• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelinci (Oryctolagus cuniculus) diklasifikasikan dalam kingdom Animalia, filum Chordata, kelas Mammalia, ordo Lagomorpha, famili Leporidae, genus Oryctolagus dan spesies cuniculus. Kelinci lokal, Orytolagus cuniculus, terdiri dari beberapa subspesies yang awalnya berasal dari Barat Daya Eropa dan Afrika Utara (De Blas dan Wiseman, 1998).

Menurut Farrel dan Raharjo (1984), di Indonesia terdapat bangsa kelinci lokal yang lebih kecil dari kelinci impor. De Blas dan Wiseman (1998) menyatakan bahwa kelinci relatif lebih mudah untuk dipelihara, dikelola pada tempat yang lebih kecil dan mampu memenuhi kebutuhan daging bagi manusia.

McNitt et al. (2000), menyatakan bahwa kelinci cukup rentan terhadap penyakit pada usus yaitu enteritis dan diare. Kelinci sangat sensitif terhadap faktor palatabilitas. Persyaratan nutrisi kelinci dipengaruhi oleh fisiologi saluran pencernaan kelinci. Kelinci memfermentasikan mikroba dalam sekum dan mengonsumsi isi sekum yang disebut Cecothrophy. Cecotrophy biasanya terjadi satu atau dua per periode 24 jam, umumnya pada malam hari yang nantinya akan dimakan kembali. Konsumsi feses lunak menghasilkan sumber protein dan vitamin B yang tersedia bagi mikroba. Tabel 1 menunjukkan persentase zat makanan dalam ransum komplit untuk kelinci dalam masa pertumbuhan. Gambar 1 menunjukkan saluran pencernaan kelinci. Kebutuhan ternak kelinci berdasarkan status fisiologis ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 1. Persentase Zat Makanan dalam Ransum Komplit yang Digunakan untuk Kelinci dalam Masa Pertumbuhan

Analisa % Bahan Kering

Serat kasar 14-18

Acid Detergent Fiber 16-21

Neutral Detergent Fiber 27-42

WICW (water insoluble cell-wall) / (dinding sel yang tidak larut air: lignin, selulosa, hemiselulosa dan pectin)

28-47

Pati 10-20

Protein kasar 13-18

4 Gambar 1. Saluran Pencernaan Kelinci (Cheeke dan Dierenfeld, 2010)

Tabel 2. Kebutuhan Zat Makanan Kelinci

Zat Makanan Pertumbuhana Penggemukanb

Energi tercerna (kcal) 2500 2786,6

TDN (%) 65 -

Energi metabolis (kkal) - 2652,8

Serat kasar (%) 10-12 15,0 – 16,7 Lemak (%) 2 - Protein Kasar (%) 16 16,1 - 18,0 NDF (%) - 35.6 - 38,9 ADF (%) - 17,8 - 20,5 ADL (%) - 6,1 Ca (%) 0,4 0,54 P (%) 0,22 0,36 Sumber: a: NRC (1977), b: Cheeke (2005)

5 Daun Rumput Gajah

Rumput gajah (Pennisetum purpureum) disebut juga Elephant grass, atau Napier grass. Karakteristik morfologi rumput gajah adalah tumbuh tegak, merumpun lebat, tinggi dapat mencapai 7 m, berbatang tebal dan keras, daun panjang, dan berbunga seperti es lilin. Kandungan zat makanan dalam rumput gajah terdiri atas 19,9% bahan kering, 10,2% protein kasar, 1,6% lemak, 34,2% serat kasar, 11,7% abu dan 42,3% bahan ekstrak tanpa nitrogen (Rukmana, 2005).

Rukmana (2005), juga menyatakan bahwa rumput gajah mempunyai beberapa varietas yaitu varietas Afrika dan Hawai. Varietas Afrika ditandai dengan batang dan daun kecil, tumbuh tegak, berbunga, dan produksi lebih rendah dibandingkan varietas Hawai. Varietas Hawai ditandai dengan batang dan daun lebar, pertumbuhan rumpun sedikit melebar, produksi cukup tinggi dan berbunga. Tabel 3 menunjukkan kandungan zat makanan rumput gajah berdasarkan bahan kering.

Tabel 3. Kandungan Zat Makanan Daun Rumput Gajah

Zat Makanan (%) Sumber

Ansah et al. (2010) Hartadi et al. (1980)

Bahan kering 49,99 17,00 Abu 7,76 10,10 Protein kasar 12,22 3,60 Serat kasar - 32,50 Lemak kasar - 1,20 Beta-N - 52,70 NDF 70,86 - ADF 46,85 - ADL 10,58 - Hemiselulosa 24,01 - Selulosa 36,28 -

6 Kelobot Jagung

Menurut Tangendjaja dan Wina (2008), kelobot atau kulit jagung merupakan hasil samping jagung dengan proporsi terkecil yaitu sebesar 10%, tetapi mempunyai kecernaan bahan kering secara in vitro lebih tinggi (68%) dibandingkan limbah jagung lainnya yaitu batang, daun, dan tongkol jagung masing-masing memiliki nilai kecernaan 51, 58, dan 60%. Data yang hampir sama dilaporkan oleh Anggraeny et al. (2006), limbah jagung dari batang berkisar antara 55,40%-62,3%, dari daun 22,6%-27,4% dan dari kelobot antara 11,9%-16,4%. Parakkasi (1995) menyatakan bahwa setelah panen, kelobot jagung dapat digunakan sebagai makanan ternak. Kelobot jagung antara lain dapat berfungsi sebagai pelindung biji jagung dan tongkol, untuk mempertahankan kesegaran sehingga tidak akan terlampau keras untuk dikunyah ternak. Tabel 4 menunjukkan kandungan zat makanan dalam kelobot jagung berdasarkan bahan kering.

Tabel 4. Kandungan Zat Makanan Kelobot Jagung Zat Makanan

(%)

Sumber

Tangendjaja dan Wina (2008) Cheva-Isarakul et al. (2001)

Bahan kering 50-55 17,79 Abu - 3,87 Protein kasar 2,80 5,41 Serat kasar - - Lemak kasar - 1,51 Beta-N - - NDF - 77,47 ADF - 38,73

Limbah Tanaman Ubi Jalar (Ipomea batatas)

Aregheore (2005) menyatakan bahwa dulu ubi jalar ditanam untuk diamanfatkan umbinya, sedangkan bagian daun dianggap sebagai sampah dan kurang dimanfaatkan. Saat ini ubi jalar ditanam oleh petani kecil sebagai tanaman dwiguna. Bagian yang merambat digunakan untuk pakan ternak dan umbinya digunakan untuk pangan. Potensi produksi bahan kering per hektar dari beberapa varietas ubi jalar bisa mencapai 4,3-6,0 ton/ha dan limbah tanaman ubi jalar (daun, tangkai daun dan

7 batang) menyumbang sekitar 64% dari biomasa segar. Limbah tanaman ubi jalar mengandung 11-17% protein kasar dan kecernaan yang relatif lebih dari 62%. Limbah tanaman ubi jalar sebagai sumber hijauan, mampu meningkatkan asupan pakan dan bobot badan. Limbah tanaman ubi jalar dikaitkan dengan produktivitas, palatabilitas dan kadar protein kasar serta kadar air yang tinggi. Kandungan zat makanan dalam limbah tanaman ubi jalar berdasarkan bahan kering ditunjukkan pada Tabel 5.

Tabel 5. Kandungan Zat Makanan Limbah Tanaman Ubi Jalar Zat Makanan

(%)

Sumber

Cuong et al. (2008) Aregheore (2005) Katongole et al.(2008)

Bahan kering 11,4 37.3 19,7 Protein kasar 23,6 18.3 11,2 Abu 8,4 8.6 11,7 Lemak kasar - - 2,2 NDF 43,1 39.6 40,9 ADF 33,0 20.3 30,3 ADL - 6.8 8,0

Kecernaan Zat Makanan

Hewan tidak dapat mengekstrak semua zat makanan yang ada dalam pakan. Nilai aktual zat makanan yang dimakan tergantung pada penggunaannya dalam tubuh. Pertimbangan pertama dalam menentukan nilai aktual nutrisi adalah kecernaaan, karena nutrisi yg tidak dicernakan tidak masuk ke dalam tubuh dengan tepat (Ensiminger, 1977).

Makanan yang dicerna adalah bagian yang tidak dikeluarkan dan diperkirakan diserap oleh ternak. Daya cerna dapat diukur dengan menggunakan metode in vivo dan in vitro. Palatabilitas dan kualitas yang ditunjukkan oleh daya cerna dan nilai zat makanan tergantung pada jenis yang dipakai di lingkungan iklim tersebut, metode yang digunakan, dan umur penggunaan bahan pakan (Williamson dan Payne, 1993).

8 Kecernaan Bahan Kering (KCBK) dan Bahan Organik (KCBO)

Menurut Damron (2006), bahan kering ditentukan dengan memanaskan sampel pakan sampai semua air menguap. Persentase dari sampel yang tidak mengandung air ini kemudian disebut sebagai bahan kering sampel. Kecernaan bahan organik merupakan faktor yang penting yang dapat menentukan nilai pakan. Nilai kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas pakan tersebut (Sutardi, 1980). Menurut Parakkasi (1999), kecernaan bahan kering dan organik dipengaruhi oleh konsumsi dan kadar NDF. Nilai kecernaan bahan kering kelinci yang diberi ransum berbentuk pellet yaitu sebesar 47% (Chekee, 1987). Kecernaan Protein Kasar (KCPK)

Kecernaan protein kasar dipengaruhi oleh tingginya kadar protein kasar dalam ransum (Garcia et al., 1993). Kecernaan bahan makanan akan cenderung meningkat, serta kualitas protein sangat penting bagi kelinci karena konsumsi akan meningkat jika ransum mengandung protein yang berkualitas tinggi (Lang, 1981).

Peningkatan kandungan polisakarida non-pati dari pakan telah berhubungan dengan penurunan daya cerna protein kasar, kandungan dinding sel tidak selalu berkaitan dengan daya cerna protein. Sehubungan dengan pakan komplit, kecernaan protein kasar bervariasi sesuai dengan bahan pakan daripada komposisi kimia. Kecernaan protein kasar pakan kelinci dipengaruhi oleh umur kelinci. Studi tentang kecernaan ditentukan pada umur yang berbeda (dari menyapihan pada umur 28 hari sampai 11 minggu). Kecernaan protein kasar menurun setelah penyapihan untuk selang nilai yang stabil sekitar minggu kedelapan sampai minggu kesembilan, dengan penurunan yang lebih lambat dari minggu kelima. Efek ini umum untuk semua komponen pakan, tetapi penurunan kecernaan protein kasar adalah lebih tinggi daripada penurunan koefisien cerna bahan organik pakan (De Blas dan Wiseman, 1998).

Kecernaan Serat Kasar (KCSK)

Kelinci adalah hewan herbivora monogastrik, fisiologi pencernaan yang baik disesuaikan dengan asupan tinggi dinding sel tanaman. Serat pakan adalah komponen utama dari pakan kelinci (bahkan dalam produksi intensif % BK) dan tergantung dari berbagai teknik analisis dari 15% - 50% (Gidenne, 2003).

9 Van soest (1994) menyatakan bahwa kecernaan serat kasar erat hubungannya dengan kemampuan ternak untuk menghasilkan sumber energi. Kandungan serat yang tinggi akan mengurangi nilai kecernaan dan berhubungan dengan produksi VFA sebagai sumber energi.

Serat memiliki hubungan positif dengan tingkat konsumsi, kenaikan tingkat serat akan menurunkan tingkat kecernaan, ternak akan mengonsumsi lebih banyak pakan agar dapat memenuhi kebutuhan energi. Masalah utama dalam penggunaan serat kasar adalah kadar lignin yang tidak dapat dicerna bervariasi dengan prosedur analisis serat kasar (Parakkasi, 1995). Anggorodi (1979) menyatakan bahwa umumnya semakin tinggi suatu bahan mengandung serat kasar semakin rendah daya cerna dari bahan makanan tersebut.

Ternak akan mengonsumsi pakan dalam jumlah lebih banyak jika bersumber dari hijauan dengan protein kasar dan mineral tinggi, sedangkan serat kasar lebih rendah, dan menghasilkan kurang beban panas dalam tubuh sehingga meningkatkan jumlah yang dimakan (Williamson dan Payne, 1993). Koefisien cerna serat kasar pada kelinci yaitu sebesar 14% (De Blas dan Wiseman, 1998).

Kecernaan Neutral Detergent Fiber (KCNDF)

NDF terdiri dari empat komponen kimia utama. Secara kuantitatif selulosa dan hemiselulosa komponen terbesar dan berpotensi dicerna, namun struktur kimianya kompleks. Komponen utama lain dari NDF adalah lignin dan cutin, yang hampir tidak dapat dicerna, baik di rumen dan usus halus. Lignin dan cutin menghambat pencernaan yang mendasari dan atau berhubungan dengan selulosa atau hemiselulosa baik dengan pelindung fisik atau kimia. Meningkatnya level NDF dalam pakan kelinci persilangan masa pertumbuhan menurunkan berat badan harian dan kecernaan nutrien, dengan level NDF: 37%, 41%, 45%, 49%, 53%, dan 57% (NDF dalam % bahan kering). Level NDF sebanyak 41% dalam pakan memberikan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dan manfaat lebih baik bagi produsen (Dong dan Giang, 2008). Koefisien cerna NDF pada kelinci lokal persilangan menurut Dong dan Giang (2008) dengan level NDF pakan dalam bahan kering yang diujikan sebesar 37%, 41%, 45%, 49%, 53% dan 57% secara berurutan adalah 50,9%, 54,1%, 48,5%, 47,1%, 46,5% dan 42,3%.

10 Kecernaan Acid Detergent Fiber (KCADF)

ADF adalah serat yang tidak larut dalam larutan deterjen asam dan NDF adalah serat yang tidak larut dalam deterjen netral yang erat hubungannya dengan konsumsi dan tersedianya Net Energy (NE) dan Digestible Energy (DE). ADF dan NDF digunakan untuk mengestimasi secara langsung penampilan ternak dan oleh karena itu, lebih bermanfaat dibandingkan serat kasar (Parakkasi, 1995).

Penyediakan pakan berserat untuk kelinci tumbuh sangat penting untuk menghindari gangguan pencernaan. Selulosa dan lignin yang sulit dicerna berperan dalam mengurangi diare pada kelinci masa pertumbuhan. Penggabungan sumber serat yang mudah dicerna dalam pakan kelinci mencakup tujuan ganda yaitu sebagai sumber pati yang dimanfaatkan untuk pertumbuhan, dan dapat meningkatkan kesehatan pencernaan hewan. Kecernaan serat mudah dicerna yang tinggi, mungkin juga memiliki peran lain dalam menstimulasi aktivitas flora sekum pada kelinci muda (Dong dan Giang, 2008). Koefisien cerna ADF yang dilaporkan oleh Dong dan Giang, 2008) pada level pemberian NDF sebanyak 37%, 41%, 45%, 49%, 53% dan 57% masing-masing adalah 47,9%, 47,8%, 40,4%, 35,8%, 31,9% dan 26,7%.

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu

Penyusunan ransum bertempat di Laboratorium Industri Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan. Pembuatan pakan bertempat di Indofeed. Pemeliharaan kelinci dilakukan di kandang Pemuliaan dan Genetika Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan pada bulan Februari sampai April 2012. Analisa proksimat dan Van Soest dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Desember 2011 sampai April 2012.

Materi Ternak

Ternak yang digunakan adalah 16 ekor kelinci lokal jantan dengan bobot badan 1.111 ± 50 gram berumur 4 bulan. Kelinci diperoleh dari daerah Bogor. Kelinci dipelihara secara intensif pada kandang individu. Kelinci lokal jantan yang digunakan ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. Kelinci Lokal Jantan Kandang dan Peralatan

Kelinci dipelihara dalam kandang individu berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm. Kandang dilengkapi dengan tempat minum, tempat pakan dan jaring kawat. Jaring kawat dipasang di bagian bawah kandang agar feses dapat tertampung dan terpisah dengan urin. Peralatan lain yang digunakan adalah tempat pakan dan tempat minum, timbangan digital dengan ketelitian 0,05 gram, timbangan Ohaus dengan ketelitian 20 gram, penjemur feses dan plastik. Gambar 3 menunjukkan kandang yang digunakan dalam penelitian.

12 Gambar 3. Kandang

Pakan dan Air Minum

Ternak diberikan ransum berbentuk pellet dengan substitusi daun rumput gajah sebagai sumber hijauan dengan klobot jagung dan jerami ubi jalar. Air minum diberikan ad libitum. Kandungan nutrien sumber hijauan ditunjukkan pada Tabel 6. Tabel 6. Kandungan Zat Makanan Sumber Hijauan berdasarkan 100 % Bahan

Kering

Nutrien (%) Daun Rumput Gajah (DRG)

Kelobot Jagung (KJ)

Limbah Tanaman Ubi Jalar (JUJ)

Abu 13,42 3,43 9,16 Protein kasar 12,64 6,21 18,75 Serat kasar 47,32 46,74 37,66 Lemak kasar 1,47 2,30 0,53 BET-N 25,16 41,32 33,90 Ca 0,53 0,70 1,23 Phospor 0,38 0,39 0,35

Keterangan: Hasil analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, IPB (2011). Prosedur

Pembuatan Pellet

Kelobot jagung yang digunakan adalah kelobot jagung manis yang diperoleh dari pasar Bogor. Limbah tamanan ubi jalar yang digunakan adalah bagian batang, tangkai daun dan daun ubi jalar setelah dipanen. Kelobot jagung dan limbah tamanan ubi jalar dikumpulkan, disortir dan dicacah kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari dan digiling. Kemudian dicampurkan dengan konsentrat yang terdiri dari jagung, pollard, onggok, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, CPO, CaCO3, garam dan premix sampai homogen, lalu dimasukkan dalam mesin pellet dengan ukuran diameter die 3 mm. Pellet diangin-anginkan dan disimpan dalam karung. Berikut adalah diagram alir proses pembuatan tepung hijauan. Diagram alur proses pembuatan pellet ditunjukkan pada Gambar 4 dan persentase penggunaan bahan

13 pakan ditunjukkan pada Tabel 7. Daun rumput gajah segar, setelah dikeringkan dan tepung daun rumput gajah diperlihatkan pada Gambar 5. Gambar 6 memperlihatkan kelobot jagung segar, setelah dikeringkan dan tepung kelobot jagung. Jerami ubi jalar dalam kondisi segar, setelah dikeringkan dan tepung jerami ubi diperlihatkan pada Gambar 7. Tabel 8 menunjukkan kandungan zat makanan dalam ransum berdasarkan bahan kering.

Daun rumput gajah Dicacah Dijemur Digiling Tepung daun rumput

gajah Kelobot jagung Disortir Dicacah Dijemur Digiling Tepung kelobot

Limbah tanaman ubi jalar Disortir

Dicacah Dijemur Digiling

Tepung limbah tanaman ubi jalar

Pencampuran dengan konsentrat Pembuatan Pellet

Pendinginan Pengepakan

Gambar 4. Diagram Alur Proses Pembuatan Pellet

(a) (b) (c)

Gambar 5. a. Daun Rumput Gajah, b. Daun Rumput Gajah setelah Dicacah, c. Tepung Daun Rumput Gajah

14

(a) (b) (c)

Gambar 6. a. Kelobot jagung, b. Kelobot Jagung setelah Dicacah, c. Tepung Kelobot Jagung

(a)

(b) (c)

Gambar 7. a. Batang, Tangkai Daun dan Daun Ubi Jalar, b. Batang, Tangkai Daun dan Daun Ubi Jalar setelah Dijemur, c. Tepung Limbah Tanaman Ubi Jalar

Tabel 7. Persentase Penggunaan Bahan Pakan

Bahan Pakan (%) R0 R1 R2 R3

Tepung daun rumput gajah 18 12 6 0

Tepung kelobot jagung 0 3 6 9

Tepung limbah tanaman ubi jalar 0 3 6 9

Jagung 21 21 21 21 Pollard 13 13 13 13 Onggok 10 10 10 10 Bungkil kedelai 24 24 24 24 Bungkil kelapa 6 6 6 6 Tepung ikan 3 3 3 3 CPO 3 3 3 3 CaCO3 1 1 1 1 Premix 0,5 0,5 0,5 0,5 Garam 0,5 0,5 0,5 0,5

15 Tabel 8. Kandungan Zat Makanan dalam Ransum berdasarkan Bahan Kering

Zat Makanan Perlakuan

R 0 R 1 R 2 R 3 ---%--- Abu 9,91 8,30 9,09 8,51 Protein kasar 20,54 21,06 21,09 20,96 Serat kasar 15,46 15,35 14,77 15,19 Lemak kasar 3,60 3,78 4,45 4,07 Beta-N 50,49 51,51 50,60 51,27 TDN* 69,82 71,16 75,60 72,90 NDF 72,32 57,09 46,39 75,50 ADF 67,27 34,53 17,85 21,62 Hemiselulosa** 15,05 22,56 28,54 53,88

Keterangan: Hasil analisa Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, IPB (2012). *Perhitungan TDN berdasarkan rumus menurut Hartadi et al., (1980).

** NDF-ADF.

Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan selama 5 minggu, ternak dikandangkan secara individu. Sebelum diberi perlakuan, ternak ditimbang untuk mengetahui bobot awal. Pakan diberikan pada jam 7.00 pagi dan jam 16.00 sore hari. Pakan dan air minum diberikan secara adlibitum.

Pengambilan Sampel dan Pengukuran Kecernaan

Feses dikumpulkan pada minggu terakhir pengamatan selama 7 hari yaitu pada minggu kelima. Feses diambil saat pagi hari sebelum pemberian pakan. Sampel ditimbang dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Sebanyak 10% feses yang terkumpul setiap hari dikomposit dan digiling, Sampel tersebut selanjutnya dianalisa bahan kering, bahan organik, protein kasar, serat kasar, ADF, dan NDF. Koefisien cerna dihitung dengan rumus berikut ini:

Koefisien cerna = A−B

A x 100%

Keterangan: A = jumlah zat makanan yang dikonsumsi per hari (g) B = jumlah zat makanan dalam feses per hari (g)

16 Rancangan Percobaan

Perlakuan

Penelitian ini menggunakan empat perlakuan dengan empat ulangan. Perbandingan antara hijauan dan konsentrat pada masing-masing perlakuan adalah 18% : 82%. Kompisisi hijauan keempat perlakuan tersebut adalah:

R0: DRG 18%

R1: DRG 12% + KJ 3% + LUJ 3% R2: DRG 6% + KJ 6% + LUJ 6% R3: KJ 9% + LUJ 9%.

Keterangan: DRG; Daun rumput gajah, KJ; Kelobot Jagung, LUJ; Limbah tamanan ubi jalar.

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Model matematika (Steel dan Torrie, 1993) dari rancangan percobaan ini adalah :

Yij = µ + τi + εij Keterangan :

Yij : respon percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ : nilai rataan umum pengamatan

τi : efek perlakuan ke-i

εij : pengaruh eror perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Peubah yang Diukur

Peubah yang diukur dalam penelitian ini adalah kecernaan zat makanan meliputi kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, serat kasar, NDF dan ADF ransum komplit yang diberikan kepada kelinci lokal jantan.

Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati dilakukan Analisis Sidik Ragam (ANOVA). Jika berbeda nyata dilakukan Uji Jarak Duncan untuk mengetahui pengaruh antar perlakuan (Steel dan Torrie, 1993).

HASIL DAN PEMBAHASAN Kecernaan

Daya cerna suatu ransum penting untuk diketahui karena dapat berguna dalam menentukan kualitas ransum. Daya cerna yang tinggi menunjukkan kualitas ransum yang baik, sehingga pengukuran daya cerna menjadi salah satu pertimbangan dalam mengetahui kualitas ransum yang diberikan kepada ternak.

Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik

Nilai kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas pakan tersebut. Nilai konsumsi bahan kering, bahan kering feses, dan kecernaan bahan kering pada kelinci lokal jantan dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Nilai Konsumsi Bahan Kering, Bahan Kering Feses dan Koefisien Cerna Bahan Kering Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi BK (g/e/h) 87,16±16,39 83,32±13,31 88,88±7,79 90,69±3,06 BK Feses (g/e/h) 27,56±3,86ab 25,391±3,00a 29,93±2,85ab 33,50±4,90b KCBK (%) 68,07±3,88 69,34±2,03 66,34±0,62 63,11±4,92

Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering. Substitusi daun rumput gajah dengan kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar menunjukkan nilai konsumsi yang sama. Semakin banyak persentase kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar dalam ransum dimungkinkan menunjukkan peningkatan palatabilitas ransum, hal ini sesuai dengan pernyataan Aregheore (2005) bahwa limbah tanaman ubi jalar sebagai sumber hijauan, mampu meningkatkan asupan pakan dan bobot badan, selain itu limbah ubi jalar dikaitkan dengan produktivitas, palatabilitas dan protein kasar serta kadar air yang tinggi.

18 Perlakuan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bahan kering pada feses berdasarkan hasil sidik ragam. Perlakuan dengan pemberian 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung dan 3% limbah tanaman ubi jalar (R1) menunjukkan bahan kering pada feses yang paling sedikit dan jumlah bahan kering yang dicerna paling tinggi. Perlakuan dengan pemberian 18% daun rumput gajah (R0), dan 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung dan 6% limbah tanaman ubi jalar (R2) menunjukkan nilai yang sama. Semakin tinggi konsumsi bahan kering, maka semakin tinggi bahan kering feses yang dikeluarkan karena jumlah zat makanan yang tidak dicerna atau yang terkandung dalam feses dipengaruhi oleh jumlah zat makanan yang dikonsumsi. Bahan kering feses juga dapat dipengaruhi oleh jumlah air minum yang dikonsumsi. Mengonsumsi pakan yang mengandung bahan kering tinggi dapat meningkatkan rasa haus sehingga ternak akan mengonsumsi air minum yang lebih banyak.

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap nilai koefisien cerna bahan kering, hal ini menunjukkan bahwa koefisien cerna bahan kering ransum pada R0 sama besarnya dengan koefisien cerna R1, R2, dan R3. Hasil ini menunjukkan daun rumput gajah dapat disubstitusi dengan kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar sebagai sumber serat bagi kelinci. Daun rumput gajah, kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar memiliki kualitas hijauan yang sama sebagai sumber serat. Nilai kecernaan pada kelobot jagung (secara in vitro) dan limbah tanaman ubi jalar masing-masing sebesar 68% (Tangendjaja dan Wina, 2008) dan sebesar 62% (Aregheore, 2005). Nilai kecernaan bahan kering kelinci yang diberi ransum berbentuk pellet yaitu sebesar 47% (Chekee, 1987). Tabel 10 menunjukkan konsumsi bahan organik, bahan organik feses dan koefisien cerna bahan organik.

19 Tabel 10.Nilai Konsumsi Bahan Organik, Bahan Organik Feses dan Koefisien Cerna

Bahan Organik Peubah Perlakuan R0 R1 R2 R3 Konsumsi BO (g/e/h) 78,53±14,77 76,41±12,20 80,80±7,08 82,97±2,80 BO Feses (g/e/h) 23,73±3,47ab 22,14±2,63a 25,65±2,56ab 29,10±4,41b KCBO (%) 69,49±2,65 70,84±1,86 68,28±0,98 64,97±4,91

Keterangan: R0; 18% daun rumput gajah, R1; 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar, R2; 6% daun rumput gajah, 6% kelobot jagung, dan 6% limbah tanaman ubi jalar, R3; 9% kelobot jagung dan 9% limbah tanaman ubi jalar. Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P< 0,05).

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap konsumsi bahan organik. Konsumsi bahan organik (g/e/hari) menunjukkan peningkatan seiring dengan peningkatan konsumsi bahan kering. Perlakuan menunjukkan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap bahan organik pada feses berdasarkan hasil sidik ragam. Bahan organik pada feses pada perlakuan 12% daun rumput gajah, 3% kelobot jagung, dan 3% limbah tanaman ubi jalar menunjukkan nilai paling rendah dan jumlah bahan organik yang dicerna paling tinggi dibandingkan perlakuan lain karena nilai bahan organik feses lebih dipengaruhi oleh nilai bahan kering feses karena nilai bahan organik merupakan hasil pengurangan bahan kering dengan abu yang terkandung dalam ransum.

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap nilai koefisien cerna bahan organik. Koefisien cerna R0 sama dengan R1, R2 dan R3, hal ini seiring dengan nilai koefisien cerna bahan kering yang menunjukkan nilai koefiesien cerna yang sama. Menurut Sutardi (1980), nilai kecernaan bahan organik suatu pakan dapat menentukan kualitas pakan tersebut. Hasil ini menunjukkan daun rumput gajah, kelobot jagung dan limbah tanaman ubi jalar memiliki kualitas pakan sumber hijauan yang sama, hal ini

Dokumen terkait