87
57. Foto Kegiatan Penelitian ... 88
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pembibitan merupakan bagian awal dari proses pembukaan perkebunan kelapa sawit yang dapat dilakukan melalui single stage dan double stage. Masalah utama yang menjadi kendala adalah terjadinya penipisan tanah lapisan atas (top soil) sebagai tempat menanam kecambah dan menumbuhkembangkan bibit kelapa sawit sebagai bahan tanam di lapangan. Pemilihan penggunaan top soil sebagai media tanam karena memiliki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah yang mendukung pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan.
Pembibitan kelapa sawit dikenal dengan istilah double stage atau sistem pembibitan dua tahap. Tahap tersebut adalah pembibitan awal (Pre nursery ) dan pembibitan utama (Main nursery). Pada tahap pembibitan pre nursery bibit dikecambahkan hingga berumur 3 bulan kemudian bibit dipindahkan ke fase main nursery pada umur 4 bulan (Sunarko, 2009). Kualitas bibit yang dihasilkan di pembibitan akan menentukan keberhasilan pada saat bibit dipindahkan ke lapangan. Maka dari itu dibutuhkan teknologi budidaya yang baik dan benar dalam melakukan pembibitan di pre nursery sehingga menghasilkan bibit yang unggul baik dari segi ekonomis dan agronomisnya.
Untuk mendapatkan bibit yang baik dan sehat, aplikasi dan dosis pemupukan harus dilakukan terutama pada saat pembibitan awal. Pemilihan pupuk yang tepat adalah salah satu langkah yang perlu diperhatikan, agar pembibitan yang dilakukan nantinya berhasil. Salah satu pupuk organik yang dapat diberikan pada tanaman adalah pupuk kompos yang berasal dari tandan kosong kelapa sawit (Pakpahan et al, 2015).
Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat dari hasil pengolahan kelapa sawit. Namun, limbah tersebut kaya akan unsur hara N, P, K, dan Mg. Dalam setiap ton tandan kosong kelapa sawit mengandung hara N 1.5%, P 0.5%, K 7.3%, dan Mg 0.9% yang dapat digunakan sebagai substitusi pupuk pada tanaman kelapa sawit Ketersediaan tandan kosong kelapa sawit di lapangan cukup besar dengan peningkatan jumlah dan kapasitas pabrik kelapa sawit untuk menyerap tandan buah segar yang dihasilkan (Anwar, 2009).
Proses pengomposan bahan tandan kosong kelapa sawit secara alami memerlukan waktu yang cukup lama yaitu sekitar 8 sampai 12 bulan secara alami.
Hal ini dipengaruhi oleh kandungan senyawa penyusunnya yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Senyawa lignin merupakan senyawa kompleks yang menyusun dinding sel tanaman yang sulit mengalami degradasi. Salah satu bahan organik yang mempunyai kadar lignin tinggi adalah TKKS. Hal ini menyebabakan TKKS ini sukar untuk terdekomposisi. Menurut Daryono dan Aikas (2017), untuk mempercepat pembuatan kompos dapat menggunakan bioaktivator, seperti mikroba lignoselulotik.
Mikroba lignoselulotik adalah mikroba yang memiliki peran penting dalam proses fermentasi komponen lignoselulosa. Perombakan komponen lignoselulosa melibatkan aktivitas enzim seperti peroksidase, fenol oksidase, seluase, hemiselulase dan gula oksidase. Berbagai kelompok mikroba dari jamur, bakteri, dan actinomycetes dapat memproduksi enzim ligninolitik (Munawarah et al, 2014).
Namun, sejauh ini mikroorganisme yang banyak dipelajari dalam mendegradasi lignin adalah dari golongan jamur. Penggunaan bakteri dalam
mendegradasi lignin pada TKKS belum banyak dilaporkan dimana peran bakteri ligninolitik aerob sangat penting jika dikaitkan dengan proses pengomposan secara aerob. Hasil penelitian Aini et al (2021), menggunakan bakteri consortium selulolitik dalam pengomposan TKKS menunjukkan bahwa penambahan bakteri selulolitik sebanyak 100 ml pada proses pengomposan TKKS dengan lama inkubasi 45 hari memberikan produk kompos terbaik yaitu dengan kandungan N- total 2,13, C-organik 35,45 dan rasio C/N 16,08.
Selain sumber pupuk organik, tandan kosong kelapa sawit merupakan media perkembangbiakan larva kumbang tanduk kelapa sawit pada stadia telur sampai pupa. Marheni (2012) menyebutkan bahwa kelangsungan hidup larva kumbang tanduk kelapa sawit pada tandan kosong kelapa sawit lebih cepat dibandingkan pada batang kelapa sawit.
Berdasarkan informasi diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai proses pengomposan tandan kosong kelapa sawit menggunakan bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn.
Rumusan Masalah
Dibutuhkan bahan pengganti media tanam alternatif yang memiliki kemampuan sama serta mudah didapat. Salah satu bahan organik tersebut dengan kandungan lignin yang tinggi adalah tandan kosong kelapa sawit berkisar 15%
hingga 18% dan sebagai sumber kalium yang dapat dikembalikan pada tanah.
Diperlukan dekomposer berupa bakteri aerobik dalam proses pengomposan TKKS dalam mengatasi dampak meningkatnya pemanasan global sebagai antisipasi efek rumah kaca. Percepatan proses pengomposan TKKS pada
produksi puncak tandan buah segar (TBS) dalam upaya menghindari peluang tempat perkembangbiakan larva kumbang tanduk kelapa sawit.
Untuk menghindari penggunaan top soil yang berlebihan pada media tanam di pembibitan kelapa sawit dibutuhkan media tanam alternatif. Penggunaan top soil memiliki dampaknya terhadap kesuburan tanah dimana pada pembibitan kelapa sawit diperkirakan memerlukan media tanam sebanyak 1,32 kg pada ukuran baby polybag diameter 10 cm dan tinggi 14 cm. Apabila dilakukan secara berkala mengakibatkan penipisan permukaan lapisan atas tanah sehingga mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap unsur hara.
Pemberian dosis pemupukan yang tepat dimulai dari pembibitan awal sampai pembibitan utama merupakan titik kritis pemeliharaan bibit kelapa sawit dimana tanah memiliki keterbatasan sumber hara karena ditanam di dalam polybag.
Penelitian tentang pengomposan TKKS dengan memanfaatkan bakteri simbion yang nantinya digunakan sebagai media tanam alternatif pada pembibitan kelapa sawit masih belum banyak dilakukan sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui formulasi terbaik dari variasi penambahan bakteri simbion O. rhinoceros Linn sebagai bioaktivator yang digunakan dalam dekomposisi tandan kosong kelapa sawit.
2. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan bibit kelapas sawit di pre nursery pada media tanam tandan kosong kelapa sawit terdekomposisi bakteri simbion larva O. Rhinoceros Linn.
Hipotesis Penelitian
1. Jenis dan dosis bakteri simbion larva berpengaruh nyata terhadap ketersediaan unsur hara pada media tumbuh dalam pembibitan kelapa sawit di pre nursery . 2. Waktu dekomposisi berpengaruh nyata terhadap ketersediaan unsur hara pada
media tumbuh dalam pembibitan kelapa sawit di pre nursery .
3. Interaksi jenis dan dosis bakteri simbion larva dengan waktu dekomposisi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pre nursery . Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi manfaat bakteri simbion usus larva kumbang tanduk dalam membantu proses percepatan dekomposisi tandan kosong kelapa sawit sehingg bermanfaat bagi industri perkebunan kelapa sawit.
2. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaaat mengenai jenis media tanam alternatif yang dapat digunakan sebagai pembibitan kelapa sawit di pre nursery .
3. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Strata Dua (S-2) pada Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit
Elaesis berasal dari kata Elaion berarti minyak dalam bahasa Yunani.
Guineensis berasal dari Guinea (pantai barat Afrika), Jacq berasal dari nama Botanist Amerika Jacquin. Taksonomi dari kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah: Divisi: Tracheophyta, Subdivisi: Pteropsida, Kelas: Angiospermae,
Subkelas: Monocotyledoneae, Ordo: Cocoideae, Famili: Palmae, Subfamili: Cocoideae, Genus: Elaeis, Spesies: Elaeis guineensis Jacq.
(Steenis, 2003).
Calon akar muncul dari biji kelapa sawit yang dikecambahkan disebut radikula, panjangnya dapat mencapai 15 cm dan mampu bertahan sampai 6 bulan.
Akar primer yang tumbuh dari pangkal batang (bole) ribuan jumlahnya, diameternya berkisar antara 8 dan 10 mm panjangnya dapat mencapai 18 cm.
Akar sekunder tumbuh dari akar primer, diameternya 2-4 mm. Dari akar sekunder
tumbuh akar tersier berdiameter 0.7-1.5 mm dan panjangnya dapat mencapai 15 cm (Lubis, 2008).
Daun pertama kelapa sawit yang tumbuh pada stadia bibit berbentuk lanset, kemudian tumbuh daun berbelah dua (bifurcate) dan menyusul bentuk daun menyirip (pinnate). Pada bibit yang berumur 5 bulan akan dijumpai 5 daun yang berbentuk lanset, 4 daun berbelah dua dan 10 daun berbentuk menyirip. daun kelapa sawit membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap dan bertulang daun sejajar. Panjang pelepah daun dapat mencapai 7.5 - 9 m jumlah anak daun perpelepah adalah 250 - 400 helai. Pertumbuhan pelepah daun mempunyai filotaksi 3/8, yang artinya setiap satu kali berputar melingkari batang terdapat 8
pelepah daun. Produksi daun per tahun tanaman dewasa dapat mencapai 20-24 helai (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).
Batang kelapa sawit tumbuh tegak ke atas dengan diameter batang antara 4060 cm. Pohon kelapa sawit hanya memiliki satu titik terminal ujung batang berbentuk kerucut diselimuti oleh daun-daun muda yang masih kecil dan lembut.
pertambahan tinggi batang baru terlihat secara jelas sesudah tanaman berumur empat tahun. Pertambahan tinggi tanaman kelapa sawit dapat mencapai 25-45 cm per tahun (Fauzi et al, 2008).
Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman monoceus, dimana bunga jantan dan bunga betina keduanya sama-sama terdapat dalam satu pohon, tetapi penyerbukannya mengikuti siklus terpisah. Munculnya bunga jantan dan bunga betina dalam satu pohon bergantian sehingga kemungkinan terjadinya penyerbukan sendiri sangat kecil. Bunga tersusun membentuk karangan bunga yang disebut tandan bunga. Tandan bunga keluar dari ketiak pelepah daun, biasanya pada setiap pelepah daun terdapat kuncup tandan (Lubis, 2008).
Buah kelapa sawit termasuk jenis buah keras (drupe), menempel dan bergerombol pada tandan buah. berbentuk lonjong sampai membulat. Panjang buah berkisar 2 - 5 cm dan beratnya sampai 30 gram. Bagian-bagian buah terdiri atas eksokarp (kulit buah), mesokarp (sabut), dan biji. Eksokarp dan mesokarp disebut perikarp sedangkan biji terdiri atas endokarp (cangkang) dan inti (kernel).
Inti (kernel) terdiri atas endosperm (putih lembaga) dan embrio. Dalam embrio terdapat bakal daun (plumula), haustorium, dan bakal akar (radicula). Bagian- bagian buah yang menghasilkan minyak adalah mesokarp dan inti. Buah kelapa sawit mencapai kematangan (siap untuk panen) sekitar 5 - 6 bulan setelah
terjadinya penyerbukan. Warna buah bergantung pada varietas dan umurnya (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).
Syarat Tumbuh Iklim
Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada rata-rata suhu minimum 22-24 oC dan maksimal 29-30oC. Kondisi ini banyak dijumpai pada daerah tropis, suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan batang, dimana batang menjadi kecil (Nurhidayati, 2010).
Kecepatan angin antara 5-6 km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan pada tanaman kelapa sawit. Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan pembentukan hasil tanaman. Pada tanaman kelapa sawit temperatur optimal berkisar antara 24°-28°C dengan lama penyinaran matahari 5-7 jam per hari. Suhu rata-rata tahunan daerah pertanaman kelapa sawit yang menghasilkan banyak tandan adalah pada rata-rata suhu 25°C dan 27°C (Kiswanto et al, 2008).
Kelapa sawit akan tumbuh optimal pada kelembaban udara 80-90%.
Kelembaban udara tidak berdiri sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh curah hujan, sinar matahari dan suhu. Oleh karena itu faktor iklim yang paling penting untuk dijadikan pertimbangan dalam budidaya kelapa sawit adalah curah hujan, radiasi matahari dan suhu sedangkan faktor iklim yang lain biasanya menyesuaikan (Hadi, 2004).
Tanah
Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4 - 6, dengan pH optimum 5 - 5,5. Pada pH yang lebih rendah dari 4 (masam) akan menyebabkan terhambatnya
penyerapan unsur hara oleh tanaman seperti kalium dan fosfat. Tanah dengan kemasaman yang tinggi (pH < 3.5) banyak mengandung asam sulfat yang tidak baik untuk pertumbuhan kelapa sawit (Nurhidayati, 2010).
Sifat tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal kelapa sawit adalah jenis tanah yang memiliki drainase baik dan bertekstur ringan (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).
Pembibitan Pre-Nursery
Pembibitan adalah suatu proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan biji atau benih menjadi bibit yang siap untuk ditanam. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan saat pelaksanaan transplanting (Syahfitri, 2007).
Tujuan pembibitan adalah mempersiapkan fisik bahan tanam agar mampu beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya secara maksimal. Hal tersebut dapat tercapai bila persyaratan yang telah ditentukan sudah dipenuhi (Sujadi dab Haryadi, 2012).
Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan pembudidayaan. Dalam berbudidaya kelapa sawit dikenal dua sistem pembibitan, yaitu pembibitan satu tahap dan pembibitan dua tahap, namun yang umum digunakan saat ini adalah pembibitan dua tahap. Pembibitan dua tahap (double stage) adalah pembibitan dilakukan pada polybag kecil atau tahap pembibitan awal (pre nursery ) terlebih dahulu hingga bibit berumur 3 bulan. Setelah bibit berumur 3 bulan kemudian bibit dipindah ke polybag besar atau tahap pembibitan utama (main nursery) hingga bibit siap ditanam (umur 12 bulan). Pembibitan satu
tahap (single stage) adalah benih berupa kecambah kelapa sawit langsung ditanam pada polybag besar dan dipelihara hingga siap tanam (Darmosarkoro et al, 2008).
Pembibitan awal merupakan tempat kecambah tanamanan kelapan sawit (Germinated seeds) ditanam dan dipelihara hingga berumur 3 bulan. Selanjutnya, bibit tersebut akan dipindahkan kepembibitan utama. Pembibitan pre nursery dilakukan sealam 2-3 bulan, sedangkan pembibitan main nursery selama 10-12 bulan (Darmosarkoro et al, 2008). Adapun ciri-ciri kecambah yang baik untuk memperoleh bibit yang baik adalah radikula (bakal akar) berwarna kekuning- kuningan dan plumula (bakal batang) keputih-putihan, radikula lebih tinggi dari plumula, radikula dan plumula tumbuh lurus serta berlawanan arah, panjang maksimum radikula adalah 5 cm dan plumula 3 cm.
Faktor bibit memegang peranan penting didalam menentukan keberhasilan penanaman kelapa sawit. Kesehatan tanaman pada masa pembibitan akan mempengaruhi pertumbuhan dan tingginya produksi. Oleh karena itu, teknis pelaksanaan pembibitan perlu mendapat perhatian besar (Rosa dan Zaman, 2017).
Ciri-ciri bibit yang baik pada pembibitan Pre-Nursery adalah jumlah daun 3 - 4, tinggi bibit 18 - 20 cm, diameter batang 1,1 - 1,3 cm. Anak daunnya berkembang normal tidak menyempit (narrow leaves) dan tidak bergulung ke arah longitudinal (rolled leaves), pertumbuhan bibit normal dan tidak kerdil (insuffisient growth) atau terputar (twisted shoot), permukaan anak daunnya berkembang sempurna tidak menguncup (collante) serta bibit tidak rusak akibat karena serangan hama dan penyakit (Sunarko, 2009).
Tandan Kosong Kelapa Sawit
Terdapat dua sumber pupuk organik yang tersedia pada perkebunan kelapa sawit yang mengoperasikan pabrik pengolahan, yaitu POME (palm oil mill effluent) dan TKKS. POME merupakan limbah cair yang dihasilkan pabrik yang mengandung bahan organik (termasuk lemak dan minyak), hara, padatan tersuspensi dan mikroorganisme. Untuk setiap produksi 1 ton minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menghasilkan 2.7 ton POME. TKKS merupakan limbah pabrik yang dihasilkan sebanyak 1 ton per ton produksi CPO atau sekitar 20% dari tandan buah segar yang diolah (Comte et al, 2013).
TKKS tersusun dari 45,9% Selulosa, 46,5% hemiselulosa, dan 22,8%
lignin. Kandungan penyusun tandan kosong kelapa sawit ini sukar untuk terdekomposisi (Darmosarkoro dan Winarna, 2007). Untuk itu diperlukan perlakuan khusus dalam pengomposannya seperti penambahan bioaktivator (Susilawati cit Ichwan, 2007). TKKS berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku kompos sehingga mengurangi 50% volume dan biaya pengangkutan TKKS. Kompos TKKS yang sudah matang mengandung N, P2O5 dan K2O masing-masing 2.26; 3.3 dan 2.25% dari bahan total (Singh et al, 2010).
Kompos TKKS adalah salah satu limbah padat yang dihasilkan dari pengolahan pabrik kelapa sawit. Kompos TKS merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara utama N, P, K dan Mg. Selain juga mampu memperbaiki sifat fisik tanah, kompos tandan kosong sawit diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dapat dikurangi (Suherman, 2007).
Pupuk kompos TKKS dapat mempertahankan lengas tanah dan mengurangi temperatur tanah. Pemberian TKKS dapat meningkatkan pH tanah, daya simpan lengas tanah (water holding capacity), meningkatkan kandungan C- organik sampai 2.753%, total N, posfor tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), basa-basa dapat ditukar dan menurunkan kandungan Al dapat ditukar serta meningkatkan produksi (Chiew dan Shimada, 2013).
Kurangnya hara pada tanah yang tidak subur menyebabkan kurangnya pasokan hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Aplikasi kompos secara signifikan meningkatkan diameter batang, tinggi tanaman, berat kering, serapan dan efisiensi N,P dan K, mengurangi pupuk kimia dasar sampai 90% pada tanaman jagung sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pupuk kimia.
(Palanivell et al, 2013).
Peran Mikroorganisme dalam Dekomposisi
Secara teknis, transformasi bahan organik tidak-stabil menjadi bahan organik stabil (kompos matang) ditandai oleh pembentukan panas dan produksi CO2. Selama proses pengomposan, komposisi populasi mikroba berubah dari tahap mesofilik (suhu 20-40oC) ke tahap termofilik (suhu bisa mencapai 80oC), dan terakhir tahap stabilisasi atau pendinginan. Mikroba mesofilik memulai dekomposisi substrat mudah hancur seperti protein, gula, dan pati yang selanjutnya digantikan oleh mikroba termofilik yang secara cepat merombak substrat organik. Pada tahap akhir stabilisasi, jumlah populasi mikroba meningkat.
Panas yang timbul selama fase termofilik mampu membunuh mikroba patogen (>55oC) dan benih gulma (>62oC) sehingga kompos matang sering dipakai sebagai media pembibitan tanam. Penggunaan kompos matang mampu
menstimulasi perkembangan mikroba dan menghindari bibit dari serangan pathogen tanah (Qudratullah dan Yanti, 2013).
Proses pembuatan kompos tergantung pada kerja mikroorganisme yang memerlukan sumber karbon untuk mendapatkan energi dan bahan bagi sel-sel baru, bersama dengan pasokan nitrogen untuk protein sel. Nitrogen merupakan unsur hara paling penting. Perbandingan karbon dan nitrogen (C/N) berkisar antara 25-35 : 1. Jika perbandingan jauh lebih tinggi, proses metabolisme membutuhkan waktu lama sebelum karbon dioksidasi menjadi karbon dioksida, sedangkan jika perbandingan lebih kecil, nitrogen merupakan komponen penting pada kompos akan dibebaskan sebagai ammonia (Slamet et al, 2016).
Bakteri Simbion
Hasil isolasi dan identifikasi bakteri simbion larva oryctes rhinoceros L.
dari batang sawit dan tankos melalui uji biokimia dan molekuler secara sequencing menunjukkan bahwa spesies Bacillus siamensis terdapat pada larva yang hidup di batang sawit yang telah membusuk. Sedangkan hasil sequencing spesies bakteri simbion larva yang hidup di tandan kosong sawit adalah Bacillus stratosphericus (Sijabat, 2018).
B. siamensis adalah bakteri yang berasal dari gram positif, facultatif anaerobic dan berbentuk batang bersifat motil. Koloni pada media berwarna putih krem. Tumbuh pada suhu 37oC dengan pH 6-7 (Sumpavapol et al, 2010).
Penelitian Chen et al (2016) B. siamensis merupakan bakteri biokontrol yang menghasilkan lipopeptida potensial mengurangi penggunaan pestisida dilahan pertanian untuk menghambat perkembangan jamur F.oxysporum.
B. stratosphericus dapat ditemukan pada ketinggian di stratosfer tidak terbatas pada atmosfer dan dapat ditemukan di berbagai lingkungan akibat siklus atmosfer dan mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan, memungkinkannya untuk berkoloni dan beradaptasi dengan lingkungan yang bervariasi (Shivaji et al., 2006). Menurut Odisi et al (2012) B. stratosphericus prospek untuk memproduksi enzim lipase dan selulase dan menurut Dunlap (2015), B. stratosphericus dapat menghasilkan enzim lipase yang kompatibel biodetergen dengan memanfaatkan ampas kelapa untuk dijadikan sebagai sebuah substrat yang memasok sumber karbon serta trigliserida.
Spesies bakteri B. siamensis dan B. stratosphericus dapat dijadikan sebagai starter untuk mempercepat kematangan kompos. Karena genus Bacillus dapat menghasilkan enzim lipase dan selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulum mikroba. Penggunaan starter bakteri dari genus Bacillus dapat
mempercepat kematangan pengomposan dari 30 hari menjadi 18 hari (Sijabat, 2018).
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di rumah kasa kantor Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan (3o36’04.7-98o37’37.2”E)
± 25 mdpl dan perbanyakan bakteri simbion larva kumbang tanduk di Laboratorium Penyakit Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan dengan ketinggian ± 25 mdpl mulai bulan Januari sampai dengan Mei 2021.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah bibit kelapa sawit D x P varietas Simalungan dari PPKS Medan yang berkecambah sebagai objek
percobaan, topsoil dengan jenis tanah inceptisol yang diperoleh dari perkebunan PTPN II Kebun Kuala Sawit Kabupaten Langkat Sumatera Utara sebagai media tanam, pasir sungai sebagai campuran media tanam, air sebagai media penyiraman, TKKS sebagai salah satu perlakuan, Nutrient Agar (NA) dengan komposisi Peptone, Nutrient Broth (NB) , bakteri simbion larva kumbang tanduk, label nama sebagai penanda polybag dan bahan-bahan lain yang mendukung percobaan ini.
Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cangkul untuk mencampurkan media tanam, polybag sebagai tempat media tanam, meteran untuk mengukur tinggi tanaman, pH meter, thermo hygrometer untk mengukur suhu dan kelembaban ruang, ayakan untuk mengayak tanah dan pasir, jangka sorong untuk mengukur diameter batang, cawan petri, beaker glass, jarum inokulasi, lampu bunsen, pipet tetes, tabung Erlenmeyer, Laminar Air Flow
Cabinet (LAFC), autoklaf, rotary shaker, gunting, handsprayer, thermometer, parang, kalkulato, timbangan analitik untuk menimbang sampel, dan alat tulis.
Metode Penelitian
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktorial dengan kombinasi perlakuan sebagai berikut:
Faktor pertama : Jenis bakteri aktivator B0 : Tanpa aktivator pengomposan
B1 : Aktivator Bacillus stratosphericus 50mg/kg tandan Kosong B2 : Aktivator Bacillus stratosphericus 75mg/kg tandan Kosong B3 : Aktivator Bacillus stratosphericus 100mg/kg tandan Kosong B4 : Aktivator Bacillus siamensis 50mg/kg tandan Kosong B5 : Aktivator Bacillus siamensis 75mg/kg tandan Kosong B6 : Aktivator Bacillus siamensis 100mg/kg tandan Kosong Faktor kedua : Waktu Dekomposisi
T1 : 5 minggu T2 : 7 minggu
Sehingga didapat kombinasi perlakuan sebagai berikut:
B0 T1
B1 T1 B2 T1
B3 T1
B4 T1 B5 T1
B6 T1
B0 T2
B1 T2 B2 T2
B3 T2
B4 T2 B5 T2
B6 T2
p
Kombinasi perlakuan : 14 Perlakuan
Jumlah Blok : 3 Blok Jumlah unit percobaan : 42 unit Luas plot percobaan : 3 m x 3 m
Model linier yang digunakan adalah sebagai berikut:
Yijk = µ + ρi + αj + βk + (αβ)ij + εijk
i = 1, 2, 3 (r) j = 1, 2, 3, 4 (t) k = 1, 2 (t) Dimana:
Yijk = nilai pengamatan pada blok ke-i akibat perlakuan faktor I taraf ke-j faktor II pada taraf ke-k dan faktor III pada taraf ke-l
µ = Nilai tengah umum ρi = pengaruh dari blok ke-i
αj = pengaruh faktor jenis taraf ke-j βk = pengaruh faktor dosis taraf ke-k
(αβ)ij = pengaruh interaksi dari faktor jenis taraf ke-j dan faktor dosus taraf ke-k εijk = Galat dari blok ke-i, faktor dosis taraf ke-j dari faktor varietas taraf ke-k
Jika hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (Steel and Torrie, 1995).
Pelaksanaan penelitian
Tahap I. Dekomposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit Persiapan Alat dan Bahan
Persiapan ini bertujuan untuk mempersiapkan semua alat dan bahan yang akan di pergunakan saat pengomposan TKKS dengan menggunakan bakteri simbion larva O. rhinoceros
Pembuatan Media
Media NA dibuat dengan komposisi peptone from meat 5 g, Meat extract 3 g, Agar-agar 12 g dicampur dengan 1 liter aquadest lalu dimasukkan dalam autoklaf pada suhu 121º C dengan tekanan 15 psi selama 20 menit lalu dituang kedalam cawan petri sesuai kebutuhan untuk menumbuhkan bakteri.
Media NB dibuat dengan komposisi Lab Lemco Powder 1 g, Yeast extract 2 g, Peptone 5 g, dan Sodium chloride 5 g dicampur dengan 1 liter aquadest lalu
dimasukkan dalam autoklaf pada suhu 121ºC dengan tekanan 15 psi selama 20 menit.
Pembiakan Bakteri
Pembiakan bakteri simbion larva O. rhinoceros dilakukan di laboratorium.
Bakteri ini diperoleh dari koleksi bakteri Bacillus stratosperichus dan Bacillus siamensis yang sebelumnya telah di peroleh dari sistem pencernaan larva O.
rhinoceros instar 3 dan kemudian di perbanyak dengan inokulasi bakteri yang tumbuh menggunakan jarum ose dan digoreskan pada media NA dengan metode goresan kemudian bakteri di simpan dalam inkubator kurang lebih 18-24 jam.
Kemudian bakteri di panen menggunakan medium NB 100 ml.
Penghitungan Kerapatan Bakteri
Bakteri yang telah di panen kemudian di hitung kerapatannya menggunakan Spektrofometri. Terlebih dahulu hasil panen di shaker selama 15 menit untuk menghomogenkan bakteri yang telah di panen. Dari hasil perhitungan kerapatan ini maka akan di peroleh jumlah media NB yang akan di tambahkan untuk mencapai kerapatan bakteri 108.
Aplikasi Bakteri pada TKKS
Bakteri yang telah dibiakkan dengan media NA dipanen dan ditumbuhkan ke media cair NB, di aplikasikan pada tandan kosong kelapa sawit yang telah di cacah menjadi lebih kecil. Tandan kosong kelapa sawit di aplikasikan pada media ember kemudian ditutup menggunakan plastik hitam. Dosis yang digunakan yaitu 50, 75 dan 100 ml biakan untuk masing- masing bakteri dalam pembuatan 1 kg tandan kosong kelapa sawit yang telah dicacah, kemudian seminggu sekali tandan kosong kelapa sawit tersebut dibalik dan diukur suhunya. Aplikasi jenis bakteri dan dosis terhadap tandan kosong kelapa sawit dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama diapliksikan pada perlakuan dekomposisi 7 minggu pada masing-masing jenis dan dosis bakteri, tahap selanjutnya aplikasi pada perlakuan dekomposisi 5 minggu pada masing-masing jenis dan dosis bakteri. Dekomposisi tahap kedua dilakukan saat dua minggu setelah perlakuan dekomposisi pertama, sehingga diperoleh waktu panen yang sama dari kedua perlakuan dekomposisi 5 dan 7 minggu. Hasil dari 14 kombinsi perlakuan dekomposisi selanjutnya dilakukan pengujian di laboratorium dan digunakan sebagai media tanam pembibitan di pre- nursery.
Tahap II. Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre-Nursery Persiapan Tempat Pembibitan
Tempat pembibitan yang digunakan untuk penelitian terlebih dahulu dibersihkan dari gulma dan sampah lainnya. Tempat pengujian disediakan alat Thermo Hygrometer untuk mengukur suhu dan kelembaban ruang selama penelitian.
Persiapan Media Pertumbuhan
Media tanam yang digunakan pada pembibitan kelapa sawit di pre nursery menggunakan top soil dan pasir yang dikering angin selama satu mingu kemudian diayak dan ditimbang. Media tanam kemudian dicampur dengan perlakuan pengomposan dengan perbandingan 1:1:1 (200 g topsoil : 200 g pasir : 200 g kompos tandan kosong kelapa sawit) dan dimasukan dalam baby polybag.
Penyediaan Bahan Tanaman (Kecambah)
Kecambah kelapa sawit yang digunakan adalah D x P varietas Simalungun berasal dari PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Medan dengan panjang plumula + 0,5 cm dan radikula + 2 cm,
Penanaman Kecambah Kelapa Sawit
Penanaman Kecambah kelapa sawit dilakukan dengan menanam kecambah kedalam polybag sedalam 2 cm. Jumlah kecambah yang ditanam per polibag sebanyak 1 kecambah pada media tanam pasir, top soil dan perlakuan pengomposan dengan perbandingan.
Pemeliharaan Tanaman Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap sore hari, menggunakan gelas ukur (150 ml) dengan volume air sebanyak 150 ml/polybag pada masing-masing perlakuan.
Penyiangan
Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan gulma untuk menghindari persaingan dalam mendapatkan unsur hara dalam tanah. Penyiangan dilakukan sesuai kondisi di tempat pengujian dengan mencabut gulma secara manual.
Parameter Pengamatan Umur Muncul Tunas (hari)
Perhitungan umur muncul tunas pertama benih kelapa sawit dilakukan saat pertama kali plumula atau calon batang bibit kelapa sawit muncul pada permukaan tanah.
Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi bibit kelapa sawit bibit dilakukan dari pangkal batang yang diberi penanda sampai ujung daun tertinggi . Pengukuran dilakukan setelah tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (MST) hingga tanaman berumur 12 MST dengan interval 2 minggu.
Diameter Batang (cm)
Pengukuran diameter batang bibit kelapa sawit bibit dilakukan menggunakan jangka sorong, diukur 1 cm diatas permukaan tanah. Pengukuran dilakukan setelah tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (MST) hingga tanaman berumur 12 MST dengan interval 2 minggu.
Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun bibit kelapa sawit yang dihitung adalah daun yang telah membuka dengan sempurna membentuk helaian daun. Penghitungan jumlah daun dilakukan setelah bibit berumur 4 MST hingga bibit berumur 12 MST dengan interval 2 minggu.
Panjang Daun (cm)
Pengukuran panjang daun kelapa sawit bibit dilakukan dari pangkal daun yang diberi penanda sampai ujung daun. Pengukuran dilakukan setelah tanaman
berumur 4 minggu setelah tanam (MST) hingga tanaman berumur 12 MST dengan interval 2 minggu.
Bobot Basah Akar (g)
Pengukuran bobot basah akar dilakukan pada akhir penelitian dengan cara menimbang sampel akar yang telah dipisahkan dari tajuk. Akar dipotong pada bagian pangkal menggunakan pisau tajam kemudian dicuci bersih dan dikeringkan, kemudian ditimbang akar menggunakan timbangan analitik.
Bobot Kering Akar (g)
Pengukuran bobot kering akar dilakukaan pada saat akhir penelitian dengan cara menimbang sampel akar yang telah di ovenkan pada suhu 72°C selama 24 jam (Mukhlis, 2007), kemudian ditimbang dengan timbangan analitik.
Kandungan Klorofil Daun
Analisisis kandungan klorofil dilakukan pada minggu ke 12 setelah tanam dengan menggunakan alat pengukur presentasi kehijauan daun (SPAD).
Pengukuran di lakukan dengan cara merata – ratakan kehijauan dari 3 bagian daun ke- 3 yang telah membuka sempurna.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Dekomposisi Tandan Kosong Kelapa Sawit
Dekomposisi tandan kosong kelapa sawit dengan perlakuan jenis dan dosis bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn serta waktu dekomposisi menghasilkan kualitas kompos yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada karakteristik kompos (Tabel 1) dan ketersediaan unsur hara pada kompos (Tabel 2).
Tabel 1. Karakteristik tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap Jenis, dosis, dan waktu dekomposisi
Perlakuan Kadar Air (%) pH C-Organik C/N ratio
B0T1 58,24 8,65 38,06 36,20
B1T1 78,08 8,76 28,97 12,99
B2T1 77,23 9,06 27,19 10,73
B3T1 78,82 9,21 28,62 11,03
B4T1 71,80 9,18 28,47 8,54
B5T1 76,13 9,10 28,56 8,94
B6T1 67,37 9,17 25,95 7,65
B0T2 62,23 8,54 34,03 18,66
B1T2 79,66 8,86 29,47 11,05
B2T2 77,97 9,02 29,68 14,11
B3T2 79,69 8,88 25,91 12,47
B4T2 79,44 8,92 29,21 10,23
B5T2 77,80 8,694 31,08 15,26
B6T2 76,46 7,01 29,66 8,88
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit menggunakan bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap dosis dan waktu dekomposisi menghasilkan kompos dengan karakteristik yang berbeda meliputi kadar air berkisar antara 58,24%-79,69%, pH berkisar antara 7,01-9,21, C-organik berkisar antara 25,95-38,06 dan rasio C/N berkisar antara 7,65-36,20.
Tabel 2. Ketersediaan N, P, K dan Mg pada tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap Jenis, dosis dan waktu dekomposisi
Perlakuan N (%) P (%) K (%) Mg (ppm)
B0T1 1,06 0,09 0,52 1,13
B1T1 2,23 0,23 1,57 1,53
B2T1 2,54 0,32 1,31 1,22
B3T1 2,59 0,13 1,35 1,64
B4T1 3,34 0,35 1,31 1,51
B5T1 3,20 0,18 1,09 1,43
B6T1 3,39 0,12 1,54 1,33
B0T2 1,82 0,12 0,67 1,21
B1T2 2,67 0,19 0,92 1,84
B2T2 2,10 0,23 0,92 1,38
B3T2 2,08 0,10 0,96 1,14
B4T2 2,86 0,14 0,71 1,61
B5T2 2,04 0,17 1,52 1,40
B6T2 3,34 0,17 0,76 1,45
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa proses dekomposisi tandan kosong kelapa sawit menggunakan bakteri simbion larva Oryctes rhinoceros Linn terhadap dosis dan waktu dekomposisi menghasilkan kompos dengan ketersediaan unsur hara yang berbeda meliputi hara N berkisar antara 1,06%-3,39%, hara P berkisar antara 0,09%-0,32%, hara K berkisar antara 0,52%-1,57% dan hara Mg berkisar antara 1,13 ppm-1,84 ppm.
Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit di Pre nursery Umur Muncul Tunas
Hasil pengamatan umur muncul tunas bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 7-8. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri berpengaruh nyata terhadap umur muncul tunas namun perbedaan waktu dekomposisi serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap umur muncul tunas.
Umur muncul tunas bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Umur muncul tunas kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi (MST)
Jenis Bakteri
Tankos Terdekomposisi
Rataan 5 minggu
(T1)
7 minggu (T2) MST
Tanpa bakteri (B0) 3.00 2.00 2.50 a
B. stratophericus 50 ml/kg (B1) 1.33 1.33 1.33 b B. stratophericus 75 ml/kg (B2) 1.67 1.33 1.50 b B. stratophericus 100 ml/kg (B3) 1.67 1.33 1.50 b
B. siamensis 50 ml/kg (B4) 1.00 1.67 1.33 b
B. siamensis 75 ml/kg (B5) 1.67 1.67 1.67 b
B. siamensis 100 ml/kg (B6) 1.67 1.00 1.33 b
Rataan 1.71 1.48
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa umur muncul tunas kelapa sawit paling cepat terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di aplikasi bakteri B. stratophericus dengan dosis 50 ml/kg, B.
siamensis dengan dosis 50 ml/kg dan 100 ml/kg yaitu 1,33 MST. Sedangkan umur muncul tunas paling lama terdapat pada perlakuan kontrol yaitu, 2,50 MST.
Tinggi Tanaman
Hasil pengamatan tinggi bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 9-18.
Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri dan interaksi antara jenis bakteri dengan waktu dekomposisi berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit pada setiap waktu pengamatan namun perbedaan waktu dekomposisi berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi bibit.
Tinggi bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Tinggi bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, dosis dan waktu dekomposisi pada setiap waktu pengamatan (MST)
MST Jenis Bakteri
Tankos Terdekomposisi
Rataan 5 minggu
(T1)
7 minggu (T2)
………….cm………
4
Tanpa bakteri (B0) 4.30 c 5.70 bc 5.00 c
B. stratophericus 50 ml/kg (B1) 8.70 a 7.17 ab 7.93 a B. stratophericus 75 ml/kg (B2) 6.53 ab 6.87ab 6.70 ab B. stratophericus 100 ml/kg (B3) 6.10 bc 6.93 ab 6.52 ab B. siamensis 50 ml/kg (B4) 8.70 a 5.63 bc 7.17 ab B. siamensis 75 ml/kg (B5) 5.97 bc 6.70 ab 6.33 bc B. siamensis 100 ml/kg (B6) 6.37 bc 7.27 ab 6.82 ab
Rataan 6.67 6.61
6
Tanpa bakteri (B0) 6.37 e 8.67d 7.52 c
B. stratophericus 50 ml/kg (B1) 12.97 ab 10.93 abcd 11.95 a B. stratophericus 75 ml/kg (B2) 9.80 cd 11.07 abcd 10.43 ab B. stratophericus 100 ml/kg (B3) 10.60 bcd 10.63 bcd 10.62 ab B. siamensis 50 ml/kg (B4) 13.30 a 8.80 cd 11.05 ab B. siamensis 75 ml/kg (B5) 9.40 cd 10.37 cd 9.88 b B. siamensis 100 ml/kg (B6) 11.00 abcd 11.30 abc 11.15 ab
Rataan 10.49 10.25
8
Tanpa bakteri (B0) 8.27 e 11.20 nd 9.73 b
B. stratophericus 50 ml/kg (B1) 16.33 ab 14.53 abcd 15.43 a B. stratophericus 75 ml/kg (B2) 13.80 bcd 15.10 abc 14.45 a B. stratophericus 100 ml/kg (B3) 14.57 abcd 14.07 bcd 14.32 a B. siamensis 50 ml/kg (B4) 17.73 a 12.30 cd 15.02 a B. siamensis 75 ml/kg (B5) 13.33 bcd 14.17 bcd 13.75 a B. siamensis 100 ml/kg (B6) 13.73 bcd 14.97 abc 14.35 a
Rataan 13.97 13.76
10
Tanpa bakteri (B0) 10.33 d 13.63 c 11.98 c
B. stratophericus 50 ml/kg (B1) 20.13 ab 17.80 b 18.97 ab B. stratophericus 75 ml/kg (B2) 19.17 ab 18.73 b 18.95 ab B. stratophericus 100 ml/kg (B3) 17.33 b 18.37 b 17.85 ab B. siamensis 50 ml/kg (B4) 22.17 a 18.10 b 20.13 a B. siamensis 75 ml/kg (B5) 18.07 b 17.30 b 17.68 b B. siamensis 100 ml/kg (B6) 18.53 b 19.90 ab 19.22 ab
Rataan 17.96 17.69
12
Tanpa bakteri (B0) 11.80 d 15.87 c 13.83 c
B. stratophericus 50 ml/kg (B1) 23.43 b 21.33 b 22.38 ab B. stratophericus 75 ml/kg (B2) 22.40 b 22.33 b 22.37 ab B. stratophericus 100 ml/kg (B3) 20.90 b 22.07 b 21.48 ab B. siamensis 50 ml/kg (B4) 26.93 a 20.60 b 23.77 a B. siamensis 75 ml/kg (B5) 21.70 b 19.67 b 20.68 b B. siamensis 100 ml/kg (B6) 21.77 b 23.10 b 22.43 ab
Rataan 21.28 20.71
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf berbeda pada kolom dan baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5%.
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa tinggi bibit kelapa sawit tertinggi terdapat pada media tanam hasil proses dekomposisi tandan kelapa sawit yang di dekompisi bakteri B. siamensis dosis 50 ml/kg yaitu 23,77 cm.
Sedangkan tinggi bibit terendah terdapat pada perlakuan tanpa bakteri (kontrol) yaitu 13,83 cm. Interaksi perlakuan yang menghasilkan tinggi bibit tertinggi adalah aplikasi bakteri B. siamensis 50 ml/kg dengan waktu dekomposisi 5 minggu (B4T1) yaitu 26,93 cm yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.
Diameter Batang
Hasil pengamatan diameter batang bibit kelapa sawit dengan perbedaan media tanam dari hasil tandan kosong kelapa sawit yang terdekomposisi oleh bakteri simbion larva O. rhinoceros dan sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 19-28. Berdasarkan sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan jenis bakteri berpengaruh nyata terhadap diameter batang pada setiap waktu pengamatan namun perbedaan waktu dekomposisi serta interaksi kedua perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap diameter batang.
Diameter batang bibit kelapa sawit dengan perlakuan jenis bakteri, waktu dekomposisi dan interaksinya disajikan pada Tabel 5.