• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Kelapa Sawit

Elaesis berasal dari kata Elaion berarti minyak dalam bahasa Yunani.

Guineensis berasal dari Guinea (pantai barat Afrika), Jacq berasal dari nama Botanist Amerika Jacquin. Taksonomi dari kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) adalah: Divisi: Tracheophyta, Subdivisi: Pteropsida, Kelas: Angiospermae,

Subkelas: Monocotyledoneae, Ordo: Cocoideae, Famili: Palmae, Subfamili: Cocoideae, Genus: Elaeis, Spesies: Elaeis guineensis Jacq.

(Steenis, 2003).

Calon akar muncul dari biji kelapa sawit yang dikecambahkan disebut radikula, panjangnya dapat mencapai 15 cm dan mampu bertahan sampai 6 bulan.

Akar primer yang tumbuh dari pangkal batang (bole) ribuan jumlahnya, diameternya berkisar antara 8 dan 10 mm panjangnya dapat mencapai 18 cm.

Akar sekunder tumbuh dari akar primer, diameternya 2-4 mm. Dari akar sekunder

tumbuh akar tersier berdiameter 0.7-1.5 mm dan panjangnya dapat mencapai 15 cm (Lubis, 2008).

Daun pertama kelapa sawit yang tumbuh pada stadia bibit berbentuk lanset, kemudian tumbuh daun berbelah dua (bifurcate) dan menyusul bentuk daun menyirip (pinnate). Pada bibit yang berumur 5 bulan akan dijumpai 5 daun yang berbentuk lanset, 4 daun berbelah dua dan 10 daun berbentuk menyirip. daun kelapa sawit membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap dan bertulang daun sejajar. Panjang pelepah daun dapat mencapai 7.5 - 9 m jumlah anak daun perpelepah adalah 250 - 400 helai. Pertumbuhan pelepah daun mempunyai filotaksi 3/8, yang artinya setiap satu kali berputar melingkari batang terdapat 8

pelepah daun. Produksi daun per tahun tanaman dewasa dapat mencapai 20-24 helai (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).

Batang kelapa sawit tumbuh tegak ke atas dengan diameter batang antara 4060 cm. Pohon kelapa sawit hanya memiliki satu titik terminal ujung batang berbentuk kerucut diselimuti oleh daun-daun muda yang masih kecil dan lembut.

pertambahan tinggi batang baru terlihat secara jelas sesudah tanaman berumur empat tahun. Pertambahan tinggi tanaman kelapa sawit dapat mencapai 25-45 cm per tahun (Fauzi et al, 2008).

Tanaman kelapa sawit termasuk tanaman monoceus, dimana bunga jantan dan bunga betina keduanya sama-sama terdapat dalam satu pohon, tetapi penyerbukannya mengikuti siklus terpisah. Munculnya bunga jantan dan bunga betina dalam satu pohon bergantian sehingga kemungkinan terjadinya penyerbukan sendiri sangat kecil. Bunga tersusun membentuk karangan bunga yang disebut tandan bunga. Tandan bunga keluar dari ketiak pelepah daun, biasanya pada setiap pelepah daun terdapat kuncup tandan (Lubis, 2008).

Buah kelapa sawit termasuk jenis buah keras (drupe), menempel dan bergerombol pada tandan buah. berbentuk lonjong sampai membulat. Panjang buah berkisar 2 - 5 cm dan beratnya sampai 30 gram. Bagian-bagian buah terdiri atas eksokarp (kulit buah), mesokarp (sabut), dan biji. Eksokarp dan mesokarp disebut perikarp sedangkan biji terdiri atas endokarp (cangkang) dan inti (kernel).

Inti (kernel) terdiri atas endosperm (putih lembaga) dan embrio. Dalam embrio terdapat bakal daun (plumula), haustorium, dan bakal akar (radicula). Bagian-bagian buah yang menghasilkan minyak adalah mesokarp dan inti. Buah kelapa sawit mencapai kematangan (siap untuk panen) sekitar 5 - 6 bulan setelah

terjadinya penyerbukan. Warna buah bergantung pada varietas dan umurnya (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).

Syarat Tumbuh Iklim

Tanaman kelapa sawit tumbuh baik pada rata-rata suhu minimum 22-24 oC dan maksimal 29-30oC. Kondisi ini banyak dijumpai pada daerah tropis, suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan batang, dimana batang menjadi kecil (Nurhidayati, 2010).

Kecepatan angin antara 5-6 km/jam sangat baik untuk membantu proses penyerbukan pada tanaman kelapa sawit. Suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan pembentukan hasil tanaman. Pada tanaman kelapa sawit temperatur optimal berkisar antara 24°-28°C dengan lama penyinaran matahari 5-7 jam per hari. Suhu rata-rata tahunan daerah pertanaman kelapa sawit yang menghasilkan banyak tandan adalah pada rata-rata suhu 25°C dan 27°C (Kiswanto et al, 2008).

Kelapa sawit akan tumbuh optimal pada kelembaban udara 80-90%.

Kelembaban udara tidak berdiri sendiri, tetapi sangat dipengaruhi oleh curah hujan, sinar matahari dan suhu. Oleh karena itu faktor iklim yang paling penting untuk dijadikan pertimbangan dalam budidaya kelapa sawit adalah curah hujan, radiasi matahari dan suhu sedangkan faktor iklim yang lain biasanya menyesuaikan (Hadi, 2004).

Tanah

Kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4 - 6, dengan pH optimum 5 - 5,5. Pada pH yang lebih rendah dari 4 (masam) akan menyebabkan terhambatnya

penyerapan unsur hara oleh tanaman seperti kalium dan fosfat. Tanah dengan kemasaman yang tinggi (pH < 3.5) banyak mengandung asam sulfat yang tidak baik untuk pertumbuhan kelapa sawit (Nurhidayati, 2010).

Sifat tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal kelapa sawit adalah jenis tanah yang memiliki drainase baik dan bertekstur ringan (Mangoensoekarjo dan Semangun, 2008).

Pembibitan Pre-Nursery

Pembibitan adalah suatu proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan biji atau benih menjadi bibit yang siap untuk ditanam. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan saat pelaksanaan transplanting (Syahfitri, 2007).

Tujuan pembibitan adalah mempersiapkan fisik bahan tanam agar mampu beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya secara maksimal. Hal tersebut dapat tercapai bila persyaratan yang telah ditentukan sudah dipenuhi (Sujadi dab Haryadi, 2012).

Pembibitan merupakan langkah awal dari seluruh rangkaian kegiatan pembudidayaan. Dalam berbudidaya kelapa sawit dikenal dua sistem pembibitan, yaitu pembibitan satu tahap dan pembibitan dua tahap, namun yang umum digunakan saat ini adalah pembibitan dua tahap. Pembibitan dua tahap (double stage) adalah pembibitan dilakukan pada polybag kecil atau tahap pembibitan awal (pre nursery ) terlebih dahulu hingga bibit berumur 3 bulan. Setelah bibit berumur 3 bulan kemudian bibit dipindah ke polybag besar atau tahap pembibitan utama (main nursery) hingga bibit siap ditanam (umur 12 bulan). Pembibitan satu

tahap (single stage) adalah benih berupa kecambah kelapa sawit langsung ditanam pada polybag besar dan dipelihara hingga siap tanam (Darmosarkoro et al, 2008).

Pembibitan awal merupakan tempat kecambah tanamanan kelapan sawit (Germinated seeds) ditanam dan dipelihara hingga berumur 3 bulan. Selanjutnya, bibit tersebut akan dipindahkan kepembibitan utama. Pembibitan pre nursery dilakukan sealam 2-3 bulan, sedangkan pembibitan main nursery selama 10-12 bulan (Darmosarkoro et al, 2008). Adapun ciri-ciri kecambah yang baik untuk memperoleh bibit yang baik adalah radikula (bakal akar) berwarna kekuning-kuningan dan plumula (bakal batang) keputih-putihan, radikula lebih tinggi dari plumula, radikula dan plumula tumbuh lurus serta berlawanan arah, panjang maksimum radikula adalah 5 cm dan plumula 3 cm.

Faktor bibit memegang peranan penting didalam menentukan keberhasilan penanaman kelapa sawit. Kesehatan tanaman pada masa pembibitan akan mempengaruhi pertumbuhan dan tingginya produksi. Oleh karena itu, teknis pelaksanaan pembibitan perlu mendapat perhatian besar (Rosa dan Zaman, 2017).

Ciri-ciri bibit yang baik pada pembibitan Pre-Nursery adalah jumlah daun 3 - 4, tinggi bibit 18 - 20 cm, diameter batang 1,1 - 1,3 cm. Anak daunnya berkembang normal tidak menyempit (narrow leaves) dan tidak bergulung ke arah longitudinal (rolled leaves), pertumbuhan bibit normal dan tidak kerdil (insuffisient growth) atau terputar (twisted shoot), permukaan anak daunnya berkembang sempurna tidak menguncup (collante) serta bibit tidak rusak akibat karena serangan hama dan penyakit (Sunarko, 2009).

Tandan Kosong Kelapa Sawit

Terdapat dua sumber pupuk organik yang tersedia pada perkebunan kelapa sawit yang mengoperasikan pabrik pengolahan, yaitu POME (palm oil mill effluent) dan TKKS. POME merupakan limbah cair yang dihasilkan pabrik yang mengandung bahan organik (termasuk lemak dan minyak), hara, padatan tersuspensi dan mikroorganisme. Untuk setiap produksi 1 ton minyak mentah kelapa sawit (crude palm oil/CPO) menghasilkan 2.7 ton POME. TKKS merupakan limbah pabrik yang dihasilkan sebanyak 1 ton per ton produksi CPO atau sekitar 20% dari tandan buah segar yang diolah (Comte et al, 2013).

TKKS tersusun dari 45,9% Selulosa, 46,5% hemiselulosa, dan 22,8%

lignin. Kandungan penyusun tandan kosong kelapa sawit ini sukar untuk terdekomposisi (Darmosarkoro dan Winarna, 2007). Untuk itu diperlukan perlakuan khusus dalam pengomposannya seperti penambahan bioaktivator (Susilawati cit Ichwan, 2007). TKKS berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku kompos sehingga mengurangi 50% volume dan biaya pengangkutan TKKS. Kompos TKKS yang sudah matang mengandung N, P2O5 dan K2O masing-masing 2.26; 3.3 dan 2.25% dari bahan total (Singh et al, 2010).

Kompos TKKS adalah salah satu limbah padat yang dihasilkan dari pengolahan pabrik kelapa sawit. Kompos TKS merupakan bahan organik yang mengandung unsur hara utama N, P, K dan Mg. Selain juga mampu memperbaiki sifat fisik tanah, kompos tandan kosong sawit diperkirakan mampu meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga pupuk yang digunakan untuk pembibitan kelapa sawit dapat dikurangi (Suherman, 2007).

Pupuk kompos TKKS dapat mempertahankan lengas tanah dan mengurangi temperatur tanah. Pemberian TKKS dapat meningkatkan pH tanah, daya simpan lengas tanah (water holding capacity), meningkatkan kandungan C-organik sampai 2.753%, total N, posfor tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), basa-basa dapat ditukar dan menurunkan kandungan Al dapat ditukar serta meningkatkan produksi (Chiew dan Shimada, 2013).

Kurangnya hara pada tanah yang tidak subur menyebabkan kurangnya pasokan hara untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Aplikasi kompos secara signifikan meningkatkan diameter batang, tinggi tanaman, berat kering, serapan dan efisiensi N,P dan K, mengurangi pupuk kimia dasar sampai 90% pada tanaman jagung sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pupuk kimia.

(Palanivell et al, 2013).

Peran Mikroorganisme dalam Dekomposisi

Secara teknis, transformasi bahan organik tidak-stabil menjadi bahan organik stabil (kompos matang) ditandai oleh pembentukan panas dan produksi CO2. Selama proses pengomposan, komposisi populasi mikroba berubah dari tahap mesofilik (suhu 20-40oC) ke tahap termofilik (suhu bisa mencapai 80oC), dan terakhir tahap stabilisasi atau pendinginan. Mikroba mesofilik memulai dekomposisi substrat mudah hancur seperti protein, gula, dan pati yang selanjutnya digantikan oleh mikroba termofilik yang secara cepat merombak substrat organik. Pada tahap akhir stabilisasi, jumlah populasi mikroba meningkat.

Panas yang timbul selama fase termofilik mampu membunuh mikroba patogen (>55oC) dan benih gulma (>62oC) sehingga kompos matang sering dipakai sebagai media pembibitan tanam. Penggunaan kompos matang mampu

menstimulasi perkembangan mikroba dan menghindari bibit dari serangan pathogen tanah (Qudratullah dan Yanti, 2013).

Proses pembuatan kompos tergantung pada kerja mikroorganisme yang memerlukan sumber karbon untuk mendapatkan energi dan bahan bagi sel-sel baru, bersama dengan pasokan nitrogen untuk protein sel. Nitrogen merupakan unsur hara paling penting. Perbandingan karbon dan nitrogen (C/N) berkisar antara 25-35 : 1. Jika perbandingan jauh lebih tinggi, proses metabolisme membutuhkan waktu lama sebelum karbon dioksidasi menjadi karbon dioksida, sedangkan jika perbandingan lebih kecil, nitrogen merupakan komponen penting pada kompos akan dibebaskan sebagai ammonia (Slamet et al, 2016).

Bakteri Simbion

Hasil isolasi dan identifikasi bakteri simbion larva oryctes rhinoceros L.

dari batang sawit dan tankos melalui uji biokimia dan molekuler secara sequencing menunjukkan bahwa spesies Bacillus siamensis terdapat pada larva yang hidup di batang sawit yang telah membusuk. Sedangkan hasil sequencing spesies bakteri simbion larva yang hidup di tandan kosong sawit adalah Bacillus stratosphericus (Sijabat, 2018).

B. siamensis adalah bakteri yang berasal dari gram positif, facultatif anaerobic dan berbentuk batang bersifat motil. Koloni pada media berwarna putih krem. Tumbuh pada suhu 37oC dengan pH 6-7 (Sumpavapol et al, 2010).

Penelitian Chen et al (2016) B. siamensis merupakan bakteri biokontrol yang menghasilkan lipopeptida potensial mengurangi penggunaan pestisida dilahan pertanian untuk menghambat perkembangan jamur F.oxysporum.

B. stratosphericus dapat ditemukan pada ketinggian di stratosfer tidak terbatas pada atmosfer dan dapat ditemukan di berbagai lingkungan akibat siklus atmosfer dan mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menguntungkan, memungkinkannya untuk berkoloni dan beradaptasi dengan lingkungan yang bervariasi (Shivaji et al., 2006). Menurut Odisi et al (2012) B. stratosphericus prospek untuk memproduksi enzim lipase dan selulase dan menurut Dunlap (2015), B. stratosphericus dapat menghasilkan enzim lipase yang kompatibel biodetergen dengan memanfaatkan ampas kelapa untuk dijadikan sebagai sebuah substrat yang memasok sumber karbon serta trigliserida.

Spesies bakteri B. siamensis dan B. stratosphericus dapat dijadikan sebagai starter untuk mempercepat kematangan kompos. Karena genus Bacillus dapat menghasilkan enzim lipase dan selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai inokulum mikroba. Penggunaan starter bakteri dari genus Bacillus dapat

mempercepat kematangan pengomposan dari 30 hari menjadi 18 hari (Sijabat, 2018).

BAHAN DAN METODE

Dokumen terkait