Daya cerna suatu ransum penting untuk diketahui karena dapat berguna dalam menentukan kualitas ransum. Daya cerna yang tinggi menunjukkan kualitas ransum yang baik, sehingga pengukuran daya cerna menjadi salah satu pertimbangan dalam mengetahui kualitas ransum yang diberikan kepada ternak.
Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik
Nilai kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas pakan tersebut. Nilai konsumsi bahan kering, bahan kering feses, dan kecernaan bahan kering pada kelinci lokal jantan dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 9.
Tabel 9. Nilai Konsumsi Bahan Kering, Bahan Kering Feses dan Koefisien Cerna Bahan Kering Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi BK (g/e/h) 87,16±16,39 83,32±13,31 88,88±7,79 90,69±3,06 BK Feses (g/e/h) 27,56±3,86ab 25,391±3,00a 29,93±2,85ab 33,50±4,90b KCBK (%) 68,07±3,88 69,34±2,03 66,34±0,62 63,11±4,92
Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering. Substitusi daun rumput gajah dengan kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar menunjukkan nilai konsumsi yang sama. Semakin banyak persentase kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar dalam ransum dimungkinkan menunjukkan peningkatan palatabilitas ransum, hal ini sesuai dengan pernyataan Aregheore (2005) bahwa limbah tanaman ubi jalar sebagai sumber hijauan, mampu meningkatkan asupan pakan dan bobot badan, selain itu limbah ubi jalar dikaitkan dengan produktivitas, palatabilitas dan protein kasar serta kadar air yang tinggi.
18 Perlakuan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bahan kering pada feses berdasarkan hasil sidik ragam. Perlakuan dengan pemberian 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung dan 3% limbah tanaman ubi jalar (R1) menunjukkan bahan kering pada feses yang paling sedikit dan jumlah bahan kering yang dicerna paling tinggi. Perlakuan dengan pemberian 18% daun rumput gajah (R0), dan 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung dan 6% limbah tanaman ubi jalar (R2) menunjukkan nilai yang sama. Semakin tinggi konsumsi bahan kering, maka semakin tinggi bahan kering feses yang dikeluarkan karena jumlah zat makanan yang tidak dicerna atau yang terkandung dalam feses dipengaruhi oleh jumlah zat makanan yang dikonsumsi. Bahan kering feses juga dapat dipengaruhi oleh jumlah air minum yang dikonsumsi. Mengonsumsi pakan yang mengandung bahan kering tinggi dapat meningkatkan rasa haus sehingga ternak akan mengonsumsi air minum yang lebih banyak.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap nilai koefisien cerna bahan kering, hal ini menunjukkan bahwa koefisien cerna bahan kering ransum pada R0 sama besarnya dengan koefisien cerna R1, R2, dan R3. Hasil ini menunjukkan daun rumput gajah dapat disubstitusi dengan kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar sebagai sumber serat bagi kelinci. Daun rumput gajah, kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar memiliki kualitas hijauan yang sama sebagai sumber serat. Nilai kecernaan pada kelobot jagung (secara in vitro) dan limbah tanaman ubi jalar masing-masing sebesar 68% (Tangendjaja dan Wina, 2008) dan sebesar 62% (Aregheore, 2005). Nilai kecernaan bahan kering kelinci yang diberi ransum berbentuk pellet yaitu sebesar 47% (Chekee, 1987). Tabel 10 menunjukkan konsumsi bahan organik, bahan organik feses dan koefisien cerna bahan organik.
19 Tabel 10.Nilai Konsumsi Bahan Organik, Bahan Organik Feses dan Koefisien Cerna
Bahan Organik Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi BO (g/e/h) 78,53±14,77 76,41±12,20 80,80±7,08 82,97±2,80 BO Feses (g/e/h) 23,73±3,47ab 22,14±2,63a 25,65±2,56ab 29,10±4,41b KCBO (%) 69,49±2,65 70,84±1,86 68,28±0,98 64,97±4,91
Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap konsumsi bahan organik. Konsumsi bahan organik (g/e/hari) menunjukkan peningkatan seiring dengan peningkatan konsumsi bahan kering. Perlakuan menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bahan organik pada feses berdasarkan hasil sidik ragam. Bahan organik pada feses pada perlakuan 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar menunjukkan nilai paling rendah dan jumlah bahan organik yang dicerna paling tinggi dibandingkan perlakuan lain karena nilai bahan organik feses lebih dipengaruhi oleh nilai bahan kering feses karena nilai bahan organik merupakan hasil pengurangan bahan kering dengan abu yang terkandung dalam ransum.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai koefisien cerna bahan organik. Koefisien cerna R0 sama dengan R1, R2 dan R3, hal ini seiring dengan nilai koefisien cerna bahan kering yang menunjukkan nilai koefiesien cerna yang sama. Menurut Sutardi (1980), nilai kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas pakan tersebut. Hasil ini menunjukkan daun rumput gajah, kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar memiliki kualitas pakan sumber hijauan yang sama, hal ini menunjukkan bahwa kecernaan bahan organik ransum lebih dipengaruhi oleh jumlah zat makanan yang dicerna dibandingkan jumlah yang terdapat dalam feses.
20 Kecernaan Protein Kasar
Nilai konsumsi protein kasar, protein kasar feses, dan kecernaan protein kasar pada penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 11.
Tabel 11. Nilai Konsumsi Protein Kasar, Protein Kasar Feses dan Koefisien Cerna Protein Kasar Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi PK (g/e/h) 17,91±3,37 17,55±2,80 18,75±1,64 19,01±0,64 PK Feses (g/e/hari) 4,43±0,84bc 3,21±0,48a 3,64±0,30ab 4,58±0,51bc KCPK (%) 74,98±4,41b 81,57±2,71a 80,57±0,85a 75,89±0,89b Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung,
dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).
Konsumsi protein kasar (g/e/hari) pada penelitian ini berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan pengaruh tidak nyata (P>0,05). Konsumsi protein akan meningkat dengan peningkatan konsumsi bahan kering dan bahan organik. Jumlah protein kasar pada feses berdasarkan hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh nyata (P<0,05). Perlakuan R1 yaitu 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar menunjukkan jumlah protein kasar pada feses paling rendah dibandingkan perlakuan lain, dan menunjukkan jumlah protein kasar yang dicerna paling tinggi karena komponen dinding sel dari kombinasi hijauan pada R1 lebih mudah dicerna dibandingkan perlakuan lain.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap koefisien cerna protein kasar. Perlakuan dengan 18% daun rumput gajah (R0) dan masing-masing 9% kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar (R3) memiliki koefisien cerna yang lebih kecil dibandingkan ransum dengan 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar (R1) dan masing-masing 6% daun rumput gajah, kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar (R2). Ransum dengan substitusi kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar masing-masing 3% dan 6% menunjukkan koefisien cerna yang lebih tinggi, diduga kombinasi dari ketiga hijauan menyebabkan protein dari hijauan tesebut lebih mudah
21 dicerna dibandingkan R0 dan R3. Hasil ini tidak seiring dengan nilai pertambahan bobot badan harian yang diperoleh Lestari (2012) bahwa pertambahan bobot badan harian terbesar ditunjukkan pada perlakuan R2 dan terendah pada perlakuan R1 yaitu masing-masing sebesar 13,79%-18,55% dan 18,73%-21,69%.
Kecernaan Serat Kasar
Nilai konsumsi serat kasar, serat kasar feses, dan kecernaan serat kasar pada penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 12.
Tabel 12. Nilai Konsumsi Serat Kasar, Serat Kasar Feses dan Koefisien Cerna Serat Kasar Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi SK (g/e/h) 13,48±2,53 12,79±2,04 13,13±1,15 13,77±0,46 SK Feses (g/e/h) 10,31±1,04 9,26±1,25 9,44±1,47 10,33±1,43 KCSK (%) 25,59±7,47 27,21±5,37 28,10±8,41 27,92±8,52
Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi serat kasar. Konsumsi serat kasar yang sama menunjukkan bahwa serat memiliki hubungan positif dengan tingkat konsumsi, kenaikan tingkat serat akan menurunkan tingkat kecernaan, ternak akan mengonsumsi lebih banyak pakan agar dapat memenuhi kebutuhan energi (Parakkasi, 1995). Hasil sidik ragam menunjukkan perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap koefisien cerna serat kasar, diduga serat yang terdapat dalam hijauan memiliki kualitas yang sama. Rendahnya nilai koefisien cerna pada kelinci sesuai dengan pernyataan De Blas dan Wiseman (1998) bahwa kelinci tidak mencerna serat secara efisien. Pada penelitian ini koefisien cerna serat yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan nilai koefisien cerna serat pada kelinci menurut De Blas dan Wiseman (1998) yaitu sebesar 14%.
22 Kecernaan NDF
Tabel 13 menunjukkan konsumsi NDF, NDF feses dan koefisien cerna NDF. Tabel 13. NilaiKonsumsi NDF, NDF Feses dan Koefisien Cerna NDF
Peubah Perlakuan
R0 R1 R2 R3
Konsumsi NDF (g/e/h) 63,03±11,85b 47,57±7,60a 41,23±3,61a 68,47±2,31b NDF Feses (g/e/h) 25,20±6,40 19,37±3,37 22,78±2,51 24,30±6,92
KCNDF (%) 58,67±13,01 58,63±8,29 44,71±5,13 64,67±11,46
Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).
Tabel 13 menunjukkan bahwa konsumsi NDF dipengaruhi oleh kandungan NDF dalam pakan (Tabel 8). Kandungan NDF pakan pada R0, R1, R2 dan R3 masing-masing adalah 72,32%, 57,09%, 46,39% dan 75,50%, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan NDF pakan, semakin tinggi pula konsumsi NDF. Kandungan NDF pakan pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan pernyataan Gidenne (2003) yang mendapatkan bahwa kandungan NDF pakan berupa ransum komplit untuk kelinci untuk masa pertumbuhan berkisar antara 27%-42%. Berdasarkan hasil sidik ragam NDF feses, perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0.05) terhadap kandungan NDF feses. NDF feses menunjukkan nilai yang sama, diduga bahwa nilai NDF feses tidak mempengaruhi oleh jumlah konsumsi NDF.
Hasil sidik ragam juga menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap koefisien cerna NDF. Koefisien cerna NDF antar perlakuan menunjukkan nilai yang sama, karena kelobot jagung memiliki sifat lebih bulky dibandingkan daun rumput gajah dan limbah tanaman ubi jalar. Hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan pernyatan Dong dan Giang (2008) dengan level pemberian NDF sebanyak 41% (bahan kering) menunjukkan kecernaan NDF tertinggi dibandingkan pada taraf 37%, 45%, 49%, 53% dan 57%, akan tetapi kecernaan bahan tertinggi ditunjukkan pada persentase NDF sebanyak 37% dengan pemberian rumput Brachiaria mutica secara adlibitum dan limbah tanaman ubi jalar
23 dengan persentase pemberian masing-masing 100%, 80%, 60%, 40%, 20% dan 0% serta konsentrat sebanyak 20 gram per hari.
Kecernaan ADF
Tabel 14 menunjukkan konsumsi ADF, ADF feses dan koefisien cerna ADF. Tabel 14. Nilai Konsumsi ADF, ADF Feses dan Koefisien Cerna ADF
Peubah Perlakuan
R0 R1 R2 R3
Konsumsi ADF (g/e/h) 58,67±11,03c 28,77±4,59b 15,86±1,39a 19,60±0,66bc ADF Feses (g/e/h) 12,95±1,56ab 11,57±1,39a 12,25±1,03a 15,35±2,6b KCADF (%) 77,70±2,34a 59,56±0,91b 22,70±0,79c 21,85±14,95c Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung,
dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap konsumsi ADF, hal ini diduga dipengaruhi oleh kandungan ADF ransum (Tabel 8) yaitu dengan kandungan ADF pakan berturut-turut adalah 67,27%, 34,53%, 17,85% dan 21,62%. Hasil ini juga diduga bahwa semakin tinggi ADF pakan, semakin tinggi pula konsumsi ADF. Berdasarkan hasil sidik ragam ADF feses, perlakuan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap kandungan ADF feses. Perlakuan dengan pemberian 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar (R1) dan 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar (R2) memiliki kandungan ADF feses paling rendah dibandingkan perlakuan lain dan menunjukkan semakin rendah konsumsi ADF maka semakin rendah pula kandungan ADF feses, serta semakin rendah pula kecernaan ADF pakan. Konsumsi yang tinggi menunjukkan laju pengosongan saluran pencernaan yang lebih cepat sehingga pakan yang dibutuhkan lebih banyak.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap koefisien cerna ADF. Diduga semakin tinggi penggunaan kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar dalam ransum, semakin rendah kecernaan ADF pakan, hal ini dipengaruhi oleh kondisi fisik hijauan. Kelobot jagung memiliki sifat lebih bulky dibandingkan daun rumput gajah dan limbah tanaman ubi
24 jalar sehingga semakin tinggi persentase penggunaan kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar dalam ransum, maka jumlah yang dikonsumsi semakin rendah karena bahan yang bulky akan lebih cepat mengisi saluran pencernaan.